Sore itu, mungkin tidak ada yang istimewa di rumah Soleh. Tidak ada spanduk besar. Tidak ada toko yang ramai oleh pembeli. Tidak ada suara mesin produksi yang bergemuruh. Yang ada hanyalah aktivitas sederhana seorang keluarga yang sedang berusaha menjalani hari. Di rumah itu, Soleh, 45 tahun, sedang merintis usaha kecil. Selain berdagang, ia mulai memproduksi ceriping pisang. Tangannya tidak hanya digunakan untuk mencari nafkah, tetapi juga untuk mencoba menciptakan sesuatu yang mungkin suatu hari bisa menjadi sumber penghasilan tambahan bagi keluarganya.
Saya melihat seorang laki-laki yang hidupnya tidak sedang berada pada garis akhir perjuangan. Justru sebaliknya. Ia masih berada di tengah perjalanan. Masih mencoba. Masih belajar. Masih mencari kemungkinan. Dan mungkin itulah yang membuat kisah Soleh terasa dekat dengan kehidupan banyak orang. Sebab sebagian besar dari kita tidak menjalani hidup dengan kepastian. Kita hanya berusaha membuat hari ini cukup untuk sampai kepada hari esok. Begitu juga Soleh.
Di rumahnya ada lima anak yang harus ia rawat. Dua di antaranya adalah anak sambung dari istrinya. Tiga lainnya adalah anak kandung mereka yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Lima anak. Lima kebutuhan. Lima masa depan yang harus dipikirkan. Dan di tengah semua itu, Soleh belajar satu hal yang mungkin tidak pernah diajarkan di sekolah: ketika kita mencintai seseorang, kadang-kadang kita menemukan kekuatan untuk bertahan bahkan ketika diri sendiri sebenarnya sudah ingin berhenti.
Rumah Mertua dan Tanggung Jawab yang Datang Perlahan
Tiga tahun pertama setelah menikah, Soleh dan istrinya hidup bersama di rumah mertua. Bagi sebagian orang, tinggal bersama orang tua atau mertua mungkin terasa biasa. Tetapi keadaan berubah ketika usaha mertuanya sebagai penjual gethuk singkong berhenti. Sumber penghasilan yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan keluarga itu ikut berhenti. Dan ketika satu sumber penghasilan berhenti, kebutuhan tidak ikut berhenti. Listrik tetap harus dibayar. Dapur tetap harus mengepul. Anak-anak tetap membutuhkan makan. Sekolah tetap berjalan.
Kehidupan tidak pernah memberikan waktu istirahat hanya karena keadaan ekonomi sedang sulit. Di situlah Soleh perlahan harus mengambil alih tanggung jawab ekonomi keluarga. Tidak ada upacara ketika tanggung jawab itu berpindah. Tidak ada seseorang yang datang memberikan penghargaan. Tidak ada tepuk tangan. Hanya ada keadaan yang berkata: Sekarang kamu harus berusaha." Dan Soleh berusaha. Ia berdagang. Ia mencari peluang. Ia mencoba apa yang bisa dikerjakan. Sebab ketika ada keluarga yang bergantung pada kita, pilihan untuk menyerah terasa jauh lebih mahal.
Saya sering berpikir bahwa cinta dalam keluarga terlalu sering kita gambarkan dalam bentuk yang indah. Makan bersama. Berlibur bersama. Memberikan hadiah. Mengucapkan kata sayang. Padahal bagi banyak keluarga sederhana, cinta justru hadir dalam bentuk yang jauh lebih sunyi. Cinta adalah seorang ayah yang berangkat bekerja ketika tubuhnya belum benar-benar pulih. Cinta adalah seorang ibu yang mengatur belanja dapur agar uang yang sedikit cukup sampai akhir bulan. Cinta adalah orang tua yang menunda membeli sesuatu untuk dirinya karena kebutuhan anak lebih mendesak. Dan cinta juga bisa berupa keberanian untuk berkata: Saya harus mencari jalan. Soleh sedang melakukan itu.
Lima Anak, Lima Harapan
Soleh bukan hanya mengurus kebutuhan hari ini. Ia juga memikirkan masa depan. Lima anak yang berada dalam keluarganya membawa cerita masing-masing. Ada yang masih kecil. Ada yang sudah beranjak dewasa. Ada yang mulai mempunyai mimpi sendiri. Salah satu anak sambungnya telah menyelesaikan pendidikan SMK. Ia mempunyai mimpi bekerja di luar negeri. Jepang. Mimpi itu tidak datang tanpa usaha. Ia sudah mengikuti kursus bahasa. Tidak hanya sekali. Ia mencoba kursus di tempat yang dekat dengan rumah. Kemudian mencari lembaga pelatihan lain di kota yang menurut mereka lebih profesional. Administrasi keberangkatan mulai dipersiapkan. Langkah demi langkah. Tidak terburu-buru. Tidak asal berangkat. Soleh sebagai orang tua tidak mengatakan bahwa anaknya tidak boleh mempunyai mimpi besar. Sebaliknya, ia mendukung. Tetapi dukungan itu disertai satu pesan penting: kalau ingin berangkat, berangkatlah dengan aman, melalui prosedur dan aturan yang benar. Saya kira di situlah letak cinta seorang ayah. Ia tidak selalu bisa membukakan pintu. Tetapi ia bisa membantu memastikan anaknya tidak berjalan menuju pintu yang salah. Ia tidak bisa menjamin kehidupan anaknya akan mudah. Tetapi ia bisa memberikan bekal agar anaknya memiliki kesempatan menghadapi kehidupan.
Ada sesuatu yang menarik dari mimpi anak Soleh. Anak itu melihat keluarganya sendiri. Ia melihat bibinya yang pernah menjadi pekerja migran di Korea. Adik Soleh pernah menjadi pekerja migran di Korea dan kini telah purna. Dari pengalaman keluarga itulah muncul gambaran bahwa bekerja di luar negeri bisa menjadi salah satu jalan untuk memperbaiki kehidupan. Tetapi Soleh memahami bahwa bekerja di negeri orang bukan sekadar soal gaji. Ada bahasa yang harus dipelajari. Ada administrasi. Ada prosedur. Ada risiko. Ada kemampuan yang harus disiapkan. Karena itu, ia memilih mendukung anaknya dengan cara yang menurutnya benar dengan cara mempersiapkan, bukan sekadar mendorong. Dan saya kira itu juga bagian dari bertahan. Bertahan bukan berarti memaksa anak mengikuti jalan yang kita mau. Bertahan berarti menyediakan ruang agar anak bisa mengejar masa depannya dengan lebih aman.
Ketika Rezeki Harus Dijemput dari Banyak Pintu
Soleh sehari-hari berdagang. Tetapi ia tidak berhenti di sana. Di rumah ia merintis produksi ceriping pisang. Mungkin bagi orang lain, membuat ceriping pisang terlihat sederhana. Tetapi bagi Soleh, usaha kecil itu membawa harapan yang besar. Sebab usaha tidak harus langsung besar untuk menjadi berarti. Kadang ia dimulai dari dapur rumah. Dari bahan yang tersedia. Dari peralatan sederhana. Dari tangan sendiri. Dari keberanian mencoba. Ia kemudian aktif mengikuti pembinaan dan pendampingan di desanya, Tambaksari. Di sana ia terlibat dalam pembinaan sebagai bagian dari upaya Desa Migran.
Di desanya terdapat keluarga yang memiliki anggota keluarga yang akan bekerja ke luar negeri, sedang bekerja di luar negeri, maupun yang sudah purna dan kembali. Menurut keterangan yang ia terima dari kepala desa, ada sekitar 16 keluarga yang berada dalam lingkup pembinaan tersebut. Program pendampingan itu bukan hanya tentang keberangkatan bekerja ke luar negeri. Ada hal yang lebih luas. Tentang bagaimana keluarga tetap mempunyai kegiatan produktif. Tentang kewirausahaan. Tentang pengelolaan keuangan keluarga. Tentang pola pengasuhan. Tentang pendidikan anak ketika salah satu anggota keluarga bekerja jauh dari rumah. Soleh ikut dalam proses itu.
Dan bagi saya, keputusan untuk belajar di tengah kesibukan mencari nafkah merupakan sesuatu yang layak dihargai. Sebab sering kali kita menganggap belajar hanya milik anak-anak. Padahal orang dewasa pun harus terus belajar. Terutama ketika keadaan berubah.
Ketika Hidup Tidak Memberi Pilihan yang Mudah
Saya membayangkan kehidupan Soleh bukan sebagai jalan lurus. Lebih seperti jalan desa yang berkelok. Kadang terang. Kadang licin. Kadang kita bisa melihat jauh ke depan. Kadang tikungan membuat kita tidak tahu apa yang menunggu beberapa meter di depan. Namun satu hal yang tetap ada adalah tanggung jawab. Lima anak. Istri. Rumah. Masa depan. Dan kebutuhan sehari-hari. Mungkin ada hari ketika penghasilan cukup. Mungkin ada hari ketika hasil berdagang tidak seperti yang diharapkan. Mungkin ada saat ketika usaha ceriping belum menghasilkan banyak. Tetapi hidup harus tetap dijalani.
Di sinilah seseorang belajar bahwa bertahan tidak selalu berarti melakukan sesuatu yang luar biasa. Kadang bertahan hanya berarti: besok tetap bangun. Tetap membuka usaha. Tetap mencari pembeli. Tetap mencoba produk baru. Tetap belajar. Tetap mendampingi anak. Tetap membayar kebutuhan yang paling penting. Tetap percaya bahwa sedikit demi sedikit kehidupan bisa diperbaiki. Kita sering membayangkan perubahan harus terjadi dalam bentuk yang besar. Usaha harus langsung berkembang. Pendapatan harus langsung naik. Rumah harus langsung bagus. Anak harus langsung berhasil. Padahal kehidupan sebagian besar keluarga dibangun dari perubahan-perubahan kecil. Hari ini bisa membayar satu kebutuhan. Besok menyisihkan sedikit. Minggu depan mendapatkan pelanggan baru. Bulan berikutnya mencoba produk baru. Tahun berikutnya usaha mungkin lebih dikenal. Begitulah kehidupan dibangun. Sedikit demi sedikit. Soleh tampaknya memahami itu. Ia tidak sedang mencari jalan yang membuatnya langsung kaya. Ia sedang mencari jalan yang membuat keluarganya lebih kuat. Dan itu dua hal yang berbeda.
Bertahan Bukan Berarti Tidak Pernah Takut. Ada satu hal yang sering kita lupakan ketika bercerita tentang orang-orang hebat. Kita sering hanya menunjukkan keberaniannya. Kita lupa menunjukkan ketakutannya. Padahal seseorang tidak perlu bebas dari rasa takut untuk disebut berani. Seorang ayah bisa takut memikirkan masa depan anaknya. Bisa cemas ketika penghasilan tidak menentu. Bisa bertanya dalam hati apakah usaha yang dirintis akan berhasil. Bisa khawatir ketika anak ingin pergi jauh ke negeri orang. Semua itu manusiawi.
Keberanian bukan tidak punya kekhawatiran. Keberanian adalah tetap melakukan yang benar meskipun kekhawatiran itu ada. Soleh tidak bisa menjamin bahwa anaknya nanti akan sukses di Jepang. Ia juga tidak bisa menjamin usaha ceriping pisangnya akan berkembang besar. Ia tidak bisa menjamin setiap hari akan membawa rezeki yang cukup. Tetapi ia bisa melakukan bagian yang menjadi tanggung jawabnya. Mendukung anak. Mengarahkan. Mencari nafkah. Belajar. Mencoba. Dan terus bergerak. -
Dari Keluarga Pekerja Migran, Menjadi Keluarga yang Produktif
Ada bagian lain dari kisah Soleh yang menurut saya penting. Ia tidak hanya berpikir tentang bagaimana seseorang bisa bekerja di luar negeri. Ia juga memikirkan bagaimana keluarga yang ditinggalkan tetap bisa bertahan. Ini penting. Sebab ketika seseorang pergi bekerja ke luar negeri, yang berangkat sebenarnya bukan hanya satu orang. Ada keluarga yang ikut membawa konsekuensinya. Ada anak yang harus tumbuh tanpa kehadiran salah satu orang tua untuk sementara. Ada pasangan yang harus menjalankan rumah tangga dengan beban yang lebih besar. Ada uang yang harus dikelola dengan bijak. Ada hubungan keluarga yang harus tetap dijaga. Karena itu, kegiatan produktif di rumah memiliki arti yang besar. Ceriping pisang yang dibuat Soleh mungkin tampak kecil. Tetapi di baliknya ada gagasan besar: keluarga harus memiliki kemampuan untuk bertahan, bukan hanya bergantung pada satu sumber penghasilan. Inilah bentuk ketahanan keluarga. Ketika satu pintu usaha belum terbuka, keluarga mencoba mengetuk pintu lain. Bukan karena mereka serakah. Tetapi karena mereka ingin mempunyai pilihan.
Saya membayangkan suatu hari nanti anak Soleh benar-benar berangkat ke Jepang. Mungkin suatu pagi ia berdiri membawa koper. Ada rasa bangga. Ada rasa cemas. Ada perasaan berat melepas. Soleh mungkin akan memberikan nasihat yang sama seperti orang tua pada umumnya: Jaga diri. Jaga nama baik keluarga. Bekerjalah dengan sungguh-sungguh. Ikuti aturan. Jangan mudah percaya kepada orang. Dan pulanglah dengan selamat. Barangkali setelah kendaraan yang membawa anaknya pergi, rumah akan terasa sedikit lebih sunyi. Tetapi di balik kesunyian itu ada sesuatu yang lebih besar: sebuah mimpi sedang berjalan. Dan mimpi itu dibangun oleh banyak tangan. Oleh anak yang mau belajar. Oleh orang tua yang mau mendukung. Oleh keluarga yang pernah mengalami masa sulit. Oleh seorang ayah yang terus bekerja. Oleh seorang ibu yang menjaga keluarga.
Orang Hebat Tidak Selalu Punya Jalan yang Hebat
Soleh mengingatkan saya bahwa orang hebat tidak selalu memiliki cerita yang spektakuler. Kadang ceritanya justru sangat sederhana. Menikah. Tinggal bersama mertua. Usaha keluarga berhenti. Kemudian mengambil tanggung jawab. Berdagang. Mencoba usaha baru. Mendampingi anak. Mengikuti pelatihan. Belajar mengelola ekonomi keluarga.
Tidak ada yang terdengar seperti kisah seorang pahlawan. Tetapi mungkin kita selama ini salah memahami arti pahlawan. Pahlawan tidak selalu seseorang yang menyelamatkan banyak orang dalam satu kejadian besar. Kadang pahlawan adalah seseorang yang setiap hari menyelamatkan keluarganya dari menyerah. Seorang ayah yang memastikan anak tetap sekolah. Seorang ibu yang memastikan dapur tetap menyala. Seorang anak yang belajar sungguh-sungguh karena tahu bagaimana orangtuanya berjuang. Seorang suami yang ketika suatu sumber penghasilan berhenti , mencari sumber penghasilan lain. Dan sebuah keluarga yang ketika kehidupan berubah, memilih untuk belajar beradaptasi.
Cinta yang Menjadi Kekuatan
Ada alasan mengapa seseorang bisa bekerja lebih keras ketika yang diperjuangkan bukan dirinya sendiri. Kalau hanya untuk diri sendiri, mungkin kita bisa berkata: "Sudahlah. Saya sudah capek." Tetapi ketika melihat anak-anak di rumah, kalimat itu sering tertahan. Bukan berarti kita tidak lelah. Justru kita sangat lelah. Tetapi cinta membuat kita mencari tenaga yang lain. Tenaga untuk bangun lagi. Tenaga untuk mencoba lagi. Tenaga untuk menerima bahwa hasil hari ini mungkin belum cukup. Tenaga untuk memulai dari kecil. Soleh tidak sedang mengejar kesempurnaan. Ia sedang membangun kemungkinan. Kemungkinan agar keluarganya mempunyai kehidupan yang lebih baik. Kemungkinan agar anak-anaknya memiliki pendidikan.Kemungkinan agar anak yang ingin bekerja ke luar negeri bisa berangkat melalui jalur yang aman.
Kemungkinan agar ketika satu sumber pendapatan berhenti, masih ada sumber lain. Dan kadang, hidup memang hanya membutuhkan kemungkinan. Satu peluang. Satu pelanggan. Satu usaha kecil. Satu keputusan untuk mencoba lagi. Dari sana, sesuatu yang besar bisa tumbuh.
Jangan Menunggu Hidup Menjadi Mudah
Kisah Soleh juga memberi saya satu pelajaran yang sederhana: jangan menunggu hidup menjadi mudah untuk mulai memperbaikinya. Sebab hidup mungkin tidak pernah benar-benar mudah. Ketika usaha berjalan, ada tantangan lain. Ketika anak lulus sekolah, ada kebutuhan lain. Ketika anak ingin bekerja, ada proses lain. Ketika penghasilan meningkat, tanggung jawab mungkin ikut meningkat. Maka yang perlu kita bangun bukan kehidupan tanpa masalah. Yang perlu kita bangun adalah kemampuan menghadapi masalah. Belajar. Berhemat. Mencari peluang. Membangun keterampilan. Membuka usaha. Mencari pendampingan. Mengelola uang. Mendidik anak. Dan yang paling penting, menjaga hubungan di dalam keluarga. Karena keluarga yang kuat bukan keluarga yang tidak pernah mengalami kesulitan. Keluarga yang kuat adalah keluarga yang ketika kesulitan datang, tidak saling meninggalkan.
Sore mungkin akan berganti malam. Ceriping pisang mungkin belum langsung mengubah kehidupan Soleh. Dagangannya mungkin suatu hari ramai, suatu hari sepi. Anaknya mungkin kelak berangkat ke Jepang, mungkin perjalanannya membutuhkan waktu lebih panjang dari yang dibayangkan. Tetapi saya yakin ada sesuatu yang sudah dimiliki keluarga ini sejak awal: kemauan untuk berusaha. Dan selama kemauan itu masih ada, cerita belum selesai.
Soleh bukan orang kaya. Bukan tokoh terkenal. Bukan seseorang yang hidupnya dipenuhi kemudahan. Ia hanya seorang laki-laki berusia 45 tahun yang mempunyai keluarga untuk dijaga dan anak-anak untuk diperjuangkan. Namun justru karena itulah kisahnya penting. Sebab sebagian besar kehidupan kita juga seperti itu. Kita bekerja bukan karena yakin semuanya akan mudah. Kita bekerja karena ada orang yang kita cintai. Kita bertahan bukan karena tidak lelah. Kita bertahan karena ada yang membutuhkan kita.Kita mencoba lagi bukan karena kita yakin akan langsung berhasil. Kita mencoba karena berhenti berarti menutup kemungkinan. Dan mungkin, pada akhirnya, itulah arti cinta yang paling dewasa: bukan sekadar ingin orang yang kita cintai bahagia, tetapi bersedia ikut berjuang agar mereka memiliki kesempatan untuk menemukan kebahagiaannya sendiri. Soleh sedang melakukan itu. Dengan dagangannya. Dengan ceriping pisangnya. Dengan langkah-langkah kecilnya. Dengan kesediaannya belajar. Dengan dukungannya kepada anak. Dengan kesediaannya mengambil tanggung jawab ketika keadaan keluarga berubah.
Ia mungkin tidak merasa sedang melakukan sesuatu yang luar biasa. Tetapi dari luar, saya melihat seorang ayah yang sedang membangun masa depan dengan tangan sendiri. Dan mungkin itulah mengapa saya percaya: orang-orang hebat tidak selalu lahir dari kehidupan yang mudah. Kadang mereka ditempa oleh tanggung jawab, dikuatkan oleh cinta, dan dipaksa kehidupan untuk terus mencari jalan. Sebab ketika seseorang mempunyai orang yang dicintai untuk diperjuangkan, kata menyerah menjadi terlalu mahal. Dan selama masih ada keluarga yang harus dijaga, anak yang harus disekolahkan, mimpi yang harus diperjuangkan, dan hari esok yang masih menunggu selalu ada alasan untuk bangun, bekerja, belajar, dan mencoba sekali lagi.
.jpeg)



