Showing posts with label aku dan kisah perjalananku. Show all posts
Showing posts with label aku dan kisah perjalananku. Show all posts

Thursday, December 4, 2025

KAJORAN: membangun tradisi, trah dan merawat sejarah

Hadir menyaksikan tradisi  kirab gunungan di Desa Kajoran Karanggayam (27/07/2025), suasananya sangat hidmat dan sakral. Pagi itu, tidak hanya sesepuh desa, tapi juga pemuda-pemudi desa sudah memadati area seputar balai desa. Mereka mengenakan baju adat kejawen. Dengan nuansa warna gelap untuk kaum laki-lakinya. Sementara kaum perempuan berpakaian lengkap dengan mengenakan jarik , selendang dan kerudung bernuansa kuning kecokelatan. 

Setting tempat duduknya diatur menjadi tiga kelompok. Persis berhadapan dengan kelompok sesepuh dan pemuda desa Kajoran, ditempati sekelompok kidungan yang pelan melantunkan tembang-tembang macapat. Sementara saya diterima dan dipersilakan duduk di seberang area panggung bersama para tamu dan undangan.  Diantara para tamu itu, saya bisa melihat beberapa pejabat, tokoh politik dan rombongan dari luar Kabupaten Kebumen.

Hingga tiba saatnya kirab budaya gunungan itu diberangkatkan menuju makam, saya baru tahu kalau tamu yang hadir hampir semua merupakan keluarga atau trah keturunan dari sesepuh Desa Kajoran. Gunungan itu diberangkatkan  dengan diikuti secara berbaris rapih para ahli waris dan keturunan sesepuh Desa.


Kidungan: menceritakan sejarah hingga pesan moral

Ketika kelompok kidungan melantunkan tembang macapat terdengar syairnya  berisi sejarah awal berdirinya desa Kajoran. Disela-sela  tembang pangkur, dhandhanggula, sinom, kinanthi, mijil dan gambuh terselip petuah dan ajaran moral tentang semangat hidup dan nguri-uri adat dan budaya leluhur. Seperti yang dituturkan Sumbreng Ariyanto, sebagai Kepala sekaligus  sesepuh Desa Kajoran.

Trah Kajoran: Terawat dan berkembang 

Awal mula sejarah trah Kajoran tidak lepas dari keberadaan Eyang Lugu atau disebut sebagai Ki Danasari . Dalam kidungan pangkur dikisahkan oleh pak Kades Sumbreng sampailah perjalanan Eyang Lugu di sebuah lembah sunyi, namun berbahaya karena banyak binatang buas, penjahat dan para lelembut di sebuah Jurangjero yang dikelilingi bukit dan pegunungan. Dengan kerendahan hati dan keluhuran budi, Eyang lugu datang dan menyatu dengan masyarakat lumrah hingga dapat membangun komunitas sosial disana.

Di tembang-tembang macapat berikutnya pak Kades Sumbreng menceritakan perkembangan trah Kajoran. Melalui delapan anaknya dari dua isteri Eyang Lugu, yang kemudian dikenal sebagai Eyang Agung inilah trah Kajoran berkembang ke berbagai desa bahkan ke luar Kabupaten seperti Cilacap, Banyumas dan Purbalingga.

Eyang Agung dikisahkan memiliki dua isteri. Dari kedua istri tersebut melahirkan delapan anak. Dari istri pertama melahirkan  anak putri sulungnya bernama Nyai Wiramenggala. Disusul Nyai Trunajaya, Mbah Bogem dan Mbah Derwak Ki Ditawangsa. Dari Mbah Derwak ini kemudian melahirkan tokoh-tokoh penting yang membangun Kajoran seperti Nyi Ragajaya, Padureksa, Pasemprungan dan Kedungpane. Dari istri ke dua, melahirkan putri sulung Nyai Astrasuta yang menikah dengan Adipati Panjer, menurunkan dua anak laki-laki yaitu Astrawerdana dan Jayamenggala. Disusul  Eyang Wangsakerti, Ki Kertileksana yang menetap jauh di Desa Kutawis wilayah Kabupaten Purbalingga. Dan sebagai putri  bungsu adalah Nyi Kertijaya.

Hingga saat ini, penyelenggaraan upacara kirab gunungan setiap tahun itu, bukan sekedar melestarikan tradisi, namun juga upaya menyatukan kembali trah Kajoran yang tetsebar di mana-mana. Seperti dituturkan pak Kades Sumbreng dalam sebait suair  tembang gambuh: "Sedaya guyub rukun, sesarengan arsa amemangun, trah Kajoran dimen bisaa lestari, anjunjung para leluhur, nglampahaken ingkang ilok"

Wednesday, January 15, 2025

Bertemu Pekundi Tangguh di Kampung Gerabah Pejagatan


Desa Pejagatan Kecamatan Kutowinangun terdiri  empat pedukuhan yaitu; Krajan, Karunan, Kedungsumur dan Konduran. Desa ini memiliki tradisi masyarakat yang turun temurun sebagai pekundi, yakni memproduksi kerajinan gerabah.




Gerabah Pejagatan

Gerabah merupakan hasil kerajinan para pekundi berupa perkakas rumah tangga tradisional yang terbuat dari bahan dasar tanah liat dan  tuffa- pasir putih dari kali, dan air serta tanah puru-berupa lempung merah yang berfungsi sebagai pewarna merah gerabah  sebelum dibakar. Sedangkan alat-alat yang digunakan adalah peralatan tradisional berupa perbot kayu tebal, berbentuk melingkar yang dipasang laher di bagian tengahnya hingga bisa diputar dengan ujung jari kaki, damin, penggerus, kain kelambu dan batu penghalus.

Untuk menghasilkan sebuah kerajinan gerabah, melewati beberapa tahapan yang harus dilalui. Di mulai dari tahap persiapan bahan baku dan alat, tahap pembuatan mulu-adonan tanah liat yang dibentuk bulatan-bulatan, pengolahan dan  pembentukan secara manual, pengeringan, finishing bentuk, dan pembakaran manual menggunakan "tobong".

Tangguh: Bersyukur dan Menikmati proses

Menurut penuturan Muslihatun (40 th) wanita warga dukuh Kedungsumur, bersyukur dan menekuni sebagai pekundi bersama suami dan anaknya, tahapan paling krusial adalah ketika  membentuk produk gerabah secara manual. Pada tahap ini diperlukan keterpaduan proses, antara irama putaran perbot, kelenturan adonan tanah, tetesan air, gerakan jari tangan dan kejernihan fikiran! "Pikiran kita harus tenang. Pada saat fikiran atau perasaan kita tidak nyaman, gelisah atau kemrungsung-terburu-buru, tidak santai,  pembentukan adonan bisa berantakan" tuturnya menjelaskan.

Para pekundi dengan kesederhanaanya, harus tenang dan menikmati proses ketika dalam tahap pembentukan produk gerabah. Ini yang saya lihat terjadi pada  Painem, wanita pekundi sebelah rumah  Muslihatun nampak "khusuk" dengan pekerjaanya. Serius, tidak banyak merespon, ketika saya banyak bertanya.

Tantangan dan peluang

Melihat dari dekat, para pekundi bekerja, terlihat tantangan besar yang dihadapi pengrajin gerabah adalah seputar modernisasi alat/perbot, sertifikasi produk dan kapasitas produksi. Dengan perbot yang manual para pekundi sangatlah terbatas menghasilkan produk. Tentu kondisi ini juga akan mempengaruhi kapasitas produksi. Sehingga tidak bisa mencukupi kuota ketika ada pesanan dari luar dalam jumlah besar. Namun saya melihat peluang. Tidak jauh dari tempat tinggal kedua pekundi ini, diseberang jalan ada bangunan permanen Griya belajar gerabah pejagatan. Ketika saya mencoba melihat kondisinya. Semacam ruang pajang produk para pekundi, namun sepertinya kurang terawat dan jarang dimanfaatkan. Dilihat dari  lokasinya sangat strategis, lebih menyatu dengan warga pekundi dan di area samping adalah tanah lapang. Sangat berpotensi untuk dikembangkan menjadi sentra terpadu edukasi dan pengembangan ekonomi, melalui pendirian museum, pusat jual-beli dan gelar event festival seperti "grebeg gerabah pejagatan".

Tentu  upaya ini perlu effort yang serius dan banyak dukungan dari banyak fihak, terutama komunitas mudanya. Seperti diakui pejabat Pemerintahan Desa,  komunitas muda Pejagatan sudah cukup berperan dan memiliki potensi untuk dikembangkan. Sehingga ketajinan gerabah yang sudah ditekuni secara turun temurun, menjadi bisnis keluarga dan melahirkan banyak pekundi tangguh, akan tetap eksis dan berkembang di masa datang.  Menjadi sumber ekonomi yang dapat mendatangkan manfaat bagi seluruh warga Pejagatan. Wallahu a'lam.

Monday, August 19, 2024

Menikmati santai Forum konsultasi publik KPPN Purworejo di taman matoa

Menghadiri undangan rapat di KPPN Purworejo, identik serius membahas evaluasi capaian  APBN Desa. Namun tidak untuk kali ini. Pagi itu saya datang terhitung gasik, panitia pun ada yang masih menyiapkan beberapa properti rapat. Tamu tidak diterima di aula, namun rapat kali ini diselenggarakan di luar ruangan kantor. Mengambil tempat  di sebuah lokasi yang hanya beberapa meter saja dari tempat parkir. 

Taman Matoa!

Di lokasi ini tumbuh sebuah pohon matoa. Pohon asli Papua itu, dari penuturan Kepala KPPN, Ibu Yessy Silvia Maharini,  ditanam sudah lebih dari 20 tahun lalu. Kini pohon itu sudah tumbuh besar, bahkan besarnya lebih dari sedekap orang dewasa. Tinggi batang pohonnya kurang lebih 20 meter. Di habitat aslinya, pohon matoa (Pometia Pinnata) dapat tumbuh mencapai tinggi 50 meter dengan akar  tunggang. Sedangkan cabang dan ranting matoa  tumbuh miring hingga mendatar, sehingga membentuk pohon ini menjadi rindang . Oleh karena itu, sangatlah cocok buat lokasi penyelenggaraan rapat outdoor, dengan payung pohon matoa. Apalagi saat ini, pohon matoa di KPPN Purworejo sedang berbuah, sehingga semakin sedap dipandang mata. Buah matoa berbentuk bulat lonjong sebesar telur puyuh. Kulit luar buah (cangkang) licin berwarna kuning kehijauan ketika muda dan pada saat masak berwarna cokelat kemerahan.

Peningkatan Kualitas

Forum Konsultasi Publik KPPN Purworejo kali ini dilaksanakan dalam rangka mewujudkan pelayanan yang  berkualitas, cepat, mudah, akuntabel, partisipatif  dan berkeadilan yang inklusif. Terhadap tema kualitas pelayanan, Kepala KPPN Ibu Yessy mengharapkan adanya opini dan masukan dari pengguna layanan  dalam upaya peningkatan kualitas layanan maupun implementasi pengelolaan digitalisasi pembayaran pelayanan perbendaharaan untuk disabilitas, dalam keadaan khusus atau bencana, mendorong kearifan lokal serta kebutuhan informasi publik yang diperlukan.Pada kesempatan itu juga dilakukan paparan dan  komunikasi dialogis dengan unsur pengguna seperti sekolah, desa, organisasi kemasyarakatan dan budaya, difabilitas, kebencanaan, pers dan Satker.

Saat giliran saya menyampaikan tanggapan, kesempatan saya memberikan masukan kepada KPPN dalam kesiapsiagaan menghadapi keadaan darurat dan kebutuhan informasi publik. Dalam hal kesiapsiagaan keadaan darurat diperlukan redundancy system untuk penyiapan dua atau lebih sumberdaya yang aktif sekaligus sebagai  back up ketika terjadi keadaan darurat seperti penyimpanan data, sumber listrik, tim help desk, provider layanan internet. Dalam hal kebutuhan informasi publik yang dibutuhkan  pengguna, bahwa sebagai Badan Publik KPPN Purworejo selain harus menyediakan informasi yang setiap saat dan berkala, KPPN juga harus menyediakan informasi yang serta merta atau mendadak. Informasi ini seperti perubahan dalam kebijakan keuangan di Tingkat Pusat yang berlaku di Desa atau tambahan atau perubahan  persyaratan  penerima  BLTDD.

Secara keseluruhan acara konsultasi publik KPPN Purworejo kali ini berjalan sesuai agenda dalam situasi santai dan humanis. Acara diakhiri dengan penandatanganan berita acara layaknya rapat-rapat dinas. Namun kali ini ibu Yessi, mengjak serta seluruh tamunya untuk melihat dari dekat seluruh ruang dalamnya KPPN Purworejo. Luar biasa! Sudah selayaknya WBBM segera dapat terwujud. Semoga



Tuesday, July 16, 2024

MASYARAKAT SASAK ENDE: Kuat menjaga tradisi


Memasuki desa Sasak Ende, Sengkol Kecamatan Pujut, Lombok Tengah adalah menikmati kekhasan budaya masyarakat Sasak yang terjaga. Beberapa bangunan dengan ciri tertentu mencerminkan tradisi yang dirawat dan dijaga seluruh warganya. Seperti yang diungkapkan Amak Sultan seorang warga yang sekaligus menjadi pemandu lokal di sana.

Kekhasan bangunan adat Sasak

Berbagai bangunan fisik masyarakat Sasak Ende memanfaatkan bahan dari alam sekitar seperti tanah liat, kayu, bambu dan alang-alang. Pemanfaatan bahan-bahan alami ini mencerminkan keselarasan dengan alam sekitar dan kearifan lokal masyarakat Sasak Ende. Termasuk memanfaatkan kotoran ternak sebagai semen "roda ampat" sebagai penguat struktur bangunan lantai dan diyakini juga untuk mengusir serangga, nyamuk dan gangguan-gangguan energi "negatif" dari luar. Dijelaskan Sultan, dalam keseharian masyarakat Sasak Ende terutama laki-lakinya lebih banyak berada di luar rumah. Teras rumah menjadi arena publik untuk menerima tamu, santai dan bercengkerama.

Berbagai bentuk bangunan dibuat oleh warga sesuai peruntukannya, seperti _balai tani_ untuk rumah tinggal, _balai jajar_ untuk rumah pertemuan warga, _balai lumbung_ untuk menyimpan padi dan hasil pertanian lainnya, pos kamling untuk gardu jaga warga yang dibuat dengan struktur panggung dan mushola untuk tempat warga menunaikan ibadah. Dari macam bangunan itu, menurut sultan ada kekgasan dalam bentuk atap. atap: Atap rumah masyarakat Sasak Ende berbentuk seperti tumpeng terbalik, dengan tingkat yang semakin ke atas semakin kecil. Bentuk atap ini memiliki filosofi sebagai simbol kesakralan dan keharmonisan dengan alam. Dalam hal atap depan _balai tani_ dibuat relatif rendah, sehingga  ketika seseorang memasuki harus merunduk. Mengandung makna nilai filosofi untuk sopan santun ketika bertamu atau memasuki rumah.


Pembagian ruang dalam rumah adat Sasak Ende, Lombok memiliki tata ruang yang jelas, diantaranya ada untuk tempat tinggal, dapur, lumbung, dan tempat ibadah. Tata ruang ini mencerminkan nilai-nilai budaya dan tradisi masyarakat Sasak Ende.

Tradisi pernikahan yang unik dan menarik

Begitu juga dalam tradisi pernikahan orang Sasak Ende, paling tidak harus melewati enam tahapan yang begitu dramatis. Sejak dari _merarik, selabar, nuntut wali, nyongkolan, sorong-serah dan kuwade_ atau duduk di pelaminan. Walaupun adat  pernikahan tersebut  terkesan ribet, namun unik dan  menarik. Sehingga nilai dan tradisi ini justru menjadi kebanggan bagi masyarakat Sasak Ende untuk menjaga nilai dan tradisi tersebut Diantara enam tahapan dalam proses pernikahan masyarakat Sasak Ende, hal yang terdengar aneh adalah _merarik_ atau menculik gadis. Menculik gadis pada masyarakat Sasak Ende adalah proses melarikan anak perempuan orang lain yang sebelumnya telah melakukan kesepakatan terlebih dahulu diantara laki-laki dan perempuan tersebut tanpa sepengetahuan dari pihak orang tua dengan tujuan untuk menikah.


Riuhnya peringatan merdi bumi di desa Kaligending, Kecamatan Karangsambung*

Mungkin tradisi _merdi bumi_ menjadi salah satu momen sangat penting di desa Kaligending. Momen yang perlu mengerahkan persiapan ekstra, baik dari aspek waktu, tenaga, perlengkapan dan tentu dana yang tidak sedikit.  Merdi bumi menjadi  tradisi desa yang diperingati hampir setiap tahun di bulan Muharam itu dilaksanakan stidak kurang dari lima hari. Dari penuturan Kades Kaligending, Lukman tradisi  merdi bumi dilaksanakan di dua pedukuhan, yakni dukuh Duwet yang meliputi tiga RW dan pedukuhan Kalikudu meliputi dua RW. Meskipun masih dalam satu desa, dua pedukuhan tersebut memiliki kekhasan dalam kesenian dan tradisinya.

Tayub di dukuh Duwet

Prosesi Merdi Bumi di dukuh Duwet dilaksanakan selama tiga hari, dimulai dengan ziarah leluhur para pendiri desa,  selamatan tumpeng  bucon yaitu nasi gunungan yang dibentuk kerucut  berisi  ingkung ayam yang diselimuti bumbu mogana dari nangka muda yang dicacah lembut dengan cita rasa pedas-asin penuh aroma serai.

Selanjutnya acara merdi bumi diramaikan dengan tenonganm yaitu para kepala keluarga membawa makanan dan jajan pasar yang dikemas dalam sebuah wadah terbuat dari bambu yang dianyam. Beberapa tenong juga diberi pita warna warni sebagai hiasan. Sore harinya diselenggarakan pentas kudakepang yang dimainkan oleh kelompok seni lokal terdiri dari anak-anak muda yang ada di desa  Kaligending.

Di akhir rangkaian tradisi merdi bumidi pedukuhan Dhuwet diselenggarakan  tayuban yang melibatkan beberapa penari, dengan sesekali mengajak  penonton untuk ikut serta menari. Dalam seni tari tradisional tayub ini menjadi riuh, karena cara penari mengajak penonton untuk ikut menari dengan cara mengalungkan kain selendang sampur.  Penari kemudian menariknya ke arena mengikuti irama musik  diatonis gamelan.

Wayang kulit di dukuh Kalikudu

Tradisi merdi bumi di dukuh Kalikudu, desa Kaligending Kecamatan  Karangsambung diselenggarakan dalam bentuk upacara memotong kambing kendhit, gelar sewu tumpeng, dan pentas k3seniqn wayang kulit. Tradisi ini biasa dilaksanakan selama bulan Mukharam. Kambing kendhit adalah kambing berwarna hitam dengan corak putih melingkar tubuh di bagian tengahnya.Terhadap tradisi potong kambing _kendhit_ oleh pakar Javanologi UNS Prof. Sahid Teguh Widodo menjelaskan, bahwa sedekahan itu merupakan salah satu tradisi yang dilakukan masyarakat Indonesia. 

"Itu menunjukkan masih ada semesta simbolik dari zaman dahulu, yang masih dilakukan sekarang. Karena keyakinan seseorang itu substansinya berkorban atau sedekah, mengurangi apa yang kita peroleh diberikan kepada orang lain dalam bentuk apapun," seperti dikutip detikJateng.

Friday, December 15, 2023

Desa Panglipuran: Terbersih se-dunia karena kekuatan adatnya

Ini adalah moment out-door terbaik ketika berkesempatan berkunjung ke Bali, bersama rombongan Bumdesma Bodronolo Kebumen,  Rabu (13/12/2023) siang itu. Dari penjelasan pemandu, Desa Penglipuran  terletak di Kabupaten Bangli, Provinsi Bali. Desa yang merupakan  satu diantara banyak desa adat di Bali dengan banyak daya tarik yang unik.  Sehingga menarik minatku untuk mencari tahu ke sana.

Pesona Desa Penglipuran bukan dari pantainya yang menenangkan, bukan dari bentangan alamnya yang mengagumkan, bukan karena pesona bawah lautnya yang spektakuler, namun karena kekuatan memegang adat dan keharmonisan masyarakatnya. Benar, baru beberapa langkah saja dari area parkir menuju gapura desa Panglipuran sudah terasa daya tariknya. Tidak ada sampah dan bebas polusi! Lingkungan tradisional yang bersih, asri dan tertata rapi.

Berjalan memasuki desa ini, terasa lega, hilang sesak di dada. Karena  suasana segar dan  warna hijau  tanaman yang rapi tertata. Semakin  masuk ke area desa, udara dan pemandangan akan semakin terasa sejuk dan asri dengan pemandangan pagar tanaman  yang menghiasi seluruh area desa. Menurut penuturan Biyang Lancar yang aku singgahi rumahnya, ia, anak dan menantunya setiap hari sejak pagi buta sudah bersih-bersih rumah dan lingkungan pekarangan termasuk jalan lingkungan. Tentu jalan lingkungan yang ada tepat di depan atau samping rumahnya. Selain itu, kata ibu dari dua anak laki dan perempuan itu ada aturan adat yang berlaku di desa ini. "Ketika berjalan  dan mengelilingi desa ini, dilarang menggunakan kendaraan bermotor. Hal ini diberlakukan  untuk menjaga lingkungan Desa Penglipuran agar bebas dari udara kotor.  Selain itu, masyarakat juga tamu dilarang membuang sampah sembarangan. Di Desa Penglipuran, sudah disediakan tempat sampah kira-kira setiap 30 meter" tukasnya mengakhiri penuturannya. Bersamaan turunnya hujan siang itu, Biyang lancar dengan anak dan menantunya segera merapikan barang dagangan di seambi ramahnya, agar tidak basah.

Saturday, November 4, 2023

Batik LOGANDENG: Penuh keguyubrukunan warganya

Meski datang terlambat, Kamis sore itu (2/11/2023) saya tidak melewatkan kesempatan untuk berkunjung ke kelompok usaha batik di Kalurahan Logandeng, Kecamatan Playen, Gunungkidul. Untuk mengambil sebagian kecil dari banyak  prestasi desa Juara Lomba Desa Nasional ini, saya mengambil angel kelompok usaha batik.

Motif batik yang dikelola kelompok perempuan "Jemari ibu" jelas menggambarkan motif campuran. Motif batik ini nampak memasukkan  motif kontemporer, namun tetap mempertahankan motif pohon lo yang melegenda. Keberadaan pohon Lo (Ficus Racemosa) tidak lepas dari legenda desa Logandeng. Menurut penuturan Kepala Kalurahan, Bopo Suhardi, di awal sejarahnya di daerah ini tumbuh subur tanaman pohon lo. Saking suburnya tumbuhan itu  saling "bergandengan" menyatu antar pohon lainnya.

Motif lo gandeng, seperti dituturkan bu Ddhukuh Siyono, Kristina, mengandung makna petsatuan. Bahwa kekuatan desa ini dibangun dengan bersatunya kekuatan padhukuhan, dhusun, keluarga dan seluruh masyarakat yang ada di desa ini sebagai nilai luhur yang ada secara turun temurun. Sedangkan motif kontemporer, mencerminkan masyarakat desa Logandeng juga dapat menyesuaikan terhadap perkembangan jaman dan mengadopsi tren kekinian. Nilai-nilai luhur masyarakat Logandeng tentang persatuan, kesatuan kerjasama dalam membangun desa masih sangat kuat. Hal ini juga diakui ibu Sutroyani dan Sumini yang kami temui saat menyelesaikan pembatikan di kelompok Batik "Jemari Ibu" Dari penuturan kedua emak-emak ini, bahwa keguyubrukunan warga ini tercermin dari berbagai kegiatan.  Begitu juga dalam kelompok usaha batik yang dibentuk Bopo lurah ini.

Ada beberapa orang yang bergabung dalam usaha kelompok batik ini. Masing-masing orang saling membantu, disamping memiliki tugas pokoknya. Ada yang berperan dalam menetapkan pola, melukis dengan malam, mewarnai, nge-blok, hingga mencuci , mengemas kalau batik sudah jadi. dan batik siap di kirim ke pemesan atau di jual. Ada tiga jenis batik yang dikerjakan oleh para emak-emak di "Jemari Ibu" ini, yaitu batik tulis, batik cap dan campuran batik tulis dan cap. Tergantung dari pesanan pembeli. Tentu, akan berpengaruh dalam harga. Sebagai gambaran, satu lembar batik tulis akan selesai kurang lebih satu minggu. Sedangkan batik cap, dalam sehari mak-emak ini dapat menyelesaikan 6-7 lembar kain batik. Luarbiasa.



Tuesday, July 4, 2023

GOA SILODONG: Eksotisme, Keramahan dan citarasa nasi Mogana


Setelah berjalan kaki, kira-kira 15 menit dari tempat kami parkir kendaraan,  akhirnya sampailah kami di mulut gua si-lodong. Oleh pegiat wisata desa disiapkan tempat duduk di atas gelaran tikar, cukup menampung 30 orang. Kami pun istirahat  sejenak, duduk dan melepas alas kaki. Sambil menghela nafas, terasa angin bertiup dari sela pepohonan dan batuan goa. Sejuk. Disitu sudah ada rombongan BRIN yang mengarahkan kami sebelumnya.  Ada pak doktor Chusni ,pak Triharjito. pak Sugiharto. pak Sukiman. pak Edi ,pak Haris dan bu Novi, 

Ada sajian khas pedesaan yang menggugah selera. Dua bakul nasi mogana! Masih hangat. Nasi gurih, di dalamnya ada  ayam ingkung dengan bumbu urab kelapa parut,  dengan cita rasa  pedas-asin. Disajikan di atas lembaran daun jati segar. Dimakan pakai tangan dengan rajangan lembut petai dan sayuran lokal.  Sungguh menggugah selera dengan suasana alam terbuka. Belum lagi teh panas, kental manis, dan singkong rebus. Lengkap sudah   mengembalikan tenaga kami yang hilang.

Misi "ekspedisi"

Tidak seperti  para geologist BRIN  Karangsambung datang untuk  melihat jenis dan sejarah terbentuknya batuan goa, maksud kunjungan kami ke goa silodong,  selain menikmati pesona salah satu situs geopark Kebumen, juga  mencari peluang pemberdayaan masyarakat sekitar dalam rangka membangun dan merawat bumi, batuan dan goa yang ada dengan baik. 

Sekilas kami melihat potensi yang bisa dipoles untuk dikembangkan. Di pemukiman terakhir dekat goa silodong, ada sekelompok keluarga yang menjajakan hasil anyaman pandan.  Sementara ada seorang ibu dan neneknya serius menyelesaikan complong, lembaran anyaman pandan yang nantinya sebagai bahan dasar beraneka produk kerajinan sepeti dompet, slepen,  topi, tas, tempat  koran dll.

Ada juga yang menjual pupuk  guano yang dikemas kiloan. Keberadaan goa silodong yang di dalamnya juga untuk hidup sekelompok kelelawar, kotorannya yang sudah bercampur tanah di dalam gua memiliki nilai ekonomi bagi penduduk setempat. Pupuk guano dari kotaran kelelawar itu sangat bagus untuk pupuk organik sebagai penyubur tanaman dan laku dijual.

Selain kesan exotic goa silodong yang masih perawan dengan banyak hiasan stalagtit "hidup", kesan yang mendalam adalah keramahan para pegiat wisata desa yang dikomandani pak Kades Langse Gunawan Sugiyanto dalam menyambut pendatang. Ini bisa jadi modal awal untuk membangun Desa Wisata Goa Silodong dengan devisi pemandu wisata yang handal, devisi kuliner  penuh cita rasa, devisi home stay yang mengesankan dan devisi cinderamata yang kreatif. Keberadaan mushola mungil yang bersih dengan ketersediaan sumber air yang cukup bisa menjadi daya tarik untuk dikembangkan menjadi rest area yang nyaman, Semoga,

Saturday, February 4, 2023

Masyarakat Bintan erat dengan kehidupan di atas kelong

Bersyukur ketika berkesempatan ke Bintan, saya bertemu   Adi Kurniawan.  Adalah seorang  tour guide yang membawa rombongan kami  ke banyak tempat. Sepanjang jalan banyak mengungkap keunikan pulau penghasil beuksit ini. Bukan saja cerita Beuksit sebagai mineral logam  bahan utama alumunium.

Namun dengan gayanya yang kadang kocak juga bercerita tentang budaya masyarakat Bintan merawat
kelong  baik yang  apung maupun tanam untuk kelangsungan hidup dan ekonomi keluarganya.

Masyarakat Bintan dalam  memelihara ikan, bisa berhari-hari bahkan dua mingguan hidup di atas _kelong_. Semacam keramba kayu yang dilengkapi jaring di kanan-kirinya, dengan bangunan rumah kayu di atasnya.
Selama diatas kelong, mereka mengerjakan semua hal disitu, sejak menjaring, memberi makan, merawat dan memijahkan ikan-ikan itu, hingga memanen dan membawanya pulang atau menjualnya.

Saturday, October 15, 2022

Serunya Bermalam di Griya Lesanpura Deswita Rejosari


Bertempat di homestay Griya Lesanpura, rombongan studi banding kawasan pedesaan diterima oleh Kades Desa  Wisata (Deswita) Rejosari, Kecamatan Bansari, Kabupaten Temanggung, Teguh Rahayu (9/10/2022). Rumah yang dirancang oleh pemiliknya Wiyanto-seorang guru sejarah di SMP Negeri 2 Kretek Wonosobo ini memilih gaya arsitektur kuno dengan banyak memasukkan ornamen klasik ini mengingatkan kita pada sejarah, jauh ke masa "zaman pewayangan". Nama Lesanpura ini mengambil dari nama sebuah kerajaan asal ksatria dalam tradisi pewayangan Jawa, Satyaki, yang merupakan sepupu Kresna dan Pandawa. Styaki tinggal di kasatriyan Swalabumi.

Bergaya elektik

Rumah ini bukan bangunan peninggalan kuno. Rumah ini dibangun tahun 2010.  Menurut penuturanya bangunan ini belum selesai, karena Wiyanto sangat selektif dalam memilih model bangunan hingga perabotannya. Plafon yang tinggi, hiasan di atas genteng, daun pintu hingga engsel, ukiran pada “umpak” pilar utama rumah.  Pemilihan warna cat tembok yang dominan putih “broken white”, sedangkan warna cat kayu kombinasi hijau tua dengan kuning. Kesemuanya mencirikan bangunan kuno layaknya sebuah “padepokan”.

Memasuki ruangan rumah, di setiap dindingnya banyak dihiasi pigura bergambar presiden Soekarno dan presiden  Suharto dengan berbagai situasi. Termasuk ketika Presiden Soekarno berdampingan dengan Presiden AS John F. Kenedy. Gambar foto-foto tersebut berukuran besar seperti poster. Sekilas ruangan-ruangan ini terkesan seperti “museum” sejarah.

Di dalam ruangan, langka terlihat perabot. Hanya terdapat beberapa meja credenza klasik, tanpa kursi. Kami berkumpul, makan, mendengarkan paparan dari pejabat Bappeda, PMD Pemkab Temanggung dan pak Kades Teguh Rahayu, malam itu dengan duduk lesehan di atas karpet; yang menutupi tegel-tegel warna semen polos klasik.

Lebih seru ketika memasuki ruang tengah, yang dibiarkan terbuka tanpa tembok pemisah, sehingga menjadi ruangan yang luas. Di sini ada koleksi tanaman hias, kolam ikan, beberapa set meja-kursi kayu tamu dan kursi resban kayu tebal dengan motif ukiran dan tekstur klasik. Kursi ini berukuran besar, dapat memuat 5-6 orang. Di kursi ini juga kami sempat berbincang dengan para pegiat Deswita Rejosari, seperti: Tugiono, Suwadi-Kaur Kesra yang sekaligus Ketua Deswita, Wiyanto sang Guru dan Pak Kades Teguh Rahayu. Kursi resban ini dibeli dari pedagang mebel di kota Temanggung. Meskipun jaraknya jauh, namun Wiyanto berminat membeli kursi resban tersebut karena model dan motifnya antik.

Di ruang inilah kami disambut dengan minuman “welcome drink” khas Dukuh Sigarut, wedang cabe! Adalah minuman dengan rempah penghangat dan sedikit cabe segar dengan sajian menggunakan gelas ukuran sangat kecil. Sehingga satu gelas itu sekali tegukan, wedang cabe itu habis. Terbukti setelah minum wedang cabe, badan terasa hangat. Meskipun udara di dalam ruangan lebar itu sangat dingin, sejuk serasa masuk sampai tulang. Tidak heran, suasana sejuk di Griya Lesanpura ini, karena kawasan desa wisata Rejosari  Kecamatan Bansari berada di kaki gunung Sindoro.

Insya Allah Bersambung...

Monday, February 21, 2022

SUKARAJA: Setiap sudutnya ada geliat berusaha


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 60 menit dari Hotel Horison Tasikmalaya, melewati jalan kota, sudut perkampungan, empang dan tanah pertanian terasering akhirnya rombongan studi orientasi kerajinan anyaman pandan Kabupaten Kebumen itu sampailah di desa tujuan, Sukaraja, Kecamatan Rajapolah, Tasikmalaya (19/02/2022). Acara yang dikoordinir Dinas PMD Kabupaten Kebumen ini diikuti dari unsur  Bappeda, Kecamatan, Kepala Desa, BPD, BUMDES  dan Bumdesma Kawasan  anyaman pandan. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan wawasan bisnis, pengelolaan dan peluang usaha bagi pengembangan produksi anyaman pandan di Kabupaten Kebumen.

Keberadaan desa Sukaraja tidak lepas dari seorang kaya raya yang melahirkan keturunan  yang bernama H. Abdul Wajah yang mendirikan sebuah Desa bernama Sukaraja. Nama Sukaraja diambil dari kebiasaan ayahnya, Purwaja yang suka bersedekah dan menyayangi  rakyat kecil. Desa Sukaraja  berada di bawah Pemerintahan Kecamatan Rajapolah Kabupaten Tasikmalaya yang terdiri dari 4 kedusunan, 13 RW dan 44 RT. Desa ini sejatinya telah mengalami pemekaran. Pada tahun 1988, dimekarkan menjadi dua desa, yaitu desa Sukaraja dan desa Sukanagalih.

Tiba di desa Sukaraja rombongan Didampingi pak Mamat Diskop-UKM-Perindag dan diterima Kabid Administrasi desa dan Kabid Penaataan, Pengembangan dan Kerjasama Desa Dinas PMD Kabupaten Tasikmalaya, Dodi, Kades Sukaraja, Asep Nanang, S.Pd.I dan jajaran Muspika Rajapolah. Hadir pula Ketua Paguyuban Kampung Kreatif Rajapolah dan Ketua KADIN yang sekaligus menjabat sebagai Tenaga Ahli.

 Dalam kunjungan lapangan, rombongan diajak melihat dari dekat bagaimana warga  Desa Sukaraja berkegiatan ekonomi, menekuni usaha keluarga yang sudah turun temurun dalam kerajinan anyaman. Menelusuri rumah dan gang, di dukuh Sukaruas, Sukaraja ini, hampir di setiap sudutnya penuh dengan aktivitas produksi anyaman pandan. Dari jenis produk hiasan hingga nilai pakai berbentuk tas, kotak tissue, box tempat dokumen, hantaran, tempat parcel, topi hingga beragam karpet dan hiasan dinding. Semua produk tersebut hampir sudah dipesan oleh pasar lokal, nasional maupun mancanegara.

Seperti diungkapkan Cecep, Ketua KADIN Kabupaten Tasikmalaya, fihaknya telah menjalin kerjasama program dengan lembaga Rank-A yang membantu penyaluran produk anyaman ke negara Jepang. Cecep menambahkan, bahwa kesempatan ini merupakan peluang sekaligus tantangan. "Karena pengrajin dituntut tidak hanya kuantitas produksi, namun juga dalam hal pilihan bahan yang alami dan kualitas" demikian Cecep memaparkan, sambil sesekali melepas dan mengipaskan topi anyaman yang dikenakan, untuk mengurangi panas dan keringat yang keluar, setelah sesaat berjalan keluar masuk rumah dan gang mendampingi rombongan.

Peluang pengrajin Kebumen

Seperti diungkapkan Intan, Ketua Paguyuban Pengrajin Sukaraja, bahwa  kerajinan di daerahnya justru bahan dasarnya berasal dan bergantung dari Kabupaten Kebumen. "Selama ini kami memperoleh complong pandan yang setengah jadi itu dari Kebumen. Dan di sini kami melakukan finishing produk dan memasarkannya", paparnya. Namun menurut Intan lagi, ada kesempatan bagi pengrajin Kebumen untuk berkolaborasi, seperti melalui program magang. Sehingga, menurut Intan lagi, pengrajin Kebumen melalui koordinasi Bumdes/Bumdesma dapat memproduksi kerajinan anyaman pandan hingga finish dan pemasarannya.

Saturday, October 23, 2021

KEMIREN: Desa adat dan jiwa bersaing

 * Ketika berkesempatan bertemu dengan Kades dan mantan kades yang juga sesepuh adat Osing di Desa Kemiren Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, Ahmad Abdul Fahrin, saya sempatkan berbincang, sambil menikmati sajian kopi _arabica_ khas Kemiren. Asal kata desa kemiren, adalah _kemirian_ yaitu karena desa ini dulunya adalah lahan luas yang banyak tumbuh pohon biji kemiri, sejenis rempah dapur yang kerap digunakan untuk bumbu masak. Mata pencaharian utama warga desa kemiri adalah petani. Warga desa kemiri merupakan keturunan osing, yang merupakan suku asli di Banyuwangi. Hingga Saat ini, keturunan suku osing banyak terdapat di sembilan Kecamatan, termasuk di Desa Kemiren Kecamatan Glagah. 

Desa adat

Sebagai desa adat, masyarakat desa kemiren masih memiliki, memelihara, kebiasaan, tradisi yang menjadi budaya para tetangga adat osing. Seperti gerabah, lampu, tempat tidur hingga perabot dan bentuk rumah. Para tetua adat dengan kesadaran dan rela hati menjaga dan menanamkan nilai budaya Osing kepada anak cucunya. Banyak norma yang tidak tertulis, namun sangat diyakini masyarakat. Seperti tradisi sarung pulikat hitam dan baju putih ketika menghadiri _kenduri_ atau selamatan. Tradisi tahunan _mepe kasur_ merah-hitam di depan rumah. Hingga kerasnya tekad masyarakat Osing memperjuangkan harapannya, seperti yang tersurat dalam _lelagon_: "klambi cemeng seloan cemeng, dikumbah moso lunturo. Bapak seneng emak seneng, dicegat moso munduro". 

Implementasi sikap mental ini tercermin dalam kehidupan masyarakat Osing di Desa Kemiren, yang suka tantangan terbuka. Sejatinya tercermin dari arti kata lain Kemiren, yaitu _irian_, siap bersaing, siap menang. Sikap mental ini tercermin dalam kehidupan masyarakat Osing di Desa Kemiren, yang suka tantangan terbuka. Sejatinya hal ini mencerminkan makna lain dari kata Kemiren, yaitu _irian_, siap bersaing, siap menang. Masyarakat osing merasa tertantang dan lebih bersemangat untuk berkontribusi secara lelang atau _bantingan_ mereka tidak ingin iurannya lebih rendah dari rekan lainnya. Meskipun, diakui sesepuh adat ini, bahwa tidak selalu begitu dalam hal iuran-iuran wajib ke desa. 

 Pintu masuk sendang seruni

Banyuwangi, 21 Oktober 2021

Sunday, October 18, 2020

Lezatnya menu "Woku" di Warung Ikan Bakar Katombo Jogja

 

Bagi pecinta kuliner Nusantara, menu Woku tentulah tidak asing lagi. Namun bagi sebagian awam, terasa asing mendengarnya. Woku adalah jenis sajian khas masakan ikan laut ala Sulawesi. Masakan ikan laut dengan kuah Woku ini menjadi sangat lezat, karena mengandung banyak rempah didalamnya dengan perpaduan khas ikan segar dan citarasa asin-pedas yang mengundang selera. Sangat cocok dinikmati baik untuk sarapan pagi, makan siang maupun santap malam. Sekali kita mencobanya, bisa ketagihan dibuatnya. 

Berita baiknya, menu khas Sulawesi yang banyak orang menggandrungi ini, tersedia di Jogja. Di Warung Ikan Bakar Katombo di Jalan Rogoyudan 1 nomor 8 Sinduadi, Mlati Sleman menyajikan citarasa masakan ikan laut ala Sulawesi dengan asin-pedasnya yang menggugah selera.

Malam itu setelah menyaksikan pemandangan sepinya kota Jogja di tengah pandemi, tak kuat lagi kami menahan lapar, hingga membawaku sekeluarga berlima singgah ke Warung Katombo ini. Diantara banyak usaha dan warung yang tutup di Jogja, warung ini ternyata tidak sepi pengunjung, namun tetap ketat menerapkan protokol pencegahan covid-19.Setelah memarkir kendaraan di halaman yang cukup luas, sebelum pintu masuk sudah disediakan tempat cuci tangan tanpa menyentuh/memutar kran, dengan cara menginjak semacam pedal gas. Air pun mengalir. Kita bisa mencuci tangan menggunakan sabun yang disediakan dengan air mengalir dan tetap menggunakan masker.

Di Warung Ikan Bakar Katombo, pengunjung bisa langsung faham bagaimana jenis dan cita rasa makanan khas Sulawesi itu. Begitu masuk, pelayanan akan mempersilakan pengunjung untuk memilih jenis ikan segar di lemari pendingin kaca. Tersedia jenis ikan segar seperti kerapu batu, kakap merah dan kakap putih, pihi dan selar. Selain jenis ikan, tersedia juga kepiting, kerang, udang dan lobster. Malam itu, setelah berunding cepat, pilihan saya jatuh pada kakap merah. Dengan berat 1.8 kilo kakap merah cukup untuk lima orang dan bisa dibuat tiga jenis menu ikan laut, kuah, goreng dan bakar. Menu ikan kuah woku dari bagian kepala kakap, fillet tepung gurih dari daging bagian badan ikan dan ikan kakap bakar dari bagian ekor.

Jadi menu favorit

Ketika menjelaskan menu kuah woku, pelayan menyebutkan bahwa menu ini merupakan menu istimewa dan juga menjadi favorit pengunjung di Warung ikan bakar Katombo. Menu ikan kuah woku ini disamping istimewa bahan dan rempahnya juga cara masaknya. Dalam memasak ikan kuah woku membutuhkan teknik memasak yang khusus menjadikan daging ikan tidak hancur.  Kuah woku banyak rempah-rempah di dalamnya. Ada bawang merah, cabai keriting, jahe, tomat, kemiri, kunyit, daun jeruk dan kemangi menjadikan hidangan ini menjadi menu spesial dan lezat rasanya. Bagi yang menyukai manis, di meja hidang juga disediakan kecap. Kita bisa menambahkan kecap ke dalamnya, jadi tambah legit. Dengan nasi putih hangat, kuah woku ini bisa dimakan dengan mengambilnya ke dalam mangkok atau menyiramkannya langsung ke piring nasi. Sembari menikmati menu ikan kuah woku, dilengkapi hidangan daging kakap fillet crispy dan sensasi asin-pedas ikan bakar kakap merah di Katombo Jogja, kita juga bisa menikmati live music yang banyak mengalunkan lagu-lagu kekinian dan tempo dulu. Melengkapi lezatnya menikmati kuliner khas Sulawesi.

Wednesday, February 26, 2020

Mengenang asyiknya sarapan "Burgo" Palembang

Pagi buta di hari ke dua saya di Palembang, awal mulanya keseruan itu terjadi. Ketika Bang Hens, demikian kami memanggilnya-Ketua Biro Humas Asosiasi yang sangat enerjik, inspiratif dan "gila" ide-idenya itu menghampiri di lobi hotel. Saya diajaknya jalan-jalan menyusur pusat kota hingga sampailah ke suatu tempat. "Disini pusatnya oleh-oleh khas Palembang berselera" ajaknya sambil membuka pintu mobil dan mengajak saya turun.Saya baru tahu, ternyata selain mpek-mpek, kota Palembang ini memiliki banyak jenis kuliner lain yang tak kalah lezatnya, diantaranya Burgo Palembang. Sembari menunggu pesanan Burgo, saya pun banyak cari tahu istimewanya burgo ini.

Sehat dan bergizi

Burgo adalah makanan ini sehat dan bergizi. Karena Burgo Palembang  terbuat dari bahan dasar ikan dan disajikan  berkuah  santan, sehingga mengenyangkan dan membuat badan berstamina kembali apalagi jika disantap hangat untuk sarapan pagi. Terbayang kelezatannya, perpaduan kenyalnya adonan burgo yang berbentuk gulungan tepung dalam kuah santan gurih atau pedas bertabur bawang goreng. Bahan utama burgo terbuat dari campuran tepung beras, tepung sagu tani, air kapur sirih, air, dan sedikit garam. Semua bahan tersebut dicampur hingga merata dan bertekstur encer. Teksturnya harus benar-benar tepat agar menghasilkan burgo yang kenyal dan tidak mudah sobek.

Kelezatan lain dari Burgo Palembang adalah kuahnya berbahan dasar ikan. Jenis ikan yang biasanya digunakan untuk membuat kuah burgo adalah daging ikan gabus segar tanpa tulang. Ikan gabus yang sudah dipisahkan dari tulangnya sebelum dicuci bersih, dikukus hingga matang, lalu dihaluskan. Dan dicampurkan dengan bumbu-bumbu lain.

Untuk sarapan pagi, OK

Di Palembang kita bisa menemukan banyak penjual Burgo di pagi hari. Karena sudah menjadi tradisi masyarakat Palembang makan burgo untuk sarapan pagi. Namun, kita juga dapat menyantapnya untuk siang atau malam. Tinggal kita sesuaikan porsinya. Di Rumah makan "Pak Raden" ini siap buka sehari penuh menyediakan burgo dan makanan khas Palembang lainnya. Jadi sebelum beraktivitas pagi, bisa memualinya dengan sarapan burgo. Seperti yang hari ini saya lakukan. Terimakasih Bang Hens, semoga jadi amal baik.


Wyndham Opi Hotel, Palembang, 27 Februari 2020

Sate telur gulung: melegenda dan digemari di negeri Jakabaring

Sate telur gulung yang terbuat dari telur yang digoreng dan digulung dengan sedikit garam dan ditusuk pakai lidi atau bambu itu, sejatinya merupakan jenis jajanan jadul era 90-an. Namun hingga saat ini masih banyak ditemui dan mulai marak kembali. Saat ini sate telur gulung dijual dengan banyak variasi bahan atau pun sambalnya. Sejak dari bahan telur yang original sampai dengan isi sosis, bakso dan daging. Dari sambal kacang, kecap, saus tomat maupun mayones. Hingga banyak orang mencoba mengadu nasib untuk menjajakan jajanan legendaris ini.

 Seperti halnya Adi sekitar 35 tahun usianya. Seorang pemuda yang mencoba bertahan di kota "empek-empek" Palembang ini dengan menjajakan sate telur gulung secara berkeliling. Dengan bermodalkan sepeda motornya, Adi berjualan secara berpindah-pindah, pada jam tertentu mengikuti keramaian pembelinya. Selepas Dzuhur, seperti saat aku menemuinya, Adi mangkal di jalan stasiun LRT Jakabaring. Siang itu,  bersama kru TV dan Radio aku ditugaskan mengikuti Rakornas di Palembang. Untuk mencapai ke tempat lokasi acara, setelah 30 menit dari Bandara  Sultan Mahmud Badaruddin II menggunakan kereta api cepat, rute perjalanan berikutnya menggunakan taksi online. Sambil menunggu pesanan taksi datang, saat itulah pandanganku tertuju pada penjaja sate telur gulung, dekat sebuah halte. Hingga aku mengajukan beberapa pertanyaan pada penjualnya.

Adi belum menjawab pertanyaanku, apakah daganganya itu bisa habis hingga sore ini. Namun, aku memperoleh jawabnya, ketika serombongan anak sekolah berseragam SLTA datang dan mengerumuni dagangannya. Bersamaan taksi online pesananku datang, akupun minta pamit. Meski tidak begitu jelas, aku mendengar anak-anak sekolah itu sedang memesan jajanan kesukaanya. Dalam hati aku mengakui bahwa sate telur gulung ini menjadi jajanan dari generasi ke generasi.

Cokroaminoto-Wyndham Opi, Palembang, 26 Februari 2020

Thursday, March 28, 2019

Ekspedisi Tanjung Puting

Ini adalah rangkaian kegiatan diklat kepemimpinan dalam session "
cultural and social observation" Perjalanan  bermula dari dermaga tanjung puting, pangkalan bun, kalimantan tengah, kami menyusuri sungai sepertinya ke arah hulu. Dengan menggunakan kapal, sudah satu jam perjalanan pemandangannya sangat eksotik, hijau dan alami. Kanan kiri sungai kumai ini ditumbuhi tanaman nipah. Makin ke hulu, tanamannya makin bervariasi pepohonan hutan di pedalaman kalimantan. Sesekali kami melihat sekelompok  kukang bergelantungan di atas pohon. Kukang-kukang itu sepertinya makan daun muda, bunga hingga jenis buah-buahan hutan.

Selamat datang di Desa Sikonyer
Setelah perjalanan dua jam menyusur sungai, sampailah saya di desa sungai sikonyer. Warna air sungai tidak lagi biru, bening, namun berwarna coklat. Mungkin karena air tawar keruh, akibat banyak akar pohon yang terendam. Ada bangunan dari kayu yang dicat putih biru menyerupai pintu gerbang desa, di pinggir sebelah kiri badan sungai. Tidak seperti di hilir yang berair laut hingga payau. Di hulu sungai, air sungai sudah tawar. Tumbuhan pun terlihat lebih bermacam-macam jenisnya. Lebih ke hulu lagi, kami jumpai ada perahu parkir. Sepertinya perahu pengunjung "Rimba Lodge and Restaurant".

Di menit ke 150, kami bertemu kapal dari arah yang berlawanan. Terlihat dua turis asing, melambaikan tangan ke arahku. Akupun membalas lambaian tanganya sembari tersenyum. Sementara tanganku terus menulis laporan perjalanan ini. Makin ke hulu, lebar badan sungai seperti menyempit, dengan sesekali berkelok. Kami bersama 30 orang lainya,  rombongan diklat dari Semarang. Sebagian besar, mereka tertidur karena terlelap dibuai halus suasana alam hutan. Dan mereka bangun, ketika bocah awak perahu, yang bercelana pendek itu memberi isyarat dengan membawa baki berisi pisang goreng, dan dua ketel berisi teh dan kopi. Kamipun semua, seketika bangun. Kemudian menyantap pisang goreng panas yang dipotong kecil. Dengan dua gigitan sepotong pisang goreng itu habis. Hingga datang paket pisang goreng susulan. Tidak lebih dari 10 menit, hidangan itupun habis! Dalam sekejap, hidangan itupun habis. Bahkan ketika bocah awak perahu itupun mengemasi piring-piring itu. Bersih Tak bersisa!

Udarapun mulai terasa lebih sejuk. Sesekali angin bertiup agak kencang dari lambung perahu. Kicau burung bersahutan, dengan warna-warni biru-orange-hitam, terasa seperti melihat lukisan alam. Sangat indah.Tidak lama berselang, rombongan bertemu dengan dua perahu motor tempel. Melaju dengan kecepatan penuh. Sekilas terlihat dari atas perahu, dua perahu motor tempel itu membawa barang dagangan. Sepertinya mereka seorang pedagang.


Memasuki hutan Kalimantan

Setelah kurang lebih perjalanan menempuh tiga jam, 16 menit, kamipun sampai di suatu tempat pendaratan perahu. Kamipun turun dan memasuki hutan.. Setelah berjalan masuk hutan sejauh dua kilometer dengan melewati jembatan kayu yg ditata apik, dan jalan tanah sedimen, pasir putih kamipun sampai di "rumah" orang hutan. Hewan yang dilindungi, menjadi ciri khas daerah tanjung putting. Dengan sebuah panggung papan kayu ulin, kurang lebih seluas 6 m2, diletakkan beberapa buah pisang. Tempat itu dijadikan tempat berjemur, bermain dan menyusui bagi para orang hutan.
Sepertinya tempat ini sengaja dibuat sebagai tempat "laktasi orang hutan.


 Waktu bermain dan menyusui di tempat itu, tidak lama. Berkisar dari jam 09.00-11.00. Dan benar, sekitar jam 11.15 orang hutanpun mulai masuk ke dalam hutan. Dibalik rimbunya tanaman hutan, kita tidak tahu apa yang dilakukan orang hutan selanjutnya. Namun orang-orang yang "bertamu" menyaksikanya, harusnya berubah pola parentingnya. Karena sesungguhnya menyusui itu, tidak sekedar memasukkan makanan, air susu ke anak bayinya. Namun, lebih dari itu, sang ibu sedang memberi makan jiwa anaknya dengan kasih sayang. Sehingga tidaklah heran, jika anak sekarang banyak yang tumbuh besar, berpenampilan menarik, namun keropos moralnya. Karena si-anak hanya diberi makan fisiknya, namun tidak jiwanya.

Cokroaminoto
Tanjung puting, 28 Maret 2019

Thursday, May 19, 2016

Allah menyelematkan anakku Adi, dapat mengikuti tes ujian masuk mahasiswa

Ceritanya berawal ketika aku dan keluarga pergi menginap di sebuah guest house di bilangan Maguwoharjo-Yogyakarta. Misi perjalanan keluarga itu adalah mengantar dan menyemangati anakku Adi mengikuti seleksi masuk sebuah perguruan tinggi kedinasan. Setelah menginap semalam, paginya (15/6/2016) berangkat menuju tempat test. Lokasinya kira-kira satu setengah kilo meter dari penginapan.

Sebelum berangkat isteriku, mengingatkan kepada anakku untuk berkemas, menyiapkan perlengkapan test dan mengingatkan agar menon-aktifkan telepon genggam agar tidak mengganggu konsentrasi. Anakku menyatakan siap, dan kamipun berangkat menuju lokasi ujian. Tidak terlalu ramai Yogyakarta di pagi itu. Hanya sesekali agak terhambat karena rutenya melewati pasar, dengan lalulintas pengunjungnya hingga jalan raya. Benar, tidak lebih dari seperempat jam, kamipun sampai. Namun,di sana telah banyak pengunjung,  pengantar, keluarga dan peserta ujian telah banyak hadir, memadati tempat parkir. Sementara para peserta ujian saling sibuk mencari ruang sesuai nomor dan kode peserta ujian. Melihat keadaan tersebut, kami bersepakat bahwa anakku Adi aku drop di bahu jalan yang memungkinkan kendaraan dapat berhenti. Selanjutnya   anakku mengurus sendiri ruang test-nya,  Sehingga aku tidak tahu di ruang/gedung mana anakku Adi memperoleh tempat test.

KTP dan telepon genggam tertinggal
Karena waktunya masih lama hingga test selesai jam 11.00 WIB, aku putuskan untuk kembali ke penginapan. Istri dan dua anakku lainnya, Bagas dan Nadiyyah sedang menunggu. Mereka sudah selesai berkemas. Namun betapa kagetnya ketika isteriku menyatakan bahwa anakku Adi tidak membawa telepon genggam dan dompet yang berisi KTP, SIM dan lainnya tidak terbawa. Adi hanya membawa alat tulis dan kartu peserta. Dalam hati semoga,anakku lancar mengikuti tes. Setelah membahasnya sebentar, kamipun check-out dari penginapan. Keluar dari penginapan dengan tujuan yang bermacam-macam sesuai keinginan. Ada yang usul untuk pergi  ke mall Ambarukmo Plaza, mall Hartono yang baru buka dan sedang banyak promo atau ke Malioboro dulu, baru siangnya ke tempat anakku Adi mengikuti test. Namun mengingat waktu masih terlalu pagi, akhirnya kami memutuskan untuk langsung ke lokasi test anakku. Dengan mengambil jalur yang sama, seperti yang aku lalui sebelumnya, maka dengan mudah dan tidak terlalu lama aku sampai kembali ke lokasi test. Dan segera mengambil tempat parkir di luar, tidak jauh dari kompleks gedung Instiper Yogyakarta sebagai lokasi test.

Setelah turun dari parkir kendaraan, sekitar  08.30, kami memasuki kompleks gedung Instiper Yogyakarta dengan jalan kaki. Di kanan-kiri terlihat gedung-gedung tempat lokasi test yang sepanjang dan sekeliling gedungnya dipadati untuk parkir kendaraan. Setelah melewati halaman dan ting bendera, kami melihat gedung di bagian tengah sebagai Ruang Sekretariat Panitia Test Seleksi Masuk calon mahasiswa. Hingga akhirnya kami memutuskan untuk duduk-duduk dan menunggu
anakku selesai test. Meskipun sebenarnya, aku sudah berpesan pada anakku, aku akan bertemu dan menjemput di teras sebuah toko di seberang jalan, tempat tadi pagi aku menurunkanya disana. Sambil sesekali bertanya pada panitia kapan tepatnya ujian ini dinyatakan selesai. Dan akupun dapat kepastian, bahwa ujian akan selesai dan dihentikan pada pukul 11.00 WIB. Kami berembug, untuk mencari tempat yang nyaman untuk menunggu hingga jam 11.00 nanti. Isteri dan anakku Bagas dan Nadiyyah sepertinya sudah menemukan tempat strategis untuk bersantai, yaitu di depan pintu keluar ruang sekretariat. Sedangkan aku memutuskan untuk duduk-duduk di dekat teras depan yang terdapat pintu keluar-masuk utama sekretariat. Duduk dekat teras itu memungkinkan aku dapat mengamati panitia itu beraktivitas.

Anakku harus menunjukkan KTP
Belum lama, aku duduk, tiba-tiba isteriku dan Bagas berteriak seperti memberitahu "Itu mas Adi. Adi sih kenapa ada di situ" Isteriku melihat sosok anakku berjalan ke arah pintu keluar, sambil diikuti oleh seseorang Bapak yang berseragam sebagai panitia test ujian. Spontan aku berfikir, anakku Adi sedang mengalami masalah. Sejurus aku bangkit dari duduk, dan benar aku melihat pintu itu terbuka. Tepat di hadapanku, Adi berdiri. Dari sorot matanya aku tahu dia sedang kebingungan sekaligus kaget,  Responnya kaget,   belakangan aku tahu bahwa anakku Adi tidak menyangka bahwa dalam kebingungannya mencari KTP yang tertinggal dan dibawa ibunya, ternyata di luar ruangan itu ibunya telah ada di situ! Akhirnya segera isteriku menyerahkan KTP itu kepada anakku. Setelah menerima KTP tersebut, anakku Adi segera masuk kembali ke ruangan dengan diikuti panitia.

Di luar ruangan ,aku dan isteriku melihat runtutan kejadian itu sebagai "kemahakuasaan" Allah yang mengatur seluruh kejadian tersebut dengan sangat sempurna! Sejenak kemudian, akupun segera bergegas menuju Mushola, untuk melaksanakan sholat dhuha. Dalam doaku, aku panjatkan rasa syukurku, betapa Allah telah menyelamatkan anakku, hingga dia dapat melanjutkan mengerjakan test ujian masuk calon mahasiswa. Subhanallah



Wednesday, May 11, 2016

Budaya Kebumen: sungguh maen

Yang aku tahu, ada perbedaan mendasar antara desa tempat aku dan orang tuaku tinggal, yaitu Pekalongan dengan daerah yang aku menetap sekarang di Kebumen. Perbedaan itu sangat terasa dalam hal sosio-kultural dan orientasi budaya dan nilai hidup. Kedua hal itu bisa aku rasakan sendiri, karena bagaimanapun aku merupakan produk budaya dari orangtua, saudara dan lingkunganku. Perbedaan yang menonjol itu antara lain:

Orientasi nilai budaya. 
Dalam hal orientasi nilai budaya masyarakat, di Pekalongan sangatlah berbeda jauh dengan masyarakat di Kebumen. Dalam pandanganku, masyarakat Pekalongan memiliki orientasi hidup sebagai “kekinian”. Maknanya, menikmati hidup untuk hari ini. Sehingga segala usaha diarahkan untuk membangun hari ini. Hari-harinya penuh makna, dengan sangat  kompetitif. 

Berbeda dengan masyarakat Kebumen. Memandang hidup untuk masa depan.  Sehingga segala usaha diarahkan untuk membangun masa depan. Memaknai hari ini sebagai upaya investatif. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Dari sisi  positif, aku melihat budaya suka menabung dan arisan serta hemat.

Kelas sosial. 
Pekalongan mayoritas terdiri dari kelas buruh dan pedagang.  Dalam kehidupan sosial masyarakat, buruh dan pedagang dikenal sebagai masyarakat yang egaliter, hangat dan solider. Sementara masyarakat di Kebumen, lebih banyak terdiri dari kelas petani dan pegawai. Dalam kehidupan sosial, masyarakat petani kental sekali dengan sistem kekerabatannya, hati-hati dan sangat memegang “unggah-ungguh” dan tata krama, terutama jika bergaul dengan pegawai. Sementara masyarakat pegawai masih ada yang menganut faham premordial.

 Pelayanan sosial.
 Dalam banyak urusan banyak menyukai hal-hal yang njlimet, keteraturan dan mengikuti pola yang sudah baku. Sehingga keterkaitan budaya dan tradisi terhadap kehidupan sehari-hari di Kebumen sangatlah kuat.

 Sistem kekerabatan.
Sistem trah atau garis keturunan masih sangat terjaga. Dalam aplikasinya sistem kekerabatan ini mendorong sukses seseorang untuk menopang keberhasilan saudaranya yang lain

 Jenis makanan dan pola memasak. 
Dalam hal makanan, perbedaan itu dapat dilihat dalam rasa dan teknik penyajian. Aku terbiasa dengan makanan hangat berasa asin-pedas. Kebumen kebanyakan masak makanan sekali untuk sehari, dengan citarasa manis dan bersantan. Pada tahun-tahun pertama, aku mearasa kesulitan beradaptasi dengan makanan lokal. Beruntung ada masakan padang yang memiliki citarasa nasional, mie-bakso atau mie instan sebagai pilihan berikutnya.

Bahasa dan gaya bercakap.
Bahasa Kebumen memiliki banyak istilah-istilah lokal.Bahasa atau logat kebumen memiliki ciri khas  nada tinggi dan cenderung pendek pengucapannya dengan intonasi kuat di akhir kalimat. Mendengar gaya bercakap yang asing itu, bagiku terkesan seperti orang sedang bertengkar. Namun ternyata tidak demikian, apalagi jika diakhiri istilah-istilah lokalnya menunjukkan keakraban. Logat bahasa ini sering juga disebut sebagai ngapak.

Menghadapi perbedaan-perbedaan itu, awalnya aku merasa sendirian di tengah keramaian. Namun aku harus belajar menyesuaiakan diri dan mencoba menikmatinya. Inilah pengalaman perjalanan melintas budaya.


Burung itupun lepas dari sangkarnya

Ini adalah cerita ketika aku menerima penugasan, sebagai tenaga PNS INPRES di Kabupaten Kebumen. Sekitar akhir Nopember 1987. Sebagai konsekuensi logis dari pendidikan crash-program tenaga kesehatan untuk tenaga pembantu ahli gizi. Sebuah program biesiswa  diploma yang dikelola oleh Departemen Kesehatan kala itu.

Ketika menerima ‘surat penempatan kerja’, perasaanku campur aduk. Satu sisi aku senang, karena berarti aku akan memasuki dunia kerja dan bisa mandiri, pikirku. Di sisi lain, berarti aku harus meninggalkan tempat kelahiranku. Ditambah reaksi keluarga, terutama ibuku. Walaupun tidak terungkapkan, aku dapat membaca, ibuku masih berharap lokasi penempatan tugasku itu masih bisa diubah. Tetapi dengan semangatku, aku mencoba menahan kegembiraanku, sambil meyakinkan ibuku, bahwa dimanapun bumi yang kita pijak adalah bumi Allah. Dan Allah akan mencukupkan segala apa yang manusia perlukan. Dan meskipun jauh secara geografis, tetapi dengan kuasa Allah sangatlah mudah untuk mempertemukan kembali aku dengan ibuku. Lambat laun, ibuku berubah pikiran, walaupun masih berat dengan perasaannya. Dengan semangat yang aku sembunyikan, aku berangkat dengan sepenuh keyakinan dengan senantiasa meminta doa restu ibu dan keluargaku. Ibarat burung, aku lepas dari sangkar, memasuki dunia lain.

Bagaimana tidak? Kebumen yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya, ternyata sangatlah mengejutkan. Pagi itu, Jum’at Kliwon sekitar jam 09.00 aku pamit berangkat ke Kebumen. Dengan harapan sebelum sholat Jum’at sudah sampai. Setelah mengikuti rute perjalanan bis umum, sambil sesekali bertanya pada penumpang dan sopir bus, akhirnya sampai juga di Kebumen.

Aku turun bis, hari sudah gelap. Aku lihat jam tangan, jam 17.55. Di kantor Dinas Kesehatan Kabupaten yang aku tuju sudah tutup dan tidak ada penjaga. Saat itu hujanpun turun. Aku yakin hujan itu rahmat. Dan sungguh, belum lama aku berfikir tentang hujan, rahmat Allah datang. Tiba-tiba mataku melihat dalam gelap seorang tukang becak.  Aku menerobos hujan menghampiri seorang tukang becak, di seberang jalan persis di depan kantor. Setelah bercakap secukupnya, akhirnya oleh tukang becak itu aku diantar pada salah seorang karyawan Dinas Kesehatan Kabupaten yang tinggal tidak jauh dari kantor. Dan di keluarga itu, yang belakangan aku ketahui Bapak dan Ibu Sabaryanto inilah aku memulai belajar hidup dan mengetahui banyak hal tentang Kebumen. Semoga kebaikan budi dan amal keluarga ini dapat balasan dari Allah.