Sesuai tugasnya, Dinas Kominfo salah satunya adalah menyajikan informasi pembangunan kepada masyarakat. Penyebarluasan informasi tersebut melalui media radio In-FM, RATIH televisi, website dan media sosial. Untuk itu, kemampuan menulis untuk mengisi konten bagi tim liputan maupun admin website dan media sosial sangatlah penting dan mendesak. Peningkatan kemampuan menulis itu mendesak dikarenakan adanya perubahan pola pemberitaan dan kebijakan pemkab terkait standar pelayanan informasi publik.
Membangun tradisi menulis
Untuk itu beberapa upaya yang aku lakukan adalah membangun tradisi menulis. Tradisi menulis bagi perorangan ditempuh dengan cara setiap pegawai melaporkan kegiatan perorangan atau kelompok dalam format berita yang disertai gambar. Selama ini, pegawai hanya mengirimkan gambar atau foto kegiatan melalui aplikasi group whats apps.
Sebagai upaya menanamkan tradisi menulis berita, maka untuk melaporkan kegiatan, pegawai diharapkan menyertakan keterangan gambar/foto kegiatan tersebut ke dalam format berita. Format berita dimaksud, minimal memuat komponen keterangan yang menjawab pertanyaan: what, when, where, why, who dan how (5W 1H). Dengan begitu, tradisi itu akan mendatangkan manfaat yang sangat luas. Di satu sisi, melatih pegawai menulis berita atas kegiatan yang menjadi tugas pokoknya. Di sisi yang lain, kita memperoleh bahan berita yang dapat disebarluaskan kepada masyarakat.
Membangun pola pemberitaan
Selama ini pola penayangan berita di Ratih TV, In FM dan Website Pemkab tidak terintegrasi, bahkan berbeda konten. Berita yang berasal dari Tim liputan Ratih TV dan In FM ditayangkan secara bersama pada saat sore hari, selama 30 menit. Sedangkan konten berita Website Pemkab lebih banyak berasal dari kegiatan OPD. Sehingga pernah terjadi berita di website, sudah beberapa saat tidak di update.
Namun, kondisinya sekarang berbeda. Saat ini Ratih TV, In FM, Website Pemkab Kebumen dan Website OPD Diskominfo, menjadi satu pengelolaan di bawah Dinas Kominfo Kebumen. Sehingga langkah-langkah yang aku ambil adalah membangun pola pemberitaan yang terpadu dan terintegrasi. Terintegrasi sejak dari liputan ke media penyiaran. Tim liputan terdiri dari unsur tv, radio, website dan media sosial. Tim liputan diperluas tujuannya untuk menjangkau berita yang lebih banyak. Targetnya adalah seluruh agenda kegiatan Bupati dan Wakil Bupati serta kegiatan penting lainnya di tingkat Kabupaten.
Seluruh berita yang masuk, setelah melalui tim editor disiarkan melalui Ratih TV, In FM, Website Pemkab Kebumen, Website OPD dan media sosial. Sehingga "Berita Terkini Kebumen" dapat diakses masyarakat melalui berbagai media penyiaran.
Menyambut kebijakan Pemkab
Standar pelayanan informasi publik #2-34-2#
Tuesday, June 13, 2017
Monday, February 27, 2017
Menyajikan tulisan dengan menarik*)
Bagi sebagian orang kemampuan menulis, dapat digunakan sebagai jalan untuk berbagi kebaikan. Seperti halnya semangat penulis Antoni Ludfi Arifin, yang tercermin dalam bukunya "Be a Writer. Pandangan ini banyak benarnya.
Mengapa menulis
Namun tidak banyak yang menyadari, bahwa manusia terbatas dalam menyerap ilmu yang dia pelajari. Untuk itu, tepatlah kita jika mengikuti kata-kata bijak dari seorang shahabat Rasul "Ikatlah ilmu dengan menuliskannya".
Kendala menulis
Seringkali seseorang lebih suka berbicara, dari pada menulis, karena banyak kendala, baik teknis maupun non-teknis. Tapi alasan tersebut lebih banyak karena non-teknis, seperti macet-idenya tidak mau berkembang, alasan tidak terbiasa, sibuk dan tidak memiliki waktu, tidak berbakat, malas membaca, banyak aturan.
Apa benar begitu? Tapi, mengapa jika ngobrol, bisa panjang dan berlama-lama, mengasyikkan dan sampai tidak ingat waktu?
Apa benar begitu? Tapi, mengapa jika ngobrol, bisa panjang dan berlama-lama, mengasyikkan dan sampai tidak ingat waktu?
Solusi
Menulis dengan gaya bertutur! Ya, kita akan mulai dengan belajar menulis seperti halnya gaya orang bercerita. Maka akan menarik seperti orang ngobrol, runtut, mengalir, tdk kehabisan ide, bahkan dapat menulis serial.
Menulis vs. Mengarang
Menulis berdasar pada ilmu dan pengalaman. Ilmu dan pengalaman kita peroleh dari membaca, membaca buku, membaca kehidupan dan pengalaman pribadi. Sedangkan aktivitas mengarang lebih berdasar pada imajinasi dan khayalan seseorang. Sehingga hasil tulisan seorang pengarang biasa diiiiiebut karya fiksi.
Mulai menulis dari pengalaman pribadi
Setiap orang pastilah punya pengalaman belajar, pengalaman membaca dan pengalaman pribadi. Kita dapat mulai menulis dg menuliskan pengalaman pribadi kita yg paling berkesan. Sebagai contoh, sepanjang pagi hari ini hingga menjelang siang, tentulah banyak pengalaman atau kejadian yang menimbulkan kesan mendalam dan kitapun dapat mulai menuliskannya. Ambil atau mintalah selembar kertas kosong.
- Sekarang tuliskan apa pengalamn yg paling berkesan hari ini
- Kapan waktu tepatnya kejadian yg kita alami itu terjadi
- Dimana saat itu kita berada
- Dengan siapa saja yg terlibat, atau siapa saja yang membantu
- Coba ingat-ingat kembali kira_kira mengapa kejadian tersebut timbul
- Kemudian, apa pesan utk org lain, keluarga, masyarakat atas kejadian yg kita alami
Dengan begitu ALHAMDULILLAH, kita sudah bisa menulis. Semoga tulisan kita jadi ibadah sekaligus menjadi amal kebaikan. Bagaimana caranya? Teruslah menulis, dan menyampaikann hal-hal yang baik. Dengan semangat berlomba-lomba berbuat kebaikan, maka kita akan bersemangat untuk terus menulis dan menyampaikan hal-hal yang bermanfaat.
Penutup
(* Disampaikan pada Workshop penulisan dan pengelolaan website instansi bagi Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Kabupaten Kebumen, Tahun 2017 di Ruang Jatijajar Kompleks Pendopo Bupati Kebumen, 28-02-2017
Tuesday, January 24, 2017
Berbagi kebaikan dengan menjadi penulis ala Antoni Ludfi Arifin
Berbagi kebaikan dengan menjadi penulis! Inilah tema sentral dari sebuah buku "Be a Writer" karya seorang dosen, yang telah beberapa kali menerbitkan buku-buku seputar motivasi. Karena dengan menjadi penulis, seseorang sedang menebar pesan, menebar inspirasi, menebar energi hingga membangkitkan semangat dan kemaslahatan.Banyak kendala internal
Sayangnya untuk menjadi seorang penulis, seringkali banyak menghadapi kendala. Walaupun kendala atau hambatan tersebut lebih banyak muncul dari dalam diri kita sendiri. Mengapa bisa begitu? Tentu saja ya, karena sebenarnya setiap orang pada dasarnya cukup memiliki kemampuan untuk berbahasa. Dalam penguasaan bahasa secara lisan, seseorang relatif lebih lancar dalam berkata-kata. Bahkan ketika ada kesempatan ngobrol, seseorang dapat berjam-jam asyik membicarakan sesuatu, tanpa ada hambatan.
Namun, berbeda ketika seseorang harus menuliskan ide atau bahan pembicaraannya dalam tulisan. Nyatanya tidak semua orang dapat menulis, menyampaikan pesan dan idenya secara konstruktif dalam bentuk tertulis. Karena memang dalam bahasa tulis, dibutuhkan ketrampilan dan banyak berlatih. Dalam menulis, membutuhkan kemampuan memilih kata, kemampuan menyusun kalimat serta kemahiran memilih gaya bahasa.
Meneguhkan niat
Kunci keberhasilan dalam menulis adalah banyak berlatih. Namun, mendengar kalimat ini seringkali kita banyak yang menyerah kalah. Akibatnya, banyak orang bermimpi jadi seorang penulis, namun tidak banyak yang kuat memegang teguh impian menjadi penulis, dengan mewujudkannya melalui banyak berlatih. Sehingga di awal penulisan buku ini, Antoni Ludfi Arifin, beerulang-ulang menekankan pentingnya meneguhkan niat. Karena dengan niat yang kuat menulis, kita dapat membagi kebaikan dan membagi ilmu yang bermanfaat. Bukankah yang demikian ini, merupakan investasi dunia-akhirat?
Setelah memiliki kemauan dan niat yang kuat, maka untuk menjadi seorang penulis tinggalah mengatasi hal-hal teknis yang dapat diasah dan dipelajari sambil terus menulis. Hal-hal teknis tersebut menyangkut kemampuan menggali dan mengeksplorasi ide, memilih kata dan menggunakan kalimat yang "menyihir", mengembangkan wacana dan tema tulisan, hingga tulisan jadi dan mengirimkan naskah ke penerbit.
Membaca sebagai bekal menulis
Hal-hal teknis di atas yang dibahas dalam buku yang di katapengantari oleh Prof. DR. Erika Revida Saragih, M.Si tersebut dengan mudah dapat kita peroleh, ketika kita juga banyak membaca. Karena dengan membaca kita dapat mengetahui dan memperoleh pengalaman praktek penulis lain menyelesaikan hasil karyanya. Dengan membaca, dapat memperkaya kemampuan teknis yang sudah kita miliki.
Sunday, January 1, 2017
Tahun baru, Dinas baru
Tahun 2017 menghadirkan suasana baru, bagi pekerjaanku. Menyusul telah dilantiknya seluruh pejabat di lingkungan pemerintah kabupaten Kebumen oleh Bupati Ir. HM.Yahya Fuad, SE. Jumlah pejabat yang dilantik kali ini terhitung paling banyak, karena melibatkan lebih dari 800 orang pejabat. Pelantikan kali ini dilakukan dalam rangka perubahan nomenklatur organisasi perangkat daerah (OPD) yang baru.Dinas baru itu, bernama KOMINFO
Kali ini aku memperoleh penugasan baru di Dinas Kominfo (Diskominfo) Kabupaten Kebumen. Diskominfo merupakan OPD baru setelah dipisah dari Dinas Perhubungan. Diskominfo memiliki tugas pokok melaksanakan urusan dalam bidang pengelolaan data elektronik (PDE) dan bidang Komunikasi dan Informasi Publik.
Di bidang pengelolaan data elektronik, menjalankan urusan perencanaan dan pengembangan infrastruktur jaringan data elektronik, statistik dan integrasi sistem informasi serta urusan sandi dan telekomunikasi. Sementara itu, di bidang komunikasi dan informasi publik menjalankan urusan penyiaran termasuk pengelolaan Ratih-tv Kebumen dan Radio In-FM, Dessiminasi informasi dan analisis media, serta menjalankan urusan pengembangan media alternatif.
Banyak yang harus dibenahi
Bertugas di Dinas yang secara kelembagaan baru lahir, ternyata banyak hal yang menjadi tantangan dan harus dibenahi, termasuk struktur Kepala Dinas belum terisi, gedung yang sangat tidak memenuhi syarat menampung pegawai, serta terbatasnya tenaga administrasi.
Yang berbeda mutasi kali ini, selain menerima surat penempatan di tempat kerja yang baru, aku juga menerima surat perintah dari Bupati sebagai pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Kominfo. Tugas ini sangat mengejutkan aku juga sekaligus menjadi tantangan. Karena disamping tugas pokokku sebagai sekretaris, juga harus menjalankan fungsi-fungsi sebagai kepala dinas. Dengan berbekal kewenangan, tugas pokok dan fungsi Diskominfo yang diatur dalam Perda Kabupaten Kebumen Nomor 7 tahun 2016 dan Perbup Kebumen Nomor 77 tahun 2016, aku mulai melangkah melalui pendekatan manajemen berbasis kinerja. Sebagai lembaga pemerintah yang memberikan pelayanan publik kepada masyarakat, aku berfikir bahwa produk atau hasil kerja dinas memiliki nilai kemanfaatan yang tinggii dengan proses layanan yang efektif dan efisien.
Tantangan di tempat kerja baruku ini adalah gedung. Saat ini Dinas Kominfo yang terdiri dari bidang PDE dan bidang IKP serta unit sekretariat, menempati lokasi bidang kominfo lama di kompleks Dinas perhubungan. Jika dulu, bangunan itu sangatlah memadai untuk lokasi kerja satu bidang kominfo, namun dengan kondisi Dinas Kominfo saat ini, bangunan itu sangatlah minimalis yang padat penghuni.Belum lagi dari luas bangunan yang tersedia, hanya sekitar 70 % untuk kantor, karena 30% lainnya adalah ruang penyimpanan alat dan pengelolaan data center, server dari seluruh aplikasi sistem informasi dari banyak OPD di lingkungan Pemkab Kebumen. Aku jadi teringat syair lagu tempo dulu "gang kelinci". Dalam satu lahan bangunan yang sempit kami hidup, bekerja berinteraksi dengan berdesak-desakan. Persis kaya anak kelinci. Belum lagi lokasi bangunan gedung itu berhimpit antara halaman kantor dengan lahan parkir Dishub untuk kendaraan umum yang akan melakukan cek fisik kendaraan roda empat. Seringkali kami kesulitan masuk parkiran kantor atau keluar parkir, karena terhalang oleh berbagai jenis kendaraan yang berderet antri menunggu giliranuntuk uji dan cek fisik kendaraan.Meskipun di dalam rapat
Keterbatasan sumber daya staf, anggaran kegiatan perkantoran dan peralatan kerja
Selain keterbatasan infrastruktur gedung dan tempat kerja, di Diskominfo, juga mengalami kelangkaan staf, terutama staf administrasi. Tenaga staf yang ada di Diskominfo saat ini kebanyakan staf teknis baik di bidang PDE maupun bidang KIP. Staf teknis yang ada meliputi pranata komputer, jaringan, pemrogragaman, multimedia dll sebagai tim teknis di bidang-bidang yang ada. Meskipun, dari Setda Kebumen sebenarnya sudah mengantisipasinya dengan melakukan redistribusi staf, terutama ke organisasi perangkat daerah yang baru. Namun, pada kenyataannya di lapangan dapat berjalan berbeda. Sebagai contoh kecil, masih ada keinginan unsur kantor dinas yang lama untuk mempertahankan staf lamanya untuk tetap berada di lingkungannya. Sehingga tidak jarang, seorang staf sudah menerima penugasan ke suatu kantor dinas, namun oleh kantor dinas lamanya tidak mau "melepasnya" dengan tidak membuatkan surat penghadapan.
Dalam hal anggaran, sebenarnya perubahan adanya kantor dinas baru sudah diantisipasi penganggarannya. Namun karena anggaran disiapkan oleh pegawai yang dulu berada di bidang teknis, kurang mengetahui detail kebutuhan-kebutuhan sekretariat. Akibatnya beberapa kebutuhan untuk administrasi perkantoran sangatlah minim, bahkan untuk biaya suatu kegiatan yang nyaris tidak ada, atau hanya cukup untuk beberapa bulan, seperti kebutuhan anggaran listrik, air dan biaya telpon kantor.
Tugas ke depan: menuju pelayanan prima Diskominfo
Untuk
mewujudkannya, perlu adanya tata-nilai organisasi yang menjadi inspirasi dan semangat seluruh
orang-orang yang ada di dalamnya untuk mewujudkannya, diantaranya:
·
Kejelasan pelayanan. Mengupayakan paparan yang jelas melalui papan
informasi atau petunjuk yang mudah dipahami dan diperoleh pada setiap tempat/ lokasi pelayanan sesuai dengan
kepentingannya menyangkut prosedur /tata cara pelayanan, pendaftaran,
pengambilan sample atau hasil pemeriksaan, biaya / tarif pelayanan serta jadwal
/ waktu pelayanan.
·
Sesuai aturan perundangan. Setiap aturan tentang prosedur / tata cara /
petunjuk seperti yang tersebut diatas harus dilaksanakan secara tepat,
konsisten, konsekuen sesuai dengan peraturan perundang – undangan yang berlaku.
·
Pemenuhan hak dan kewajiban. Hak dan kewajiban pemberi atau
penerima pelayanan diatur secara jelas setiap persyaratan yang diwajibkan dalam
rangka menerima pelayanan harus mudah diperoleh dan berkaitan langsung dengan
kepentingan pelayanan serta tidak menambah beban masyarakat penerima pelayanan.
·
Terbuka untuk perbaikan. Tersedia loket informasi dan kotak saran bagi
penerima pelayanan yang mudah dilihat / dijumpai pada setiap tempat pelayanan.
Saran yang masuk harus selalu dipantau dan dievaluasi, bila perlu diberi
tanggapan atau tindak lanjut dalam rangka upaya perbaikan dan peningkatan mutu pelayanan.
·
Profesional. Penanganan proses pelayanan sedapat mungkin
dilakukan oleh petugas yang berwenang atau kompeten, mampu terampil dan
professional sesuai spesifikasi tugasnya. Setiap pelaksanaan pemberian
pelayanan dan hasilnya harus dapat menjamin perlindungan hukum dan dapat
dijadikan alat bukti yang sah.
·
Keramahan dan kedekatan. Selalu diupayakan untuk menciptakan pola
pelayanan yang penuh keramahan dan kedekatan, tepat sesuai dengan sifat dan jenis pelayanan
yang bersangkutan dengan mempertimbangkan efisiensi dan efektivitas dalam
pelaksanaannya.
·
Tanpa pungli. Jika ada biaya atau tarif pelayanan harus ditetapkan secara
wajar dengan memperhitungkan kemampuan masyarakat. Hendaknya diupayakan untuk
mengatur mekanisme pungutan biaya yang memudahkan pembayarannya dan tidak
menimbulkan pungutan liar dan biaya tinggi.
·
Netralitas dalam pelayanan. Pemberian pelayanan dilakukan secara tertib,
teratur dan adil, tidak membedakan status social masyarakat. Cakupan /
jangkauan pelayanan diupayakan seluas mungkin dengan distribusi yang merata.
·
Kenyamanan. Kebersihan dan sanitasi lingkungan tempat dan
fasilitas pelayanan harus selalu dijamin untuk mewujudkan
kenyamanan, melalui pelaksanaan pembersihan
secara rutin dan penyediaan fasilitas pembuangan sampah / kotoran secukupnya
sesuai dengan kepentingannya.
·
Partisipasi. Selalu diupayakan agar petugas memberikan
pelayanan dengan sikap ramah dan sopan serta berupaya meningkatkan kinerja
pelayanan secara optimal dengan kemampuan pelayanan yang tersedia dalam jumlah
dan jenis yang cukup, serta mendorong tumbuhnya partisipasi masyarakat.
Wednesday, December 21, 2016
Inilah buku pertama yang membuatku kuat untuk bisa menulis
Ketrampilan menulis bagi sebagian orang, dianggap tidak menarik. Begitu juga aku menganggapnya, sebelum aku membaca buku yang berjudul "Kreatif Mengarang" karya A. Widyamartaya, terbitan Kanisius-Yogyakarta. Tahun terbitnya, aku lupa tahun berapa. Buku itu awalnya aku menemukannya di Perpustakaan sekolah di SPG Negeri Pekalongan, sekitar tahun 1985.Mengenal dunia menulis
Saat itulah, aku baru mengetahui bahwa kemampuan menulis itu bukan bakat lahir, tetapi dapat dipelajari. Seseorang yang ingin dapat mahir mengarang atau menulis, haruslah rajin berlatih dengan bersungguh-sungguh. Karena tanpa keinginan kuat, seorang yang berkeinginan menjadi seorang pengarang atau penulis, pastilah tidak akan kesampaian. Sehingga kita bisa melihat banyak contoh, orang yang merasa gagal menulis, gagal mengarang, gagal menerbitkan buku dan seterusnya. Ini masalahnya karena seseorang tidak memiliki keingainan kuat untuk menulis.
Dengan keinginan kuat, seseorang akan giat dan banyak berlatih untuk menulis. Dengan banyak menulis, akan memacu daya imajinasi dan ide pokok tulisan., melatih ketrampilan memilih kata yang tepat, menyusun kalimat yang efektif, hingga menyusun paragraf yang dinamis dan saling berkesinambungan. Karena pada dasarnya sebuah tulisan itu tersusun oleh paragraf-paragraf. Sedangkan paragraf yang dinamis tersusun oleh minimal dua kalimat efektif. Dalam format bahasa Indonesia, kalimat akan efektif minimal mengandung unsur subyek dan predikat, atau subyek dan obyek, atau subyek dan kata keterangan.
Mengetahui beda menulis dan mengarang
Sepintas antara kegiatan menulis dan mengarang itu hampir sama, karena dua-duanya melalui proses kegiatan menulis dan menghasilkan sebuah karya tulis. Namun ternyata, keduanya memilikiciri-ciri yang berbeda terutama dalam proses menciptakan karya tulis. Dalam hal mengarang, seorang penulis mengandalkan kemampuan pribadinya, dalam hal mengambil ide dan tema karangan. Mengarang merupakan proses kreatif seseorang yang sangat tergantung dari imajinasinya. Sehingga hasil karya tulis pengarang sangatlah subyektif, tergantung kemampuan penulis menggali emosi-emosi pembacanya.
Berbeda dengan aktivitas menulis. Seorang penulis dalam menghasilkan karya tulis, sangat memerlukan konsep-konsep logis yang diperolehnya dari proses membaca dan atau proses 'melakukan penelitian' terhadap fenomena yang ada di lingkungan sekitar. Karena sebuah tulisan merupakan serangkaian penjelasan logis atas suatu kejadian menuju kebenaran. Sehingga seorang penulis yang berhasil, bukan dari panjangnya tulisan atau kemampuan menampilkan peran tokoh-tokoh utama dalam suatu peristiwa. Sebuah karya tulis yang berhasil ditentukan dari kedalaman analisisnya!
Mulailah dari ide pokok yang ditulis dalam kalimat lengkap
Awal mula sebuah tulisan atau cerita, adalah adanya ide pokok yang ditulis dalam kalimat lengkap. Ide pokok inilah yang mengikaat keseluruhan paragraf menjadi satu kesatuan tulisan yang koheren.
Bagaimana memulainya? Ide pokok merupakan sikap atau pandangan seorang penulis terhadap tema atau suatu pokok permasalahan. Dari sinilah kemudian penulis menguraikannya ke dalam sub-sub tema dalam paragraf-paragraf.
Di dalam pragaraf, penjelasan ide pokok itu disusun ke dalam kalimat utama dan kalimat kalimat penjelas dan menguraikanya menjadi informasi yang lebih detil.
Jangan lupa membuat out-line, untuk memet akan pokok pikiran penjelas
Agar paragraf-paragraf itu tidak lepas dari ide pokoknya, ada baiknya penulis menyarankan membuat out-line, atau kerangka karangan. Outline bisa juga berbentuk seperti daftar isi dalam sebuah buku.
Selain untuk menjaga kesinambungan dengan ide pokok, out-line yang kita buat juga bermanfaat untuk memetakan ide pokok tersebut ke dalam pokok-pokok pikiran secara lengkap, menyeluruh, sehingga dapat menjelaskan seluruh aspeknya.
Teknik mengembangkan paragraf
Di bagian akhir buku ini, diberikan beberapa teknik mengembangkan paragraf. Beberapa teknikyang masih aku ingat dan sering aku gunakan dalam menulis adalah teknik kronologis urutan waktu, urutan proses, teknik kontras dulu-sekarang, sebelum-sesudah.
Dalam menulis, aku juga sering menggunakan teknik D-A-M-K. Yaitu dengan mulai menulis "Duduk perkara" yang menjadi masalah utama. Kemudian dengan meng-Analisa-nya, dengan teknik-teknik di atas atau dengan teknik yang tidak kalah populernya adalah dengan menjawab rumus 5W+1H. Bagian selanjutnya, kita dapat menyajikan "Misal" atau contoh atau data penjelas. Dan dibagian akhir paragraf adalah memberikan "Kesimpulan". Dengan demikian, masing-masing paragraf dapat tampil dinamis, berdiri menjadi satu kesatuan ide pokok tulisan.
Monday, December 19, 2016
Teknik mengembangkan tulisan dengan menambahkan bumbu rahasia ala Anang YB
Menulis
ternyata butuh sentuhan khusus atau resep rahasia, agar tulisan menjadi lebih
menarik, mengalir dan tidak kaku. Itulah tujuan Anang YB menulis “Guru writing berdiri,
murid writing berlari. Buku yang tidak terlalu tebal itu, memuat tips-tips mengembangkan tulisan. Hingga akhirnya tulisan
kita menjadi lebih ber-energi!
Kata seru
Resep
pertama yang disarankan adalah dengan
menyisipkan kata seru. Menambahkan kata seru dalam tulisan akan membuat kalimat
tidak monoton. Kata seru dapat memberi tone
tertentu pada kalimat, sehingga tulisan
menjadi lebih hidup. Karena dalam paragrafnya menjadi ada dialog, membuat
tulisan enak dibaca dan tidak menjemukan. Pembaca sesekali “dikagetkan” dengan
kata seru, hingga membuat pembaca senantiasa terjaga menikmati tulisan kita. Anang
YB mengingatkan perlunya menyisipkan kata seru, meskipun kata seru tersebut
bukan dalam kalimat langsung.
Dialek
Selain kata
seru, bumbu rahasia mengembangkan cerita atau tulisan adalah dengan memberinya
dialek. Dialek adalah ungkapan-ungkapan
khusus yang bersifat lokal atau kedaerahan. Unsur dialek di dalam cerita atau
kalimat akan membuat cerita lebih berkembang. Mengapa begitu? Dengan dialek dan
istilah lokal itu, dapat bikin pembaca geregetan, karena secara tiba-tiba kita
diajak “pergi jauh” ke suatu tempat atau komunitas tertentu. Selain itu, dengan
menambahkan dialek, dapat menghadirkan citarasa “lokal” tertentu.
Kata pengganti
Menggunakan
kata pengganti merupakan sentuhan
rahasia Anang untuk menghindari perasaan pembaca cepat bosan. Dengan
menggunakan kata pengganti, seorang penulis dapat menghadirkan tokohnya, atau
membahas subyek dengan berbagai “penampilan” dan variatif.
Bergaya sinetron
Ini dia
resep rahasia Anang YB yang heboh, menurutku. Yaitu teknik membuat cerita atau
tulisan kita benar-benar seperti hidup! Yaitu dengan membuatnya seperti
sinetron. Seperti dalam sinetron, obyek atau subyek dalam cerita atau tulisan digambarkan
tampak benar-benar nyata. Mata pembaca dimanjakan, kenyataan disajikan di depan
mata secara detil. Kelezatan dan citarasa dilukiskan secara sempurna, hingga
pembaca menelan ludah! Teknik ini seperti diingatkan Anang, terutama untuk
mendiskripsikan secara detil sebuah kata sifat.
Bergaya Curhat
Menurutku
tips rahasia bergaya curhat ini adalah tips yang paling masuk aka. Mengapa
demikian? Rata-rata orang sangatlah pandai untuk bercakap-cakap, dibanding
ketika seseorang diminta untuk menulis. Dengan gaya curhat, memungkinkan
seorang penulis menyampaikan pesan dalam tulisannya secara santai, tidak terburu-buru,
namun mendalam. Kita dapat menggambarkan obyek dan suasana hati secara tulus
dan jujur.
Buku seru!
Buku tulisan Anang YB ini telah menjadi baku bacaan favoritku. Meski sudah membacanya, aku masih suka membukanya berulang
kali. Meskipun buku ini tergolong bacaan
yang sudah tidak baru lagi, namun bagiku sangat inspiratif. Dapat menjadi sumber “vitamin” dan menggairahkan aktivitas menulis.
Wednesday, November 30, 2016
Meningkatkan minat guru untuk melakukan penelitian *)
Sejak
diberlakukannya UU Guru dan Dosen tahun 2005 dan sertifikasi guru dalam jabatan
tahun 2007, ternyata sangat berdampak besar dalam dunia pendidikan kita. Banyak
yang mengikuti sertifikasi guru agar dapat memperoleh sertifikat, dan menjadi
guru profesional. Akibatnya, makin meningkatkan minat masyarakat untuk menjadi guru. Profesi guru memperoleh posisi sosial yang
istimewa, dengan nilai ekonomi yang tinggi. Kita maklumi, karena memang
perhatian pemerintah dalam dunia pendidikan dan guru selama ini dirasakan belum
optimal.
Impian jadi guru profesional
Namun
realitanya, harapan adanya guru yang profesional masih jauh. Aktivitas sebagian guru belum berubah, terjebak
rutinitas, pagi datang hingga siang pulang. Guru mengajar seperti biasa dengan
metode ceramah. Andalan utama guru adalah buku teks. Akibatnya proses
pengajaran tidak merangsang anak untuk membaca lebih dalam dari informasi guru.
Pemandangan semacam ini mestinya dapat diatasi,
jika guru lebih sensitif
dengan kondisi anak. Serta adanya kemauan dan kemampuan guru untuk mencari tahu kemampuan dan kemauan
anak.
Melalui
penelitian tindakan kelas misalnya, memungkinkan seorang guru mengetahui
efektivitas proses pembelajaran, mencari
cara-cara untuk meningkatkan, serta memilih
metode mengajar yang efektif. Namun,
riset di kalangan guru masih belum menjadi tradisi keilmuan. Di kalangan
guru, masih banyak terdengar bahwa
penelitian tindakan kelas itu dibuat sekedar untuk memenuhi persyaratan
sertifikasi atau kenaikan pangkat
Berbagai faktor penyebab utama
Dari
pemberitaan koran lokal, suatu Kabupaten di Jawa Tengah menyatakan akan menarik sertifikasi guru
untuk sementara, jika selama lima tahun yang bersangkutan tidak membuat karya
ilmiah. Ini merupakan fenomena masih rendahnya minat guru untuk meneliti dan
menyusun karya ilmiah. Rendahnya minat
guru untuk melakukan penelitian, paling tidak ada dua faktor yang
melatarbelakanginya.
Pertama, adalah faktor
mentalitas. Ada sebagian orang berfikiran dapat mencapai keberhasilan itu,
tanpa usaha keras. Ada sebagian guru, membuat karya penelitian itu hanya karena
memenuhi persyaratan sertifikasi atau
kenaikan pangkat. Praktis, karya ilmiah itu dibuat sekedarnya dan tidak
maksimal. Belum lagi, dari sisi administrasi, masih permisif kearah kualitas karya. Kedua,
selain mentalitas, faktor lainnya adalah kemampuan. Ketika seorang guru harus
menyusun laporan penelitian, berarti dia harus memiliki kemampuan menulis dan
kemampuan meneliti. Dalam hal kemampuan menulis, ternyata tidak seluruhnya guru
memiliki kemampuan untuk itu. Sebab musababnya karena sebagian guru relatif
jarang membaca.
Awalnya adalah kebiasaan membaca
Jika
seseorang tidak pernah membaca, bagaimana mungkin dia dapat menulis? Mengapa begitu? Karena proses menulis pada
dasarnya merupakan kegiatan menghubungkan antara konsep yang satu dengan yang
lain. Beberapa konsep itu, bisa jadi berasal dari satu, dua atau bahkan banyak
bacaan. Rendahnya minat baca biasanya
berpengaruh terhadap minat menulis. Dengan memiliki kemampuan menulis, seorang guru
akan mudah menyampaikan idenya dengan kalimat yang efektif. Dia juga, akan
dapat memilih kata dan gaya bahasa yang tepat,
menciptakan paragraf yang dinamis dengan hubungan yang koherent.
Meneliti untuk mengatasi masalah
Belum
lagi, persoalan kemampuan meneliti. Kemampuan meneliti, berarti berhubungan
dengan menerapkan metode penelitian.
Karena penelitian sebagai metode ilmiah, tentulah harus mengikuti tahapan dan
mekanisme baku yang harus diikuti oleh seorang peneliti. Agar hasilnya dapat
dipertanggungjawabkan secara ilmu. Penelitian
atau re-search, secara sederhana
dapat dijelaskan sebagai cara ilmiah
untuk mencari jawab atas persoalan-persoalan yanag sifatnya kompleks.
Melalui
pendekatan ilmiah itu, problematika
penelitian kemudian dirumuskan ke dalam kerangka yang lebih terukur untuk
menemukan fokus. Fokus inilah yaang kemudian disebut sebagai variabel.
Berdasarkan tinjauan teori dari ilmu pengetahuan yang telah ada, seorang
peneliti dapat menduga sementara bagaimana
arah interaksi antar variabel
penelitianya. Inilah yang dinamakan hipotesis.
Agar hipotesis yang sifatnya teoritis itu dapat digunakan untuk mengukur
realitas yang terjadi dalam kegiatan belajar-mengajar misalnya, maka hipotesis
teori itu harus dioperasionalkan. Sehingga nantinya, seorang guru yang bertindak
sebagai peneliti akan tahu, bagaimana
cara mengukurnya di kelas, dengan teknik apa mengumpulkan datanya, meliputi
berapa siswa yang perlu diikutsertakan serta bagaimana mengolah datanya setelah
dikumpulkan.
Inilah
yang dianggap sebagian guru kita sebagai sesuatu yang ribet. Sehingga wajarlah
jika kemudian, ada sebagian guru, memilih cara-cara “belakang” yang pikirnya
lebih mudah. Jika keadaan dan mentalitas
itu tidak segera diubah, niscaya dunia pendidikan kita akan mengalami masa yang
suram.
Mulai dari perpustakaan
Sudah saatnya menegakkan kualitas mekanisme sertifikasi guru, dengan menutup rapat-rapat “pintu belakang” di tiap tingkatan administrasi. Terhadap guru sudah bersertifikasi, perlunya sistem penghargaan yang lebih memadai, sehingga kesejahteraannya meningkat dan memiliki dorongan untuk terus exist menjadi guru yang profesional. Sementara itu, untuk menutup kesenjangan kemampuan menulis maupun kemampuan meneliti, dapat dimulai dari ruang perpustakaan. Saatnya koleksi perpustakaan sekolah tidak lagi berisi latihan soal dan bacaan untuk siswa saja.
Sudah saatnya menegakkan kualitas mekanisme sertifikasi guru, dengan menutup rapat-rapat “pintu belakang” di tiap tingkatan administrasi. Terhadap guru sudah bersertifikasi, perlunya sistem penghargaan yang lebih memadai, sehingga kesejahteraannya meningkat dan memiliki dorongan untuk terus exist menjadi guru yang profesional. Sementara itu, untuk menutup kesenjangan kemampuan menulis maupun kemampuan meneliti, dapat dimulai dari ruang perpustakaan. Saatnya koleksi perpustakaan sekolah tidak lagi berisi latihan soal dan bacaan untuk siswa saja.
Guru perlu membaca. Guru perlu bahan bacaan yang
memperkaya pola pikir. Perlu adanya
forum, workshop atau sanggar yang dapat meningkatkan kemampuan praktis guru,
serta adanya kegiatan kompetitif yang dapat mendorong kegiatan meneliti. Jika hal-hal tersebut
dapat dicapai, kita bisa yakin bahwa pendidikan, mulai dari proses belajar mengajar akan meningkat dengan memanfaatkan hasil penelitian tindakan kelas
yang valid dan reliabel.
*) Catatan:
Arsip
naskah un-publish dalam rangka
memperingati Hari Guru
Peran KORPRI dalam meneguhkan profesionalisme dan netralitas ASN dalam pelayanan publik *)
Melalui berbagai regulasinya, pemerintah
sebenarnya telah demikian jelas mendudukkan posisi PNS sebagai profesi yang
netral dengan tujuan untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat secara
profesional, jujur, adil, dan merata. Hal ini sebagaimana diatur dalam
undang-undang pokok-pokok kepegawaian, yang ditetapkan sejak tahun 1999. Namun,
upaya ini belumlah nampak riil pada perilaku kerja PNS dalam pelayanan publik.
Potret
kinerja pelayanan publik
Laaporan Ombudsman Republik Indonesia
akhir-akhir ini, menengarai adanya kenaikan drastis keluhan masyarakat terkait
penyimpangan penyelenggaraan pelayanan publik. Pada tahun 2013, keluhan atas
kasus penyimpangan itu meningkat hampir dua kali lipat! Dari 2.209 laporan pada
tahun 2012 meningkat menjadi 4.359
laporan masyarakat pada tahun 2013. Jumlah itu meningkat 97,3 %, dengan lokus
terbanyak terjadi pada pelayanan Pemerintah Daerah, pelayanan di kepolisian, instansi
vertikal dan Badan Pertanahan (Pikiran
Rakyat, 2014). Selanjutnya dalam laporan itu, juga menyebutkan bahwa
penyimpangan pelayanan publik tersebut terjadi dalam bentuk konflik
kepentingan, permintaan uang, barang, dan jasa serta terjadinya mal-administrasi
pelayanan. Kerja
aparat dianggap lamban, adanya keberpihakan dan dinilai tidak kompeten.
Profesionalisme
dan netralitas
Jika kita perhatikan, potret kinerja
pelayanan publik di atas, mencerminkan bagaimana kondisi kinerja sesungguhnya
para aparat sipil negara kita sebagai penyelenggara pelayanan publik. Dari
bentuk penyimpangan pelayanan di atas, kita dapat mengerti, bahwa permasalahan
utama Aparatur Sipil Negara (ASN) adalah masalah profesionalisme dan
netralitas. Kedua permasalahan tersebut, baik profesionalisme maupun netralitas
dapat saling mempengaruhi. Keduanya melekat pada aktivitas seseorang ASN.
Dalam hal profesionalisme, seseorang dikatakan profesional jika ia melakukan
pekerjaan dengan keahlian khusus dan menghasilkan produk layanan yang berkualitas, bertanggung jawab,
dan sistematis. Tingkat profesionalisme seseorang sebenarnya dapat diamati dari
apakah seseorang itu menyukai atau menikmati tugas yang ia kerjakan. Dari
tingkat rasa suka dan menikmati pekerjaan akan terpantul antusiasme dan kepeduliannya
dalam melayani klien atau masyarakat. Kedua hal itulah yang langsung dirasakan
dan dinilai oleh masyarakat, bahwa ia telah dilayani secara profesional atau
tidak. Telah terjadi mal-administrasi atau tidak. Oleh karena itu, jika kita
ingin membangun profesionalisme, kita bisa meminjam konsep David H.Maister
(1997) seorang penulis “True Profesionalism : The courage to care about your
people, your client, and your career”, bahwa profesionalisme itu sesungguhnya merupakan
perpaduan antara motivasi, inisiatif, komitmen, keterlibatan langsung dengan
pekerjaan dan antusiasme.
Netralitas
melahirkan keadilan dalam pelayanan
Permasalahan netralitas ASN sebenarnya tidak
hanya dalam konteks Pilkada atau proses suksesi kepemimpinan saja. Dalam
konteks yang lebih luas, netralitas ASN sering diuji ketika menyangkut SARA.
Rendahnya netralitas ASN dalam pelayanan publik sering kali berakibat munculnya
konflik kepentingan, keberfihakan dan pelayanan yang tidak merata, penyimpangan
prosedur dan tidak transparan.
Kesemuanya itu akan menyebabkan munculnya ketidakadilan dalam pelayanan.
Menunggu
realisasi reformasi birokrasi
Melihat besar dan luasnya persoalan dalam
sistem pelayanan publik, sebenarnya Pemerintahpun tidak tinggal diam. Upaya
yang dilakukan pemerintah sangatlah mendasar dalam bentuk Grand Disain
Reformasi Birokrasi, untuk mewujudkan tata kelola kepemerintahan yang baik (good governance). Tujuanya adalah untuk
menciptakan birokrasi pemerintah yang profesional dengan karakteristik,
berintegrasi, berkinerja tinggi, bebas dan bersih KKN, mampu melayani publik,
netral, sejahtera, berdedikasi, dan memegang teguh nilai-nilai dasar dan kode
etik aparatur negara.
Melahirkan
Undang-undang ASN
Dari Reformasi Birokrasi melahirkan UU Nomor
5 tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara, yang menempatkan aparatur sipil
negara sebagai bagian dari reformasi birokrasi, menetapkan aparatur sipil
negara sebagai profesi dan menerapkan prinsip merit dalam pelaksanaan manajemen
aparatur sipil negara. Dengan kelahiran undang-undang
ASN memberi landasan manajemen pengelolaan dan pengembangan aparatur di
kemudian hari.
Berharap
dari implementasi merit system
Untuk
merealisasikanya, Pemerintah menerbitkan Permen PAN-RB No. 13 tahun 2014. Sesuai
Peraturan menteri ini, manajemen ASN dilakukan
sesuai dengan kualifikasi, kompetensi, dan kinerja secara adil dan wajar dengan
tanpa membedakan latar belakang politik, ras, warna kulit, agama, asal usul,
jenis kelamin, status pernikahan, umur, atau kondisi kecacatan. Sistem merit
ini dengan sembilan prinsipnya, akan mampu membangun terciptanya aparatur yang
memiliki profesionalisme dan netralitas tinggi dalam pelayanan publik.
Peran KORPRI ke depan
Sebagai
korps yang beranggotakan para profesi pegawai ASN, KORPRI ke depan memiliki
peran strategis, dalam menumbuhkembangkan profesionalisme dan menjaga netralitas
ASN dalam pelayanan publik, baik melalui upaya internal maupun eksternal. Secara
internal KORPRI paling tidak berperan membangun independensi, profesionalisme
dan netralitas. Sedangkan eksternal, KORPRI dituntut perannya dalam mendorong
Pemerintah mengimplementasikan prinsip-prinsip manajemen ASN dengan sistem merit, yang memungkinkan terbinanya
kinerja, profesionalisme dan netralitas ASN dalam pelayanan publik.
Dengan
demikian, harapan besar akan meningkatnya kualitas pelayanan publik, sebenarnya
masyarakat sangat menggantungkan harapan tersebut kepada KORPRI dalam memainkan
peranya dalam menumbuhkan profesionalisme dan netralitas ASN.
(* Catatan:
Arsip naskah lomba karya tulis
dalam rangka HUT KORPRI Kabupaten Kebumen
tgl 29 Nopember 2016, sebagai Juara I.
tgl 29 Nopember 2016, sebagai Juara I.
Riwayat pekerjaan
Riwayat pekerjaanku
di Kebumen, aku awali bekerja sebagai CPNS Petugas Gizi Puskesmas Karanganyar, pada tahun 1987. Selama hampir lima tahun aku bekerja di sana. Pada tahun 1992, aku hijrah bekerja di Dinas Kesehatan Kabupaten Kebumen sebagai staf di Sub Seksi Gizi.
Menjadi Sekretaris KORPRI Sub Unit Dinkes
Menjadi staf di dinkes, banyak mengalami pergeseran tempat tugas. Hingga ada pengangkatan sebagai sekretaris KOPRI Sub Unit
Dinas Kesehatan. Jabatan sekretaris itu disamakan dengan jabatan struktural eselon VB. Dengan surat keputusan Bupati Kebumen, sejak tanggal 04 - 12 -1995 aku menjadi Sekretaris KORPRI dan memperoleh tunjangan. Namun itu tidak lama, karena pada tahun berikutnya, tunjangan sekretaris KORPRI itu dihentikan.
Menjadi Sekretaris DEST
Dalam keseharian selain tugas sebagai Sekretaris KORPRI, aku sebagai staf Sub Bagian Perencanaan di bawah Kepala Bagian TU Dinas Kesehatan Kabupaten Kebumen. Ketika itu, ada struktur baru yaitu Sub Bagian Perencanaan. Hampir dua tahun, aku bekerja di Sub bagian Perencanaan, hingga aku ditugasi sebagai Sekretaris tim DEST (District Epidemiological Surveilance Team). Akupun dimutasi sebagai staf di Seksi Surveilans Bidang Pemberantasan Penyakit Menular. Buah pekerjaan inilah, Alhamdulillah aku berkesempatan mengikuti tugas belajar pendidikan pasca sarjana di UGM Yogyakarta hingga lulus tahun 2001.
Sebagai Kasubag Perencanaan.
Beberapa tahun setelah lulus dan masih berada sebagai staf Seksi Surveilans Bidang Pemberantasan Penyakit Menular., aku menerima penugasan Bupati sebagai Kepala Sub.Bag
Perencanaan Dinkes Kebumen mulai tanggal 22 Oktober2004. Dan dikukuhkan lagi tetap sebagai Kepala Sub.Bag
Perencanaan Dinkes pada tahun 2010.
Mutasi sebagai Kepala Puskesmas Kebumen III
Pada tanggal 31 Desember 2010 aku menerima penugasan sebagai Kepala Puskesmas Kebumen III di Kutosari. Puskesmas Kebumen III merupakan puskesmas yang berada di wilayah perkotaan kebumen, dengan 6 Desa dan Kelurahan sebagai wilayah kerja Puskesmas. Meskipun bekerja sebagai Kepala Puskesmas, tidak lama, namun aku merasa banyak yang bisa aku perbuat, terutama dalam hal penerapan dasar-dasar manajemen Puskesmas-perencanaan, pengendalian dan evaluasi program pelayanan Puskesmas. Hingga pada bulan Mei 2011, aku menerima penugasan sebagai Kepala Bidang Pengendalian Masalah Kesehatan (PMK) Dinkes.
Kembali masuk lingkungan Dinkes sebagai Kabid PMK
Setelah hampir lima bulan sebagai Kepala Puskesmas Kebumen III, terhitung mulai 11 Mei 2011 aku kembali masuk lingkungan Dinkes lagi sebagai Kepala Bidang Pengendalian Masalah Kesehatan (PMK) Dinkes. Bidang PMK melaksanakan banyak program, yang terbagi dalam tiga Seksi, yaitu Seksi Kesehatan Lingkungan, Seksi Pemberantasan penyakit, baik menular maupun tidak menular dan Seksi Surveilans penyakit dan Kejadian Luar Biasa.
Keluar Dinkes: Dari Sekretaris Bappeda ke UPTP2K
Ini adalah periode aku menerima penugasan yang benar-benar keluar dari lingkungan Dinas Kesehatan. Yaitu ketika aku menerima penugasan sebagai Sekretaris
BAPPEDA, terhitung mulai 20 Januari 2014. Memasuki tahun ke dua di BAPPEDA, aku menerima tugas rangkap sebagai Kepala UPT-P2K Kebumen.
Tugas kali ini sebenarnya merupakan tugas ad-officio karena tugas ini melaksanakan fungsi dari jabatan sekretaris BAPPEDA, yaitu sebagai Kepala Unit Pelayanan Terpadu Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (UPT-P2K). Yang tugas pokok dan fungsinya adalah melayani warga miskin, berdasarkan basis data kemiskinan, melakukan verifikasi dan validasi data sasaran. Dengan konsep pelayanan berbasis data memungkinkan pelayanan pada warga miskin dapat tepat sasaran. Di UPTP2K saat ini juga bertindak sebagai call-center ambulance gratis bagi warga miskin.
Tugas kali ini sebenarnya merupakan tugas ad-officio karena tugas ini melaksanakan fungsi dari jabatan sekretaris BAPPEDA, yaitu sebagai Kepala Unit Pelayanan Terpadu Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (UPT-P2K). Yang tugas pokok dan fungsinya adalah melayani warga miskin, berdasarkan basis data kemiskinan, melakukan verifikasi dan validasi data sasaran. Dengan konsep pelayanan berbasis data memungkinkan pelayanan pada warga miskin dapat tepat sasaran. Di UPTP2K saat ini juga bertindak sebagai call-center ambulance gratis bagi warga miskin.
Tuesday, October 25, 2016
Mengikuti Tugas Belajar Pasca Sarjana di UGM Yogyakarta, banyak memperoleh kemudahan
Mendapat
kesempatan mengikuti tugas belajar pasca sarjana di UGM tahun 1999 itu, tentulah merupakan pengalaman yang mengesankan. Kesempatan ini tidak
lepas dari ditetapkannya Dinas Kesehatan Kabupaten Kebumen sebagai lokasi Proyek Intensifikasi
Pengendalian Penyakit Menular (Intensified
Communicable Desease Control Project) dari Dirjen Pemberantasan Penyakit Menular (P2M) Depkes RI. Dari
komponen kegiatan proyeknya menyediakan biasiswa pasca sarjana untuk program tugas belajar epidemiologi dan
non-epid.
Lulus seleksi program MMPK
Dari
Kabupaten Kebumen, aku diusulkan mengikuti test seleksi tertulis nasional program biasiswa pasca sarjana non-epid yang diselenggarakan di
FK-UGM Yogyakarta. Dari
hasil seleksi tertulis tersebut, aku
termasuk peserta yang dinyatakan lulus dan harus mengikuti pemberkasan di Dirjen
P2M Depkes RI.
Setelah
dinyatakan lulus administrasi, maka sejak bulan September 1999 aku memulai serangkaian
tugas belajar itu. Program pendidikan yang aku ikuti adalah Program pasca sarjana magister manajemen
pelayanan kesehatan (MMPK) pada Jurusan
Ilmu Kesehatan Masyarakat., Fakultas Kedokteran-UGM Yogyakarta.
Rumah kost di Jalan Kaliurang
Dengan
sistem perkuliahan reguler, dari Senin hingga Kamis sampai malam hari, mengharuskan aku untuk
mencari dan menempati rumah kost di Yogyakarta. Kali ini aku bersama lagi dengan
rekan seperjuangan dari SPG, SPAG dan UT, yaitu Sonhaji yang berangkat selaku
utusan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Banjarnegara. Setelah berjuang selama
beberapa hari mencari rumah kost, akhirnya aku berdua menemukan di komplek
perumahan Jalan Pandega Padma I, Jalan Kaliurang Km 4 dekat Apotik Kentungan,
Yogyakarta.
Ketika naik bis kota menuju kampus UGM, aku naik bis kota yang dari kaliurang, dan turun persis di depan RSUP Dr. Sardjito. Untuk mencapai lokasi kampus Jurusan IKM Fakultas Kedokteran, aku hanya jalan kaki, melintasi kampus Kedokteran Forensik. Dibelakang kampus kedokteran forensik itulah komplek kampus Jurusan IKM. Pada jurusan IKM sendiri, terdapat beberapa program pasca sarjana, diantaranya magister manajemen pelayanan kesehatan, manajemen obat, manajemen Rumah sakit, manajemen Gizi kesehatan dan manajemen promosi kesehatan.
Lulus TOEFL dengan sekali ujian
Ketika mahasiswa baru, harus menyerahkan hasil test TOEFL yang dipersyaratkan, dengan minimal score 450, aku segera ikut mendaftar. Di UGM test TOEFL dilayani di Pusat Pelatihan Bahasa UGM. Di sana tersedia bermacam-macam layanan test TOEFL.
Ada jenis layanan test saja, ada pula layanan test dengan bimbingan kursus sebagai pendahuluan. Tarif biayanyapun bervariasi, dari Rp 15.000,-Rp 350.000,- Alhamdulillah dan sangat bersyukur, aku lulus dengan sekali ujian dengan biaya Rp 15.000,- Aku juga melihat rekan, yang mendaftar test TOEFL, ada beberapa tidak lulus, bahkan harus mengulang beberapa kali test, hingga lulus test dengan score minimal yang ditetapkan.
Lolos menjadi peneliti Puslit IKM FK-UGM
Suatu saat ada seleksi peneliti untuk sebuah project penelitian yang dilakukan oleh Pusat Penelitian Ilmu Kesehatan Masyarakat (Puslit IKM) FK-UGM yang berasal dari mahasiswa. Rencananya akan diambil tujuh orang peneliti. Untuk melakukan riset payung, yang akan meneliti keberadaan dan kinerja Pusat Informasi dan Penanggulangan Krisis Kesehatan (PIPKK) yang ada di tingkat kabupaten.
Akupun mengikuti proses seleksi tersebut, dan sangat berharap dapat ikut terpilih sebagai peneliti dalam kegiatan besar itu. Mengapa? Bagiku kegiatan penelitian tersebut sungguh sangat bermanfaat. Bagaimana tidak? Dengan ikut terlibat dalam kegiatan riset tersebut, peneliti dalam hal ini mahasiswa dapat mengambil bagian dari tema besar penelitian tersebut, untuk diperdalam menjadi thesis. Sehingga dengan ikut menjadi peneliti, di satu sisi, mendapat pengalaman sebagai peneliti dan memperoleh fasilitas pendukungnya. Di lain fihak, aku dapat sekaligus menyiapkan bahan thesis pribadiku. Tiba saat waktu pengumuman, dari ketujuh peneliti yang dinyatakan lolos seleksi, Alhamdulillah aku ikut diantaranya.
Dan benar, aku memperoleh banyak manfaat menjadi peneliti Puslit IKM FK-UGM. Aku berkesempatan melakukan pengumpulan data di Kabupaten Gunung Kidul-Daerah Istimewa Yogyakarta dan Kabupaten Purworejo-Jawa Tengah. Sekaligus aku dapat menyelesaikan thesisku, melalui pendalaman sub tema riset imbalan kinerja di Kabupaten Purworejo.
Monday, October 24, 2016
Belajar di UT banyak menariknya
Setelah hampir lima tahun bekerja di Puskesmas, ada
keinginan untuk melanjutkan sekolah atau kuliah lagi. Namun jika mengikuti
jalur tugas belajar, selain kesempatannya terbatas, juga harus meninggalkan
tugas. Aku berfikir, apakah ada sistem
kuliah yang fleksibel dan tidak meninggalkan pekerjaan?
Menerima tantangan
Ketika ke Dinkes Kabupaten, aku bertemu dengan kakak senior
SPAG Pekalongan angkatan pertama, Mas
Azis. Ketika aku menyampaikan apakah ada sistem kuliah yang fleksibel dan tidak
meninggalkan pekerjaan? Spontan, Mas
Azis, berseru kepadaku: “Ada dik, Universitas Terbuka (UT).
Sistem belajar fleksibel
Di UT menerapkan sistem belajar jarak jauh dan terbuka.
Istilah jarak jauh berarti pembelajaran tidak dilakukan secara tatap
muka, melainkan menggunakan media, baik media cetak (modul) maupun non-cetak
(audio/video, komputer/internet, siaran radio, dan televisi). Makna terbuka adalah
tidak ada pembatasan usia, tahun ijazah, masa belajar, waktu registrasi, dan
frekuensi mengikuti ujian.
Batasan yang ada hanyalah bahwa setiap mahasiswa UT
harus sudah menamatkan jenjang pendidikan menengah atas (SMA atau yang
sederajat)” Manggut-manggut aku mendengarka penjelasannya. “Bagaimana
prosedurnya?” tanyaku lagi.
“Tenang, kalau dik Cokro serius, aku punya buku
panduan lengkapnya, dan beberapa modulnya bisa sekalian dipakai. Kalau ya,
kapan ke rumah kost-ku, di Klirong, buku-bukunya bisa dibawa”.
Mudahnya melakukan registrasi awal dan pendaftaran ujian
Akhirnya tanpa menyia-nyiakan kesempatan,
segera aku mengambil buku panduan dan beberapa modul UT. Rupanya Mas Azis sudah
mendaftar dan melakukan registrasi, namun tidak berminat meneruskannya. Setelah
aku baca dan cermati mekanismenya, kemudian aku segera ke kantor Pos untuk
membeli berkas “Registrasi Pertama” UT, mengisi formulir dan menyerahkannya
kembali ke Kantor Pos. Sejak saat itu, aku tercatat dan memiliki kartu
mahasiswa UT. Begitu simpel.
Apalagi jika ada jaringan internet. Semuanya dapat dilakukan dengan mudahnya, sejak dari pendaftaran pertama, pendaftaran ulang, pendaftaran ujian, mengirim berkas ujian, menerima hasil ujian dapat dilakukan di rumah. Bisa sambil kerja, melayani pelanggan atau mendengarkan musik atau ceramah agama.
Memang, UKT bagi sebagain mahasiswa merupakan momok yang menakutkan. Jika melihat pengalaman, banyak yang mengulang, bahkan mengulang berkali-kali. Namun, menurut pengamatanku, materi UKT berisi tentang masalah-masalah yang sedang aktual dan menjadi trending topic selama 6-12 bulan yang lalu. Untuk mengantisipasi itu, aku membuat kliping koran menurut tema masalah, dari berbagai koran. Disamping itu, aku mencoba menganilisisnya atau mencari hubungan atas tema-tema itu dengan teori-teori yang ada.
Modul yang hebat dan berkualitas
Jika ditanya mengapa aku
mengambil jurusan Administrasi Pembangunan, maka paling tidak ada dua alasan
yang mendorongku. Pertama, menyesuaikan
tugasku sebagai pegawai negeri dan sebagai pelaksana program pembangunan, aku merasa
perlu memilih jurusan Administrasi Pembangunan pada Fakultas Ilmu Sosial dan
Ilmu Politik ini. Kedua, dari
deskripsi matakuliahnya, aku menemukan banyak matakuliah favorit yang aku suka
disini. Sebut saja misalnya matakuliah Pendidikan Agama Islam, Kebijakan
Publik, Sistem Administrasi Pemerintahan, Administrasi Pembangunan, Perencanaan
Pembangunan dan Pengawasan Pembangunan adalah sederet matakuliah favorit, yang aku sangat
senang membaca berulang-ulang dan
mempelajari modulnya. Selain lay-out modul, menurutku materi ditulis oleh penyusun modul yang hebat. Aku tahu perpustakaan perguruan
tinggi di Jogja juga mengoleksi modul-modul UT.
Beli modul bisa patungan
Meskipun
belakangan aku ketahui yang mengambil jurusan itu, tidak banyak. Jurusan yang
banyak diambil menjadi pilihan mahasiswa
adalah administrasi negara. Aku tidak tahu alasan mengambil jurusan itu, karena
mereka sendiri tidak tahu persisnya. “Saya sendiri tidak tahu mas, yang jelas
teman-teman kantor pada ambil Adne (Administrasi Negara-Red). Jadi saya ikut
saja, biar ketika butuh modul, mudah meminjamnya. Bahkan kami juga patungan
beli modulnya” Demikian teman saya memberi penjelasan. Barangkali faktor inilah
juga, daya tarik kuliah di UT.
UKT sering jadi momok, namun ada trik mengatasinya
Pengalaman mengikuti Ujian Komprehensif vTertulis (UKT), materi ujiannya menuntut mahasiswa mampu menyelesaikan persoalan, menjawab masalah melalui pemahaman antar teori antar konsep. Soalnya berbentuk essay, dengan pertnyaan dan pernyataan yang open-ended.
Selain hal-hal di atas, ada aspek lain yang ikut menjadi kunci keberhasilan UKT adalah teknik menulis atau seni menyampaikan gagasan. Jenis ujian essay, sangat diperlukan teknik menulis yang memadai. Seringkali struktur kalimat, pemilihan kata, diksi dan gaya bahasa sangat mendukung bagi kejelasan konsep. Banyak orang pandai menulis, tetapi tidak banyak orang yang mampu menulis dan enak dibaca.
Happy Ending: dapat Ijazah sekaligus ijabsah
Inilah salah satu yang menarik
belajar di UT, waktu pendaftaran dan penyelesaian pendidikan yang fleksibel. Seperti apa? Setelah beberapa semester, aku
terhitung santai dalam menyelesaikan beban SKS tiap semesternya, akhirnya aku
harus mempercepat.
Karena
dalam-tahun-tahun itu aku memiliki agenda penting, yaitu menikah dan wisuda. Maka
dengan upaya keras, aku berusaha menyelesaikan beban SKS matakuliah dan
mengikuti ujian komprehensif tertulis.
Ujian Komprehensif Tertulis (UKT) adalah
ujian akhir program yang harus aku jalani, setelah menyelesaikan beban minimal SKS matakuliah. Alhamdulillah,
aku lulus UKT dengan nilai yang tidak terlalu jelek. Dan berkesempatan
mengikuti wisuda. Meskipun waktu pelaksanaan wisudaku di kampus UT Pusat di Pondok Cabe,
Jakarta Selatan, sangat fenomenal. Bagaimana
tidak? Karena waktu wisuda dilangsungkan
sehari setelah waktu akad dan resepsi pernikahan. Sore itu aku melaksanakan
pernikahan di Kebumen, paginya, tanggal 12 Nopember 1996 jam 09.00 WIB aku
mengikuti wisuda sarjana UT. Sehingga untuk administrasi pendaftaran peserta dan
gladi bersih, aku dibantu Pak Arifin Subekti, teman kantor di Dinas Kesehatan
yang sudah memiliki pengalaman di Jakarta.
Untuk
keperluan wisuda, aku berangkat beberapa
waktu setelah acara resepsi pernikahan selesai. Dengan do’a restu isteri, orangtua,
mertua dan kerabat, Aku berangkat ke Jakarta ditemani kakakku, Mas Bambang, berangkat ke
Jakarta menggunakan jasa kereta api dari stasiun Karanganyar-Kebumen.
Subscribe to:
Posts (Atom)

