Friday, July 17, 2026

Dua Wajan, Satu Mimpi Mas Rahmat

"Ada orang-orang yang tidak menuliskan sejarah dengan tinta, tapi dengan keringat. Yang tidak menandatangani hidupnya di atas kertas, tapi di atas wajan yang panas. Mas Rahmat salah satunya. Ia menggoreng masa depan anak-anaknya di antara jam 03.00 dini hari dan jam 23.00 malam, di antara asap Pasar Pagi dan lampu Alun-Alun. Ia pernah jatuh di negeri orang, tapi ia bangkit di tanahnya sendiri. Dan dari dua wajan itulah, ia menggambar mimpi: satu anak jadi sarjana, satu keluarga tetap utuh.


Untuk Mas Rahmat dari Legok, Pejagoan

Malam itu saya bertemu seorang bapak di pojok perempatan barat Alun-Alun Kebumen.  Namanya Mas Rahmat.  Di depannya ngebul wajan, dan di atas wajan itu, nasi goreng pattaya dibungkus telur setipis mimpi malamnya.  

16 tahun

Sudah 16 tahun ia berdiri di titik yang sama.  Hujan, panas, sepi, rame,  wajannya tetap menyala. Dulu Mas Rahmat bukan siapa-siapa di Kebumen.  Ia pernah 10 tahun di Johor Baru, Malaysia.  Di dapur restoran, tangannya ditempa api. Belajar mengoseng, belajar membungkus telur, belajar bertahan hidup di negeri orang.  Tapi hidup memang suka menguji. Deportasi memulangkannya dengan tangan kosong.  

Pulang ke Desa Kedawung, Pejagoan.  

Membawa satu istri, dua anak, dan satu keahlian yang tak bisa dideportasi: memasak. Anak sulungnya baru saja tamat SMK Teknik Bangunan. Matanya berkaca-kaca bilang, "Pak, aku mau kuliah. Aku mau jadi sarjana."  Anak keduanya masih kelas 6 SD. Masih butuh biaya, masih butuh seragam, masih butuh bekal.

Bagaimana caranya?  

Dengan wajan. Dengan nasi. Dengan keringat. Saya duduk di kursinya malam itu. Dari jam saya pesan sampai suapan terakhir, pembeli tidak pernah putus. Mahasiswa, ojol, bapak ronda, ibu rumah tangga, karyawan atau keluarga yang ingin menikmati malamnya di luar. Semua antri. Semua kenal.  "Pakai telur 2 ya Pak"  "Pedes level 3 Pak Rahmat"  

Jam 23.00 beliau tutup. Gerobaknya didorong pulang. Tapi perjuangannya belum selesai. Karena 10 hari ini, Mas Rahmat merintis usaha baru lagi.  Namanya "Nasi Goreng Bar-Bar".  Tempatnya pindah. Dekat pintu masuk Pasar Pagi Kebumen.  Waktunya berubah. Jam 03.00 dini hari ia sudah nyalakan kompor. Jam 06.00 dagangannya habis. Wajannya lebih besar. Menunya lebih sederhana: nasi goreng, mie goreng, bihun dan  kwitew.  Harganya hanya sepertiga dari nasi goreng pattaya.  Murah meriah di pagi buta. "Buat buruh pasar, Pak. Biar bisa sarapan kenyang tapi nggak memberatkan."

Bayangkan.  

Jam 23.00 tutup di Alun-Alun.  Jam 03.00 sudah buka di Pasar Pagi.  Tidur? Mungkin hanya 3 jam.  Lelah? Pasti.  Tapi saat ditanya, beliau hanya tertawa: "Hilang Mas, kalau ingat anak mau kuliah." Itulah Mas Rahmat.  Ia tidak sedang menjual nasi.  Ia sedang menyekolahkan anaknya, satu piring demi satu piring.  Ia tidak sedang mencari untung.  Ia sedang mengejar mimpi anak sulungnya lewat dua tangannya sendiri.

Di era yang serba instan ini, masih ada orang yang rela begadang demi masa depan anaknya.  Masih ada bapak yang percaya: tidak ada pekerjaan yang hina, yang hina adalah menyerah. Dua wajan.  Satu di malam hari untuk bertahan hidup.  

Satu di dini hari untuk mewujudkan mimpi.

Dan di antara asap dan suara "cess" dari penggorengan, saya mendengar doa seorang ayah:  "Ya Allah, jadikan capekku ini lunas untuk anakku." Orang hebat tidak selalu berseragam.  Kadang ia pakai celemek.  Kadang ia mangkal di pojokan perempatan Barat Alun-alun Pancasila Kebumen.  Namanya Mas Rahmat.  Asal Legok Pejagoan.  Penjaga mimpi dengan wajan.

No comments:

Post a Comment