Monday, July 20, 2026

Essay 1. Mak Sri menjaga Dapur yang Tidak Pernah Padam demi Mimpi


Di sudut kantin sebuah kantor di Kebumen, sejak habis subuh sudah ada asap mengepul. Di balik meja panjang itu berdiri seorang perempuan 53 tahun dengan kerudung dan celemek  sederhana dan senyum yang tak pernah habis. Pegawai di kantor ini memanggilnya akrab dengan 'Mak Sri'.

Sri Lestari

Nama yang sederhana. Tapi di balik nama itu ada ribuan lauk yang ia masak, ratusan bungkus nasi yang ia ikat, dan dua mimpi besar yang ia jaga dengan keringatnya sendiri yaitu mimpi lima adik-adiknya, dan mimpi kedua anak laki-lakinya.

Hari ini kedua anaknya kuliah di AMIKOM Yogyakarta. Anak sulungnya sudah lulus, kini bekerja sebagai desainer grafis di sebuah perusahaan. Adiknya masih berjuang menuntaskan tugas akhir. Setiap akhir bulan, dari hasil jualan di kantin inilah Mak Sri dapat menyokong pendapatan suaminya Pak Wahyudi dapat  mengirim uang kos, uang buku, uang bimbingan. "Ndak apa-apa Mak dan Bapak capek, asal anak-anak bisa sekolah sampai selesai," ucapnya lirih.

Ditempa Sejak Kecil

Semangat sekuat itu tidak tumbuh dalam semalam. Ia ditempa sejak Mak Sri masih kecil. Mak Sri lahir di Kabupaten Sukoharjo, tepat di dekat terminal bis kota. Ia anak pertama dari enam bersaudara. Sejak lahir, ia tidak pernah merasakan hangatnya pelukan ibu. Ibunya sakit sejak melahirkannya, harus berobat jalan dan mondok lama di RS Mawardi Surakarta. Baru saat duduk di bangku TK, Mak Sri mengerti siapa ibu kandungnya.

Ayahnya sehari-hari berjualan "krowodan" — dagangan rebus-rebusan: uwi, gembili, erut, ubi, singkong, jagung. Hidup pas-pasan. Suatu hari ayahnya memanggil. Kalimatnya sederhana tapi menancap uluhatinya hingga sekarang: "Nduk, kamu perempuan. Nggak usah sekolah tinggi-tinggi. Yang penting kamu bisa bantu adik-adikmu." Sejak itu Mak Sri mengerti. Mimpinya pupus, harus ditunda. Demi adik-adiknya.

Dalam usia muda ia mencari kerja. Tidak kurang dari sembilan tahun Mak Sri menjadi buruh pabrik tekstil di Sri Tex Sukoharjo. Pulang-pergi, lembur, badan pegal silih berganti setiap hari. Gaji pertama sampai gaji kesembilan tahun, hampir semuanya ia belanjakan untuk keperluan sekolah adik-adiknya. Ia lupa membeli baju baru untuk dirinya. Ia lupa memikirkan masa depannya sendiri. Tapi setiap kali ada adik yang lulus, ada ijazah yang dipegang, lelahnya lunas. Ada bangga yang tidak bisa dibayar pabrik.

Berdamai dengan Cinta

Waktu berjalan. Datanglah Wahyudi, lelaki yang melamarnya. Usia 56 tahun. Sebelum mengiyakan, Mak Sri mengajukan satu syarat. "Mas, kalau kita nikah, apakah kamu mau  bantu biaya adik bungsuku sekolah?" Wahyudi mengangguk. "Kita tanggung bareng, Dik." Dari situlah Mak Sri tahu, ia boleh bermimpi lagi. Bukan untuk dirinya, tapi untuk keluarga kecilnya. Keputusan besar pun diambil. Mak Sri mengikuti suaminya pindah ke Kebumen karena tugas.. Dari buruh pabrik, Mak Sri banting setir jadi penjual makanan.

Kantin  yang pernah ramai hingga 700-an orang antri

Awal membuka kantin di kantor Disnaker Kebumen tidak mudah. Ruangan sudah 2 tahun kosong. Dindingnya harus direnovasi dulu. Kompor dinyalakan dari nol. Tapi Tuhan adil. Dulu kantin ini pernah sangat ramai. Terutama saat ada penerbitan rekomendasi untuk Calon Pekerja Migran Indonesia. Atau saat lulusan sekolah berdatangan mengurus Kartu Pencari Kerja.  "Ramainya minta ampun. Sampai 700 orang lebih. Mereka lesehan di mana-mana. Kami kewalahan masak, kewalahan melayani," kenang Mak Sri sambil tertawa. Lelah? Iya. Tapi lelah itu terganti bangga. Karena dari situlah ia bisa menolong banyak orang yang sedang berjuang cari kerja, sama seperti dirinya dulu.

Sekarang keadaan berbeda. Layanan sudah pindah ke Mall Pelayanan Publik. Semua sudah online. Pengunjung tinggal pegawai kantor saja. Sepi.Tapi Mak Sri tetap bertahan. Ia tetap buka lapak, tetap masak, tetap menyapa setiap pegawai dengan "Sudah sarapan, Pak?" "Keuntungan finansialnya tidak seberapa sekarang," katanya jujur. "Tapi bagi saya, manfaatnya bukan di uang. Ini soal persaudaraan. Soal bisa tetap melayani. Soal bisa tetap bantu  kirim uang untuk anak di Jogja."

Penutup

Hari ini, wajan Mak Sri masih menyala. Loyangnya masih mengepul.  Ia bukan tokoh besar. Ia tidak punya panggung. Tapi dari dapur kecil di kantin kantor inilah, ia berhasil menyekolahkan adik-adiknya dulu. Dan sekarang,dapat membantu suami  mengantarkan dua anaknya sampai ke bangku kuliah.

Mak Sri sedang menjaga mimpi. Dengan cara yang paling sunyi yaitu bekerja. Dengan cara yang paling mulia dengan mengorbankan dirinya, agar orang lain bisa terbang lebih tinggi.Terima kasih, Mak Sri. Untuk setiap bungkus nasi yang menguatkan. Untuk setiap doa yang kau panjatkan di antara wajan dan kompor. Semoga Allah membalas semua lelahmu dengan kemudahan, dan meluluskan anak-anakmu dengan nilai terbaik.  Aamiin.

Friday, July 17, 2026

Essay 5. Dua Wajan, Satu Mimpi Mas Rahmat Bangkit dari PHK dan Deportasi

"Ada orang-orang yang tidak menuliskan sejarah dengan tinta, tapi dengan keringat. Yang tidak menandatangani hidupnya di atas kertas, tapi di atas wajan yang panas. Mas Rahmat salah satunya. Ia menggoreng masa depan anak-anaknya di antara jam 03.00 dini hari dan jam 23.00 malam, di antara asap Pasar Pagi dan lampu Alun-Alun. Ia pernah jatuh di negeri orang, tapi ia bangkit di tanahnya sendiri. Dan dari dua wajan itulah, ia menggambar mimpi: satu anak jadi sarjana, satu keluarga tetap utuh.


Untuk Mas Rahmat dari Legok, Pejagoan

Malam itu saya bertemu seorang bapak di pojok perempatan barat Alun-Alun Kebumen.  Namanya Mas Rahmat.  Di depannya ngebul wajan, dan di atas wajan itu, nasi goreng pattaya dibungkus telur setipis mimpi malamnya.  

16 tahun

Sudah 16 tahun ia berdiri di titik yang sama.  Hujan, panas, sepi, rame,  wajannya tetap menyala. Dulu Mas Rahmat bukan siapa-siapa di Kebumen.  Ia pernah 10 tahun di Johor Baru, Malaysia.  Di dapur restoran, tangannya ditempa api. Belajar mengoseng, belajar membungkus telur, belajar bertahan hidup di negeri orang.  Tapi hidup memang suka menguji. Deportasi memulangkannya dengan tangan kosong.  

Pulang ke Desa Kedawung, Pejagoan.  

Membawa satu istri, dua anak, dan satu keahlian yang tak bisa dideportasi: memasak. Anak sulungnya baru saja tamat SMK Teknik Bangunan. Matanya berkaca-kaca bilang, "Pak, aku mau kuliah. Aku mau jadi sarjana."  Anak keduanya masih kelas 6 SD. Masih butuh biaya, masih butuh seragam, masih butuh bekal.

Bagaimana caranya?  

Dengan wajan. Dengan nasi. Dengan keringat. Saya duduk di kursinya malam itu. Dari jam saya pesan sampai suapan terakhir, pembeli tidak pernah putus. Mahasiswa, ojol, bapak ronda, ibu rumah tangga, karyawan atau keluarga yang ingin menikmati malamnya di luar. Semua antri. Semua kenal.  "Pakai telur 2 ya Pak"  "Pedes level 3 Pak Rahmat"  

Jam 23.00 beliau tutup. Gerobaknya didorong pulang. Tapi perjuangannya belum selesai. Karena 10 hari ini, Mas Rahmat merintis usaha baru lagi.  Namanya "Nasi Goreng Bar-Bar".  Tempatnya pindah. Dekat pintu masuk Pasar Pagi Kebumen.  Waktunya berubah. Jam 03.00 dini hari ia sudah nyalakan kompor. Jam 06.00 dagangannya habis. Wajannya lebih besar. Menunya lebih sederhana: nasi goreng, mie goreng, bihun dan  kwitew.  Harganya hanya sepertiga dari nasi goreng pattaya.  Murah meriah di pagi buta. "Buat buruh pasar, Pak. Biar bisa sarapan kenyang tapi nggak memberatkan."

Bayangkan.  

Jam 23.00 tutup di Alun-Alun.  Jam 03.00 sudah buka di Pasar Pagi.  Tidur? Mungkin hanya 3 jam.  Lelah? Pasti.  Tapi saat ditanya, beliau hanya tertawa: "Hilang Mas, kalau ingat anak mau kuliah." Itulah Mas Rahmat.  Ia tidak sedang menjual nasi.  Ia sedang menyekolahkan anaknya, satu piring demi satu piring.  Ia tidak sedang mencari untung.  Ia sedang mengejar mimpi anak sulungnya lewat dua tangannya sendiri.

Di era yang serba instan ini, masih ada orang yang rela begadang demi masa depan anaknya.  Masih ada bapak yang percaya: tidak ada pekerjaan yang hina, yang hina adalah menyerah. Dua wajan.  Satu di malam hari untuk bertahan hidup.  

Satu di dini hari untuk mewujudkan mimpi.

Dan di antara asap dan suara "cess" dari penggorengan, saya mendengar doa seorang ayah:  "Ya Allah, jadikan capekku ini lunas untuk anakku." Orang hebat tidak selalu berseragam.  Kadang ia pakai celemek.  Kadang ia mangkal di pojokan perempatan Barat Alun-alun Pancasila Kebumen.  Namanya Mas Rahmat.  Asal Legok Pejagoan.  Penjaga mimpi dengan wajan.

Sunday, July 5, 2026

Essay 10. Pak Musdar: Ayah yang Tak Pernah Libur dan pulang kampung


Lihat bangku-bangku kosong itu? Itu bukan berarti sepi pembeli. Itu adalah Pak Musdar sedang "jaga malam" nasi goreng Idaman Surabaya. Pak Musdar biasa buka dari sore hingga dinihari jam 01.00 dan   paling larut jam 03.00. Habis nggak habis, beliau harus pulang. Bukan karena capek. Tapi karena di kontrakan ada istri yang jaga toko kelontong. Ada tiga anak yang nunggu ayahnya pulang bawa uang buat besok sekolah.

Usianya 46 tahun. Kelahiran Pamekasan, Madura. tiga tahun ini sejak orang tuanya meninggal, Pak Musdar belum pernah pulang kampung. "Ongkosnya buat anak, pak". Dulu pernah jadi kuli bangunan. Pernah jualan di Malang. Tapi akhirnya Tasik yang dipilih. Karena di trotoar depan Masjid Agung inilah "Nasi Goreng Idaman Surabaya"-nya jadi legend.

16 tahun mangkal di tempat yang sama. Nggak pindah. Karena pindah berarti mulai dari nol lagi. Dan Pak Musdar sudah terlalu lelah untuk itu. Lampu gerobak itu kecil. Tapi cahayanya cukup untuk menerangi masa depan 3 anaknya. Api kompornya kecil. Tapi panasnya cukup untuk menghangatkan satu keluarga.

Bangku kosong di fotomu ini jangan dibiarkan kosong, ya. Besok kalau lewat Masjid Agung malam-malam, isi satu. Pesan nasi gorengnya. Duduk sebentar. Dengerin ceritanya. Karena kadang, yang dibeli orang bukan cuma nasi gorengnya. Tapi keringat seorang bapak Madura yang 16 tahun setia menjaga dagangannya... dan keluarganya.