Wednesday, August 19, 2026

Essay 11. Pak Qomar Bertahan untuk Orang-orang yang Dicintai

Pagi itu, Pak Qomar kembali mengangkat tempe dari jok belakang sepeda motornya.  Gerakannya tidak lagi seperti sepuluh tahun lalu. Tubuhnya yang tinggi besar masih sama. Bahunya masih lebar. Tangannya masih terlihat kuat. Tetapi langkahnya tidak lagi tegap. Ketika berjalan, tubuhnya sedikit condong, seolah-olah setiap langkah harus dipikirkan lebih dulu. Ada kehati-hatian yang tidak pernah saya lihat sebelumnya pada dirinya. Usianya baru sekitar lima puluh tahun. Namun tiga tahun terakhir telah mengajarinya bahwa tubuh yang selama ini menjadi sandaran untuk bekerja bisa tiba-tiba menjadi sumber rasa sakit. 

Saya memperhatikan cara Pak Qomar bergerak hari itu. Tidak banyak bicara. Ia hanya mengurus tempe-tempenya seperti biasa. Tempe Bening yang selama bertahun-tahun menjadi bagian dari hidupnya. Saya membayangkan, betapa berbeda rasanya bekerja ketika setiap gerakan bisa menghadirkan nyeri. Dan saya kemudian teringat cerita yang pernah ia sampaikan kepada saya.

Semuanya bermula dari sebuah jatuh yang mungkin bagi orang lain terlihat sederhana. Pak Qomar jatuh dengan posisi pantat menjadi penyangga tubuhnya. Sejak saat itu, rasa kebas dan kesemutan mulai terasa dari panggul, menjalar ke kaki hingga ujung jari. Kadang sakitnya datang seperti aliran listrik yang menyusuri kaki. Kadang hanya terasa kebas. Tetapi ada saat-saat ketika menggerakkan kaki saja terasa menyakitkan.

Ia masih mencoba bekerja. Bagaimanapun, tempe bukan sekadar barang dagangan baginya. Tempe adalah sumber penghidupan. Tempe adalah uang sekolah anak-anak. Tempe adalah harapan sebuah keluarga. Tetapi tubuh mempunyai batas yang tidak selalu bisa diajak berkompromi.

Belum selesai dengan persoalan itu, sebuah kejadian lain memperparah kondisinya. Suatu hari, Pak Qomar sedang mengendarai sepeda motor dengan muatan penuh. Di jok belakang, ada tempe yang siap dibawa untuk dijual. Jalan yang dilaluinya tiba-tiba menjadi tempat yang menguji refleksnya. Sebuah bus melintas nyaris menyambarnya. Dalam hitungan detik, tubuhnya bereaksi. Motor oleng. Pak Qomar berusaha mempertahankan kendali agar tidak jatuh. Tangannya menahan setang. Tubuhnya bergerak mengikuti motor. Kakinya berusaha mencari keseimbangan. Ia berhasil menyelamatkan diri. Hanya tempe-tempenya yang  hancur.

Tetapi tubuhnya membayar harga yang mahal untuk keselamatan itu. Gerakan refleks tersebut justru memperparah gangguan pada panggulnya. Sejak itu, rasa sakit semakin menjadi bagian dari hari-harinya. Saya membayangkan betapa sulitnya keadaan itu. Bukan hanya karena sakit. Tetapi karena di saat yang sama, kehidupan tetap menuntut berjalan. Anak-anak tetap membutuhkan biaya sekolah. Rumah tetap membutuhkan biaya hidup. Kebutuhan sehari-hari tidak pernah bertanya apakah seseorang sedang sehat atau sedang kesakitan. Tagihan tidak mengenal panggul yang sakit. Kebutuhan sekolah tidak mengenal kaki yang kebas. Dan kehidupan tidak berhenti hanya karena seseorang sedang berjuang untuk berdiri.

Sekitar sepuluh tahun sebelumnya, Pak Qomar memulai usaha membuat dan menjual Tempe Bening di desanya. Tidak ada cerita besar tentang modal yang fantastis. Tidak ada kantor. Tidak ada mesin produksi yang canggih. Hanya ada kemauan untuk bekerja dan keyakinan bahwa dari sesuatu yang sederhana pun sebuah keluarga bisa dibangun. 

Tempe Bening buatannya perlahan dikenal.  Dari satu pelanggan ke pelanggan lain. Dari satu rumah ke rumah berikutnya. Dari satu warung ke warung lainnya. Kualitas tempenya membuat namanya dikenal di tingkat kecamatan. Usaha itu tumbuh. Pelan-pelan. Tidak spektakuler, tetapi nyata. Dan seperti kebanyakan usaha kecil, pertumbuhannya dibangun dari rutinitas yang mungkin tidak pernah masuk berita. Bangun. Menyiapkan kedelai. Merebus. Mengolah. Membungkus. Menunggu proses fermentasi. Mengangkut. Menawarkan. Menjual. Menghitung uang. Kemudian mengulanginya lagi esok hari. Begitu terus. Bertahun-tahun. 

Sampai kemudian tubuh Pak Qomar mulai membatasi semua pekerjaan itu. Ia tidak lagi leluasa  merebus kedelai. Membungkus tempe menjadi pekerjaan yang berat. Mengangkat dan membawa tempe menjadi sesuatu yang harus dipertimbangkan. Memasarkan tempe pun tidak mudah. Akibatnya, produksi nyaris berhenti. Omzet harian yang sebelumnya menjadi sumber penghidupan turun drastis. Ada titik ketika usaha yang dirintis selama bertahun-tahun seperti berada di ujung tanduk.

Saya kira, di situlah seseorang bisa dengan mudah berkata, “Sudahlah.”  Saya kira, Pak Qomar juga pernah berada di titik itu. Dan mungkin, seperti kebanyakan dari kita, ia pernah merasa kecewa. Mungkin pernah bertanya dalam hati, mengapa ketika usaha mulai berjalan, justru tubuhnya mengalami masalah? Mungkin pernah merasa iri melihat orang lain bisa bekerja tanpa memikirkan sakit setiap kali bergerak. Mungkin pernah merasa takut. Takut usaha berhenti. Takut penghasilan hilang. Takut tidak  bisa membiayai kebutuhan keluarga. Dan mungkin juga pernah merasa malu karena harus meminta bantuan orang lain. Saya tidak tahu persis semua yang ada di kepalanya saat itu.

Tetapi saya tahu satu hal: ia tidak berhenti mencari jalan. Sambil mencari pengobatan untuk sakitnya, Pak Qomar juga mencari cara agar usaha tempenya tetap berjalan. Di sinilah saya melihat sesuatu yang menurut saya jauh lebih besar daripada sekadar kisah seorang pedagang tempe. Ia sedang mempertahankan hidup dengan cara yang sangat sederhana: mencari orang yang bisa membantunya. Beruntung, ada Slamet. Slamet membantu terutama dalam proses produksi. Pekerjaan yang sebelumnya dilakukan sendiri oleh Pak Qomar perlahan mulai bisa dikerjakan bersama. Tetapi persoalan belum  selesai. Tempe yang sudah dibuat tetap harus dijual. Produksi tanpa pemasaran tidak akan menjadi penghasilan. Untuk itu, Pak Qomar kemudian dibantu Erdi—bukan nama sebenarnya—dalam proses pemasaran. Harapannya sederhana. Tempe dipasarkan. Uang kembali. Usaha berputar. Keluarga tetap memiliki penghasilan. Tetapi harapan itu kembali menghadapi ujian. Uang dari pembeli tidak  disetorkan. Erdi kemudian pergi ke luar kota tanpa kabar. Saya bisa membayangkan betapa beratnya perasaan Pak Qomar ketika mengetahui hal tersebut.

Dalam keadaan usaha sedang berjuang untuk bangkit, justru ada orang yang dipercaya malah membuat keadaan semakin sulit. Marah tentu manusiawi. Kecewa apalagi. Dan mungkin ada rasa ingin berhenti. Sebab ketika kita sudah berada dalam keadaan sulit, kehilangan kepercayaan dari orang yang kita beri amanah terasa seperti pukulan kedua. Tetapi sekali lagi, Pak Qomar mencari jalan. 

Ia mencoba berdamai dengan Slamet.  Keduanya kemudian membuat kesepakatan yang disetujui bersama. Slamet akhirnya bersedia membantu bukan hanya dalam proses produksi, tetapi juga pemasaran Tempe Bening. Dari situ, perlahan usaha mulai bergerak kembali.  Produksi meningkat. Pemasaran mulai berjalan. Yang menarik, kualitas tempe tetap dijaga. Tidak ada jalan pintas dengan mengorbankan kualitas hanya karena sedang membutuhkan uang. Sedikit demi sedikit, Tempe Bening kembali menemukan ritmenya. 

 Saya suka bagian ini. Karena kebangkitan Pak Qomar bukanlah cerita tentang seseorang yang tiba-tiba menjadi kuat. Ia tidak sembuh dalam semalam. Usahanya juga tidak langsung kembali seperti dulu. Ia hanya melakukan satu hal setelah hal lain. Mencari  pengobatan. Mencari bantuan.  Mencari orang yang bisa dipercaya. Mencari cara agar produksi tetap berjalan. Mencari cara agar pemasaran kembali hidup. Dan terus mencoba.

Lalu saya bertanya kepadanya: Apa yang sebenarnya membuatnya tetap mau berjualan? Apa yang membuatnya masih ingin meningkatkan penjualan setelah mengalami begitu banyak persoalan? Jawabannya sederhana. “Anak-anak." Lima anaknya. Ia ingin menyekolahkan anak-anaknya. Bukan sekadar agar mereka sekolah. Ia memiliki mimpi yang lebih besar: pendidikan anak-anaknya harus lebih baik daripada pendidikan yang pernah diterima orang tuanya. 

Ada sesuatu yang sangat manusiawi dalam jawaban itu. Sebab bagi seorang ayah, kadang-kadang dirinya sendiri bisa menjadi alasan yang tidak cukup kuat untuk bertahan. Tetapi ketika menyangkut anak, batas daya tahan itu seolah diperpanjang. Kaki boleh sakit. Badan boleh tidak lagi tegap. Usaha boleh turun. Kepercayaan kepada orang lain boleh pernah dikhianati. Tetapi mimpi anak-anak tidak boleh ikut berhenti.

Pak Qomar juga memiliki mimpi lain. Ia ingin keluarganya memiliki rumah tinggal yang lebih layak. Bukan rumah mewah. Bukan sesuatu yang harus membuat orang lain kagum. Hanya rumah yang lebih baik untuk keluarganya. Tempat anak-anak tumbuh. Tempat keluarga berkumpul. Tempat seseorang bisa pulang setelah seharian bekerja.

Saya kira, bagi banyak orang, mimpi seperti itu terlihat kecil. Tetapi justru mimpi-mimpi kecil semacam itulah yang sering membuat seseorang sanggup menghadapi perjuangan besar. Kisah Pak Qomar membuat saya berpikir tentang satu hal:  kita sering salah memahami arti kekuatan. Kita mengira orang kuat adalah orang yang tidak pernah sakit. Padahal Pak Qomar menunjukkan hal yang berbeda. Orang kuat bisa saja sakit. Bisa takut. Bisa kecewa. Bisa marah. Bisa merasa lelah. Bisa membutuhkan bantuan. Bahkan bisa jatuh. Yang membuatnya kuat bukan karena ia tidak pernah mengalami semua itu. Melainkan karena setelah mengalaminya, ia masih mencari alasan untuk melanjutkan hidup. 

Barangkali inilah bentuk keberanian yang paling jarang kita rayakan. Bukan keberanian berdiri di atas panggung. Bukan keberanian memenangkan perlombaan. Bukan keberanian melakukan sesuatu yang kemudian menjadi viral. Tetapi keberanian seorang ayah yang pagi-pagi bangun dalam keadaan tubuh tidak sepenuhnya sehat, lalu berpikir: Hari ini saya harus mencoba lagi. Keberanian seorang ibu yang tetap memasak meskipun sedang lelah. Keberanian seorang buruh yang tetap berangkat meskipun penghasilannya tidak seberapa. Keberanian pedagang kecil yang tetap membuka lapak setelah dagangannya kemarin tidak laku. Keberanian orang tua yang tetap membayar uang sekolah anak meskipun harus menunda kebutuhannya sendiri.

Kita sering menyebut mereka orang biasa. Tetapi mungkin justru di sanalah letak kekeliruan kita. Sebab menjadi biasa bukan berarti perjuangannya kecil. Ada satu pelajaran penting dari Pak Qomar:  ketika kemampuan kita berkurang, jangan buru-buru menganggap hidup kita juga selesai. Pak Qomar tidak lagi mampu melakukan semua pekerjaan seperti dahulu. Maka ia mengubah cara bekerja. Ia mencari orang untuk membantu produksi. Ketika pemasaran bermasalah, ia mencari solusi lain. Ketika kepercayaan kepada seseorang runtuh, ia membangun kembali kerja sama dengan orang lain. Ia tidak memaksa dirinya menjadi orang yang sama seperti sepuluh tahun lalu. Ia belajar menerima kenyataan bahwa tubuhnya telah berubah, lalu mencari cara agar hidupnya tetap berjalan.

Ini pelajaran yang mungkin juga kita perlukan. Ada masa ketika kita tidak lagi bisa melakukan sesuatu dengan cara lama. Usia berubah. Kondisi berubah. Kemampuan berubah. Situasi keluarga berubah. Ekonomi berubah. Bahkan orang-orang yang dulu kita percaya bisa saja pergi. Jangan menghabiskan seluruh tenaga untuk meratapi bahwa semuanya tidak lagi seperti dahulu.

Tanyakan hal yang lebih penting: Dengan keadaan saya yang sekarang, apa yang masih bisa saya lakukan? Pertanyaan itu mungkin sederhana. Tetapi sering kali ia membuka pintu yang tidak terlihat sebelumnya. 

Dan ada satu hal lagi yang saya pelajari dari Pak Qomar. Bahwa cinta kepada keluarga tidak selalu hadir dalam kata-kata. Kadang cinta berbentuk tempe yang dibawa dengan sepeda motor. Berbentuk tangan yang tetap bekerja meski tubuh sakit. Berbentuk keberanian meminta bantuan ketika tenaga sendiri sudah tidak mencukupi. Berbentuk kesediaan bangkit setelah dikecewakan. Berbentuk mimpi sederhana agar anak-anak mendapatkan pendidikan yang lebih baik. Dan berbentuk sebuah rumah yang lebih layak untuk ditinggali.

inta, ternyata, sering kali tidak terdengar. Ia bekerja diam-diam. Ia bangun sebelum matahari. Ia pulang ketika hari sudah gelap. Ia menahan sakit tanpa banyak bercerita. Ia menghitung uang hasil penjualan sambil membayangkan biaya sekolah anak. Ia men yimpan sedikit demi sedikit harapan untuk masa depan. Mungkin itulah sebabnya orang-orang seperti Pak Qomar sering luput dari perhatian.

Mereka tidak memiliki kisah yang dramatis di televisi. Tidak ada kamera yang merekam perjuangan mereka setiap pagi. Tidak ada tepuk tangan ketika mereka berhasil menjual lebih banyak tempe. Tidak ada penghargaan ketika mereka berhasil menyekolahkan anak. Tetapi mereka tetap melakukannya. 

Hari demi hari. Hari ini, kondisi kesehatan Pak Qomar perlahan semakin membaik.  Langkahnya mungkin belum sepenuhnya tegap. Tetapi ada sesuatu yang tetap tegak dalam dirinya: harapan. Dan mungkin, pada akhirnya, itulah yang paling penting. Sebab tubuh manusia bisa melemah. Usaha bisa jatuh.  Orang yang dipercaya bisa mengecewakan. Rencana bisa gagal. Tetapi selama masih ada alasan untuk bangun, selalu ada kemungkinan untuk memulai lagi.

Pak Qomar menemukan alasannya pada kelima anaknya. Ia ingin mereka memiliki pendidikan yang lebih baik daripada orang tuanya. Ia ingin keluarganya memiliki rumah yang lebih layak. Mimpi itu mungkin sederhana. Tetapi cukup besar untuk membuat seorang lelaki berusia lima puluh tahun, dengan panggul yang pernah membuat setiap langkah terasa sakit, tetap berusaha menghidupkan kembali usaha tempenya.

Dari Pak Qomar saya belajar bahwa orang hebat tidak selalu mereka yang hidupnya tanpa luka. Orang hebat adalah mereka yang, meskipun terluka, masih memilih untuk menjaga sesuatu yang mereka cintai. Mereka mungkin tidak bisa berlari. Mungkin hanya mampu berjalan perlahan. Tetapi mereka tetap berjalan. Dan barangkali, dalam hidup ini, kita memang tidak selalu membutuhkan langkah yang cepat. Kita hanya perlu memastikan bahwa langkah itu tidak berhenti.

Jika hari ini Anda sedang lelah, tanyakan kepada diri sendiri: siapa yang sedang saya perjuangkan? Jika jawabannya adalah orang yang Anda cintai, mungkin Anda akan menemukan sedikit tenaga lagi untuk melanjutkan. Bukan karena Anda tidak takut. Bukan karena Anda tidak sakit. Bukan karena Anda tidak pernah kecewa. Tetapi karena ada seseorang yang membuat Anda berkata kepada diri sendiri: "Saya boleh lelah. Saya boleh berjalan pelan. Tetapi saya tidak boleh menyerah". Sebab bagi sebagian orang, bertahan bukan lagi tentang dirinya sendiri. Bertahan adalah cara paling sunyi untuk mengatakan kepada orang-orang yang dicintainya: "Selama saya masih mampu, saya akan terus berusaha

Tuesday, August 18, 2026

Essay 9. Mbah Slamet yang Tak Pernah Mengeluh

Selepas salat Zuhur, Mbah Slamet muda pernah duduk di rumah dengan perut kosong. Bukan karena sedang berpuasa. Bukan pula karena tidak ingin makan. Hari itu, beras di rumah memang sudah habis. Ia menoleh ke dapur. Tidak ada segenggam beras yang bisa dimasak. Tidak ada persediaan yang bisa diambil. Sementara di rumah itu ada tiga anak kecil—tiga keponakannya—yang menunggu sesuatu untuk dimakan.

Mbah Slamet masih muda ketika itu. Belum punya pekerjaan tetap. Belum punya usaha. Belum punya rumah sendiri. Hidupnya bahkan belum benar-benar menjadi miliknya sendiri. Tetapi tanggungjawab sudah datang lebih dulu. Ia bisa saja mengeluh. Bisa saja mengatakan, "Saya juga tidak punya apa-apa." Bisa saja memilih pergi dan membiarkan keadaan. Tetapi Mbah Slamet tidak melakukannya. Ia justru berpikir bagaimana caranya mendapatkan beras. Dari situlah, sebuah perjalanan panjang dimulai. Bukan  perjalanan yang indah. Bukan pula perjalanan yang mudah. Tetapi perjalanan seorang manusia yang sejak muda belajar satu hal: kalau hidup sedang sempit, jangan hanya menunggu pintu terbuka. Carilah jalan.

Hari ini usianya 65 tahun. Warga Desa Kaleng mengenalnya sebagai Mbah Slamet. Tubuhnya masih tegap. Perawakannya tinggi. Otot tangan dan kakinya masih terlihat menonjol di balik kulit yang mulai menua. Ketika berbicara, ia tidak banyak menggerakkan tangan. Tidak banyak mengeluh. Tidak banyak membesar-besarkan cerita. Justru itu yang membuat saya tertarik.

Ada orang-orang yang ketika bercerita tentang perjuangan hidupnya, seolah ingin memastikan kita tahu betapa berat penderitaannya. Mbah Slamet berbeda. Ia menceritakan masa lalunya seperti seseorang sedang membuka halaman lama sebuah buku. Pelan. Sederhana. Tanpa dramatisasi. Tetapi semakin lama saya mendengarkan, semakin saya sadar: hidup orang ini ternyata tidak ringan. Ia hanya sudah terlalu lama belajar mengangkat beban tanpa banyak suara.

Sejak SD, Mbah Slamet sudah mengenal apa yang disebut ngenger. Dalam kehidupan masyarakat Jawa, ngenger berarti ikut bekerja atau mengabdi kepada orang lain. Ia bekerja membantu keluarga yang ditempatinya, dan sebagai gantinya kebutuhan pokoknya dicukupi—makan, pakaian, dan tempat tinggal.

Bagi anak-anak seusianya, masa SD mungkin adalah masa bermain. Pagi masuk sekolah. Siang pulang. Sore bermain bersama teman-teman. Tetapi kehidupan Mbah Slamet berbeda. Sejak kecil ia sudah belajar bahwa untuk mendapatkan sesuap nasi, seseorang harus bekerja. Ia tidak punya banyak pilihan.

Ia menerima kehidupan sebagaimana adanya. Dan salah satu pekerjaan yang dipercayakan kepadanya adalah membuat "bothok", minyak kelapa. Pekerjaan itu dimulai sejak pagi. Kelapa tua harus disiapkan. Dikupas. Dibelah. Diparut. Kemudian diperas. Santannya dimasak. Api harus dijaga agar tidak terlalu besar. Pelan-pelan santan berubah. Airnya menguap. Minyak mulai terpisah. Endapan yang kemudian menjadi blondo harus dipisahkan. Minyak yang sudah jadi dimasukkan ke dalam botol kaca. Besoknya dilakukan lagi. Lusa dilakukan lagi. Dan hari berikutnya dilakukan lagi. Tidak ada mesin yang membuat pekerjaan menjadi cepat. Tidak ada tombol yang bisa ditekan untuk menyelesaikannya. Yang ada hanya tangan. Parutan. Kelapa. Api. Dan waktu.

Setelah pekerjaan itu selesai, ia tidak lantas beristirahat. Pada siang hingga sore hari, ia mencari rumput untuk pakan sapi. Sapi itu bukan miliknya. Ia memeliharanya dengan sistem "gaduhan atau paron"  Induk sapi dipelihara, dirawat, diberi makan. Jika kemudian beranak dan anak sapi itu dijual, hasilnya dibagi sesuai kesepakatan. 

Sederhana. Tetapi dari situlah Mbah Slamet belajar tentang tanggung jawab. Bahwa sesuatu yang dipercayakan kepada kita harus dirawat sebaik-baiknya. Mungkin itulah sebabnya ia bertahun-tahun dipercaya bekerja di tempat tersebut. Ia tidak banyak bicara. Ia bekerja.

Ada sesuatu yang menarik dari cara Mbah Slamet mengingat masa kecilnya. Ia tidak berkata, "Dulu saya miskin sekali." Ia tidak mengatakan, "Saya paling menderita." Ia hanya bercerita tentang apa yang ia kerjakan. Tentang kelapa. Tentang sapi. Tentang rumput. Tentang pekerjaan yang harus diselesaikan.

Seolah-olah bagi dirinya, kemiskinan bukan alasan untuk berhenti. Kemiskinan adalah keadaan yang harus dijalani sambil mencari jalan keluar. Dan mungkin cara pandang itulah yang kemudian menyelamatkannya ketika hidup memberinya ujian yang lebih berat.

Masa remaja datang. Tetapi kehidupan belum juga memberi ruang untuk bernapas. Dalam kondisi ekonomi yang belum mandiri, Mbah Slamet harus menanggung tiga orang keponakannya. Tiga anak kecil. Tiga kehidupan yang membutuhkan makan. Membutuhkan pakaian. Membutuhkan perhatian.

Dan suatu siang, selepas Zuhur, ia mengalami salah satu titik paling perih dalam hidupnya. Tidak ada beras. Barang segenggam pun tidak ada! Saya membayangkan suasana siang itu. Rumah yang sederhana. Udara panas. Perut yang kosong. Tiga anak kecil yang mungkin belum sepenuhnya mengerti mengapa makanan belum tersedia. Dan seorang pemuda yang harus berpikir bagaimana memberi makan mereka.

Ketika menceritakan bagian ini, mata Mbah Slamet berkaca-kaca. Untuk pertama kalinya dalam percakapan itu, saya melihat sesuatu yang berbeda di wajahnya. Bukan kemarahan. Bukan penyesalan. Melainkan ingatan tentang sebuah masa ketika hidup benar-benar berada di ujung kemampuan. Saya sendiri ikut diam. Ada cerita yang tidak membutuhkan banyak kata untuk terasa berat. Dan ini salah satunya.

Tetapi setelah tidak memiliki beras, Mbah Slamet justru menemukan jalan untuk berdagang beras. Ia mengambil gabah dari tetangga yang baru panen. Tidak harus dibayar saat itu juga. Kepercayaan menjadi modal pertamanya. Gabah diambil terlebih dahulu. Pembayaran dilakukan kemudian. Kadang setelah panen berikutnya.

Bayangkan. Hari ini banyak orang berbicara tentang modal usaha. Modal uang. Modal tempat. Modal kendaraan. Modal teknologi. Tetapi Mbah Slamet memulai dengan modal yang jauh lebih sederhana: kepercayaan. Karena ia dipercaya, ia mendapatkan barang. Karena mendapatkan barang, ia bisa berdagang. Karena berdagang, ia bisa mendapatkan uang. Dan uang itu kembali ke rumah. Menjadi beras. Menjadi makanan. Menjadi tenaga untuk melanjutkan hari.

Ia menjual beras dari pasar ke pasar. Dengan sepeda. Jaraknya bukan lima kilometer. Bukan sepuluh. Kadang 10 sampai 20 kilometer.  Saya membayangkan roda sepeda itu berputar di jalan yang mungkin belum sebagus sekarang. Panas. Hujan. Debu. Beban. Tubuh yang lelah. Tetapi sepeda terus dikayuh. Orang-orang di sekitarnya memperhatikan aktivitasnya yang tidak pernah berhenti. Lalu muncullah sebuah panggilan. Slamet Loyo. Karena ia terlihat begitu lelah dan tetap bekerja.

Saya tersenyum ketika mendengarnya. Tetapi kemudian saya berpikir, betapa sering manusia menilai seseorang dari apa yang terlihat tanpa mengetahui alasan di baliknya. Mereka melihat seorang lelaki yang tidak pernah berhenti. Tetapi mereka mungkin tidak melihat tiga anak kecil yang menunggu makanan di rumah. Mereka tidak melihat dapur yang kosong. Mereka tidak tahu bahwa setiap kilometer yang ditempuh adalah bagian dari usaha untuk mengisi kembali dapur itu. Dan ketika Mbah Slamet ditanya apakah ia tidak capek, jawabannya sederhana.

"Ya capek, Pak."

Ia tertawa. Lalu melanjutkan,

"Tapi kalau sudah melihat ada makanan untuk tiga balita keponakan saya, capek itu hilang."

Kalimat itu membuat saya lama terdiam. Karena ternyata manusia memiliki kemampuan luar biasa untuk mengubah rasa lelah menjadi sesuatu yang berbeda. Bukan ketika beban menjadi ringan. Tetapi ketika kita tahu untuk siapa kita memikulnya. Mungkin itu salah satu rahasia orang-orang yang bertahan. Mereka bukan tidak merasa lelah. Mereka hanya memiliki alasan yang lebih besar daripada rasa lelahnya. Mbah Slamet tidak mengatakan, "Saya kuat." Ia hanya mengatakan,

"Ada anak-anak yang harus makan."

Mas Rahmat tidak perlu mengatakan bahwa dirinya pahlawan. Ia hanya menyalakan wajan karena anaknya ingin kuliah. Mak Sri tidak membutuhkan panggung. Ia hanya menjaga dapurnya tetap menyala. Pak Musdar tidak membutuhkan penghargaan. Ia hanya ingin ketika pulang ada keluarga yang bisa makan. Orang-orang seperti ini sering kali tidak menyebut perjuangannya sebagai perjuangan. Mereka menyebutnya sebagai tanggung jawab. Dan mungkin karena itulah mereka sanggup melakukannya bertahun-tahun.

Tetapi Mbah Slamet tidak berhenti pada berdagang beras. Ia terus melihat peluang. Ia pernah menjual rendeng,  rumput untuk pakan ternak. Ia juga membuat  batu bata. Awalnya, batu bata dibuat satu demi satu. Tanah dicetak. Dilepas. Dijemur. Dipindahkan. Dibakar. Kemudian diulang lagi. Seribu batu bata dalam sehari bisa dibuatnya bersama istrinya. Seribu. Saya membayangkan tangan mereka bekerja sepanjang hari. Satu cetakan. Satu batu bata. Lalu satu lagi.

Mbah Slamet ternyata bukan hanya pekerja keras. Ia juga belajar mencari cara agar pekerjaan menjadi lebih efektif. Ketika kemudian ia menggunakan cetakan empat sekaligus, hasilnya meningkat berkali-kali lipat. Di situlah saya melihat sesuatu yang penting. Kerja keras bukan berarti melakukan hal yang sama selamanya. Kerja keras juga berarti mau belajar. Mau mencari cara. Mau memperbaiki proses. Mau melihat bahwa tenaga kita terbatas, sehingga cara bekerja harus terus berkembang.

Mbah Slamet tidak memiliki sekolah bisnis. Tidak mengikuti seminar kewirausahaan. Tidak membaca buku tentang produktivitas. Tetapi kehidupan mengajarinya langsung. Jika ingin maju, bukan hanya tenaga yang harus ditambah. Cara berpikir juga harus berubah. Dari pekerjaan-pekerjaan itu, sedikit demi sedikit kehidupan keluarganya mulai berubah. Tidak langsung. Tidak dramatis. Tidak seperti cerita sukses yang tiba-tiba mendapatkan modal besar lalu usahanya berkembang.

Perubahannya kecil. Sedikit demi sedikit. Ada uang untuk kebutuhan sehari-hari. Ada kesempatan menabung. Bisa membeli tanah. Bisa menyimpan material. Sampai akhirnya mereka memiliki rumah sendiri. Saya suka bagian ini. Karena rumah itu bukan sekadar bangunan. Di dalamnya ada ribuan perjalanan menggunakan sepeda. Ada keringat. Ada batu bata. Ada rumput yang dipanggul. Ada gabah yang dibawa pulang. Ada minyak kelapa yang dibuat sejak pagi. Ada tangan suami-istri yang mencetak bata satu demi satu.

Rumah itu sebenarnya adalah bentuk lain dari ketekunan. Dindingnya mungkin terbuat dari batu bata. Tetapi fondasinya dibangun dari ketidakmauan untuk menyerah. Ada satu kalimat Mbah Slamet yang menurut saya layak disimpan lama-lama. Ia menganggap beban hidup sebagai tanggungjawab yang harus dibayar dengan bekerja. Bekerja adalah ikhtiar. Dan rasa capek, menurutnya, sudah dibayar Allah dengan rasa syukur.

Saya tidak tahu apakah semua orang mampu memiliki cara pandang seperti itu. Saya sendiri belum tentu. Ada saat-saat ketika saya merasa lelah lalu ingin mengeluh. Ada saat ketika pekerjaan terasa terlalu berat. Ada ketika usaha terasa tidak sebanding dengan hasil. Ada saat ketika saya ingin bertanya:

"Mengapa harus saya?"

Karena itu saya tidak ingin menempatkan Mbah Slamet sebagai manusia yang tidak pernah lelah.  Ia lelah. Ia pernah lapar. Ia pernah berada dalam keadaan sulit. Ia pernah tidak memiliki beras. Ia harus bekerja jauh.  Ia harus mengurus tiga keponakan. Ia harus mencari jalan ketika tidak ada jalan yang mudah. Tetapi yang membedakannya adalah: ia tidak menjadikan kesulitan sebagai alasan untuk berhenti mencari ikhtiar.

Kita sering menunggu kehidupan menjadi lebih mudah sebelum mulai bergerak. Menunggu punya modal. Menunggu punya pekerjaan yang bagus. Menunggu kondisi membaik. Menunggu ada orang yang membantu. Menunggu kesempatan. Padahal hidup tidak selalu memberikan semua itu.

Kadang kita harus mulai dari apa yang ada. Mbah Slamet memulai dari apa yang ada.  Ada tenaga. Ia gunakan untuk bekerja. Ada kepercayaan tetangga. Ia gunakan untuk berdagang. Ada sepeda. Ia gunakan untuk mengangkut beras. Ada tanah. Ia gunakan untuk membuat batu bata. Ada seorang istri. Ia ajak bekerja bersama. Ada tanggung jawab. Ia terima sebagai bagian hidup.

Begitulah orang-orang biasa sering kali bertahan. Mereka tidak menunggu hidup memberi kondisi ideal. Mereka menggunakan apa yang tersedia untuk membuat kondisi sedikit lebih baik. Hari ini sedikit. Besok sedikit lagi. Sampai suatu hari mereka menoleh ke belakang dan sadar: ternyata saya sudah berjalan sangat jauh.

Ketika saya memikirkan Mbah Slamet, saya teringat satu hal. Kita sering mengira orang hebat adalah orang yang tidak pernah jatuh. Padahal mungkin orang hebat justru adalah orang yang jatuh, merasakan sakit, lalu bertanya:

"Apa yang masih bisa saya lakukan?

Bukan, "Mengapa kita hidup begini?

Bukan berarti pertanyaan itu tidak boleh. Boleh. Kita manusia. Kita boleh sedih. Boleh kecewa. Boleh menangis. Boleh merasa lelah. Tetapi setelah itu, ada satu pertanyaan yang harus kita bawa kembali ke kehidupan: "Apa satu langkah yang masih bisa saya lakukan hari ini?" Mungkin jawabannya kecil. Mencari satu pelanggan. Menghubungi satu orang. Mengerjakan satu tugas. Membuka warung. Memperbaiki satu motor. Mencetak seratus batu bata. Menjual satu karung beras. Atau sekadar bangun pagi dan kembali mencoba.

Tidak semua masalah selesai dalam satu hari. Tetapi hidup sering berubah justru karena kita mau melakukan satu hal kecil berulang-ulang. Hari ini, ketika melihat Mbah Slamet berdiri dengan tubuhnya yang masih tegap, saya tidak hanya melihat seorang lelaki berusia 65 tahun. Saya melihat perjalanan panjang seorang manusia. Seorang anak yang sejak SD belajar bekerja. Seorang pemuda yang pernah tidak memiliki beras. Seorang paman yang memikul tanggung jawab tiga keponakan. Seorang pedagang yang mengayuh sepeda puluhan kilometer. Seorang pekerja yang dipanggil Slamet Loyo karena tidak pernah berhenti bergerak. Seorang suami yang membuat batu bata bersama istrinya. Dan akhirnya seorang kepala keluarga yang berhasil membawa keluarganya dari hari-hari penuh kekurangan menuju sebuah rumah milik sendiri.

Ia tidak pernah memenangkan penghargaan. Tidak ada piala. Tidak ada panggung. Tetapi bukankah hidupnya sendiri sudah menjadi sebuah penghargaan? Saya akhirnya mengerti sesuatu dari Mbah Slamet. Mengeluh tidak selalu membuat beban menjadi lebih ringan. Tetapi bersyukur membuat kita mampu melihat bahwa di tengah beban selalu ada sesuatu yang masih bisa diperjuangkan. Dan perjuangan tidak harus besar. Tidak perlu menunggu menjadi kaya. Tidak perlu menunggu menjadi terkenal. Tidak perlu menunggu semua keadaan sempurna. 

Mulailah dari apa yang ada. Gunakan apa yang bisa digunakan. Kerjakan apa yang bisa dikerjakan. Jaga kepercayaan. Cari peluang. Belajar memperbaiki cara. Dan ketika lelah datang, jangan buru-buru menganggapnya sebagai tanda bahwa kita harus berhenti. Tanyakan kepada diri sendiri: "Untuk siapa saya melakukan ini?"


Barangkali jawabannya adalah anak. Barangkali keluarga. Barangkali orang tua. Barangkali seseorang yang kita cintai. Atau mungkin, untuk diri kita sendiri—untuk kehidupan yang suatu hari ingin kita bangun. Sebab sering kali bukan karena beban kita ringan sehingga kita mampu bertahan. Kita bertahan karena kita menemukan alasan untuk terus memikulnya. Mbah Slamet pernah mengayuh sepeda 20 sampai 30 kilometer untuk membawa pulang beras.


Hari ini mungkin kita tidak perlu mengayuh sejauh itu. Tetapi hidup tetap meminta kita melakukan perjalanan. Kadang melalui pekerjaan. Kadang melalui kegagalan. Kadang melalui kehilangan. Kadang melalui hari-hari yang terasa begitu panjang. Jika hari ini Anda sedang lelah, mungkin Anda tidak perlu memikirkan bagaimana menyelesaikan seluruh perjalanan. Cukup pikirkan satu hal: apa yang masih bisa Anda lakukan hari ini?

Lakukan itu. Besok, lakukan satu langkah lagi. Karena rumah yang kokoh tidak dibangun dalam sehari. Ia dibangun dari batu bata yang disusun satu per satu. Dan begitu pula kehidupan. Orang-orang hebat bukan mereka yang hidupnya tidak pernah diuji. Orang-orang hebat adalah mereka yang ketika hidup menguji, memilih untuk tetap bekerja, tetap bersyukur, dan tetap mencari jalan. 
Seperti Mbah Slamet. Tidak banyak mengeluh. Tidak banyak bicara. Hanya terus berjalan. Dan dari langkah-langkah kecil itulah, sebuah keluarga akhirnya memiliki rumah untuk pulang.

Friday, August 14, 2026

Essay 17. Pak Sugeng: Pagi, Segelas Kopi, dan Sampah yang Membiayai Mimpi


Pagi itu matahari belum terlalu tinggi, tetapi cahayanya sudah memantul keras di atas genteng-genteng rumah. Jalan di kompleks perumahan itu masih relatif lengang. Sebagian orang mungkin baru saja membuka pintu rumah, sebagian lainnya sedang bersiap berangkat bekerja.

Di salah satu sudut jalan, saya melihat sebuah kendaraan roda tiga berhenti. Bentuknya sederhana. Di bagian belakang ada bak untuk mengangkut sampah. Atap terpal menaunginya dari panas dan hujan. Cat pada beberapa bagian kendaraan sudah tidak lagi tampak baru. Debu menempel di roda. Kendaraan itu jelas bukan kendaraan yang dibuat untuk bergaya. Di atasnya duduk seorang lelaki yang usianya sudah lebih dari setengah abad. Tinggal di rumah kontrakan di kampung dekat dengan kompleks perumahan.

Namanya Pak Sugeng. Ia mengenakan topi dan pakaian kerja sederhana. Tangannya berada di setang kendaraan. Wajahnya tampak tenang. Tidak ada kesan bahwa pekerjaan yang sebentar lagi ia lakukan adalah sesuatu yang istimewa. Padahal, kalau kita mau berhenti sebentar dan melihat lebih dekat, mungkin kita akan menemukan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar seorang lelaki yang sedang mengangkut sampah.

Di situlah saya mulai memahami bahwa tidak semua perjuangan datang dengan suara keras. Ada perjuangan yang datang setiap pagi, dalam bentuk kendaraan tua, bau sampah, keringat, jalanan yang berdebu, dan segelas kopi panas yang dibuatkan seorang istri sebelum suaminya berangkat bekerja. Itulah perjuangan Pak Sugeng. Dan ia sudah melakukannya selama bertahun-tahun.

Pak Sugeng adalah lelaki kelahiran Sleman, Yogyakarta. Ia meninggalkan tanah kelahirannya dan memilih menetap di Kebumen. Ketika datang, ia mengaku tidak membawa banyak hal. Tidak ada modal besar. Tidak ada pekerjaan dengan gaji tetap. Tidak ada kepastian bahwa hidup di tempat baru akan menjadi lebih mudah. Yang ia bawa hanyalah niat untuk membangun kehidupan bersama keluarganya.

Pada awalnya, ia bahkan menjalani hidup dengan berpindah-pindah rumah kontrakan. Istilah yang ia gunakan sederhana dan agak menggelikan: menjadi “kontraktor”. Bukan kontraktor yang membangun gedung. Kontraktor rumah. Hari ini tinggal di sini. Ketika keadaan tidak memungkinkan, pindah ke tempat lain. Begitu seterusnya.

Tetapi hidup memang sering kali dimulai dari tempat yang tidak ideal. Yang penting bukan di mana kita memulai, melainkan apakah kita bersedia terus berjalan. Pada tahun 2006, ketika kompleks perumahan tempat ia bekerja mulai dibangun dan dihuni, Pak Sugeng mulai menjadi pemungut sampah. Waktu itu rumah yang dilayani masih beberapa saja. Tidak banyak.

Mungkin pekerjaan itu terlihat sederhana. Mengambil sampah dari rumah ke rumah, mengangkutnya, kemudian membawanya ke tempat pengelolaan. Tetapi dari pekerjaan yang kelihatannya sederhana itulah sebuah keluarga perlahan-lahan bertahan. Tahun berganti tahun. Rumah bertambah. Penghuni bertambah. Sampah bertambah. Dan pelanggan Pak Sugeng pun akhirnya menjadi hampir ratusan keluarga.

Saya membayangkan berapa kali ia harus menaiki dan menuruni kendaraan itu. Berapa banyak gang yang harus dilewati. Berapa banyak pintu rumah yang harus didatangi. Berapa banyak kantong sampah yang harus diangkat. Dan berapa banyak bau yang harus ia terima, sementara sebagian besar dari kita justru berusaha menjauh ketika mencium bau sampah.

Pekerjaan seperti itu jarang dipuji. Ketika rumah kita bersih, kita mungkin tidak pernah berpikir siapa yang membuat sampah di depan rumah kita menghilang. Kita baru menyadarinya ketika sampah tidak diambil. Ketika kantong-kantong mulai menumpuk. Ketika halaman mulai berbau. Ketika lalat datang. Barulah kita sadar bahwa ada seseorang yang selama ini bekerja dalam diam. Pak Sugeng adalah salah satunya. Saya bertanya kepadanya, apakah tidak capek melayani begitu banyak keluarga. Jawabannya sederhana.

“Ya capek, Pak.”

Saya suka kejujuran itu. Tidak ada kalimat motivasi yang dibuat-buat. Tidak ada jawaban sok kuat. Ya, ia capek. Tentu saja. Bagaimana mungkin tidak? Tetapi kemudian ia mengatakan sesuatu yang membuat saya terdiam. Capek itu hilang ketika melihat kebutuhan sehari-hari bisa dipenuhi. Terutama makan.

Kalimat itu terdengar sederhana. Tetapi bagi saya, justru di situlah letak kemewahan sebuah perjuangan. Bukan tentang punya mobil. Bukan tentang rumah besar. Bukan tentang bisa pergi berlibur. Bukan tentang bisa membeli sesuatu yang mahal. Bagi Pak Sugeng, perjuangan itu menjadi berarti ketika dari pekerjaan yang ia jalani, keluarganya masih bisa makan.

Ada hari ketika penghasilan terasa sedikit. Ada pelanggan yang membayar tepat waktu. Tetapi ada juga yang menunggak beberapa bulan. Bahkan ada yang kemudian pindah rumah dan meninggalkan kewajiban pembayaran. Bagi orang lain mungkin itu hanya beberapa bulan tagihan. Bagi keluarga yang menggantungkan hidup dari pungutan sampah, itu bisa berarti sesuatu yang jauh lebih besar. Karena penghasilan Pak Sugeng tidak tetap. Ia harus kreatif.

Ia tidak bisa hanya mengandalkan uang pungutan sampah. Maka pekerjaannya tidak berhenti ketika sampah diangkut. Di situlah saya melihat bahwa orang-orang seperti Pak Sugeng bukan sekadar pekerja kasar. Mereka adalah orang-orang yang setiap hari melakukan manajemen kehidupan. Menghitung. Menghemat. Mencari tambahan. Menyesuaikan diri. Bertahan. Dan mengulanginya lagi besok pagi.

Setiap pagi, sekitar pukul enam, Pak Sugeng berangkat. Sebelum itu, ada satu ritual kecil yang mungkin bagi orang lain tidak berarti apa-apa. Segelas kopi panas. Istrinya yang membuatkan. Saya membayangkan suasananya. Pagi yang masih menyisakan dingin. Asap tipis dari gelas kopi. Aroma kopi yang naik bersama uapnya. Mungkin tidak ada meja makan mewah. Tidak ada sarapan hotel. Hanya secangkir kopi yang menjadi bekal sebelum menjalani hari yang panjang. 

Tetapi sering kali, yang membuat seseorang kuat bukanlah sesuatu yang besar. Justru hal-hal kecil seperti itu.  Segelas kopi. Sapaan istri. Doa sebelum berangkat. Dan keyakinan bahwa di rumah ada keluarga yang menunggu. Pak Sugeng kemudian berangkat mengumpulkan sampah.

Sekitar pukul sepuluh, ia pulang. Namun pekerjaannya belum benar-benar selesai. Ada pembagian tugas yang sederhana tetapi sangat berarti antara dirinya dan istrinya. Setelah sampah dibawa dan disetor ke TPS3R kelurahan, istrinya melanjutkan pekerjaan. Ia memilah dan mengumpulkan barang-barang yang masih memiliki nilai ekonomi. Kardus. Kertas. Botol plastik. Botol kaca. Barang-barang bekas yang oleh sebagian orang dianggap tidak berguna.

Bagi keluarga Pak Sugeng, barang-barang itu belum tentu sampah. Ada kemungkinan bahwa di dalamnya masih tersimpan uang untuk membeli beras. Maka barang-barang itu dikumpulkan. Tidak sehari dua hari. Sedikit demi sedikit. Kalau sudah banyak, biasanya sekitar sebulan sekali, pengepul rongsok dipanggil. Barang ditimbang.  Kemudian dijual. Hasilnya mungkin tidak besar. Tetapi Pak Sugeng mengatakan, lumayan. Dan dalam kehidupan keluarga yang harus memenuhi banyak kebutuhan, kata “lumayan” bisa mempunyai arti yang sangat besar. Lumayan untuk membeli beras. Lumayan untuk membayar kebutuhan sekolah. Lumayan untuk kebutuhan rumah. Lumayan untuk membuat hari ini bisa dilewati.

Pak Sugeng memiliki tujuh anak. Tiga sudah berkeluarga. Empat masih bersamanya. Salah satunya adalah anak istimewa yang menyandang disabilitas. Seharusnya anak itu bisa bersekolah di sekolah luar biasa. Tetapi biaya menjadi kendala. Dan pada akhirnya, anak itu tidak bersekolah. Ada bagian dari cerita itu yang membuat saya merasa sesak.

Karena di balik angka-angka tentang kemiskinan, biaya pendidikan, dan keterbatasan akses, ada wajah seorang anak. Ada seorang ayah. Ada seorang ibu. Ada mimpi yang mungkin harus ditunda. Dan ada rasa bersalah yang mungkin diam-diam pernah muncul di hati orang tua ketika mereka tidak mampu memberikan apa yang seharusnya diterima anaknya.

Saya tidak tahu apakah Pak Sugeng pernah merasa marah kepada keadaan. Mungkin pernah. Saya kira manusiawi kalau pernah. Saya juga tidak ingin menggambarkan Pak Sugeng sebagai manusia yang selalu kuat, selalu tersenyum, dan tidak pernah mengeluh. Sebab orang yang bekerja keras pun bisa lelah. Orang tua yang mencintai anaknya pun bisa merasa tidak berdaya. Orang yang setiap hari berjuang pun bisa bertanya dalam hati, “Sampai kapan?”

Tetapi yang membuat saya kagum bukan karena Pak Sugeng tidak pernah merasa berat. Justru karena meskipun berat, ia tetap berangkat. Besok pagi ia tetap menghidupkan kendaraannya. Tetap mengambil sampah. Tetap memilah barang. Tetap mencari tambahan. Tetap pulang. Tetap mencoba. Di situlah arti “tidak menyerah” menjadi lebih nyata. Tidak menyerah ternyata bukan selalu tentang melakukan sesuatu yang luar biasa. Kadang-kadang tidak menyerah hanya berarti: besok pagi kita tetap bangun.

Pak Sugeng pernah bekerja sebagai tenaga kebersihan pada seorang saudagar kaya. Pekerjaan itu ia jalani lebih dari delapan tahun. Dari luar mungkin terlihat lebih baik. Ada majikan. Ada pekerjaan. Ada aturan. Tetapi menurut Pak Sugeng, ia merasa seperti terjerat. Banyak aturan. Harus begini. Tidak boleh begitu. Ia harus menyesuaikan dirinya dengan banyak hal. Dan selama masa itu, istrinya juga sering sakit-sakitan.

Pada akhirnya, ia memilih jalan yang mungkin secara ekonomi tidak lebih menjanjikan, tetapi terasa lebih merdeka. Menjadi pemungut sampah di kompleks perumahan. Penghasilannya tidak pasti. Pekerjaannya berat. Status sosialnya mungkin tidak tinggi. Tetapi ia merasa memiliki ruang untuk mengatur hidupnya sendiri.

Saya kira ini pelajaran yang sering terlupakan. Kita terlalu sering mengukur pekerjaan dari penghasilan. Padahal bagi sebagian orang, pekerjaan juga tentang martabat, kebebasan, waktu, kesehatan, dan kesempatan untuk menentukan arah hidup. Pekerjaan Pak Sugeng mungkin tidak membuatnya kaya. Tetapi pekerjaan itu memberinya sesuatu yang ia anggap penting: kesempatan untuk berdiri di atas kakinya sendiri. Ia tidak sedang mengejar kemewahan. Ia sedang mengejar kecukupan. Dan mungkin, bagi banyak keluarga, kecukupan adalah bentuk kemewahan yang sesungguhnya.

Yang paling kuat dari cerita Pak Sugeng bagi saya adalah kalimatnya tentang anak-anak. Dengan segala keterbatasannya, ia memiliki satu mimpi: anak-anaknya jangan sampai bernasib sama dengan orangtuanya.

Saya berhenti pada kalimat itu cukup lama. Karena di dalamnya ada cinta seorang ayah yang sangat sederhana. Ia tidak mengatakan anak-anaknya harus menjadi orang kaya. Tidak mengatakan mereka harus terkenal. Tidak mengatakan mereka harus mempunyai jabatan tinggi.Ia hanya tidak ingin anak-anaknya menjalani hidup sesulit yang ia jalani.

Bukankah banyak orang tua memiliki mimpi yang sama? Mereka bekerja bukan semata-mata untuk dirinya sendiri. Mereka ingin anak-anaknya mempunyai pilihan yang lebih banyak. Mereka ingin anak-anaknya bisa belajar. Mereka ingin anak-anaknya mempunyai pekerjaan yang lebih baik. Mereka ingin anak-anaknya tidak harus memilih antara makan dan sekolah. Mereka ingin memutus satu mata rantai kesulitan yang selama ini diwariskan dari generasi ke generasi. Dan untuk mewujudkan mimpi itu, Pak Sugeng memilih jalan yang mungkin tidak pernah masuk daftar pekerjaan impian siapa pun. Ia memilih menjadi pemungut sampah.

Saya kemudian berpikir tentang bagaimana kita sering memberi penghargaan kepada pekerjaan tertentu. Kita mudah kagum kepada dokter. Kita menghormati guru. Kita memuji pengusaha. Kita mengagumi orang yang memiliki jabatan. Semua itu baik. Tetapi ada pekerjaan yang keberadaannya baru terasa ketika tidak dikerjakan. Pemungut sampah salah satunya. Mereka bekerja supaya lingkungan kita tetap bersih. Mereka berhadapan dengan sesuatu yang kita buang. Mereka menyentuh sesuatu yang kita hindari. Dan sering kali, setelah pekerjaan itu selesai, kita tidak lagi mengingat siapa yang melakukannya.  Mungkin memang tidak semua pekerjaan membutuhkan tepuk tangan. Tetapi semua pekerjaan yang halal dan dilakukan dengan sungguh-sungguh layak mendapatkan penghormatan.

Pak Sugeng mengajarkan saya bahwa kehormatan seseorang tidak ditentukan oleh seberapa bersih pekerjaan itu di mata orang lain. Kehormatan muncul dari kesediaan seseorang menjalankan tanggung jawabnya dengan jujur. Ia mungkin mengangkut sampah orang lain. Tetapi sesungguhnya ia sedang mengangkut harapan keluarganya sendiri. Setiap kantong sampah yang ia angkat adalah bagian dari biaya hidup. Setiap botol plastik yang dikumpulkan istrinya adalah tambahan untuk dapur. Setiap rupiah yang masuk adalah bagian dari mimpi anak-anaknya.

Maka kendaraan tua itu, bagi saya, bukan sekadar kendaraan pengangkut sampah. Ia adalah kendaraan yang membawa sebuah keluarga melewati kehidupan. Kita sering berpikir bahwa orang hebat adalah mereka yang berhasil melakukan sesuatu yang besar. Padahal setelah bertemu orang-orang seperti Pak Sugeng, ukuran itu terasa terlalu sempit. Orang hebat bisa saja seseorang yang setiap pagi bangun sebelum matahari tinggi. Orang hebat bisa seseorang yang pekerjaannya tidak pernah masuk berita. Orang hebat bisa seseorang yang tidak pernah menerima penghargaan. Orang hebat bisa seseorang yang penghasilannya tidak seberapa, tetapi tetap berusaha agar anak-anaknya memiliki masa depan. Dan orang hebat bisa jadi adalah seseorang yang hari ini sedang kita lewati begitu saja.

Pak Sugeng tidak sedang mengubah dunia. Ia hanya mengambil sampah dari rumah-rumah. Tetapi ia sedang mengubah dunia kecil milik keluarganya. Ia sedang memastikan dapur tetap mengepul. Ia sedang menjaga agar anak-anaknya tetap mempunyai harapan. Ia sedang berusaha agar kehidupan keluarganya tidak berhenti pada keadaan yang ia terima sejak awal. Dan bukankah perubahan besar memang sering dimulai dari sana? Dari satu keluarga. Dari satu ayah. Dari satu ibu. Dari satu keputusan sederhana untuk tidak menyerah.

Mungkin kita tidak semua berada dalam situasi seperti Pak Sugeng. Tetapi hampir setiap orang pernah berada pada titik ketika hidup terasa terlalu berat. Pekerjaan tidak sesuai harapan. Penghasilan tidak cukup. Rencana berantakan. Usaha gagal. Anak membutuhkan sesuatu yang belum mampu kita berikan. Orang tua mulai menua.  Tagihan datang lebih cepat daripada uang. Pada saat seperti itu, kita sering bertanya:

“Apa yang harus saya lakukan?”

Cerita Pak Sugeng memberi jawaban yang sangat sederhana. Lakukan apa yang masih bisa dilakukan. Kalau penghasilan utama tidak cukup, cari tambahan. Kalau pekerjaan berat, jalani selangkah demi selangkah. Kalau keadaan tidak sesuai harapan, jangan berhenti mencari kemungkinan. Kalau hari ini belum bisa memberikan yang terbaik kepada anak-anak, jangan berhenti berusaha memberi mereka kesempatan yang lebih baik besok. Dan kalau kita belum mampu mengubah kehidupan secara besar-besaran, ubahlah sedikit demi sedikit.

Pak Sugeng tidak menyelesaikan seluruh masalah keluarganya dalam sehari. Ia menyelesaikannya melalui ribuan pagi. Pagi demi pagi. Tahun demi tahun. Sejak 2006 sampai hari ini. Bahkan jauh sebelum itu. Itulah yang sering tidak kita lihat dari sebuah keberhasilan. Kita hanya melihat hasil akhirnya. Kita lupa menghitung berapa banyak pagi yang harus dilalui seseorang untuk sampai ke sana.

Ketika saya melihat Pak Sugeng duduk di atas kendaraan pengangkut sampahnya, saya tidak lagi melihat seorang pemungut sampah. Saya melihat seorang ayah. Seorang suami. Seorang lelaki yang pernah meninggalkan tanah kelahirannya tanpa membawa banyak bekal, tetapi membawa satu keyakinan: keluarganya harus tetap hidup dan memiliki harapan. Saya melihat seseorang yang mungkin tidak bisa memberikan segala sesuatu kepada anak-anaknya. Tetapi ia memberikan sesuatu yang jauh lebih penting: contoh tentang bagaimana bertahan hidup.

 Ia mengajarkan bahwa hidup tidak selalu memberi kita pekerjaan yang kita inginkan. Tidak selalu memberi penghasilan yang kita harapkan. Tidak selalu memberikan fasilitas yang kita butuhkan. Tetapi selama masih ada kemauan untuk bekerja, masih ada keluarga yang dicintai, dan masih ada alasan untuk bangun esok pagi, harapan belum selesai. Mungkin suatu hari nanti anak-anak Pak Sugeng akan mengenang ayah mereka bukan karena berapa banyak uang yang pernah ia hasilkan. Mereka akan mengenangnya karena setiap pagi ayahnya pergi bekerja. Karena ayahnya tidak malu melakukan pekerjaan yang dianggap rendah oleh sebagian orang. Karena ayahnya tidak berhenti meskipun hidup tidak mudah. Dan karena di antara bau sampah, debu jalanan, kendaraan tua, serta segelas kopi panas dari tangan ibunya, ada sebuah pesan yang terus diwariskan:

“Hidup boleh sederhana. Keadaan boleh terbatas. Tetapi jangan berhenti berusaha membuat hari esok lebih baik.”

Barangkali itulah arti orang hebat yang sebenarnya. Bukan mereka yang selalu menang. Melainkan mereka yang berkali-kali berhadapan dengan keadaan, lalu tetap memilih untuk berjalan. Seperti Pak Sugeng. Setiap pagi, ketika sebagian dari kita masih menikmati rumah yang bersih, ia sudah berada di jalan. Mengambil sesuatu yang kita buang. Membawanya pergi. Dan tanpa banyak orang tahu, bersamaan dengan sampah itu ia juga sedang membawa sesuatu yang jauh lebih berharga, yaitu harapan untuk anak-anaknya.

Maka jika suatu pagi kita melihat seseorang memungut sampah di depan rumah, mungkin tidak perlu banyak kata. Cukup berhenti sebentar. Lihatlah ia sebagai manusia. Sapa.Hargai pekerjaannya. Bayar haknya tepat waktu. Sebab bagi kita mungkin hanya sejumlah uang pungutan sampah. Tetapi bagi seseorang seperti Pak Sugeng, uang itu bisa berarti nasi di meja makan, kebutuhan rumah tangga yang terpenuhi, atau satu langkah kecil menuju mimpi anak-anaknya.

Dan untuk kita sendiri, mungkin ada satu pelajaran yang bisa dibawa pulang: Jangan menunggu pekerjaan kita terlihat hebat untuk mulai menghargai perjuangan kita sendiri. Kerjakan apa yang ada di depan kita. Lakukan dengan jujur. Cari jalan ketika satu jalan buntu. Bertahan ketika keadaan belum berubah. Dan ketika alasan untuk menyerah terasa begitu kuat, ingatlah Pak Sugeng.

Seorang lelaki tua di atas kendaraan pengangkut sampah, yang setiap pagi berangkat bukan karena hidupnya mudah, tetapi karena ada keluarga yang dicintainya dan ada masa depan anak-anak yang ingin ia perjuangkan. Kadang-kadang, itulah keberanian yang paling sunyi. Tidak ada panggung. Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada kamera. Hanya jalanan, sampah, keringat, segelas kopi, dan sebuah mimpi yang menolak mati.

Essay 4. Tukimin: Di Usia Pensiun Berani Memulai dari Nol

 


Siang itu matahari Kebumen terasa cukup terik. Saya bertemu Tukimin, 62 tahun, di sebuah rumah adiknya  yang sedang direnovasi. Atap rumah sedang dibongkar. Beberapa bagian bangunan terlihat berantakan. Kayu-kayu berserakan, bambu cagak dan steger dipasang  di beberapa  sisi, dan suara orang bekerja sesekali terdengar dari atas rumah. 

Tukimin ada di sana. Bukan duduk santai sebagai seorang pensiunan. Ia justru sedang membantu pekerjaan tukang. Keringat membasahi wajah dan bajunya. Tangannya tampak aktif. Geraknya memang tidak secepat orang yang masih muda, tetapi ada sesuatu yang langsung menarik perhatian saya:semangatnya tidak terlihat seperti orang yang sedang menjalani masa pensiun.*

Saya sempat berpikir, mungkin inilah rahasianya. Bagaimana seseorang yang sudah berusia 62 tahun masih terlihat begitu bugar? Kami kemudian berbincang. Tukimin bercerita bahwa kurang lebih empat tahun sebelumnya ia pensiun dari pekerjaannya sebagai karyawan di lingkungan Pemerintah Kabupaten Kebumen. Selama puluhan tahun, sebagian besar waktunya dihabiskan untuk bekerja dan melayani tugas kedinasan. “Dulu saya berangkat jam enam pagi,” katanya. Bahkan, sering kali lebih pagi. Pulangnya? Tidak jarang setelah Isya. Ada kalanya baru sampai rumah sekitar pukul sepuluh malam.

Saya membayangkan rutinitas itu. Pagi ketika sebagian orang masih menikmati kasur dan udara dingin, ia sudah berangkat. Siang habis untuk pekerjaan. Sore belum tentu bisa pulang. Malam pun kadang masih berada di luar rumah. Puluhan tahun menjalani kehidupan seperti itu membuat tubuh dan pikirannya terbiasa dengan satu hal: bergerak!

Karena itu ketika pensiun datang, ia tidak ingin tiba-tiba berhenti. Menurutnya, pensiun boleh berarti berhenti dari tugas kantor. Tetapi tidak berarti berhenti beraktivitas. “Pensiun itu bukan berhenti bekerja,” kira-kira begitulah prinsip yang ia jalani. “Pensiun itu saatnya bekerja dengan cara yang berbeda.”

Saya terdiam mendengar kalimat itu.  Sebab, bagi banyak orang, pensiun sering dibayangkan sebagai garis akhir. Setelah puluhan tahun bekerja, seseorang membayangkan akan bangun lebih siang, duduk lebih banyak, menikmati waktu bersama keluarga, atau sekadar menjalani hari tanpa target. Tidak ada yang salah dengan semua itu. Tetapi Tukimin memilih jalan lain. Ia ingin menggunakan masa pensiunnya untuk membayar sesuatu yang selama bertahun-tahun tertunda: mimpi, hobi, keinginan, sekaligus tanggung jawab kepada keluarga. Namun ternyata hidup tidak sesederhana rencana. Salah satu impian Tukimin dan hampir semua orang,  ketika pensiun adalah tidak lagi memiliki utang. Ia ingin memasuki masa tua dengan perasaan lebih ringan.

 Pendapatan pensiun memang tidak sebesar ketika masih aktif bekerja. Sementara kebutuhan hidup tetap berjalan. Ada kebutuhan keluarga. Ada kebutuhan sosial. Ada hajatan. Ada kondangan. Ada tetangga yang membutuhkan bantuan. Ada keluarga yang meminta pertolongan. Dan di masyarakat seperti lingkungan tempat Tukimin tinggal, hubungan sosial adalah bagian dari kehidupan. Kita tidak hidup sendirian. Ada saatnya kita membantu. Ada saatnya kita dibantu.

Persoalannya, kebutuhan sosial kadang membutuhkan uang dalam jumlah yang tidak kecil. Ketika pendapatan terbatas, pilihan yang tersedia tidak banyak. Akhirnya, pinjaman menjadi salah satu jalan. Maka impian untuk pensiun tanpa utang ternyata tidak mudah diwujudkan. Saya bisa membayangkan perasaan yang mungkin muncul. Kecewa. Cemas. Bahkan mungkin malu. Sebab setelah puluhan tahun bekerja, seseorang tentu ingin memasuki usia pensiun dengan perasaan bahwa dirinya sudah cukup. Tetapi hidup kadang berkata lain.

Dan di titik seperti itulah seseorang diuji: apakah ia akan berhenti karena keadaan tidak sesuai dengan rencana, atau mencari jalan lain? Tukimin memilih mencari jalan. Ia dan istrinya memutuskan untuk memulai dari nol.

Kalimat itu terdengar sederhana. Tetapi memulai dari nol di usia 50-an akhir atau 60-an bukan perkara mudah. Ketika masih muda, kita punya tenaga. Kalau gagal, masih ada banyak waktu untuk mencoba lagi. Tetapi ketika usia sudah memasuki kepala enam, pertanyaan yang muncul bisa lebih berat.

“Masih sanggupkah?”

“Siapa yang mau membeli?”

“Kalau gagal bagaimana?”

“Bukankah seharusnya saya sudah menikmati masa tua?”

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu sangat manusiawi.

Saya pun membayangkan, mungkin Tukimin pernah memiliki keraguan yang sama. Tetapi ia tidak membiarkan keraguan itu menjadi alasan untuk diam. Ia mulai dari sesuatu yang paling dekat dengannya: tanah dan halaman rumah. Ia bercocok tanam.  Tidak muluk-muluk. Tidak langsung membayangkan menjadi petani besar. Ia menanam sayuran untuk kebutuhan sehari-hari. Kangkung. Genjer. Daun kelor. Berbagai tanaman yang bisa dimanfaatkan untuk dapur. Pelan-pelan, kebun kecil itu menjadi sumber kehidupan. Ketika istrinya memasak, tidak selalu harus pergi ke pasar untuk membeli sayuran. Tinggal mengambil dari kebun. Sederhana. Tetapi dari kesederhanaan itu muncul satu hal penting: penghematan. Apa yang sebelumnya harus dibeli, sekarang bisa dihasilkan sendiri.

Dan ternyata hasil kebunnya tidak berhenti di meja makan keluarga. Tetangga yang membutuhkan juga bisa meminta. Kangkung bisa dibagi. Genjer bisa dibagi. Daun kelor bisa dibagi. Barangkali secara ekonomi nilainya tidak seberapa. Tetapi dari sana saya melihat sesuatu yang lebih besar. Tukimin tidak sedang sekadar berkebun. Ia sedang membangun kembali rasa percaya dirinya. Ia sedang mengatakan kepada dirinya sendiri bahwa usia tidak membuat seseorang menjadi tidak berguna. Ia masih bisa menghasilkan sesuatu. Ia masih bisa memberi. Ia masih bisa membantu. Dan ia masih bisa menjadi bagian dari kehidupan orang lain.

Dari kebun, Tukimin kemudian mencoba memelihara ikan. Ia memanfaatkan lahan di sekitar rumah. Lele dan gurame menjadi pilihannya. Ia memiliki cara sederhana untuk memenuhi kebutuhan pakan. Ia menanam lumbu atau keladi, juga singkong. Daunnya dapat dimanfaatkan untuk pakan. Ia menyebut ikan itu seperti “sapi yang berada di air”. Saya tersenyum ketika mendengarnya. Ada kebijaksanaan yang sederhana dalam cara berpikir seperti itu. Tidak harus memiliki lahan luas. Tidak harus memiliki modal besar. Tidak harus memulai dengan sesuatu yang spektakuler. Manfaatkan apa yang ada di sekitar kita. Halaman yang selama ini kosong bisa menjadi tempat memelihara ikan. Tanah yang selama ini tidak menghasilkan apa-apa bisa ditanami sayuran. Tanaman yang ada di sekitar rumah bisa dimanfaatkan. Dan dari sesuatu yang kecil, sedikit demi sedikit, kehidupan ekonomi keluarga bisa ditopang.


Tukimin kemudian memelihara ayam. Saat saya mendengar ceritanya, jumlahnya juga tidak fantastis. Dua ekor pejantan. Enam ekor betina. Hanya delapan ekor. Tetapi Tukimin melihat peluang dari delapan ekor ayam itu. Telurnya bisa dimanfaatkan untuk konsumsi. Telurnya bisa ditetaskan. Anaknya bisa dipelihara dan dijual. Belum lama ini, ia bahkan berhasil menjual sekitar 20 ekor anakan ayam. Laku. Dan bagi orang yang sedang berusaha menopang kebutuhan keluarga dari usaha kecil, kata “laku” mungkin terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya sangat berarti. Ada uang yang masuk. Ada hasil dari kerja keras. Ada bukti bahwa usaha kecil yang ditekuni bisa menghasilkan. Mungkin tidak langsung besar. Tetapi cukup untuk membuat seseorang berkata kepada dirinya sendiri:

“Ternyata saya masih bisa.” Dan saya kira, kalimat itulah yang penting.

Sebab dalam usia pensiun, tantangan terbesar terkadang bukan hanya soal uang. Tetapi soal keyakinan bahwa kita masih mampu. Tukimin tidak berhenti di pertanian dan peternakan. Ia juga memanfaatkan jaringan pertemanan dan relasi yang sudah dibangun selama bertahun-tahun.  Pengalaman bekerja membuatnya memiliki banyak kenalan. Salah satunya dengan orang-orang di Puskesmas se Kabupaten.


Ia dan istrinya mencoba menawarkan produk makanan dan minuman. Jus buah. Makanan khas seperti empek-empek Palembang. Tidak selalu langsung besar. Tetapi ada yang membeli. Ada pelanggan. Ada perputaran uang. Ada kesempatan. Di sinilah saya semakin memahami apa yang sebenarnya dilakukan Tukimin.

Ia bukan sedang mencari pekerjaan baru. Ia sedang membangun kehidupan baru. Dan itu berbeda. Ia tidak lagi bekerja karena diperintah atasan. Tidak ada absensi. Tidak ada meja kantor. Tidak ada surat tugas. Tidak ada rutinitas kedinasan seperti dulu. Sekarang ia bekerja karena ada kebutuhan yang ingin ia penuhi dan mimpi yang ingin ia selesaikan. Karena itu ia mengatakan satu hal yang menurut saya sangat penting: "Kalau sudah pensiun, jangan setengah-setengah" Bertani, tekuni. Beternak, tekuni. Berjualan, tekuni. Jangan terus berpindah hanya karena satu usaha belum memberikan hasil dalam waktu singkat. 


“Periode pensiun bukan saatnya coba-coba,” begitu prinsip yang saya tangkap dari ceritanya. Ada sesuatu yang dalam dari kalimat itu. Ketika masih muda, mencoba berbagai hal memang penting. Tetapi di usia yang lebih matang, kita perlu belajar memilih. Tenaga tidak sebanyak dulu. Waktu juga tidak terasa panjang. Maka apa pun yang dipilih, harus dikerjakan dengan sungguh-sungguh. Saya kemudian melihat kembali Tukimin yang siang itu berkeringat membantu renovasi rumah. Mungkin itulah jawaban dari pertanyaan saya tentang rahasianya tetap sehat. Bukan sekadar olahraga. Bukan semata-mata makanan. Bukan pula karena keberuntungan. Ia tetap bergerak. Tubuhnya diberi pekerjaan. Pikirannya diberi kesibukan. Hatinya diberi alasan untuk bangun setiap pagi. Dan yang paling penting, ia masih memiliki sesuatu yang ingin diperjuangkan.

Dari cerita Tukimin saya belajar bahwa mimpi tidak selalu datang dalam bentuk yang besar. Ketika kita masih muda, mimpi mungkin berupa rumah. Pendidikan anak. Pekerjaan. Usaha besar. Tabungan. Perjalanan. Atau kehidupan yang lebih mapan. Tetapi ketika usia bertambah, mimpi bisa berubah bentuk. Mimpi bisa sesederhana tidak ingin merepotkan anak. Mimpi bisa berupa ingin memenuhi kebutuhan keluarga sendiri. Mimpi bisa berupa ingin terbebas dari utang. Mimpi bisa berupa ingin memiliki kebun kecil yang menghasilkan. Atau sekadar ingin tetap sehat dan berguna.

Mimpi tidak pernah punya ukuran yang sama untuk setiap orang. Dan menurut saya, di situlah letak keindahannya. Tukimin mengajarkan bahwa memulai dari nol bukan hanya milik orang muda. Kita sering menganggap usia sebagai batas.

“Sudah terlalu tua.”

“Sudah terlambat.”

“Sudah tidak punya modal.”

“Sudah tidak punya tenaga.”

“Sudah waktunya istirahat.”

Padahal, mungkin yang sebenarnya sudah habis bukan kesempatan. Melainkan keberanian kita untuk memulai. Tukimin tidak memiliki kehidupan tanpa masalah. Ia tetap menghadapi kebutuhan. Ia tetap menghadapi keterbatasan pendapatan. Ia masih harus memikirkan utang. Ia tidak tiba-tiba menjadi pengusaha sukses dengan omzet besar. Tidak ada kisah ajaib dalam hidupnya.

Yang ada justru sesuatu yang jauh lebih dekat dengan kehidupan kita: sedikit demi sedikit. Hari ini menanam. Besok menyiram. Hari berikutnya merawat. Memelihara ayam. Memberi makan ikan. Mencari pembeli. Menawarkan jus. Menjual makanan. Menyambung silaturahmi. Lalu mengulanginya lagi. Dan lagi. Sampai sesuatu yang kecil mulai menghasilkan.

Saya kira begitulah sebenarnya banyak kehidupan dibangun. Bukan dengan satu lompatan besar. Tetapi dengan langkah-langkah kecil yang tidak pernah benar-benar dihentikan. Tukimin juga mengingatkan saya bahwa keberhasilan tidak selalu harus diukur ĝdari berapa banyak uang yang berhasil dikumpulkan. Ada ukuran lain yang sering kita lupakan. 

Apakah kita masih sehat?

Apakah kita masih bisa bekerja?

Apakah keluarga masih bisa makan dari hasil tangan sendiri?

Apakah tetangga masih mau datang dan berbagi cerita?

Apakah kita masih memiliki teman?

Apakah kita masih bisa membantu orang lain?

Apakah kita masih punya alasan untuk bangun setiap pagi?

Kalau jawabannya iya, mungkin hidup kita jauh lebih kaya daripada yang selama ini kita kira. Dan mungkin, itulah arti sebenarnya dari mimpi yang menolak padam. Mimpi bukan berarti seseorang harus terus mengejar sesuatu yang besar. Mimpi adalah keberanian untuk berkata: Saya belum selesai! Bahkan ketika usia mengatakan sebaliknya. Bahkan ketika penghasilan menurun.Bahkan ketika rencana tidak berjalan seperti yang diharapkan. Bahkan ketika harus memulai kembali dari nol.

Saya pulang dari pertemuan dengan Tukimin membawa satu pelajaran sederhana. Kalau suatu hari nanti kita memasuki masa pensiun, jangan hanya bertanya:

“Apa yang akan saya lakukan setelah berhenti bekerja?”

Tanyakan juga:

“Apa yang masih ingin saya hidupkan?”

Mungkin ada keterampilan yang dulu tertunda. Mungkin ada tanah yang belum dimanfaatkan. Mungkin ada hobi yang bisa menghasilkan. Mungkin ada usaha kecil yang bisa dimulai. Mungkin ada hubungan lama yang bisa kembali disambung. Mungkin ada mimpi yang selama puluhan tahun kita simpan karena terlalu sibuk bekerja.

Tidak perlu menunggu semuanya sempurna. Mulailah dari apa yang ada. Dari halaman rumah. Dari dua ekor ayam. Dari beberapa kolam ikan. Dari sebidang tanah. Dari resep makanan. Dari jaringan pertemanan. Dari tangan sendiri. Dan yang paling penting, mulailah dari keyakinan bahwa usia bukan alasan untuk berhenti menjadi berguna. Sebab pada akhirnya, mungkin yang membuat seseorang tetap muda bukanlah usia yang tertulis di kartu identitas. Melainkan semangat untuk terus bergerak.

Tukimin sudah membuktikannya. Di usia 62 tahun, ia masih berkeringat. Masih bekerja. Masih menanam. Masih beternak. Masih berjualan. Masih bersilaturahmi. Masih membantu orang lain.  Dan yang paling penting, masih bermimpi. Bukan mimpi yang besar dan gemerlap. Melainkan mimpi yang sangat sederhana: hidup cukup, keluarga terpenuhi, utang perlahan lunas, dan dirinya tetap bisa berdiri dengan kaki sendiri. Mungkin itulah keberanian yang sering tidak kita lihat.

Berani memulai dari nol, ketika orang lain mengira kita sudah seharusnya berhenti. Dan barangkali, selama seseorang masih memiliki keberanian untuk memulai lagi, sebenarnya ia tidak pernah benar-benar memasuki masa tua. Ia hanya memasuki babak baru dalam hidupnya. Babak ketika mimpi tidak lagi dikejar dengan tergesa-gesa. Tetapi dirawat dengan ketekunan. Karena mimpi yang paling hebat bukanlah mimpi yang selalu mudah diwujudkan. Mimpi yang paling hebat adalah mimpi yang tetap menyala, bahkan ketika kehidupan berkali-kali memaksa kita untuk menyerah.

Tuesday, August 11, 2026

Essay 18. Orang Hebat itu Bernama Musliman

Siang itu, saya sedang duduk di sebuah warung ketika seorang lelaki tua datang mendorong gerobak rongsok. Gerobaknya panjang. Catnya sudah pudar. Di beberapa bagian, besinya mengilap, mungkin karena terlalu sering disentuh tangan dan terkena panas matahari. Isinya tidak terlalu penuh hari itu. Ada beberapa barang bekas yang bertumpuk seadanya, sebagian terlihat sudah berkarat.

Ia berhenti di depan warung, lalu memesan es teh. Saya memperhatikannya diam-diam. Bajunya sederhana. Wajahnya basah oleh keringat. Kulitnya tampak legam oleh matahari. Tetapi anehnya, senyum orang itu muncul lebih dulu daripada keluhannya. Saya menyapanya.

“Dari mana, Pak?”

“Dari pasar. Jualan rongsok,” jawabnya pelan.

Saya lalu bertanya namanya.

“Liman.”

Ia berhenti sebentar.

“Musliman.”

Nama itu sederhana. Tapi saya belum tahu, beberapa hari kemudian nama itu akan tinggal cukup lama di kepala saya. Dua hari setelah pertemuan di warung itu, kami membuat janji untuk bertemu di rumahnya.

Jumat sore saya datang. Rumahnya sederhana. Tidak banyak perabot. Tidak ada ruang tamu yang dipenuhi kursi mahal, meja besar, atau hiasan yang membuat orang merasa sedang berkunjung ke rumah orang berada. Hanya ada dua kursi kayu. Dua kursi itu cukup untuk kami duduk berhadapan.

Dan di sanalah saya mendengar cerita tentang seorang lelaki berusia 64 tahun yang sepanjang hidupnya seperti sedang bernegosiasi dengan keadaan. Ia tidak selalu menang. Tetapi ia tidak pernah benar-benar menyerah.

Pak Musliman sekarang hidup bersama dua anaknya, Ahmad Marhaban dan Fatimah, si bungsu. Anak pertamanya, seorang perempuan, sudah berkeluarga dan tinggal bersama suami serta empat anak mereka. Istrinya sudah tiga tahun berpulang karena sakit. Sementara itu, kondisi tangan kirinya tidak sempurna. Saya sempat ragu sebelum bertanya.

“Pak, kalau setiap hari mendorong gerobak rongsok begini, apa tidak capek?”

Ia tertawa kecil. Bukan tertawa seorang yang sedang berpura-pura kuat. Tawa itu justru terasa seperti tawa orang yang sudah lama berdamai dengan rasa lelah.

“Capek itu ada,” katanya.

Lalu ia melanjutkan,

“Tapi hilang kalau ingat semangat anak saya yang ragil ini buat sekolah dan kuliah.”

Saya terdiam. Kalimatnya sederhana. Tetapi mungkin di situlah seluruh hidup Pak Musliman bisa diringkas.  Capek itu ada. Ia tidak mengatakan bahwa hidupnya mudah. Ia tidak mengatakan bahwa mendorong gerobak adalah pekerjaan ringan. Ia tidak mengatakan bahwa kemiskinan tidak menyakitkan. Ia hanya mengatakan bahwa ada sesuatu yang lebih besar daripada rasa capek itu.

Anaknya.

Harapan.

Dan keinginan agar anaknya memiliki kehidupan yang sedikit lebih baik daripada kehidupan yang ia jalani.

Pak Musliman rupanya sudah belajar bekerja sejak kecil. Ketika masih SD, ia sudah berjualan es lilin keliling. Bayangkan seorang anak dengan kaki kecil, membawa dagangan, berjalan dari satu tempat ke tempat lain demi mendapatkan uang. Ia bahkan pernah berjalan sampai Gunung Prigi. Ia juga pernah berjualan sayur dari kampung ke kampung.   

Sejak kecil, hidup seperti memberikan pelajaran yang tidak pernah tertulis di buku sekolah: Kalau ingin makan, harus bergerak. Kalau ingin bertahan, jangan terlalu lama menunggu keadaan berubah. Puluhan tahun kemudian, pelajaran itu masih ia jalani. Bedanya, es lilin sudah berganti menjadi rongsok. Gerobaknya kini menjadi bagian dari hidupnya.

Setiap hari sekitar pukul 03.00 pagi, ketika sebagian besar orang masih terlelap, Pak Muslim sudah keluar membawa gerobaknya menuju pasar. Pukul tiga pagi. Saat rumah-rumah masih gelap. Saat sebagian orang baru saja menarik selimut lebih tinggi. Saat jalanan belum ramai. Ia sudah bekerja.

Di pasar, ia mencari apa saja yang masih bisa dijual. Barang bekas yang bagi orang lain sudah tidak berguna, baginya mungkin masih memiliki nilai beberapa ribu rupiah.

Siang hari ia pulang. Beristirahat. Salat.

Kemudian sore harinya ia kembali keluar. Kali ini arahnya berbeda. Menyusuri desa. Melihat tong sampah. Bertanya kepada tetangga. Mencari orang yang memiliki barang bekas dan tidak lagi digunakan.

Membeli rongsok.

Mengumpulkannya

Mendorongnya.

Menjualnya lagi.

Besok diulangi.

Lusa diulangi.

Minggu depan diulangi.

Bertahun-tahun diulangi.

Tidak ada panggung. Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada orang yang berdiri di pinggir jalan sambil berkata, “Hebat, Pak!” Bahkan mungkin sebagian orang hanya melihat gerobaknya sebagai sesuatu yang mengganggu jalan.

Pekerjaan seperti itu sering kali hanya terlihat ketika kita membutuhkan hasilnya, tetapi tidak ketika seseorang sedang berjuang mendapatkannya.

Kita menikmati rumah yang bersih, tetapi jarang memikirkan orang yang mengambil barang-barang yang sudah kita buang. Kita melihat barang bekas sebagai sampah. Bagi Pak Musliman, sebagian sampah itu adalah biaya sekolah anaknya.

Dan di situlah saya merasa malu. Bukan karena saya lebih baik darinya. Justru sebaliknya. Saya menyadari betapa mudahnya kita mengukur keberhasilan seseorang dari apa yang terlihat.

Mobil.

Rumah.

Jabatan.

Penghasilan.

Pengikut.

Pakaian.

Gelar.

Padahal ada orang-orang yang keberhasilannya tidak pernah masuk media sosial. Keberhasilan mereka mungkin hanya berupa uang sekolah yang lunas. Anak yang bisa terus belajar. Dapur yang tetap mengepul. Atau sekadar kemampuan untuk bangun lagi keesokan pagi meskipun hari sebelumnya terasa sangat berat.

Perjuangan Pak Musliman juga tidak otomatis membuat semua anaknya dapat terus sekolah. Ahmad, anak laki-laki dan kakaknya melihat keterbatasan bapaknya. Ia memilih berhenti sekolah setelah MTs. Kemudian Ahmad  merantau ke Yogyakarta. Hampir dua tahun ia bekerja sebagai kuli bangunan. Sempat pindah kerja dalam pekerjaan yang sama di Jakarta.

Saya membayangkan betapa beratnya menjadi seorang anak yang masih muda, meninggalkan rumah, kemudian bekerja dengan tenaga sendiri karena tahu keluarganya tidak punya banyak pilihan.  Tetapi ada sesuatu yang menarik dari perjalanan Ahmad. Ia tidak pulang dengan tangan kosong. Ia pulang membawa keahlian. Selama bekerja sebagai kuli bangunan, ia belajar. Ia melihat. Ia berlatih. Ia menguasai pekerjaan. Sampai akhirnya ia mampu berdiri sebagai seorang tukang.

Kemampuan itu kemudian menjadi bagian dari kehidupan keluarganya sendiri. Ketika rumah mereka mendapatkan bantuan program bedah rumah, orang yang memaku, mengaduk semen, memasang atap, dan mengerjakan berbagai bagian pembangunan adalah Ahmad.

Bapak dan anak itu bekerja bersama. Yang satu mengumpulkan rongsok. Yang satu mengolah keterampilan dari pekerjaan bangunan. Tidak ada yang tiba-tiba menjadi sukses. Mereka hanya mengumpulkan sedikit demi sedikit apa yang mereka punya. Tenaga. Waktu. Keahlian. Kesabaran. Dan doa. Dari sana mereka kemudian merintis warung  kelontong, sayuran segar dan makanan  jajan anak-anak. Warung kecil. Tidak mewah. Tetapi ramai. Hasil warung dikumpulkan. Hasil rongsok dikumpulkan. Sedikit demi sedikit.

Ada cerita lain yang membuat saya terdiam. Istri Pak Musliman dulu punya kebiasaan menyisihkan uang lima ratusan. Uang limaratusan kertas itu dilipat kecil-kecil, kemudian dimasukkan ke dalam kantong plastik. Begitu juga koin receh itu dikumpulkan dan dimasukkan ke dalam kantong plastik. Kalau dilihat satu per satu, jumlahnya seperti tidak berarti.

Lima ratus rupiah.

Lima ratus rupiah lagi.

Lima ratus rupiah lagi.

Tetapi uang kecil yang dikumpulkan dengan sabar ternyata bisa berubah menjadi sesuatu yang besar. Ketika kantong plastik itu dibuka, uang tersebut cukup membantu membiayai sekolah.

Saya tiba-tiba teringat betapa seringnya kita meremehkan sesuatu hanya karena jumlahnya kecil. Padahal banyak hal besar dalam hidup memang dibangun dari sesuatu yang kecil.

Satu langkah.

Satu rupiah.

Satu hari kerja.

Satu halaman buku.

Satu doa.

Satu keputusan untuk mencoba lagi.

Dan semua itu akhirnya mengantarkan Fatimah. Anak bungsu yang selalu menjadi alasan bagi Pak Musliman untuk terus mendorong gerobaknya. Setiap hari ia berdoa agar anaknya bisa menyelesaikan kuliah.  Bukan sekadar masuk kuliah. Bukan sekadar mendapatkan tugas akhir. Tetapi benar-benar lulus. Menjadi sarjana. Lalu datanglah masa yang tidak mudah bagi semua orang: pandemi COVID-19. Di tengah keadaan yang serba terbatas itu, Fatimah akhirnya wisuda. Ia menjadi Sarjana Pendidikan Agama Islam dari UIN Walisongo Semarang.

Saya membayangkan momen itu. Seorang anak pemulung dan penjual rongsok berdiri mengenakan toga. Di belakang toga itu ada seorang bapak yang setiap pagi pukul 03.00 sudah mendorong gerobak. Ada seorang ibu yang dulu menyimpan uang lima ratusan ke dalam kantong plastik. Ada dua orang kakak yang meletakkan mimpi sekolahnya untuk sukses pendidikan adiknya.

Ada warung kecil.

Ada rongsok.

Ada rumah sederhana.

Ada doa yang diucapkan berulang-ulang.

Dan ada puluhan tahun kerja yang tidak pernah masuk berita.

Wisuda Fatimah bukan hanya tentang satu orang yang mendapatkan gelar sarjana. Bagi saya, itu seperti sebuah tanda bahwa kerja keras yang dilakukan diam-diam ternyata tidak benar-benar hilang. Hari ini Fatimah sudah mengajar di sebuah SD swasta yayasan keagamaan. Ia berdiri di depan kelas. Mengajar anak-anak. Mungkin para muridnya tidak pernah tahu seluruh cerita tentang bapaknya. Mereka mungkin hanya melihat seorang guru yang datang dan mengajar. Tetapi di balik guru itu ada sebuah gerobak rongsok. Ada jalanan yang disusuri sebelum matahari terbit. Ada tangan yang tidak sempurna. Ada seorang lelaki tua yang memilih bekerja daripada mengeluh. Dan mungkin, tanpa banyak kata, Fatimah membawa nama bapaknya ke setiap ruang kelas yang ia masuki.


Ketika saya pulang dari rumah Pak Musliman, saya membawa sesuatu yang aneh di kepala. 

Dua kursi kayu.

Bukan secara harfiah. Tetapi saya terus mengingat dua kursi tempat kami duduk sore itu. Dua kursi yang sederhana. Dua kursi yang tidak istimewa. Namun di sanalah saya mendengar sebuah kisah tentang keberanian yang selama ini mungkin terlalu sering kita lewatkan. Saya juga pulang dengan perasaan yang tidak sepenuhnya nyaman. Ada kagum. Ada haru. Tetapi ada juga rasa malu. Malu karena sering kali saya sendiri terlalu cepat mengeluh ketika sesuatu tidak berjalan sesuai rencana.

Kita hidup di zaman ketika orang-orang berlomba menunjukkan pencapaian. Yang terlihat adalah hasil. Kita melihat orang berhasil, lalu berpikir: beruntung sekali. Kita melihat seseorang lulus, lalu hanya melihat toganya. Kita melihat seorang guru berdiri di depan kelas, lalu hanya melihat profesinya. Kita melihat rumah yang sudah berdiri, lalu lupa bahwa ada orang yang pernah mengaduk semennya. Kita melihat warung yang ramai, lalu lupa bahwa mungkin setiap rupiah di dalamnya pernah dikumpulkan dengan susah payah.

Padahal kehidupan hampir selalu memiliki bagian yang tidak terlihat. Bagian ketika seseorang gagal. Bagian ketika seseorang menangis sendirian. Bagian ketika seseorang harus memilih antara kebutuhan hari ini dan impian lima tahun lagi. Bagian ketika seseorang tidak punya pilihan selain bangun pukul tiga pagi dan bekerja lagi. Di situlah keteguhan sebenarnya sering lahir. Bukan ketika semuanya tersedia. Tetapi ketika hampir tidak ada yang bisa diandalkan selain diri sendiri, keluarga, dan Tuhan.

Saya belajar sesuatu dari Pak Musliman: Jangan menganggap kecil perjuangan hanya karena hasilnya belum besar. Mungkin hari ini kita hanya mampu menyisihkan sedikit uang. Simpan. Mungkin hari ini kita hanya mampu belajar satu jam. Belajarlah. Mungkin usaha kita baru menghasilkan beberapa ribu rupiah. Tetap kerjakan dengan jujur. Mungkin belum ada yang memuji. Tidak apa-apa. Mungkin tidak ada yang melihat. Tetap lakukan. Sebab tidak semua perjuangan harus disaksikan orang lain agar menjadi berarti. Dan mungkin kita juga perlu mengubah cara mendefinisikan “orang hebat”.

Orang hebat tidak selalu orang yang berdiri di panggung. Tidak selalu orang yang punya jabatan. Tidak selalu orang yang memiliki banyak uang. Kadang orang hebat adalah seorang bapak berusia 64 tahun yang pukul tiga pagi mendorong gerobak rongsok. Kadang orang hebat adalah seorang ibu yang menyimpan uang-uang lima ratusan ke dalam plastik. Kadang orang hebat adalah seorang anak yang berhenti sekolah, memberi semangat,  merantau sebagai kuli bangunan, lalu pulang membawa keterampilan. Kadang orang hebat adalah seorang perempuan yang berhasil menyelesaikan kuliah di tengah pandemi, lalu memilih berdiri di depan kelas untuk mengajar anak-anak lain.

Mereka tidak terkenal.

Mereka tidak punya banyak sorotan.

Tetapi mereka punya satu hal yang sangat mahal: mereka menolak menyerah.

Kita semua mungkin sedang mendorong “gerobak” masing-masing. Bentuknya berbeda. Ada yang sedang membangun usaha. Ada yang sedang mencari pekerjaan. Ada yang sedang membesarkan anak. Ada yang sedang belajar dari nol. Ada yang sedang membayar utang. Ada yang sedang merintis kembali hidup setelah kegagalan.

Dan mungkin hari ini gerobak kita terasa terlalu berat. Kalau begitu, tidak apa-apa mengakui bahwa kita capek. Pak Musliman sendiri mengatakannya: “Capek itu ada.” Jangan berpura-pura tidak lelah. Jangan merasa harus selalu kuat. Tetapi setelah mengakui lelah, tanyakan satu hal kepada diri sendiri: Apa yang membuat saya tetap mau mendorong gerobak ini besok pagi?

Bisa jadi jawabannya adalah anak.

Keluarga.

Orang tua.

Cita-cita.

Tanggung jawab.

Iman.

Atau sekadar keinginan untuk membuktikan kepada diri sendiri bahwa hidup belum selesai.

Simpan jawaban itu baik-baik. Karena pada hari ketika tenaga kita habis, alasan itulah yang mungkin membuat kita berdiri lagi. Pak Musliman mengajarkan saya bahwa hidup tidak selalu meminta kita berlari. Kadang hidup hanya meminta kita terus bergerak. Pelan tidak apa-apa. Sedikit tidak apa-apa. Tidak dipuji tidak apa-apa. Yang penting jangan berhenti terlalu lama hanya karena perjalanan kita belum terlihat mengesankan. Sebab bisa jadi, sesuatu yang hari ini tampak seperti gerobak tua penuh rongsok, kelak ternyata adalah kendaraan yang mengantarkan seorang anak menuju masa depan.

Dan orang yang mendorongnya setiap pagi mungkin tidak pernah merasa dirinya hebat. Tetapi bagi orang-orang yang hidupnya ia perjuangkan, ia adalah pahlawan. Orang hebat memang sering kali orang biasa. Bukan karena hidup mereka luar biasa mudah. Justru karena hidup mereka berkali-kali memberi alasan untuk menyerah, tetapi mereka tetap memilih berkata: “Besok pagi, saya dorong lagi.”

Sunday, August 9, 2026

KATA PENGANTAR PENULIS

 Ada orang-orang yang kita kenal karena namanya sering disebut. Ada orang-orang yang kita kagumi karena prestasinya. Tetapi ada pula orang-orang yang mungkin tidak pernah kita kenal namanya, tidak pernah masuk berita, dan tidak pernah menerima penghargaan apa pun. Mereka hanya menjalani hidup, bekerja, menghidupi keluarga, membesarkan anak, menjaga orang tua, dan menghadapi kesulitan hari demi hari. Justru kepada orang-orang seperti itulah buku ini saya persembahkan.

Buku Orang Hebat: Orang-orang Biasa yang Menolak Menyerah lahir dari perjumpaan saya dengan banyak orang sederhana. Mereka bukan tokoh terkenal. Mereka tidak memiliki kisah hidup yang selalu gemilang. Sebagian bahkan menjalani kehidupan yang mungkin tampak biasa saja.

Namun ketika saya mendengar cerita mereka lebih dekat, saya menemukan sesuatu yang tidak biasa.

Mereka pernah gagal.

Pernah kehilangan pekerjaan.

Pernah kehabisan uang.

Pernah kecewa.

Pernah merasa lelah.

Bahkan mungkin pernah bertanya dalam hati, “Sampai kapan saya harus menjalani semua ini?”

Tetapi mereka tetap bangun keesokan harinya.

Tetap bekerja.

Tetap mengayuh.

Tetap berjualan.

Tetap menanam.

Tetap berlayar.

Tetap menyekolahkan anak.

Tetap menjaga keluarga.

Dan yang paling penting, mereka tetap mencoba.

Dari merekalah saya belajar bahwa keberanian tidak selalu hadir dalam bentuk yang besar. Kadang keberanian hanya berupa keputusan sederhana untuk tidak menyerah hari ini.

Buku ini berisi 25 kisah tentang orang-orang seperti itu. Kisah tentang mimpi yang dipertahankan, kehidupan yang menguji, cinta kepada keluarga, pekerjaan yang jarang dipuji, dan perjalanan menemukan makna.

Saya tidak menulis kisah-kisah ini untuk membuat mereka terlihat sempurna. Mereka manusia biasa, dengan segala keterbatasan dan kelemahannya. Justru di situlah letak keindahannya. Mereka mengajarkan kepada kita bahwa hidup tidak harus selalu menang untuk menjadi berarti.

Ada kalanya kita hanya perlu bertahan.

Ada kalanya kita harus memulai lagi.

Ada kalanya kita harus menerima kegagalan, mengubah jalan, lalu mencoba sekali lagi.

Dan ada kalanya kita baru menyadari betapa hebatnya seseorang setelah mengetahui betapa berat kehidupan yang diam-diam telah ia lalui.

Saya berharap buku ini tidak hanya membuat pembaca mengenal mereka, tetapi juga membuat kita lebih peka terhadap orang-orang di sekitar kita. Mungkin penyapu jalan yang kita lewati setiap pagi sedang berjuang membiayai sekolah anaknya. Mungkin pedagang kecil yang kita temui sedang menyelamatkan keluarganya dari kesulitan. Mungkin seseorang yang terlihat biasa saja sedang berjuang menghadapi sesuatu yang tidak pernah ia ceritakan kepada siapa pun.

Karena itu, jangan terlalu cepat menilai kehidupan seseorang hanya dari apa yang terlihat. Di balik seseorang yang tetap tersenyum, mungkin ada perjuangan panjang yang tidak pernah kita ketahui. Dan kepada Anda yang sedang membaca buku ini dalam keadaan lelah, sedang menghadapi kegagalan, sedang kehilangan arah, atau bahkan sedang berpikir untuk menyerah, saya ingin mengatakan satu hal:

Anda tidak sendirian.

Semoga kisah-kisah sederhana dalam buku ini menjadi teman dalam perjalanan Anda. Bukan untuk menggurui, bukan untuk mengatakan bahwa semua masalah akan segera selesai, tetapi sekadar mengingatkan bahwa selalu ada alasan untuk mencoba sekali lagi. Sebab mungkin kita tidak bisa mengendalikan seberapa berat jalan yang harus kita lalui. Tetapi kita masih bisa memilih apakah akan berhenti atau melangkah lagi.

Terima kasih kepada semua orang yang kisah hidupnya menjadi bagian dari buku ini. Terima kasih karena telah mengizinkan saya melihat kehidupan dari dekat, mendengar cerita, merasakan sebagian kecil perjuangan, dan belajar dari keteguhan yang mungkin selama ini luput dari perhatian.

Dan kepada para pembaca, terima kasih telah bersedia berhenti sejenak untuk mendengarkan suara orang-orang biasa. Semoga setelah menutup halaman terakhir buku ini, kita tidak hanya melihat mereka dengan lebih hormat. Semoga kita juga melihat kehidupan kita sendiri dengan cara yang berbeda.

Karena pada akhirnya, mungkin menjadi orang hebat bukan tentang seberapa tinggi kita berdiri. Melainkan tentang seberapa sering kita jatuh, seberapa berat kita terluka, dan seberapa tulus kita memilih untuk bangkit dan mencoba lagi.

Untuk mereka yang tetap berjalan.
Untuk mereka yang tetap berharap.
Untuk mereka yang memilih tidak menyerah.

Buku ini untuk kalian.

Penulis

Sinopsis

ORANG HEBAT: Orang-orang Biasa yang Menolak Menyerah

Kita sering mengira orang hebat adalah mereka yang namanya dikenal, prestasinya dipuji, dan hidupnya terlihat berhasil. Padahal, di sekitar kita ada begitu banyak orang biasa yang setiap hari melakukan sesuatu yang luar biasa: menolak menyerah.

Buku ini mengajak kita masuk ke kehidupan mereka—ibu yang berjuang agar anak dan adiknya tetap sekolah, anak tukang becak yang berani bermimpi, pekerja yang memulai kembali setelah kehilangan pekerjaan, petani dan nelayan yang tetap bekerja ketika keadaan tidak bersahabat, hingga orang-orang yang bekerja dalam sunyi demi keluarga yang mereka cintai.

Dalam 25 esai, kita akan bertemu dengan penyapu jalan, kuli panggul, tukang parkir, pemulung, penjaga malam, pedagang, pengayuh becak, mekanik, hingga mereka yang memilih pulang ke desa. Mereka mungkin tidak memiliki banyak harta, tidak dikenal banyak orang, dan tidak pernah menerima penghargaan. Namun dari tangan dan keteguhan merekalah kehidupan terus berjalan.

Bagian I bercerita tentang mimpi yang menolak padam.
Bagian II tentang keberanian menghadapi ujian hidup.
Bagian III tentang mereka yang bertahan demi orang-orang yang dicintai.
Bagian IV memberi penghormatan kepada pekerjaan-pekerjaan yang jarang dipuji.
Bagian V mengajak kita menemukan makna di balik perjuangan.

Kisah-kisah ini bukan tentang manusia yang selalu kuat. Mereka pernah lelah, takut, gagal, kecewa, bahkan ingin menyerah. Tetapi selalu ada satu alasan untuk bangkit dan mencoba lagi.

Karena menjadi hebat ternyata bukan selalu tentang menang.

Kadang-kadang, menjadi hebat hanyalah tentang tetap bekerja ketika tidak ada yang melihat, tetap jujur ketika bisa curang, tetap mencintai ketika keadaan sulit, dan tetap bangun pada pagi berikutnya untuk mencoba sekali lagi.

Mereka adalah orang-orang biasa. Tetapi pilihan mereka untuk tidak menyerah membuat mereka luar biasa. Dan mungkin, setelah membaca buku ini, kita akan menyadari bahwa orang hebat yang selama ini kita cari ternyata hidup sangat dekat dengan kita—bahkan mungkin ada di dalam diri kita sendiri.