Di sudut kantin sebuah kantor di Kebumen, sejak habis subuh sudah ada asap mengepul. Di balik meja panjang itu berdiri seorang perempuan 53 tahun dengan kerudung dan celemek sederhana dan senyum yang tak pernah habis. Pegawai di kantor ini memanggilnya akrab dengan 'Mak Sri'.
Sri Lestari
Nama yang sederhana. Tapi di balik nama itu ada ribuan lauk yang ia masak, ratusan bungkus nasi yang ia ikat, dan dua mimpi besar yang ia jaga dengan keringatnya sendiri yaitu mimpi lima adik-adiknya, dan mimpi kedua anak laki-lakinya.
Hari ini kedua anaknya kuliah di AMIKOM Yogyakarta. Anak sulungnya sudah lulus, kini bekerja sebagai desainer grafis di sebuah perusahaan. Adiknya masih berjuang menuntaskan tugas akhir. Setiap akhir bulan, dari hasil jualan di kantin inilah Mak Sri dapat menyokong pendapatan suaminya Pak Wahyudi dapat mengirim uang kos, uang buku, uang bimbingan. "Ndak apa-apa Mak dan Bapak capek, asal anak-anak bisa sekolah sampai selesai," ucapnya lirih.
Ditempa Sejak Kecil
Semangat sekuat itu tidak tumbuh dalam semalam. Ia ditempa sejak Mak Sri masih kecil. Mak Sri lahir di Kabupaten Sukoharjo, tepat di dekat terminal bis kota. Ia anak pertama dari enam bersaudara. Sejak lahir, ia tidak pernah merasakan hangatnya pelukan ibu. Ibunya sakit sejak melahirkannya, harus berobat jalan dan mondok lama di RS Mawardi Surakarta. Baru saat duduk di bangku TK, Mak Sri mengerti siapa ibu kandungnya.
Ayahnya sehari-hari berjualan "krowodan" — dagangan rebus-rebusan: uwi, gembili, erut, ubi, singkong, jagung. Hidup pas-pasan. Suatu hari ayahnya memanggil. Kalimatnya sederhana tapi menancap uluhatinya hingga sekarang: "Nduk, kamu perempuan. Nggak usah sekolah tinggi-tinggi. Yang penting kamu bisa bantu adik-adikmu." Sejak itu Mak Sri mengerti. Mimpinya pupus, harus ditunda. Demi adik-adiknya.
Dalam usia muda ia mencari kerja. Tidak kurang dari sembilan tahun Mak Sri menjadi buruh pabrik tekstil di Sri Tex Sukoharjo. Pulang-pergi, lembur, badan pegal silih berganti setiap hari. Gaji pertama sampai gaji kesembilan tahun, hampir semuanya ia belanjakan untuk keperluan sekolah adik-adiknya. Ia lupa membeli baju baru untuk dirinya. Ia lupa memikirkan masa depannya sendiri. Tapi setiap kali ada adik yang lulus, ada ijazah yang dipegang, lelahnya lunas. Ada bangga yang tidak bisa dibayar pabrik.
Berdamai dengan Cinta
Waktu berjalan. Datanglah Wahyudi, lelaki yang melamarnya. Usia 56 tahun. Sebelum mengiyakan, Mak Sri mengajukan satu syarat. "Mas, kalau kita nikah, apakah kamu mau bantu biaya adik bungsuku sekolah?" Wahyudi mengangguk. "Kita tanggung bareng, Dik." Dari situlah Mak Sri tahu, ia boleh bermimpi lagi. Bukan untuk dirinya, tapi untuk keluarga kecilnya. Keputusan besar pun diambil. Mak Sri mengikuti suaminya pindah ke Kebumen karena tugas.. Dari buruh pabrik, Mak Sri banting setir jadi penjual makanan.
Kantin yang pernah ramai hingga 700-an orang antri
Awal membuka kantin di kantor Disnaker Kebumen tidak mudah. Ruangan sudah 2 tahun kosong. Dindingnya harus direnovasi dulu. Kompor dinyalakan dari nol. Tapi Tuhan adil. Dulu kantin ini pernah sangat ramai. Terutama saat ada penerbitan rekomendasi untuk Calon Pekerja Migran Indonesia. Atau saat lulusan sekolah berdatangan mengurus Kartu Pencari Kerja. "Ramainya minta ampun. Sampai 700 orang lebih. Mereka lesehan di mana-mana. Kami kewalahan masak, kewalahan melayani," kenang Mak Sri sambil tertawa. Lelah? Iya. Tapi lelah itu terganti bangga. Karena dari situlah ia bisa menolong banyak orang yang sedang berjuang cari kerja, sama seperti dirinya dulu.
Sekarang keadaan berbeda. Layanan sudah pindah ke Mall Pelayanan Publik. Semua sudah online. Pengunjung tinggal pegawai kantor saja. Sepi.Tapi Mak Sri tetap bertahan. Ia tetap buka lapak, tetap masak, tetap menyapa setiap pegawai dengan "Sudah sarapan, Pak?" "Keuntungan finansialnya tidak seberapa sekarang," katanya jujur. "Tapi bagi saya, manfaatnya bukan di uang. Ini soal persaudaraan. Soal bisa tetap melayani. Soal bisa tetap bantu kirim uang untuk anak di Jogja."
Penutup
Hari ini, wajan Mak Sri masih menyala. Loyangnya masih mengepul. Ia bukan tokoh besar. Ia tidak punya panggung. Tapi dari dapur kecil di kantin kantor inilah, ia berhasil menyekolahkan adik-adiknya dulu. Dan sekarang,dapat membantu suami mengantarkan dua anaknya sampai ke bangku kuliah.
Mak Sri sedang menjaga mimpi. Dengan cara yang paling sunyi yaitu bekerja. Dengan cara yang paling mulia dengan mengorbankan dirinya, agar orang lain bisa terbang lebih tinggi.Terima kasih, Mak Sri. Untuk setiap bungkus nasi yang menguatkan. Untuk setiap doa yang kau panjatkan di antara wajan dan kompor. Semoga Allah membalas semua lelahmu dengan kemudahan, dan meluluskan anak-anakmu dengan nilai terbaik. Aamiin.




.jpeg)











.jpeg)