Bagi kebanyakan orang, pagi adalah waktu untuk memulai hari dengan tenang. Membuka mata, menyeruput teh atau kopi, bersiap bekerja, lalu berangkat mengejar kesibukan. Tetapi bagi Ahmad Ardani—yang lebih akrab dipanggil Bang Dani—pagi adalah bagian dari perjuangan yang sudah berlangsung selama puluhan tahun.
Sehabis salat Subuh, ketika sebagian orang mungkin masih menarik selimut atau menikmati udara pagi, Bang Dani sudah mulai memikirkan dagangannya. Belanja bahan. Menyiapkan bumbu. Memasak. Memastikan bakso siap dibawa berkeliling.
Kemudian, sekitar pukul sebelas siang lewat, gerobak mulai bergerak.
Ia akan berkeliling dari sekitar pukul 11.30 atau 12.00 hingga sekitar pukul 20.00 atau 21.00.
Begitu terus.
Hari demi hari.
Tahun demi tahun.
Sudah 25 tahun.
Saya membayangkan roda gerobak yang terus berputar itu. Kadang melewati jalan yang panas. Kadang mungkin ditemani hujan. Kadang dagangan ramai. Kadang tidak seberapa. Tetapi satu hal tidak berubah: Bang Dani tetap keluar membawa baksonya.
Sebab yang ia bawa sebenarnya bukan sekadar bakso.
Ia membawa sekolah anak-anaknya.
Ia membawa biaya mondok.
Ia membawa harapan agar anak-anaknya tumbuh dengan bekal agama.
Dan, mungkin yang paling penting, ia membawa keyakinan bahwa selama seseorang masih mau berusaha, selalu ada jalan yang bisa ditempuh.
Sebelum Gerobak Bakso
Perjalanan Bang Dani menuju gerobak bakso tidak dimulai dari kehidupan yang mudah.
Ia pernah menghabiskan sekitar 12 tahun di Jakarta.
Di sana, pekerjaannya berganti-ganti. Pernah menjadi tenaga cleaning service di PPD. Pernah menjadi satpam di Pelabuhan Tanjung Priok. Pernah pula menjadi satpam proyek.
Ia merasakan bagaimana hidup sebagai perantau.
Bekerja di kota besar, mencari penghasilan, bertahan dengan apa yang ada.
Namun pekerjaan tidak selalu berjalan seperti yang kita rencanakan.
Ketika terjadi demonstrasi, pekerjaannya sebagai satpam harus berakhir.
Mungkin bagi sebagian orang, kehilangan pekerjaan hanya berarti kehilangan sumber pendapatan.
Tetapi bagi seseorang yang mempunyai keluarga, kehilangan pekerjaan berarti munculnya banyak pertanyaan sekaligus.
Besok makan apa?
Dari mana biaya sekolah?
Bagaimana membayar kebutuhan rumah?
Dan pertanyaan yang paling berat: setelah ini saya harus melakukan apa?
Bang Dani tidak mempunyai jawaban yang mudah.
Tetapi ia mempunyai satu hal yang sering kali jauh lebih penting daripada jawaban: kemauan untuk mencoba.
Ia menikah pada tahun 2000 dengan seorang perempuan dari Malang. Dari pernikahan itu lahir seorang anak laki-laki.
Namun kehidupan rumah tangga mereka tidak berjalan panjang.
Ketika anak mereka baru berusia sekitar satu tahun, pernikahan itu berakhir.
Ekonomi menjadi salah satu persoalan yang mereka hadapi.
Saya membayangkan betapa tidak mudahnya masa itu.
Ada seorang anak kecil yang membutuhkan ayahnya. Ada kehidupan yang harus terus berjalan. Sementara hidup sendiri sedang tidak berada pada keadaan yang ramah.
Bang Dani kemudian mencoba berjualan bakso di Malang.
Tetapi usaha itu gagal.
Lagi-lagi, ia harus menerima kenyataan bahwa tidak semua yang dimulai akan berhasil.
Dan lagi-lagi, ia harus mencari jalan lain.
Ia akhirnya kembali ke Kebumen.
Di sanalah ia mulai merintis kembali usaha bakso keliling.
Bukan dengan sesuatu yang besar.
Bukan dengan toko megah.
Bukan dengan modal berlimpah.
Hanya dengan kemampuan yang bisa ia kerjakan dan kemauan untuk terus bekerja.
Dari situlah perjalanan 25 tahun sebagai penjual bakso keliling dimulai.
Gerobak yang Menjadi Sekolah
Hari ini Bang Dani memiliki enam anak dari istrinya yang sekarang.
Anak-anaknya terdiri dari tiga perempuan dan tiga laki-laki.
Usia mereka beragam. Ada yang masih duduk di kelas 6, kelas 4, dan kelas 1. Ada pula yang menempuh pendidikan dengan mondok.
Bagi Bang Dani, sekolah bukan sekadar tempat anak memperoleh ijazah.
Pendidikan adalah bagian dari ikhtiarnya membentuk masa depan anak.
Itulah sebabnya ia memiliki keinginan kuat agar anak-anaknya mondok, belajar agama, dan menjaga akhlak.
Ketika saya mendengar cerita itu, saya terdiam sejenak.
Sebab kita sering mengukur keberhasilan orang tua dengan sesuatu yang mudah terlihat.
Rumah yang bagus.
Kendaraan yang baik.
Tabungan yang banyak.
Pekerjaan yang mapan.
Tetapi bagi Bang Dani, mungkin ukuran keberhasilan itu jauh lebih sederhana:
anak-anaknya sekolah, mengenal agama, memiliki akhlak, dan mampu menjaga dirinya ketika kelak tidak lagi berada di bawah pengawasannya.
Ia tidak ingin anak-anaknya hanya pintar mencari uang.
Ia ingin mereka juga tahu bagaimana menjaga diri.
Bagaimana membedakan yang benar dan salah.
Bagaimana membawa diri ketika suatu hari mereka hidup jauh dari orang tua.
Karena itu, setiap hari ia mendorong gerobaknya.
Satu putaran demi satu putaran.
Satu mangkuk demi satu mangkuk.
Satu rupiah demi satu rupiah.
Dan mungkin tanpa disadarinya, selama 25 tahun itu gerobak bakso telah menjadi semacam sekolah kehidupan bagi keluarganya.
Dari gerobak itulah anak-anak belajar bahwa mencari nafkah membutuhkan kesabaran.
Dari ayah mereka, mereka belajar bahwa pekerjaan tidak perlu terlihat hebat untuk menjadi mulia.
Dari perjalanan ayahnya, mereka belajar bahwa kegagalan bukan alasan untuk berhenti.
Saya Tidak Berani Berutang
Ada satu bagian dari cerita Bang Dani yang menurut saya sederhana, tetapi justru sangat kuat.
Ia mengatakan bahwa dirinya tidak berani berutang.
Kalimat itu mungkin terdengar biasa.
Tetapi di baliknya ada cara hidup.
Ketika ingin sesuatu, ia memilih menundanya.
Kalau belum mampu, ya belum.
Kalau belum ada uang, tidak perlu dipaksakan.
Bagi sebagian orang, menunda keinginan mungkin terasa menyakitkan.
Kita hidup di zaman ketika banyak hal bisa didapat sekarang dan dibayar kemudian.
Tetapi Bang Dani memilih jalan yang berbeda.
Ia lebih nyaman hidup sesuai kemampuan.
Tidak memaksakan diri.
Tidak mengambil utang untuk memenuhi keinginan.
Ia memilih memikirkan kebutuhan anak-anaknya lebih dahulu.
Mungkin ia sendiri harus menunda banyak keinginan.
Mungkin ada barang yang ingin dibeli tetapi tidak jadi.
Mungkin ada kenyamanan yang sebenarnya ingin dinikmati, tetapi kembali disimpan untuk kebutuhan keluarga.
Namun ia tampaknya sudah berdamai dengan pilihan itu.
Karena ada sesuatu yang baginya lebih penting daripada memenuhi keinginan pribadi:
pendidikan anak-anaknya.
Saya kira, di situlah letak kekuatan orang-orang biasa.
Mereka tidak selalu memiliki banyak pilihan.
Tetapi mereka tahu mana yang harus diprioritaskan.
Ada Masa Ketika Hidup Tidak Menjanjikan Apa-Apa
Kalau kita melihat Bang Dani hari ini, mungkin kita hanya akan melihat seorang penjual bakso keliling.
Gerobak.
Panci.
Kuah panas.
Bakso.
Mie.
Saus.
Sambal.
Kemudian suara orang memanggil dari rumah ke rumah.
Kita mungkin tidak akan pernah tahu bahwa di balik itu ada perjalanan panjang seorang manusia yang pernah bekerja di Jakarta, kehilangan pekerjaan, mengalami kegagalan usaha, mengalami perceraian, kemudian pulang dan memulai lagi.
Kita juga mungkin tidak tahu bahwa selama 25 tahun ia menjalani pekerjaan yang sama.
Dan kita sering lupa: bertahan selama 25 tahun juga merupakan sebuah keberhasilan.
Tidak semua keberhasilan datang dalam bentuk kenaikan jabatan.
Tidak semua kemenangan diumumkan.
Tidak semua perjuangan memiliki foto saat garis finis.
Ada perjuangan yang hanya diketahui oleh orang yang menjalaninya.
Seperti Bang Dani.
Pagi memasak.
Siang berkeliling.
Sore masih berkeliling.
Malam baru pulang.
Besok diulang lagi.
Tidak ada tepuk tangan.
Tidak ada panggung.
Tidak ada orang yang memberikan penghargaan karena ia berhasil bertahan.
Tetapi mungkin setiap kali seorang anaknya berangkat sekolah, setiap kali seorang anaknya berangkat mondok, setiap kali mereka membaca Al-Qur'an, setiap kali mereka pulang membawa kabar baik, di situlah sebenarnya penghargaan untuk perjuangannya.
“Ada Saja Jalan Rezeki”
Saya tertarik dengan cara Bang Dani memandang hidup.
Ia memilih pasrah kepada Allah, tetapi kepasrahan itu bukan berarti diam.
Ia tetap memasak.
Tetap berdagang.
Tetap berkeliling.
Tetap berusaha.
Ia percaya bahwa akan selalu ada jalan rezeki.
Kalimat seperti ini kadang mudah diucapkan ketika keadaan sedang baik.
“Pasrah saja kepada Allah.”
Tetapi mengucapkannya ketika kehidupan sedang sulit adalah perkara berbeda.
Bang Dani tidak menggunakan kepasrahan sebagai alasan untuk berhenti.
Ia justru menjadikannya tenaga untuk terus berjalan.
Seolah-olah ia berkata kepada dirinya sendiri:
Saya sudah melakukan bagian saya. Selebihnya saya serahkan kepada Allah.
Barangkali inilah bentuk tawakal yang paling sederhana: tangan tetap bekerja, hati tetap percaya.
Ia tidak tahu berapa banyak bakso yang akan terjual hari itu.
Ia tidak tahu berapa banyak uang yang akan dibawa pulang.
Ia tidak tahu jalan hidup anak-anaknya kelak.
Tetapi ia tahu apa yang harus dilakukan hari ini.
Dan terkadang, hidup memang sesederhana itu.
Kita terlalu sibuk memikirkan masa depan sampai lupa bahwa masa depan dibangun dari apa yang kita kerjakan hari ini.
Yang Ia Kejar Bukan Sekadar Penghasilan
Ada sesuatu yang membuat kisah Bang Dani terasa berbeda bagi saya.
Ia tidak terlalu banyak bicara tentang dirinya sendiri.
Ia lebih banyak berbicara tentang anak.
Tentang sekolah.
Tentang mondok.
Tentang agama.
Tentang bagaimana anak-anaknya kelak bisa menjaga diri.
Seolah-olah seluruh perjalanan hidupnya perlahan mengerucut pada satu tujuan:
anak-anaknya harus mempunyai kehidupan yang lebih baik.
Bukankah itu juga yang menjadi alasan banyak orang tua tetap bekerja meski tubuh sudah meminta istirahat?
Mereka mungkin mengeluh.
Mungkin pernah merasa bosan.
Mungkin pernah bertanya, “Sampai kapan saya harus seperti ini?”
Mungkin pernah melihat orang lain hidup lebih nyaman lalu merasa iri.
Mungkin pernah merasa hidup tidak adil.
Dan saya kira Bang Dani pun manusia.
Ia tentu pernah lelah.
Ia tentu pernah mengalami hari ketika dagangan tidak sesuai harapan.
Ia tentu pernah merasakan beratnya perjalanan.
Tetapi ia tidak membiarkan rasa lelah menentukan keputusan akhirnya.
Ia istirahat.
Lalu berangkat lagi.
Sebab di rumah ada anak-anak yang menunggu.
Ada kebutuhan yang harus dipenuhi.
Ada cita-cita yang harus dijaga.
Mimpi Tidak Selalu Berbentuk Besar
Kita sering berbicara tentang mimpi dengan cara yang terlalu megah.
Mimpi menjadi pejabat.
Mimpi memiliki perusahaan besar.
Mimpi membeli rumah mewah.
Mimpi menjadi orang terkenal.
Mimpi mencapai sesuatu yang bisa membuat orang lain berkata, “Hebat sekali.”
Tetapi Bang Dani mengajarkan bentuk mimpi yang berbeda.
Mimpi bisa berbentuk anak yang terus sekolah.
Mimpi bisa berbentuk anak yang mampu mondok.
Mimpi bisa berbentuk keluarga yang tetap makan setiap hari.
Mimpi bisa berbentuk anak yang tumbuh menjadi manusia baik.
Dan untuk mewujudkan mimpi itu, seseorang tidak selalu membutuhkan sesuatu yang luar biasa.
Kadang hanya dibutuhkan kesediaan untuk melakukan pekerjaan sederhana berulang kali.
Selama 25 tahun.
Di sinilah saya menemukan makna dari judul buku ini:
orang-orang biasa yang menolak menyerah.
Bang Dani bukan orang yang hidupnya tanpa masalah.
Justru sebaliknya.
Ia pernah gagal.
Pernah kehilangan pekerjaan.
Pernah mengalami rumah tangga yang kandas.
Pernah mencoba usaha yang tidak berhasil.
Tetapi setiap kali hidup mendorongnya ke belakang, ia mencari cara untuk melangkah lagi.
Mungkin bukan langkah yang besar.
Tetapi tetap langkah.
Kepada Siapa Kita Sebenarnya Sedang Berjuang?
Pertanyaan ini barangkali layak kita ajukan kepada diri sendiri.
Ketika hidup terasa berat, tanyakan:
Untuk siapa saya bertahan?
Bukan untuk mencari jawaban yang indah.
Jawablah dengan jujur.
Mungkin untuk orang tua.
Mungkin untuk pasangan.
Mungkin untuk anak.
Mungkin untuk saudara.
Mungkin untuk diri sendiri yang masih ingin melihat hidup menjadi lebih baik.
Sebab sering kali manusia mampu menanggung beban yang terasa mustahil ketika ia tahu untuk siapa beban itu dipikul.
Bang Dani menemukan kekuatannya pada anak-anak.
Ketika ia mendorong gerobak, ia tidak hanya mendorong sebuah kendaraan dagang.
Ia sedang mendorong harapan.
Ketika ia bangun setelah Subuh dan mulai memasak, ia sedang menyiapkan masa depan.
Ketika ia berkeliling hingga malam, ia sedang membayar sedikit demi sedikit biaya sekolah dan mondok anak-anaknya.
Dan ketika ia menunda keinginannya sendiri, ia sedang memilih masa depan keluarganya.
Itulah cinta dalam bentuk yang paling sederhana.
Bukan selalu kata-kata.
Bukan selalu pelukan.
Kadang cinta adalah bangun ketika masih gelap, bekerja ketika badan lelah, dan pulang ketika hari hampir selesai.
Jika Hari Ini Anda Sedang Lelah
Mungkin ada pembaca yang sedang berada dalam posisi seperti Bang Dani.
Anda sedang berjuang.
Usaha belum berhasil.
Pekerjaan tidak sesuai harapan.
Penghasilan terasa selalu kurang.
Ada cicilan.
Ada biaya sekolah.
Ada orang tua yang harus dirawat.
Ada anak yang ingin kuliah.
Ada mimpi yang terasa terlalu jauh.
Dan mungkin beberapa kali Anda bertanya:
“Sampai kapan saya harus bertahan?”
Saya tidak ingin menjawab dengan kalimat motivasi yang terlalu mudah.
Saya hanya ingin mengajak Anda melihat kembali perjalanan Bang Dani.
Ia tidak menyelesaikan seluruh hidupnya dalam satu hari.
Ia menjalani hari ini.
Besok ia menjalani besok.
Lalu hari berikutnya.
Begitu terus sampai 25 tahun.
Mungkin itulah rahasia ketahanan yang sering tidak kita sadari.
Orang yang kuat bukan selalu orang yang tidak pernah lelah.
Orang yang kuat adalah orang yang tetap tahu ke mana ia harus pulang setelah lelah.
Bang Dani pulang kepada keluarganya.
Pulang kepada anak-anaknya.
Pulang kepada keyakinannya kepada Allah.
Dan dari sanalah ia memperoleh tenaga untuk berangkat lagi.
Dua Puluh Lima Tahun Tidak Terjadi Sekaligus
Saya membayangkan suatu hari nanti, ketika anak-anak Bang Dani sudah dewasa.
Mungkin mereka akan mengingat ayahnya bukan karena memiliki sesuatu yang mewah.
Mereka mungkin justru akan mengingat suara gerobak.
Suara roda yang bergerak.
Aroma kuah bakso yang mengepul.
Ayah yang pergi berdagang setelah memasak sejak pagi.
Ayah yang pulang ketika malam sudah cukup larut.
Ayah yang mungkin tidak banyak bicara, tetapi selalu bekerja.
Dan mungkin suatu hari, salah satu dari mereka akan memahami:
“Ternyata selama ini Ayah bukan hanya berjualan bakso. Ayah sedang memperjuangkan kami.”
Kalimat itu, jika benar-benar dipahami oleh seorang anak, mungkin jauh lebih mahal daripada penghargaan apa pun.
Sebab ada orang tua yang tidak mampu mewariskan kekayaan.
Tetapi mereka mewariskan sesuatu yang jauh lebih panjang umurnya:
keteladanan.
Tentang kerja keras.
Tentang kesabaran.
Tentang hidup sesuai kemampuan.
Tentang tidak mudah berutang.
Tentang mendahulukan kebutuhan.
Tentang pendidikan.
Tentang agama.
Tentang tawakal.
Dan tentang satu hal yang mungkin paling penting:
jangan menyerah hanya karena hidup tidak berjalan sesuai rencana.
Mimpi yang Tetap Menyala
Dua puluh lima tahun adalah waktu yang panjang.
Cukup panjang untuk membuat seseorang bosan.
Cukup panjang untuk membuat seseorang ingin berhenti.
Cukup panjang untuk membuat seseorang bertanya apakah perjuangannya akan menghasilkan sesuatu.
Tetapi Bang Dani tetap mendorong gerobaknya.
Hari ini.
Besok.
Lusa.
Bukan karena hidup selalu mudah.
Tetapi karena ada enam anak yang membuatnya memiliki alasan untuk terus berjalan.
Saya tidak tahu akan seperti apa masa depan anak-anak Bang Dani.
Saya tidak tahu siapa yang kelak menjadi apa.
Saya juga tidak tahu apakah semua harapan orang tua selalu terwujud persis seperti yang diinginkan.
Tetapi saya percaya satu hal:
anak-anak yang tumbuh melihat orang tuanya berjuang tidak akan pernah benar-benar miskin teladan.
Mereka telah melihat sendiri bahwa kehidupan harus dijalani dengan ikhtiar.
Bahwa mimpi tidak selalu dicapai dengan jalan yang cepat.
Bahwa kegagalan bukan akhir.
Bahwa rezeki tidak selalu datang dari jalan yang kita bayangkan.
Dan bahwa terkadang, untuk menjaga sebuah mimpi tetap hidup, seseorang hanya perlu melakukan pekerjaan kecil dengan setia—hari demi hari.
Bang Dani mungkin hanya seorang penjual bakso keliling.
Tidak banyak orang mengenalnya.
Tidak ada panggung yang menunggunya.
Tidak ada kamera yang selalu mengikuti langkahnya.
Tetapi selama 25 tahun, ia telah melakukan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar menjual makanan.
Ia menjaga keluarganya.
Ia menjaga pendidikan anak-anaknya.
Ia menjaga harapan.
Dan setiap pagi, setelah salat Subuh, ketika tangan mulai menyiapkan bahan dagangan, sesungguhnya ada satu pesan yang seperti sedang ia sampaikan kepada kehidupan:
“Saya mungkin tidak punya banyak. Tetapi selama saya masih bisa bekerja, saya belum selesai.”
Barangkali begitulah mimpi yang menolak padam.
Ia tidak selalu menyala seperti api besar.
Kadang ia hanya seperti bara kecil di dalam dada.
Nyaris tak terlihat.
Tetapi selama seseorang masih mau menjaganya, bara itu tidak pernah benar-benar mati.
Dan mungkin, seperti Bang Dani, kita tidak perlu menjadi orang luar biasa untuk menjaga mimpi tetap hidup. Kita hanya perlu mencintai sesuatu dengan cukup dalam, lalu berani memperjuangkannya—satu hari, satu langkah, satu ikhtiar pada satu waktu.


.jpeg)
