Lihat bangku-bangku kosong itu? Itu bukan berarti sepi pembeli. Itu adalah Pak Musdar sedang "jaga malam" nasi goreng Idaman Surabaya. Pak Musdar biasa buka dari sore hingga dinihari jam 01.00 dan paling larut jam 03.00. Habis nggak habis, beliau harus pulang. Bukan karena capek. Tapi karena di kontrakan ada istri yang jaga toko kelontong. Ada tiga anak yang nunggu ayahnya pulang bawa uang buat besok sekolah.
Usianya 46 tahun. Kelahiran Pamekasan, Madura. tiga tahun ini sejak orang tuanya meninggal, Pak Musdar belum pernah pulang kampung. "Ongkosnya buat anak, pak". Dulu pernah jadi kuli bangunan. Pernah jualan di Malang. Tapi akhirnya Tasik yang dipilih. Karena di trotoar depan Masjid Agung inilah "Nasi Goreng Idaman Surabaya"-nya jadi legend.
16 tahun mangkal di tempat yang sama. Nggak pindah. Karena pindah berarti mulai dari nol lagi. Dan Pak Musdar sudah terlalu lelah untuk itu. Lampu gerobak itu kecil. Tapi cahayanya cukup untuk menerangi masa depan 3 anaknya. Api kompornya kecil. Tapi panasnya cukup untuk menghangatkan satu keluarga.
Bangku kosong di fotomu ini jangan dibiarkan kosong, ya. Besok kalau lewat Masjid Agung malam-malam, isi satu. Pesan nasi gorengnya. Duduk sebentar. Dengerin ceritanya. Karena kadang, yang dibeli orang bukan cuma nasi gorengnya. Tapi keringat seorang bapak Madura yang 16 tahun setia menjaga dagangannya... dan keluarganya.

No comments:
Post a Comment