Showing posts with label aku dan orang2 dekatku. Show all posts
Showing posts with label aku dan orang2 dekatku. Show all posts

Tuesday, July 16, 2024

Riuhnya peringatan merdi bumi di desa Kaligending, Kecamatan Karangsambung*

Mungkin tradisi _merdi bumi_ menjadi salah satu momen sangat penting di desa Kaligending. Momen yang perlu mengerahkan persiapan ekstra, baik dari aspek waktu, tenaga, perlengkapan dan tentu dana yang tidak sedikit.  Merdi bumi menjadi  tradisi desa yang diperingati hampir setiap tahun di bulan Muharam itu dilaksanakan stidak kurang dari lima hari. Dari penuturan Kades Kaligending, Lukman tradisi  merdi bumi dilaksanakan di dua pedukuhan, yakni dukuh Duwet yang meliputi tiga RW dan pedukuhan Kalikudu meliputi dua RW. Meskipun masih dalam satu desa, dua pedukuhan tersebut memiliki kekhasan dalam kesenian dan tradisinya.

Tayub di dukuh Duwet

Prosesi Merdi Bumi di dukuh Duwet dilaksanakan selama tiga hari, dimulai dengan ziarah leluhur para pendiri desa,  selamatan tumpeng  bucon yaitu nasi gunungan yang dibentuk kerucut  berisi  ingkung ayam yang diselimuti bumbu mogana dari nangka muda yang dicacah lembut dengan cita rasa pedas-asin penuh aroma serai.

Selanjutnya acara merdi bumi diramaikan dengan tenonganm yaitu para kepala keluarga membawa makanan dan jajan pasar yang dikemas dalam sebuah wadah terbuat dari bambu yang dianyam. Beberapa tenong juga diberi pita warna warni sebagai hiasan. Sore harinya diselenggarakan pentas kudakepang yang dimainkan oleh kelompok seni lokal terdiri dari anak-anak muda yang ada di desa  Kaligending.

Di akhir rangkaian tradisi merdi bumidi pedukuhan Dhuwet diselenggarakan  tayuban yang melibatkan beberapa penari, dengan sesekali mengajak  penonton untuk ikut serta menari. Dalam seni tari tradisional tayub ini menjadi riuh, karena cara penari mengajak penonton untuk ikut menari dengan cara mengalungkan kain selendang sampur.  Penari kemudian menariknya ke arena mengikuti irama musik  diatonis gamelan.

Wayang kulit di dukuh Kalikudu

Tradisi merdi bumi di dukuh Kalikudu, desa Kaligending Kecamatan  Karangsambung diselenggarakan dalam bentuk upacara memotong kambing kendhit, gelar sewu tumpeng, dan pentas k3seniqn wayang kulit. Tradisi ini biasa dilaksanakan selama bulan Mukharam. Kambing kendhit adalah kambing berwarna hitam dengan corak putih melingkar tubuh di bagian tengahnya.Terhadap tradisi potong kambing _kendhit_ oleh pakar Javanologi UNS Prof. Sahid Teguh Widodo menjelaskan, bahwa sedekahan itu merupakan salah satu tradisi yang dilakukan masyarakat Indonesia. 

"Itu menunjukkan masih ada semesta simbolik dari zaman dahulu, yang masih dilakukan sekarang. Karena keyakinan seseorang itu substansinya berkorban atau sedekah, mengurangi apa yang kita peroleh diberikan kepada orang lain dalam bentuk apapun," seperti dikutip detikJateng.

Tuesday, July 25, 2023

Selamat Jalan Mas Adityo Wibowo

 Di kalangan pebisnis, kaum muda, dan komunitas di Kebumen tentu sangat mengenal sosok mas Adityo Wibowo. Sosok muda yang enerjik, kreatif dan inovatif, memiliki jiwa enterpreunership yang tinggi. Hal inilah menyebabkan mas Adit, begitu panggilan akrabnya, memiliki banyak kegiatan dan seabreg aktivitas bisnis maupun sosial. Sayapun mulai mengenal mas Adit di kegiatan sosial KAGAMA (Keluarga Alumni Gadjah Mada,) Cabang Kebumen. Di KAGAMA mas Adit duduk di Bidang Pengembangan SDM, Inovasi dan Teknologi sejak tahun 2015. Melalui ide dan kreativitasnya banyak lahir kegiatan dan aksi sosial dalam hal peningkatan kapasitas alumni maupun masyarakat umum.

 Selain aktivitasnya di KAGAMA, mas Adit juga memiliki kesibukan pribadi sebagai Managing Director PT Selera Masa Berkah Wisata, Managing Director PT Mandiri Argo Sejahtera dan Direktur CV Hasta Karya.

Sosok humanis dan peduli

Dalam catatan saya sebagai anggota Satgas, Mas Adit adalah sosok muda yang berinovasi, di tengah dahsyatnya pandemi Covid-19, demi menyelamatkan "dapur" puluhan karyawannya. Hampir enam bulan perusahaan  jasa angkutan bus yang dia pimpin, tidak dapat beroperasi dan tidak dapat pemasukan akibat kebijakan pemerintah dan pembatasan penggunaan moda transportasi umum, kala itu.

Inovasi yang dilakukan mas Adit, adalah menyulap bus Selera Masa, menjadi cafe berjalan. Dalam inovasinya itu fihaknya menggandeng Radio Kopi, cafe kekinian dengan co-working space untuk menyajikan berbagai macam menu makanan, minuman dan camilan selama trip berlangsung.Untuk menyulap sebuah bis menjadi cafe berjalan, maka hal yang dilakukan adalah mengubah tempat duduk dan menambahkan meja, menetapkan rute pendek dan  menerapkan protokol pencegahan Covid-19. Setiap penumpang termasuk kru bus, wajib dicek suhunya, cuci tangan dengan hand sanitizer dan mengenakan masker.

Kemunculan cafe berjalan dengan mengusung brand cafe on bus itu tentulah disambut gembira para penumpang, seperti dikutip dari Kebumen Ekspres, karena mereka bisa berwisata sekaligus memperoleh hiburan di tengah suasana jenuh  pandemik yang berkepanjangan. Selain itu dengan  cafe on bus, penumpang memperoleh suasana perjalanan yang sensasional. Terlebih disediakan fasilitas makanan, camilan dan kopi yang bisa dinikmati selama perjalanan.

Bagi banyak orang penumpang, merupakan pengalaman yang mengasyikkan. Namun lebih dari itu bagi mas Adit, cafe on bus adalah pengalaman batin yang dalam, penuh syukur dapat menjadi jalan rezeki bagi puluhan karyawannya, di tengah suasana pandemi.

Semoga kebaikan hatinya dapat menjadi penerang jalan. Selamat jalan mas Adityo Wibowo.

Wednesday, May 11, 2016

Bertemu dengan keluarga Sabaryanto

Bapak dan ibu Sabaryanto, yang keduanya saat ini sudah meninggal, adalah salah satu pejabat struktural di Dinas Kesehatan Kabupaten. Beliau tinggal di rumah kontrakan di Jalan Nusatenggara Kebumen, bersama isteri dan ketiga anaknya, Mafakir, Khalim dan Udin, serta seorang keponakan. Rumah tinggal miliknya ada di Kecamatan Pituruh, Kabupaten Purworejo, ditempati Ibunya. Sesekali waktu keluarga ini pulang untuk menjenguk dan melihat keadaan rumahnya.
Aku diterima hangat di keluarga ini. Memasuki rumah kontrakan itu, meskipun sempit, tapi terasa lega dan menentramkan. Kesederhanaan dan keikhlasan inilah yang membuat aku merasa “teduh”. Makanan dan minuman yang dihidangkan terasa nikmat. Hingga tidur di tempat tidur yang berdesakanpun, terasa nyenyak, hingga dapat menghilangkan rasa penat sepanjang hari perjalanan.

PNS sebagai pilihan hidup
Jika dibandingkan ketika hidup sebagai wiraswasta dengan kondisi finansial yang jauh lebih baik, namun hidup sebagai PNS merupakan pilihan terbaik bagi Bapak ini, Menurutnya, meskipun harus hidup sederhana, namun lebih tenang dan mulia. Jadi PNS harus dapat mengikuti aturan birokrasi, bekerja sesuai tugas pokok dan fungsinya. Melayani masyarakat, dan siap menerima tugas setiap saat.

Banyak petuah, penuh keluhuran budi
Bapak dan ibu Sabaryanto bagiku merupakan pintu masuk kehidupan di Kebumen. Dari pergaulan sehari-hari dengan keluarga ini, aku memperoleh banyak pelajaran hidup, makna bekerja, kemandirian, harga diri dan yang paling penting adalah kejujuran.
Bagi seorang Bapak ini kejujuran, adalah nilai tertinggi. Karena nilai itu akan langsung berurusan dengan Tuhan. Manusia dengan manusia lain bisa menutupi ketidakjujuran, namun tidak dengan Tuhan. Suatu saat Tuhan akan menunjukkan kepada dunia siapa sebenarnya orang-orang yang jujur. Dan Tuhan akan memberikan ganjaran yang setimpal.
Beberapa prinsip dan konsep hidup lainnya banyak yang aku terima dari beliau. Namun yang aku sangat terkesan sebagai orang muda yang nol pengalaman hidup adalah seperti: "Dekatlah dengan tempat kerja", Jaga jeneng, maka kau akan akan mendapatkan jenang dan harga diri akan muncul ketika kita menghargai orang lain.

Mengenal ragam bahasa Kebumen
Selain itu, aku juga banyak mendengar dari keluarga ini tentang sikap, perilaku, kebiasaan, adat-istiadat, hingga budaya sebagian masyarakat Kebumen. Dari logat bicara hingga istilah-istilah lokal yang sangat khas Kebumen.
Bahasa daerah Kebumen termasuk ragam bahasa ngapak.Bahasa ngapak biasanya memiliki ciri khas dalam tempo, logat “a” dan penekanan berat di akhir kalimat. Berbeda dengan bahasa masyarakat Solo, Jogja dan daerah-daerah sekitarnya, banyak menggunakan logat “o”. Masyarakat Kebumen menamakan logat bahasa dengan logat “o” itu sebagai bahasa “bandek”.  Bahasa yang halus, digunakan oleh kalangan priyayi dan kaum terpelajar. Sementara, bahasa Kebumen, dianggap sebagai bahasa masyarakat kebanyakan dan mencerminkan keakraban.
Selain itu, bahasa Kebumen memiliki padanan kosa kata yang sangat banyak. Masyarakat mengerti  istilah dalam bahasa “bandek”, tetapi mereka juga memiliki padanan kosa kata bandek itu dalam bahasa ngapak. Bahkan bisa memiliki padanan kata yang lebih banyak lagi. Di daerah Kebumen “kulon kali”-untuk menyebut daerah di sebelah barat sungai luk-ulo,  relatif lebih banyak memiliki kosa kata. Sehingga untuk  menyebut sebuah benda atau aktivitas, bisa beragam namanya.



Keluarga adalah cermin

Aku lahir di Pekalongan, di bulan Nopember 1966. Di sebuah dukuh pesantren, desa Pakisputih Kecamatan Kedungwuni, aku dibesarkan dan hidup bersama orangtua dan keluargaku. Aku dibesarkan dalam keluarga sederhana, ayahku seorang pegawai rendahan di sebuah kantor pemerintah. Tugasnya, yang aku tahu sehari-harinya memeriksa pintu-pintu air di sepanjang aliran sungai simbang yang menjadi wilayah kerjanya. Jika pagi buta berangkat, maka sore harinya setelah Ashar ayahku baru pulang. Hari minggu, ayahku libur. Waktunya ayah gunakan untuk menggarap sepetak sawah atau memperbaiki perabot yang rusak.

Dari lingkungan sosial pedagang
Sementara ibuku adalah seorang ibu rumah tangga yang sesekali berjualan sayuran di pasar desa. Rumah ayahku, memang tidak jauh dari pasar. Jarak dari rumah ke pasar  kurang dari 400 meter, sehingga sesekali ibuku memanfaatkan waktunya di rumah untuk berjualan di pasar. Mengikuti kebiasaan lingkungan sosial yang sebagian besar masyarakat sebagai pedagang di pasar. Setiap hari di depan rumah ayahku, ramai berlalu-lalang penjual dan pembeli ke pasar. Pasar desa di daerahku, ramai dan buka setiap hari. Setiap pagi, aku menyaksikan transaksi di pinggir jalan depan rumah, antara penjual dengan para bakul tengkulak yang akan membeli barang dan menjualnya di pasar. Barang dagangan yang diperjualbelikan, rata-rata hasil pertanian dan kebutuhan sehari-hari.

Menjelang tengah hari biasanya jual beli sudah mulai sepi. Para pedagangpun sudah mulai pada pulang, termasuk ibuku. Ibuku pulang biasanya sambil membawa untuk anak-anaknya, jajan pasar dan kebutuhan dapuruntuk masak siang hari. Sementara aku dan kakakku sudah memasak nasi di rumah.

Keluarga yang menginspirasi
Dalam keluarga, aku hidup bersama ayah, ibu, dua kakak lali-laki dan seorang kakak perempuan. Aku memiliki dua orang adik, semuanya lali-laki. Orang-orang inilah yang kemudian menjadi cermin hidupku. Bagiku, mereka sangat menginspirasikan banyak hal tentang konsep dan semangat hidup, sikap dan perilaku.
Ayahku merupakan anak dari Tasidjan,kakekku. Dalam hidupnya, ayahku adalah kerja dan kerja untuk mencapai suatu tujuan. Kehidupannya banyak menginspirasikan tentang keberanian, tekad yang bulat dan tidak setengah-setengah. "kalau kamu berani, maka jangan takut-takut. Tetapi jika kamu takut, jangan pernah berani coba-coba" Ia senantiasa bersemangat untuk terus bekerja tanpa berhitung imbalan. "Rezeki itu wujudnya harus kita raih dengan melakukan sesuatu".  Dalam keyakinan ayahku,  "Allah telah menyiapkan imbalan itu sebanding dengan upaya dan kerja keras yang kita lakukan". Demikian sepenggal pesan yang sering disampaikan pada anak-anaknya.
Ibuku yang pemeluk teguh
Ibuku, di mataku adalah seorang pemeluk teguh. Karena keteguhannya kadang terkesan "cerewet" akan sesatu hal. Tujuannya, agar anak-anaknya senantiasa percaya dan selalu ingat pada Tuhan-Sang pemberi hidup. Bagi ibuku, dimana dan kapanpun kita berada, sebenarnya tidak ada yang lepas dari kuasa Allah. "Sehingga jika kita berserah diri, maka tenteramlah jiwa kita" demikian ibuku sering membisikkan kata-kata itu padaku. 

Dalam kondisinya yang sakit, puluhan tahun lamanya. Ibuku tidak banyak beraktivitas. Lebih banyak berbaring, diam tapi tidak tidur.  Karena selama itu pula, ibuku mengalami gangguan tidur. Tetapi, dari mulutnya, bibirnya komat-kamit tidak hentinya berdzikir, melantunkan kalimat thoyibah. Dari mulutnya berucap kalimat thoyibah.
Kakak yang pembelajar
Kakak pertamaku, Bambang Cahyono, adalah seorang pembelajar. Kalau tidak disebut sebagai kutu buku. Karena memang tidak banyak buku. Tetapi dia akan menghabiskan bacaan apa saja yang ada di depannya. Tidak terkecuali mengisi buku Teka-Teki Silang. Meskipun hanya  berkesempatan mengikuti pendidikan dasar, itupun tidak sampai selesai. Ijazahnya diperoleh melalui ujian-ujian persamaan, Kakak pertamaku sangat haus informasi dan ilmu. Sering dia menyatakan:  "Tuntulah ilmu, karena ialah yang akan menyelamatkanmu" Di jaman yang maju, hanya sedikit orang yang dapat bertahan. Yaitu orang-orang yang mempunyai ilmu pengetahuan. Teruslah belajar,, maka kamu akan menjadi seperti mutiara. Mutiara itu barang bagus, yang dicari orang" Itu pesan kakakku yang terlontar ketika mengajak aku belajar.

Dan dari tangan dinginnyalah aku, kakakku dan adikku dapat menyelesaikan pendidikan yang memadai. Setiap malam, dialah yang mengarahkan kami untuk belajar. Membuat garis bidang pada halaman buku tulis, untuk tempat aku mengerjakan tugas mata pelajaran. Agar aku menulisnya tidak secara acak dan meloncat-loncat halamanya. Kakakku yang satu ini terkenal disiplin.
Kakak perempuan yang taat pada syari'at
Berpeganglah kuat pada syari’at. Demikian yang sering diucapkan kakak perempuanku, Tarmonah. Seperti ibuku,  ia sering terlihat sedih hingga berurai air mata. Dengan sesekali menyeka mata, sambil menghentikan isak tangisnya, ia sering sedih ketika memikirkan saudara-saudaranya. 

Yang  membuatnya sedih jika ada orang yang tidak melaksanakan kewajiban  dan tidak mengikuti ajaran agama. "Hidup di dunia, tidak lama. Dan akan berakhir secara tiba-tiba. Tidak pernah ada yang menduga. Amal ibadahmu yang akan menyelamatkanmu" itu kata-kata yang sering keluar dari mulutnya.
Romantis dan kuat dalam komitmen
Hangatlah dengan keluarga” Demikian filosofi kakak laki-lakiku yang kedua. Orangnya romantis. Sepertinya dalam dirinya banyak mengalir jiwa seni. Termasuk seni dan pengalamannya menikmati hidup. Mengapa begitu? Aku pernah menanyakan tentang filosofi itu. Menurutnya, karena kehidupan di luar sana, tidak selalu ramah. Bahkan teramat keras. Pada saat itulah, keluarga meanjadi tempat berteduh yang nyaman.
Adik-adikku yang konsisten.
Adikku yang konsisten memegang komitmen dalam keadaan apapun. Banyak cobaan hidup yang dihadapi dua adik lali-lakiku. Sejak dari masa sekolah, remaja, hingga ia berkeluarga. Namun, aku melihat bagaimana ia menghadapi masalah dengan senantiasa memegang teguh komitmen. Baginya kepercayaan orang lain dan kejujurannya adalah harga mati.
Itulah orang-orang dalam keluarga  yang banyak menginspirasikan hidupku, hingga suatu saat aku harus “keluar rumah”.