Friday, August 21, 2026

Essay 6, Warung Kecil yang Menyelamatkan Sebuah Keluarga

Ketika Hidup Menguji, Orang-Orang Hebat Memilih untuk Tidak Menyerah,  Pagi itu, saya masuk  sebuah warung kecil di depan perkantoran pemerintah. Ukurannya tidak seberapa.  Bertemu pemilik warung dan dipersilakan duduk sesaat. Saya perhatikan sekeliling. Rak-raknya sederhana. Barang yang dijual juga tidak lengkap. Tidak ada deretan panjang kebutuhan rumah tangga seperti yang kita lihat di minimarket. Tidak ada papan nama besar. Tidak ada lampu terang yang mengundang orang dari kejauhan.

Tetapi ada sesuatu yang membuat saya mampir. Warung itu masih buka. Di tengah kehidupan yang berubah begitu banyak, warung kecil itu tetap bertahan. Di baliknya, seorang lelaki berusia 53 tahun masih menjalani hari dengan tenang. Namanya Tolani. Tetapi hampir semua orang yang mengenalnya lebih akrab memanggilnya *Om Tolani*. 

Saya melihat warung itu bukan sekadar tempat menjual kebutuhan sehari-hari. Saya melihatnya sebagai sebuah cerita. Cerita tentang sebuah keluarga yang pernah berada pada masa ketika penghasilan berhenti, aktivitas berhenti, dan hampir semua kepastian dalam hidup tiba-tiba menghilang, Namun satu hal tidak boleh berhenti. yaitu  ikhtiar,

Om Tolani tinggal bersama istrinya, Bu Siti, dan anak semata wayangnya, Ahda. Ahda sekarang duduk di kelas pertama SMK, mengambil jurusan Teknik Kendaraan. Cita-citanya sederhana tetapi jelas: suatu hari ia ingin menjadi ahli mesin yang handal. Menariknya, minat anak dan bapaknya justru berbeda.  Ahda menyukai dunia kendaraan dan mesin. Sementara Om Tolani sejak dulu lebih tertarik pada kelistrikan. Tetapi hidup kadang membawa seseorang ke tempat yang tidak pernah direncanakan 

Om Tolani justru kemudian banyak berkecimpung di dunia pertanian. Pada tahun 2004, ia bergabung dengan sebuah perusahaan benih jagung sebagai penyuluh lapang sekaligus pemberdaya petani. Ketika saya bertanya mengapa memilih pekerjaan itu, jawabannya sederhana: memanfaatkan peluang! Dua kata. Tetapi mungkin memang begitulah hidup. Tidak semua pekerjaan yang kita jalani merupakan pekerjaan impian. Kadang kita menemukan sebuah pintu yang terbuka, lalu kita memilih masuk karena tahu kesempatan tidak selalu datang dua kali. 

Selama lima tahun, Om Tolani bekerja di perusahaan tersebut. Ia berkeliling. Bertemu petani. Berbicara dengan mereka. Mendengarkan persoalan di sawah. Mendampingi mereka. Berbagi pengetahuan. Keemudian setelah lima tahun, ia memilih mengundurkan diri. Bukan karena pekerjaannya buruk. Bukan pula karena ia tidak mampu. Ia hanya merasa ingin memiliki keleluasaan. Ia kemudian memilih bekerja secara freelance

Selama kurang lebih tiga tahun, justru di situlah ia merasa mendapatkan pengalaman yang lebih berkesan. Ada sesuatu yang berbeda ketika seseorang tidak hanya datang sebagai pekerja lapangan, tetapi bisa benar-benar dekat dengan masyarakat. Ia mengenal petani. Mengenal keluarga mereka. Mengenal lingkungannya. Mendengar cerita mereka.  Melihat potensi yang mereka miliki.  Mengetahui masalah yang mereka hadapi. Dan memahami harapan yang mereka simpan.

Bagi Om Tolani, itu bukan sekadar pekerjaan.  Ada kepuasan ketika sedikit pengetahuan yang ia miliki ternyata bisa berguna bagi orang lain. Mungkin penghasilannya tidak selalu besar. Tetapi ada sesuatu yang lebih sulit diukur dengan uang: rasa berguna. Perasaan bahwa keberadaan kita memberikan manfaat kepada orang lain. Dan bagi sebagian orang, itu sudah cukup menjadi alasan untuk terus bekerja.

Tetapi kemudian datang sebuah masa ketika hampir semua hal berubah. Pandemi COVID-19. Dunia seperti tiba-tiba menekan tombol berhenti. Jalanan yang biasanya ramai menjadi sepi. Pertemuan dibatasi. Aktivitas masyarakat berhenti. Orang-orang lebih banyak tinggal di rumah. Pekerjaan yang mengharuskan bertemu banyak orang menjadi sulit dilakukan. Dan bagi Om Tolani, perubahan itu bukan sekadar perubahan aktivitas. Pendapatanpun ikut berhenti!

Sementara kebutuhan keluarga tidak pernah mengenal kata berhenti. Listrik tetap harus dibayar. Makanan tetap harus tersedia. Anak tetap membutuhkan biaya sekolah. Kebutuhan rumah tangga tetap berjalan. Inilah salah satu bentuk ujian hidup yang sering tidak terlihat.  Ketika penghasilan berhenti, kebutuhan justru tetap berjalan. Bahkan kadang terasa semakin cepat. Saya membayangkan posisi Om Tolani saat itu. Seorang kepala keluarga. Tidak bisa leluasa bekerja seperti sebelumnya. Tidak bisa bertemu banyak orang.  Tidak tahu kapan keadaan akan kembali normal. Di satu sisi ada rasa khawatir. Di sisi lain ada keluarga yang harus dijaga.

Dan dalam situasi seperti itu, seseorang dipaksa menemukan jawaban. Bukan jawaban yang sempurna. Cukup jawaban yang memungkinkan keluarga melewati hari  berikutnya. Untungnya, di rumah itu ada sebuah warung. 

Warung yang sebenarnya sudah dibangun sekitar dua puluh tahun sebelumnya. Warung itu tidak besar. Bahkan Om Tolani sendiri menyebutnya sangat mungil. Tetapi ketika keadaan berubah, sesuatu yang kecil itu justru menjadi sangat berarti. Warung yang dahulu mungkin hanya dianggap sebagai usaha sampingan, tiba-tiba menjadi salah satu jalan untuk bertahan.

Om Tolani dan Bu Siti membangunnya dengan semangat yang besar. Bukan karena mereka memiliki modal besar. Bukan karena mereka mempunyai ambisi membuat toko besar. Harapannya sederhana: sedikit demi sedikit menjadi mandiri dan tidak selalu bergantung kepada keluarga atau orang lain. Mungkin pada saat membangunnya, mereka tidak pernah membayangkan bahwa dua puluh tahun kemudian warung kecil itu akan menjadi salah satu penyangga keluarga ketika dunia sedang dilanda krisis.

Begitulah hidup. Kita sering tidak tahu kapan sesuatu yang kita lakukan hari ini akan menyelamatkan kita di masa depan. Apa yang tampak kecil hari ini mungkin menjadi sangat besar ketika keadaan berubah.  Selama pandemi, warung itu menjadi lebih dari sekadar tempat mencari penghasilan. Ia menjadi alasan bagi Om Tolani dan keluarganya untuk tetap bekerja dari rumah. Ia bisa mengurangi kontak sosial. Tidak harus sering bepergian keluar. Tetap bisa memenuhi sebagian kebutuhan keluarga. Dan, dalam keterbatasannya, ia juga bisa membantu tetangga yang membutuhkan. Seseorang datang membutuhkan bahan makanan. Seseorang mencari makanan kecil. Seseorang mungkin tidak bisa pergi jauh. Warung itu ada. Tidak besar. Tidak lengkap. Tetapi ada. Dan terkadang dalam masa sulit, yang kita perlukan memang bukan sesuatu yang besar. Kita hanya membutuhkan sesuatu yang tetap ada. Sesuatu yang bisa kita pegang ketika banyak hal lain berubah. 

Saya kira di situlah kekuatan Om Tolani. Ia tidak mencari solusi yang sempurna. Ia mencari solusi yang mungkin dilakukan. Kalau tidak bisa bekerja di luar, bekerja dari rumah. Kalau warung tidak ramai, tetap buka. Kalau pendapatan berkurang, pengeluaran dikurangi. Kalau tidak ada pekerjaan utama, mengambil pekerjaan-pekerjaan kecil yang bisa dilakukan  Pernah ada keluarga yang meminta bantuan mengecat rumah. Ia kerjakan. Ada yang membutuhkan perbaikan sederhana alat rumah tangga. Ia bantu. Ada yang membutuhkan bantuan mengurus pembuatan SIM kendaraan. Ia lakukan. Tidak semua menghasilkan uang besar. Tetapi semuanya menghasilkan sesuatu. Sedikit demi sedikit.  Cukup untuk membantu membayar listrik. Cukup untuk menutup biaya sekolah anak. Cukup untuk menjaga dapur tetap berjalan. Dan mungkin, dalam situasi seperti itu, kata  cukup menjadi sebuah bentuk kemenangan. 

Kita sering membayangkan keberhasilan sebagai sesuatu yang besar. Pendapatan meningkat. Usaha berkembang. Rumah semakin bagus. Tabungan bertambah. Tetapi ada masa dalam kehidupan ketika keberhasilan memiliki bentuk yang jauh lebih sederhana. Berhasil membayar listrik. Berhasil membeli beras. Berhasil membayar sekolah anak. Berhasil melewati bulan ini tanpa berutang terlalu banyak. Berhasil menjaga keluarga tetap sehat. Berhasil bangun pagi dan menemukan alasan untuk bekerja lagi. Itu pun keberhasilan. Bahkan mungkin, bagi seseorang yang sedang berada di tengah badai, itu adalah keberhasilan yang luar biasa. 

Om Tolani juga belajar satu hal penting selama masa sulit: hemat bukan berarti menyerah.  Ketika pendapatan berkurang, ia dan keluarga mulai menyesuaikan kebutuhan.  Sayuran tidak harus selalu dibeli. Di sekitar rumah ada tanaman yang bisa dimanfaatkan. Air juga harus dihemat. Air sumur ditimba dan digunakan secukupnya. Tidak ada rasa malu dalam hidup sederhana. Justru ada kecerdikan di dalamnya. Sebab ketika sumber daya terbatas, manusia dipaksa untuk lebih kreatif. Apa yang sebelumnya dianggap biasa menjadi berharga. Satu ikat sayuran dari halaman bisa mengurangi pengeluaran. Satu ember air bisa digunakan dengan lebih bijak. Satu pekerjaan kecil bisa membantu membayar satu kebutuhan. Satu pelanggan warung bisa berarti satu langkah lagi untuk bertahan. 

Saya membayangkan suasana rumah itu pada masa pandemi. Pintu rumah. Warung kecil.  Rak-rak sederhana. Barang dagangan yang tidak terlalu banyak. Bu Siti yang mungkin menjaga warung. Om Tolani yang mencari pekerjaan apa saja yang bisa dilakukan. Ahda yang masih kecil dan belum sepenuhnya memahami mengapa kehidupan orang dewasa tiba-tiba berubah. Tidak ada kepastian. Tetapi keluarga itu masih bersama. Dan selama masih bersama, mereka masih punya alasan untuk berjuang. Mungkin itulah yang membuat sebuah rumah menjadi lebih dari sekadar bangunan.

Rumah adalah tempat orang-orang saling menguatkan ketika dunia di luar sedang tidak bersahabat. Ada satu hal yang saya sukai dari kisah Om Tolani. Ia tidak berbicara tentang dirinya sebagai orang yang sedang melakukan sesuatu yang luar biasa. Ketika ditanya bagaimana ia melewati keadaan sulit, jawabannya sederhana: Saya yakin Allah yang mengatur. Sesekali jalan rezeki ada saja dari mana saja. Kalimat itu bukan berarti pasrah.  Justru sebaliknya. Ia tetap mencari. Tetap bekerja. Tetap mencoba. Tetap menerima pekerjaan yang datang. Tetap membuka warung. Tetap menghemat. Tetap memikirkan  pendidikan anak. Ia percaya kepada Allah, tetapi kepercayaan itu berjalan bersama ikhtiar.  Dan mungkin di situlah kita sering keliru memahami pasrah. Pasrah bukan berarti duduk menunggu. Pasrah adalah melakukan apa yang mampu kita lakukan, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Tuhan. Om Tolani melakukan bagiannya. Sisanya ia percayakan kepada Allah. 

Saya teringat Ahda. Anak yang kini belajar teknik kendaraan. Seorang anak yang punya cita-cita menjadi ahli mesin. Mungkin suatu hari nanti ia akan memiliki bengkel sendiri. Mungkin ia akan menjadi teknisi yang handal. Mungkin ia akan bekerja di perusahaan besar. Kita belum tahu. Tetapi ada satu hal yang sudah ia miliki sejak sekarang: sebuah contoh tentang bagaimana orang tuanya menghadapi masa sulit. Ia mungkin belum memahami sepenuhnya perjuangan itu. Tetapi suatu hari nanti, ketika ia sudah dewasa, mungkin ia akan mengingat sebuah warung kecil di rumah. Warung yang tidak besar. Warung yang mungkin tidak menghasilkan banyak uang. Tetapi warung yang pernah membantu keluarganya bertahan ketika dunia sedang berhenti. Dan mungkin ketika hidupnya sendiri nanti mengalami kesulitan, ia akan teringat pada ayah-ibunya. Bahwa hidup tidak selalu membutuhkan jalan yang besar. Kadang cukup dengan satu pintu kecil yang tetap kita jaga agar tidak tertutup.

Dari Om Tolani saya belajar bahwa kehidupan sering kali tidak meminta kita melakukan sesuatu yang spektakuler. Ia hanya meminta kita tidak berhenti mencari jalan. Ketika pintu pekerjaan tertutup, cari pekerjaan lain. Ketika pendapatan berkurang, atur pengeluaran.  Ketika usaha sepi, jangan langsung menganggap semuanya selesai. Ketika kemampuan terbatas, gunakan apa yang kita punya. Ketika kesempatan besar belum datang, kerjakan kesempatan kecil dengan sungguh-sungguh. Dan yang paling penting: jangan meremehkan sesuatu hanya karena ukurannya kecil.

Warung Om Tolani kecil. Tetapi ia pernah menjadi penyangga sebuah keluarga. Pekerjaan mengecat rumah mungkin kecil. Tetapi uangnya bisa membayar listrik. Memperbaiki alat rumah tangga mungkin sederhana. Tetapi hasilnya bisa membantu biaya sekolah. Menanam sayuran di halaman mungkin tampak sepele. Tetapi ia bisa mengurangi pengeluaran dapur.  Menimba air dari sumur mungkin terasa merepotkan. Tetapi ketika dilakukan terus-menerus, ia menjadi bagian dari cara sebuah keluarga bertahan. Kehidupan ternyata sering diselamatkan oleh hal-hal kecil yang dilakukan berulang-ulang. 

Saya kira itulah yang dimaksud dengan  orang-orang biasa yang menolak menyerah. Mereka bukan orang yang selalu tahu apa yang harus dilakukan. Mereka juga bisa takut. Bisa bingung. Bisa khawatir. Bisa merasa masa depan begitu tidak jelas. Tetapi ketika keadaan memaksa mereka memilih antara menyerah dan mencoba, mereka memilih mencoba. Mungkin dengan cara sederhana. Mungkin dengan hasil yang tidak besar. Tetapi mereka mencoba. Om Tolani tidak mengalahkan pandemi. Ia juga tidak bisa mengubah keadaan dunia. Ia hanya melakukan sesuatu yang jauh lebih dekat:  menjaga keluarganya agar tetap bisa berjalan melewati pandemi. Dan mungkin itulah bentuk keberanian yang sering kita lewatkan.

Kita terlalu sering mencari pahlawan yang menyelesaikan masalah besar. Padahal ada juga pahlawan yang hanya memastikan keluarganya bisa melewati hari ini. Tidak semua kepahlawanan membutuhkan panggung. Ada yang berlangsung di balik rak warung kecil.  Ada yang terjadi di dapur. Ada yang terjadi di halaman rumah. Ada yang terjadi ketika seseorang mengambil kuas untuk mengecat rumah tetangga. Ada yang terjadi ketika seseorang menimba air dari sumur karena ingin menghemat pengeluaran.  Dan ada yang terjadi ketika seorang ayah menatap anaknya lalu berkata dalam hati: "Apa pun yang terjadi, saya harus tetap berusaha."

Hari ini, mungkin pandemi sudah berlalu dan kehidupan perlahan berubah. Tetapi pelajaran dari masa itu tidak seharusnya ikut berlalu. Sebab hidup akan selalu memiliki bentuk ujiannya sendiri. Mungkin bukan pandemi. Mungkin kehilangan pekerjaan. Mungkin usaha yang sepi. Mungkin kebutuhan keluarga yang semakin besar. Mungkin anak yang membutuhkan biaya pendidikan. Mungkin orang tua yang harus dirawat. Mungkin sesuatu yang sama sekali tidak pernah kita bayangkan. Kita tidak bisa memilih semua ujian yang datang. Tetapi kita masih bisa memilih bagaimana meresponsnya. 

Kisah Om Tolani mengajarkan saya satu hal sederhana: jangan menunggu hidup menjadi mudah untuk mulai berusaha. Mulailah dari apa yang ada. Dari rumah. Dari kemampuan yang kita punya. Dari pekerjaan kecil. Dari warung kecil. Dari halaman kecil. Dari satu pelanggan. Dari satu kesempatan. Dari satu langkah. Karena kita tidak pernah tahu, sesuatu yang kita anggap kecil hari ini mungkin justru menjadi jalan yang menyelamatkan kita ketika hidup sedang berada pada titik paling sulit. 

Warung itu mungkin tetap kecil. Rak-raknya mungkin tidak pernah menjadi besar. Pengunjungnya mungkin tidak seramai dulu. Tetapi bagi saya, warung itu telah memiliki arti yang jauh lebih besar daripada ukuran fisiknya. Ia adalah saksi. Saksi ketika pendapatan berhenti. Saksi ketika dunia diliputi ketakutan. Saksi ketika sebuah keluarga harus belajar hidup lebih hemat. Saksi ketika seorang ayah mengambil pekerjaan apa saja yang bisa dikerjakan. Saksi ketika seorang ibu ikut menjaga rumah dan warung. Saksi ketika seorang anak tetap melanjutkan sekolah. Dan yang paling penting, ia adalah saksi bahwa sebuah keluarga pernah diuji, tetapi memilih untuk tidak menyerah. 

Mungkin kita tidak selalu bisa membangun sesuatu yang besar. Tidak apa-apa. Bangunlah sesuatu yang bisa bertahan. Jaga sesuatu yang sudah ada. Rawat keluarga. Gunakan kemampuan. Buka kesempatan. Kerjakan pekerjaan kecil dengan sungguh-sungguh. Hemat ketika perlu. Dan ketika jalan terasa buntu, jangan langsung berhenti. Berhentilah sejenak untuk berpikir. Lalu tanyakan kepada diri sendiri:  Apa yang masih saya punya? Mungkin jawabannya adalah keterampilan. Mungkin tenaga. Mungkin rumah. Mungkin sebuah warung kecil. Mungkin sepasang tangan yang masih bisa bekerja. Mungkin seorang istri atau suami yang mau berjuang bersama. Mungkin anak yang menjadi alasan untuk bertahan.  Atau mungkin hanya keyakinan bahwa Allah sedang menyiapkan jalan hidup yang lebih baik. . Pegang itu. Mulai dari sana. Sebab sering kali, kita tidak membutuhkan jalan yang sempurna. Kita hanya membutuhkan satu jalan yang masih mungkin ditempuh. Dan Om Tolani telah menunjukkan bahwa terkadang, jalan itu bisa dimulai dari sebuah warung kecil di depan rumah. Warung yang sederhana. Warung yang mungkin tidak pernah masuk berita. Tetapi pernah membantu menyelamatkan sebuah keluarga. Karena orang hebat bukan selalu mereka yang mampu mengubah dunia. Kadang, orang hebat adalah mereka yang ketika dunia berubah, tetap berusaha agar keluarganya tidak ikut kehilangan harapan.

Wednesday, August 19, 2026

Essay 14. Pak Mundir Berani Mulai dari Nol

Siang itu, saya ketemu Pak Mundir,  bercerita menikmati aktivitasnya akhir-akhir ini. Duduk di balik mangkuk-mangkuk sop rempah yang mengepulkan uap. Aroma daging dan rempah memenuhi udara. Wortel dan seledri tampak mengapung di dalam kuah bening yang panas. Dari mangkuk yang baru saja disajikan, uap tipis naik perlahan, membawa aroma yang terasa hangat sekaligus menyegarkan.

Tetapi ada sesuatu yang membuat pemandangan itu terasa berbeda. Tempat itu biasanya lebih ramai. Lapangan alun-alun kecamatan yang menjadi tempat Pak Mundir berjualan sedang dalam proses renovasi. Aktivitas orang-orang yang biasanya lalu-lalang tidak lagi seramai sebelumnya. Sebagian akses berubah. Keramaian berkurang. Dan bagi pedagang kecil, berkurangnya keramaian bukan sekadar perubahan suasana. Itu berarti berkurangnya pembeli. Berarti berkurangnya omzet. Berarti ada malam-malam ketika dagangan yang sudah disiapkan dengan susah payah tidak habis seperti yang diharapkan.

Mundir Hasan atau yang biasa dipanggil Pak Mundir, berusia 59 tahun. Ia memiliki enam orang anak. Dan pada usia ketika sebagian orang mulai berpikir untuk mengurangi aktivitas, Pak Mundir justru sedang memulai sesuatu yang baru.

Sop rempah.

Usaha itu baru berjalan sekitar dua setengah tahun. Kalau hanya melihat angka usia, mungkin orang akan bertanya, “Mengapa baru sekarang?” Bukankah seharusnya usia 59 tahun adalah waktunya menikmati hasil perjuangan. Bukankah setelah puluhan tahun bekerja, seseorang berhak untuk duduk tenang, mengurangi risiko, dan tidak perlu lagi memulai sesuatu dari nol? Tetapi Pak Mundir punya cara pandang yang berbeda. Ia justru ingin menyiapkan masa tua agar tetap mandiri. Dan bagi saya, di situlah cerita tentang Pak Mundir sebenarnya dimulai.

Sebelum berjualan sop rempah, Pak Mundir bukan orang yang asing dengan dunia usaha. Selama sekitar dua puluh tahun, ia menjadi salah satu perintis sekaligus manajer di sebuah lembaga keuangan syariah di daerahnya. Dua puluh tahun bukan waktu yang sebentar. Ia melewati masa ketika lembaga itu belum sebesar sekarang. Ia ikut membangun dari awal. Mengelola. Mengembangkan. Menghadapi persoalan. Mengambil keputusan. Dan memastikan lembaga tersebut bisa terus berjalan. Bahkan, lembaga yang pernah dipimpinnya pernah menjadi BMT terbaik se-kabupaten.

Dari pengalaman itu, sebenarnya Pak Mundir sudah memiliki sesuatu yang tidak semua orang punya, yaitu pengalaman. Tetapi pengalaman tidak membuatnya takut untuk memulai kembali. Justru sebaliknya. Ketika kemudian ia memilih berjualan sop rempah, ia seperti kembali menjadi orang yang belajar dari awal. Mencari tempat. Mencari pelanggan. Menghitung modal. Mengatur bahan. Menentukan menu. Menjaga rasa. Dan yang paling penting adalah menunggu pembeli.

Ada perbedaan besar antara menjadi manajer lembaga yang pernah meraih prestasi dengan berdiri di lapak makanan dan menunggu orang membeli semangkuk sop. Di lembaga keuangan, ada meja, sistem, struktur organisasi, rapat, target dan laporan. Di lapak sop, semua terasa lebih sederhana sekaligus lebih langsung. Kalau pembeli datang, ada pemasukan. Kalau pembeli tidak datang, tidak ada yang bisa disembunyikan. Kuah tetap mengepul. Daging tetap harus dibeli. Wortel tetap harus disiapkan. Seledri tetap harus segar. Dan ketika orang tidak datang, omzet ikut diam. Mungkin bagi sebagian orang, memulai seperti itu di usia 59 tahun adalah sesuatu yang menakutkan. Tetapi Pak Mundir memilih menjalaninya. Ia berani mulai dari nol.

Saya tertarik dengan pilihan menu yang dijualnya. Sop rempah. Bukan sekadar sop biasa. Di dalamnya ada daging non-lemak, sayuran seperti wortel dan seledri, serta bumbu rempah yang dibuat dengan pertimbangan kesehatan dan kenyamanan. Kuahnya hangat. Rempahnya terasa. Dagingnya menjadi sumber protein. Sayurannya memberi kesegaran.

Ada keyakinan yang ingin dibawa Pak Mundir melalui makanan itu: makanan bukan hanya untuk mengenyangkan perut, tetapi juga bisa menjadi bagian dari menjaga tubuh. Bagi orang seusianya, pemikiran itu terasa sangat masuk akal. Ia tidak sedang sekadar mencari menu yang laku. Ia sedang menawarkan sesuatu yang ia yakini berguna.

Ada mimpi yang lebih besar di balik semangkuk sop itu. Pak Mundir ingin menjalani masa tua dengan mandiri. Bukan menjadi orang tua yang hanya menunggu anak. Bukan menjadi orang tua yang seluruh kebutuhan hidupnya harus ditanggung anak. Ia ingin tetap sehat. Tetap produktif. Tetap memiliki aktivitas. Dan kalau masih diberi umur serta kesehatan, ia ingin masa tuanya menjadi masa yang bermakna. Ia pernah mengatakan bahwa jika berkaca kepada Rasulullah, masa tua bukan berarti berhenti berkarya. Justru masa tua tetap bisa menjadi masa untuk berdakwah dan berjuang.

Karena itu, menurutnya, masa tua harus dipersiapkan dengan kesehatan. Pemikiran itu kemudian bertemu dengan usaha sop rempah yang ia jalankan. Sop yang sehat. Sop yang menyegarkan. Dan usaha yang diharapkan bisa menopang kemandirian di masa tua. Saya melihat ada sesuatu yang indah dalam hubungan antara makanan dan mimpi itu. Ia tidak hanya menjual sop. Ia sedang menjual keyakinan tentang bagaimana ia ingin menjalani sisa hidupnya. 

Tetapi kemudian datang masalah yang tidak sepenuhnya bisa ia kendalikan. Alun-alun kecamatan direnovasi. Bagi masyarakat, renovasi mungkin berarti perbaikan. Pembangunan. Penataan. Harapan akan ruang publik yang lebih baik. Tetapi  Saya membayangkan perasaan Pak Mundir. Ia sudah memulai usaha dari nol. Sudah berusaha menjaga kualitas. Sudah menyiapkan bahan. Sudah berharap pada pembeli. Lalu keadaan di sekitar tempat usahanya berubah. Tidak mudah. Saya kira ada rasa kecewa. Mungkin ada rasa khawatir. Mungkin juga pernah muncul pikiran, “Apakah usaha ini akan bertahan?”

Dan saya kira akan sangat manusiawi kalau Pak Mundir merasa lelah. Usia 59 tahun membuat seseorang tidak bisa lagi menganggap waktu sebagai sesuatu yang tidak terbatas. Namun menariknya, ia tidak berhenti pada keluhan.  Ia sedang menyiapkan strategi pemulihan. Salah satunya melalui program COD bebas ongkir untuk wilayah kecamatan. Kalau pembeli tidak lagi mudah datang ke lapak, maka produk yang mendatangi pembeli. Ada perubahan sederhana tetapi penting dalam cara berpikir itu. Bukan: "Pembeli sekarang sepi.” Tetapi: “Bagaimana caranya agar sop tetap sampai kepada pembeli?” Bukan: “Alun-alun sedang direnovasi.” Tetapi: “Kalau tempat jualan berubah, apakah cara menjual juga harus berubah?”

Bagi saya, di situlah mental seorang yang pernah membangun lembaga selama puluhan tahun kembali terlihat. Ia tidak hanya melihat masalah. Ia mencari sistem baru. Ia mencari jalan keluar. Ia beradaptasi. Ketika berbicara tentang Pak Mundir, saya tidak bisa memisahkan perjuangannya dari enam anaknya. Enam anak bukan jumlah yang kecil. Mendidik satu anak saja membutuhkan kesabaran, biaya, perhatian, dan energi. Apalagi enam. 

Tetapi Pak Mundir memiliki sebuah keyakinan sederhana: "anak harus lebih baik daripada orang tuanya". Dari enam anaknya, lima pernah mondok. Anak ketiganya memang tidak sempat mondok, tetapi pernah belajar ke Jepang. Saya tidak tahu persis berapa banyak pengorbanan yang sudah dikeluarkan untuk semua itu. Berapa kali ia harus menunda keinginannya sendiri. Berapa kali ia harus menghitung uang dengan hati-hati. Berapa kali ia harus memilih kebutuhan anak daripada kebutuhan pribadi.

Tetapi dari perjalanan keluarganya, saya melihat satu hal: seorang ayah sering kali bekerja bukan hanya untuk hari ini. Ia bekerja untuk sesuatu yang mungkin belum bisa ia lihat hasilnya sekarang. Ia menanam sesuatu yang kelak mungkin dipanen oleh anak-anaknya. Pendidikan adalah salah satunya. Mungkin ketika anak-anaknya tumbuh dewasa dan memiliki kehidupan yang lebih baik, mereka tidak selalu tahu detail perjuangan orang tuanya. Mereka mungkin tidak tahu berapa kali ayahnya merasa takut. Tidak tahu berapa kali usaha hampir jatuh. Tidak tahu berapa kali harus memulai lagi. Tetapi itulah salah satu bentuk cinta orang tua.

Sering orangtua bekerja dalam diam. Berjuang tanpa menuntut anak-anak melihat seluruh prosesnya. Saya teringat satu kalimat Pak Mundir: “Kondisi jatuh-bangun, saya nikmati.” Kalimat itu terdengar sederhana. Tetapi semakin saya pikirkan, semakin saya merasa bahwa kalimat tersebut mengandung kedewasaan. Karena hidup memang tidak pernah benar-benar stabil. Ada masa naik. Ada masa turun. Ada masa usaha berkembang. Ada masa omzet jatuh. Ada masa kita dipuji. Ada masa tidak ada yang memperhatikan. Ada masa kita merasa yakin. Ada masa kita mempertanyakan diri sendiri.

Kita tidak selalu bisa memilih apa yang terjadi. Tetapi kita bisa memilih bagaimana menjalaninya. Pak Mundir tampaknya memilih untuk tidak menganggap jatuh sebagai akhir. Jatuh adalah bagian dari perjalanan. Dan mungkin itulah alasan ia berani memulai dari nol. Karena orang yang sudah pernah mengalami jatuh-bangun biasanya tahu satu hal: memulai lagi tidak seseram yang kita bayangkan. Yang paling menakutkan justru ketika kita berhenti mencoba.

Dari Pak Mundir, saya belajar bahwa usia bukan alasan untuk berhenti memiliki mimpi. Sering kali kita membuat batas berdasarkan umur.

“Sudah terlalu tua.”

“Sudah waktunya istirahat.”

“Sudah tidak perlu mengejar apa-apa.”

Tentu saja, setiap orang memiliki kondisi dan kemampuan yang berbeda.

Tidak semua orang harus membuka usaha di usia 59 tahun. Tidak semua orang harus bekerja sampai tua. Tetapi yang ingin saya garis bawahi adalah: jangan biarkan usia membunuh keinginan untuk tetap berguna. Masa tua bukan hanya tentang berkurangnya tenaga. Masa tua juga bisa menjadi masa ketika pengalaman mulai memiliki nilai yang jauh lebih besar. Pak Mundir membawa pengalaman dua puluh tahun di lembaga keuangan syariah ke dalam perjalanan barunya.

Ia mungkin memulai dari lapak sop. Tetapi ia tidak benar-benar memulai dari nol. Ia memulai dengan pengalaman. Dengan jaringan. Dengan pengetahuan. Dengan kegagalan. Dengan keberhasilan. Dengan luka. Dengan keyakinan. Dan dengan enam anak yang menjadi alasan untuk terus melangkah. Begitu pula kita. Ketika suatu hari harus memulai sesuatu lagi, jangan hanya melihat apa yang hilang. Lihat juga apa yang sudah kita bawa. Pengalaman. Keterampilan. Hubungan baik dengan orang lain. Kesalahan yang pernah kita buat. Pelajaran yang pernah kita dapat. Semua itu adalah modal.

Saya juga belajar bahwa bertahan untuk orang yang dicintai tidak selalu berarti melakukan sesuatu yang besar. Kadang bentuknya sangat sederhana. Seperti menyiapkan sop sejak pagi. Memotong wortel. Membersihkan seledri. Memilih daging yang tidak banyak lemak. Merebus kuah dengan bumbu rempah. Membuka lapak. Menunggu pelanggan. Ketika pelanggan berkurang, mencari cara baru. Ketika alun-alun direnovasi, mencoba COD. Ketika omzet turun, tidak langsung menyerah.

Hal-hal kecil yang dilakukan berulang kali itulah yang pada akhirnya membentuk sebuah perjuangan besar. Dan mungkin cinta memang bekerja seperti itu. Tidak selalu berupa kata-kata. Lebih sering berupa tindakan yang diulang setiap hari.

Ada sesuatu yang saya sukai dari kisah Pak Mundir. Ia tidak bermimpi menjadi kaya raya di masa tua. Ia bermimpi menjadi mandiri. Itu berbeda. Mandiri berarti masih bisa mengambil keputusan atas hidup sendiri. Masih bisa bekerja sesuai kemampuan. Masih bisa memberi manfaat. Masih bisa membantu orang lain. Masih bisa memiliki ruang untuk memilih. Dan mungkin yang paling penting, masih bisa berkata kepada anak-anak: “Jangan khawatir, Ayah masih bisa berusaha.”

Saya kira itulah bentuk cinta yang sangat dalam. Bukan membuat anak bergantung kepada orang tua. Bukan pula membuat orang tua bergantung sepenuhnya kepada anak. Tetapi berusaha menciptakan hubungan yang sehat: orang tua tetap berusaha, anak-anak tumbuh menjadi lebih baik. Karena itulah Pak Mundir ingin anak-anaknya lebih baik daripada dirinya. Bukan karena ia merasa dirinya kurang. Justru karena ia tahu, tugas orang tua bukan membuat anak mengulang kehidupan yang sama. Tugas orang tua adalah membuka jalan agar anak bisa melangkah lebih jauh.

Saya kembali membayangkan sore di lapangan alun-alun itu. Uap sop naik perlahan. Aroma rempah bercampur dengan udara sore. Ada suara kendaraan yang sesekali lewat. Ada orang yang datang dan pergi. Di tengah perubahan tempat, perubahan keadaan, dan turunnya omzet, Pak Mundir masih mencoba mempertahankan usahanya. Usia 59 tahun. Enam anak. Dua puluh tahun pengalaman membangun lembaga keuangan. Pernah merasakan keberhasilan. Pernah merasakan jatuh. Dan kini, kembali berdiri dari titik yang sederhana. Sebuah usaha sop rempah. Semangkuk makanan. Sebuah mimpi tentang masa tua yang mandiri. Dan sebuah keluarga yang ingin ia tinggalkan dalam keadaan lebih baik daripada ketika ia memulainya.

Mungkin inilah arti sebenarnya dari berani mulai dari nol. Bukan berarti kita tidak punya apa-apa. Tetapi kita bersedia kembali belajar ketika keadaan memaksa kita mengubah cara. Kita bersedia menerima bahwa rencana bisa berubah. Kita bersedia mencari jalan lain. Kita bersedia memulai lagi. Dan yang paling penting, kita memiliki alasan untuk terus melangkah. Bagi Pak Mundir, alasan itu adalah keluarganya. Enam anak yang ingin ia lihat memiliki kehidupan lebih baik. Masa tua yang ingin ia jalani dengan mandiri. Dan keyakinan bahwa selama masih diberi kesehatan dan kesempatan, hidup masih bisa digunakan untuk memberi manfaat. Maka, jika suatu hari hidup membuat kita merasa terlambat, mungkin kita perlu mengingat Pak Mundir. Usia 59 tahun tidak membuatnya berhenti.

Renovasi alun-alun tidak membuatnya berhenti. Omzet yang turun tidak membuatnya berhenti. Jatuh-bangun tidak membuatnya berhenti. Ia hanya mengubah cara berjalan. Dan mungkin itu yang perlu kita lakukan juga. Ketika jalan lama tertutup, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa perjalanan telah selesai. Bisa jadi kita hanya sedang diminta menemukan jalan yang baru. Sebab orang-orang hebat tidak selalu menang dalam setiap keadaan. Mereka hanya memiliki satu kebiasaan yang membuat mereka berbeda: ketika jatuh, mereka belajar berdiri; ketika jalan buntu, mereka mencari jalan lain; dan ketika hidup meminta mereka memulai dari nol, mereka tidak malu untuk memulai lagi. Pak Mundir mengajarkan saya bahwa hidup bukan tentang berapa kali kita berhasil berdiri di tempat yang sama. Hidup adalah tentang keberanian untuk tetap berdiri, bahkan ketika tempatnya sudah berubah. Dan selama masih ada orang yang kita cintai, masih ada alasan untuk mencoba sekali lagi

Essay 11. Pak Qomar Bertahan untuk Orang-orang yang Dicintai

Pagi itu, Pak Qomar kembali mengangkat tempe dari jok belakang sepeda motornya.  Gerakannya tidak lagi seperti sepuluh tahun lalu. Tubuhnya yang tinggi besar masih sama. Bahunya masih lebar. Tangannya masih terlihat kuat. Tetapi langkahnya tidak lagi tegap. Ketika berjalan, tubuhnya sedikit condong, seolah-olah setiap langkah harus dipikirkan lebih dulu. Ada kehati-hatian yang tidak pernah saya lihat sebelumnya pada dirinya. Usianya baru sekitar lima puluh tahun. Namun tiga tahun terakhir telah mengajarinya bahwa tubuh yang selama ini menjadi sandaran untuk bekerja bisa tiba-tiba menjadi sumber rasa sakit. 

Saya memperhatikan cara Pak Qomar bergerak hari itu. Tidak banyak bicara. Ia hanya mengurus tempe-tempenya seperti biasa. Tempe Bening yang selama bertahun-tahun menjadi bagian dari hidupnya. Saya membayangkan, betapa berbeda rasanya bekerja ketika setiap gerakan bisa menghadirkan nyeri. Dan saya kemudian teringat cerita yang pernah ia sampaikan kepada saya.

Semuanya bermula dari sebuah jatuh yang mungkin bagi orang lain terlihat sederhana. Pak Qomar jatuh dengan posisi pantat menjadi penyangga tubuhnya. Sejak saat itu, rasa kebas dan kesemutan mulai terasa dari panggul, menjalar ke kaki hingga ujung jari. Kadang sakitnya datang seperti aliran listrik yang menyusuri kaki. Kadang hanya terasa kebas. Tetapi ada saat-saat ketika menggerakkan kaki saja terasa menyakitkan.

Ia masih mencoba bekerja. Bagaimanapun, tempe bukan sekadar barang dagangan baginya. Tempe adalah sumber penghidupan. Tempe adalah uang sekolah anak-anak. Tempe adalah harapan sebuah keluarga. Tetapi tubuh mempunyai batas yang tidak selalu bisa diajak berkompromi.

Belum selesai dengan persoalan itu, sebuah kejadian lain memperparah kondisinya. Suatu hari, Pak Qomar sedang mengendarai sepeda motor dengan muatan penuh. Di jok belakang, ada tempe yang siap dibawa untuk dijual. Jalan yang dilaluinya tiba-tiba menjadi tempat yang menguji refleksnya. Sebuah bus melintas nyaris menyambarnya. Dalam hitungan detik, tubuhnya bereaksi. Motor oleng. Pak Qomar berusaha mempertahankan kendali agar tidak jatuh. Tangannya menahan setang. Tubuhnya bergerak mengikuti motor. Kakinya berusaha mencari keseimbangan. Ia berhasil menyelamatkan diri. Hanya tempe-tempenya yang  hancur.

Tetapi tubuhnya membayar harga yang mahal untuk keselamatan itu. Gerakan refleks tersebut justru memperparah gangguan pada panggulnya. Sejak itu, rasa sakit semakin menjadi bagian dari hari-harinya. Saya membayangkan betapa sulitnya keadaan itu. Bukan hanya karena sakit. Tetapi karena di saat yang sama, kehidupan tetap menuntut berjalan. Anak-anak tetap membutuhkan biaya sekolah. Rumah tetap membutuhkan biaya hidup. Kebutuhan sehari-hari tidak pernah bertanya apakah seseorang sedang sehat atau sedang kesakitan. Tagihan tidak mengenal panggul yang sakit. Kebutuhan sekolah tidak mengenal kaki yang kebas. Dan kehidupan tidak berhenti hanya karena seseorang sedang berjuang untuk berdiri.

Sekitar sepuluh tahun sebelumnya, Pak Qomar memulai usaha membuat dan menjual Tempe Bening di desanya. Tidak ada cerita besar tentang modal yang fantastis. Tidak ada kantor. Tidak ada mesin produksi yang canggih. Hanya ada kemauan untuk bekerja dan keyakinan bahwa dari sesuatu yang sederhana pun sebuah keluarga bisa dibangun. 

Tempe Bening buatannya perlahan dikenal.  Dari satu pelanggan ke pelanggan lain. Dari satu rumah ke rumah berikutnya. Dari satu warung ke warung lainnya. Kualitas tempenya membuat namanya dikenal di tingkat kecamatan. Usaha itu tumbuh. Pelan-pelan. Tidak spektakuler, tetapi nyata. Dan seperti kebanyakan usaha kecil, pertumbuhannya dibangun dari rutinitas yang mungkin tidak pernah masuk berita. Bangun. Menyiapkan kedelai. Merebus. Mengolah. Membungkus. Menunggu proses fermentasi. Mengangkut. Menawarkan. Menjual. Menghitung uang. Kemudian mengulanginya lagi esok hari. Begitu terus. Bertahun-tahun. 

Sampai kemudian tubuh Pak Qomar mulai membatasi semua pekerjaan itu. Ia tidak lagi leluasa  merebus kedelai. Membungkus tempe menjadi pekerjaan yang berat. Mengangkat dan membawa tempe menjadi sesuatu yang harus dipertimbangkan. Memasarkan tempe pun tidak mudah. Akibatnya, produksi nyaris berhenti. Omzet harian yang sebelumnya menjadi sumber penghidupan turun drastis. Ada titik ketika usaha yang dirintis selama bertahun-tahun seperti berada di ujung tanduk.

Saya kira, di situlah seseorang bisa dengan mudah berkata, “Sudahlah.”  Saya kira, Pak Qomar juga pernah berada di titik itu. Dan mungkin, seperti kebanyakan dari kita, ia pernah merasa kecewa. Mungkin pernah bertanya dalam hati, mengapa ketika usaha mulai berjalan, justru tubuhnya mengalami masalah? Mungkin pernah merasa iri melihat orang lain bisa bekerja tanpa memikirkan sakit setiap kali bergerak. Mungkin pernah merasa takut. Takut usaha berhenti. Takut penghasilan hilang. Takut tidak  bisa membiayai kebutuhan keluarga. Dan mungkin juga pernah merasa malu karena harus meminta bantuan orang lain. Saya tidak tahu persis semua yang ada di kepalanya saat itu.

Tetapi saya tahu satu hal bahwa Pak Qomar, meyakini bahwa Allah tidak akan menguji di luar batas kemampuan hamba-Nya. Ia tidak berhenti mencari jalan. Sambil mencari pengobatan untuk sakitnya, Pak Qomar juga mencari cara agar usaha tempenya tetap berjalan. Di sinilah saya melihat sesuatu yang menurut saya jauh lebih besar daripada sekadar kisah seorang pedagang tempe. Ia sedang mempertahankan hidup dengan cara yang sangat sederhana: mencari orang yang bisa membantunya. Beruntung, ada Slamet. Slamet membantu terutama dalam proses produksi. Pekerjaan yang sebelumnya dilakukan sendiri oleh Pak Qomar perlahan mulai bisa dikerjakan bersama. Tetapi persoalan belum  selesai. Tempe yang sudah dibuat tetap harus dijual. Produksi tanpa pemasaran tidak akan menjadi penghasilan. Untuk itu, Pak Qomar kemudian dibantu Erdi—bukan nama sebenarnya—dalam proses pemasaran. Harapannya sederhana. Tempe dipasarkan. Uang kembali. Usaha berputar. Keluarga tetap memiliki penghasilan. Tetapi harapan itu kembali menghadapi ujian. Uang dari pembeli tidak  disetorkan. Erdi kemudian pergi ke luar kota tanpa kabar. Saya bisa membayangkan betapa beratnya perasaan Pak Qomar ketika mengetahui hal tersebut.

Dalam keadaan usaha sedang berjuang untuk bangkit, justru ada orang yang dipercaya malah membuat keadaan semakin sulit. Marah tentu manusiawi. Kecewa apalagi. Dan mungkin ada rasa ingin berhenti. Sebab ketika kita sudah berada dalam keadaan sulit, kehilangan kepercayaan dari orang yang kita beri amanah terasa seperti pukulan kedua. Tetapi sekali lagi, Pak Qomar mencari jalan. 

Ia mencoba berdamai dengan Slamet.  Keduanya kemudian membuat kesepakatan yang disetujui bersama. Slamet akhirnya bersedia membantu bukan hanya dalam proses produksi, tetapi juga pemasaran Tempe Bening. Dari situ, perlahan usaha mulai bergerak kembali.  Produksi meningkat. Pemasaran mulai berjalan. Yang menarik, kualitas tempe tetap dijaga. Tidak ada jalan pintas dengan mengorbankan kualitas hanya karena sedang membutuhkan uang. Sedikit demi sedikit, Tempe Bening kembali menemukan ritmenya. 

 Saya suka bagian ini. Karena kebangkitan Pak Qomar bukanlah cerita tentang seseorang yang tiba-tiba menjadi kuat. Ia tidak sembuh dalam semalam. Usahanya juga tidak langsung kembali seperti dulu. Ia hanya melakukan satu hal setelah hal lain. Mencari  pengobatan. Mencari bantuan.  Mencari orang yang bisa dipercaya. Mencari cara agar produksi tetap berjalan. Mencari cara agar pemasaran kembali hidup. Dan terus mencoba.

Lalu saya bertanya kepadanya: Apa yang sebenarnya membuatnya tetap mau berjualan? Apa yang membuatnya masih ingin meningkatkan penjualan setelah mengalami begitu banyak persoalan? Jawabannya sederhana. “Anak-anak." Lima anaknya. Ia ingin menyekolahkan anak-anaknya. Bukan sekadar agar mereka sekolah. Ia memiliki mimpi yang lebih besar: pendidikan anak-anaknya harus lebih baik daripada pendidikan yang pernah diterima orang tuanya. 

Ada sesuatu yang sangat manusiawi dalam jawaban itu. Sebab bagi seorang ayah, kadang-kadang dirinya sendiri bisa menjadi alasan yang tidak cukup kuat untuk bertahan. Tetapi ketika menyangkut anak, batas daya tahan itu seolah diperpanjang. Kaki boleh sakit. Badan boleh tidak lagi tegap. Usaha boleh turun. Kepercayaan kepada orang lain boleh pernah dikhianati. Tetapi mimpi anak-anak tidak boleh ikut berhenti.

Pak Qomar juga memiliki mimpi lain. Ia ingin keluarganya memiliki rumah tinggal yang lebih layak. Bukan rumah mewah. Bukan sesuatu yang harus membuat orang lain kagum. Hanya rumah yang lebih baik untuk keluarganya. Tempat anak-anak tumbuh. Tempat keluarga berkumpul. Tempat seseorang bisa pulang setelah seharian bekerja.

Saya kira, bagi banyak orang, mimpi seperti itu terlihat kecil. Tetapi justru mimpi-mimpi kecil semacam itulah yang sering membuat seseorang sanggup menghadapi perjuangan besar. Kisah Pak Qomar membuat saya berpikir tentang satu hal:  kita sering salah memahami arti kekuatan. Kita mengira orang kuat adalah orang yang tidak pernah sakit. Padahal Pak Qomar menunjukkan hal yang berbeda. Orang kuat bisa saja sakit. Bisa takut. Bisa kecewa. Bisa marah. Bisa merasa lelah. Bisa membutuhkan bantuan. Bahkan bisa jatuh. Yang membuatnya kuat bukan karena ia tidak pernah mengalami semua itu. Melainkan karena setelah mengalaminya, ia masih mencari alasan untuk melanjutkan hidup. 

Barangkali inilah bentuk keberanian yang paling jarang kita rayakan. Bukan keberanian berdiri di atas panggung. Bukan keberanian memenangkan perlombaan. Bukan keberanian melakukan sesuatu yang kemudian menjadi viral. Tetapi keberanian seorang ayah yang pagi-pagi bangun dalam keadaan tubuh tidak sepenuhnya sehat, lalu berpikir: Hari ini saya harus mencoba lagi. Keberanian seorang ibu yang tetap memasak meskipun sedang lelah. Keberanian seorang buruh yang tetap berangkat meskipun penghasilannya tidak seberapa. Keberanian pedagang kecil yang tetap membuka lapak setelah dagangannya kemarin tidak laku. Keberanian orang tua yang tetap membayar uang sekolah anak meskipun harus menunda kebutuhannya sendiri.

Kita sering menyebut mereka orang biasa. Tetapi mungkin justru di sanalah letak kekeliruan kita. Sebab menjadi biasa bukan berarti perjuangannya kecil. Ada satu pelajaran penting dari Pak Qomar:  ketika kemampuan kita berkurang, jangan buru-buru menganggap hidup kita juga selesai. Pak Qomar tidak lagi mampu melakukan semua pekerjaan seperti dahulu. Maka ia mengubah cara bekerja. Ia mencari orang untuk membantu produksi. Ketika pemasaran bermasalah, ia mencari solusi lain. Ketika kepercayaan kepada seseorang runtuh, ia membangun kembali kerja sama dengan orang lain. Ia tidak memaksa dirinya menjadi orang yang sama seperti sepuluh tahun lalu. Ia belajar menerima kenyataan bahwa tubuhnya telah berubah, lalu mencari cara agar hidupnya tetap berjalan.

Ini pelajaran yang mungkin juga kita perlukan. Ada masa ketika kita tidak lagi bisa melakukan sesuatu dengan cara lama. Usia berubah. Kondisi berubah. Kemampuan berubah. Situasi keluarga berubah. Ekonomi berubah. Bahkan orang-orang yang dulu kita percaya bisa saja pergi. Jangan menghabiskan seluruh tenaga untuk meratapi bahwa semuanya tidak lagi seperti dahulu.

Tanyakan hal yang lebih penting: Dengan keadaan saya yang sekarang, apa yang masih bisa saya lakukan? Pertanyaan itu mungkin sederhana. Tetapi sering kali ia membuka pintu yang tidak terlihat sebelumnya. 

Dan ada satu hal lagi yang saya pelajari dari Pak Qomar. Bahwa cinta kepada keluarga tidak selalu hadir dalam kata-kata. Kadang cinta berbentuk tempe yang dibawa dengan sepeda motor. Berbentuk tangan yang tetap bekerja meski tubuh sakit. Berbentuk keberanian meminta bantuan ketika tenaga sendiri sudah tidak mencukupi. Berbentuk kesediaan bangkit setelah dikecewakan. Berbentuk mimpi sederhana agar anak-anak mendapatkan pendidikan yang lebih baik. Dan berbentuk sebuah rumah yang lebih layak untuk ditinggali.

inta, ternyata, sering kali tidak terdengar. Ia bekerja diam-diam. Ia bangun sebelum matahari. Ia pulang ketika hari sudah gelap. Ia menahan sakit tanpa banyak bercerita. Ia menghitung uang hasil penjualan sambil membayangkan biaya sekolah anak. Ia men yimpan sedikit demi sedikit harapan untuk masa depan. Mungkin itulah sebabnya orang-orang seperti Pak Qomar sering luput dari perhatian.

Mereka tidak memiliki kisah yang dramatis di televisi. Tidak ada kamera yang merekam perjuangan mereka setiap pagi. Tidak ada tepuk tangan ketika mereka berhasil menjual lebih banyak tempe. Tidak ada penghargaan ketika mereka berhasil menyekolahkan anak. Tetapi mereka tetap melakukannya. 

Hari demi hari. Hari ini, kondisi kesehatan Pak Qomar perlahan semakin membaik.  Langkahnya mungkin belum sepenuhnya tegap. Tetapi ada sesuatu yang tetap tegak dalam dirinya: harapan. Dan mungkin, pada akhirnya, itulah yang paling penting. Sebab tubuh manusia bisa melemah. Usaha bisa jatuh.  Orang yang dipercaya bisa mengecewakan. Rencana bisa gagal. Tetapi selama masih ada alasan untuk bangun, selalu ada kemungkinan untuk memulai lagi.

Pak Qomar menemukan alasannya pada kelima anaknya. Ia ingin mereka memiliki pendidikan yang lebih baik daripada orang tuanya. Ia ingin keluarganya memiliki rumah yang lebih layak. Mimpi itu mungkin sederhana. Tetapi cukup besar untuk membuat seorang lelaki berusia lima puluh tahun, dengan panggul yang pernah membuat setiap langkah terasa sakit, tetap berusaha menghidupkan kembali usaha tempenya.

Dari Pak Qomar saya belajar bahwa orang hebat tidak selalu mereka yang hidupnya tanpa luka. Orang hebat adalah mereka yang, meskipun terluka, masih memilih untuk menjaga sesuatu yang mereka cintai. Mereka mungkin tidak bisa berlari. Mungkin hanya mampu berjalan perlahan. Tetapi mereka tetap berjalan. Dan barangkali, dalam hidup ini, kita memang tidak selalu membutuhkan langkah yang cepat. Kita hanya perlu memastikan bahwa langkah itu tidak berhenti.

Jika hari ini Anda sedang lelah, tanyakan kepada diri sendiri: siapa yang sedang saya perjuangkan? Jika jawabannya adalah orang yang Anda cintai, mungkin Anda akan menemukan sedikit tenaga lagi untuk melanjutkan. Bukan karena Anda tidak takut. Bukan karena Anda tidak sakit. Bukan karena Anda tidak pernah kecewa. Tetapi karena ada seseorang yang membuat Anda berkata kepada diri sendiri: "Saya boleh lelah. Saya boleh berjalan pelan. Tetapi saya tidak boleh menyerah". Sebab bagi sebagian orang, bertahan bukan lagi tentang dirinya sendiri. Bertahan adalah cara paling sunyi untuk mengatakan kepada orang-orang yang dicintainya: "Selama saya masih mampu, saya akan terus berusaha

Tuesday, August 18, 2026

Essay 9. Mbah Slamet yang Tak Pernah Mengeluh

Selepas salat Zuhur, Mbah Slamet muda pernah duduk di rumah dengan perut kosong. Bukan karena sedang berpuasa. Bukan pula karena tidak ingin makan. Hari itu, beras di rumah memang sudah habis. Ia menoleh ke dapur. Tidak ada segenggam beras yang bisa dimasak. Tidak ada persediaan yang bisa diambil. Sementara di rumah itu ada tiga anak kecil—tiga keponakannya—yang menunggu sesuatu untuk dimakan.

Mbah Slamet masih muda ketika itu. Belum punya pekerjaan tetap. Belum punya usaha. Belum punya rumah sendiri. Hidupnya bahkan belum benar-benar menjadi miliknya sendiri. Tetapi tanggungjawab sudah datang lebih dulu. Ia bisa saja mengeluh. Bisa saja mengatakan, "Saya juga tidak punya apa-apa." Bisa saja memilih pergi dan membiarkan keadaan. Tetapi Mbah Slamet tidak melakukannya. Ia justru berpikir bagaimana caranya mendapatkan beras. Dari situlah, sebuah perjalanan panjang dimulai. Bukan  perjalanan yang indah. Bukan pula perjalanan yang mudah. Tetapi perjalanan seorang manusia yang sejak muda belajar satu hal: kalau hidup sedang sempit, jangan hanya menunggu pintu terbuka. Carilah jalan.

Hari ini usianya 65 tahun. Warga Desa Kaleng mengenalnya sebagai Mbah Slamet. Tubuhnya masih tegap. Perawakannya tinggi. Otot tangan dan kakinya masih terlihat menonjol di balik kulit yang mulai menua. Ketika berbicara, ia tidak banyak menggerakkan tangan. Tidak banyak mengeluh. Tidak banyak membesar-besarkan cerita. Justru itu yang membuat saya tertarik.

Ada orang-orang yang ketika bercerita tentang perjuangan hidupnya, seolah ingin memastikan kita tahu betapa berat penderitaannya. Mbah Slamet berbeda. Ia menceritakan masa lalunya seperti seseorang sedang membuka halaman lama sebuah buku. Pelan. Sederhana. Tanpa dramatisasi. Tetapi semakin lama saya mendengarkan, semakin saya sadar: hidup orang ini ternyata tidak ringan. Ia hanya sudah terlalu lama belajar mengangkat beban tanpa banyak suara.

Sejak SD, Mbah Slamet sudah mengenal apa yang disebut ngenger. Dalam kehidupan masyarakat Jawa, ngenger berarti ikut bekerja atau mengabdi kepada orang lain. Ia bekerja membantu keluarga yang ditempatinya, dan sebagai gantinya kebutuhan pokoknya dicukupi—makan, pakaian, dan tempat tinggal.

Bagi anak-anak seusianya, masa SD mungkin adalah masa bermain. Pagi masuk sekolah. Siang pulang. Sore bermain bersama teman-teman. Tetapi kehidupan Mbah Slamet berbeda. Sejak kecil ia sudah belajar bahwa untuk mendapatkan sesuap nasi, seseorang harus bekerja. Ia tidak punya banyak pilihan.

Ia menerima kehidupan sebagaimana adanya. Dan salah satu pekerjaan yang dipercayakan kepadanya adalah membuat "bothok", minyak kelapa. Pekerjaan itu dimulai sejak pagi. Kelapa tua harus disiapkan. Dikupas. Dibelah. Diparut. Kemudian diperas. Santannya dimasak. Api harus dijaga agar tidak terlalu besar. Pelan-pelan santan berubah. Airnya menguap. Minyak mulai terpisah. Endapan yang kemudian menjadi blondo harus dipisahkan. Minyak yang sudah jadi dimasukkan ke dalam botol kaca. Besoknya dilakukan lagi. Lusa dilakukan lagi. Dan hari berikutnya dilakukan lagi. Tidak ada mesin yang membuat pekerjaan menjadi cepat. Tidak ada tombol yang bisa ditekan untuk menyelesaikannya. Yang ada hanya tangan. Parutan. Kelapa. Api. Dan waktu.

Setelah pekerjaan itu selesai, ia tidak lantas beristirahat. Pada siang hingga sore hari, ia mencari rumput untuk pakan sapi. Sapi itu bukan miliknya. Ia memeliharanya dengan sistem "gaduhan atau paron"  Induk sapi dipelihara, dirawat, diberi makan. Jika kemudian beranak dan anak sapi itu dijual, hasilnya dibagi sesuai kesepakatan. 

Sederhana. Tetapi dari situlah Mbah Slamet belajar tentang tanggung jawab. Bahwa sesuatu yang dipercayakan kepada kita harus dirawat sebaik-baiknya. Mungkin itulah sebabnya ia bertahun-tahun dipercaya bekerja di tempat tersebut. Ia tidak banyak bicara. Ia bekerja.

Ada sesuatu yang menarik dari cara Mbah Slamet mengingat masa kecilnya. Ia tidak berkata, "Dulu saya miskin sekali." Ia tidak mengatakan, "Saya paling menderita." Ia hanya bercerita tentang apa yang ia kerjakan. Tentang kelapa. Tentang sapi. Tentang rumput. Tentang pekerjaan yang harus diselesaikan.

Seolah-olah bagi dirinya, kemiskinan bukan alasan untuk berhenti. Kemiskinan adalah keadaan yang harus dijalani sambil mencari jalan keluar. Dan mungkin cara pandang itulah yang kemudian menyelamatkannya ketika hidup memberinya ujian yang lebih berat.

Masa remaja datang. Tetapi kehidupan belum juga memberi ruang untuk bernapas. Dalam kondisi ekonomi yang belum mandiri, Mbah Slamet harus menanggung tiga orang keponakannya. Tiga anak kecil. Tiga kehidupan yang membutuhkan makan. Membutuhkan pakaian. Membutuhkan perhatian.

Dan suatu siang, selepas Zuhur, ia mengalami salah satu titik paling perih dalam hidupnya. Tidak ada beras. Barang segenggam pun tidak ada! Saya membayangkan suasana siang itu. Rumah yang sederhana. Udara panas. Perut yang kosong. Tiga anak kecil yang mungkin belum sepenuhnya mengerti mengapa makanan belum tersedia. Dan seorang pemuda yang harus berpikir bagaimana memberi makan mereka.

Ketika menceritakan bagian ini, mata Mbah Slamet berkaca-kaca. Untuk pertama kalinya dalam percakapan itu, saya melihat sesuatu yang berbeda di wajahnya. Bukan kemarahan. Bukan penyesalan. Melainkan ingatan tentang sebuah masa ketika hidup benar-benar berada di ujung kemampuan. Saya sendiri ikut diam. Ada cerita yang tidak membutuhkan banyak kata untuk terasa berat. Dan ini salah satunya.

Tetapi setelah tidak memiliki beras, Mbah Slamet justru menemukan jalan untuk berdagang beras. Ia mengambil gabah dari tetangga yang baru panen. Tidak harus dibayar saat itu juga. Kepercayaan menjadi modal pertamanya. Gabah diambil terlebih dahulu. Pembayaran dilakukan kemudian. Kadang setelah panen berikutnya.

Bayangkan. Hari ini banyak orang berbicara tentang modal usaha. Modal uang. Modal tempat. Modal kendaraan. Modal teknologi. Tetapi Mbah Slamet memulai dengan modal yang jauh lebih sederhana: kepercayaan. Karena ia dipercaya, ia mendapatkan barang. Karena mendapatkan barang, ia bisa berdagang. Karena berdagang, ia bisa mendapatkan uang. Dan uang itu kembali ke rumah. Menjadi beras. Menjadi makanan. Menjadi tenaga untuk melanjutkan hari.

Ia menjual beras dari pasar ke pasar. Dengan sepeda. Jaraknya bukan lima kilometer. Bukan sepuluh. Kadang 10 sampai 20 kilometer.  Saya membayangkan roda sepeda itu berputar di jalan yang mungkin belum sebagus sekarang. Panas. Hujan. Debu. Beban. Tubuh yang lelah. Tetapi sepeda terus dikayuh. Orang-orang di sekitarnya memperhatikan aktivitasnya yang tidak pernah berhenti. Lalu muncullah sebuah panggilan. Slamet Loyo. Karena ia terlihat begitu lelah dan tetap bekerja.

Saya tersenyum ketika mendengarnya. Tetapi kemudian saya berpikir, betapa sering manusia menilai seseorang dari apa yang terlihat tanpa mengetahui alasan di baliknya. Mereka melihat seorang lelaki yang tidak pernah berhenti. Tetapi mereka mungkin tidak melihat tiga anak kecil yang menunggu makanan di rumah. Mereka tidak melihat dapur yang kosong. Mereka tidak tahu bahwa setiap kilometer yang ditempuh adalah bagian dari usaha untuk mengisi kembali dapur itu. Dan ketika Mbah Slamet ditanya apakah ia tidak capek, jawabannya sederhana.

"Ya capek, Pak."

Ia tertawa. Lalu melanjutkan,

"Tapi kalau sudah melihat ada makanan untuk tiga balita keponakan saya, capek itu hilang."

Kalimat itu membuat saya lama terdiam. Karena ternyata manusia memiliki kemampuan luar biasa untuk mengubah rasa lelah menjadi sesuatu yang berbeda. Bukan ketika beban menjadi ringan. Tetapi ketika kita tahu untuk siapa kita memikulnya. Mungkin itu salah satu rahasia orang-orang yang bertahan. Mereka bukan tidak merasa lelah. Mereka hanya memiliki alasan yang lebih besar daripada rasa lelahnya. Mbah Slamet tidak mengatakan, "Saya kuat." Ia hanya mengatakan,

"Ada anak-anak yang harus makan."

Mas Rahmat tidak perlu mengatakan bahwa dirinya pahlawan. Ia hanya menyalakan wajan karena anaknya ingin kuliah. Mak Sri tidak membutuhkan panggung. Ia hanya menjaga dapurnya tetap menyala. Pak Musdar tidak membutuhkan penghargaan. Ia hanya ingin ketika pulang ada keluarga yang bisa makan. Orang-orang seperti ini sering kali tidak menyebut perjuangannya sebagai perjuangan. Mereka menyebutnya sebagai tanggung jawab. Dan mungkin karena itulah mereka sanggup melakukannya bertahun-tahun.

Tetapi Mbah Slamet tidak berhenti pada berdagang beras. Ia terus melihat peluang. Ia pernah menjual rendeng,  rumput untuk pakan ternak. Ia juga membuat  batu bata. Awalnya, batu bata dibuat satu demi satu. Tanah dicetak. Dilepas. Dijemur. Dipindahkan. Dibakar. Kemudian diulang lagi. Seribu batu bata dalam sehari bisa dibuatnya bersama istrinya. Seribu. Saya membayangkan tangan mereka bekerja sepanjang hari. Satu cetakan. Satu batu bata. Lalu satu lagi.

Mbah Slamet ternyata bukan hanya pekerja keras. Ia juga belajar mencari cara agar pekerjaan menjadi lebih efektif. Ketika kemudian ia menggunakan cetakan empat sekaligus, hasilnya meningkat berkali-kali lipat. Di situlah saya melihat sesuatu yang penting. Kerja keras bukan berarti melakukan hal yang sama selamanya. Kerja keras juga berarti mau belajar. Mau mencari cara. Mau memperbaiki proses. Mau melihat bahwa tenaga kita terbatas, sehingga cara bekerja harus terus berkembang.

Mbah Slamet tidak memiliki sekolah bisnis. Tidak mengikuti seminar kewirausahaan. Tidak membaca buku tentang produktivitas. Tetapi kehidupan mengajarinya langsung. Jika ingin maju, bukan hanya tenaga yang harus ditambah. Cara berpikir juga harus berubah. Dari pekerjaan-pekerjaan itu, sedikit demi sedikit kehidupan keluarganya mulai berubah. Tidak langsung. Tidak dramatis. Tidak seperti cerita sukses yang tiba-tiba mendapatkan modal besar lalu usahanya berkembang.

Perubahannya kecil. Sedikit demi sedikit. Ada uang untuk kebutuhan sehari-hari. Ada kesempatan menabung. Bisa membeli tanah. Bisa menyimpan material. Sampai akhirnya mereka memiliki rumah sendiri. Saya suka bagian ini. Karena rumah itu bukan sekadar bangunan. Di dalamnya ada ribuan perjalanan menggunakan sepeda. Ada keringat. Ada batu bata. Ada rumput yang dipanggul. Ada gabah yang dibawa pulang. Ada minyak kelapa yang dibuat sejak pagi. Ada tangan suami-istri yang mencetak bata satu demi satu.

Rumah itu sebenarnya adalah bentuk lain dari ketekunan. Dindingnya mungkin terbuat dari batu bata. Tetapi fondasinya dibangun dari ketidakmauan untuk menyerah. Ada satu kalimat Mbah Slamet yang menurut saya layak disimpan lama-lama. Ia menganggap beban hidup sebagai tanggungjawab yang harus dibayar dengan bekerja. Bekerja adalah ikhtiar. Dan rasa capek, menurutnya, sudah dibayar Allah dengan rasa syukur.

Saya tidak tahu apakah semua orang mampu memiliki cara pandang seperti itu. Saya sendiri belum tentu. Ada saat-saat ketika saya merasa lelah lalu ingin mengeluh. Ada saat ketika pekerjaan terasa terlalu berat. Ada ketika usaha terasa tidak sebanding dengan hasil. Ada saat ketika saya ingin bertanya:

"Mengapa harus saya?"

Karena itu saya tidak ingin menempatkan Mbah Slamet sebagai manusia yang tidak pernah lelah.  Ia lelah. Ia pernah lapar. Ia pernah berada dalam keadaan sulit. Ia pernah tidak memiliki beras. Ia harus bekerja jauh.  Ia harus mengurus tiga keponakan. Ia harus mencari jalan ketika tidak ada jalan yang mudah. Tetapi yang membedakannya adalah: ia tidak menjadikan kesulitan sebagai alasan untuk berhenti mencari ikhtiar.

Kita sering menunggu kehidupan menjadi lebih mudah sebelum mulai bergerak. Menunggu punya modal. Menunggu punya pekerjaan yang bagus. Menunggu kondisi membaik. Menunggu ada orang yang membantu. Menunggu kesempatan. Padahal hidup tidak selalu memberikan semua itu.

Kadang kita harus mulai dari apa yang ada. Mbah Slamet memulai dari apa yang ada.  Ada tenaga. Ia gunakan untuk bekerja. Ada kepercayaan tetangga. Ia gunakan untuk berdagang. Ada sepeda. Ia gunakan untuk mengangkut beras. Ada tanah. Ia gunakan untuk membuat batu bata. Ada seorang istri. Ia ajak bekerja bersama. Ada tanggung jawab. Ia terima sebagai bagian hidup.

Begitulah orang-orang biasa sering kali bertahan. Mereka tidak menunggu hidup memberi kondisi ideal. Mereka menggunakan apa yang tersedia untuk membuat kondisi sedikit lebih baik. Hari ini sedikit. Besok sedikit lagi. Sampai suatu hari mereka menoleh ke belakang dan sadar: ternyata saya sudah berjalan sangat jauh.

Ketika saya memikirkan Mbah Slamet, saya teringat satu hal. Kita sering mengira orang hebat adalah orang yang tidak pernah jatuh. Padahal mungkin orang hebat justru adalah orang yang jatuh, merasakan sakit, lalu bertanya:

"Apa yang masih bisa saya lakukan?

Bukan, "Mengapa kita hidup begini?

Bukan berarti pertanyaan itu tidak boleh. Boleh. Kita manusia. Kita boleh sedih. Boleh kecewa. Boleh menangis. Boleh merasa lelah. Tetapi setelah itu, ada satu pertanyaan yang harus kita bawa kembali ke kehidupan: "Apa satu langkah yang masih bisa saya lakukan hari ini?" Mungkin jawabannya kecil. Mencari satu pelanggan. Menghubungi satu orang. Mengerjakan satu tugas. Membuka warung. Memperbaiki satu motor. Mencetak seratus batu bata. Menjual satu karung beras. Atau sekadar bangun pagi dan kembali mencoba.

Tidak semua masalah selesai dalam satu hari. Tetapi hidup sering berubah justru karena kita mau melakukan satu hal kecil berulang-ulang. Hari ini, ketika melihat Mbah Slamet berdiri dengan tubuhnya yang masih tegap, saya tidak hanya melihat seorang lelaki berusia 65 tahun. Saya melihat perjalanan panjang seorang manusia. Seorang anak yang sejak SD belajar bekerja. Seorang pemuda yang pernah tidak memiliki beras. Seorang paman yang memikul tanggung jawab tiga keponakan. Seorang pedagang yang mengayuh sepeda puluhan kilometer. Seorang pekerja yang dipanggil Slamet Loyo karena tidak pernah berhenti bergerak. Seorang suami yang membuat batu bata bersama istrinya. Dan akhirnya seorang kepala keluarga yang berhasil membawa keluarganya dari hari-hari penuh kekurangan menuju sebuah rumah milik sendiri.

Ia tidak pernah memenangkan penghargaan. Tidak ada piala. Tidak ada panggung. Tetapi bukankah hidupnya sendiri sudah menjadi sebuah penghargaan? Saya akhirnya mengerti sesuatu dari Mbah Slamet. Mengeluh tidak selalu membuat beban menjadi lebih ringan. Tetapi bersyukur membuat kita mampu melihat bahwa di tengah beban selalu ada sesuatu yang masih bisa diperjuangkan. Dan perjuangan tidak harus besar. Tidak perlu menunggu menjadi kaya. Tidak perlu menunggu menjadi terkenal. Tidak perlu menunggu semua keadaan sempurna. 

Mulailah dari apa yang ada. Gunakan apa yang bisa digunakan. Kerjakan apa yang bisa dikerjakan. Jaga kepercayaan. Cari peluang. Belajar memperbaiki cara. Dan ketika lelah datang, jangan buru-buru menganggapnya sebagai tanda bahwa kita harus berhenti. Tanyakan kepada diri sendiri: "Untuk siapa saya melakukan ini?"


Barangkali jawabannya adalah anak. Barangkali keluarga. Barangkali orang tua. Barangkali seseorang yang kita cintai. Atau mungkin, untuk diri kita sendiri—untuk kehidupan yang suatu hari ingin kita bangun. Sebab sering kali bukan karena beban kita ringan sehingga kita mampu bertahan. Kita bertahan karena kita menemukan alasan untuk terus memikulnya. Mbah Slamet pernah mengayuh sepeda 20 sampai 30 kilometer untuk membawa pulang beras.


Hari ini mungkin kita tidak perlu mengayuh sejauh itu. Tetapi hidup tetap meminta kita melakukan perjalanan. Kadang melalui pekerjaan. Kadang melalui kegagalan. Kadang melalui kehilangan. Kadang melalui hari-hari yang terasa begitu panjang. Jika hari ini Anda sedang lelah, mungkin Anda tidak perlu memikirkan bagaimana menyelesaikan seluruh perjalanan. Cukup pikirkan satu hal: apa yang masih bisa Anda lakukan hari ini?

Lakukan itu. Besok, lakukan satu langkah lagi. Karena rumah yang kokoh tidak dibangun dalam sehari. Ia dibangun dari batu bata yang disusun satu per satu. Dan begitu pula kehidupan. Orang-orang hebat bukan mereka yang hidupnya tidak pernah diuji. Orang-orang hebat adalah mereka yang ketika hidup menguji, memilih untuk tetap bekerja, tetap bersyukur, dan tetap mencari jalan. 
Seperti Mbah Slamet. Tidak banyak mengeluh. Tidak banyak bicara. Hanya terus berjalan. Dan dari langkah-langkah kecil itulah, sebuah keluarga akhirnya memiliki rumah untuk pulang.

Friday, August 14, 2026

Essay 17. Pak Sugeng: Pagi, Segelas Kopi, dan Sampah yang Membiayai Mimpi


Pagi itu matahari belum terlalu tinggi, tetapi cahayanya sudah memantul keras di atas genteng-genteng rumah. Jalan di kompleks perumahan itu masih relatif lengang. Sebagian orang mungkin baru saja membuka pintu rumah, sebagian lainnya sedang bersiap berangkat bekerja.

Di salah satu sudut jalan, saya melihat sebuah kendaraan roda tiga berhenti. Bentuknya sederhana. Di bagian belakang ada bak untuk mengangkut sampah. Atap terpal menaunginya dari panas dan hujan. Cat pada beberapa bagian kendaraan sudah tidak lagi tampak baru. Debu menempel di roda. Kendaraan itu jelas bukan kendaraan yang dibuat untuk bergaya. Di atasnya duduk seorang lelaki yang usianya sudah lebih dari setengah abad. Tinggal di rumah kontrakan di kampung dekat dengan kompleks perumahan.

Namanya Pak Sugeng. Ia mengenakan topi dan pakaian kerja sederhana. Tangannya berada di setang kendaraan. Wajahnya tampak tenang. Tidak ada kesan bahwa pekerjaan yang sebentar lagi ia lakukan adalah sesuatu yang istimewa. Padahal, kalau kita mau berhenti sebentar dan melihat lebih dekat, mungkin kita akan menemukan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar seorang lelaki yang sedang mengangkut sampah.

Di situlah saya mulai memahami bahwa tidak semua perjuangan datang dengan suara keras. Ada perjuangan yang datang setiap pagi, dalam bentuk kendaraan tua, bau sampah, keringat, jalanan yang berdebu, dan segelas kopi panas yang dibuatkan seorang istri sebelum suaminya berangkat bekerja. Itulah perjuangan Pak Sugeng. Dan ia sudah melakukannya selama bertahun-tahun.

Pak Sugeng adalah lelaki kelahiran Sleman, Yogyakarta. Ia meninggalkan tanah kelahirannya dan memilih menetap di Kebumen. Ketika datang, ia mengaku tidak membawa banyak hal. Tidak ada modal besar. Tidak ada pekerjaan dengan gaji tetap. Tidak ada kepastian bahwa hidup di tempat baru akan menjadi lebih mudah. Yang ia bawa hanyalah niat untuk membangun kehidupan bersama keluarganya.

Pada awalnya, ia bahkan menjalani hidup dengan berpindah-pindah rumah kontrakan. Istilah yang ia gunakan sederhana dan agak menggelikan: menjadi “kontraktor”. Bukan kontraktor yang membangun gedung. Kontraktor rumah. Hari ini tinggal di sini. Ketika keadaan tidak memungkinkan, pindah ke tempat lain. Begitu seterusnya.

Tetapi hidup memang sering kali dimulai dari tempat yang tidak ideal. Yang penting bukan di mana kita memulai, melainkan apakah kita bersedia terus berjalan. Pada tahun 2006, ketika kompleks perumahan tempat ia bekerja mulai dibangun dan dihuni, Pak Sugeng mulai menjadi pemungut sampah. Waktu itu rumah yang dilayani masih beberapa saja. Tidak banyak.

Mungkin pekerjaan itu terlihat sederhana. Mengambil sampah dari rumah ke rumah, mengangkutnya, kemudian membawanya ke tempat pengelolaan. Tetapi dari pekerjaan yang kelihatannya sederhana itulah sebuah keluarga perlahan-lahan bertahan. Tahun berganti tahun. Rumah bertambah. Penghuni bertambah. Sampah bertambah. Dan pelanggan Pak Sugeng pun akhirnya menjadi hampir ratusan keluarga.

Saya membayangkan berapa kali ia harus menaiki dan menuruni kendaraan itu. Berapa banyak gang yang harus dilewati. Berapa banyak pintu rumah yang harus didatangi. Berapa banyak kantong sampah yang harus diangkat. Dan berapa banyak bau yang harus ia terima, sementara sebagian besar dari kita justru berusaha menjauh ketika mencium bau sampah.

Pekerjaan seperti itu jarang dipuji. Ketika rumah kita bersih, kita mungkin tidak pernah berpikir siapa yang membuat sampah di depan rumah kita menghilang. Kita baru menyadarinya ketika sampah tidak diambil. Ketika kantong-kantong mulai menumpuk. Ketika halaman mulai berbau. Ketika lalat datang. Barulah kita sadar bahwa ada seseorang yang selama ini bekerja dalam diam. Pak Sugeng adalah salah satunya. Saya bertanya kepadanya, apakah tidak capek melayani begitu banyak keluarga. Jawabannya sederhana.

“Ya capek, Pak.”

Saya suka kejujuran itu. Tidak ada kalimat motivasi yang dibuat-buat. Tidak ada jawaban sok kuat. Ya, ia capek. Tentu saja. Bagaimana mungkin tidak? Tetapi kemudian ia mengatakan sesuatu yang membuat saya terdiam. Capek itu hilang ketika melihat kebutuhan sehari-hari bisa dipenuhi. Terutama makan.

Kalimat itu terdengar sederhana. Tetapi bagi saya, justru di situlah letak kemewahan sebuah perjuangan. Bukan tentang punya mobil. Bukan tentang rumah besar. Bukan tentang bisa pergi berlibur. Bukan tentang bisa membeli sesuatu yang mahal. Bagi Pak Sugeng, perjuangan itu menjadi berarti ketika dari pekerjaan yang ia jalani, keluarganya masih bisa makan.

Ada hari ketika penghasilan terasa sedikit. Ada pelanggan yang membayar tepat waktu. Tetapi ada juga yang menunggak beberapa bulan. Bahkan ada yang kemudian pindah rumah dan meninggalkan kewajiban pembayaran. Bagi orang lain mungkin itu hanya beberapa bulan tagihan. Bagi keluarga yang menggantungkan hidup dari pungutan sampah, itu bisa berarti sesuatu yang jauh lebih besar. Karena penghasilan Pak Sugeng tidak tetap. Ia harus kreatif.

Ia tidak bisa hanya mengandalkan uang pungutan sampah. Maka pekerjaannya tidak berhenti ketika sampah diangkut. Di situlah saya melihat bahwa orang-orang seperti Pak Sugeng bukan sekadar pekerja kasar. Mereka adalah orang-orang yang setiap hari melakukan manajemen kehidupan. Menghitung. Menghemat. Mencari tambahan. Menyesuaikan diri. Bertahan. Dan mengulanginya lagi besok pagi.

Setiap pagi, sekitar pukul enam, Pak Sugeng berangkat. Sebelum itu, ada satu ritual kecil yang mungkin bagi orang lain tidak berarti apa-apa. Segelas kopi panas. Istrinya yang membuatkan. Saya membayangkan suasananya. Pagi yang masih menyisakan dingin. Asap tipis dari gelas kopi. Aroma kopi yang naik bersama uapnya. Mungkin tidak ada meja makan mewah. Tidak ada sarapan hotel. Hanya secangkir kopi yang menjadi bekal sebelum menjalani hari yang panjang. 

Tetapi sering kali, yang membuat seseorang kuat bukanlah sesuatu yang besar. Justru hal-hal kecil seperti itu.  Segelas kopi. Sapaan istri. Doa sebelum berangkat. Dan keyakinan bahwa di rumah ada keluarga yang menunggu. Pak Sugeng kemudian berangkat mengumpulkan sampah.

Sekitar pukul sepuluh, ia pulang. Namun pekerjaannya belum benar-benar selesai. Ada pembagian tugas yang sederhana tetapi sangat berarti antara dirinya dan istrinya. Setelah sampah dibawa dan disetor ke TPS3R kelurahan, istrinya melanjutkan pekerjaan. Ia memilah dan mengumpulkan barang-barang yang masih memiliki nilai ekonomi. Kardus. Kertas. Botol plastik. Botol kaca. Barang-barang bekas yang oleh sebagian orang dianggap tidak berguna.

Bagi keluarga Pak Sugeng, barang-barang itu belum tentu sampah. Ada kemungkinan bahwa di dalamnya masih tersimpan uang untuk membeli beras. Maka barang-barang itu dikumpulkan. Tidak sehari dua hari. Sedikit demi sedikit. Kalau sudah banyak, biasanya sekitar sebulan sekali, pengepul rongsok dipanggil. Barang ditimbang.  Kemudian dijual. Hasilnya mungkin tidak besar. Tetapi Pak Sugeng mengatakan, lumayan. Dan dalam kehidupan keluarga yang harus memenuhi banyak kebutuhan, kata “lumayan” bisa mempunyai arti yang sangat besar. Lumayan untuk membeli beras. Lumayan untuk membayar kebutuhan sekolah. Lumayan untuk kebutuhan rumah. Lumayan untuk membuat hari ini bisa dilewati.

Pak Sugeng memiliki tujuh anak. Tiga sudah berkeluarga. Empat masih bersamanya. Salah satunya adalah anak istimewa yang menyandang disabilitas. Seharusnya anak itu bisa bersekolah di sekolah luar biasa. Tetapi biaya menjadi kendala. Dan pada akhirnya, anak itu tidak bersekolah. Ada bagian dari cerita itu yang membuat saya merasa sesak.

Karena di balik angka-angka tentang kemiskinan, biaya pendidikan, dan keterbatasan akses, ada wajah seorang anak. Ada seorang ayah. Ada seorang ibu. Ada mimpi yang mungkin harus ditunda. Dan ada rasa bersalah yang mungkin diam-diam pernah muncul di hati orang tua ketika mereka tidak mampu memberikan apa yang seharusnya diterima anaknya.

Saya tidak tahu apakah Pak Sugeng pernah merasa marah kepada keadaan. Mungkin pernah. Saya kira manusiawi kalau pernah. Saya juga tidak ingin menggambarkan Pak Sugeng sebagai manusia yang selalu kuat, selalu tersenyum, dan tidak pernah mengeluh. Sebab orang yang bekerja keras pun bisa lelah. Orang tua yang mencintai anaknya pun bisa merasa tidak berdaya. Orang yang setiap hari berjuang pun bisa bertanya dalam hati, “Sampai kapan?”

Tetapi yang membuat saya kagum bukan karena Pak Sugeng tidak pernah merasa berat. Justru karena meskipun berat, ia tetap berangkat. Besok pagi ia tetap menghidupkan kendaraannya. Tetap mengambil sampah. Tetap memilah barang. Tetap mencari tambahan. Tetap pulang. Tetap mencoba. Di situlah arti “tidak menyerah” menjadi lebih nyata. Tidak menyerah ternyata bukan selalu tentang melakukan sesuatu yang luar biasa. Kadang-kadang tidak menyerah hanya berarti: besok pagi kita tetap bangun.

Pak Sugeng pernah bekerja sebagai tenaga kebersihan pada seorang saudagar kaya. Pekerjaan itu ia jalani lebih dari delapan tahun. Dari luar mungkin terlihat lebih baik. Ada majikan. Ada pekerjaan. Ada aturan. Tetapi menurut Pak Sugeng, ia merasa seperti terjerat. Banyak aturan. Harus begini. Tidak boleh begitu. Ia harus menyesuaikan dirinya dengan banyak hal. Dan selama masa itu, istrinya juga sering sakit-sakitan.

Pada akhirnya, ia memilih jalan yang mungkin secara ekonomi tidak lebih menjanjikan, tetapi terasa lebih merdeka. Menjadi pemungut sampah di kompleks perumahan. Penghasilannya tidak pasti. Pekerjaannya berat. Status sosialnya mungkin tidak tinggi. Tetapi ia merasa memiliki ruang untuk mengatur hidupnya sendiri.

Saya kira ini pelajaran yang sering terlupakan. Kita terlalu sering mengukur pekerjaan dari penghasilan. Padahal bagi sebagian orang, pekerjaan juga tentang martabat, kebebasan, waktu, kesehatan, dan kesempatan untuk menentukan arah hidup. Pekerjaan Pak Sugeng mungkin tidak membuatnya kaya. Tetapi pekerjaan itu memberinya sesuatu yang ia anggap penting: kesempatan untuk berdiri di atas kakinya sendiri. Ia tidak sedang mengejar kemewahan. Ia sedang mengejar kecukupan. Dan mungkin, bagi banyak keluarga, kecukupan adalah bentuk kemewahan yang sesungguhnya.

Yang paling kuat dari cerita Pak Sugeng bagi saya adalah kalimatnya tentang anak-anak. Dengan segala keterbatasannya, ia memiliki satu mimpi: anak-anaknya jangan sampai bernasib sama dengan orangtuanya.

Saya berhenti pada kalimat itu cukup lama. Karena di dalamnya ada cinta seorang ayah yang sangat sederhana. Ia tidak mengatakan anak-anaknya harus menjadi orang kaya. Tidak mengatakan mereka harus terkenal. Tidak mengatakan mereka harus mempunyai jabatan tinggi.Ia hanya tidak ingin anak-anaknya menjalani hidup sesulit yang ia jalani.

Bukankah banyak orang tua memiliki mimpi yang sama? Mereka bekerja bukan semata-mata untuk dirinya sendiri. Mereka ingin anak-anaknya mempunyai pilihan yang lebih banyak. Mereka ingin anak-anaknya bisa belajar. Mereka ingin anak-anaknya mempunyai pekerjaan yang lebih baik. Mereka ingin anak-anaknya tidak harus memilih antara makan dan sekolah. Mereka ingin memutus satu mata rantai kesulitan yang selama ini diwariskan dari generasi ke generasi. Dan untuk mewujudkan mimpi itu, Pak Sugeng memilih jalan yang mungkin tidak pernah masuk daftar pekerjaan impian siapa pun. Ia memilih menjadi pemungut sampah.

Saya kemudian berpikir tentang bagaimana kita sering memberi penghargaan kepada pekerjaan tertentu. Kita mudah kagum kepada dokter. Kita menghormati guru. Kita memuji pengusaha. Kita mengagumi orang yang memiliki jabatan. Semua itu baik. Tetapi ada pekerjaan yang keberadaannya baru terasa ketika tidak dikerjakan. Pemungut sampah salah satunya. Mereka bekerja supaya lingkungan kita tetap bersih. Mereka berhadapan dengan sesuatu yang kita buang. Mereka menyentuh sesuatu yang kita hindari. Dan sering kali, setelah pekerjaan itu selesai, kita tidak lagi mengingat siapa yang melakukannya.  Mungkin memang tidak semua pekerjaan membutuhkan tepuk tangan. Tetapi semua pekerjaan yang halal dan dilakukan dengan sungguh-sungguh layak mendapatkan penghormatan.

Pak Sugeng mengajarkan saya bahwa kehormatan seseorang tidak ditentukan oleh seberapa bersih pekerjaan itu di mata orang lain. Kehormatan muncul dari kesediaan seseorang menjalankan tanggung jawabnya dengan jujur. Ia mungkin mengangkut sampah orang lain. Tetapi sesungguhnya ia sedang mengangkut harapan keluarganya sendiri. Setiap kantong sampah yang ia angkat adalah bagian dari biaya hidup. Setiap botol plastik yang dikumpulkan istrinya adalah tambahan untuk dapur. Setiap rupiah yang masuk adalah bagian dari mimpi anak-anaknya.

Maka kendaraan tua itu, bagi saya, bukan sekadar kendaraan pengangkut sampah. Ia adalah kendaraan yang membawa sebuah keluarga melewati kehidupan. Kita sering berpikir bahwa orang hebat adalah mereka yang berhasil melakukan sesuatu yang besar. Padahal setelah bertemu orang-orang seperti Pak Sugeng, ukuran itu terasa terlalu sempit. Orang hebat bisa saja seseorang yang setiap pagi bangun sebelum matahari tinggi. Orang hebat bisa seseorang yang pekerjaannya tidak pernah masuk berita. Orang hebat bisa seseorang yang tidak pernah menerima penghargaan. Orang hebat bisa seseorang yang penghasilannya tidak seberapa, tetapi tetap berusaha agar anak-anaknya memiliki masa depan. Dan orang hebat bisa jadi adalah seseorang yang hari ini sedang kita lewati begitu saja.

Pak Sugeng tidak sedang mengubah dunia. Ia hanya mengambil sampah dari rumah-rumah. Tetapi ia sedang mengubah dunia kecil milik keluarganya. Ia sedang memastikan dapur tetap mengepul. Ia sedang menjaga agar anak-anaknya tetap mempunyai harapan. Ia sedang berusaha agar kehidupan keluarganya tidak berhenti pada keadaan yang ia terima sejak awal. Dan bukankah perubahan besar memang sering dimulai dari sana? Dari satu keluarga. Dari satu ayah. Dari satu ibu. Dari satu keputusan sederhana untuk tidak menyerah.

Mungkin kita tidak semua berada dalam situasi seperti Pak Sugeng. Tetapi hampir setiap orang pernah berada pada titik ketika hidup terasa terlalu berat. Pekerjaan tidak sesuai harapan. Penghasilan tidak cukup. Rencana berantakan. Usaha gagal. Anak membutuhkan sesuatu yang belum mampu kita berikan. Orang tua mulai menua.  Tagihan datang lebih cepat daripada uang. Pada saat seperti itu, kita sering bertanya:

“Apa yang harus saya lakukan?”

Cerita Pak Sugeng memberi jawaban yang sangat sederhana. Lakukan apa yang masih bisa dilakukan. Kalau penghasilan utama tidak cukup, cari tambahan. Kalau pekerjaan berat, jalani selangkah demi selangkah. Kalau keadaan tidak sesuai harapan, jangan berhenti mencari kemungkinan. Kalau hari ini belum bisa memberikan yang terbaik kepada anak-anak, jangan berhenti berusaha memberi mereka kesempatan yang lebih baik besok. Dan kalau kita belum mampu mengubah kehidupan secara besar-besaran, ubahlah sedikit demi sedikit.

Pak Sugeng tidak menyelesaikan seluruh masalah keluarganya dalam sehari. Ia menyelesaikannya melalui ribuan pagi. Pagi demi pagi. Tahun demi tahun. Sejak 2006 sampai hari ini. Bahkan jauh sebelum itu. Itulah yang sering tidak kita lihat dari sebuah keberhasilan. Kita hanya melihat hasil akhirnya. Kita lupa menghitung berapa banyak pagi yang harus dilalui seseorang untuk sampai ke sana.

Ketika saya melihat Pak Sugeng duduk di atas kendaraan pengangkut sampahnya, saya tidak lagi melihat seorang pemungut sampah. Saya melihat seorang ayah. Seorang suami. Seorang lelaki yang pernah meninggalkan tanah kelahirannya tanpa membawa banyak bekal, tetapi membawa satu keyakinan: keluarganya harus tetap hidup dan memiliki harapan. Saya melihat seseorang yang mungkin tidak bisa memberikan segala sesuatu kepada anak-anaknya. Tetapi ia memberikan sesuatu yang jauh lebih penting: contoh tentang bagaimana bertahan hidup.

 Ia mengajarkan bahwa hidup tidak selalu memberi kita pekerjaan yang kita inginkan. Tidak selalu memberi penghasilan yang kita harapkan. Tidak selalu memberikan fasilitas yang kita butuhkan. Tetapi selama masih ada kemauan untuk bekerja, masih ada keluarga yang dicintai, dan masih ada alasan untuk bangun esok pagi, harapan belum selesai. Mungkin suatu hari nanti anak-anak Pak Sugeng akan mengenang ayah mereka bukan karena berapa banyak uang yang pernah ia hasilkan. Mereka akan mengenangnya karena setiap pagi ayahnya pergi bekerja. Karena ayahnya tidak malu melakukan pekerjaan yang dianggap rendah oleh sebagian orang. Karena ayahnya tidak berhenti meskipun hidup tidak mudah. Dan karena di antara bau sampah, debu jalanan, kendaraan tua, serta segelas kopi panas dari tangan ibunya, ada sebuah pesan yang terus diwariskan:

“Hidup boleh sederhana. Keadaan boleh terbatas. Tetapi jangan berhenti berusaha membuat hari esok lebih baik.”

Barangkali itulah arti orang hebat yang sebenarnya. Bukan mereka yang selalu menang. Melainkan mereka yang berkali-kali berhadapan dengan keadaan, lalu tetap memilih untuk berjalan. Seperti Pak Sugeng. Setiap pagi, ketika sebagian dari kita masih menikmati rumah yang bersih, ia sudah berada di jalan. Mengambil sesuatu yang kita buang. Membawanya pergi. Dan tanpa banyak orang tahu, bersamaan dengan sampah itu ia juga sedang membawa sesuatu yang jauh lebih berharga, yaitu harapan untuk anak-anaknya.

Maka jika suatu pagi kita melihat seseorang memungut sampah di depan rumah, mungkin tidak perlu banyak kata. Cukup berhenti sebentar. Lihatlah ia sebagai manusia. Sapa.Hargai pekerjaannya. Bayar haknya tepat waktu. Sebab bagi kita mungkin hanya sejumlah uang pungutan sampah. Tetapi bagi seseorang seperti Pak Sugeng, uang itu bisa berarti nasi di meja makan, kebutuhan rumah tangga yang terpenuhi, atau satu langkah kecil menuju mimpi anak-anaknya.

Dan untuk kita sendiri, mungkin ada satu pelajaran yang bisa dibawa pulang: Jangan menunggu pekerjaan kita terlihat hebat untuk mulai menghargai perjuangan kita sendiri. Kerjakan apa yang ada di depan kita. Lakukan dengan jujur. Cari jalan ketika satu jalan buntu. Bertahan ketika keadaan belum berubah. Dan ketika alasan untuk menyerah terasa begitu kuat, ingatlah Pak Sugeng.

Seorang lelaki tua di atas kendaraan pengangkut sampah, yang setiap pagi berangkat bukan karena hidupnya mudah, tetapi karena ada keluarga yang dicintainya dan ada masa depan anak-anak yang ingin ia perjuangkan. Kadang-kadang, itulah keberanian yang paling sunyi. Tidak ada panggung. Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada kamera. Hanya jalanan, sampah, keringat, segelas kopi, dan sebuah mimpi yang menolak mati.