Wednesday, September 2, 2026

Essay 15 Pak Gito Tukang Ojek Stasiun: Menjemput Penumpang, Menjemput Harapan

Jam sudah mendekati pukul 19.00 malam ketika saya melihat deretan sepeda motor di sekitar pangkalan ojek stasiun. Udara malam terasa lebih dingin. Sesekali suara kereta terdengar dari kejauhan, disusul pengumuman yang sayup-sayup terdengar dari dalam stasiun. 

Beberapa penumpang berjalan tergesa membawa tas, sebagian menunggu jemputan, sebagian lagi mencari kendaraan untuk mengantar mereka pulang. Di antara para tukang ojek yang masih berada di pangkalan malam itu, ada seorang lelaki tua yang duduk tenang. Usianya 68 tahun. Namanya Pak Gito. Tubuhnya tentu tidak lagi sekuat ketika ia pertama kali mengojek puluhan tahun lalu. Rambutnya sudah banyak memutih. Wajahnya menyimpan garis-garis usia yang tidak mungkin disembunyikan.

Tetapi malam itu ia masih berada di pangkalan. Menunggu. Entah penumpang berikutnya akan datang atau tidak. Saya memperhatikan wajahnya dan tiba-tiba berpikir: berapa banyak malam yang sudah dilewati lelaki ini dengan cara seperti ini?  Satu malam. Dua malam. Seribu malam.Sepuluh ribu malam? Saya tidak tahu.

Yang saya tahu, Pak Gito sudah menjadi tukang ojek pangkalan di stasiun itu sejak sebelum krisis moneter 1998. Kalau dihitung, sudah sekitar 36 tahun lebih. Tiga puluh enam tahun. Bukan tiga puluh enam hari. Bukan tiga puluh enam bulan. Tiga puluh enam tahun. Selama itu pula ia menjemput orang-orang yang datang dan pergi, sementara dirinya sendiri tetap menunggu di tempat yang sama. Dan mungkin, tanpa banyak orang sadari, selama 36 tahun itu ia sebenarnya bukan hanya menjemput penumpang. Ia sedang menjemput harapan.


Saya bertanya kepadanya tentang awal mula menjadi tukang ojek. Pak Gito mengingat satu hal yang bagi saya sederhana, tetapi sekaligus terasa seperti sebuah penanda zaman. Harga bensin. “Saya masih ingat, dulu bensin satu liter Rp450!.” Ia mengatakannya sambil tersenyum kecil.

Saya mencoba membayangkan masa itu. Harga-harga belum seperti sekarang. Ojek online belum pernah terbayangkan. Ponsel pintar belum menjadi bagian dari kehidupan. Orang yang turun dari kereta membutuhkan kendaraan, lalu mencari tukang ojek yang menunggu di pangkalan. Dan Pak Gito ada di sana. Ia mulai dari situ.Menunggu penumpang. Mengantar mereka ke rumah. Kemudian kembali lagi ke stasiun. Menunggu lagi. Begitu seterusnya. Pekerjaan itu mungkin terlihat biasa. Bahkan terlalu biasa.

Tidak ada kantor. Tidak ada seragam dengan logo perusahaan besar. Tidak ada meja kerja. Tidak ada ruang berpendingin udara. Tempat kerjanya adalah pangkalan ojek. Kantornya adalah jalan raya. Teman kerjanya adalah sesama tukang ojek. Dan pendapatannya tergantung pada satu hal yang tidak pernah bisa ia pastikan: apakah malam ini akan ada penumpang? Tetapi justru karena itulah saya merasa pekerjaan Pak Gito layak diceritakan.

Sebab ada pekerjaan yang tidak pernah masuk daftar pekerjaan bergengsi, tetapi membuat seseorang mampu mempertahankan keluarganya selama puluhan tahun.


Pak Gito tinggal di daerah Bojong, kira-kira satu kilometer dari stasiun. Tidak jauh.Tetapi perjalanan pulang-pergi dari rumah ke stasiun hanyalah bagian kecil dari rutinitas hidupnya. Biasanya ia mulai berangkat setelah Magrib. Ketika sebagian orang mulai berkumpul bersama keluarga di rumah, Pak Gito justru berangkat bekerja. Malam menjadi waktu kerjanya. Ia menunggu di stasiun sampai sekitar pukul dua dini hari.

Pukul dua.

Bagi sebagian besar orang, itu adalah waktu ketika tidur sudah begitu dalam. Rumah-rumah sudah gelap. Jalanan mulai sepi. Suara kendaraan tidak seramai siang hari.Tetapi bagi Pak Gito, pukul dua adalah tanda bahwa hari kerjanya selesai.Kalau ada penumpang, ia mengantar.Kalau tidak ada, ia menunggu. 

Dan inilah bagian yang paling getir dari pekerjaannya sekarang. Penumpang semakin sedikit.Sejak munculnya ojek online, keadaan ojek pangkalan berubah drastis. Masyarakat memiliki pilihan baru. Tarif ojek online rata-rata bisa separuh, bahkan lebih murah dibandingkan ojek pangkalan. Bagi konsumen, mungkin ini adalah kemudahan. Bagi Pak Gito dan teman-temannya, perubahan itu berarti sesuatu yang berbeda. 

Berarti semakin sedikit orang yang datang ke pangkalan.Semakin lama menunggu. Semakin sering pulang tanpa membawa banyak hasil. Bahkan ada malam ketika ia sama sekali tidak mendapatkan penumpang.

Tidak narik sama sekali.

Saya membayangkan bagaimana rasanya duduk berjam-jam, menunggu, sementara waktu terus berjalan. Pukul delapan. Sembilan. Sepuluh. Sebelas.Tengah malam.Satu.Dua. Dan ternyata tidak ada satu pun penumpang yang menjadi rezeki malam itu. Mungkin pada awalnya kita akan berkata, “Tidak apa-apa, besok masih bisa mencoba.”

Tetapi kalau keadaan seperti itu terjadi berulang kali, tentu ada rasa cemas.Ada rasa kecewa. Mungkin juga ada sedikit rasa iri ketika melihat kendaraan ojek online datang silih berganti.

Saya tidak ingin berpura-pura bahwa orang yang sudah berusia 68 tahun selalu bisa menerima perubahan dengan lapang dada. Saya kira ada saat-saat ketika Pak Gito juga merasa berat. Barangkali pernah terlintas dalam pikirannya, “Dulu saya bisa mengandalkan pekerjaan ini. Mengapa sekarang semakin sulit?”

Itu manusiawi. Tetapi yang menarik adalah: ia tidak memilih berhenti. Saya bertanya kepadanya, mengapa masih tetap ngojek sampai sekarang. Padahal anak-anaknya sudah besar. Ia memiliki dua anak.

Keduanya sudah lulus. Salah satunya sudah bekerja di sebuah rumah makan setelah menyelesaikan pendidikan SMK. Ia juga sudah memiliki seorang cucu. Kebutuhan untuk membiayai sekolah anak tidak lagi sebesar dulu.

Kalau menggunakan ukuran ekonomi semata, mungkin Pak Gito bisa saja berkata: “Sudahlah. Saya di rumah saja.” Tetapi ia tidak melakukan itu.Ia tetap datang ke pangkalan. Tetap duduk bersama teman-temannya.

Tetap menunggu penumpang.Tetap pulang sekitar pukul dua dini hari. Ketika mendengar alasannya, saya justru terdiam. “Pertama, saya bisa mandiri. Tidak merepotkan anak.” Kalimat itu sederhana. Tetapi saya bisa merasakan harga diri yang ada di dalamnya. Pak Gito tidak ingin ketika anaknya sudah bekerja, kemudian semua kebutuhan hidupnya menjadi tanggungan anak.

Ia ingin tetap bisa memenuhi kebutuhannya sendiri. Tidak banyak. Tidak berlebihan.. Cukup. Tetapi dari hasil keringatnya sendiri. Ada sesuatu yang sangat manusiawi dalam keinginan itu. Kita semua, pada akhirnya, ingin merasa masih berguna. Masih mampu berdiri. Masih mampu memberikan sesuatu.Masih punya kendali atas hidup sendiri. Bahkan ketika usia sudah tidak muda lagi.


Namun ada alasan lain yang membuat Pak Gito tetap bertahan. Teman. Di pangkalan itu ada sekitar 46 tukang ojek yang terdaftar. Empat puluh enam orang. Mereka mungkin sama-sama mencari penumpang. Sama-sama membutuhkan penghasilan.

Sama-sama menghadapi sepinya pangkalan.Tetapi mereka juga menjadi semacam keluarga kedua.Pak Gito bercerita bahwa di antara mereka ada kebiasaan saling membantu. Kalau ada teman yang sedang kesulitan, ada yang membantu. Kalau ada persoalan, dibicarakan bersama. Kalau ada yang membutuhkan pertolongan, teman-temannya tidak tinggal diam.

Maka pangkalan itu ternyata bukan sekadar tempat menunggu penumpang. Ia adalah tempat bertemunya manusia dengan manusia. Tempat orang-orang yang sama-sama berjuang menemukan teman seperjalanan.

Dan saya kira ini salah satu hal yang sering hilang dalam pembicaraan tentang pekerjaan. Kita terlalu sering bertanya: “Berapa penghasilannya?” “Apakah menjanjikan?” “Apakah masa depannya bagus?”Tetap i jarang bertanya: “Apakah pekerjaan itu membuat seseorang merasa tidak sendirian?”

Bagi Pak Gito, mungkin jawabannya iya. Ia datang bukan hanya untuk mendapatkan penumpang.Ia datang untuk bertemu kawan. Untuk bercengkerama. Untuk menjaga silaturahmi. Untuk saling menguatkan. Dan di tengah pekerjaan yang semakin sepi, perasaan bahwa ia tidak sendirian mungkin menjadi rezeki tersendiri.


Saya membayangkan kehidupan Pak Gito bertahun-tahun yang lalu. Ketika anak-anaknya masih sekolah. Ketika kebutuhan rumah tangga lebih banyak. Ketika uang hasil mengojek bukan sekadar tambahan, tetapi bagian penting dari kehidupan keluarga.  Alhamdulillah, meski pas-pasan bisa untuk biaya hidup. Dan untuk biaya sekolah waktu itu.” Lagi-lagi ia tidak menggunakan kata-kata besar.

Pas-pasan.

Tetapi mungkin justru di situlah cerita banyak keluarga Indonesia. Mereka tidak hidup berlebihan. Mereka tidak memiliki tabungan besar. Mereka tidak memiliki banyak pilihan. Tetapi mereka menemukan cara agar anak-anak tetap sekolah. Sedikit demi sedikit. Hari demi hari. Pak Gito mungkin tidak pernah menghitung berapa kilometer yang telah ia tempuh selama 36 tahun. Berapa kali ia mengisi bensin. Berapa kali ban motornya bocor. Berapa kali hujan turun ketika ia sedang mengantar penumpang.Berapa kali ia pulang larut malam. Berapa kali ia menunggu tanpa hasil. Tetapi semua itu menjadi bagian dari perjalanan yang akhirnya membawa kedua anaknya sampai lulus.

Dan bagi seorang ayah, keberhasilan anak kadang menjadi bentuk penghargaan terbesar. Tidak perlu piagam. Tidak perlu piala. Tidak perlu namanya disebut orang. Cukup melihat anaknya mampu berdiri sendiri. Itu sudah cukup.


Tetapi Pak Gito juga melihat nasib teman-temannya yang masih memiliki anak sekolah. di sinilah ceritanya berubah menjadi lebih getir. Ia mengatakan, kalau seorang tukang ojek pangkalan berada dalam kondisi seperti sekarang sementara masih harus membiayai anak sekolah, pasti sangat pusing. Banyak teman yang bercerita. Mengeluh. Bahkan kadang meminta bantuan. Saya bisa membayangkan percakapan di antara mereka. Mungkin terjadi ketika malam sudah larut dan tidak ada penumpang.

Motor-motor berjajar. Tidak banyak yang berbicara. Lalu satu orang mulai bercerita tentang uang sekolah. Yang lain tentang kebutuhan rumah. Yang lain tentang cicilan. Yang lain tentang anak. Di luar sana, dunia terus bergerak. Teknologi terus berubah. Cara orang bepergian berubah.

Tetapi di pangkalan kecil itu, ada orang-orang yang sedang berusaha memastikan keluarganya tetap bisa makan. Saya tiba-tiba merasa malu pada diri sendiri. Sering kali kita mudah sekali mengeluh tentang hal-hal kecil. Internet lambat. Pesanan datang terlambat. Pekerjaan menumpuk. Keinginan belum tercapai.

Sementara ada orang yang mungkin menghabiskan enam atau tujuh jam malam hanya untuk menunggu satu penumpang. Dan kalau penumpang itu tidak datang, ia tetap harus pulang. Besok mencoba lagi. Di sinilah saya belajar bahwa menyerah dan berhenti adalah dua hal yang berbeda.

Pak Gito mungkin sudah berhenti mengejar kehidupan yang berlebihan.Tetapi ia belum berhenti berjuang. Ia tidak lagi berada pada masa ketika kebutuhan sekolah anak begitu mendesak. Tetapi ia masih ingin mandiri. Ia masih ingin punya penghasilan sendiri. Ia masih ingin bertemu teman-temannya. Ia masih ingin menjadi bagian dari lingkungan yang selama puluhan tahun menjadi tempatnya bekerja.

Ada orang yang bekerja karena ingin kaya. Ada yang bekerja karena ingin memiliki jabatan. Ada yang bekerja karena mengejar karier. Tetapi ada juga yang bekerja karena ingin tetap berguna.

Pak Gito adalah salah satunya. Dan bagi orang seperti itu, pekerjaan bukan semata-mata alat untuk mendapatkan uang. Pekerjaan adalah cara untuk menjaga martabat. Kita hidup di zaman ketika perubahan datang begitu cepat. 

Teknologi bisa membuat pekerjaan tertentu hilang. Sebagai contoh, aplikasi bisa menggantikan cara lama. Harga bisa berubah. Kebiasaan masyarakat berubah. Yang dulu ramai bisa menjadi sepi. Yang dulu menjadi sumber penghasilan bisa kehilangan pelanggan. Dan kita sering kali tidak punya kuasa untuk menghentikan perubahan itu. Tetapi kita masih punya pilihan tentang bagaimana meresponsnya.

Pak Gito tidak bisa menghentikan ojek online. Ia tidak bisa memaksa masyarakat kembali menggunakan ojek pangkalan. Ia tidak bisa mengembalikan keadaan seperti tahun-tahun ketika penumpang masih ramai.

Yang bisa ia lakukan hanyalah menerima kenyataan itu dan tetap mencari cara untuk bertahan. Itulah bentuk keberanian yang sering tidak kita kenali. Keberanian tidak selalu berarti mengambil keputusan besar. Kadang keberanian adalah menerima bahwa dunia telah berubah, lalu tetap mencari tempat untuk berdiri di dalam perubahan itu.


Ada satu hal lagi yang saya pelajari dari Pak Gito. Kita tidak selalu harus menang untuk disebut berhasil. Kadang kita hanya perlu bertahan cukup lama sampai melihat sesuatu yang kita perjuangkan mulai membuahkan hasil. Pak Gito tidak menjadi orang kaya dari pekerjaannya. Ia tidak mengubah kehidupannya menjadi kisah sukses yang spektakuler. Tetapi kedua anaknya sudah lulus. Salah satunya sudah bekerja. Ia memiliki seorang cucu.

Dan hari ini ia masih bisa mengatakan bahwa dirinya berusaha mandiri. Bukankah itu keberhasilan? Mungkin bukan keberhasilan yang sering ditampilkan di media sosial. Tetapi keberhasilan yang nyata.Keberhasilan seorang ayah yang selama puluhan tahun mengantar orang lain pulang, sambil memastikan keluarganya sendiri memiliki jalan untuk melangkah ke masa depan.


Ketika malam semakin larut dan jam mendekati pukul dua, saya membayangkan Pak Gito mulai bersiap pulang. Mungkin malam itu ada penumpang. Mungkin juga tidak. Ia akan menghidupkan  motornya. Mesin berbunyi. Lampu menyala. Kemudian ia meninggalkan stasiun. Jalanan mulai sepi. Tidak ada sorotan lampu kamera. Tidak ada tepuk tangan.Tidak ada orang yang menunggunya di garis finish. Hanya rumah sederhana di Bojong yang menunggu. Di sana mungkin ada cucu yang masih terlelap. Besok malam, ia mungkin akan kembali lagi. Maghrib berangkat.  Menunggu. Mengantar jika ada penumpang.  Bercengkerama dengan teman-teman. Saling membantu.  Dan sekitar pukul dua, pulang. Begitu seterusnya. Tiga puluh enam tahun lebih.

Saya kemudian sadar, mungkin selama ini kita terlalu mudah menyebut orang hebat sebagai mereka yang berhasil mencapai sesuatu yang luar biasa. Padahal Pak Gito mengajarkan definisi yang berbeda. Orang hebat bisa saja orang yang hidupnya biasa-biasa saja, tetapi kesetiaannya terhadap tanggung jawab luar biasa. Ia tidak pernah masuk panggung. Tetapi ia hadir setiap malam. Ia tidak pernah menerima penghargaan. Tetapi ia menghidupi keluarganya.  Ia tidak pernah menjadi terkenal. Tetapi ia telah menjadi bagian dari kehidupan ribuan penumpang yang pernah duduk di belakang motornya.

Dan mungkin ada banyak orang yang tidak akan pernah tahu bahwa lelaki yang mengantarkan mereka pulang malam itu telah bekerja sejak sebelum mereka lahir.


Saya pulang dari pertemuan dengan Pak Gito membawa satu kesadaran sederhana. Bahwa pekerjaan yang jarang dipuji bukan berarti pekerjaan yang tidak berarti. Bahwa menunggu bukan berarti tidak melakukan apa-apa. Bahwa hidup yang sederhana bukan berarti hidup yang gagal. Dan bahwa seseorang tidak harus memiliki banyak hal untuk menjadi berarti bagi keluarganya.

Pak Gito menjemput penumpang. Tetapi sesungguhnya ia juga sedang menjemput harapan. Harapan untuk bisa tetap mandiri. Harapan agar tidak merepotkan anak. Harapan untuk terus bersilaturahmi dengan teman-temannya.

Dan mungkin, jauh di dalam dirinya, ada kepuasan sederhana karena selama puluhan tahun ia telah melakukan satu hal dengan setia:bekerja. Maka ketika suatu hari kita merasa pekerjaan kita tidak dihargai, ingatlah bahwa nilai sebuah pekerjaan tidak selalu ditentukan oleh tepuk tangan orang lain.

Ketika usaha kita terasa sepi, jangan buru-buru menganggapnya sia-sia. Ketika zaman berubah dan jalan yang dulu kita kenal mulai kehilangan arah, carilah cara untuk tetap berjalan. Dan ketika kita mulai merasa terlalu tua untuk memulai atau melanjutkan sesuatu, ingatlah Pak Gito.

Usia 68 tahun. Masih berangkat setelah Magrib. Masih menunggu sampai pukul dua dini hari. Bukan karena hidup memaksanya. Tetapi karena ia memilih untuk tetap berdiri dengan caranya sendiri. Sebab kadang-kadang, kemenangan terbesar dalam hidup bukanlah menjadi yang paling cepat sampai. Kemenangan terbesar adalah tetap berada di jalan ketika banyak orang sudah memilih berhenti. Dan mungkin itulah yang dilakukan Pak Gito selama lebih dari tiga puluh enam tahun: menjemput penumpang, menjemput rezeki, dan diam-diam menjemput harapan.

REFERENSI

 Referensi Primer: 

1.    Wawancara dan observasi langsung penulis dengan Pak Gito 
2.    Wawancara dan observasi langsung penulis dengan Mak Sri
3.    Wawancara dan observasi langsung penulis dengan  Sanidi
4.    Wawancara dan observasi langsung penulis dengan Bang Dani
5.    Wawancara dan observasi langsung penulis dengan Tukimin,
6.    Wawancara dan observasi langsung penulis dengan  Mas Rahmat
7.    Wawancara dan observasi langsung penulis dengan  Om Tolani
8.    Wawancara dan observasi langsung penulis dengan  Pak Ansori
9.    Wawancara dan observasi langsung penulis dengan  Samir
10. Wawancara dan observasi langsung penulis dengan  Mbah Slamet
11. Wawancara dan observasi langsung penulis dengan  Pak Musdar
12. Wawancara dan observasi langsung penulis dengan Pak Qomar
13. Wawancara dan observasi langsung penulis dengan Pak Yadi
14. Wawancara dan observasi langsung penulis dengan  Soleh
15. Wawancara dan observasi langsung penulis dengan  Pak Mundir
16. Wawancara dan observasi langsung penulis dengan  Pak Mitro
17. Wawancara dan observasi langsung penulis dengan  Pak Sugeng
18. Wawancara dan observasi langsung penulis dengan  Anton
19. Wawancara dan observasi langsung penulis dengan  Arif
20. Wawancara dan observasi langsung penulis dengan  Dimas
21. Wawancara dan observasi langsung penulis dengan  Kelana
22. Wawancara dan observasi langsung penulis dengan  Mas Halim
23. Wawancara dan observasi langsung penulis dengan  Pak Ahmad
24. Wawancara dan observasi langsung penulis dengan  Umi
25. Wawancara dan observasi langsung penulis dengan  Pak Musliman

Referensi Sekunder:
  1. Frankl, Viktor E. Man's Search for Meaning.
  2. Frankl, Viktor E. Yes to Life.
  3. Frankl, Viktor E. The Will to Meaning.
  4. Duckworth, Angela. Grit: The Power of Passion and Perseverance.
  5. Dweck, Carol S. Mindset: The New Psychology of Success.
  6. Masten, Ann S. Ordinary Magic: Resilience in Development.
  7. Amir, M. Taufiq. Resiliensi: Bagaimana Bangkit dari Kesulitan.
  8. Tolle, Eckhart. The Power of Now.
  9. Coelho, Paulo. The Alchemist.
  10. Kawasaki, Guy. Think Remarkable.
  11. Badan Pusat Statistik. Statistik Indonesia.
  12. Badan Pusat Statistik. Keadaan Ketenagakerjaan Indonesia.
  13. Badan Pusat Statistik. Profil Kemiskinan di Indonesia.
  14. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Statistik Pendidikan Indonesia.

Tuesday, September 1, 2026

UCAPAN TERIMA KASIH

Buku ini akhirnya sampai pada halaman terakhir.

Namun, sesungguhnya perjalanan yang melahirkan buku ini tidak pernah benar-benar selesai. Sebab setiap kisah di dalamnya meninggalkan sesuatu yang lebih panjang daripada sekadar kata-kata: sebuah pelajaran tentang keteguhan, tentang keluarga, tentang harapan, dan tentang keberanian untuk tetap melangkah ketika hidup tidak berjalan seperti yang kita inginkan.

Dengan segala kerendahan hati, saya ingin menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah menjadi bagian dari perjalanan buku Orang-orang Hebat: Orang Biasa yang Menolak Menyerah.

Pertama-tama, kepada Allah SWT, yang telah memberikan kesempatan, kesehatan, kekuatan, dan mempertemukan saya dengan begitu banyak manusia baik. Tanpa kehendak-Nya, mungkin saya tidak akan sampai pada pertemuan-pertemuan sederhana yang ternyata menyimpan pelajaran kehidupan yang luar biasa.

Terima kasih kepada keluarga saya, yang dengan sabar memahami waktu, pikiran, dan perhatian yang saya curahkan selama menulis buku ini. Terima kasih karena telah menjadi rumah tempat saya kembali, ketika kata-kata terasa sulit ditemukan dan ketika perjalanan menulis ini terasa panjang.

Terima kasih kepada istri, anak-anak, saudara, sahabat, dan orang-orang terdekat yang selalu memberikan dukungan, doa, dan semangat. Mungkin tidak semua nama dapat saya tuliskan satu per satu, tetapi setiap kebaikan akan selalu memiliki tempat dalam ingatan saya.

Terutama, saya ingin menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada para tokoh yang kisahnya saya tuliskan dalam buku ini.

Kepada Mak Sri.

Kepada Sanidi.

Kepada Bang Dani.

Kepada Tukimin.

Kepada Mas Rahmat.

Kepada Om Tolani.

Kepada Pak Ansori.

Kepada Samir.

Kepada Mbah Slamet.

Kepada Pak Musdar.

Kepada Pak Qomar.

Kepada Pak Yadi.

Kepada Soleh.

Kepada Pak Mundir dan istrinya.

Kepada Pak Gito tukang ojek stasiun.

Kepada Pak Mitro.

Kepada Pak Sugeng.

Kepada Pak Musliman.

Kepada Anton.

Kepada Arif.

Kepada Dimas.

Kepada Kelana.

Kepada Mas Halim.

Kepada Pak Ahmad.

Dan kepada Umi dari Ampelsari.

Terima kasih karena telah mengizinkan saya memasuki sebagian kecil dari kehidupan Anda.

Terima kasih karena telah bersedia bercerita tentang perjalanan yang mungkin bagi Anda hanyalah kehidupan sehari-hari, tetapi bagi saya dan mudah-mudahan bagi pembaca, merupakan pelajaran yang sangat berharga.

Saya tahu, tidak semua cerita mudah diceritakan. Ada kenangan yang membuat mata berkaca-kaca. Ada kegagalan yang mungkin masih terasa sakit. Ada perjuangan yang tidak selalu ingin dibicarakan. Ada masa-masa ketika hidup terasa begitu berat. Namun Anda memilih untuk bercerita.

Dan dari cerita itu saya belajar bahwa orang hebat tidak selalu hidup dalam sorotan. Mereka ada di pasar. Di jalan. Di teras rumah. Di warung kecil. Di atas sepeda. Di balik gerobak. Di bengkel. Di stasiun. Di pantai. Dan di pematang sawah. Di tempat kerja yang mungkin tidak pernah masuk berita. Mereka bekerja ketika orang lain tidur. Mereka bertahan ketika orang lain mungkin sudah menyerah. Mereka mengorbankan keinginan sendiri agar anak-anaknya bisa sekolah. Mereka memulai kembali setelah gagal.Mereka tetap jujur ketika keadaan memberi kesempatan untuk curang. Mereka pulang ketika harus memulai dari awal. Dan yang paling mengharukan, sebagian besar dari mereka tidak pernah merasa dirinya istimewa. Mereka hanya berkata, “Ya, saya jalani saja.” Kalimat sederhana itu justru menjadi salah satu pelajaran terbesar yang saya bawa pulang dari perjalanan menulis buku ini.

Terima kasih juga kepada para keluarga dari setiap tokoh, para pasangan, anak-anak, saudara, tetangga, teman, dan siapa pun yang ikut menopang perjuangan mereka. Sebab tidak ada perjuangan yang benar-benar dilakukan seorang diri. Di balik seorang ayah yang kuat, ada keluarga yang menunggu. Di balik seorang ibu yang tidak menyerah, ada anak-anak yang menjadi alasan untuk terus berjalan.

Di balik seorang pekerja yang pulang larut malam, ada rumah yang lampunya masih menyala. Di balik seseorang yang berani memulai lagi, ada orang-orang yang memberinya kesempatan untuk percaya kembali.

Untuk seluruh masyarakat yang saya temui selama perjalanan ini, terima kasih telah menunjukkan bahwa kebaikan masih hidup di sekitar kita.

Terima kasih kepada para pedagang yang mau berbagi cerita. Para pekerja yang tetap tersenyum meskipun lelah. Para pemilik usaha kecil yang membuka pintu setiap pagi. Para orang tua yang mengutamakan pendidikan anak. Para tetangga yang saling membantu. 

Para sahabat yang mempertemukan saya dengan tokoh-tokoh dalam buku ini. Tanpa Anda semua, buku ini mungkin hanya akan menjadi kumpulan gagasan. Tetapi karena Anda, buku ini memiliki wajah, suara, keringat, air mata, dan kehidupan.

Terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu proses pengumpulan cerita, memberikan informasi, menemani perjalanan, membuka akses pertemuan, membantu dokumentasi, maupun sekadar mengatakan, “Tulis saja kisah mereka. Banyak pelajaran yang bisa diambil.” Kalimat-kalimat kecil seperti itu sering kali menjadi bahan bakar yang membuat saya terus menulis. 

Dan akhirnya, terima kasih kepada Anda, pembaca. Anda yang sekarang sedang memegang buku ini. Mungkin Anda membelinya karena tertarik dengan judulnya. Mungkin karena Anda sedang berada dalam masa sulit. Mungkin Anda sedang kehilangan pekerjaan. Mungkin usaha Anda sedang tidak berjalan baik. Mungkin cita-cita Anda belum tercapai. Mungkin Anda sedang berjuang membiayai pendidikan anak. Mungkin Anda sedang mencoba memulai kembali. Atau mungkin Anda hanya sedang mencari satu alasan sederhana untuk percaya bahwa hidup masih layak diperjuangkan.

Jika benar demikian, saya berharap buku ini sampai kepada Anda pada waktu yang tepat. Saya tidak ingin buku ini sekadar membuat Anda terharu. Saya juga tidak ingin kisah-kisah di dalamnya berhenti sebagai motivasi yang kita baca malam ini, lalu kita lupakan esok pagi.

Saya berharap lebih dari itu.Saya berharap setelah membaca buku ini, Anda melihat manusia di sekitar Anda dengan cara yang berbeda. Ketika melewati pedagang kecil, mungkin Anda akan melihat perjuangan. Ketika bertemu tukang ojek, mungkin Anda akan melihat harapan. Ketika melihat seseorang bekerja hingga larut malam, mungkin Anda akan bertanya-tanya, siapa yang sedang ia perjuangkan? Ketika melihat seorang ibu berjualan dari pagi, mungkin Anda akan membayangkan anak-anak yang sedang ia sekolahkan. Dan ketika suatu hari Anda sendiri merasa hidup terlalu berat, semoga Anda teringat bahwa di luar sana ada begitu banyak orang biasa yang juga pernah berada di titik yang sama. Tetapi mereka memilih untuk bangun. Mereka memilih bekerja. Mereka memilih mencoba lagi. Mereka memilih untuk tidak menyerah. 

Buku ini saya persembahkan untuk mereka. Untuk orang-orang yang bekerja tanpa tepuk tangan. Untuk orang-orang yang berjuang tanpa panggung. Untuk mereka yang namanya mungkin tidak pernah dikenal banyak orang. Untuk para ayah yang menyembunyikan lelahnya. Untuk para ibu yang menunda kebahagiaannya sendiri.Untuk anak-anak yang tumbuh terlalu cepat karena keadaan. Untuk mereka yang pernah gagal tetapi mencoba lagi. Untuk mereka yang pernah jatuh tetapi memilih bangkit.Untuk mereka yang masih menyimpan mimpi meskipun usia terus bertambah. Dan untuk siapa pun yang hari ini sedang berjuang diam-diam. Semoga Anda tahu: Anda tidak sendirian.

Mungkin perjuangan Anda belum terlihat.Mungkin kerja keras Anda belum dihargai. Mungkin hasilnya belum datang. Tetapi jangan buru-buru menganggap hidup Anda tidak berarti. Sebab sering kali, hal-hal paling berharga dalam kehidupan memang tumbuh dalam diam.

Seperti benih yang bekerja di bawah tanah sebelum menjadi pohon. Seperti fajar yang perlahan mengalahkan malam. Seperti seorang ayah yang setiap hari membawa pulang uang sedikit demi sedikit. Seperti seorang ibu yang terus memasak meskipun lelah. Seperti seseorang yang kembali berdiri setelah berkali-kali jatuh. Dan seperti mimpi yang, meskipun berkali-kali hampir padam, ternyata masih menyimpan bara. 

Akhirnya, saya menyadari bahwa buku ini bukan semata-mata tentang orang-orang hebat. Buku ini adalah tentang kita. Tentang manusia biasa. Tentang kehidupan yang tidak selalu sempurna. Tentang luka yang tidak selalu terlihat.Tentang pekerjaan yang tidak selalu dipuji. Tentang keluarga yang menjadi alasan. Tentang harapan yang kadang hanya sebesar satu langkah kecil.Dan tentang keberanian untuk mengatakan kepada kehidupan: “Saya belum selesai.”

Terima kasih kepada semua orang yang telah membuat buku ini hadir. Terima kasih kepada mereka yang telah bercerita. Terima kasih kepada mereka yang telah mendengarkan. Terima kasih kepada mereka yang telah membantu. Dan terima kasih kepada Anda yang telah membaca. Semoga setiap halaman buku ini menemukan jalannya menuju hati yang tepat.

Semoga kisah-kisah sederhana ini menguatkan seseorang yang sedang hampir menyerah. Semoga menjadi pengingat bagi seseorang yang merasa dirinya tidak cukup hebat. Dan semoga suatu hari nanti, ketika kita melihat orang-orang biasa yang sedang bekerja keras di sekitar kita, kita tidak lagi melewatinya begitu saja. Karena mungkin kita sedang berpapasan dengan seorang pahlawan.

Pahlawan yang tidak memakai jubah.
Tidak memiliki panggung.
Tidak menerima penghargaan.
Tetapi setiap pagi tetap bangun, bekerja, mencintai, dan memilih untuk tidak menyerah.

Untuk mereka semua—terima kasih.

Buku ini adalah penghormatan kecil saya untuk perjuangan besar yang sering kali luput dari perhatian kita. Dan jika setelah menutup buku ini Anda menjadi sedikit lebih kuat, sedikit lebih peduli, dan sedikit lebih percaya bahwa hidup masih layak diperjuangkan, maka bagi saya, seluruh perjalanan menulis buku ini telah menemukan maknanya.

Namun jika belum, bantulah saya memperbaiki cara menulis yang lebih baik. Sehingga tulisan-tulisan berikutnya minimal dapat menjadi sekeping syiar kebaikan.

Essay 7. Pak Ansori: Berkali-kali Gagal, Tetapi Tidak Pernah Berhenti Menanam

Pagi itu saya membayangkan seorang petani sedang berdiri di tengah kebunnya, memandangi tanaman cabai yang sebagian mulai menguning. Saya tidak tahu apa yang pertama kali ada di kepalanya saat itu. Mungkin kecewa. Mungkin lelah. Mungkin juga ada pertanyaan yang diam-diam muncul: “Sampai kapan saya harus mencoba?” Sebab bagi seorang petani, kegagalan bukan sesuatu yang hanya terlihat dalam angka. Kegagalan bisa terlihat dari tanaman yang mati setelah berbulan-bulan dirawat. Bisa terasa dari uang yang sudah dikeluarkan untuk benih dan pupuk. Bisa terdengar dari suara hati ketika hasil panen yang diharapkan ternyata tidak pernah datang.

Pak Ansori, 48 tahun, sudah merasakan semuanya. Ia pernah pergi jauh untuk mencari kehidupan. Pernah menjadi pedagang kaki lima di Jakarta. Pernah kehilangan modal karena razia. Pernah menjadi pekerja konstruksi yang berpindah-pindah dari Kalimantan Timur hingga Sumatra. Dan ketika akhirnya memutuskan pulang untuk lebih dekat dengan keluarga, ia kembali diuji oleh sesuatu yang mungkin lebih sulit daripada meninggalkan kampung halaman: bertahan ketika apa yang ditanam berkali-kali tidak memberikan hasil.

Namun hari itu saya belajar sesuatu dari Pak Ansori. Bahwa ada orang-orang yang tidak menjadi kuat karena hidupnya mudah.   Mereka menjadi kuat karena hidup berkali-kali memaksa mereka untuk memilih: berhenti atau mencoba lagi. Pak Ansori memilih mencoba lagi.

Dari Kampung, ke Jakarta

Pak Ansori menikah dan memiliki dua anak. Anak pertamanya laki-laki, sudah lulus SMK dan kini bekerja di sebuah perusahaan batubara di Kalimantan Timur. Anak keduanya masih duduk di kelas 6 SD. Seperti banyak orang tua lainnya, Pak Ansori memiliki harapan sederhana: anak-anaknya bisa memiliki kehidupan yang lebih baik daripada dirinya. Tetapi jalan menuju harapan itu tidak selalu lurus. 

Pada usia 22 tahun, hidup membawanya ke Jakarta. Ia merantau selama kurang lebih lima tahun. Di sana ia berdagang asongan, menjual barang-barang kelontong secara kaki lima. Saya membayangkan seorang anak muda yang datang ke kota besar dengan keberanian yang mungkin jauh lebih besar daripada modal yang dibawanya. Jakarta menawarkan kesempatan, tetapi juga keras kepada orang-orang yang mencoba bertahan.

Suatu hari, razia petugas datang. Barang dagangan habis.  Modal habis. Usaha yang dibangun dengan susah payah lenyap dalam waktu yang singkat. Saya kira banyak orang akan mengingat kejadian semacam itu sebagai titik akhir. Tetapi bagi Pak Ansori, itu menjadi alasan untuk pulang.

Ia kembali ke kampung.

Namun pulang bukan berarti langsung menemukan kehidupan yang tenang. Selama kurang lebih sepuluh tahun berikutnya, ia kembali merantau. Kali ini sebagai pekerja konstruksi. Tempat kerjanya berpindah-pindah, dari Kalimantan Timur hingga Sumatra. Ada masa ketika kehidupan memang seperti itu. Hari ini bekerja di satu tempat. Besok belum tentu tahu akan berada di mana. Tubuh berpindah. Pekerjaan berpindah. Lingkungan berubah. Tetapi kebutuhan keluarga tetap sama. Anak-anak tetap membutuhkan biaya sekolah. Rumah tetap membutuhkan biaya. Kehidupan tidak pernah berhenti hanya karena seseorang sedang lelah. Lalu ayahnya sakit. Dan kemudian meninggal dunia.

Peristiwa itu membuat Pak Ansori berpikir lebih dalam. Selama bertahun-tahun ia pergi untuk bekerja. Tetapi sekarang ia mulai bertanya kepada dirinya sendiri: Sampai kapan saya harus terus pergi? Ada satu kebutuhan yang semakin kuat: bekerja, tetapi tetap berada di rumah. Akhirnya, ia memilih bertani. 

Pulang dan Memulai dari Tanah Sendiri

Ada sesuatu yang berbeda ketika seseorang bekerja di tanah milik keluarganya sendiri. Tanah itu bukan sekadar lahan. Di sana ada kenangan orang tua. Ada jejak kehidupan yang diwariskan. Ada kemungkinan untuk membangun kembali kehidupan keluarga.

Dari sawah peninggalan orang tuanya, Pak Ansori mulai menanam palawija. Gambas. Timun. Cabai. Tidak ada yang istimewa dari jenis tanaman itu jika hanya dilihat dari namanya. Tetapi bagi Pak Ansori, setiap benih adalah harapan. Ia menanam. Merawat. Menunggu. Lalu menghadapi ketidakpastian. Cabai menjadi salah satu tanaman yang paling banyak menguji kesabarannya. Ia pernah mencoba menanam cabai di empat lokasi. Bukan sekali gagal. Bukan dua kali. Berkali-kali. 

Pada suatu musim, banjir datang. Air merendam tanaman hingga berhari-hari. Bahkan ada tanaman yang terendam sampai sekitar satu minggu. Bayangkan perasaan seseorang yang sudah mengeluarkan tenaga, waktu, benih, pupuk, dan harapan, lalu melihat air perlahan menenggelamkan tanaman yang sedang ia tunggu hasilnya. Saya kira tidak mudah untuk tetap tenang. Ada rasa kecewa. Ada rasa kesal.  Ada juga mungkin rasa ingin menyerah. 

Pak Ansori tidak menutup-nutupi bahwa menjadi petani itu tidak mudah. Tetapi ia juga tidak berhenti. Ia menanam lagi. Percobaan pertama berhasil. Percobaan kedua berhasil. Keberhasilan itu tentu memberikan semangat. Mungkin ia mulai berpikir, “Ternyata saya bisa.” Tetapi kemudian datang percobaan berikutnya. Gagal total.  Banjir kembali datang. Tanaman cabai yang sudah dirawat harus menerima kenyataan bahwa alam tidak selalu berpihak. Dan ketika ia mencoba lagi, masalahnya bukan lagi banjir. Tanaman terkena hama yang membuat daunnya menguning. Sekali lagi, ia harus berhadapan dengan kegagalan. Di titik seperti ini, saya membayangkan betapa mudahnya seseorang menyalahkan keadaan. Tanahnya tidak bagus. Cuacanya tidak mendukung. Harga pupuk mahal. Modal tidak cukup. Atau mungkin berkata, “Sudahlah. Saya tidak cocok menjadi petani.” Tetapi Pak Ansori memilih cara yang berbeda. Ia mencari tahu. Ia bertanya. Ia mencoba memahami masalah. Dan di situlah saya melihat bahwa ketekunan ternyata bukan hanya soal bekerja keras. Ketekunan juga berarti bersedia belajar dari kegagalan. 

Ketika Gagal Tidak Lagi Berarti Kalah

Pak Ansori bergabung dengan kelompok tani. Bagi saya, ini bagian penting dari ceritanya. Sebab orang yang sedang berjuang sering kali merasa bahwa dirinya harus menyelesaikan semuanya sendiri. Padahal tidak. Kelompok tani memberinya tempat untuk bertanya ketika tanaman bermasalah. Ada orang lain yang bisa diajak berdiskusi. Ada pengalaman orang lain yang bisa dipelajari. Dan yang tidak kalah penting: ada dukungan mental. Kadang-kadang seseorang tidak membutuhkan jawaban yang rumit. Ia hanya membutuhkan orang lain yang berkata: "Coba lagi." "Jangan menyerah dulu." "Masalah ini pernah kami alami." "Kita cari jalan keluarnya bersama." Dukungan seperti itu kelihatannya sederhana. Tetapi bagi orang yang sedang menghadapi kegagalan, dukungan sederhana bisa menjadi tenaga yang besar. 

Pak Ansori juga mendapatkan dukungan dari pedagang yang menyediakan benih dan pupuk dengan sistem pembayaran bertahap setiap kali panen. Artinya, ia tidak harus menyediakan seluruh kebutuhan modal sekaligus. Ada kepercayaan yang diberikan kepadanya. Dan kepercayaan itu kemudian harus dibayar dengan tanggung jawab. Saya melihat sesuatu yang menarik di sini. Perjuangan seseorang memang miliknya sendiri, tetapi ia tidak selalu harus dilakukan sendirian. Ada keluarga. Ada kelompok. Ada tetangga. Ada orang yang percaya. Ada orang yang mau memberi kesempatan kedua. Dan terkadang, keberanian untuk mencoba kembali tumbuh karena ada seseorang yang berkata, “Saya percaya kamu masih bisa.” 

Dari Perantauan ke Rumah

Jika kita melihat perjalanan Pak Ansori dari jauh, hidupnya seperti rangkaian perpindahan. Jakarta. Pekerjaan konstruksi. Kalimantan Timur. Sumatra. Kemudian kembali ke kampung. Tetapi mungkin sebenarnya ia tidak sedang berpindah-pindah tanpa arah. Ia sedang mencari tempat di mana ia bisa menjadi lebih dekat dengan keluarganya sekaligus tetap memenuhi tanggung jawabnya sebagai seorang ayah. 

Anaknya yang pertama kini sudah bekerja. Anaknya yang kedua masih sekolah. Ada kehidupan yang harus terus dibangun. Ada biaya yang harus dipenuhi. Ada masa depan anak yang tidak boleh berhenti hanya karena orang tuanya pernah mengalami kegagalan. Dan mungkin inilah yang membuat Pak Ansori tetap bertahan. Ia tidak lagi mengejar kehidupan yang terlihat besar. Ia hanya ingin kehidupan keluarganya berjalan sedikit lebih baik dari hari kemarin.

Bukankah sebagian besar orang tua sebenarnya seperti itu? Mereka bekerja bukan supaya namanya dikenal. Mereka bekerja agar anaknya bisa berangkat sekolah. Mereka menabung bukan untuk dipuji. Mereka menabung supaya ketika kebutuhan datang, ada sesuatu yang bisa digunakan. Mereka bertahan bukan karena tidak pernah takut. Mereka bertahan karena ada orang yang mereka cintai.

Saya Belajar dari Tanaman yang Tumbuh

Ada satu hal yang saya pikirkan setelah mendengar cerita Pak Ansori. Petani mungkin adalah salah satu manusia yang paling akrab dengan ketidakpastian. Ia menanam tanpa pernah benar-benar bisa memastikan hasil. Ia bisa bekerja keras, tetapi hujan yang terlalu banyak bisa menghancurkan. Ia bisa merawat tanaman dengan teliti, tetapi hama bisa datang. Ia bisa menghitung modal, tetapi harga bisa berubah. Ia bisa membuat rencana, tetapi alam memiliki rencananya sendiri. Namun petani tetap menanam. Mengapa? Karena kalau ia berhenti menanam hanya karena pernah gagal, maka tidak akan pernah ada panen berikutnya. 

Begitu juga hidup. Kita sering mengira keberanian berarti tidak takut. Padahal mungkin keberanian yang sebenarnya jauh lebih sederhana: takut, kecewa, lelah, tetapi tetap melakukan satu langkah berikutnya. Pak Ansori pernah gagal menjadi pedagang di Jakarta. Ia tidak berhenti bekerja. Ia pernah menghadapi kehidupan sebagai pekerja konstruksi yang berpindah-pindah. Ia tetap bekerja. Ia pernah gagal menanam cabai karena banjir. Ia menanam lagi. Ia pernah gagal karena hama. Ia belajar lagi. Barangkali inilah yang sering tidak kita lihat dari keberhasilan seseorang. Kita hanya melihat panennya. Kita tidak melihat benih yang mati. Kita melihat rumah yang sudah berdiri. Kita tidak melihat berapa kali seseorang hampir kehilangan harapan. Kita melihat seseorang yang sekarang tampak kuat. Kita tidak melihat berapa kali ia pernah menangis diam-diam.

Hidup Tidak Selalu Meminta Kita Menang

Ada masa ketika kita terlalu sibuk mengejar kemenangan. Kita ingin berhasil. Ingin cepat. Ingin segera melihat hasil. Ketika gagal, kita merasa hidup tidak adil. Ketika orang lain berhasil lebih dulu, kita merasa tertinggal. Padahal mungkin hidup tidak selalu meminta kita menang. Kadang-kadang hidup hanya meminta kita bertahan cukup lama sampai kesempatan berikutnya datang. Pak Ansori mengajarkan itu kepada saya. Gagal bukan berarti perjalanan selesai. Gagal bisa menjadi informasi. Banjir memberi tahu bahwa ada sesuatu yang harus dipikirkan dalam memilih lokasi dan waktu tanam. Hama memberi tahu bahwa tanaman harus dipelajari lebih baik. Kegagalan usaha memberi tahu bahwa cara lama mungkin perlu ditinggalkan.  Dan kelompok tani mengingatkan bahwa kita tidak harus mengetahui semua jawaban sendirian. Dengan cara itu, kegagalan tidak lagi menjadi musuh. Ia menjadi guru. Memang guru yang mahal. Kadang bayarannya adalah uang. Kadang waktu. Kadang tenaga. Kadang air mata. Tetapi jika kita mau belajar, kegagalan bisa meninggalkan sesuatu yang tidak bisa dibeli: pengalaman. 

Untuk Siapa Kita Bertahan?

Saya sering berpikir, dari mana sebenarnya manusia mendapatkan tenaga untuk bangkit? Kadang jawabannya bukan ambisi. Bukan uang. Bukan juga keinginan untuk membuktikan sesuatu kepada orang lain. Kadang jawabannya adalah keluarga. Seorang ayah mungkin sanggup menahan lelah karena melihat anaknya masih harus sekolah. Seorang ibu mungkin tetap bekerja meskipun tubuhnya ingin beristirahat karena besok ada kebutuhan rumah. Seseorang mungkin mau memulai usaha lagi setelah gagal karena ada keluarga yang menunggu. 

Pak Ansori memilih pulang setelah bertahun-tahun merantau. Kemudian ia memilih bertani. Dan ketika pertanian kembali mengujinya, ia tidak berhenti. Bukan karena hidupnya mudah.  Justru karena ia tahu hidup tidak mudah. Ia tahu bahwa anak-anaknya membutuhkan masa depan. Dan untuk masa depan itu, ia bersedia kembali menanam. Mungkin besok gagal. Mungkin lusa berhasil. Tidak ada yang bisa memastikan. Tetapi selama masih ada tanah yang bisa digarap, benih yang bisa ditanam, dan kesempatan untuk mencoba, harapan belum selesai. 

Pelajaran yang Bisa Kita Bawa Pulang

Kisah Pak Ansori mungkin terasa sederhana. Tidak ada panggung besar. Tidak ada penghargaan. Tidak ada berita utama. Hanya seorang lelaki yang pulang dari perantauan, mengolah tanah peninggalan orang tua, menghadapi banjir, hama, modal yang terbatas, lalu mencoba lagi. Tetapi justru di situlah letak kehebatannya. Ia mengajarkan kepada kita beberapa hal. Pertama, jangan jadikan satu kegagalan sebagai keputusan seumur hidup. Satu usaha gagal tidak berarti Anda gagal sebagai manusia. Satu pekerjaan hilang tidak berarti masa depan Anda selesai. Satu rencana tidak berhasil bukan berarti semua rencana harus dibuang. Berikan diri Anda kesempatan untuk mencoba dengan cara yang lebih baik. Kedua, jangan malu meminta bantuan. Pak Ansori menemukan kekuatan melalui kelompok tani. Ia mendapatkan pengetahuan, solusi, dan dukungan mental dari orang-orang di sekitarnya. Kita pun demikian. Jika sedang menghadapi masalah, carilah orang yang bisa membantu. Bertanya bukan tanda kelemahan. Justru sering kali itu tanda bahwa kita serius ingin memperbaiki keadaan. Ketiga, belajar membaca kegagalan. Jangan hanya bertanya, “Mengapa saya gagal?” Tambahkan pertanyaan: “Apa yang bisa saya pelajari?” “Apa yang harus saya ubah?” “Siapa yang bisa saya mintai nasihat?” “Apa langkah kecil yang masih bisa saya lakukan hari ini?” Dan yang terakhir, mungkin yang paling penting: ingat untuk siapa kita berjuang. Ketika tujuan terasa terlalu berat, ingatlah orang-orang yang ingin kita bahagiakan. Sebab kadang-kadang, alasan untuk bangkit tidak datang dari diri kita sendiri. Ia datang dari wajah anak. Dari pasangan. Dari orang tua. Dari keluarga.Dari seseorang yang menunggu kita pulang. 


Tetap Menanam

Saya tidak tahu bagaimana hasil panen Pak Ansori berikutnya. Mungkin berhasil. Mungkin kembali diuji. Tetapi saya belajar bahwa ada sesuatu yang lebih penting daripada memastikan panen selalu berhasil. Yaitu memastikan kita tidak berhenti menanam. Sebab kita tidak pernah tahu benih yang mana yang akan tumbuh. Tanaman yang mana yang akan bertahan. Musim yang mana yang akan membawa hasil. Begitu pula hidup. Kita tidak pernah tahu usaha yang mana yang akhirnya berhasil. Pekerjaan yang mana yang membuka jalan. Pertemuan dengan siapa yang mengubah keadaan.  Kesempatan yang mana yang menjadi pintu. Karena itu, selama masih diberi kesempatan, lakukan bagian kita. Tanam. Rawat. Belajar. Berdoa. Perbaiki. Dan jika gagal, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa semuanya sia-sia. Mungkin Tuhan sedang mengajarkan kita cara menanam yang lebih baik. Pak Ansori telah berkali-kali diuji oleh kehidupan. Ia pernah kehilangan modal, berpindah-pindah pekerjaan, kehilangan ayah, menghadapi banjir, menghadapi hama, dan melihat tanaman yang dirawatnya tidak selalu memberikan hasil. Tetapi ia masih memilih untuk menanam. Bukan karena ia yakin semua akan mudah. Melainkan karena ia percaya, selama ia masih mau berikhtiar, selalu ada kemungkinan jalan rezeki terbuka. Dan mungkin itulah arti sebenarnya dari orang biasa yang menolak menyerah.

Bukan mereka yang tidak pernah jatuh. Bukan mereka yang selalu berhasil. Bukan pula mereka yang tidak pernah menangis atau kecewa. Tetapi mereka yang setelah semua itu terjadi, masih mampu berkata kepada dirinya sendiri: "Baiklah. Kita coba lagi.” Karena hidup memang tidak menjanjikan bahwa setiap benih akan tumbuh. Tetapi selama tangan kita masih mau menanam, harapan belum pernah benar-benar padam.