Siang itu, saya sedang duduk di sebuah warung ketika seorang lelaki tua datang mendorong gerobak rongsok. Gerobaknya panjang. Catnya sudah pudar. Di beberapa bagian, besinya mengilap, mungkin karena terlalu sering disentuh tangan dan terkena panas matahari. Isinya tidak terlalu penuh hari itu. Ada beberapa barang bekas yang bertumpuk seadanya, sebagian terlihat sudah berkarat.
Ia berhenti di depan warung, lalu memesan es teh. Saya memperhatikannya diam-diam. Bajunya sederhana. Wajahnya basah oleh keringat. Kulitnya tampak legam oleh matahari. Tetapi anehnya, senyum orang itu muncul lebih dulu daripada keluhannya. Saya menyapanya.
“Dari mana, Pak?”
“Dari pasar. Jualan rongsok,” jawabnya pelan.
Saya lalu bertanya namanya.
“Liman.”
Ia berhenti sebentar.
“Musliman.”
Nama itu sederhana. Tapi saya belum tahu, beberapa hari kemudian nama itu akan tinggal cukup lama di kepala saya. Dua hari setelah pertemuan di warung itu, kami membuat janji untuk bertemu di rumahnya.
Jumat sore saya datang. Rumahnya sederhana. Tidak banyak perabot. Tidak ada ruang tamu yang dipenuhi kursi mahal, meja besar, atau hiasan yang membuat orang merasa sedang berkunjung ke rumah orang berada. Hanya ada dua kursi kayu. Dua kursi itu cukup untuk kami duduk berhadapan.
Dan di sanalah saya mendengar cerita tentang seorang lelaki berusia 64 tahun yang sepanjang hidupnya seperti sedang bernegosiasi dengan keadaan. Ia tidak selalu menang. Tetapi ia tidak pernah benar-benar menyerah.
Pak Musliman sekarang hidup bersama dua anaknya, Ahmad Marhaban dan Fatimah, si bungsu. Anak pertamanya, seorang perempuan, sudah berkeluarga dan tinggal bersama suami serta empat anak mereka. Istrinya sudah tiga tahun berpulang karena sakit. Sementara itu, kondisi tangan kirinya tidak sempurna. Saya sempat ragu sebelum bertanya.
“Pak, kalau setiap hari mendorong gerobak rongsok begini, apa tidak capek?”
Ia tertawa kecil. Bukan tertawa seorang yang sedang berpura-pura kuat. Tawa itu justru terasa seperti tawa orang yang sudah lama berdamai dengan rasa lelah.
“Capek itu ada,” katanya.
Lalu ia melanjutkan,
“Tapi hilang kalau ingat semangat anak saya yang ragil ini buat sekolah dan kuliah.”
Saya terdiam. Kalimatnya sederhana. Tetapi mungkin di situlah seluruh hidup Pak Musliman bisa diringkas. Capek itu ada. Ia tidak mengatakan bahwa hidupnya mudah. Ia tidak mengatakan bahwa mendorong gerobak adalah pekerjaan ringan. Ia tidak mengatakan bahwa kemiskinan tidak menyakitkan. Ia hanya mengatakan bahwa ada sesuatu yang lebih besar daripada rasa capek itu.
Anaknya.
Harapan.
Dan keinginan agar anaknya memiliki kehidupan yang sedikit lebih baik daripada kehidupan yang ia jalani.
Pak Musliman rupanya sudah belajar bekerja sejak kecil. Ketika masih SD, ia sudah berjualan es lilin keliling. Bayangkan seorang anak dengan kaki kecil, membawa dagangan, berjalan dari satu tempat ke tempat lain demi mendapatkan uang. Ia bahkan pernah berjalan sampai Gunung Prigi. Ia juga pernah berjualan sayur dari kampung ke kampung.
Sejak kecil, hidup seperti memberikan pelajaran yang tidak pernah tertulis di buku sekolah: Kalau ingin makan, harus bergerak. Kalau ingin bertahan, jangan terlalu lama menunggu keadaan berubah. Puluhan tahun kemudian, pelajaran itu masih ia jalani. Bedanya, es lilin sudah berganti menjadi rongsok. Gerobaknya kini menjadi bagian dari hidupnya.
Setiap hari sekitar pukul 03.00 pagi, ketika sebagian besar orang masih terlelap, Pak Muslim sudah keluar membawa gerobaknya menuju pasar. Pukul tiga pagi. Saat rumah-rumah masih gelap. Saat sebagian orang baru saja menarik selimut lebih tinggi. Saat jalanan belum ramai. Ia sudah bekerja.
Di pasar, ia mencari apa saja yang masih bisa dijual. Barang bekas yang bagi orang lain sudah tidak berguna, baginya mungkin masih memiliki nilai beberapa ribu rupiah.
Siang hari ia pulang. Beristirahat. Salat.
Kemudian sore harinya ia kembali keluar. Kali ini arahnya berbeda. Menyusuri desa. Melihat tong sampah. Bertanya kepada tetangga. Mencari orang yang memiliki barang bekas dan tidak lagi digunakan.
Membeli rongsok.
Mengumpulkannya
Mendorongnya.
Menjualnya lagi.
Besok diulangi.
Lusa diulangi.
Minggu depan diulangi.
Bertahun-tahun diulangi.
Tidak ada panggung. Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada orang yang berdiri di pinggir jalan sambil berkata, “Hebat, Pak!” Bahkan mungkin sebagian orang hanya melihat gerobaknya sebagai sesuatu yang mengganggu jalan.
Pekerjaan seperti itu sering kali hanya terlihat ketika kita membutuhkan hasilnya, tetapi tidak ketika seseorang sedang berjuang mendapatkannya.
Kita menikmati rumah yang bersih, tetapi jarang memikirkan orang yang mengambil barang-barang yang sudah kita buang. Kita melihat barang bekas sebagai sampah. Bagi Pak Musliman, sebagian sampah itu adalah biaya sekolah anaknya.
Dan di situlah saya merasa malu. Bukan karena saya lebih baik darinya. Justru sebaliknya. Saya menyadari betapa mudahnya kita mengukur keberhasilan seseorang dari apa yang terlihat.
Mobil.
Rumah.
Jabatan.
Penghasilan.
Pengikut.
Pakaian.
Gelar.
Padahal ada orang-orang yang keberhasilannya tidak pernah masuk media sosial. Keberhasilan mereka mungkin hanya berupa uang sekolah yang lunas. Anak yang bisa terus belajar. Dapur yang tetap mengepul. Atau sekadar kemampuan untuk bangun lagi keesokan pagi meskipun hari sebelumnya terasa sangat berat.
Perjuangan Pak Musliman juga tidak otomatis membuat semua anaknya dapat terus sekolah. Ahmad, anak laki-laki dan kakaknya melihat keterbatasan bapaknya. Ia memilih berhenti sekolah setelah MTs. Kemudian Ahmad merantau ke Yogyakarta. Hampir dua tahun ia bekerja sebagai kuli bangunan. Sempat pindah kerja dalam pekerjaan yang sama di Jakarta.
Saya membayangkan betapa beratnya menjadi seorang anak yang masih muda, meninggalkan rumah, kemudian bekerja dengan tenaga sendiri karena tahu keluarganya tidak punya banyak pilihan. Tetapi ada sesuatu yang menarik dari perjalanan Ahmad. Ia tidak pulang dengan tangan kosong. Ia pulang membawa keahlian. Selama bekerja sebagai kuli bangunan, ia belajar. Ia melihat. Ia berlatih. Ia menguasai pekerjaan. Sampai akhirnya ia mampu berdiri sebagai seorang tukang.
Kemampuan itu kemudian menjadi bagian dari kehidupan keluarganya sendiri. Ketika rumah mereka mendapatkan bantuan program bedah rumah, orang yang memaku, mengaduk semen, memasang atap, dan mengerjakan berbagai bagian pembangunan adalah Ahmad.
Bapak dan anak itu bekerja bersama. Yang satu mengumpulkan rongsok. Yang satu mengolah keterampilan dari pekerjaan bangunan. Tidak ada yang tiba-tiba menjadi sukses. Mereka hanya mengumpulkan sedikit demi sedikit apa yang mereka punya. Tenaga. Waktu. Keahlian. Kesabaran. Dan doa. Dari sana mereka kemudian merintis warung kelontong, sayuran segar dan makanan jajan anak-anak. Warung kecil. Tidak mewah. Tetapi ramai. Hasil warung dikumpulkan. Hasil rongsok dikumpulkan. Sedikit demi sedikit.
Ada cerita lain yang membuat saya terdiam. Istri Pak Musliman dulu punya kebiasaan menyisihkan uang lima ratusan. Uang limaratusan kertas itu dilipat kecil-kecil, kemudian dimasukkan ke dalam kantong plastik. Begitu juga koin receh itu dikumpulkan dan dimasukkan ke dalam kantong plastik. Kalau dilihat satu per satu, jumlahnya seperti tidak berarti.
Lima ratus rupiah.
Lima ratus rupiah lagi.
Lima ratus rupiah lagi.
Tetapi uang kecil yang dikumpulkan dengan sabar ternyata bisa berubah menjadi sesuatu yang besar. Ketika kantong plastik itu dibuka, uang tersebut cukup membantu membiayai sekolah.
Saya tiba-tiba teringat betapa seringnya kita meremehkan sesuatu hanya karena jumlahnya kecil. Padahal banyak hal besar dalam hidup memang dibangun dari sesuatu yang kecil.
Satu langkah.
Satu rupiah.
Satu hari kerja.
Satu halaman buku.
Satu doa.
Satu keputusan untuk mencoba lagi.
Dan semua itu akhirnya mengantarkan Fatimah. Anak bungsu yang selalu menjadi alasan bagi Pak Musliman untuk terus mendorong gerobaknya. Setiap hari ia berdoa agar anaknya bisa menyelesaikan kuliah. Bukan sekadar masuk kuliah. Bukan sekadar mendapatkan tugas akhir. Tetapi benar-benar lulus. Menjadi sarjana. Lalu datanglah masa yang tidak mudah bagi semua orang: pandemi COVID-19. Di tengah keadaan yang serba terbatas itu, Fatimah akhirnya wisuda. Ia menjadi Sarjana Pendidikan Agama Islam dari UIN Walisongo Semarang.
Saya membayangkan momen itu. Seorang anak pemulung dan penjual rongsok berdiri mengenakan toga. Di belakang toga itu ada seorang bapak yang setiap pagi pukul 03.00 sudah mendorong gerobak. Ada seorang ibu yang dulu menyimpan uang lima ratusan ke dalam kantong plastik. Ada dua orang kakak yang meletakkan mimpi sekolahnya untuk sukses pendidikan adiknya.
Ada warung kecil.
Ada rongsok.
Ada rumah sederhana.
Ada doa yang diucapkan berulang-ulang.
Dan ada puluhan tahun kerja yang tidak pernah masuk berita.
Wisuda Fatimah bukan hanya tentang satu orang yang mendapatkan gelar sarjana. Bagi saya, itu seperti sebuah tanda bahwa kerja keras yang dilakukan diam-diam ternyata tidak benar-benar hilang. Hari ini Fatimah sudah mengajar di sebuah SD swasta yayasan keagamaan. Ia berdiri di depan kelas. Mengajar anak-anak. Mungkin para muridnya tidak pernah tahu seluruh cerita tentang bapaknya. Mereka mungkin hanya melihat seorang guru yang datang dan mengajar. Tetapi di balik guru itu ada sebuah gerobak rongsok. Ada jalanan yang disusuri sebelum matahari terbit. Ada tangan yang tidak sempurna. Ada seorang lelaki tua yang memilih bekerja daripada mengeluh. Dan mungkin, tanpa banyak kata, Fatimah membawa nama bapaknya ke setiap ruang kelas yang ia masuki.
Ketika saya pulang dari rumah Pak Musliman, saya membawa sesuatu yang aneh di kepala.
Dua kursi kayu.
Bukan secara harfiah. Tetapi saya terus mengingat dua kursi tempat kami duduk sore itu. Dua kursi yang sederhana. Dua kursi yang tidak istimewa. Namun di sanalah saya mendengar sebuah kisah tentang keberanian yang selama ini mungkin terlalu sering kita lewatkan. Saya juga pulang dengan perasaan yang tidak sepenuhnya nyaman. Ada kagum. Ada haru. Tetapi ada juga rasa malu. Malu karena sering kali saya sendiri terlalu cepat mengeluh ketika sesuatu tidak berjalan sesuai rencana.
Kita hidup di zaman ketika orang-orang berlomba menunjukkan pencapaian. Yang terlihat adalah hasil. Kita melihat orang berhasil, lalu berpikir: beruntung sekali. Kita melihat seseorang lulus, lalu hanya melihat toganya. Kita melihat seorang guru berdiri di depan kelas, lalu hanya melihat profesinya. Kita melihat rumah yang sudah berdiri, lalu lupa bahwa ada orang yang pernah mengaduk semennya. Kita melihat warung yang ramai, lalu lupa bahwa mungkin setiap rupiah di dalamnya pernah dikumpulkan dengan susah payah.
Padahal kehidupan hampir selalu memiliki bagian yang tidak terlihat. Bagian ketika seseorang gagal. Bagian ketika seseorang menangis sendirian. Bagian ketika seseorang harus memilih antara kebutuhan hari ini dan impian lima tahun lagi. Bagian ketika seseorang tidak punya pilihan selain bangun pukul tiga pagi dan bekerja lagi. Di situlah keteguhan sebenarnya sering lahir. Bukan ketika semuanya tersedia. Tetapi ketika hampir tidak ada yang bisa diandalkan selain diri sendiri, keluarga, dan Tuhan.
Saya belajar sesuatu dari Pak Musliman: Jangan menganggap kecil perjuangan hanya karena hasilnya belum besar. Mungkin hari ini kita hanya mampu menyisihkan sedikit uang. Simpan. Mungkin hari ini kita hanya mampu belajar satu jam. Belajarlah. Mungkin usaha kita baru menghasilkan beberapa ribu rupiah. Tetap kerjakan dengan jujur. Mungkin belum ada yang memuji. Tidak apa-apa. Mungkin tidak ada yang melihat. Tetap lakukan. Sebab tidak semua perjuangan harus disaksikan orang lain agar menjadi berarti. Dan mungkin kita juga perlu mengubah cara mendefinisikan “orang hebat”.
Orang hebat tidak selalu orang yang berdiri di panggung. Tidak selalu orang yang punya jabatan. Tidak selalu orang yang memiliki banyak uang. Kadang orang hebat adalah seorang bapak berusia 64 tahun yang pukul tiga pagi mendorong gerobak rongsok. Kadang orang hebat adalah seorang ibu yang menyimpan uang-uang lima ratusan ke dalam plastik. Kadang orang hebat adalah seorang anak yang berhenti sekolah, memberi semangat, merantau sebagai kuli bangunan, lalu pulang membawa keterampilan. Kadang orang hebat adalah seorang perempuan yang berhasil menyelesaikan kuliah di tengah pandemi, lalu memilih berdiri di depan kelas untuk mengajar anak-anak lain.
Mereka tidak terkenal.
Mereka tidak punya banyak sorotan.
Tetapi mereka punya satu hal yang sangat mahal: mereka menolak menyerah.
Kita semua mungkin sedang mendorong “gerobak” masing-masing. Bentuknya berbeda. Ada yang sedang membangun usaha. Ada yang sedang mencari pekerjaan. Ada yang sedang membesarkan anak. Ada yang sedang belajar dari nol. Ada yang sedang membayar utang. Ada yang sedang merintis kembali hidup setelah kegagalan.
Dan mungkin hari ini gerobak kita terasa terlalu berat. Kalau begitu, tidak apa-apa mengakui bahwa kita capek. Pak Musliman sendiri mengatakannya: “Capek itu ada.” Jangan berpura-pura tidak lelah. Jangan merasa harus selalu kuat. Tetapi setelah mengakui lelah, tanyakan satu hal kepada diri sendiri: Apa yang membuat saya tetap mau mendorong gerobak ini besok pagi?
Bisa jadi jawabannya adalah anak.
Keluarga.
Orang tua.
Cita-cita.
Tanggung jawab.
Iman.
Atau sekadar keinginan untuk membuktikan kepada diri sendiri bahwa hidup belum selesai.Simpan jawaban itu baik-baik. Karena pada hari ketika tenaga kita habis, alasan itulah yang mungkin membuat kita berdiri lagi. Pak Musliman mengajarkan saya bahwa hidup tidak selalu meminta kita berlari. Kadang hidup hanya meminta kita terus bergerak. Pelan tidak apa-apa. Sedikit tidak apa-apa. Tidak dipuji tidak apa-apa. Yang penting jangan berhenti terlalu lama hanya karena perjalanan kita belum terlihat mengesankan. Sebab bisa jadi, sesuatu yang hari ini tampak seperti gerobak tua penuh rongsok, kelak ternyata adalah kendaraan yang mengantarkan seorang anak menuju masa depan.
Dan orang yang mendorongnya setiap pagi mungkin tidak pernah merasa dirinya hebat. Tetapi bagi orang-orang yang hidupnya ia perjuangkan, ia adalah pahlawan. Orang hebat memang sering kali orang biasa. Bukan karena hidup mereka luar biasa mudah. Justru karena hidup mereka berkali-kali memberi alasan untuk menyerah, tetapi mereka tetap memilih berkata: “Besok pagi, saya dorong lagi.”







