Sunday, August 9, 2026

Essay 25. Umi dari Ampelsari: Pulang untuk Tidak Menyerah


Keberhasilan pemberdayaan tidak pernah diukur dari seberapa banyak proposal yang lolos. Ia diukur dari seberapa dekat seseorang duduk di teras rumah warga, mendengar keluh yang tidak pernah ditulis di kertas. Di Ampelsari, Kecamatan Petanahan, Kebumen, ukuran itu bernama Umi.

Umi 47 tahun. Di KTP tertulis Kepala Desa. Di mata ibu-ibu TK tertulis "Bu Guru". Di grup WhatsApp keluarga PMI tertulis "Mbak Umi yang dulu di Hongkong". Tiga nama, satu tugas: menolak menyerah pada keadaan orang lain. Untuk itulah Ia akrab dipanggil dengan sebutan  "Bunda"

Sejak muda Umi sudah terlibat di PNPM. Ia hafal jalan setapak, hafal mana rumah yang atapnya bocor tiap hujan, hafal mana anak yang berhenti sekolah karena orang tuanya kerja di luar negeri. 13 tahun ia mengajar dan memimpin TK di desanya sendiri. Dari mencatat absen anak sampai menengahi sengketa batas kebun. Jabatan itu mengajarinya satu hal penting: pembangunan desa bukan soal semen dan paving, tapi soal kepercayaan. Dan kepercayaan hanya tumbuh kalau kamu tinggal cukup lama untuk melihat orang menangis dan tertawa.

Lima tahun Umi memilih pergi. Meninggalkan keluarga dan duaanaknya yang masih di SMA dan SMP. Ia pergi bukan karena benci desanya, tapi karena ingin belajar memaafkan, melepas rasa sakit karena dikhianati dan  pulang membawa lebih banyak kemanfaatan. Di Hongkong ia bekerja sebagai caregiver. Merawat orang tua dari seorang pengacara wanita yang hidupnya habis untuk kerja dan untuk berbakti pada orang tuanya sendiri. 

Di sana Umi belajar dua pelajaran yang bertabrakan. Pertama, tentang materialisme. Di Hongkong banyak orang percaya Tuhan itu angka di rekening. Sukses diartikan kerja keras, lembur, naik jabatan. Tidak ada doa bersama, adanya target bersama. Kedua, tentang etika. Justru di tengah logika materi itu, orang-orangnya sangat patuh aturan, sangat hormat pada orang tua, sangat disiplin pada waktu. Umi melihat bagaimana seorang anak yang sibuk tetap menyempatkan menyuapi ayahnya. Bagaimana rumah mewah tetap punya kursi khusus untuk orang tua.

Di sela menyuapi dan menemani, Umi membaca. Mengikuti kursus keterampilan. Mengikuti pelatihan pemberdayaan yang diadakan komunitas. Ia mencatat. Bukan untuk dirinya, tapi untuk "nanti kalau pulang". Ia tahu, bekal pulang bukan hanya uang.

Majikan Umi baik. Memberi waktu ibadah, memberi gaji tepat, memberi tunjangan, memberi hadiah saat Imlek. Hadiahnya bukan hanya untuk Umi, tapi juga dikirim untuk anak dan keluarga Umi di Ampelsari. Secara materi, hidupnya nyaman.

Tapi Imlek adalah hari yang paling berat. Di luar jendela kembang api, di dalam grup keluarga orang lain ada foto berkumpul. Di layar HP Umi ada video call dengan anak yang bertanya "Kapan pulang, Bu?" Hadiah paling mahal saat itu bukan angpao. Hadiah paling mahal adalah sinyal yang tidak putus-putus selama 5 menit. Umi belajar tentang sepi yang tidak bisa dibayar. Ia belajar tentang harga dari sebuah kehadiran.

Karena itu ketika masuk perpanjangan kontrak ketiga, warga Ampelsari meminta Umi pulang. Bukan meminta, lebih tepatnya menagih. "Maju jadi Kades, Mbak. Kita butuh orang yang ngerti rasanya ditinggal." Umi dan suami akhirnya maju sebagai calon tunggal. Ia memutus kontrak. Memilih pulang dengan tangan kosong kecuali pengalaman.

Sekarang Umi menjalankan Program Desa Migran Emas, kerja sama Pemerintah dan Lakkesdam PBNU. Program untuk keluarga pekerja migran Indonesia. Dan di sinilah semua keping hidup Umi bertemu.

Ia tidak bicara dari slide presentasi. Ia bicara dari ingatan. Ia tahu rasanya menghitung hari menjelang lebaran dari negeri orang. Ia tahu rasanya anak tumbuh tanpa pelukan. Ia tahu rasanya dapat kiriman hadiah tapi hati tetap kosong. Karena itu saat mendampingi keluarga PMI, pertanyaan pertama Umi bukan "sudah kirim uang berapa", tapi "anak di rumah siapa yang jagain PR-nya? Ibu di rumah tidurnya cukup tidak?"

Pengetahuan tentang kebutuhan riil tidak datang dari data BPS. Datang dari lima tahun mencuci, menyuapi, dan menelpon di tengah malam. Datang dari sepuluh tahun melihat anak TK yang kangen ibunya kerja di Saudi. Datang dari duduk di posyandu sambil mendengarkan istri PMI yang bilang "saya kuat, Pak, tapi capek pura-pura kuat".

Umi menolak menyerah dalam arti yang paling sederhana: ia menolak membiarkan orang lain merasa sendirian seperti yang dulu ia rasakan saat Imlek. Ia menolak membiarkan desa hanya jadi tempat pemberangkatan. Ia ingin Ampelsari jadi tempat kepulangan yang siap.

Kerjanya pelan. Mendata keluarga PMI, membuat kelompok usaha, mengajari literasi keuangan, mengajak suami PMI yang di rumah untuk ikut pelatihan, membuka ruang konseling. Tidak ada yang heboh. Tapi setiap program selalu dimulai dengan kalimat yang sama: "Saya ngerti, Bu. Dulu saya juga begitu."

Orang hebat sering digambarkan punya panggung besar. Umi tidak. Panggungnya teras balai desa, ruang kelas TK, dan dapur warga. Orang hebat sering diukur dari menolak gagal. Umi mengukur dari menolak melupakan. Ia pernah merasakan dunia yang menyembah materi, lalu memilih pulang ke desa yang menyembah silaturahmi. Ia pernah merasakan dinginnya jauh dari keluarga, lalu memutuskan menjadi orang pertama yang mengetuk pintu ketika ada keluarga PMI yang sedang retak.

Di Ampelsari orang bilang, "Bu Kades itu bukan karena pintar pidato." Benar. Umi hebat bukan karena suaranya paling keras. Ia hebat karena ingatannya paling panjang. Ia ingat rasa sakit, maka ia tidak tega membiarkannya berulang. Dan mungkin itu definisi pemberdayaan yang paling jujur: bukan membuat orang lain bergantung pada kita. Tapi memastikan orang lain tidak harus menanggung sepi sendirian, seperti dulu kita pernah.

Siang  ini di Ampelsari , pertemuan dengan keluarga PMI baru saja selesai, kantor desa sepi  tinggal beberapa petugas. Umi duduk sesekali melihat ke serambi dan ke luar pagar menatap bayangan   punggung para ibu dan warganya.    Sebagian ada yang akan berangkat,   ada yang suaminya di luar negeri. Sebagian istrinya sedang menunggu. Umi mengetik pesan  pelan: "Jaga kesehatan. Pulang kalau sudah siap. Di sini kita siapkan tempatnya." Itu saja. Kalimat pendek dari orang biasa yang menolak menyerah.

2 comments:

  1. Semoga mengispirasi, terima kasih Bpk Kepala Dinas🙏

    ReplyDelete
  2. Keren.. sangat bijak

    ReplyDelete