Pagi itu, Pak Qomar kembali mengangkat tempe dari jok belakang sepeda motornya. Gerakannya tidak lagi seperti sepuluh tahun lalu. Tubuhnya yang tinggi besar masih sama. Bahunya masih lebar. Tangannya masih terlihat kuat. Tetapi langkahnya tidak lagi tegap. Ketika berjalan, tubuhnya sedikit condong, seolah-olah setiap langkah harus dipikirkan lebih dulu. Ada kehati-hatian yang tidak pernah saya lihat sebelumnya pada dirinya. Usianya baru sekitar lima puluh tahun. Namun tiga tahun terakhir telah mengajarinya bahwa tubuh yang selama ini menjadi sandaran untuk bekerja bisa tiba-tiba menjadi sumber rasa sakit.
Saya memperhatikan cara Pak Qomar bergerak hari itu. Tidak banyak bicara. Ia hanya mengurus tempe-tempenya seperti biasa. Tempe Bening yang selama bertahun-tahun menjadi bagian dari hidupnya. Saya membayangkan, betapa berbeda rasanya bekerja ketika setiap gerakan bisa menghadirkan nyeri. Dan saya kemudian teringat cerita yang pernah ia sampaikan kepada saya.
Semuanya bermula dari sebuah jatuh yang mungkin bagi orang lain terlihat sederhana. Pak Qomar jatuh dengan posisi pantat menjadi penyangga tubuhnya. Sejak saat itu, rasa kebas dan kesemutan mulai terasa dari panggul, menjalar ke kaki hingga ujung jari. Kadang sakitnya datang seperti aliran listrik yang menyusuri kaki. Kadang hanya terasa kebas. Tetapi ada saat-saat ketika menggerakkan kaki saja terasa menyakitkan.
Ia masih mencoba bekerja. Bagaimanapun, tempe bukan sekadar barang dagangan baginya. Tempe adalah sumber penghidupan. Tempe adalah uang sekolah anak-anak. Tempe adalah harapan sebuah keluarga. Tetapi tubuh mempunyai batas yang tidak selalu bisa diajak berkompromi.
Belum selesai dengan persoalan itu, sebuah kejadian lain memperparah kondisinya. Suatu hari, Pak Qomar sedang mengendarai sepeda motor dengan muatan penuh. Di jok belakang, ada tempe yang siap dibawa untuk dijual. Jalan yang dilaluinya tiba-tiba menjadi tempat yang menguji refleksnya. Sebuah bus melintas nyaris menyambarnya. Dalam hitungan detik, tubuhnya bereaksi. Motor oleng. Pak Qomar berusaha mempertahankan kendali agar tidak jatuh. Tangannya menahan setang. Tubuhnya bergerak mengikuti motor. Kakinya berusaha mencari keseimbangan. Ia berhasil menyelamatkan diri. Hanya tempe-tempenya yang hancur.
Tetapi tubuhnya membayar harga yang mahal untuk keselamatan itu. Gerakan refleks tersebut justru memperparah gangguan pada panggulnya. Sejak itu, rasa sakit semakin menjadi bagian dari hari-harinya. Saya membayangkan betapa sulitnya keadaan itu. Bukan hanya karena sakit. Tetapi karena di saat yang sama, kehidupan tetap menuntut berjalan. Anak-anak tetap membutuhkan biaya sekolah. Rumah tetap membutuhkan biaya hidup. Kebutuhan sehari-hari tidak pernah bertanya apakah seseorang sedang sehat atau sedang kesakitan. Tagihan tidak mengenal panggul yang sakit. Kebutuhan sekolah tidak mengenal kaki yang kebas. Dan kehidupan tidak berhenti hanya karena seseorang sedang berjuang untuk berdiri.
Sekitar sepuluh tahun sebelumnya, Pak Qomar memulai usaha membuat dan menjual Tempe Bening di desanya. Tidak ada cerita besar tentang modal yang fantastis. Tidak ada kantor. Tidak ada mesin produksi yang canggih. Hanya ada kemauan untuk bekerja dan keyakinan bahwa dari sesuatu yang sederhana pun sebuah keluarga bisa dibangun.
Tempe Bening buatannya perlahan dikenal. Dari satu pelanggan ke pelanggan lain. Dari satu rumah ke rumah berikutnya. Dari satu warung ke warung lainnya. Kualitas tempenya membuat namanya dikenal di tingkat kecamatan. Usaha itu tumbuh. Pelan-pelan. Tidak spektakuler, tetapi nyata. Dan seperti kebanyakan usaha kecil, pertumbuhannya dibangun dari rutinitas yang mungkin tidak pernah masuk berita. Bangun. Menyiapkan kedelai. Merebus. Mengolah. Membungkus. Menunggu proses fermentasi. Mengangkut. Menawarkan. Menjual. Menghitung uang. Kemudian mengulanginya lagi esok hari. Begitu terus. Bertahun-tahun.
Sampai kemudian tubuh Pak Qomar mulai membatasi semua pekerjaan itu. Ia tidak lagi leluasa merebus kedelai. Membungkus tempe menjadi pekerjaan yang berat. Mengangkat dan membawa tempe menjadi sesuatu yang harus dipertimbangkan. Memasarkan tempe pun tidak mudah. Akibatnya, produksi nyaris berhenti. Omzet harian yang sebelumnya menjadi sumber penghidupan turun drastis. Ada titik ketika usaha yang dirintis selama bertahun-tahun seperti berada di ujung tanduk.
Saya kira, di situlah seseorang bisa dengan mudah berkata, “Sudahlah.” Saya kira, Pak Qomar juga pernah berada di titik itu. Dan mungkin, seperti kebanyakan dari kita, ia pernah merasa kecewa. Mungkin pernah bertanya dalam hati, mengapa ketika usaha mulai berjalan, justru tubuhnya mengalami masalah? Mungkin pernah merasa iri melihat orang lain bisa bekerja tanpa memikirkan sakit setiap kali bergerak. Mungkin pernah merasa takut. Takut usaha berhenti. Takut penghasilan hilang. Takut tidak bisa membiayai kebutuhan keluarga. Dan mungkin juga pernah merasa malu karena harus meminta bantuan orang lain. Saya tidak tahu persis semua yang ada di kepalanya saat itu.
Tetapi saya tahu satu hal: ia tidak berhenti mencari jalan. Sambil mencari pengobatan untuk sakitnya, Pak Qomar juga mencari cara agar usaha tempenya tetap berjalan. Di sinilah saya melihat sesuatu yang menurut saya jauh lebih besar daripada sekadar kisah seorang pedagang tempe. Ia sedang mempertahankan hidup dengan cara yang sangat sederhana: mencari orang yang bisa membantunya. Beruntung, ada Slamet. Slamet membantu terutama dalam proses produksi. Pekerjaan yang sebelumnya dilakukan sendiri oleh Pak Qomar perlahan mulai bisa dikerjakan bersama. Tetapi persoalan belum selesai. Tempe yang sudah dibuat tetap harus dijual. Produksi tanpa pemasaran tidak akan menjadi penghasilan. Untuk itu, Pak Qomar kemudian dibantu Erdi—bukan nama sebenarnya—dalam proses pemasaran. Harapannya sederhana. Tempe dipasarkan. Uang kembali. Usaha berputar. Keluarga tetap memiliki penghasilan. Tetapi harapan itu kembali menghadapi ujian. Uang dari pembeli tidak disetorkan. Erdi kemudian pergi ke luar kota tanpa kabar. Saya bisa membayangkan betapa beratnya perasaan Pak Qomar ketika mengetahui hal tersebut.
Dalam keadaan usaha sedang berjuang untuk bangkit, justru ada orang yang dipercaya malah membuat keadaan semakin sulit. Marah tentu manusiawi. Kecewa apalagi. Dan mungkin ada rasa ingin berhenti. Sebab ketika kita sudah berada dalam keadaan sulit, kehilangan kepercayaan dari orang yang kita beri amanah terasa seperti pukulan kedua. Tetapi sekali lagi, Pak Qomar mencari jalan.
Ia mencoba berdamai dengan Slamet. Keduanya kemudian membuat kesepakatan yang disetujui bersama. Slamet akhirnya bersedia membantu bukan hanya dalam proses produksi, tetapi juga pemasaran Tempe Bening. Dari situ, perlahan usaha mulai bergerak kembali. Produksi meningkat. Pemasaran mulai berjalan. Yang menarik, kualitas tempe tetap dijaga. Tidak ada jalan pintas dengan mengorbankan kualitas hanya karena sedang membutuhkan uang. Sedikit demi sedikit, Tempe Bening kembali menemukan ritmenya.
Saya suka bagian ini. Karena kebangkitan Pak Qomar bukanlah cerita tentang seseorang yang tiba-tiba menjadi kuat. Ia tidak sembuh dalam semalam. Usahanya juga tidak langsung kembali seperti dulu. Ia hanya melakukan satu hal setelah hal lain. Mencari pengobatan. Mencari bantuan. Mencari orang yang bisa dipercaya. Mencari cara agar produksi tetap berjalan. Mencari cara agar pemasaran kembali hidup. Dan terus mencoba.
Lalu saya bertanya kepadanya: Apa yang sebenarnya membuatnya tetap mau berjualan? Apa yang membuatnya masih ingin meningkatkan penjualan setelah mengalami begitu banyak persoalan? Jawabannya sederhana. “Anak-anak." Lima anaknya. Ia ingin menyekolahkan anak-anaknya. Bukan sekadar agar mereka sekolah. Ia memiliki mimpi yang lebih besar: pendidikan anak-anaknya harus lebih baik daripada pendidikan yang pernah diterima orang tuanya.
Ada sesuatu yang sangat manusiawi dalam jawaban itu. Sebab bagi seorang ayah, kadang-kadang dirinya sendiri bisa menjadi alasan yang tidak cukup kuat untuk bertahan. Tetapi ketika menyangkut anak, batas daya tahan itu seolah diperpanjang. Kaki boleh sakit. Badan boleh tidak lagi tegap. Usaha boleh turun. Kepercayaan kepada orang lain boleh pernah dikhianati. Tetapi mimpi anak-anak tidak boleh ikut berhenti.
Pak Qomar juga memiliki mimpi lain. Ia ingin keluarganya memiliki rumah tinggal yang lebih layak. Bukan rumah mewah. Bukan sesuatu yang harus membuat orang lain kagum. Hanya rumah yang lebih baik untuk keluarganya. Tempat anak-anak tumbuh. Tempat keluarga berkumpul. Tempat seseorang bisa pulang setelah seharian bekerja.
Saya kira, bagi banyak orang, mimpi seperti itu terlihat kecil. Tetapi justru mimpi-mimpi kecil semacam itulah yang sering membuat seseorang sanggup menghadapi perjuangan besar. Kisah Pak Qomar membuat saya berpikir tentang satu hal: kita sering salah memahami arti kekuatan. Kita mengira orang kuat adalah orang yang tidak pernah sakit. Padahal Pak Qomar menunjukkan hal yang berbeda. Orang kuat bisa saja sakit. Bisa takut. Bisa kecewa. Bisa marah. Bisa merasa lelah. Bisa membutuhkan bantuan. Bahkan bisa jatuh. Yang membuatnya kuat bukan karena ia tidak pernah mengalami semua itu. Melainkan karena setelah mengalaminya, ia masih mencari alasan untuk melanjutkan hidup.
Barangkali inilah bentuk keberanian yang paling jarang kita rayakan. Bukan keberanian berdiri di atas panggung. Bukan keberanian memenangkan perlombaan. Bukan keberanian melakukan sesuatu yang kemudian menjadi viral. Tetapi keberanian seorang ayah yang pagi-pagi bangun dalam keadaan tubuh tidak sepenuhnya sehat, lalu berpikir: Hari ini saya harus mencoba lagi. Keberanian seorang ibu yang tetap memasak meskipun sedang lelah. Keberanian seorang buruh yang tetap berangkat meskipun penghasilannya tidak seberapa. Keberanian pedagang kecil yang tetap membuka lapak setelah dagangannya kemarin tidak laku. Keberanian orang tua yang tetap membayar uang sekolah anak meskipun harus menunda kebutuhannya sendiri.
Kita sering menyebut mereka orang biasa. Tetapi mungkin justru di sanalah letak kekeliruan kita. Sebab menjadi biasa bukan berarti perjuangannya kecil. Ada satu pelajaran penting dari Pak Qomar: ketika kemampuan kita berkurang, jangan buru-buru menganggap hidup kita juga selesai. Pak Qomar tidak lagi mampu melakukan semua pekerjaan seperti dahulu. Maka ia mengubah cara bekerja. Ia mencari orang untuk membantu produksi. Ketika pemasaran bermasalah, ia mencari solusi lain. Ketika kepercayaan kepada seseorang runtuh, ia membangun kembali kerja sama dengan orang lain. Ia tidak memaksa dirinya menjadi orang yang sama seperti sepuluh tahun lalu. Ia belajar menerima kenyataan bahwa tubuhnya telah berubah, lalu mencari cara agar hidupnya tetap berjalan.
Ini pelajaran yang mungkin juga kita perlukan. Ada masa ketika kita tidak lagi bisa melakukan sesuatu dengan cara lama. Usia berubah. Kondisi berubah. Kemampuan berubah. Situasi keluarga berubah. Ekonomi berubah. Bahkan orang-orang yang dulu kita percaya bisa saja pergi. Jangan menghabiskan seluruh tenaga untuk meratapi bahwa semuanya tidak lagi seperti dahulu.
Tanyakan hal yang lebih penting: Dengan keadaan saya yang sekarang, apa yang masih bisa saya lakukan? Pertanyaan itu mungkin sederhana. Tetapi sering kali ia membuka pintu yang tidak terlihat sebelumnya.
Dan ada satu hal lagi yang saya pelajari dari Pak Qomar. Bahwa cinta kepada keluarga tidak selalu hadir dalam kata-kata. Kadang cinta berbentuk tempe yang dibawa dengan sepeda motor. Berbentuk tangan yang tetap bekerja meski tubuh sakit. Berbentuk keberanian meminta bantuan ketika tenaga sendiri sudah tidak mencukupi. Berbentuk kesediaan bangkit setelah dikecewakan. Berbentuk mimpi sederhana agar anak-anak mendapatkan pendidikan yang lebih baik. Dan berbentuk sebuah rumah yang lebih layak untuk ditinggali.
inta, ternyata, sering kali tidak terdengar. Ia bekerja diam-diam. Ia bangun sebelum matahari. Ia pulang ketika hari sudah gelap. Ia menahan sakit tanpa banyak bercerita. Ia menghitung uang hasil penjualan sambil membayangkan biaya sekolah anak. Ia men yimpan sedikit demi sedikit harapan untuk masa depan. Mungkin itulah sebabnya orang-orang seperti Pak Qomar sering luput dari perhatian.
Mereka tidak memiliki kisah yang dramatis di televisi. Tidak ada kamera yang merekam perjuangan mereka setiap pagi. Tidak ada tepuk tangan ketika mereka berhasil menjual lebih banyak tempe. Tidak ada penghargaan ketika mereka berhasil menyekolahkan anak. Tetapi mereka tetap melakukannya.
Hari demi hari. Hari ini, kondisi kesehatan Pak Qomar perlahan semakin membaik. Langkahnya mungkin belum sepenuhnya tegap. Tetapi ada sesuatu yang tetap tegak dalam dirinya: harapan. Dan mungkin, pada akhirnya, itulah yang paling penting. Sebab tubuh manusia bisa melemah. Usaha bisa jatuh. Orang yang dipercaya bisa mengecewakan. Rencana bisa gagal. Tetapi selama masih ada alasan untuk bangun, selalu ada kemungkinan untuk memulai lagi.
Pak Qomar menemukan alasannya pada kelima anaknya. Ia ingin mereka memiliki pendidikan yang lebih baik daripada orang tuanya. Ia ingin keluarganya memiliki rumah yang lebih layak. Mimpi itu mungkin sederhana. Tetapi cukup besar untuk membuat seorang lelaki berusia lima puluh tahun, dengan panggul yang pernah membuat setiap langkah terasa sakit, tetap berusaha menghidupkan kembali usaha tempenya.
Dari Pak Qomar saya belajar bahwa orang hebat tidak selalu mereka yang hidupnya tanpa luka. Orang hebat adalah mereka yang, meskipun terluka, masih memilih untuk menjaga sesuatu yang mereka cintai. Mereka mungkin tidak bisa berlari. Mungkin hanya mampu berjalan perlahan. Tetapi mereka tetap berjalan. Dan barangkali, dalam hidup ini, kita memang tidak selalu membutuhkan langkah yang cepat. Kita hanya perlu memastikan bahwa langkah itu tidak berhenti.
Jika hari ini Anda sedang lelah, tanyakan kepada diri sendiri: siapa yang sedang saya perjuangkan? Jika jawabannya adalah orang yang Anda cintai, mungkin Anda akan menemukan sedikit tenaga lagi untuk melanjutkan. Bukan karena Anda tidak takut. Bukan karena Anda tidak sakit. Bukan karena Anda tidak pernah kecewa. Tetapi karena ada seseorang yang membuat Anda berkata kepada diri sendiri: "Saya boleh lelah. Saya boleh berjalan pelan. Tetapi saya tidak boleh menyerah". Sebab bagi sebagian orang, bertahan bukan lagi tentang dirinya sendiri. Bertahan adalah cara paling sunyi untuk mengatakan kepada orang-orang yang dicintainya: "Selama saya masih mampu, saya akan terus berusaha








