Siang itu matahari Kebumen terasa cukup terik. Saya bertemu Tukimin, 62 tahun, di sebuah rumah adiknya yang sedang direnovasi. Atap rumah sedang dibongkar. Beberapa bagian bangunan terlihat berantakan. Kayu-kayu berserakan, bambu cagak dan steger dipasang di beberapa sisi, dan suara orang bekerja sesekali terdengar dari atas rumah.
Tukimin ada di sana. Bukan duduk santai sebagai seorang pensiunan. Ia justru sedang membantu pekerjaan tukang. Keringat membasahi wajah dan bajunya. Tangannya tampak aktif. Geraknya memang tidak secepat orang yang masih muda, tetapi ada sesuatu yang langsung menarik perhatian saya:semangatnya tidak terlihat seperti orang yang sedang menjalani masa pensiun.*
Saya sempat berpikir, mungkin inilah rahasianya. Bagaimana seseorang yang sudah berusia 62 tahun masih terlihat begitu bugar? Kami kemudian berbincang. Tukimin bercerita bahwa kurang lebih empat tahun sebelumnya ia pensiun dari pekerjaannya sebagai karyawan di lingkungan Pemerintah Kabupaten Kebumen. Selama puluhan tahun, sebagian besar waktunya dihabiskan untuk bekerja dan melayani tugas kedinasan. “Dulu saya berangkat jam enam pagi,” katanya. Bahkan, sering kali lebih pagi. Pulangnya? Tidak jarang setelah Isya. Ada kalanya baru sampai rumah sekitar pukul sepuluh malam.
Saya membayangkan rutinitas itu. Pagi ketika sebagian orang masih menikmati kasur dan udara dingin, ia sudah berangkat. Siang habis untuk pekerjaan. Sore belum tentu bisa pulang. Malam pun kadang masih berada di luar rumah. Puluhan tahun menjalani kehidupan seperti itu membuat tubuh dan pikirannya terbiasa dengan satu hal: bergerak!
Karena itu ketika pensiun datang, ia tidak ingin tiba-tiba berhenti. Menurutnya, pensiun boleh berarti berhenti dari tugas kantor. Tetapi tidak berarti berhenti beraktivitas. “Pensiun itu bukan berhenti bekerja,” kira-kira begitulah prinsip yang ia jalani. “Pensiun itu saatnya bekerja dengan cara yang berbeda.”
Saya terdiam mendengar kalimat itu. Sebab, bagi banyak orang, pensiun sering dibayangkan sebagai garis akhir. Setelah puluhan tahun bekerja, seseorang membayangkan akan bangun lebih siang, duduk lebih banyak, menikmati waktu bersama keluarga, atau sekadar menjalani hari tanpa target. Tidak ada yang salah dengan semua itu. Tetapi Tukimin memilih jalan lain. Ia ingin menggunakan masa pensiunnya untuk membayar sesuatu yang selama bertahun-tahun tertunda: mimpi, hobi, keinginan, sekaligus tanggung jawab kepada keluarga. Namun ternyata hidup tidak sesederhana rencana. Salah satu impian Tukimin dan hampir semua orang, ketika pensiun adalah tidak lagi memiliki utang. Ia ingin memasuki masa tua dengan perasaan lebih ringan.
Pendapatan pensiun memang tidak sebesar ketika masih aktif bekerja. Sementara kebutuhan hidup tetap berjalan. Ada kebutuhan keluarga. Ada kebutuhan sosial. Ada hajatan. Ada kondangan. Ada tetangga yang membutuhkan bantuan. Ada keluarga yang meminta pertolongan. Dan di masyarakat seperti lingkungan tempat Tukimin tinggal, hubungan sosial adalah bagian dari kehidupan. Kita tidak hidup sendirian. Ada saatnya kita membantu. Ada saatnya kita dibantu.
Persoalannya, kebutuhan sosial kadang membutuhkan uang dalam jumlah yang tidak kecil. Ketika pendapatan terbatas, pilihan yang tersedia tidak banyak. Akhirnya, pinjaman menjadi salah satu jalan. Maka impian untuk pensiun tanpa utang ternyata tidak mudah diwujudkan. Saya bisa membayangkan perasaan yang mungkin muncul. Kecewa. Cemas. Bahkan mungkin malu. Sebab setelah puluhan tahun bekerja, seseorang tentu ingin memasuki usia pensiun dengan perasaan bahwa dirinya sudah cukup. Tetapi hidup kadang berkata lain.
Dan di titik seperti itulah seseorang diuji: apakah ia akan berhenti karena keadaan tidak sesuai dengan rencana, atau mencari jalan lain? Tukimin memilih mencari jalan. Ia dan istrinya memutuskan untuk memulai dari nol.
Kalimat itu terdengar sederhana. Tetapi memulai dari nol di usia 50-an akhir atau 60-an bukan perkara mudah. Ketika masih muda, kita punya tenaga. Kalau gagal, masih ada banyak waktu untuk mencoba lagi. Tetapi ketika usia sudah memasuki kepala enam, pertanyaan yang muncul bisa lebih berat.
“Masih sanggupkah?”
“Siapa yang mau membeli?”
“Kalau gagal bagaimana?”
“Bukankah seharusnya saya sudah menikmati masa tua?”
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu sangat manusiawi.
Saya pun membayangkan, mungkin Tukimin pernah memiliki keraguan yang sama. Tetapi ia tidak membiarkan keraguan itu menjadi alasan untuk diam. Ia mulai dari sesuatu yang paling dekat dengannya: tanah dan halaman rumah. Ia bercocok tanam. Tidak muluk-muluk. Tidak langsung membayangkan menjadi petani besar. Ia menanam sayuran untuk kebutuhan sehari-hari. Kangkung. Genjer. Daun kelor. Berbagai tanaman yang bisa dimanfaatkan untuk dapur. Pelan-pelan, kebun kecil itu menjadi sumber kehidupan. Ketika istrinya memasak, tidak selalu harus pergi ke pasar untuk membeli sayuran. Tinggal mengambil dari kebun. Sederhana. Tetapi dari kesederhanaan itu muncul satu hal penting: penghematan. Apa yang sebelumnya harus dibeli, sekarang bisa dihasilkan sendiri.
Dan ternyata hasil kebunnya tidak berhenti di meja makan keluarga. Tetangga yang membutuhkan juga bisa meminta. Kangkung bisa dibagi. Genjer bisa dibagi. Daun kelor bisa dibagi. Barangkali secara ekonomi nilainya tidak seberapa. Tetapi dari sana saya melihat sesuatu yang lebih besar. Tukimin tidak sedang sekadar berkebun. Ia sedang membangun kembali rasa percaya dirinya. Ia sedang mengatakan kepada dirinya sendiri bahwa usia tidak membuat seseorang menjadi tidak berguna. Ia masih bisa menghasilkan sesuatu. Ia masih bisa memberi. Ia masih bisa membantu. Dan ia masih bisa menjadi bagian dari kehidupan orang lain.
Dari kebun, Tukimin kemudian mencoba memelihara ikan. Ia memanfaatkan lahan di sekitar rumah. Lele dan gurame menjadi pilihannya. Ia memiliki cara sederhana untuk memenuhi kebutuhan pakan. Ia menanam lumbu atau keladi, juga singkong. Daunnya dapat dimanfaatkan untuk pakan. Ia menyebut ikan itu seperti “sapi yang berada di air”. Saya tersenyum ketika mendengarnya. Ada kebijaksanaan yang sederhana dalam cara berpikir seperti itu. Tidak harus memiliki lahan luas. Tidak harus memiliki modal besar. Tidak harus memulai dengan sesuatu yang spektakuler. Manfaatkan apa yang ada di sekitar kita. Halaman yang selama ini kosong bisa menjadi tempat memelihara ikan. Tanah yang selama ini tidak menghasilkan apa-apa bisa ditanami sayuran. Tanaman yang ada di sekitar rumah bisa dimanfaatkan. Dan dari sesuatu yang kecil, sedikit demi sedikit, kehidupan ekonomi keluarga bisa ditopang.
Tukimin kemudian memelihara ayam. Saat saya mendengar ceritanya, jumlahnya juga tidak fantastis. Dua ekor pejantan. Enam ekor betina. Hanya delapan ekor. Tetapi Tukimin melihat peluang dari delapan ekor ayam itu. Telurnya bisa dimanfaatkan untuk konsumsi. Telurnya bisa ditetaskan. Anaknya bisa dipelihara dan dijual. Belum lama ini, ia bahkan berhasil menjual sekitar 20 ekor anakan ayam. Laku. Dan bagi orang yang sedang berusaha menopang kebutuhan keluarga dari usaha kecil, kata “laku” mungkin terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya sangat berarti. Ada uang yang masuk. Ada hasil dari kerja keras. Ada bukti bahwa usaha kecil yang ditekuni bisa menghasilkan. Mungkin tidak langsung besar. Tetapi cukup untuk membuat seseorang berkata kepada dirinya sendiri:
“Ternyata saya masih bisa.” Dan saya kira, kalimat itulah yang penting.
Sebab dalam usia pensiun, tantangan terbesar terkadang bukan hanya soal uang. Tetapi soal keyakinan bahwa kita masih mampu. Tukimin tidak berhenti di pertanian dan peternakan. Ia juga memanfaatkan jaringan pertemanan dan relasi yang sudah dibangun selama bertahun-tahun. Pengalaman bekerja membuatnya memiliki banyak kenalan. Salah satunya dengan orang-orang di Puskesmas se Kabupaten.
Ia dan istrinya mencoba menawarkan produk makanan dan minuman. Jus buah. Makanan khas seperti empek-empek Palembang. Tidak selalu langsung besar. Tetapi ada yang membeli. Ada pelanggan. Ada perputaran uang. Ada kesempatan. Di sinilah saya semakin memahami apa yang sebenarnya dilakukan Tukimin.
Ia bukan sedang mencari pekerjaan baru. Ia sedang membangun kehidupan baru. Dan itu berbeda. Ia tidak lagi bekerja karena diperintah atasan. Tidak ada absensi. Tidak ada meja kantor. Tidak ada surat tugas. Tidak ada rutinitas kedinasan seperti dulu. Sekarang ia bekerja karena ada kebutuhan yang ingin ia penuhi dan mimpi yang ingin ia selesaikan. Karena itu ia mengatakan satu hal yang menurut saya sangat penting: "Kalau sudah pensiun, jangan setengah-setengah" Bertani, tekuni. Beternak, tekuni. Berjualan, tekuni. Jangan terus berpindah hanya karena satu usaha belum memberikan hasil dalam waktu singkat.
“Periode pensiun bukan saatnya coba-coba,” begitu prinsip yang saya tangkap dari ceritanya. Ada sesuatu yang dalam dari kalimat itu. Ketika masih muda, mencoba berbagai hal memang penting. Tetapi di usia yang lebih matang, kita perlu belajar memilih. Tenaga tidak sebanyak dulu. Waktu juga tidak terasa panjang. Maka apa pun yang dipilih, harus dikerjakan dengan sungguh-sungguh. Saya kemudian melihat kembali Tukimin yang siang itu berkeringat membantu renovasi rumah. Mungkin itulah jawaban dari pertanyaan saya tentang rahasianya tetap sehat. Bukan sekadar olahraga. Bukan semata-mata makanan. Bukan pula karena keberuntungan. Ia tetap bergerak. Tubuhnya diberi pekerjaan. Pikirannya diberi kesibukan. Hatinya diberi alasan untuk bangun setiap pagi. Dan yang paling penting, ia masih memiliki sesuatu yang ingin diperjuangkan.
Dari cerita Tukimin saya belajar bahwa mimpi tidak selalu datang dalam bentuk yang besar. Ketika kita masih muda, mimpi mungkin berupa rumah. Pendidikan anak. Pekerjaan. Usaha besar. Tabungan. Perjalanan. Atau kehidupan yang lebih mapan. Tetapi ketika usia bertambah, mimpi bisa berubah bentuk. Mimpi bisa sesederhana tidak ingin merepotkan anak. Mimpi bisa berupa ingin memenuhi kebutuhan keluarga sendiri. Mimpi bisa berupa ingin terbebas dari utang. Mimpi bisa berupa ingin memiliki kebun kecil yang menghasilkan. Atau sekadar ingin tetap sehat dan berguna.
Mimpi tidak pernah punya ukuran yang sama untuk setiap orang. Dan menurut saya, di situlah letak keindahannya. Tukimin mengajarkan bahwa memulai dari nol bukan hanya milik orang muda. Kita sering menganggap usia sebagai batas.
“Sudah terlalu tua.”
“Sudah terlambat.”
“Sudah tidak punya modal.”
“Sudah tidak punya tenaga.”
“Sudah waktunya istirahat.”
Padahal, mungkin yang sebenarnya sudah habis bukan kesempatan. Melainkan keberanian kita untuk memulai. Tukimin tidak memiliki kehidupan tanpa masalah. Ia tetap menghadapi kebutuhan. Ia tetap menghadapi keterbatasan pendapatan. Ia masih harus memikirkan utang. Ia tidak tiba-tiba menjadi pengusaha sukses dengan omzet besar. Tidak ada kisah ajaib dalam hidupnya.
Yang ada justru sesuatu yang jauh lebih dekat dengan kehidupan kita: sedikit demi sedikit. Hari ini menanam. Besok menyiram. Hari berikutnya merawat. Memelihara ayam. Memberi makan ikan. Mencari pembeli. Menawarkan jus. Menjual makanan. Menyambung silaturahmi. Lalu mengulanginya lagi. Dan lagi. Sampai sesuatu yang kecil mulai menghasilkan.
Saya kira begitulah sebenarnya banyak kehidupan dibangun. Bukan dengan satu lompatan besar. Tetapi dengan langkah-langkah kecil yang tidak pernah benar-benar dihentikan. Tukimin juga mengingatkan saya bahwa keberhasilan tidak selalu harus diukur ĝdari berapa banyak uang yang berhasil dikumpulkan. Ada ukuran lain yang sering kita lupakan.
Apakah kita masih sehat?
Apakah kita masih bisa bekerja?
Apakah keluarga masih bisa makan dari hasil tangan sendiri?
Apakah tetangga masih mau datang dan berbagi cerita?
Apakah kita masih memiliki teman?
Apakah kita masih bisa membantu orang lain?
Apakah kita masih punya alasan untuk bangun setiap pagi?
Kalau jawabannya iya, mungkin hidup kita jauh lebih kaya daripada yang selama ini kita kira. Dan mungkin, itulah arti sebenarnya dari mimpi yang menolak padam. Mimpi bukan berarti seseorang harus terus mengejar sesuatu yang besar. Mimpi adalah keberanian untuk berkata: Saya belum selesai! Bahkan ketika usia mengatakan sebaliknya. Bahkan ketika penghasilan menurun.Bahkan ketika rencana tidak berjalan seperti yang diharapkan. Bahkan ketika harus memulai kembali dari nol.
Saya pulang dari pertemuan dengan Tukimin membawa satu pelajaran sederhana. Kalau suatu hari nanti kita memasuki masa pensiun, jangan hanya bertanya:
“Apa yang akan saya lakukan setelah berhenti bekerja?”
Tanyakan juga:
“Apa yang masih ingin saya hidupkan?”
Mungkin ada keterampilan yang dulu tertunda. Mungkin ada tanah yang belum dimanfaatkan. Mungkin ada hobi yang bisa menghasilkan. Mungkin ada usaha kecil yang bisa dimulai. Mungkin ada hubungan lama yang bisa kembali disambung. Mungkin ada mimpi yang selama puluhan tahun kita simpan karena terlalu sibuk bekerja.
Tidak perlu menunggu semuanya sempurna. Mulailah dari apa yang ada. Dari halaman rumah. Dari dua ekor ayam. Dari beberapa kolam ikan. Dari sebidang tanah. Dari resep makanan. Dari jaringan pertemanan. Dari tangan sendiri. Dan yang paling penting, mulailah dari keyakinan bahwa usia bukan alasan untuk berhenti menjadi berguna. Sebab pada akhirnya, mungkin yang membuat seseorang tetap muda bukanlah usia yang tertulis di kartu identitas. Melainkan semangat untuk terus bergerak.
Tukimin sudah membuktikannya. Di usia 62 tahun, ia masih berkeringat. Masih bekerja. Masih menanam. Masih beternak. Masih berjualan. Masih bersilaturahmi. Masih membantu orang lain. Dan yang paling penting, masih bermimpi. Bukan mimpi yang besar dan gemerlap. Melainkan mimpi yang sangat sederhana: hidup cukup, keluarga terpenuhi, utang perlahan lunas, dan dirinya tetap bisa berdiri dengan kaki sendiri. Mungkin itulah keberanian yang sering tidak kita lihat.
Berani memulai dari nol, ketika orang lain mengira kita sudah seharusnya berhenti. Dan barangkali, selama seseorang masih memiliki keberanian untuk memulai lagi, sebenarnya ia tidak pernah benar-benar memasuki masa tua. Ia hanya memasuki babak baru dalam hidupnya. Babak ketika mimpi tidak lagi dikejar dengan tergesa-gesa. Tetapi dirawat dengan ketekunan. Karena mimpi yang paling hebat bukanlah mimpi yang selalu mudah diwujudkan. Mimpi yang paling hebat adalah mimpi yang tetap menyala, bahkan ketika kehidupan berkali-kali memaksa kita untuk menyerah.








