Tuesday, September 1, 2026

Essay 7. Pak Ansori: Berkali-kali Gagal, Tetapi Tidak Pernah Berhenti Menanam

Pagi itu saya membayangkan seorang petani sedang berdiri di tengah kebunnya, memandangi tanaman cabai yang sebagian mulai menguning. Saya tidak tahu apa yang pertama kali ada di kepalanya saat itu. Mungkin kecewa. Mungkin lelah. Mungkin juga ada pertanyaan yang diam-diam muncul: “Sampai kapan saya harus mencoba?” Sebab bagi seorang petani, kegagalan bukan sesuatu yang hanya terlihat dalam angka. Kegagalan bisa terlihat dari tanaman yang mati setelah berbulan-bulan dirawat. Bisa terasa dari uang yang sudah dikeluarkan untuk benih dan pupuk. Bisa terdengar dari suara hati ketika hasil panen yang diharapkan ternyata tidak pernah datang.

Pak Ansori, 48 tahun, sudah merasakan semuanya. Ia pernah pergi jauh untuk mencari kehidupan. Pernah menjadi pedagang kaki lima di Jakarta. Pernah kehilangan modal karena razia. Pernah menjadi pekerja konstruksi yang berpindah-pindah dari Kalimantan Timur hingga Sumatra. Dan ketika akhirnya memutuskan pulang untuk lebih dekat dengan keluarga, ia kembali diuji oleh sesuatu yang mungkin lebih sulit daripada meninggalkan kampung halaman: bertahan ketika apa yang ditanam berkali-kali tidak memberikan hasil.

Namun hari itu saya belajar sesuatu dari Pak Ansori. Bahwa ada orang-orang yang tidak menjadi kuat karena hidupnya mudah.   Mereka menjadi kuat karena hidup berkali-kali memaksa mereka untuk memilih: berhenti atau mencoba lagi. Pak Ansori memilih mencoba lagi.

Dari Kampung, ke Jakarta

Pak Ansori menikah dan memiliki dua anak. Anak pertamanya laki-laki, sudah lulus SMK dan kini bekerja di sebuah perusahaan batubara di Kalimantan Timur. Anak keduanya masih duduk di kelas 6 SD. Seperti banyak orang tua lainnya, Pak Ansori memiliki harapan sederhana: anak-anaknya bisa memiliki kehidupan yang lebih baik daripada dirinya. Tetapi jalan menuju harapan itu tidak selalu lurus. 

Pada usia 22 tahun, hidup membawanya ke Jakarta. Ia merantau selama kurang lebih lima tahun. Di sana ia berdagang asongan, menjual barang-barang kelontong secara kaki lima. Saya membayangkan seorang anak muda yang datang ke kota besar dengan keberanian yang mungkin jauh lebih besar daripada modal yang dibawanya. Jakarta menawarkan kesempatan, tetapi juga keras kepada orang-orang yang mencoba bertahan.

Suatu hari, razia petugas datang. Barang dagangan habis.  Modal habis. Usaha yang dibangun dengan susah payah lenyap dalam waktu yang singkat. Saya kira banyak orang akan mengingat kejadian semacam itu sebagai titik akhir. Tetapi bagi Pak Ansori, itu menjadi alasan untuk pulang.

Ia kembali ke kampung.

Namun pulang bukan berarti langsung menemukan kehidupan yang tenang. Selama kurang lebih sepuluh tahun berikutnya, ia kembali merantau. Kali ini sebagai pekerja konstruksi. Tempat kerjanya berpindah-pindah, dari Kalimantan Timur hingga Sumatra. Ada masa ketika kehidupan memang seperti itu. Hari ini bekerja di satu tempat. Besok belum tentu tahu akan berada di mana. Tubuh berpindah. Pekerjaan berpindah. Lingkungan berubah. Tetapi kebutuhan keluarga tetap sama. Anak-anak tetap membutuhkan biaya sekolah. Rumah tetap membutuhkan biaya. Kehidupan tidak pernah berhenti hanya karena seseorang sedang lelah. Lalu ayahnya sakit. Dan kemudian meninggal dunia.

Peristiwa itu membuat Pak Ansori berpikir lebih dalam. Selama bertahun-tahun ia pergi untuk bekerja. Tetapi sekarang ia mulai bertanya kepada dirinya sendiri: Sampai kapan saya harus terus pergi? Ada satu kebutuhan yang semakin kuat: bekerja, tetapi tetap berada di rumah. Akhirnya, ia memilih bertani. 

Pulang dan Memulai dari Tanah Sendiri

Ada sesuatu yang berbeda ketika seseorang bekerja di tanah milik keluarganya sendiri. Tanah itu bukan sekadar lahan. Di sana ada kenangan orang tua. Ada jejak kehidupan yang diwariskan. Ada kemungkinan untuk membangun kembali kehidupan keluarga.

Dari sawah peninggalan orang tuanya, Pak Ansori mulai menanam palawija. Gambas. Timun. Cabai. Tidak ada yang istimewa dari jenis tanaman itu jika hanya dilihat dari namanya. Tetapi bagi Pak Ansori, setiap benih adalah harapan. Ia menanam. Merawat. Menunggu. Lalu menghadapi ketidakpastian. Cabai menjadi salah satu tanaman yang paling banyak menguji kesabarannya. Ia pernah mencoba menanam cabai di empat lokasi. Bukan sekali gagal. Bukan dua kali. Berkali-kali. 

Pada suatu musim, banjir datang. Air merendam tanaman hingga berhari-hari. Bahkan ada tanaman yang terendam sampai sekitar satu minggu. Bayangkan perasaan seseorang yang sudah mengeluarkan tenaga, waktu, benih, pupuk, dan harapan, lalu melihat air perlahan menenggelamkan tanaman yang sedang ia tunggu hasilnya. Saya kira tidak mudah untuk tetap tenang. Ada rasa kecewa. Ada rasa kesal.  Ada juga mungkin rasa ingin menyerah. 

Pak Ansori tidak menutup-nutupi bahwa menjadi petani itu tidak mudah. Tetapi ia juga tidak berhenti. Ia menanam lagi. Percobaan pertama berhasil. Percobaan kedua berhasil. Keberhasilan itu tentu memberikan semangat. Mungkin ia mulai berpikir, “Ternyata saya bisa.” Tetapi kemudian datang percobaan berikutnya. Gagal total.  Banjir kembali datang. Tanaman cabai yang sudah dirawat harus menerima kenyataan bahwa alam tidak selalu berpihak. Dan ketika ia mencoba lagi, masalahnya bukan lagi banjir. Tanaman terkena hama yang membuat daunnya menguning. Sekali lagi, ia harus berhadapan dengan kegagalan. Di titik seperti ini, saya membayangkan betapa mudahnya seseorang menyalahkan keadaan. Tanahnya tidak bagus. Cuacanya tidak mendukung. Harga pupuk mahal. Modal tidak cukup. Atau mungkin berkata, “Sudahlah. Saya tidak cocok menjadi petani.” Tetapi Pak Ansori memilih cara yang berbeda. Ia mencari tahu. Ia bertanya. Ia mencoba memahami masalah. Dan di situlah saya melihat bahwa ketekunan ternyata bukan hanya soal bekerja keras. Ketekunan juga berarti bersedia belajar dari kegagalan. 

Ketika Gagal Tidak Lagi Berarti Kalah

Pak Ansori bergabung dengan kelompok tani. Bagi saya, ini bagian penting dari ceritanya. Sebab orang yang sedang berjuang sering kali merasa bahwa dirinya harus menyelesaikan semuanya sendiri. Padahal tidak. Kelompok tani memberinya tempat untuk bertanya ketika tanaman bermasalah. Ada orang lain yang bisa diajak berdiskusi. Ada pengalaman orang lain yang bisa dipelajari. Dan yang tidak kalah penting: ada dukungan mental. Kadang-kadang seseorang tidak membutuhkan jawaban yang rumit. Ia hanya membutuhkan orang lain yang berkata: "Coba lagi." "Jangan menyerah dulu." "Masalah ini pernah kami alami." "Kita cari jalan keluarnya bersama." Dukungan seperti itu kelihatannya sederhana. Tetapi bagi orang yang sedang menghadapi kegagalan, dukungan sederhana bisa menjadi tenaga yang besar. 

Pak Ansori juga mendapatkan dukungan dari pedagang yang menyediakan benih dan pupuk dengan sistem pembayaran bertahap setiap kali panen. Artinya, ia tidak harus menyediakan seluruh kebutuhan modal sekaligus. Ada kepercayaan yang diberikan kepadanya. Dan kepercayaan itu kemudian harus dibayar dengan tanggung jawab. Saya melihat sesuatu yang menarik di sini. Perjuangan seseorang memang miliknya sendiri, tetapi ia tidak selalu harus dilakukan sendirian. Ada keluarga. Ada kelompok. Ada tetangga. Ada orang yang percaya. Ada orang yang mau memberi kesempatan kedua. Dan terkadang, keberanian untuk mencoba kembali tumbuh karena ada seseorang yang berkata, “Saya percaya kamu masih bisa.” 

Dari Perantauan ke Rumah

Jika kita melihat perjalanan Pak Ansori dari jauh, hidupnya seperti rangkaian perpindahan. Jakarta. Pekerjaan konstruksi. Kalimantan Timur. Sumatra. Kemudian kembali ke kampung. Tetapi mungkin sebenarnya ia tidak sedang berpindah-pindah tanpa arah. Ia sedang mencari tempat di mana ia bisa menjadi lebih dekat dengan keluarganya sekaligus tetap memenuhi tanggung jawabnya sebagai seorang ayah. 

Anaknya yang pertama kini sudah bekerja. Anaknya yang kedua masih sekolah. Ada kehidupan yang harus terus dibangun. Ada biaya yang harus dipenuhi. Ada masa depan anak yang tidak boleh berhenti hanya karena orang tuanya pernah mengalami kegagalan. Dan mungkin inilah yang membuat Pak Ansori tetap bertahan. Ia tidak lagi mengejar kehidupan yang terlihat besar. Ia hanya ingin kehidupan keluarganya berjalan sedikit lebih baik dari hari kemarin.

Bukankah sebagian besar orang tua sebenarnya seperti itu? Mereka bekerja bukan supaya namanya dikenal. Mereka bekerja agar anaknya bisa berangkat sekolah. Mereka menabung bukan untuk dipuji. Mereka menabung supaya ketika kebutuhan datang, ada sesuatu yang bisa digunakan. Mereka bertahan bukan karena tidak pernah takut. Mereka bertahan karena ada orang yang mereka cintai.

Saya Belajar dari Tanaman yang Tumbuh

Ada satu hal yang saya pikirkan setelah mendengar cerita Pak Ansori. Petani mungkin adalah salah satu manusia yang paling akrab dengan ketidakpastian. Ia menanam tanpa pernah benar-benar bisa memastikan hasil. Ia bisa bekerja keras, tetapi hujan yang terlalu banyak bisa menghancurkan. Ia bisa merawat tanaman dengan teliti, tetapi hama bisa datang. Ia bisa menghitung modal, tetapi harga bisa berubah. Ia bisa membuat rencana, tetapi alam memiliki rencananya sendiri. Namun petani tetap menanam. Mengapa? Karena kalau ia berhenti menanam hanya karena pernah gagal, maka tidak akan pernah ada panen berikutnya. 

Begitu juga hidup. Kita sering mengira keberanian berarti tidak takut. Padahal mungkin keberanian yang sebenarnya jauh lebih sederhana: takut, kecewa, lelah, tetapi tetap melakukan satu langkah berikutnya. Pak Ansori pernah gagal menjadi pedagang di Jakarta. Ia tidak berhenti bekerja. Ia pernah menghadapi kehidupan sebagai pekerja konstruksi yang berpindah-pindah. Ia tetap bekerja. Ia pernah gagal menanam cabai karena banjir. Ia menanam lagi. Ia pernah gagal karena hama. Ia belajar lagi. Barangkali inilah yang sering tidak kita lihat dari keberhasilan seseorang. Kita hanya melihat panennya. Kita tidak melihat benih yang mati. Kita melihat rumah yang sudah berdiri. Kita tidak melihat berapa kali seseorang hampir kehilangan harapan. Kita melihat seseorang yang sekarang tampak kuat. Kita tidak melihat berapa kali ia pernah menangis diam-diam.

Hidup Tidak Selalu Meminta Kita Menang

Ada masa ketika kita terlalu sibuk mengejar kemenangan. Kita ingin berhasil. Ingin cepat. Ingin segera melihat hasil. Ketika gagal, kita merasa hidup tidak adil. Ketika orang lain berhasil lebih dulu, kita merasa tertinggal. Padahal mungkin hidup tidak selalu meminta kita menang. Kadang-kadang hidup hanya meminta kita bertahan cukup lama sampai kesempatan berikutnya datang. Pak Ansori mengajarkan itu kepada saya. Gagal bukan berarti perjalanan selesai. Gagal bisa menjadi informasi. Banjir memberi tahu bahwa ada sesuatu yang harus dipikirkan dalam memilih lokasi dan waktu tanam. Hama memberi tahu bahwa tanaman harus dipelajari lebih baik. Kegagalan usaha memberi tahu bahwa cara lama mungkin perlu ditinggalkan.  Dan kelompok tani mengingatkan bahwa kita tidak harus mengetahui semua jawaban sendirian. Dengan cara itu, kegagalan tidak lagi menjadi musuh. Ia menjadi guru. Memang guru yang mahal. Kadang bayarannya adalah uang. Kadang waktu. Kadang tenaga. Kadang air mata. Tetapi jika kita mau belajar, kegagalan bisa meninggalkan sesuatu yang tidak bisa dibeli: pengalaman. 

Untuk Siapa Kita Bertahan?

Saya sering berpikir, dari mana sebenarnya manusia mendapatkan tenaga untuk bangkit? Kadang jawabannya bukan ambisi. Bukan uang. Bukan juga keinginan untuk membuktikan sesuatu kepada orang lain. Kadang jawabannya adalah keluarga. Seorang ayah mungkin sanggup menahan lelah karena melihat anaknya masih harus sekolah. Seorang ibu mungkin tetap bekerja meskipun tubuhnya ingin beristirahat karena besok ada kebutuhan rumah. Seseorang mungkin mau memulai usaha lagi setelah gagal karena ada keluarga yang menunggu. 

Pak Ansori memilih pulang setelah bertahun-tahun merantau. Kemudian ia memilih bertani. Dan ketika pertanian kembali mengujinya, ia tidak berhenti. Bukan karena hidupnya mudah.  Justru karena ia tahu hidup tidak mudah. Ia tahu bahwa anak-anaknya membutuhkan masa depan. Dan untuk masa depan itu, ia bersedia kembali menanam. Mungkin besok gagal. Mungkin lusa berhasil. Tidak ada yang bisa memastikan. Tetapi selama masih ada tanah yang bisa digarap, benih yang bisa ditanam, dan kesempatan untuk mencoba, harapan belum selesai. 

Pelajaran yang Bisa Kita Bawa Pulang

Kisah Pak Ansori mungkin terasa sederhana. Tidak ada panggung besar. Tidak ada penghargaan. Tidak ada berita utama. Hanya seorang lelaki yang pulang dari perantauan, mengolah tanah peninggalan orang tua, menghadapi banjir, hama, modal yang terbatas, lalu mencoba lagi. Tetapi justru di situlah letak kehebatannya. Ia mengajarkan kepada kita beberapa hal. Pertama, jangan jadikan satu kegagalan sebagai keputusan seumur hidup. Satu usaha gagal tidak berarti Anda gagal sebagai manusia. Satu pekerjaan hilang tidak berarti masa depan Anda selesai. Satu rencana tidak berhasil bukan berarti semua rencana harus dibuang. Berikan diri Anda kesempatan untuk mencoba dengan cara yang lebih baik. Kedua, jangan malu meminta bantuan. Pak Ansori menemukan kekuatan melalui kelompok tani. Ia mendapatkan pengetahuan, solusi, dan dukungan mental dari orang-orang di sekitarnya. Kita pun demikian. Jika sedang menghadapi masalah, carilah orang yang bisa membantu. Bertanya bukan tanda kelemahan. Justru sering kali itu tanda bahwa kita serius ingin memperbaiki keadaan. Ketiga, belajar membaca kegagalan. Jangan hanya bertanya, “Mengapa saya gagal?” Tambahkan pertanyaan: “Apa yang bisa saya pelajari?” “Apa yang harus saya ubah?” “Siapa yang bisa saya mintai nasihat?” “Apa langkah kecil yang masih bisa saya lakukan hari ini?” Dan yang terakhir, mungkin yang paling penting: ingat untuk siapa kita berjuang. Ketika tujuan terasa terlalu berat, ingatlah orang-orang yang ingin kita bahagiakan. Sebab kadang-kadang, alasan untuk bangkit tidak datang dari diri kita sendiri. Ia datang dari wajah anak. Dari pasangan. Dari orang tua. Dari keluarga.Dari seseorang yang menunggu kita pulang. 


Tetap Menanam

Saya tidak tahu bagaimana hasil panen Pak Ansori berikutnya. Mungkin berhasil. Mungkin kembali diuji. Tetapi saya belajar bahwa ada sesuatu yang lebih penting daripada memastikan panen selalu berhasil. Yaitu memastikan kita tidak berhenti menanam. Sebab kita tidak pernah tahu benih yang mana yang akan tumbuh. Tanaman yang mana yang akan bertahan. Musim yang mana yang akan membawa hasil. Begitu pula hidup. Kita tidak pernah tahu usaha yang mana yang akhirnya berhasil. Pekerjaan yang mana yang membuka jalan. Pertemuan dengan siapa yang mengubah keadaan.  Kesempatan yang mana yang menjadi pintu. Karena itu, selama masih diberi kesempatan, lakukan bagian kita. Tanam. Rawat. Belajar. Berdoa. Perbaiki. Dan jika gagal, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa semuanya sia-sia. Mungkin Tuhan sedang mengajarkan kita cara menanam yang lebih baik. Pak Ansori telah berkali-kali diuji oleh kehidupan. Ia pernah kehilangan modal, berpindah-pindah pekerjaan, kehilangan ayah, menghadapi banjir, menghadapi hama, dan melihat tanaman yang dirawatnya tidak selalu memberikan hasil. Tetapi ia masih memilih untuk menanam. Bukan karena ia yakin semua akan mudah. Melainkan karena ia percaya, selama ia masih mau berikhtiar, selalu ada kemungkinan jalan rezeki terbuka. Dan mungkin itulah arti sebenarnya dari orang biasa yang menolak menyerah.

Bukan mereka yang tidak pernah jatuh. Bukan mereka yang selalu berhasil. Bukan pula mereka yang tidak pernah menangis atau kecewa. Tetapi mereka yang setelah semua itu terjadi, masih mampu berkata kepada dirinya sendiri: "Baiklah. Kita coba lagi.” Karena hidup memang tidak menjanjikan bahwa setiap benih akan tumbuh. Tetapi selama tangan kita masih mau menanam, harapan belum pernah benar-benar padam. 

Monday, August 31, 2026

Essay 8. Samir Tetap Berlayar, Walaupun Laut Tidak Selalu Bersahabat


Saat Hidup Menguji, Orang-Orang Hebat: Orang Biasa yang Menolak Menyerah

Pagi itu, sebelum matahari benar-benar muncul dari balik garis pantai, Samir sudah memulai harinya. Jam belum menunjukkan pukul lima. Udara masih dingin. Tubuhnya belum selesai beristirahat, tetapi pekerjaannya sudah menunggu. Ia harus turun dari rumah, menuju kebun, memanjat pohon kelapa untuk mengambil nira. Pekerjaan itu harus dilakukan sebelum ia berangkat ke laut. Ada gula kelapa yang menunggu. Ada perahu yang menunggu. Ada jaring yang menunggu. Dan ada keluarga yang menunggu hasil dari semua pekerjaan itu. Namanya Samir. Usianya 57 tahun. Ia lahir di Dukuh Sasak.

Ketika saya mendengar cerita tentang kehidupannya, saya membayangkan betapa panjang hari-hari yang sudah ia lewati. Bagi sebagian orang, satu pekerjaan saja sudah cukup menguras tenaga. Tetapi bagi Samir, satu pekerjaan sering kali belum cukup. Pagi mengambil nira. Setelah salat Subuh, pergi melaut. Menerjang ombak. Menebar jaring. Menunggu ikan. Pulang dari laut. Kemudian mencari rumput untuk ternak. Besok diulang lagi. Lusa diulang lagi. Begitu seterusnya. Dan anehnya, ketika saya bertanya apakah semua itu melelahkan, jawabannya justru membuat saya berpikir lama.

“Capek, pasti capek. Tapi cpeknya hilang kalau melihat anak dan cucu tumbuh baik.”

Mungkin bagi orang lain, itu hanya kalimat sederhana. Bagi saya, itu adalah ringkasan dari sebuah kehidupan.


Pertama Kali Bersahabat dengan Laut

Samir mulai mengenal laut ketika usianya baru 15 tahun. Tahun 1985. Di usia ketika sebagian anak seusianya mungkin masih sibuk bermain atau menikmati masa sekolah, Samir sudah belajar memahami watak laut. Saat itu perahunya belum menggunakan mesin. Ia mengandalkan dayung. Kadang layar. Hanya itu. Tidak ada mesin yang bisa diandalkan ketika angin berubah arah. Tidak ada teknologi yang membuat perjalanan menjadi lebih mudah. Perahu kecil itu harus mengikuti kemampuan tangan manusia. Dan laut tidak pernah berjanji akan bersahabat. Samir muda harus belajar menghadapinya.

Pada awalnya, tubuhnya sering oleng mengikuti gerakan ombak. Perahu dimainkan gelombang. Naik, turun, miring, kembali tegak, kemudian dihantam gelombang berikutnya. Tubuhnya belum terbiasa. Ia muntah-muntah. Tetapi ia tetap berangkat. Tiga tahun lamanya ia menggunakan dayung.

Tiga tahun belajar bahwa mencari ikan bukan pekerjaan yang bisa dilakukan hanya dengan keberanian. Ada ketahanan tubuh. Ada kesabaran. Ada kemampuan membaca keadaan.

Kemudian zaman berubah. Teknologi kapal mulai berkembang. Mesin tempel mulai digunakan. Samir pun ikut bekerja bersama juragan dengan sistem bagi hasil 40-60.Laut tetap sama. Ombak tetap datang. Angin tetap bisa berubah. Tetapi cara manusia menghadapinya berkembang. Namun ada satu hal yang tidak berubah dari Samir: ia tetap berangkat.


Sebelum Laut, Ada Pohon Kelapa

Ada sesuatu yang menarik dari rutinitas Samir. Pekerjaannya di laut sebenarnya belum dimulai ketika hari masih gelap. Sekitar pukul empat pagi, ia sudah pergi ke kebun. Ia mengambil nira dari pohon kelapa, terutama ketika usia masih dibawah 40 tahunan. Nderes. Pekerjaan yang membutuhkan tenaga, keseimbangan, ketekunan, dan dilakukan berulang-ulang. Saya membayangkan suasana pagi di kebun. Langit masih gelap. Udara dingin. Pohon-pohon kelapa berdiri tinggi. Dan seorang lelaki berusia 57 tahun memulai pekerjaan sebelum banyak orang membuka mata.

Setelah itu ia turun, menunaikan salat Subuh, kemudian berangkat ke laut. Seolah-olah hari belum benar-benar dimulai bagi sebagian orang, tetapi Samir sudah menjalani babak pertama perjuangannya.  Lalu laut menjadi babak kedua. Ia naik ke perahu. Membawa jaring. Menerjang ombak. Mencari ikan. Jika tangkapan sedang banyak, ia bisa berada di laut hingga sekitar pukul lima sore. Tetapi jika ikan sedang sedikit, ia mungkin hanya sampai sekitar pukul sebelas siang. Di laut, ia tidak bisa menentukan hasil.

Ia hanya bisa berusaha. Ia tidak bisa memerintahkan ikan untuk datang. Tidak bisa meminta ombak untuk tenang. Tidak bisa menyuruh angin agar sesuai keinginannya. Yang bisa ia lakukan hanyalah menebar jaring dan menunggu. Di situlah saya menemukan salah satu pelajaran penting dari kehidupan seorang nelayan:

kita tidak selalu bisa mengendalikan hasil, tetapi kita masih bisa mengendalikan ikhtiar.


Ketika Laut Tidak Memberikan Banyak

Ada hari ketika laut memberikan banyak. Ada hari ketika laut pelit.

Ada hari ketika jaring terasa berat karena dipenuhi tangkapan. Ada hari ketika perjalanan pulang mungkin tidak membawa hasil sebanyak yang diharapkan. Tetapi kehidupan harus tetap berjalan.Keluarga harus tetap makan. Ternak harus tetap diberi makan. Kebutuhan rumah harus tetap dipenuhi. Karena itu, setelah dari laut, Samir tidak selalu pulang untuk beristirahat.

Sering kali ia langsung mencari rumput untuk pakan ternak. Matahari mulai condong. Tubuh sudah melewati pekerjaan panjang sejak dini hari. Tetapi rumput masih harus dicari sebelum malam. Sementara itu, di rumah, istrinya memiliki bagian perjuangan sendiri. Ketika Samir berada di laut, istrinya bertugas memberi makan dan minum sapi ternaknya. Tidak ada satu orang yang bekerja sendirian.  Keluarga mereka seperti sebuah perahu. Satu orang mendayung di laut. Satu orang menjaga kehidupan di darat.  Keduanya sama-sama berjuang agar rumah tetap berjalan.

Dan mungkin begitulah keluarga bertahan: bukan karena salah satu orang kuat sendirian, melainkan karena mereka saling menopang ketika yang lain sedang tidak berdaya.  Samir kini memiliki tiga anak perempuan dan empat cucu. Anak pertamanya bekerja sebagai petugas kebersihan di kawasan taman wisata pantai menganti. Anak kedua menjadi karyawan di tempat pelelangan ikan atau TPI. Anak ketiganya, sekitar setahun terakhir, menjadi polisi wanita berdinas di Polres.

Ketika mendengar cerita itu, saya membayangkan wajah Samir. Mungkin ada kebanggaan yang tidak selalu ia ucapkan. Sebab di balik keberhasilan anak-anak itu, ada perjalanan panjang seorang ayah. Ada pagi-pagi yang dimulai dari pohon kelapa. Ada jaring yang ditebar di tengah laut. Ada ombak yang harus diterjang. Ada rumput yang harus dicari. Ada tubuh yang berkali-kali merasa lelah tetapi tetap bergerak. Dan kini, ia melihat anak-anaknya tumbuh. Ia juga melihat keempat cucunya tumbuh dengan baik. Barangkali itulah yang ia maksud ketika mengatakan bahwa rasa capeknya hilang.

Bukan berarti tubuhnya benar-benar tidak lelah. Tubuh tetap punya batas. Punggung tetap bisa pegal. Tangan tetap bisa terasa berat. Tetapi manusia kadang memiliki kekuatan yang tidak berasal dari otot. Ada kekuatan yang lahir dari alasan mengapa kita harus terus berjalan. Bagi Samir, alasan itu adalah keluarga.


Mimpi yang Datang Terlambat

Ada satu bagian lain dari kisah Samir yang menurut saya sangat menyentuh. Di tengah kehidupan yang penuh pekerjaan, ia masih mempunyai keinginan untuk belajar. Dulu, pendidikan formalnya hanya sampai madrasah, setingkat sekolah dasar. Kesempatan untuk melanjutkan pendidikan tidak datang ketika ia masih muda. Hidup terlalu cepat memberinya tanggung jawab. Ia harus bekerja. Harus membantu keluarga. Harus mencari nafkah. Harus bertahan. Tetapi rupanya ada mimpi yang tidak benar-benar mati hanya karena terlalu lama ditinggalkan. Samir kini bersemangat menempuh ujian persamaan SMP dan SMA. Bayangkan. Di usia 57 tahun, ketika sebagian orang mungkin merasa sudah terlambat untuk belajar, ia justru kembali membuka pintu yang dahulu belum sempat ia masuki.

Saya kira ini salah satu bentuk keberanian yang jarang mendapatkan tepuk tangan. Keberanian untuk mengakui: “Dulu saya belum bisa. Tetapi mungkin sekarang saya masih bisa mencoba.” Tidak semua mimpi harus dicapai pada usia muda. Tidak semua cita-cita mempunyai tanggal kedaluwarsa. Kadang kehidupan membuat kita menunda sesuatu selama bertahun-tahun. Dan ketika kesempatan datang kembali, kita hanya perlu cukup berani untuk mengetuk pintunya. Samir sedang mengetuk pintu itu.

Dengan tangan yang setiap hari memegang jaring. Dengan tubuh yang setiap pagi bekerja. Dengan usia yang tidak lagi muda. Tetapi dengan semangat yang belum tua. Tidak hanya mencari ikan.  Menjadi nelayan bagi Samir ternyata bukan hanya soal mencari ikan. Ia juga aktif di tengah masyarakat. Ia dipercaya menjadi ketua RW. Ia bergabung dalam Tim SAR. Ia juga aktif dalam koperasi bersama rekan-rekannya untuk memperjuangkan kesejahteraan nelayan. Ini menarik. Karena orang yang hidupnya sendiri penuh perjuangan ternyata masih mau memikirkan kehidupan orang lain. Bukankah sering kali kita berpikir bahwa kita harus menyelesaikan masalah sendiri dulu sebelum membantu orang lain?

Tetapi Samir menunjukkan sesuatu yang berbeda. Barangkali seseorang tidak harus menunggu hidupnya sempurna untuk berguna bagi sesama. Ia bisa membantu sambil tetap berjuang. Ia bisa menjadi bagian dari masyarakat sambil tetap mencari nafkah. Ia bisa memperjuangkan kesejahteraan nelayan sambil dirinya sendiri masih harus melaut setiap hari. Dan mungkin justru karena ia merasakan kehidupan itu sendiri, ia memahami kesulitan orang lain lebih dalam.

Ia tahu bagaimana rasanya ketika tangkapan sedikit. Ia tahu bagaimana rasanya ketika pekerjaan bergantung pada alam. Ia tahu bagaimana rasanya bekerja keras tetapi hasil tidak selalu bisa dipastikan. Karena itu, ketika ia memperjuangkan nelayan bersama teman-temannya, ia tidak sedang memperjuangkan sesuatu yang jauh dari kehidupannya. Ia sedang memperjuangkan dirinya sendiri dan orang-orang yang hidup dalam nasib yang sama. 

Saat Ubur-Ubur Datang

Belakangan ini ada satu hal yang membuat suasana menjadi berbeda. Musim panen ubur-ubur. Bagi Samir, itu adalah kegembiraan. Setelah hari-hari panjang mengambil nira, menebar jaring, melawan ombak, dan mencari rumput sebelum matahari tenggelam, datangnya hasil tangkapan seperti sebuah jawaban.

Bukan hanya soal uang. Tetapi juga tentang perasaan bahwa kerja keras tidak sia-sia. Ada saat ketika kita menanam. Ada saat ketika kita menunggu. Ada saat ketika kita hampir kehilangan harapan.

Kemudian tiba waktunya memanen. Begitulah kehidupan. Tidak semua hari memberikan hasil yang sama. Tetapi kita tidak boleh menyimpulkan bahwa sebuah perjuangan sia-sia hanya karena hari ini hasilnya belum terlihat. Petani tahu itu. Nelayan tahu itu. Orang tua tahu itu. Dan mungkin siapa pun yang sedang memperjuangkan sesuatu juga harus belajar memahaminya.


Laut Kehidupan Tidak Selalu Bersahabat

Saya tidak tahu berapa kali Samir merasa ingin berhenti selama puluhan tahun hidupnya sebagai nelayan. Mungkin ada. Mungkin pernah ada hari ketika tubuhnya terlalu lelah. Mungkin pernah ada saat ketika hasil tangkapan tidak sebanding dengan tenaga yang dikeluarkan. Mungkin pernah ada pagi ketika ia berharap bisa tidur lebih lama. Tetapi ia tetap berangkat. Dan saya kira, di situlah keberanian yang sebenarnya. Keberanian bukan berarti tidak takut. Keberanian bukan berarti tidak lelah. Keberanian juga bukan berarti selalu yakin bahwa semuanya akan berhasil. Keberanian adalah tetap melakukan apa yang harus dilakukan meskipun kita tidak memiliki jaminan hasil.

Laut adalah gambaran kehidupan yang sangat jujur. Kita bisa mempersiapkan perahu sebaik mungkin. Kita bisa menyiapkan jaring. Kita bisa mengetahui arah angin. Tetapi kita tidak pernah benar-benar bisa mengendalikan laut.Begitu pula hidup. Kita tidak bisa mengatur semua keadaan.

Kita tidak bisa memilih keluarga tempat kita dilahirkan. Tidak bisa mengatur kapan ujian datang. Tidak bisa memastikan semua usaha langsung berhasil. Tidak bisa memaksa orang lain memahami perjuangan kita. Tetapi kita masih mempunyai pilihan: mau berhenti atau tetap berlayar. Samir memilih berlayar.


Untuk Kita yang Sedang Diuji

Mungkin saat membaca kisah ini, ada di antara kita yang sedang berada di tengah “laut” masing-masing. Ada yang sedang kehilangan pekerjaan. Ada yang sedang membangun usaha dari nol. Ada yang sedang membayar biaya sekolah anak. Ada yang sedang merawat orang tua. Ada yang sedang mengejar pendidikan yang tertunda. Ada yang sedang menghadapi kegagalan. Ada pula yang mungkin sudah sangat lelah sampai tidak tahu harus berharap kepada siapa.

Jika itu yang sedang Anda alami, kisah Samir mungkin tidak akan membuat masalah anda langsung selesai. Tetapi semoga ia mengingatkan satu hal: Anda tidak harus menyelesaikan seluruh hidup hari ini. Cukup lakukan pekerjaan hari ini. Seperti Samir. Pagi mengambil nira. Setelah Subuh pergi melaut. Menebar jaring. Pulang. Mencari rumput. Merawat ternak. Mendampingi keluarga. Belajar lagi. Besok, ulangi. Bukan karena hidup mudah. Tetapi karena ada kehidupan yang harus dijaga.


Tetap Berlayar

Saya membayangkan Samir berdiri di tepi laut. Usianya sudah 57 tahun. Tubuhnya tidak lagi seperti ketika pertama kali naik perahu pada usia 15 tahun. Tetapi mungkin ada sesuatu yang justru semakin kuat selama 42 tahun itu:keteguhan.

Ia pernah menjadi anak muda yang muntah ketika perahunya dimainkan ombak. Kini ia telah menjadi seorang ayah, kakek, nelayan, ketua RW, anggota Tim SAR, dan bagian dari perjuangan masyarakat nelayan. Ia telah melewati begitu banyak gelombang. Dan ternyata, hidup memang tidak pernah menjanjikan laut yang tenang. Yang dijanjikan kepada manusia barangkali hanya kesempatan untuk terus berusaha. Maka selama tangan masih bisa memegang dayung, ia akan mendayung. Selama jaring masih bisa ditebar, ia akan menebar. Selama pohon kelapa masih bisa dipanjat, ia akan mengambil nira. Selama rumput masih bisa dicari, ia akan mencarinya. Selama anak-anak dan cucunya masih menjadi alasan untuk tersenyum, ia akan terus bekerja. Dan selama Allah masih memberikan kehidupan, ia akan terus berikhtiar. Mungkin itulah arti sebenarnya dari menolak menyerah. Bukan hidup tanpa masalah. Bukan hidup tanpa lelah. Bukan pula hidup yang selalu menang. Tetapi ketika gelombang datang, kita tidak buru-buru membuang dayung. Kita belajar mengatur napas. Kita menguatkan pegangan. Kita menunggu gelombang lewat. Lalu kembali mengarahkan perahu. Sebab hidup tidak selalu meminta kita untuk menjadi yang paling kuat. Kadang hidup hanya meminta kita untuk tetap berlayar.

Dan Samir telah mengajarkan itu kepada saya: ketika laut tidak bersahabat, jangan selalu berpikir bahwa perjalanan harus berakhir. Bisa jadi, kita hanya sedang diminta belajar menjadi pelaut yang lebih tangguh.

Saturday, August 29, 2026

Essay 3. Bang Dani: Dua Puluh Lima Tahun Mendorong Bakso, Mengantar Anak-Anak Menjadi Baik

Jam belum menunjukkan pukul enam pagi ketika saya membayangkan rutinitas yang mungkin sudah begitu akrab bagi Bang Dani.

Bagi kebanyakan orang, pagi adalah waktu untuk memulai hari dengan tenang. Membuka mata, menyeruput teh atau kopi, bersiap bekerja, lalu berangkat mengejar kesibukan. Tetapi bagi Ahmad Ardani—yang lebih akrab dipanggil Bang Dani—pagi adalah bagian dari perjuangan yang sudah berlangsung selama puluhan tahun.

Sehabis salat Subuh, ketika sebagian orang mungkin masih menarik selimut atau menikmati udara pagi, Bang Dani sudah mulai memikirkan dagangannya. Belanja bahan. Menyiapkan bumbu. Memasak. Memastikan bakso siap dibawa berkeliling. Kemudian, sekitar pukul tigabelas siang lewat, gerobak mulai bergerak. Ia akan berkeliling dari sekitar pukul 13.30 hingga sekitar pukul 20.00 atau 21.00. Begitu terus. Hari demi hari. Tahun demi tahun. Sudah 25 tahun.

Saya membayangkan roda gerobak yang terus berputar itu. Kadang melewati jalan yang panas. Kadang mungkin ditemani hujan. Kadang dagangan ramai. Kadang tidak seberapa. Tetapi satu hal tidak berubah: Bang Dani tetap keluar membawa baksonya. Sebab yang ia bawa sebenarnya bukan sekadar bakso. Ia membawa sekolah anak-anaknya. Ia membawa biaya mondok. Ia membawa harapan agar anak-anaknya tumbuh dengan bekal agama. Dan, mungkin yang paling penting, ia membawa keyakinan bahwa selama seseorang masih mau berusaha, selalu ada jalan yang bisa ditempuh.


Sebelum Gerobak Bakso

Perjalanan Bang Dani menuju gerobak bakso tidak dimulai dari kehidupan yang mudah. Ia pernah menghabiskan sekitar 12 tahun di JakartaDi sana, pekerjaannya berganti-ganti. Pernah menjadi tenaga cleaning service di PPD. Pernah menjadi satpam di Pelabuhan Tanjung Priok. Pernah pula menjadi satpam proyek. Ia merasakan bagaimana hidup sebagai perantau. Bekerja di kota besar, mencari penghasilan, bertahan dengan apa yang ada. Namun pekerjaan tidak selalu berjalan seperti yang kita rencanakan. Ketika terjadi demonstrasi besar-besaran kala itu di Jakarta, pekerjaannya sebagai satpam harus berakhir.

Mungkin bagi sebagian orang, kehilangan pekerjaan hanya berarti kehilangan sumber pendapatan. Tetapi bagi seseorang yang mempunyai keluarga, kehilangan pekerjaan berarti munculnya banyak pertanyaan sekaligus. Besok makan apa? Dari mana biaya sekolah? Bagaimana membayar kebutuhan rumah? Dan pertanyaan yang paling berat: setelah ini saya harus melakukan apa? Bang Dani tidak mempunyai jawaban yang mudah. Tetapi ia mempunyai satu hal yang sering kali jauh lebih penting daripada jawaban: kemauan untuk mencoba.

Ia menikah pada tahun 2000 dengan seorang perempuan dari Malang. Dari pernikahan itu lahir seorang anak laki-laki. Namun kehidupan rumah tangga mereka tidak berjalan panjang. Ketika anak mereka baru berusia sekitar satu tahun, pernikahan itu berakhir. Ekonomi menjadi salah satu persoalan yang mereka hadapi. Saya membayangkan betapa tidak mudahnya masa itu. Ada seorang anak kecil yang membutuhkan ayahnya. Ada kehidupan yang harus terus berjalan. Sementara hidup sendiri sedang tidak berada pada keadaan yang ramah.

Bang Dani kemudian mencoba berjualan bakso di Malang. Tetapi usaha itu gagal. Lagi-lagi, ia harus menerima kenyataan bahwa tidak semua yang dimulai akan berhasil. Dan lagi-lagi, ia harus mencari jalan lain. Ia akhirnya kembali ke kampung halaman. Di sanalah ia mulai merintis kembali usaha bakso keliling. Bukan dengan sesuatu yang besar. Bukan dengan toko megah.Bukan dengan modal berlimpah. Hanya dengan kemampuan yang bisa ia kerjakan dan kemauan untuk terus bekerja. Dari situlah perjalanan 25 tahun sebagai penjual bakso keliling dimulai.


Gerobak yang Menjadi Sekolah

Hari ini Bang Dani memiliki enam anak dari istrinya yang sekarang. Anak-anaknya terdiri dari empat perempuan dan dua laki-laki. Usia mereka beragam. Ada yang masih duduk di kelas 6, kelas 4, dan kelas 1. Ada pula yang menempuh pendidikan dengan mondok di Pesantren. Bagi Bang Dani, sekolah bukan sekadar tempat anak memperoleh ijazah. Pendidikan adalah bagian dari ikhtiarnya membentuk masa depan anak.Itulah sebabnya ia memiliki keinginan kuat agar anak-anaknya mondok, belajar agama, dan menjaga akhlak.

 Ketika saya mendengar cerita itu, saya terdiam sejenak. Sebab kita sering mengukur keberhasilan orang tua dengan sesuatu yang mudah terlihat. Rumah yang bagus. Kendaraan yang baik. Tabungan yang banyak. Pekerjaan yang mapan. Tetapi bagi Bang Dani, mungkin ukuran keberhasilan itu jauh lebih sederhana: anak-anaknya sekolah, mengenal agama, memiliki akhlak, dan mampu menjaga dirinya ketika kelak tidak lagi berada di bawah pengawasannya.

Ia tidak ingin anak-anaknya hanya pintar mencari uang. Ia ingin mereka juga tahu bagaimana menjaga diri. Bagaimana membedakan yang benar dan salah. Bagaimana membawa diri ketika suatu hari mereka hidup jauh dari orang tua. Karena itu, setiap hari ia mendorong gerobaknya. Satu putaran demi satu putaran. Satu mangkuk demi satu mangkuk. Satu rupiah demi satu rupiah. Dan mungkin tanpa disadarinya, selama 25 tahun itu gerobak bakso telah menjadi semacam sekolah kehidupan bagi keluarganya.

Dari gerobak itulah anak-anak belajar bahwa mencari nafkah membutuhkan kesabaran. Dari ayah mereka, mereka belajar bahwa pekerjaan tidak perlu terlihat hebat untuk menjadi mulia. Dari perjalanan ayahnya, mereka belajar bahwa kegagalan bukan alasan untuk berhenti.


Saya Tidak Berani Berutang

Ada satu bagian dari cerita Bang Dani yang menurut saya sederhana, tetapi justru sangat kuat. Ia mengatakan bahwa dirinya tidak berani berutangKalimat itu mungkin terdengar biasa. Tetapi di baliknya ada cara hidup. Ketika ingin sesuatu, ia memilih menundanya. Kalau belum mampu, ya belum. Kalau belum ada uang, tidak perlu dipaksakan. Bagi sebagian orang, menunda keinginan mungkin terasa menyakitkan.

Kita hidup di zaman ketika banyak hal bisa didapat sekarang dan dibayar kemudian. Tetapi Bang Dani memilih jalan yang berbeda. Ia lebih nyaman hidup sesuai kemampuan. Tidak memaksakan diri. Tidak mengambil utang untuk memenuhi keinginan. Ia memilih memikirkan kebutuhan anak-anaknya lebih dahulu. Mungkin ia sendiri harus menunda banyak keinginan. Mungkin ada barang yang ingin dibeli tetapi tidak jadi. Mungkin ada kenyamanan yang sebenarnya ingin dinikmati, tetapi kembali disimpan untuk kebutuhan keluarga.

Namun ia tampaknya sudah berdamai dengan pilihan itu. Karena ada sesuatu yang baginya lebih penting daripada memenuhi keinginan pribadi: pendidikan anak-anaknya. Saya kira, di situlah letak kekuatan orang-orang biasa. Mereka tidak selalu memiliki banyak pilihan. Tetapi mereka tahu mana yang harus diprioritaskan.


Ada Masa Ketika Hidup Tidak Menjanjikan Apa-Apa

Kalau kita melihat Bang Dani hari ini, mungkin kita hanya akan melihat seorang penjual bakso keliling. Gerobak. Panci. Kuah panas. Bakso. Mie. Saus. Sambal. Kemudian suara orang memanggil dari rumah ke rumah. Kita mungkin tidak akan pernah tahu bahwa di balik itu ada perjalanan panjang seorang manusia yang pernah bekerja di Jakarta, kehilangan pekerjaan, mengalami kegagalan usaha, mengalami perceraian, kemudian pulang dan memulai lagi.

Kita juga mungkin tidak tahu bahwa selama 25 tahun ia menjalani pekerjaan yang sama. Dan kita sering lupa: bertahan selama 25 tahun juga merupakan sebuah keberhasilan. Tidak semua keberhasilan datang dalam bentuk kenaikan jabatan. Tidak semua kemenangan diumumkan. Tidak semua perjuangan memiliki foto saat garis finis. Ada perjuangan yang hanya diketahui oleh orang yang menjalaninya. 

Seperti Bang Dani. Pagi memasak. Siang berkeliling. Sore masih berkeliling. Malam baru pulang. Besok diulang lagi. Tidak ada tepuk tangan.Tidak ada panggung. Tidak ada orang yang memberikan penghargaan karena ia berhasil bertahan. Tetapi mungkin setiap kali seorang anaknya berangkat sekolah, setiap kali seorang anaknya berangkat mondok, setiap kali mereka membaca Al-Qur'an, setiap kali mereka pulang membawa kabar baik, di situlah sebenarnya penghargaan untuk perjuangannya.


“Ada Saja Jalan Rezeki”

Saya tertarik dengan cara Bang Dani memandang hidup. Ia memilih pasrah kepada Allah, tetapi kepasrahan itu bukan berarti diam. Ia tetap memasak. Tetap berdagang. Tetap berkeliling. Tetap berusaha. Ia percaya bahwa akan selalu ada jalan rezeki. Kalimat seperti ini kadang mudah diucapkan ketika keadaan sedang baik. “Pasrah saja kepada Allah.” Tetapi mengucapkannya ketika kehidupan sedang sulit adalah perkara berbeda. Bang Dani tidak menggunakan kepasrahan sebagai alasan untuk berhenti. Ia justru menjadikannya tenaga untuk terus berjalan. Seolah-olah ia berkata kepada dirinya sendiri: Saya sudah melakukan bagian saya. Selebihnya saya serahkan kepada Allah.

Barangkali inilah bentuk tawakal yang paling sederhana: tangan tetap bekerja, hati tetap percaya. Ia tidak tahu berapa banyak bakso yang akan terjual hari itu. Ia tidak tahu berapa banyak uang yang akan dibawa pulang. Ia tidak tahu jalan hidup anak-anaknya kelak. Tetapi ia tahu apa yang harus dilakukan hari ini. Dan terkadang, hidup memang sesederhana itu. Kita terlalu sibuk memikirkan masa depan sampai lupa bahwa masa depan dibangun dari apa yang kita kerjakan hari ini. 

Yang Ia Kejar Bukan Sekadar Penghasilan

Ada sesuatu yang membuat kisah Bang Dani terasa berbeda bagi saya. Ia tidak terlalu banyak bicara tentang dirinya sendiri. Ia lebih banyak berbicara tentang anak. Tentang sekolah. Tentang mondok. Tentang agama. Tentang bagaimana anak-anaknya kelak bisa menjaga diri. Seolah-olah seluruh perjalanan hidupnya perlahan mengerucut pada satu tujuan: anak-anaknya harus mempunyai kehidupan yang lebih baik.

Bukankah itu juga yang menjadi alasan banyak orang tua tetap bekerja meski tubuh sudah meminta istirahat? Mereka mungkin mengeluh. Mungkin pernah merasa bosan. Mungkin pernah bertanya, “Sampai kapan saya harus seperti ini?” Mungkin pernah melihat orang lain hidup lebih nyaman lalu merasa iri. Mungkin pernah merasa hidup tidak adil. Dan saya kira Bang Dani pun manusia. Ia tentu pernah lelah. Ia tentu pernah mengalami hari ketika dagangan tidak sesuai harapan. Ia tentu pernah merasakan beratnya perjalanan. Tetapi ia tidak membiarkan rasa lelah menentukan keputusan akhirnya. Ia istirahat. Lalu berangkat lagi. Sebab di rumah ada anak-anak yang menunggu. Ada kebutuhan yang harus dipenuhi. Ada cita-cita yang harus dijaga. 


Mimpi Tidak Selalu Berbentuk Besar

Kita sering berbicara tentang mimpi dengan cara yang terlalu megah. Mimpi menjadi pejabat. Mimpi memiliki perusahaan besar. Mimpi membeli rumah mewah. Mimpi menjadi orang terkenal. Mimpi mencapai sesuatu yang bisa membuat orang lain berkata, “Hebat sekali.” Tetapi Bang Dani mengajarkan bentuk mimpi yang berbeda. Mimpi bisa berbentuk anak yang terus sekolah. Mimpi bisa berbentuk anak yang mampu mondok. Mimpi bisa berbentuk keluarga yang tetap makan setiap hari. Mimpi bisa berbentuk anak yang tumbuh menjadi manusia baik. Dan untuk mewujudkan mimpi itu, seseorang tidak selalu membutuhkan sesuatu yang luar biasa. Kadang hanya dibutuhkan kesediaan untuk melakukan pekerjaan sederhana berulang kaliSelama 25 tahun.

Di sinilah saya menemukan makna dari judul buku ini: orang-orang biasa yang menolak menyerah. Bang Dani bukan orang yang hidupnya tanpa masalah. Justru sebaliknya. Ia pernah gagal. Pernah kehilangan pekerjaan. Pernah mengalami rumah tangga yang kandas. Pernah mencoba usaha yang tidak berhasil. Tetapi setiap kali hidup mendorongnya ke belakang, ia mencari cara untuk melangkah lagi. Mungkin bukan langkah yang besar. Tetapi tetap melangkah.


Kepada Siapa Kita Sebenarnya Sedang Berjuang?

Pertanyaan ini barangkali layak kita ajukan kepada diri sendiri.  Ketika hidup terasa berat, tanyakan: Untuk siapa saya bertahan? Bukan untuk mencari jawaban yang indah. Jawablah dengan jujur. Mungkin untuk orang tua. Mungkin untuk pasangan. Mungkin untuk anak. Mungkin untuk saudara. Mungkin untuk diri sendiri yang masih ingin melihat hidup menjadi lebih baik.

Sebab sering kali manusia mampu menanggung beban yang terasa mustahil ketika ia tahu untuk siapa beban itu dipikul. Bang Dani menemukan kekuatannya pada anak-anak. Ketika ia mendorong gerobak, ia tidak hanya mendorong sebuah kendaraan dagang. Ia sedang mendorong harapan.

Ketika ia bangun setelah Subuh dan mulai memasak, ia sedang menyiapkan masa depan. Ketika ia berkeliling hingga malam, ia sedang membayar sedikit demi sedikit biaya sekolah dan mondok anak-anaknya. Dan ketika ia menunda keinginannya sendiri, ia sedang memilih masa depan keluarganya. Itulah cinta dalam bentuk yang paling sederhana. Bukan selalu dalam bentuk kata-kata. Bukan selalu dalam bentuk pelukan. Kadang cinta adalah bangun ketika masih gelap, bekerja ketika badan lelah, dan pulang ketika hari hampir selesai.


Jika Hari Ini Anda Sedang Lelah

Mungkin ada pembaca yang sedang berada dalam posisi seperti Bang Dani. Anda sedang berjuang. Usaha belum berhasil. Pekerjaan tidak sesuai harapan. Penghasilan terasa selalu kurang. Ada cicilan. Ada biaya sekolah. Ada orang tua yang harus dirawat. Ada anak yang ingin kuliah. Ada mimpi yang terasa terlalu jauh. Dan mungkin beberapa kali Anda bertanya: “Sampai kapan saya harus bertahan?”

Saya tidak ingin menjawab dengan kalimat motivasi yang terlalu mudah. Saya hanya ingin mengajak Anda melihat kembali perjalanan Bang Dani. Ia tidak menyelesaikan seluruh hidupnya dalam satu hari. Ia menjalani hari iniBesok ia menjalani besok. Lalu hari berikutnya. Begitu terus sampai 25 tahun.

Mungkin itulah rahasia ketahanan yang sering tidak kita sadari. Orang yang kuat bukan selalu orang yang tidak pernah lelah. Orang yang kuat adalah orang yang tetap tahu ke mana ia harus pulang setelah lelah. Bang Dani pulang kepada keluarganya. Pulang kepada istri dan anak-anaknya. Pulang kepada keyakinannya kepada Allah. Dan dari sanalah ia memperoleh tenaga untuk berangkat lagi.


Dua Puluh Lima Tahun Tidak Terjadi Sekaligus

Saya membayangkan suatu hari nanti, ketika anak-anak Bang Dani sudah dewasa. Mungkin mereka akan mengingat ayahnya bukan karena memiliki sesuatu yang mewah. Mereka mungkin justru akan mengingat suara gerobak. Suara roda yang bergerak. Aroma kuah bakso yang mengepul. Ayah yang pergi berdagang setelah memasak sejak pagi. Ayah yang pulang ketika malam sudah cukup larut. Ayah yang mungkin tidak banyak bicara, tetapi selalu bekerja.

Dan mungkin suatu hari, salah satu dari mereka akan memahami: “Ternyata selama ini Ayah bukan hanya berjualan bakso. Ayah sedang memperjuangkan kami.” Kalimat itu, jika benar-benar dipahami oleh seorang anak, mungkin jauh lebih mahal daripada penghargaan apa pun. Sebab ada orang tua yang tidak mampu mewariskan kekayaan. Tetapi mereka mewariskan sesuatu yang jauh lebih panjang umurnya: keteladanan. Tentang kerja keras. Tentang kesabaran. Tentang hidup sesuai kemampuan. Tentang tidak mudah berutang. Tentang mendahulukan kebutuhan. Tentang pendidikan. Tentang agama. Tentang tawakal. Dan tentang satu hal yang mungkin paling penting: jangan menyerah hanya karena hidup tidak berjalan sesuai rencana.


Mimpi yang Tetap Menyala

Dua puluh lima tahun adalah waktu yang panjang. Cukup panjang untuk membuat seseorang bosan. Cukup panjang untuk membuat seseorang ingin berhenti. Cukup panjang untuk membuat seseorang bertanya apakah perjuangannya akan menghasilkan sesuatu. Tetapi Bang Dani tetap mendorong gerobaknya. Hari ini. Besok. Lusa. Bukan karena hidup selalu mudah. Tetapi karena ada enam anak yang membuatnya memiliki alasan untuk terus berjalan. 

Saya tidak tahu akan seperti apa masa depan anak-anak Bang Dani. Saya tidak tahu siapa yang kelak menjadi apa. Saya juga tidak tahu apakah semua harapan orang tua selalu terwujud persis seperti yang diinginkan. Tetapi saya percaya satu hal: anak-anak yang tumbuh melihat orang tuanya berjuang tidak akan pernah benar-benar miskin teladan. Mereka telah melihat sendiri bahwa kehidupan harus dijalani dengan ikhtiar. Bahwa mimpi tidak selalu dicapai dengan jalan yang cepat. Bahwa kegagalan bukan akhir. Bahwa rezeki tidak selalu datang dari jalan yang kita bayangkan.

Dan bahwa terkadang, untuk menjaga sebuah mimpi tetap hidup, seseorang hanya perlu melakukan pekerjaan kecil dengan setia—hari demi hari. Bang Dani mungkin hanya seorang penjual bakso keliling. Tidak banyak orang mengenalnya. Tidak ada panggung yang menunggunya. Tidak ada kamera yang selalu mengikuti langkahnya. Tetapi selama 25 tahun, ia telah melakukan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar menjual makanan. Ia menjaga keluarganya. Ia menjaga pendidikan anak-anaknya. Ia menjaga harapan. Dan setiap pagi, setelah salat Subuh, ketika tangan mulai menyiapkan bahan dagangan, sesungguhnya ada satu pesan yang seperti sedang ia sampaikan kepada kehidupan: “Saya mungkin tidak punya banyak. Tetapi selama saya masih bisa bekerja, saya belum selesai.”

Barangkali begitulah mimpi yang menolak padam. Ia tidak selalu menyala seperti api besar. Kadang ia hanya seperti bara kecil di dalam dada. Nyaris tak terlihat. Tetapi selama seseorang masih mau menjaganya, bara itu tidak pernah benar-benar mati. Dan mungkin, seperti Bang Dani, kita tidak perlu menjadi orang luar biasa untuk menjaga mimpi tetap hidup. Kita hanya perlu mencintai sesuatu dengan cukup dalam, lalu berani memperjuangkannya—satu hari, satu langkah, satu ikhtiar pada satu waktu.

Essay 21. Dimas Menemukan Makna di Balik Cita-Cita yang Tak Kesampaian

Siang itu tempat cucian mobil yang biasa saya datangi tidak terlalu ramai. Beberapa kendaraan terparkir di halaman. Suara semprotan air sesekali terdengar memecah udara. Bau sabun bercampur dengan aroma tanah basah dan sisa panas aspal. Di antara lima atau tujuh orang petugas yang sedang bekerja, ada seorang anak muda yang tampak paling sibuk.

Ketika kendaraan saya berhenti, ia segera menghampiri. Tangannya mengambil kunci dari tangan saya. Dengan cekatan ia membawa kendaraan menuju tempat pencucian. Tidak banyak bicara. Tidak banyak gaya. Ia hanya bekerja. Saya memperhatikannya beberapa saat. Ada sesuatu dari cara dia bekerja yang membuat saya ingin mengenalnya lebih jauh.

Namanya Dimas. Usianya 32 tahun. Sudah berkeluarga. Ia memiliki dua anak. Yang pertama duduk di kelas 6 SD, sementara adiknya masih PAUD. Sekilas, tidak ada yang istimewa dari seorang Dimas.  Ia bukan pejabat. Bukan pengusaha besar. Bukan orang yang sering muncul di media. Ia juga bukan seseorang yang sedang mengejar panggung untuk menunjukkan keberhasilannya kepada dunia.

Ia hanya seorang pekerja di tempat cucian mobil. Tetapi seperti banyak orang yang saya temui dalam perjalanan menulis buku ini, saya kembali diingatkan bahwa kehidupan seseorang tidak pernah bisa diukur hanya dari pekerjaan yang terlihat oleh mata. Di balik tangan yang sibuk memoles kendaraan, ada cerita tentang cita-cita.

Ada kegagalan. Ada keluarga. Ada keputusan untuk pulang. Ada usaha yang pernah dicoba dan gagal. Dan ada sebuah pertanyaan yang mungkin pernah menghampiri banyak di antara kita: Kalau cita-cita kita tidak tercapai, lalu apa arti hidup kita?

Kehidupan tidak berjalan lurus

Dimas pernah memiliki cita-cita yang sederhana, tetapi besar bagi seorang anak muda. Ia ingin menjadi polisi. Atau tentara. Ia membayangkan dirinya mengenakan seragam. Berdiri tegap. Mengabdi. Membuat orang tua bangga. Tetapi kehidupan ternyata mempunyai jalan sendiri. Cita-cita itu tidak kesampaian. "Saya gagal dalam cita-cita,” katanya. Kalimat itu terdengar sederhana.

Tetapi saya membayangkan tidak mudah bagi seseorang mengatakan kalimat tersebut dengan jujur. Sebab kita hidup dalam lingkungan yang sering mengajarkan bahwa keberhasilan adalah ketika kita mendapatkan apa yang sejak kecil kita impikan. Kalau ingin menjadi dokter, lalu menjadi dokter. Kalau ingin menjadi polisi, lalu menjadi polisi. Kalau ingin menjadi pengusaha, lalu memiliki usaha. Kita sering menganggap perjalanan hidup baru berhasil kalau sampai pada tujuan yang sudah kita tentukan sejak awal. 

Padahal kehidupan tidak selalu berjalan lurus. Kadang kita sudah belajar. Sudah berusaha. Sudah berharap. Sudah membayangkan masa depan. Namun pintu yang kita inginkan tetap tertutup. Dan ketika pintu itu tertutup, kita merasa seolah-olah kehidupan juga ikut berakhir. Dimas mengalami itu. Tetapi ia tidak berhenti.

Setelah lulus dari SMK swasta jurusan multimedia, kehidupan membawanya ke Jakarta. Di kota yang besar itu, ia bekerja selama tujuh tahun di perusahaan otomotif. Ia bekerja di bagian pengecatan dan poles. Tujuh tahun bukan waktu yang pendek. Ada rutinitas yang dijalani berulang-ulang. Ada hari-hari ketika pekerjaan terasa berat. Ada hari ketika mungkin tubuh ingin berhenti, tetapi kebutuhan membuat seseorang tetap berjalan. 

Kemudian datang pandemi Covid-19. Banyak hal berubah. Dunia yang sebelumnya bergerak cepat tiba-tiba seperti direm mendadak. Pekerjaan berubah. Penghasilan berubah. Rencana berubah. 

Dimas akhirnya memilih resign dan pulang kampung. Ia membawa pesangon. Tidak banyak yang bisa ia lakukan dengan uang itu. Tetapi ia bersyukur. Pesangon tersebut digunakan untuk membangun rumah. Rumah sederhana. Tidak mewah. Tidak seperti rumah yang mungkin dulu ia bayangkan ketika masih bekerja di Jakarta.

Namun rumah itu adalah hasil dari tahun-tahun yang pernah ia lewati. Di sanalah ia kembali. Di sanalah keluarganya tinggal. Dan mungkin, di sanalah ia mulai memahami bahwa hidup tidak harus selalu bergerak menuju tempat yang pernah kita impikan. Kadang kita harus pulang. Bukan karena kalah. Tetapi karena hidup meminta kita menemukan makna di tempat yang berbeda. 

Sesampainya di kampung, Dimas tidak langsung mendapatkan pekerjaan yang mapan. Ia mencoba berdagang. Bersama modal dari kakaknya, ia mencoba menjual pakaian serba Rp35 ribu. Ada harapan di sana. Mungkin usaha itu bisa berkembang. Mungkin bisa menjadi sumber penghasilan keluarga. Mungkin ini jalan yang baru. Tetapi ternyata tidak semua usaha yang kita mulai akan bertahan. Enam sampai tujuh bulan kemudian, usahanya berhenti. Barang habis. Modal juga habis. Tidak ada kisah sukses seperti yang sering kita lihat di media sosial. Tidak ada grafik yang naik.Tidak ada foto dengan tulisan “akhirnya berhasil”. Yang ada hanyalah kenyataan bahwa usaha yang dicoba dengan harapan ternyata tidak berjalan sesuai rencana. Bagi sebagian orang, kegagalan seperti itu bisa membuat hati patah. Saya kira Dimas juga merasakannya. Tidak ada manusia yang benar-benar kebal terhadap kegagalan. Ada kecewa. Ada malu. Ada pertanyaan dalam diri:  Setelah ini saya harus bagaimana? Apalagi ketika di rumah ada istri dan dua anak yang membutuhkan biaya.

Kegagalan bukan lagi sekadar persoalan pribadi. Ada keluarga yang ikut menunggu jawaban. Tetapi justru di titik itulah Dimas menemukan jalan berikutnya. Pada tahun 2020, ia bergabung di tempat cucian mobil yang saya kunjungi itu. Ia bekerja sebagai tukang poles. Dan sampai sekarang ia masih berada di sana. Empat tahun, lima tahun, dan hari-hari terus berjalan. Pekerjaan yang mungkin bagi sebagian orang terlihat biasa saja. Namun bagi Dimas, pekerjaan itu menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.

Yang menarik bagi saya bukan hanya bagaimana Dimas bertahan.  Tetapi bagaimana ia memandang pekerjaannya. Ia tidak mengatakan, “Saya cuma tukang poles.” Ia tidak sibuk membandingkan pekerjaannya dengan cita-cita masa lalu. Ia justru memilih untuk menekuni pekerjaan yang ada di hadapannya.  Menikmatinya. Mengerjakannya dengan sungguh-sungguh. Seolah-olah ada sebuah kesadaran sederhana: Kalau inilah pekerjaan yang dipercayakan kepada saya hari ini, maka saya akan mengerjakannya sebaik mungkin. 

Sore hingga malam, Dimas masih mencari tambahan penghasilan dengan menjadi pengemudi ojek online. Ia tidak menunggu satu pintu terbuka. Ketika pintu pertama tidak cukup, ia mencari pintu lain. Ketika penghasilan dari pekerjaan utama belum mencukupi, ia mencari tambahan. Bukan karena ia tidak punya mimpi. Justru karena ia memiliki sesuatu yang lebih besar daripada mimpi pribadinya: keluarga. Dua anak yang harus tumbuh. Kebutuhan rumah yang harus dipenuhi. Rumah yang ingin direnovasi. Dan kehidupan yang harus terus berjalan.

Ketika saya bertanya apakah ia masih ingin sekolah lagi, jawabannya sederhana. “Pingin.” Ada keinginan itu. Tetapi untuk saat ini ia memilih fokus kepada anak-anak dan rumah. Saya terdiam tendengar jawabannya. Sebab di situlah saya melihat sesuatu yang sering luput dari perhatian kita. Tidak semua mimpi harus dikejar sekarang. Ada mimpi yang harus ditunda. Bukan dibuang. Ditunda. Ada masa ketika seseorang harus mengejar pendidikan. Ada masa ketika seseorang harus mengejar pekerjaan. Ada masa ketika seseorang harus membesarkan anak. Ada masa ketika seseorang harus membangun rumah. Dan ada masa ketika seseorang harus menerima bahwa prioritas hidup telah berubah.

Menunda mimpi bukan berarti menyerah.

Kadang menunda adalah bentuk kedewasaan. Kita belajar membedakan antara apa yang kita inginkan dan apa yang saat ini paling dibutuhkan oleh orang-orang yang kita cintai. Dimas mungkin tidak menjadi polisi. Ia mungkin tidak menjadi tentara. Tetapi apakah itu berarti hidupnya gagal?

Saya rasa tidak. Sebab manusia terlalu besar untuk diukur hanya dari satu cita-cita yang berhasil atau tidak berhasil dicapai. 

Saya melihat kembali tangan Dimas ketika ia bekerja. Tangan yang mungkin tidak mengenakan sarung tangan seorang polisi. Tidak memegang senjata. Tidak memberi hormat dalam sebuah upacara.  Tangannya memegang alat poles. Bergerak menggosok permukaan kendaraan. Berulang. Tekun. Diam. Tetapi tangan itu juga sedang melakukan sesuatu yang jauh lebih dalam. Ia sedang membantu membayar kebutuhan keluarganya. Ia sedang menghidupi dua anaknya. Ia sedang mempertahankan rumah tangganya. Ia sedang membangun masa depan yang mungkin bentuknya tidak seperti cita-citanya dahulu.

Di sinilah saya mulai memahami bahwa makna tidak selalu ditemukan di tempat yang kita impikan. Makna sering kali muncul dari cara kita menjalani tempat di mana kita berada. 

Kita hidup pada zaman yang sangat mudah membuat seseorang merasa tertinggal. Buka media sosial, kita melihat teman sudah menjadi sarjana. Orang lain sudah punya bisnis. Ada yang membeli rumah. Ada yang mendapatkan pekerjaan impian. Ada yang pergi ke luar negeri. Ada yang memakai seragam yang dulu kita impikan. Sementara kita mungkin masih bekerja di tempat yang sama. Masih mengerjakan pekerjaan yang sama. Masih menghitung uang sebelum membayar kebutuhan. Masih mencoba memperbaiki rumah. Masih memikirkan biaya sekolah anak. Akhirnya kita mulai bertanya: Apakah hidup saya gagal? Pertanyaan seperti itu berbahaya jika dibiarkan terlalu lama. Sebab kita mulai menilai kehidupan sendiri menggunakan ukuran kehidupan orang lain. Padahal kita tidak pernah tahu harga yang mereka bayar. Dan mereka juga tidak tahu perjuangan yang kita jalani. Dimas mengajarkan kepada saya sebuah hal penting: Hidup tidak selalu meminta kita menjadi orang yang kita cita-citakan ketika kecil. Kadang hidup meminta kita menjadi orang yang dibutuhkan keluarga kita hari ini. 

Ada pekerjaan yang tidak masuk dalam daftar cita-cita anak-anak. Tidak ada anak kecil yang berkata: "Saya ingin menjadi tukang poles mobil.” Tetapi ketika dewasa, kehidupan mengajarkan sesuatu yang berbeda. Kita bekerja bukan hanya untuk mendapatkan gelar pekerjaan. Kita bekerja untuk makan. Untuk membayar listrik. Untuk membeli buku sekolah anak. Untuk membantu orang tua. Untuk membangun rumah. Untuk menjaga keluarga tetap berdiri. Dan semua itu adalah pekerjaan yang bermartabat. Tidak ada pekerjaan halal yang terlalu kecil untuk dihargai.

Yang membuat sebuah pekerjaan bernilai bukan semata-mata nama profesinya. Tetapi niat, tanggung jawab, kejujuran, dan kesungguhan orang yang menjalankannya. Dimas mungkin tidak mendapatkan seragam yang dulu ia impikan. Tetapi setiap hari ia mengenakan seragam kerjanya sendiri. Ia datang. Ia bekerja. Ia pulang. Besok datang lagi. Dan begitu seterusnya. Mungkin tidak ada tepuk tangan. Tidak ada kamera. Tidak ada orang yang menulis berita tentangnya. Namun bukankah banyak kehidupan memang dibangun seperti itu? Diam-diam. Hari demi hari. Sedikit demi sedikit. 

Ada satu hal lagi yang saya pelajari dari Dimas: menikmati pekerjaan bukan berarti pekerjaan itu selalu mudah. Menikmati bukan berarti tidak pernah lelah. Bukan berarti tidak pernah bosan. Bukan berarti tidak pernah kecewa. Menikmati berarti kita memilih untuk  memberikan hati pada apa yang sedang kita kerjakan. Ketika seseorang berhenti terus-menerus membandingkan pekerjaannya dengan pekerjaan yang ia impikan tetapi belum tercapai, ia mulai bisa melihat nilai dari pekerjaan yang ada di tangannya.

Dimas memilih menekuni. Dan dari ketekunan itu, ia menemukan penghasilan. Menemukan pengalaman.Menemukan lingkungan. Dan mungkin yang paling penting, menemukan rasa cukup. Bukan berarti berhenti bermimpi. Tetapi tidak membiarkan mimpi yang belum tercapai merampas rasa syukur atas kehidupan yang sedang dijalani.

Saya tidak tahu apakah suatu hari Dimas akan kembali mengejar pendidikan. Saya tidak tahu apakah ia akan merenovasi rumahnya sesuai keinginannya. Saya juga tidak tahu ke mana perjalanan hidupnya akan membawanya sepuluh tahun lagi. Tetapi saya tahu satu hal. Hari itu, ketika saya meninggalkan tempat cucian mobil, Dimas masih bekerja. Ia masih memoles kendaraan orang lain. Sementara mungkin, tanpa ia sadari, ia juga sedang memoles hidupnya sendiri. Sedikit demi sedikit. Hari demi hari.Tidak cepat. Tetapi terus bergerak. Dan mungkin itulah makna yang sebenarnya.

Kita terlalu sering mencari makna hidup di tempat-tempat yang besar. Padahal makna bisa ditemukan dalam hal yang sangat sederhana:  pada seorang ayah yang berangkat bekerja sebelum anak-anaknya bangun; pada  seorang ibu yang memasak meskipun tubuhnya lelah; pada  seseorang yang tetap membuka warung meskipun pembelinya sedikit; pada tukang poles yang bekerja dengan sungguh-sungguh karena tahu ada dua anak yang menunggunya di rumah.Makna tidak selalu datang dalam bentuk keberhasilan besar. Kadang ia hadir sebagai alasan sederhana untuk bangun besok pagi. 

Jika hari ini cita-cita Anda belum tercapai, jangan buru-buru menyebut diri Anda gagal. Jika pekerjaan Anda belum seperti yang Anda inginkan, jangan buru-buru merasa tidak berharga. Jika hidup membawa Anda ke jalan yang tidak pernah Anda rencanakan, berhentilah sejenak. Tarik nafas. Lihat apa yang masih ada di hadapan Anda. Mungkin ada keluarga yang membutuhkan Anda. Mungkin ada pekerjaan yang masih bisa Anda kerjakan dengan baik. Mungkin ada orang yang bisa Anda bantu. Mungkin ada kesempatan kecil yang belum Anda lihat karena terlalu sibuk meratapi pintu besar yang tertutup. 

Dimas mengingatkan saya bahwa hidup bukan hanya tentang menjadi siapa yang dulu kita impikan. Hidup juga tentang menjadi seseorang yang berguna dari tempat kita berdiri sekarang. Karena terkadang, cita-cita yang tidak tercapai bukanlah akhir dari perjalanan. Ia hanya mengubah arah. Dan di jalan yang baru itu, kita mungkin menemukan sesuatu yang jauh lebih penting: bukan sekadar pekerjaan, bukan sekadar penghasilan, melainkan  makna.

Maka, jika hari ini hidup sedang membawa Anda ke tempat yang tidak pernah Anda bayangkan, jangan buru-buru menyerah. Kerjakan apa yang ada di tangan.Tekuni. Nikmati.Jalani dengan jujur. Rawat orang-orang yang Anda cintai. Dan teruslah melangkah.Sebab bisa jadi, suatu hari nanti, ketika Anda menoleh ke belakang, Anda akan menyadari: ternyata hidup tidak sedang menggagalkan mimpi saya. Hidup hanya sedang mengajari saya bahwa makna tidak selalu berada di tempat yang pertama kali saya tuju.

Essay 16. Pak Mitro dan Harga Sebuah Keringat sejak Pagi Buta

Tukang panggul adalah pekerjaan yang 
jarang dipuji, bagi orang-orang hebat yang menolak menyerah.

Pagi itu saya datang ke Pasar Tumenggungan ketika matahari belum benar-benar naik. Udara masih menyisakan dingin. Jalanan mulai ramai oleh suara sepeda motor, pedagang yang membuka lapak, roda gerobak yang didorong tergesa-gesa, dan sesekali teriakan orang yang menawarkan dagangannya. Bau sayuran basah bercampur dengan aroma ayam, tanah, plastik, dan masakan dari warung-warung kecil yang baru mulai menyiapkan sarapan. Di tengah kesibukan itu, saya melihat seorang lelaki tua. Ia berdiri dengan tubuh yang tampak lelah. Keringat sudah membasahi wajahnya, padahal matahari baru saja muncul. Bajunya sederhana. Tubuhnya tidak lagi muda, tetapi ada sesuatu dari caranya berdiri yang membuat saya berhenti memperhatikannya.

Ia seperti seseorang yang sudah sangat akrab dengan rasa lelah. Saya mendekat. Namanya Pak Mitro. Usianya 63 tahun. Ia kelahiran Kutoarjo. Dan, dari semua hal yang kemudian ia ceritakan kepada saya pagi itu, ada satu hal yang membuat saya cukup lama terdiam:Pak Mitro sudah hidup di pasar sejak masih kecil. Sebatang kara. Bukan sebagai pedagang. Bukan sebagai pemilik kios. Bukan sebagai orang yang datang untuk berbelanja.Ia hidup di sana karena memang tidak punya tempat lain untuk pulang.


Sejak Kecil, Pasar Menjadi Rumah

Sekitar tahun 1974, ketika anak-anak seusianya mungkin masih bermain, bersekolah, atau pulang ke rumah menunggu makanan dari orang tua, Pak Mitro sudah mengenal kehidupan yang berbeda. Sejak SD, ia hidup menggelandang di pasar. Pasar menjadi tempat ia bertahan hidup. Los pasar menjadi tempat beristirahat. Emperan menjadi tempat berlindung. Keramaian menjadi teman. Pedagang menjadi orang-orang yang sedikit banyak ikut menyaksikan perjalanan hidupnya.

Pernah suatu ketika hidup membawanya sampai ke Jakarta. Ia mencoba peruntungan di sana. Namun tidak sampai setahun, ia kembali. Entah karena kota itu terlalu keras, pekerjaan tidak sesuai harapan, atau memang hatinya masih tertambat pada tempat yang sudah dikenalnya sejak kecil. Yang jelas, ia kembali ke pasar. Dan sejak saat itu, pasar seperti menjadi alamat hidupnya.

Memasuki tahun 1980-an, Pak Mitro mulai bekerja sebagai tukang panggul. Pekerjaannya sederhana. Mengangkat barang.  Memindahkan barang. Menurunkan barang dari kendaraan. Mengantar barang ke tempat pedagang. Kemudian menunggu lagi. Begitu seterusnya. Barang yang dipanggulnya bermacam-macam. Singkong. Beras. Ketela. Dan berbagai macam dagangan yang keluar-masuk pasar. Tidak ada seragam. Tidak ada meja kantor. Tidak ada ruang berpendingin udara. Tidak ada kartu nama yang bisa membuat orang langsung tahu siapa dirinya.

Yang ia punya hanyalah tenaga. Dan tenaga itu ia jual untuk mendapatkan uang agar bisa makan. Setiap hari aktivitasnya biasa dimulai sekitar pukul empat pagi. Saat kebanyakan orang masih menarik selimut, Pak Mitro sudah berada di pasar. Saat sebagian orang baru memikirkan sarapan, ia sudah berkeringat mengangkat barang. Saat sebagian orang mulai sibuk dengan pekerjaan masing-masing, ia masih menunggu kalau-kalau ada pedagang yang membutuhkan tenaganya. Kalau ada barang, ia bekerja.Kalau tidak ada barang, ia menunggu. Dan kalau tidak ada yang meminta bantuan, ia menganggur. Begitulah kehidupan seorang tukang panggul.


"Capek, Pak. Tapi Kalau Capek Berarti Ada Pendapatan."

Saya bertanya kepadanya: "Pak, tidak capek?" Ia tersenyum. "Ya pasti capek." Jawaban itu sederhana. Tidak ada heroisme di dalamnya. Tidak ada kata-kata besar. Tidak ada usaha untuk membuat dirinya terlihat kuat. Ia memang capek. Tubuhnya berusia 63 tahun. Tetapi kemudian ia mengatakan sesuatu yang menurut saya jauh lebih kuat daripada sekadar kalimat motivasi. "Tapi kalau capek berarti ada pendapatan." Saya diam. Kalimat itu sederhana, tetapi semakin saya pikirkan, semakin dalam rasanya.

Bagi Pak Mitro, lelah bukan sekadar rasa sakit di badan. Lelah adalah tanda bahwa hari itu ia masih mendapatkan kesempatan untuk bekerja. Kalau punggungnya terasa pegal, berarti ada barang yang berhasil ia angkat. Kalau bajunya basah oleh keringat, berarti ada pekerjaan yang ia lakukan.Kalau kakinya terasa berat, berarti hari itu ia masih berusaha mendapatkan uang untuk makan. Dengan cara pandang seperti itu, rasa capek berubah makna. Bukan berarti capeknya hilang. Bukan berarti hidupnya menjadi mudah. Tetapi ia menemukan alasan untuk menerima rasa lelah tersebut. 

Saya membayangkan, mungkin banyak dari kita yang sering mengeluh hanya karena pekerjaan tidak sesuai keinginan. Kita mengeluh karena harus berangkat terlalu pagi. Mengeluh karena atasan. Mengeluh karena pekerjaan menumpuk. Mengeluh karena penghasilan belum sesuai harapan. Saya tidak sedang mengatakan keluhan itu salah. Saya juga manusia. Saya pun pernah merasa malas. Pernah merasa pekerjaan terlalu berat. Pernah ingin berhenti ketika sesuatu tidak berjalan seperti yang saya harapkan.

Tetapi bertemu Pak Mitro membuat saya malu pada sebagian keluhan saya sendiri. Bukan karena masalah saya tidak penting. Melainkan karena saya sadar, ada orang yang menghadapi kehidupan jauh lebih keras, tetapi memilih tetap bangun setiap pagi.


Pasar yang Semakin Sepi

Namun perjuangan Pak Mitro hari ini tidak sama dengan puluhan tahun lalu. Pasar berubah. Cara orang berbelanja berubah. Toko-toko modern berkembang. Belanja melalui internet semakin mudah. Aktivitas jual-beli di pasar tradisional pun menurun. Menurut Pak Mitro, sekitar sepuluh tahun terakhir keadaan pasar semakin sepi. Dan bagi orang seperti dirinya, perubahan itu bukan sekadar perubahan zaman. Itu berarti semakin sedikit barang yang harus diangkat. Semakin sedikit pedagang yang membutuhkan tenaga. Semakin sedikit uang yang Ia dapatkan.

Dulu mungkin seseorang bisa bekerja berkali-kali dalam sehari. Sekarang lebih banyak waktu dihabiskan dengan menunggu. Ia masih mengangkat ayam potong. Selebihnya, kalau ada pedagang yang meminta bantuan mengangkat barang, ia bekerja. Kalau tidak ada? Menunggu. Pagi bergeser menjadi siang. Siang menjadi sore. Dan terkadang sebagian besar waktunya berlalu tanpa pekerjaan.

Saya mencoba membayangkan bagaimana rasanya. Tubuh siap bekerja. Pikiran siap bekerja. Tetapi pekerjaan tidak datang. Bagi sebagian orang, tidak bekerja sehari mungkin hanya berarti kehilangan kesempatan mendapatkan tambahan uang. Bagi Pak Mitro, tidak bekerja bisa berarti berkurangnya makanan yang bisa masuk ke perut hari itu. Pendapatannya sekarang bahkan tidak selalu cukup untuk biaya makan. Makan sederhana dengan lauk dan teh tawarpun pun kadang pas-pasan.

Dan di situlah saya semakin memahami kalimatnya:"Kalau capek berarti ada pendapatan." Karena yang ia cari bukan kemewahan. Ia hanya ingin memastikan hari itu ia masih bisa makan. Hidup yang tidak banyak memberi pilihan. Pak Mitro hidup sebatang kara. Ia tinggal di pasar. Ia tidak bercerita kepada saya tentang rumah yang nyaman, tabungan, kendaraan, atau rencana pensiun.

Barangkali kehidupan memang tidak pernah memberinya banyak pilihan. Ada orang yang sejak lahir sudah memiliki rumah untuk pulang. Ada yang ketika kehilangan pekerjaan masih memiliki keluarga yang bisa membantu. Ada yang ketika sakit bisa meminta pertolongan. Ada yang ketika penghasilan turun masih memiliki tabungan. Pak Mitro tidak memiliki banyak kemewahan itu. Ia bertahan dengan sesuatu yang jauh lebih sederhana: tenaga yang masih tersisa. Dan keberanian untuk kembali bekerja esok pagi.

Dalam kehidupan pasar, katanya, ia juga banyak mengandalkan kebaikan para pedagang. Ada pedagang yang memberinya pekerjaan. Ada yang memberinya kesempatan. Ada yang mungkin sekadar memberinya sesuatu untuk dimakan. Tetapi hidup di pasar juga mengajarkannya satu hal yang pahit: semuanya seakan memiliki harga.Termasuk penghargaan kepada seseorang. Orang yang punya uang sering lebih mudah dihormati. Orang yang tidak punya uang sering kali dipandang sebelah mata. Pak Mitro memahami itu dari pengalaman hidupnya sendiri.

Tetapi ia tidak mengubah dirinya menjadi orang yang penuh kebencian. Ia tetap menyapa. Tetap bekerja. Tetap membantu kalau ada yang membutuhkan. Barangkali karena ia sudah terlalu lama berada di bawah, sehingga ia tahu bagaimana rasanya tidak dianggap.


Pekerjaan yang Tidak Pernah Masuk Berita

Saya kemudian berpikir tentang pekerjaan-pekerjaan yang jarang kita lihat sebagai sesuatu yang hebat. Tukang panggul seperti Pak Mitro adalah salah satunya. Ketika sebuah truk datang membawa beras, kita melihat berasnya. Kita melihat harga beras. Kita melihat pedagangnya. Tetapi sering kali kita tidak melihat tangan yang membantu menurunkannya.

Kita melihat pasar sudah penuh dengan barang. Tetapi kita jarang memikirkan siapa yang mengangkat barang-barang itu sejak pagi. Kita datang, membeli, membayar, lalu pulang. Sementara ada orang yang sejak subuh sudah mengeluarkan tenaga agar aktivitas pasar tetap berjalan. Pekerjaan seperti ini jarang mendapat pujian. Tidak ada penghargaan "karyawan terbaik". Tidak ada panggung.Tidak ada foto dengan latar belakang gedung megah. Tidak ada unggahan media sosial yang mengatakan: "Hari ini saya berhasil mengangkat puluhan karung."

Padahal pekerjaan itu penting. Sangat penting. Sebab kehidupan sehari-hari dibangun bukan hanya oleh orang-orang yang pekerjaannya terlihat besar. Ia juga ditopang oleh tangan-tangan yang sering tidak kita perhatikan. Tangan tukang panggul. Tangan buruh. Tangan pedagang kecil. Tangan tukang becak. Tangan petugas kebersihan. Tangan penjaga malam. Tangan orang-orang yang bekerja ketika kita tidur.

Mereka mungkin tidak terkenal. Tetapi mereka membantu membuat kehidupan kita tetap berjalan. Ada yang lebih sulit dari mengangkat Barang. Ketika saya berbicara dengan Pak Mitro, saya merasa bahwa pekerjaan terberatnya sebenarnya bukan mengangkat barang. Bukan beras. Bukan singkong. Bukan ketela. Bukan ayam. Pekerjaan terberatnya adalah mempertahankan harga dirinya ketika keadaan tidak banyak berpihak kepadanya. Ia harus kuat secara fisik. Tetapi mungkin yang lebih penting, ia harus kuat secara mental. Sebab ketika pekerjaan semakin sedikit, godaan untuk berhenti pasti ada. Ketika pendapatan tidak cukup untuk makan, keputusasaan pasti pernah datang. Ketika melihat orang lain hidup lebih baik, rasa iri mungkin saja muncul. Saya tidak ingin mengarang bahwa Pak Mitro tidak pernah merasakan semua itu. Ia manusia. Dan manusia pasti memiliki saat-saat ketika hati terasa berat. Saya sendiri pun tidak selalu mampu bersikap bijaksana.

Kadang kita merasa tersinggung ketika merasa tidak dihargai. Kadang kita kecewa ketika kebaikan tidak dibalas. Kadang kita ingin menjelaskan kepada orang lain bahwa kita juga sudah berusaha. Mungkin Pak Mitro pun pernah merasakan hal serupa.

Tetapi yang membedakannya adalah satu hal: ia tetap kembali. Besok pagi, ia kembali ke pasar. Bukan karena hidup menjanjikan sesuatu yang lebih baik.Tetapi karena ia tidak punya alasan untuk berhenti berharap.


Tentang Hati yang Mulia

Di tengah percakapan, saya teringat satu hal lain yang ingin ia sampaikan tentang kehidupan. Ia berbicara tentang orang-orang baik. Tentang hati yang mulia. Tentang orang-orang yang tetap berbuat baik kepada siapa pun, meskipun tidak semua orang menyukainya. Saya menangkap sesuatu yang sangat manusiawi dari ucapannya.

Kebaikan tidak selalu membuat kita disukai. Seorang yang baik pun bisa dibenci. Bisa difitnah. Bisa disalahpahami. Bisa dicurigai.Bisa mendapatkan balasan yang tidak sebanding dengan kebaikannya. Dan mungkin di situlah ujian sebenarnya. Apakah ketika kebaikan kita dibalas dengan keburukan, kita akan berubah menjadi buruk?  Apakah ketika difitnah, kita harus membalas dengan fitnah?  Apakah ketika disakiti, kita harus membuat orang lain merasakan sakit yang sama?  Saya kira tidak.

Ada kalanya kemarahan perlu berhenti di dalam diri kita. Bukan karena kita lemah. Tetapi karena kita tidak ingin keburukan orang lain menentukan siapa diri kita. Pak Mitro mungkin bukan orang yang memiliki banyak hal. Tetapi pagi itu saya merasa ia sedang mengajari saya sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang: bahwa mempertahankan hati tetap baik ketika hidup tidak selalu baik kepada kita adalah salah satu bentuk keberanian.


Jangan Meremehkan Langkah Kecil

Saya pulang dari Pasar Tumenggungan dengan perasaan yang agak berbeda. Saya datang untuk bertemu seorang tukang panggul. Tetapi saya pulang membawa pertanyaan untuk diri sendiri. Berapa banyak pekerjaan yang selama ini saya anggap kecil, padahal bagi orang lain pekerjaan itu adalah cara mempertahankan hidup? Berapa banyak orang yang saya lewati setiap hari tanpa pernah benar-benar melihat perjuangannya? Berapa banyak orang yang saya kira biasa saja, padahal setiap pagi ia sedang memenangkan pertempuran yang tidak pernah saya tahu? Dan yang paling penting: berapa kali saya sendiri ingin menyerah hanya karena hidup tidak berjalan sesuai keinginan?

Pak Mitro mengingatkan saya bahwa hidup tidak selalu memberi kita pekerjaan yang kita impikan. Tidak semua orang mendapatkan kesempatan memilih jalan yang nyaman. Ada yang harus memulai dari pasar. Ada yang harus tidur di emperan. Ada yang harus menjual tenaga. Ada yang harus bekerja sampai usia yang sebenarnya sudah pantas untuk beristirahat. Tetapi selama masih ada satu langkah yang bisa dilakukan, satu pekerjaan yang masih bisa dikerjakan, satu orang yang masih bisa dibantu, dan satu hari lagi yang bisa dijalani, harapan belum selesai.

Mungkin kita tidak perlu langsung mengubah hidup. Mungkin kita hanya perlu melakukan satu hal kecil hari ini. Bangun. Datang bekerja. Menyelesaikan tanggung jawab. Menjaga keluarga. Membayar satu utang. Mencari satu peluang. Belajar satu keterampilan. Meminta maaf. Memaafkan. Atau sekadar bertahan satu hari lagi. Sebab sering kali kita terlalu sibuk menunggu perubahan besar, sampai lupa bahwa kehidupan sebenarnya dibangun dari langkah-langkah kecil yang dilakukan berulang-ulang. Pak Mitro telah melakukannya selama puluhan tahun. 

Ketika saya melihatnya berdiri di tengah pasar pagi itu, saya tidak melihat seorang lelaki berusia 63 tahun yang sedang menunggu pekerjaan. Saya melihat seseorang yang telah melewati lebih dari separuh abad hidupnya dengan satu prinsip sederhana: selama masih mampu bekerja, ia akan bekerja.

Ia tidak sedang mengejar popularitas. Tidak sedang mencari tepuk tangan. Tidak sedang berusaha membuktikan bahwa dirinya lebih hebat daripada orang lain. Ia hanya ingin makan. Dan untuk makan, ia bekerja. Sesederhana itu. Namun justru dalam kesederhanaan itulah saya menemukan sesuatu yang besar. Kita sering mengira orang hebat adalah mereka yang berhasil melakukan sesuatu yang luar biasa. Padahal mungkin orang hebat adalah orang yang melakukan hal biasa dengan keteguhan luar biasa. Bangun setiap pagi. Datang ke pasar. Menunggu. Mengangkat barang. Menerima upah. Makan. Tidur. Lalu mengulanginya lagi keesokan hari.

Tidak ada yang spektakuler. Tetapi ketika dilakukan selama puluhan tahun, bukankah itu sebuah keberanian? Pelajaran yang saya bawa pulang, bahwa saya tidak tahu sampai kapan Pak Mitro masih akan berada di Pasar Tumenggungan. Saya tidak tahu apakah suatu hari pasar akan kembali ramai. Saya juga tidak tahu apakah pendapatannya akan menjadi lebih baik. Tetapi saya tahu satu hal. Pagi itu ia mengajarkan kepada saya bahwa menyerah bukan satu-satunya pilihan ketika hidup sedang sulit. 

Kadang kita memang tidak bisa memilih keadaan. Kita tidak bisa memilih dari keluarga seperti apa kita dilahirkan. Tidak bisa memilih seberapa cepat ekonomi berubah.Tidak bisa memaksa orang lain menghargai kita.Tidak bisa memastikan setiap kebaikan akan dibalas dengan kebaikan.Tetapi kita masih bisa memilih bagaimana kita merespons semuanya.

Kita bisa memilih untuk tetap bekerja. Tetap jujur. Tetap menjaga hati.Tetap menghormati orang lain.Tetap mencari jalan. Dan ketika jalan itu sempit, kita tidak perlu malu berjalan perlahan. Sebab hidup bukan perlombaan siapa yang paling cepat. Kadang hidup hanya bertanya: "Apakah kamu masih mau melangkah?" Pak Mitro menjawab pertanyaan itu setiap pagi. Dengan tubuhnya. Dengan keringatnya. Dengan kesediaannya mengangkat apa pun yang masih bisa diangkat. Dan mungkin, tanpa ia sadari, ia telah memberi pelajaran kepada banyak orang yang melihatnya. Bahwa pekerjaan yang sederhana tidak pernah membuat seseorang menjadi rendah. Yang membuat seseorang mulia adalah bagaimana ia menjalankan pekerjaannya dengan jujur, sabar, dan tidak menyerah. 

Pagi itu, sebelum meninggalkan pasar, saya kembali melihat Pak Mitro. Ia masih berdiri di sana. Menunggu. Barangkali sebentar lagi ada pedagang yang memanggil. Barangkali ada barang yang harus diangkat. Barangkali hari itu ia akan mendapatkan cukup uang untuk makan. Atau mungkin tidak. Saya tidak tahu.Tetapi saya tahu, selama masih ada kesempatan, ia akan mencoba.

Dan mungkin itulah arti sebenarnya dari menolak menyerah. Bukan selalu tentang memenangkan hidup. Bukan selalu tentang menjadi kaya. Bukan selalu tentang mencapai tempat yang tinggi. Kadang, menolak menyerah hanya berarti: ketika hari ini kita belum bisa mengubah hidup, kita memilih untuk tetap melakukan apa yang masih bisa kita lakukan. Satu pekerjaan. Satu langkah. Satu kebaikan. Satu hari lagi. Lalu satu hari lagi. Dan satu hari lagi. Karena ada orang-orang yang tidak pernah masuk halaman koran, tidak pernah berdiri di atas panggung, dan tidak pernah menerima penghargaan. Namun setiap pagi mereka bangun dan mempertahankan hidup dengan tangan sendiri. Mereka adalah orang-orang biasa. Tetapi keteguhan mereka luar biasa.

Dan pagi itu, di Pasar Tumenggungan, saya belajar dari seorang lelaki bernama Pak Mitroselama keringat masih bisa jatuh, harapan belum boleh berhenti.