Showing posts with label pengalaman hidup. Show all posts
Showing posts with label pengalaman hidup. Show all posts

Tuesday, September 17, 2024

Tips praktis menulis artikel bagi pemula: "Geopark Kebumen resmi menjadi Geopark Dunia: apa upaya kita selanjutnya?"

Bagi  pemula, menulis artikel seringkali menjadi masalah. Banyak persoalan yang sering muncul, seperti judul yang tidak sesuai dengan isi tulisan, bingung harus menulis apa pada kalimat pertama, melebar di awal bahkan tidak bisa menemukan fokus. Namun tidak demikian bagi yang terbiasa menulis. Seorang penulis biasanya memiliki pola atau struktur tulisan. Sehingga bangunan tulisan itu logis dan runtut dan enak dibaca. 

Secara garis besar sebuah tulisan itu mengikuti pola: pendahuluan, batang tubuh atau isi tulisan dan penutup. Namun persoalan terbesarnya adalah bagaimana menempatkan ketiganya tersebut secara proporsional sejak dari menulis judul, pendahuluan, isi dan panjang tulisan, diksi dan gaya bahasa.Untuk ini saya akan berbagi beberapa tips praktis menulis artikel di media massa maupun di website.

Judul menarik dan mencerminkan isi

Untuk memperoleh judul yang menarik dan mencerminkan isi dapat dilakukan setelah penulis berhasuil menyelesaikan sebagaian atau seluruh tulisan. Sehingga tidak usah berfikir bahwa menulis judul itu harus di awal sebelum menulis. Aspek lain yang perlu dipertimbangkan adalah panjang kata dalam membuat judul tulisan. Sebaiknya sebuah judul tulisan memuat kata tidak lebih dari 12 kata. Judul tulisan yang terlalu panjang menjadi kurang menarik dan membosankan.

Isi yang tidak terlalu panjang

Selain judul, isi atau batang tubuh tulisan juga tidak  terlalu panjang. Berkisar  6-12  paragraf. Jika terlalu panjang, kebiasaan para pembaca  website, mereka mudah berpindah ke tulisan lain. Namun jika tulisan kita akan membahas suatu topik yang luas, dapat dilakukan dengan membuat sub judul.

Kalimat lengkap dan bahasa yang mudah dimengerti

Salah satu tujuan menulis adalah menuangkan gagasan agar diterima mudah oleh pembaca. Oleh karena itu gunakan kalimat lengkap, pola sederhana dan menggunakan bahasa yang mudah dimengerti. Kalimat lengkap secara aturan tata bahasa harus mengandung subyek. Kalimat sederhana cukup mengandung subyek-predikat, subyek-obyek atau subyek-keterangan. Bukan merupakan kalimat majemuk. Kalimat yang panjang dapat mengaburkan makna dan sulit dimengerti

Paragraf yang dinamis anti macet

Tulisan sejatinya tersusun oleh paragraf yang saling terkait, saling menjelaskan. Terdiri dari kalimat sederhana yang terangkai dengan pilihan kata yang tepat penggunaannya. Berikut ini ada beberapa tips yang dapat digunakan  untuk membangun paragraf.

  • Kembangkan paragraf dengan pola D-A-M-K (Duduk perkara-Analisa-Misal-Kesimpulan)
  • Dengan pola D-A-M-K ini mulailah tulisan kita  dengan pernyataan atau pandangan/sikap  penulis tentang sesuatu persoalan, dengan menggunakan kalimat lengkap. Jika terdapat banyak pandangan, pilih yang sangat penting.
  • Jelaskan lebih rinci pandangan kita tersebut dari aspek Apa, Kapan, Dimana Bagaimana terjadinya dan Mengapa bisa terjadi,  Penjelasan ini biasa disebut dengan 5W 1H
  • Setelah cukup kita menjelaskan pandangan kita, jangan lupa berikan contoh riil atau data yang mendukung. Tujuannya untuk meyakinkan pandangan kita kepada pembaca. Suatu persoalan yang didukung data nampak menjadi riil atau nyata.
  • Buatlah ringkasan dan kesimpulan,  atau saran  dan harapan

Geopark kelas dunia: apa yang harus kita perbuat?

Keberadaanya harus dipertahankan, agar geopark bermanfaat bagi masyarakat yang hidup di dalamnya. Untuk itu, Geopark Kebumen harus (1) menjaga kelestarian geopark dari kerusakan atau pengrusakan (konservasi)  (2) memanfaatkan geopark sebagai media pembelajaran atau sumber belajar, sehingga menumbuhkan kesadaran untuk memanfaatkanya secara bijak (edukasi) (3) mengolah dan mengembangkan geopark menjadi bernilai ekonomi yang berkelanjutan (ekonomi)

Langkah-langkah menulis:
  1. Pilih satu diantara tiga tema di atas, bisa nemilih tema konservasi atau edukasi atau ekonomi berkelanjutan
  2. Kembanglan dengan poila D-A-M-K
  3. Mulailah dengan menuliskan pandangan/sikap  kita tentang apa yang harus kita perbuat, setelah Geopark Kebumen resmi diakui UNESCO sebagai Geopark Dunia dengan menggunakan kalimat lengkap. 
  4. Jelaskan lebih rinci pandangan kita tersebut dari aspek Apa, Kapan, Dimana Bagaimana terjadinya dan Mengapa bisa terjadi,  
  5. Setelah cukup kita menjelaskan pandangan kita, jangan lupa berikan contoh riil atau data yang mendukung. Tujuannya untuk meyakinkan pandangan kita kepada pembaca. tentang ide sesuatu yang harus kita perbuat terhadap Geopark kita.
  6. Buatlah ringkasan dan kesimpulan,  atau saran  dan harapan
  7. Masya Allah. Alhamdulillah. Kita sudah berhasil menuangkan ide kita bagaimana menyelamatkan keberadaan Geopark Kebumen sebagai Geopark kelas Dunia!

Tuesday, April 6, 2021

Menulis Kebencanaan di Media: Meluruskan Jurnalisme Bencana

Ketika ada bencana, banyak media menulisnya. Bahkan semua media menulisnya, meskipun beritanya terkesan diulang-ulang, karena dari sumber berita yang sama. Keterlibatan media dalam pemberitaan bencana bisa jadi merupakan bentuk kepedulian social. Namun ada juga yang berorientasi bahwa kejadian atau peristiwa bencana memiliki nilai jual secara ekonomis. Terlepas dari kepedulian sosial atau motif lainnya, bencana menjadi  headline setelah  terjadi. Banyak media menuliskanya di halaman utama, dengan tulisan dan warna yang mencolok, dengan ukuran yang sangat besar, bahkan satu halaman penuh dengan gambar full colour dengan harapan dapat menyedot perhatian pembacanya. 

Namun tidak banyak media mengulas, tanda-tanda bencana sebagai kesiapsiagaan bencana serta upaya-upaya yang dapat dilakukan masyarakat di lokasi terdampak serta memberikan edukasi luas tentang kesadaran "menjaga alam". Berita atau tulisan-tulisan dianggap kurang menarik. Beberapa awak media mengambil posisi pandang bahwa bad news is good  news. Akibatnya tulisan kebencanaan berisi hal-hal yang ngeri dan menakutkan. Media masih banyak  mengejar sensasi  dibandingkan  substansi. Kecenderungan lain yang masih sering terlihat di depan mata, bahwa terkesan media telah meninggalkan korban sendirian, setelah diekspos habis-habisan kesengsaraannya. Media gagal  mengawal penanganan pasca bencana dengan pembangunan lebih  baik, sebut saja misalnya  konstruksi  tahan gempa pada fase pascabencana.

 Kesenjangan antara harapan  terhadap peran dan  tanggungjawab media dengan  praktik ideal sebuah media pemberitaan inilah yang  memicu munculnya kecaman dan kritik keras publik terhadap  pemberitaan tentang bencana. Kita pernah mendengar suatu daerah bencana ditutup dan melarang masuk tim liputan media atau adanya perlakuan kekerasan yang dilakukan terhadap media. Kondisi semacam ini, sesungguhnya sangat menyedihkan. Jurnalisme telah berbelok! Hingga akhirnya masyarakat tidak lagi menganggap media sebagai teman baik yang dapat menolong menyuarakan kebaikan dan kemuliaan. Pemberitaan bencana sering terjebak pada kejadian dan sensasi publik.

Menutup kekurangan

Saatnya meluruskan makna jurnalisme kebencanaan. Tidak mudah, namun ada jitu strategi yang dapat ditempuh. Pertamamenanamkan konsep  kesiapsiagaan bencana pada awak media: praktik di Nagoya, pertemuan rutin tiap  bulan antara media, akademisi dan pemerintah  untuk mendiskusikan DRR. Kedua mainstreaming wacana  DRR dengan langsung menulis di media. Sayangnya strategi ini banyak kelemahanya. Baik dari segi kemampuan menulis dan harus bersaing dengan penulis dan tema-tema yang menarik lainnya. Namun dalam strategi ini jurnalisme bencana harus mewacanakan kesiapsiagaan pada setiap tahapan bencana. Pada tahap prabencana hal yang tidak boleh dilipakan adalah mengingatkan warga  terhadap ancaman tujuannya untuk  mendorong kesiapsiagaan.. Pada  Saat bencana harus senantiasa fokus pada korban  selamat, kelompok terentan, dan  membangkitkan semangat korban. Pada fase pascabencana, media harus mengawal proses  rekonstruksi dan rehabilitasi agar tidak  menjadi bencana baru. Ketiga,  mewacanakan  langsung DRR di  media sendiri Keempat,  Mewacanakan DRR melalui kekuatan sosial media Sebuah media yang cepat dan murah saat  tanggap darurat, Menggalang solidaritas dengan cepat, Memanfaatkan crowd untuk  pemetaan

Praktek menulis kebencanaan di media

Melaporkan kejadian atau peristiwa bencana secara memadai (5W+1H)

Mengurai kejadian secara komprehensif, sehingga memberi gambaran menyeluruh tentang kejadian bencana (MPT)

Mewacanakan DRR dalam tulisan

Pada fase Pra-Bencana tulisan mendalam atau kajian mengenai tanda-tanda, karakteristik khas, kesiapsiagaan, serta hal-hal  yang harus diperbuat. Pada fase Bencana tetaplah Fokus pada cara-cara menolong korban  selamat, kelompok terentan, dan  membangkitkan semangat korban. Pada fase pasca Bencana Upaya-upaya yang harus dilakukan dalam rekonstruksi dan rehabilitasi agar tidak  menjadi bencana  baru/berikutnya


(* Disampaikan pada Forum Jurnalisme Kebencanaan bagi Tenaga PUSDALOPS BPBD Kebumen, Rabu 7 April 2021

Tuesday, May 26, 2020

Apa bagian yang paling susah dari menulis sebuah buku?

Ini adalah tulisan sebagai kontribusi jawaban saya atas pertanyaan di platform tanya-jawab, tentang banyak hal, sesuai pilihan kita. Setiap pengunjung dapat berkontribusi sebagai penanya dan atau sebagai penjawab. Menurut saya platform ini menarik, karena dapat menjadi komunitas online atau forum diskusi. Untuk melihat Jawaban dan pertanyaan saya dapat klik di https://id.quora.com/profile/Cokro-Aminoto
Buku adalah sebuah karya yang butuh kemampuan dan kemauan keras untuk mewujudkannya. Prosesnya sejak menentukan sebuah ide, mulai menulis hingga menyiapkan lay-out sebuah buku, bagi sebagian orang merupakan proses yang tidak mudah. Butuh keekunan, tekad yang kuat serta semangat yang terus membara. Hal terakhir ini, bagi saya pribadi merupakan bagian yang sulit. Namun bukan berarti tidak dapat diatasi.
Membangun motivasi
Kalau kemampuan, pastilah untuk menulis buku diperlukan kemampuan membaca dan menulis berdasarkan teknik-teknik menulis yang dapat dipelajari. Namun, seringkali kita dihadapkan pada kenyataan, selain menulis buku, kita juga mengerjakan tugas-tugas harian lainnya. Akibatnya, project penulisan buku, jadi tertunda. Ketika sudah tertunda-tunda, munculah awal persoalan. Dari yang tidak lagi fokus, hingga malas atau hilang mood untuk melanjutkan menulis lagi. Bahkan kalau sudah begini, motivasi untuk menulis menjadi hilang!
Dari pengalaman membangun semangat menulis, saya menemukan kebiasaan yang dapat membantu saya "menghangatkan" semangat dan motivasi saya untuk menulis, yaitu: (1) menguatkan niat (2) ikut bergabung dalam komunitas (3) ikut dalam forum diskusi online (mail-list).
Kuatkan niat
Kegiatan menulis, bagi saya bukan sekedar aktivitas hobi semata. Namun adalah nilai religi yang sangat mulia. Kegiatan menulis bermanfaat untuk kebaikan baik dunia, maupun akhirat. Bagaimana tidak? Bagi seorang muslim, baca-tulis itu diperintahkan Allah dan disyari"atkan Rasulullah. "Bacalah atas nama Tuhanmu". "Ikatlah ilmu, dengan menuliskannya". Kebaikan menulis adalah berbagi ilmu yang bermanfaat untuk sesama manusia. Bahkan Rasulullah, menjamin jika kegiatan menulis dan berbagi ilmu yang bermanfaat ini, pahalanya akan terus mengalir, walaupun kita sendiri sudah mati! Oleh karena itu, untuk menguatkan niat untuk terus menulis dan berbagai ilmu, saya menuliskan syari'at itu kuat-kuat di dalam hati.
Bergabung dalam komunitas
Selain niat, untuk menumbuhkan motivasi menulis yang saya lakukan adalah bergabung ke komunitas. Meskipun tidak mudah. Di kota kecil, tempat saya tinggal informasi tentang keberadaan komunitas penulis jarang terdengar. Hingga bertahun-tahun, baru saya mendengar sebuah komunitas penulis, namun lokasinya di ibukota provinsi, jauh untuk dijangkau. Maklum, teknologi komunikasi dan informasi belum sehebat sekarang.
Bersyukur, ketika di pameran buku murah, berjumpa dengan seorang pensiunan sebuah bank BUMN. Usianya tidak muda lagi, namun semangatnya luarbiasa untuk membaca dan menulis di media masa. Bapak inilah yang kemudian mengundang saya ke rumahnya, meminta saya untuk bergabung dalam "kelompok diskusi kecil", memang anggotanya hanya tiga orang.
Meskipun jumlahnya tidak banyak, dalam sebuah komunitas, memungkinkan kita bisa saling berbagi informasi tentang kegiatan kepenulisan, sumber bacaan, teknik menulis, kiat menulis dan mengirimkan ke media massa, hingga bertukar fikiran ketika menghadapi masalah dan mencari solusi mengatasinya. Pendek kata, komunitas yang seminat dapat ikut menjaga semangat dan motivasi kita untuk tetap menulis, dan menjaga kita senantiasa berada di dekat tungku perapian.
Ikut forum diskusi online
Dengan kemajuan teknologi internet, untuk bergabung ke komunitas penulis informasinya sangat banyak tersedia. Diantara komunitas-komunitas tersebut beragam juga jenis kegiatannya. Ada yang berupa kanal diskusi (mail-list), di sana kita bisa memilih topik-topik yang kita kehendaki. Ada juga layanan berbasis web/platform forum tanya-jawab, seperti yang sedang kita lakukan saat ini. Beberapa forum online juga menyelenggarakan paket pelatihan ada yang gratis hingga berbayar, hingga menyelenggarakan kegiatan "temu darat", gathering dan bakti sosial.
Kesemuanya itu, menurut saya forum-forum online maupun komunitas dapat memberikan kesegaran baru bagi kita untuk tetap bersemangat menyelesaikan project penulisan. Semoga bermanfaat.

Saturday, May 2, 2020

Menilai Sistem Belajar Dari Rumah di Tengah Pandemi*)

Pandemi covid-19 telah banyak membawa perubahan yang sangat hebat dan mendadak. Untuk mencegah penularannya hingga pemerintah mengambil kebijakan phisical distancing guna memutus rantai penularan. Dampaknya Pemerintahan harus memberlakukan seluruh kegiatan, baik bekerja,  beribadah dan belajar
dari rumah ( lockhome ).

 Lockhome merupakan sesuatu yang baru, belum pernah ada dalam situasi normal. Berlaku secara tiba-tiba, dan tentunya banyak hal yang belum disiapkan dan belum siap menghadapi keadaan. Dalam dunia pendidikan, maka fihak-fihak yang belum disiapkan dan terkesan belum siap adalah (1) unsur siswa/mahasiswa/santri (2) unsur dosen/guru/Ustadz (3) unsur orang tua/wali dan ,(4) unsur pemerintah dalam hal ini kampus/sekolah/pondok sebagai penyelenggara pendidikan.

 Ketika diberlakukan lockhome seluruh kegiatan rapat, kuliah atau belajar, ujian, wisuda, kursus pengayaan yang biasanya dilakukan rutin di sekolah, tiba-tiba harus diselenggarakan secara online karena pesertanya berada di rumah masing-masing. Keadaan seperti ini tentunya membawa konsekuensi yang luas. Termasuk di dalamnya kesiapan anggaran untuk kuota data , ruang dan sarpras koneksi internet, (hp/laptop/komputer, camera, aplikasi-aplikasi video conference), kesiapan dan kemampuan petugas (download, instalasi, mempelajari dan mentaati prosedur. Belum lagi menerapkan sistem belajar online. Pendek kata, dalam sekejap kita dituntut harus bisa menguasai "tetek-bengek' teknologi informasi dalam pembelajaran.

Berbagai bentuk model pembelajaran di tengah pandemi
Dari tingkat kesiapan itu, menyebabkan bervariasi pula model belajarnya. Saya mendengar dari para guru, mengikuti grup media sosial dan chatting ada sekolah yang memberlakukan online dan ada yang tidak, karena alasan ketersediaan koneksi dan perangkat lainnya.  Sekolah yang tidak memberlakukan belajar online, selama lockhome dilakukan dengan cara membagikan soal yang difoto-kopi "door to door" kepada siswa, hanya memberi pesan agar siswa belajar secara mandiri di rumah. Ada pula yang berharap, meminjam istilah Prof. Imam Robandi,  adanya keajaiban bahwa pandemi ini segera berakhir.

Sementara itu, sekolah yang memberlakukan pembelajaran online pun bervariasi model belajarnya. Dari model belajar yang membagikan soal dengan mengirimkan foto soal dan siswa menjawabnya dengan menulis pesan yang berisi jawaban. Ada pula sekolah yang menerapkan model belajar ceramah, dalam bentuk rekaman audio atau video, kemudian siswa menjawabnya dengan menulis pesan yang berisi jawaban. Ada sekolah yang menerapkan model belajar dengan tanya jawab. Model ini terasa lebih interaktif dan lebih kompleks persiapanya. Karena untuk pembelajaran model ini membutuhkan aplikasi untuk melakukan panggilan dengan video secara timbal balik. Meskipun sebenarnya sudah banyak tersedia aplikasi semacam ini dari yang sederhana dan gratis seperti WhatsApp, Jitsi meet hingga yang canggih dan berbayar seperti G-suite dan zoom meeting.
Selain dari ketiga model belajar di atas, ada juga sekolah yang menerapkan model diskusi. Guru dalam hal ini sebagai host yang bertindak selaku moderator atau penilai. Siswa atau mahasiswa sebagai client mengerjakan tugas individu secara mandiri dalam format essay dengan sumber referensi online, baik buku maupun jurnal ilmiah. Selanjutnya tugas para siswa adalah memaparkan jawaban tugas mandirinya di hadapan guru dan siswa lainnya secara online. Setelah itu, moderator membuka sesi diskusi dan tanya jawab.

Menakar validitas penilaian belajar online
Dari berbagai model belajar online di atas, tentulah model terakhir yang paling kompleks persiapanya. Tetapi memiliki efektivitas pembelajaran yang lebih baik. Beberapa hal yang bisa kita catat dalam hal arah komunikasi, keterlibatan antara guru dengan siswa dan keadilan penilaian.
Dalam model belajar ini baik guru maupun siswa menyiapkan bahan belajar maupun laporan tugas individualnya dengan sebaik-baiknya, tidak memungkinkan untuk membocorkan soal dan mencontek jawaban teman, karena penugasan bersifat individual. Tugas yang harus disusun berbeda antar siswa. Sehingga lebih adil untuk menilai kemampuan individu siswa.

 Namun, bukan tanpa kelemahan dari model belajar online seperti ini. Ada bahaya plagiarisme di sana!. Untuk itulah kesiapan guru juga menjadi tantangan. Pengetahuan guru dituntut harus update. Juga kemampuan penguasaan tools  anti plagiarisme yang sudah banyak tersedia di dunia maya. Jika beberapa hal tersebut sudah disiapkan, nampaknya kita bisa mendampingi siswa meraih prestasi dan hasil belajar yang membanggakan di tengah pandemi yang belum diketahui akan berakhir kapan.

Mari kita sambut hari pendidikan dari rumah.

 (* Diadaptasi dari tulisan Prof. Imam Robandi-Guru Besar, Departemen Elektronik ITS yang berjudul "Bersekolah di Rumah"

Friday, May 1, 2020

Setiap orang (Kebumen) berhak untuk sejahtera

Pengantar

Topik ini menjadi sangat penting untuk saya tulis, karena saya meyakini bahwa masyarakat Kebumen suatu masa dapat meraih kesejahteraan. Terbebas dari belenggu kemiskinan. Seperti yang diberitakan di media massa maupun media pemerintah. Kebumen saat ini menyandang masalah kemiskinan tertinggi di Jawa Tengah. Kalau ini adalah sebuah visi  atau harapan, maka saya ingin sekali menuliskannya. Paling tidak karena tiga alasan. Pertama, saya yakin bahwa visi itu realistis dan dapat dicapai. Karena menjadi sejahtera adalah hak rakyat dan sudah menjadi kewajiban pemerintah bersama rakyat untuk mewujudkannya.

Kedua,  saya mengalami sendiri.  Meskipun saya tidak lahir di kebumen, namun keseluruhan masa hidup saya lebih banyak tinggal di kebumen. Saya banyak mengenal orientasi nilai dan budaya, kehidupan, mata pencaharian, bahasa dan sistem kekerabatan serta tradisi masyarakat Kebumen.  Secara tipologi budaya, banyak pakar mengakui bahwa masyarakat Kebumen memiliki karakteristik budaya yang positif seperti keeratan sosial dan nilai juang yang tinggi serta terbuka. Nilai budaya ini dapat menjadi modal dasar yang besar untuk membangun Kebumen yang maju. Dengan pemimpin yang berpijak pada kepentingan rakyat Kebumen, visi itu akan dapat diwujudkan.

Ketiga, saya merasakan bagaimana sesaknya dada ini ketika saya mendengar kabar santer , meski hanya cerita dari mulut ke mulut,  di tengah kita masih banyak masyarakat yang rela bahkan bersikeras agar dicatat sebagai orang miskin. Alasannya sederhana. Untuk mendapatkan bantuan. Sementara, masih ada ratusan bahkan ribuan orang lainnya, yang nyata miskin bahkan sangat miskin, tidak tercatat. Akibatnya selalu lolos dan terabaikan dari fasilitas dan bantuan bagi orang miskin.

Harapan setiap orang Kebumen sejahtera saya yakin akan terwujud. yaiitu sejahtera yang sesungguhnya, bukan karena program bantuan. Namun sejahtera karena kekuatan dan  kemampuan yang lahir dari masyarakat, sebagai akibat dari keyakinan nilai agama yang dijunjung tinggi, kekuatan berusaha dan kebersamaan membangun antara masyarakat, pemerintah, dunia usaha, pendidikan dan tenaga kerja. Meskipun hubungan antar sektor itu, kondisi saat ini terasa tidak saling berhubungan. Sebut saja anatara sektor pendidikan dan tenaga kerja, menunjukkan hubungan yang tidak linear. Output dunia pendidikan mestinya memberi sumbangan bagi pemenuhan kebutuhan tenaga kerja. Sehingga jika dihubungkan dengan kesejahteraan, maka meningkatnya jumlah lulusan perguruan tinggi, mestinya mengindikasikan meningkatnya kesejahteraan. Bukan sebaliknya. Barangkali inilah tantangan dunia pendidikan dan tenaga kerja kita.

Tentunya butuh sebuah konsep membangun yang komprehensif dan terencana. Komprehensif, karena untuk mewujudkan kondisi masyarakat yang sejahtera sangatlah banyak komponen yang harus disempurnakan. Baik infrastruktur, ekonomi, sosial, pendidikan dan ketrampilan, pelayanan kesehatan maupun lingkungannya. Terencana, artinya harus memiliki tahap-tahap pencapaian yang terukur yang mencerminkan strategi dan priotitas penyelesaian masalah yang dibutuhkan masyarakat untuk mencapai kesejahteraan.

Konsep sejahtera dan tantangan yang dihadapi masyarakat Kebumen saat ini
Menghimpun kekuatan Kebumen
Menggagas strategi dan memetakan jalan kesejahteraan Kebumen
Penutup
(Maaf belum selesai)

Selamat memperingati Hari Pendidikan dan Hari Buruh 2020
dari rumah Perumahan Bougenville, 02 Mei 2020

Thursday, April 16, 2020

Mengikuti Kursus Menulis Buku MPI, hasilnya Buku "keroyokan" Pendidikan Era Milenial

Ini adalah sebuah karya tulis "keroyokan" saya dalam bentuk buku antologi. Adalah pengalaman yang sangat langka bisa bergabung menulis buku dengan para penulis produktif dan berpengalaman Riza A. Novanto, Miftah Indy Nugroho, Siti Waeroh dan Elsavia Nindiana Solekhayati.
Pengalaman ini saya sebut langka karena ide menulis buku antologi ini awalnya adalah diskusi kecil para peserta kursus menulis. Namun berkat mentoring hebat dari pembimbingnya, yang sekaligus bertindak sebagai editor, akhirnya terwujud juga mimpi menulis buku. Buku ini saya rasa sangat relevan untuk orang tua, guru/ustadz/dosen dan pejabat yang concern dengan pendidikan anak milenial.

Dalam buku antologi Pendidikan Era Millenial ini saya"menggugat" atas hilangnya makna mendidik dalam kehidupan milenial. Karena mendidik sejatinya hal yang sangat penting yang harus dilakukan orang tua pada anaknya. Diperintahkan Allah dan disyari'atkan Rasulullah. Mendidik adalah proses panjang membangun karakter dan budi pekerti anak, melalui keteladanan  perilaku dan sifat orang tua. Anak akan mencontoh dan menyimpan ke dalam jiwanya apa yang ia lihat dari orang tuanya. Namun perkembangan teknologi informasi telah membawa perubahan yang sangat dahsyat kearah disruptif. Sayangnya sebagian besar orang tua tidak siap. Alih-alih orang tua melimpahkan tanggung jawabnya kepada guru atau sekolah.

Orang tua berharap pada guru atau sekolah dapat memikul tanggung jawabnya dalam mendidik anak. Namun sistem pendidikan dan kurikulum sekolah telah "menjauhkan" anak dengan nilai-nilai karakter dan budi pekerti.  Anak-anak milenial menghadapi persoalan yang serius. Di rumah, ia tidak menemukan sosok orang tua. Di sekolah ia banyak dijejali berbagai ilmu pengetahuan dan ketrampilan teknis. Namun tidak jiwanya, kosong-jauh dari nilai, karakter dan budi pekerti. Akibatnya, anak mencari solusi dari lingkunganya. Di era milenial, anak-anak tidak lepas dari gadget, terkoneksi internet, terhubung media sosial dan kepemilikan berbagai akun untuk update informasi. Dalam kondisi seperti ini, generasi milenial rawan terjerumus dalam permasalahan pergaulan bebas, penyimpangan seksual, narkoba, korban penipuan, dan kekerasan fisik.

 Sebenarnya anak-anak sangatlah memerlukan pengawasan, Komunikasi dan kepedulian orang-orang terdekatnya, seperti guru, keluarga atau orang tuanya. Mereka juga memiliki kepedulian terhadap persoalan sosial, memiliki minat terhadap hal2 baru, melek teknologi dan sangat kreatif. Untuk mengembalikan aspek karakter dan budi pekerti yang "hilang" dalam pendidikan anak, harus dimulai dari  upaya memperbaiki kualitas komunikasi antara anak, orang tua dan guru. Gerakan "2 jam kumpul tanpa gadget" merupakan upaya riil orang tua memperbaiki hubungan dengan anak. Dengan mengambil posisi "mendengar efektif",  orang tua sedang  menumbuhkan kepercayaan, juga martabatnya.

Wednesday, June 6, 2018

Membangun Budaya Menulis di Kalangan Santri*)

"Di era milenial ini, santri bukan sekedar mereka yang mondok saja, tapi dia yang berjiwa santri dan bersifat santri, itulah santri yang sebenarnya". Demikian yang dikatakan Mustofa Bisri alias Gusmus yang kini menjadi pimpinan pondok pesantren Raudlatut Thalibin, Rembang sekaligus sastrawan yang karya-karyanya selalu bijak dan memukau. Sehingga ketika jaman menggeser kehidupan ke arah digital, seorang santri harus dapat menyesuaiakannya. 

Disadari atau tidak, saat ini masyarakat terutama kaum muda telah mendiami alam digital dengan menjadi warga netizen. Setiap hari masyarakat disibukkan dengan permasalahan internet, kuota dan koneksi dengan dunia maya. Kaum muda di jaman now, setiap saat tidak bisa lepas dari gadget, smartphone, laptop dan komputer. Kondisi semacam ini, menjadi tidak relevan jika pendekatan kajian, dakwah dan dialog masih menggunakan cara-cara tradisional. Sudah saatnya kita melayani mereka dengan pendekatan yang lebih kekinian, menyesuaikan tempat hidupnya sekarang. Sarana komunikasi di jaman digital mampu  menembus ruang dan waktu, mengatasi jarak dan melampaui ruang yang terpisah jauh. 

Teknologi informasi dapat melipatgandakan kecepatan penyampaian pesan.
Namun bukan tanpa kendala.Untuk dapat berkomunikasi melalui media informasi dibutuhkan semangat dan kemampuan menuliskan pesan-pesan dakwah. Karena pada hakikatnya berdakwah itu menyerukan untuk berbuat kebaikan dan mencegah  kemungkaran. Diakui atau tidak, saat ini tradisi menulis di kalangan santri kurang terbina dengan baik. Santri lebih banyak didorong untuk melakukan komunikasi dialogis secara konvensional.

Penulis versus Pengarang
Antara penulis dengan pengarang sepintas memiliki kesamaan pengertian, namun sebenarnya memiliki perbedaan yang nyata. Seorang penulis, menuangkan ide dan karya tulisannya berasal dari bahan, ilmu dan pengetahuan yang diperoleh dari proses membaca. Membaca karya tulis, buku atau hasil karya ilmuwan/penulis lain. Sehingga untuk dapat menulis bagus, menghasilkan karya tulis yang mengesankan seorang penulis harus banyak dan rajin membaca.

Penulis juga Pendakwah
Pada hakikatnya seorang penulis juga seorang pendakwah, jika tulisan-tulisannya dapat menggerakkan orang lain untuk melakukan kebaikan dan mencegah orang lain melakukan keburukan.

Berdakwah di Era Digital
Dakwah di era digital tidak lepas dari aturan-aturan berkomunikasi secara elektronik. Dengan menggunakan  alat-alat komunikasi yang serba canggih, seperti smartphone memungkinkan seorang dapat berkomunikasi multi chanel, multi platform dan multi media. Maknanya bahwa seseorang dalam kecanggihan teknologi informasi saat ini dapat berkonunikasi dan dapat diakses dengan berbagai cara, oleh banyak orang sekaligus dengan berbagai macam alat yang digunakan. Sehingga jika seorang santri ingin berdakwah melalui tulisan misalnya, dan mengirimkan tulisan itu melalui media sosial dalam sekejap dan dalam waktu yang sama dapat dilihat oleh banyak bahkan berjuta orang. Sehingga tidak jarang suatu pesan yang disampaikan itu dapat bermanfaat, menghindarkan orang dari berbuat jahat dan mengembalikan anak-anak yang durhaka menjadi sholeh kembali. Namun tidak jarang pula, efek sebuah pesan menimbulkan kontroversi, polemik dan mencelakakan orang.

Melihat dampak dari pesan-pesan yang dikirim melalui transmisi (saluran) komunikasi ini Pemerintah berkewajiban memberi perlindungan dengan menciptakan regulasi atau aturan-aturan untuk menjaga kenyamanan proses komunikasi. Saat ini Pemerintah telah mengeluarkan Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) dalam rangka melindungi hak-hak warga negara dalam berkomunikasi.Hal-hal yang dilarang dalam kegiatan transaksi elektronik, antara lain:

  • Sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan atau mentransmisikan dan atau membuat dapat diaksesnya informasi elektronik dan atau dokumen elektronik yang memiliki muatan yang melanggar kesusilaan.
  • Sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan atau mentransmisikan dan atau membuat dapat diaksesnya informasi elektronik dan atau dokumen elektronik yang memiliki muatan perjudian.
  • Sengaja, dan tanpa hak mendistribusikan dan atau mentransmisikan dan atau membuat dapat diaksesnya informasi elektronik dan atau dokumen elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan atau pencemaran nama baik.
  • Sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan atau mentransmisikan dan atau membuat dapat diaksesnya informasi elektronik dan atau dokumen elektronik yang memiliki muatan pemerasan dan/atau pengancaman.
  • Sengaja, dan tanpa hak menyebarkan berita bohong dan menyesatkan yang mengakibatkan kerugian konsumen dalam transaksi elektronik.
  • Sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).
  • Sengaja dan tanpa hak mengirimkan informasi elektronik dan atau dokumen elektronik yang berisi ancaman kekerasan atau menakut-nakuti yang ditujukan secara pribadi.
Menulis di Web atau Media Sosial



*) Disiapkan untuk

Monday, February 27, 2017

Menyajikan tulisan dengan menarik*)

Bagi sebagian orang kemampuan menulis, dapat digunakan sebagai jalan untuk berbagi kebaikan. Seperti halnya semangat penulis Antoni Ludfi Arifin, yang tercermin dalam bukunya "Be a Writer. Pandangan ini banyak benarnya. 


Mengapa menulis
Bagaimana tidak, karena seorang penulis adalah seorang komunikator, menyampaikan pesan, menyampaikan ilmu. Sehingga seorang penulis, jika tulisannya menebar kebaikan, membagi ilmu yang bermanfaat, maka sesungguhnya seseorang sedang membangun amal yang abadi. Karena sesungguhnya ilmu yang bermanfaat itu pahalanya mengalir terus, meski seseorang telah meninggal dunia.

Namun tidak banyak yang menyadari, bahwa manusia terbatas dalam menyerap ilmu yang dia pelajari. Untuk itu, tepatlah kita jika mengikuti kata-kata bijak dari seorang shahabat Rasul "Ikatlah ilmu dengan menuliskannya".

Kendala menulis
Seringkali seseorang lebih suka berbicara, dari pada menulis, karena banyak kendala, baik teknis maupun non-teknis. Tapi alasan tersebut lebih banyak karena non-teknis, seperti macet-idenya tidak mau berkembang, alasan tidak terbiasa, sibuk dan tidak memiliki waktu,  tidak berbakat, malas membaca, banyak aturan. 

Apa benar begitu? Tapi, mengapa jika ngobrol, bisa panjang dan berlama-lama, mengasyikkan dan sampai tidak ingat waktu?

Solusi
Menulis dengan gaya bertutur! Ya, kita akan mulai dengan belajar menulis seperti halnya gaya orang bercerita. Maka akan menarik seperti orang ngobrol, runtut, mengalir, tdk kehabisan ide, bahkan dapat menulis serial.

Menulis vs. Mengarang
Menulis berdasar pada ilmu dan pengalaman. Ilmu dan pengalaman kita peroleh dari membaca, membaca buku, membaca kehidupan dan pengalaman pribadi. Sedangkan aktivitas mengarang lebih berdasar pada imajinasi dan khayalan seseorang. Sehingga hasil tulisan seorang pengarang biasa diiiiiebut karya fiksi.

Mulai menulis dari pengalaman pribadi
Setiap orang pastilah punya pengalaman belajar, pengalaman membaca dan pengalaman pribadi. Kita dapat mulai menulis dg menuliskan pengalaman pribadi kita yg paling berkesan. Sebagai contoh,  sepanjang  pagi  hari ini hingga menjelang siang, tentulah banyak pengalaman atau kejadian yang menimbulkan kesan mendalam dan kitapun dapat mulai menuliskannya. Ambil atau mintalah selembar kertas kosong.
  • Sekarang tuliskan apa pengalamn yg paling berkesan hari ini
  • Kapan waktu tepatnya kejadian yg kita alami itu terjadi
  • Dimana saat itu kita berada
  • Dengan siapa saja yg terlibat, atau siapa saja yang membantu
  • Coba ingat-ingat kembali kira_kira mengapa kejadian tersebut timbul
  • Kemudian, apa pesan utk org lain, keluarga, masyarakat atas kejadian yg kita alami
Dengan begitu ALHAMDULILLAH, kita sudah bisa menulis.  Semoga tulisan kita jadi ibadah sekaligus menjadi amal kebaikan. Bagaimana caranya? Teruslah menulis, dan menyampaikann hal-hal yang baik. Dengan semangat berlomba-lomba berbuat  kebaikan, maka kita akan bersemangat untuk terus menulis dan menyampaikan hal-hal yang bermanfaat.

Penutup


Kunci  sebuah tulisan,adalah kemampuan memilih kata, merangkainya dlm kalimat efektif, dan mengembangkannya dlm sebuah paragraf yang berurutan. Jika paragraf     berhasil kita ciptakan, sebenarnya itu sudah cukup. Namun jika masih banyak informasi   yang penting yg ingin kita sampaikan, kita dapat meempuhnya dengan beberapa cara. Diantara cara tersebut, adalah melalui teknik kronologis kejadian, urutan proses, kontras atau perbandingan dulu-sekarang, sebelum dan sesudah.

(* Disampaikan pada Workshop penulisan dan pengelolaan website instansi bagi Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Kabupaten Kebumen, Tahun 2017 di Ruang Jatijajar Kompleks Pendopo Bupati Kebumen, 28-02-2017

Wednesday, November 30, 2016

Meningkatkan minat guru untuk melakukan penelitian *)

Sejak diberlakukannya UU Guru dan Dosen tahun 2005 dan sertifikasi guru dalam jabatan tahun 2007, ternyata sangat berdampak besar dalam dunia pendidikan kita. Banyak yang mengikuti sertifikasi guru agar dapat memperoleh sertifikat, dan menjadi guru profesional. Akibatnya, makin meningkatkan minat  masyarakat untuk menjadi guru.  Profesi guru memperoleh posisi sosial yang istimewa, dengan nilai ekonomi yang tinggi. Kita maklumi, karena memang perhatian pemerintah dalam dunia pendidikan dan guru selama ini dirasakan belum optimal.

Impian jadi guru profesional
Namun realitanya, harapan adanya guru yang profesional masih jauh.  Aktivitas sebagian guru belum berubah, terjebak rutinitas, pagi datang hingga siang pulang. Guru mengajar seperti biasa dengan metode ceramah. Andalan utama guru adalah buku teks. Akibatnya proses pengajaran tidak merangsang anak untuk membaca lebih dalam dari informasi guru. Pemandangan semacam ini mestinya dapat diatasi,  jika guru lebih sensitif dengan kondisi anak. Serta adanya kemauan dan kemampuan  guru untuk mencari tahu kemampuan dan kemauan anak.

Melalui penelitian tindakan kelas misalnya, memungkinkan seorang guru mengetahui efektivitas proses pembelajaran,  mencari cara-cara untuk meningkatkan, serta  memilih metode mengajar yang efektif.  Namun,  riset di kalangan guru masih belum menjadi tradisi keilmuan. Di kalangan guru, masih banyak terdengar bahwa  penelitian tindakan kelas itu dibuat sekedar untuk memenuhi persyaratan sertifikasi atau kenaikan pangkat

Berbagai faktor penyebab utama
Dari pemberitaan koran lokal, suatu Kabupaten di Jawa Tengah  menyatakan akan menarik sertifikasi guru untuk sementara, jika selama lima tahun yang bersangkutan tidak membuat karya ilmiah. Ini merupakan fenomena masih rendahnya minat guru untuk meneliti dan menyusun karya ilmiah.  Rendahnya minat guru untuk melakukan penelitian, paling tidak ada dua faktor yang melatarbelakanginya.

Pertama, adalah faktor mentalitas. Ada sebagian orang berfikiran dapat mencapai keberhasilan itu, tanpa usaha keras. Ada sebagian guru, membuat karya penelitian itu hanya karena memenuhi  persyaratan sertifikasi atau kenaikan pangkat.  Praktis,  karya ilmiah itu dibuat sekedarnya dan tidak maksimal. Belum lagi, dari sisi administrasi, masih permisif kearah kualitas karya. Kedua, selain  mentalitas, faktor lainnya  adalah kemampuan. Ketika seorang guru harus menyusun laporan penelitian, berarti dia harus memiliki kemampuan menulis dan kemampuan meneliti. Dalam hal kemampuan menulis, ternyata tidak seluruhnya guru memiliki kemampuan untuk itu. Sebab musababnya karena sebagian guru relatif jarang membaca.  

Awalnya adalah kebiasaan membaca
Jika seseorang tidak pernah membaca, bagaimana mungkin dia dapat menulis?  Mengapa begitu? Karena proses menulis pada dasarnya merupakan kegiatan menghubungkan antara konsep yang satu dengan yang lain. Beberapa konsep itu, bisa jadi berasal dari satu, dua atau bahkan banyak bacaan. Rendahnya  minat baca biasanya berpengaruh terhadap minat menulis. Dengan memiliki kemampuan menulis, seorang guru akan mudah menyampaikan idenya dengan kalimat yang efektif. Dia juga, akan dapat memilih kata dan gaya bahasa yang tepat,  menciptakan paragraf yang dinamis dengan hubungan yang koherent.

Meneliti untuk mengatasi masalah
Belum lagi, persoalan kemampuan meneliti. Kemampuan meneliti, berarti berhubungan dengan  menerapkan metode penelitian. Karena penelitian sebagai metode ilmiah, tentulah harus mengikuti tahapan dan mekanisme baku yang harus diikuti oleh seorang peneliti. Agar hasilnya dapat dipertanggungjawabkan secara ilmu.  Penelitian atau re-search, secara sederhana dapat dijelaskan sebagai  cara ilmiah untuk mencari jawab atas persoalan-persoalan yanag sifatnya kompleks.

Melalui pendekatan  ilmiah itu, problematika penelitian kemudian dirumuskan ke dalam kerangka yang lebih terukur untuk menemukan fokus. Fokus inilah yaang kemudian disebut sebagai variabel. Berdasarkan tinjauan teori dari ilmu pengetahuan yang telah ada, seorang peneliti dapat menduga sementara bagaimana  arah interaksi  antar variabel penelitianya. Inilah yang dinamakan hipotesis. Agar hipotesis yang sifatnya teoritis itu dapat digunakan untuk mengukur realitas yang terjadi dalam kegiatan belajar-mengajar misalnya, maka hipotesis teori itu harus dioperasionalkan. Sehingga nantinya, seorang guru yang bertindak sebagai peneliti akan tahu,  bagaimana cara mengukurnya di kelas, dengan teknik apa mengumpulkan datanya, meliputi berapa siswa yang perlu diikutsertakan serta bagaimana mengolah datanya setelah dikumpulkan.

Inilah yang dianggap sebagian guru kita sebagai sesuatu yang ribet. Sehingga wajarlah jika kemudian, ada sebagian guru, memilih cara-cara “belakang” yang pikirnya lebih mudah.  Jika keadaan dan mentalitas itu tidak segera diubah, niscaya dunia pendidikan kita akan mengalami masa yang suram.

Mulai dari perpustakaan
Sudah saatnya menegakkan kualitas mekanisme sertifikasi guru, dengan menutup rapat-rapat “pintu belakang” di tiap tingkatan administrasi. Terhadap guru sudah bersertifikasi, perlunya sistem penghargaan yang lebih memadai, sehingga kesejahteraannya meningkat dan memiliki dorongan untuk terus exist menjadi guru yang profesional. Sementara itu, untuk menutup kesenjangan kemampuan menulis maupun kemampuan meneliti, dapat dimulai dari ruang perpustakaan. Saatnya koleksi perpustakaan sekolah tidak lagi berisi  latihan soal dan bacaan untuk siswa saja.

 Guru perlu membaca. Guru perlu bahan bacaan yang memperkaya  pola pikir. Perlu adanya forum, workshop atau sanggar yang dapat meningkatkan kemampuan praktis guru, serta adanya kegiatan kompetitif yang dapat mendorong  kegiatan meneliti. Jika hal-hal tersebut dapat dicapai, kita bisa yakin bahwa pendidikan, mulai dari  proses belajar mengajar akan meningkat dengan  memanfaatkan hasil penelitian tindakan kelas yang valid dan reliabel.


*)  Catatan:
Arsip naskah un-publish dalam rangka memperingati Hari Guru


Peran KORPRI dalam meneguhkan profesionalisme dan netralitas ASN dalam pelayanan publik *)

Melalui berbagai regulasinya, pemerintah sebenarnya telah demikian jelas mendudukkan posisi PNS sebagai profesi yang netral dengan tujuan untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat secara profesional, jujur, adil, dan merata. Hal ini sebagaimana diatur dalam undang-undang pokok-pokok kepegawaian, yang ditetapkan sejak tahun 1999. Namun, upaya ini belumlah nampak riil pada perilaku kerja PNS dalam pelayanan publik.

Potret kinerja pelayanan publik
Laaporan Ombudsman Republik Indonesia akhir-akhir ini, menengarai adanya kenaikan drastis keluhan masyarakat terkait penyimpangan penyelenggaraan pelayanan publik. Pada tahun 2013, keluhan atas kasus penyimpangan itu meningkat hampir dua kali lipat! Dari 2.209 laporan pada tahun 2012  meningkat menjadi 4.359 laporan masyarakat pada tahun 2013. Jumlah itu meningkat 97,3 %, dengan lokus terbanyak terjadi pada pelayanan Pemerintah Daerah, pelayanan di kepolisian, instansi vertikal dan Badan Pertanahan  (Pikiran Rakyat, 2014). Selanjutnya dalam laporan itu, juga menyebutkan bahwa penyimpangan pelayanan publik tersebut terjadi dalam bentuk konflik kepentingan, permintaan uang, barang, dan jasa serta terjadinya mal-administrasi pelayanan.  Kerja aparat dianggap lamban, adanya keberpihakan dan dinilai tidak kompeten.

Profesionalisme dan netralitas
Jika kita perhatikan, potret kinerja pelayanan publik di atas, mencerminkan bagaimana kondisi kinerja sesungguhnya para aparat sipil negara kita sebagai penyelenggara pelayanan publik. Dari bentuk penyimpangan pelayanan di atas, kita dapat mengerti, bahwa permasalahan utama Aparatur Sipil Negara (ASN) adalah masalah profesionalisme dan netralitas. Kedua permasalahan tersebut, baik profesionalisme maupun netralitas dapat saling mempengaruhi. Keduanya melekat pada aktivitas seseorang ASN.  

Dalam hal profesionalisme, seseorang dikatakan profesional jika ia melakukan pekerjaan dengan keahlian khusus dan menghasilkan produk  layanan yang berkualitas, bertanggung jawab, dan sistematis. Tingkat profesionalisme seseorang sebenarnya dapat diamati dari apakah seseorang itu menyukai atau menikmati tugas yang ia kerjakan. Dari tingkat rasa suka dan menikmati pekerjaan akan terpantul antusiasme dan kepeduliannya dalam melayani klien atau masyarakat. Kedua hal itulah yang langsung dirasakan dan dinilai oleh masyarakat, bahwa ia telah dilayani secara profesional atau tidak. Telah terjadi mal-administrasi atau tidak. Oleh karena itu, jika kita ingin membangun profesionalisme, kita bisa meminjam konsep David H.Maister (1997) seorang penulis “True Profesionalism : The courage to care about your people, your client, and your career”, bahwa profesionalisme itu sesungguhnya merupakan perpaduan antara motivasi, inisiatif, komitmen, keterlibatan langsung dengan pekerjaan dan antusiasme.

Netralitas melahirkan keadilan dalam pelayanan
Permasalahan netralitas ASN sebenarnya tidak hanya dalam konteks Pilkada atau proses suksesi kepemimpinan saja. Dalam konteks yang lebih luas, netralitas ASN sering diuji ketika menyangkut SARA. Rendahnya netralitas ASN dalam pelayanan publik sering kali berakibat munculnya konflik kepentingan, keberfihakan dan pelayanan yang tidak merata, penyimpangan prosedur dan tidak transparan.  Kesemuanya itu akan menyebabkan munculnya ketidakadilan dalam pelayanan.

Menunggu realisasi reformasi birokrasi
Melihat besar dan luasnya persoalan dalam sistem pelayanan publik, sebenarnya Pemerintahpun tidak tinggal diam. Upaya yang dilakukan pemerintah sangatlah mendasar dalam bentuk Grand Disain Reformasi Birokrasi, untuk mewujudkan tata kelola kepemerintahan yang baik (good governance). Tujuanya adalah untuk menciptakan birokrasi pemerintah yang profesional dengan karakteristik, berintegrasi, berkinerja tinggi, bebas dan bersih KKN, mampu melayani publik, netral, sejahtera, berdedikasi, dan memegang teguh nilai-nilai dasar dan kode etik aparatur negara.

Melahirkan Undang-undang ASN
Dari Reformasi Birokrasi melahirkan UU Nomor 5 tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara, yang menempatkan aparatur sipil negara sebagai bagian dari reformasi birokrasi, menetapkan aparatur sipil negara sebagai profesi dan menerapkan prinsip merit dalam pelaksanaan manajemen aparatur sipil negara.  Dengan kelahiran undang-undang ASN memberi landasan manajemen pengelolaan dan pengembangan aparatur di kemudian hari.

Berharap dari implementasi merit system
Untuk merealisasikanya, Pemerintah menerbitkan Permen PAN-RB No. 13 tahun 2014. Sesuai Peraturan menteri ini,  manajemen ASN dilakukan sesuai dengan kualifikasi, kompetensi, dan kinerja secara adil dan wajar dengan tanpa membedakan latar belakang politik, ras, warna kulit, agama, asal usul, jenis kelamin, status pernikahan, umur, atau kondisi kecacatan. Sistem merit ini dengan sembilan prinsipnya, akan mampu membangun terciptanya aparatur yang memiliki profesionalisme dan netralitas tinggi dalam pelayanan publik.

Peran KORPRI ke depan
Sebagai korps yang beranggotakan para profesi pegawai ASN, KORPRI ke depan memiliki peran strategis, dalam menumbuhkembangkan profesionalisme dan menjaga netralitas ASN dalam pelayanan publik, baik melalui upaya internal maupun eksternal. Secara internal KORPRI paling tidak berperan membangun independensi, profesionalisme dan netralitas. Sedangkan eksternal, KORPRI dituntut perannya dalam mendorong Pemerintah mengimplementasikan prinsip-prinsip manajemen ASN dengan  sistem merit, yang memungkinkan terbinanya kinerja, profesionalisme dan netralitas ASN dalam pelayanan publik.

Dengan demikian, harapan besar akan meningkatnya kualitas pelayanan publik, sebenarnya masyarakat sangat menggantungkan harapan tersebut kepada KORPRI dalam memainkan peranya dalam menumbuhkan profesionalisme dan netralitas ASN.

(* Catatan:
Arsip naskah lomba karya tulis
dalam rangka HUT KORPRI Kabupaten Kebumen
tgl 29 Nopember 2016, sebagai Juara I. 




Monday, August 8, 2016

STOP KEKERASAN PADA ANAK: Janganlah Marah*)

Seringkali kita mendengar tentang larangan untuk melakukan kekerasan terhadap anak. Bahkan suatu kali ada kasus penganiayaan pada anak di suatu sekolah di ibu kota. Sontak dalam sehari bahkan berminggu-minggu berita di media massa, siaran televisi, semua membahas dan menentang perbuatan yang mengandung kekerasan pada anak. Tetapi apakah kita menyadari, bahwa kita sebagai orang tuapun kadang-kadang melakukan “kekerasan” terhadap anak.  Jangan-jangan kita biasa melakukanya pada anak kita.

Mengapa bisa begitu? Ingatlah sahabat, marah itu juga termasuk kekerasan!  Kekerasan pada anak ternyata tidak hanya  berupa penyiksaan fisik saja, tetapi dapat berupa pelecehan sosial, pengabaian dan penyiksaan emosional anak. Marah, seperti yang dituturkan Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas, adalah bara yang dilemparkan setan ke dalam hati anak Adam sehingga ia mudah emosi, dadanya membara, urat sarafnya menegang, wajahnya memerah, dan terkadang ungkapan dan tindakannya tidak masuk akal.
Pada saat orang tua menumpahkan kemarahannya pada anak, pada saat yang sama orang tua telah menyiksa emosi anak. Kemarahan  orang tua dapat memunculkan sikap  penolakan,  tidak peduli, mengancam, mengisolasi dan membiarkan anak. Akibatnya, anak merasa tersiksa perasaannya.

Dampak penyiksaan emosional anak
Kemarahan orangtua dapat berdampak buruk pada anak. Marah banyak sekali menimbulkan perbuatan yang diharamkan seperti memukul, melempar barang pecah belah, menyiksa, menyakiti orang, dan mengeluarkan perkataan-perkataan yang diharamkan seperti menuduh, mencaci maki, berkata kotor, dan berbagai bentuk kezhaliman dan permusuhan, bahkan sampai membunuh. Seperti kasus penganiayaan terhadap Arie Hanggara yang dilakukan ayahnya, menjadi cerita yang sangat memilukan. Bahkan sempat diangkat ke layar perak. Arie, pada Desember 1984, menjadi korban kekerasan ayahnya yang menyebabkan nyawanya melayang.

Mempengaruhi jiwa anak
Anak-anak seringkali akan meniru perilaku orang tua kepadanya. Dan jauh dalam hatinya, perlakuan marah orangtua membuatnya  merasa sakit. Dan sakit itu terus diingatnya, bahkan hingga dia dewasa. Dalam perkembangan anak, orangtua terutama ibu adalah madrasah pertama dan utama anak.
“Ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan.’’ (Al-Ahqaf: 15). Dalam kehidupan anak selanjutnya, ibunya yang melatihnya duduk, berdiri, dan berjalan. Ibunya yang mendekap dan menggendongnya jika dia jatuh ketika berlatih berjalan. Ibunya  yang melatih berbicara, memanggil mama, papa, ibulah yang menyuapinya sekaligus melatihnya cara-cara makan, ibulah yang dan seterusnya.

Dari perilaku orang tualah, anak belajar berterimakasih, dan meminta maaf, hingga membentuk karakter anak. Karakter anak akan terbentuk oleh bagaimana kebiasaan orang tua memperlakukan anak. Seperti yang dituturkan Dorothy Law Nolte dalam bukunya  “CHILDREN LEARN WHAT THEY LIVE” :
Jika anak dibesarkan dengan celaan, dia belajar memaki
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan/kekerasan, dia belajar membenci
Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, dia belajar rendah diri
Jika anak dibesarkan dengan hinaan, dia belajar menyesali diri
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, dia belajar menahan diri
Jika anak dibesarkan dengan pujian, dia belajar menghargai
Jika anak dibesarkan dengan dorongan, dia belajar percaya diri
Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baiknya perlakuan, dia belajar keadilan
Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, dia belajar menaruh kepercayaan
Jika anak dibesarkan dengan dukungan, dia belajar menyenangi dirinya
Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, dia pun belajar menemukan cinta dalam kehidupan”

Janganlah marah
Mengingat dampak buruk marah orang tua pada anak, maka segeralah untuk mengakhiri. Karena marah merupakan salah satu bentuk kekerasan pada anak. Rendahkanlah nada suaramu para orangtua, berikan pelukan dan sentuhan lembut pada kepala anak sebagai tanda berbaikan. Selanjutnya, ingatlah pesan agama, janganlah marah, maka bagimu syurga. Biarlah anak-anak memperoleh syurganya, dengan kehidupan penuh damai. Dengan memberinya kasih sayang dan persahabatan. Dengan begitu, sirnalah kekerasan pada anak dengan berhenti marah.

*)  Catatan:
Arsip naskah  Lomba Menulis Esai untuk Mahasiswa dan Umum, 
yang diselenggarakan oleh PDNA Kebumen
sebagai Juara I

Thursday, June 9, 2016

Mulailah hidup sederhana dan tidak boros*)

Dalam kehidupan sehari-hari hidup sederhana seringkali diidentikan dengan kehidupan dari golongan orang-orang yang tidak berada. Atau kehidupan orang miskin dari golongan menengah ke bawah. Namun pada hakekatnya ajaran tentang hidup sederhana merupakan syari’at Islam. Islam tidak menganjurkan umatnya dengan bergaya hidup mewah, hidup yang berlebih-lebihan, glamour serta bermegah-megahan. Hal ini sesuai firman Allah swt. dalam Al-Quran yang berbunyi :

وَكُلُواْ وَٱشۡرَبُواْ وَلَا تُسۡرِفُوٓاْۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلۡمُسۡرِفِينَ 

Artinya: makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (al-A'raf: 31 ).
Oleh karena itu, prinsip hidup sederhana bukanlah hanya semboyan dalam ucapan belaka, namun harus tercermin dalam perilaku kehidupan sehari-hari dalam menjalani hidup.
Memang tidak mudah dalam praktiknya. Sudah menjadi tabiat manusia, ia akan lebih konsumtif dan menghamburkan uang, manakala mulai meraih kehidupan yang mapan, dengan segala kemudahan ekonomi. Banyak yang berfikir, seolah-olah kekayaanya  kurang berarti banyak, jika pemiliknya tidak mempergunakannya untuk keperluan yang lebih besar dan menunjukkan kesan kemewahan. Misalnya dengan banyak membeli barang-barang  yang sebenarnya kurang penting baginya, tetapi dari barang tersebut memberi kesan pada orang lain, seseorang itu lebih kaya dan lebih modern.

Memaknai dan mewujudkan hidup sederhana
Jika kita perhatikan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala di atas, maka disebut hidup sederhana itu adalah gaya hidup yang tidak berlebih-lebihan.
Agar tercipta mentalitas yang baik berhubungan dengan gaya hidup itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan manusia agar dalam pemenuhan kebutuhannya dilakoni secara bersahaja, tengah-tengah, dan tidak boros dalam pengeluaran. Seperti yang difirmankan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam al-A’râf/7:31:

يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.

وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

Dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan. [al-An’am/6:141).

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan bahwa hidup bermewah-mewah meskipun dengan barang-barang yang sifatnya mubah, dapat berpotensi menyeret manusia kepada pemborosan. Ini juga dapat menunjukkan manusia tersebut tidak memberikan apresiasi yang semestinya terhadap harta yang merupakan nikmat Allah, sehingga ia masuk dalam perilaku menyia-nyiakan harta.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya: “Jauhilah gaya hidup bermewahan. Sesungguhnya hamba-hamba Allah itu bukan orang-orang yang bermewah-mewahan”

Sehingga orang yang hidup sederhana adalah Mereka yang tidak menghambur-hamburkan uang dengan belanja di luar kebutuhannya. Juga bukan orang-orang yang bakhil kepada keluarganya, sehingga kebutuhan bagi keluarganya pun terpenuhi dan tidak kekurangan. Mereka membelanjakan hartanya secara adil. Dan sebaik-baik urusan adalah yang tengah-tengah, tidak berlebihan ataupun tidak kikir.

*) Catatan:
Arsip naskah yang menjadi bahan penulisan
Buku MIMBAR DAKWAH KEUMATAN-Buku kumpulan tulisan, 
yang di KataPengantari oleh beliau Bupati Kebumen, Ir.H.M.Yahya Fuad, SE

Sunday, May 29, 2016

Kewajiban orang tua mendidik anak*)


Assalamu,alaikum
Yth. Kepala LPI Al Iman Kebumen
Yth. Kepala SDIT Al Madinah Kebumen
Yth. Kepala RAT Yaa Bunnayya Kebumen
Yth. Bapak/Ibu dari Kantor UPTD Dikpora Kec. Kebumen
Yth. Ketua Komite Sekolah
Yth. Bapak/Ibu orang tua/Walisiswa RAT Yaa Bunnayya Kebumen

Pertama-tama, perkenankan saya menyertai Bapak/Ibu sekalian untuk memanjatkan puji syukur kehadirat Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Karena atas perkenan-Nya, kita dapat bertemu dalam suatu majelis ilmu, yaitu acara Akhirussanah RAT Yaa Bunnayya Kebumen yang ke 13 tahun 2016 dalam keadaan sehat wal afiat. Salam dan sholawat semuga tercurahkan pada junjungan Nabi Muhammad SAW, semoga kita tercatat sebagai umatnya.
Selanjutnya perkenankan saya berdiri di sini untuk mewakili orang tua/walisiswa RAT Yaa Bunnayya Kebumen pada acara hari ini, manakala dalam beberapa hal yang akan saya sampaikan ada kesalahan atau kekurangannya. Untuk itu, saya sampaikan permohonan maaf lahir-bathin.

Kewajiban mendidik anak
Istilah akhirussanah dalam pengertian sehari-hari dimaknai sebagai kegiatan tutup tahun pelajaran.  Walaupun sebenarnya pendidikan anak menurut Islam berlangsung sepanjang hayat, belajar dari ayunan sampai ke liang lahat. Hal ini mengandung pengertian bahwa manusia membutuhkan pendidikan dalam seumur hidupnya. Dalam sebuah hadits shohih, dinyatakan bahwa pada dasarnya manusia dilahirkan dalam keadaan suci. Selanjutnya seseorang akan menjadi yahudi, nasrani atau majusi, tergantung dari pendidikan yang diberikan orang tuanya.
Oleh karena itulah, wajib hukumnya bagi orang tua untuk menyiapkan pendidikan anaknya. Orang tua wajib menjaga anaknya dari kesatan. Sebagaimana diperintahkan Allah dalam Qur’an surat At-Tahrim ayat 6: “Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”

Dimulai dari rumah
Seorang anak sejak lahir, tumbuh dan berkembang bermula dari rumah. Pendidikan yang ia terima sangat tergantung dari pola dan pendidikan orang tuanya, terutama ibu dan bapaknya. Oleh karena itu, keluarga harus menjadi madrasah pertama anak. Peran orang tua sangatlah mutlak. Perlunya keteladanan, karena anak efektif belajar dengan meniru atas contoh yang biasa ia lihat dari bapak atau ibunya, kakak-adiknya dan juga eyang atau pamannya. Oleh karena itu, seringkali sikap dan perilaku anak, menggambarkan bagaimana sikap dan perilaku orangtua dalam kesehariannya  hidup di rumah.

Memberikan pendidikan yang islami
Sayangnya, banyak keterbatasan orangtua-karena alasan kesiapan, pengetahuan, kesempatan hingga kesibukan, hingga akhirnya orangtua menyerahkan kepengasuhan dan pendidikannya pada orang lain, termasuk kepada fihak sekolah. Saat ini, banyak berdiri sekolah yang menawarkan berbagai fitur dan keunggulan pendidikan anak. Tetapi apakah ada pedoman memilih sekolah yang baik? Bagaimana memilih sekolah dan  pendidikan yang baik, sesuai akidah Islam?

Secara mendasar Allah telah mengariskan bagaimana dasar-dasar mendidik anak. Dalam Qur’an surat Luqman ayat 13, diantaranya disebutkan. Bahwa pendidikan anak menurut akidah Islam adalah pendidikan yang tidak menyekutukan Allah! Maknanya bahwa seluruh kebaikan yang ada berasal dari kuasa Allah, sedangkan hal keburukan terjadi akibat perilaku manusia.  Sehingga pendidikan tidak terjebak mendewakan ilmu pengetahuan dan teknologi. Tetapi, harus difahami bahwa pencapaian ilmu dan teknologi manusia berasal dari ilmu Allah semata. Selain itu, pendidikan sesuai kaidah Islam senantiasa mengaitkan setiap kejadian dengan Allah, memberi contoh dan bimbingan beribadah, membina dan memilihkan teman anak-anak yang sholeh dan sholehah.

Pesan untuk orangtua: Investasi dunia-akhirat
Bapak/Ibu yang saya hormati. Saya tidak sedang menggurui, tetapi saya ingin menyatakan secara tulus. Bahwa ciri pendidikan yang baik untuk anak itu sudah ada disini! “Siapa yang tidak bersyukur, ketika anak sesusia lulus TK sudah bisa dan biasa melakukan sholat. Dan sesusainya ia sholat berdo’a memintakan ampunan dan kebahagiaan kepada Allah untuk dirinya dan orangtuanya” Ini sungguh menenteramkan hati. Ini merupakan investasi yang sangat besar dan bernilai dunia-akhirat. Bagaimana tidak? Dalam satu hadits diriwayatkan bahwa, ketika seseorang itu meninggal dunia, maka putuslah semua hal yang ada di dunia, kecuali tiga perkara. Tiga perkara itu adalah: (1) ilmu yang bermanfaat (2) amal kebaikan yang bermanfaat bagi  orang banyak (3) anak sholeh yang mendo’akan orang tuanya.

Pesan untuk lembaga
Apa yang sudah diraih dan diperoleh oleh anak-anak kita di RAT Yaa Bunnayya Kebumen ini barulah sedikit. Pendidikan yang harus ditempuh anak-anak kita masih sangat panjang. Untuk itu, kewajiban orangtua untuk memilihkan sekolah berikutnya yang dapat memberikan pendidikan yang baik kepada anak.

Meskipun baru sedikit, namun lembaga ini telah memberikan kepada anak, tentang dasar-dasar keimanan, tatacara ibadah dan bermu’amalat. Untuk itu pada kesempatan ini saya ingin menyampaikan terimakasih sekaligus permohonan maaf.  Di mata anak-anak,  para Ustadzah adalah penerang sekaligus penyejuk hati mereka. Namun kadang, kami orang tua terlalu banyak menuntut harapan. Padahal sejatinya fungsi mendidik anak, sekali lagi adalah kewajiban orang tua.

Di bagian akhir sambutan saya mewakili orang tua/wali siswa Yaa Bunnayya Kebumen, saya berharap semoga tali silaturahmi yang sudah terbangun ini tidaklah putus. Dan lembaga ini teruslah makin maju dan menjadi pilihan orang tua dalam rangka mendidik anak sesuai tuntunan agama. Aamiin

(* Catatan:
Arsip Naskah yang disampaikan pada Akhirussanah RAT Yaa Bunnayaa Kebumen
Angkatan XIII, Minggu 22 Mei 2016