Pagi itu saya membayangkan seorang petani sedang berdiri di tengah kebunnya, memandangi tanaman cabai yang sebagian mulai menguning. Saya tidak tahu apa yang pertama kali ada di kepalanya saat itu. Mungkin kecewa. Mungkin lelah. Mungkin juga ada pertanyaan yang diam-diam muncul: “Sampai kapan saya harus mencoba?” Sebab bagi seorang petani, kegagalan bukan sesuatu yang hanya terlihat dalam angka. Kegagalan bisa terlihat dari tanaman yang mati setelah berbulan-bulan dirawat. Bisa terasa dari uang yang sudah dikeluarkan untuk benih dan pupuk. Bisa terdengar dari suara hati ketika hasil panen yang diharapkan ternyata tidak pernah datang.
Pak Ansori, 48 tahun, sudah merasakan semuanya. Ia pernah pergi jauh untuk mencari kehidupan. Pernah menjadi pedagang kaki lima di Jakarta. Pernah kehilangan modal karena razia. Pernah menjadi pekerja konstruksi yang berpindah-pindah dari Kalimantan Timur hingga Sumatra. Dan ketika akhirnya memutuskan pulang untuk lebih dekat dengan keluarga, ia kembali diuji oleh sesuatu yang mungkin lebih sulit daripada meninggalkan kampung halaman: bertahan ketika apa yang ditanam berkali-kali tidak memberikan hasil.
Namun hari itu saya belajar sesuatu dari Pak Ansori. Bahwa ada orang-orang yang tidak menjadi kuat karena hidupnya mudah. Mereka menjadi kuat karena hidup berkali-kali memaksa mereka untuk memilih: berhenti atau mencoba lagi. Pak Ansori memilih mencoba lagi.
Dari Kampung, ke Jakarta
Pak Ansori menikah dan memiliki dua anak. Anak pertamanya laki-laki, sudah lulus SMK dan kini bekerja di sebuah perusahaan batubara di Kalimantan Timur. Anak keduanya masih duduk di kelas 6 SD. Seperti banyak orang tua lainnya, Pak Ansori memiliki harapan sederhana: anak-anaknya bisa memiliki kehidupan yang lebih baik daripada dirinya. Tetapi jalan menuju harapan itu tidak selalu lurus.
Pada usia 22 tahun, hidup membawanya ke Jakarta. Ia merantau selama kurang lebih lima tahun. Di sana ia berdagang asongan, menjual barang-barang kelontong secara kaki lima. Saya membayangkan seorang anak muda yang datang ke kota besar dengan keberanian yang mungkin jauh lebih besar daripada modal yang dibawanya. Jakarta menawarkan kesempatan, tetapi juga keras kepada orang-orang yang mencoba bertahan.
Suatu hari, razia petugas datang. Barang dagangan habis. Modal habis. Usaha yang dibangun dengan susah payah lenyap dalam waktu yang singkat. Saya kira banyak orang akan mengingat kejadian semacam itu sebagai titik akhir. Tetapi bagi Pak Ansori, itu menjadi alasan untuk pulang.
Ia kembali ke kampung.
Namun pulang bukan berarti langsung menemukan kehidupan yang tenang. Selama kurang lebih sepuluh tahun berikutnya, ia kembali merantau. Kali ini sebagai pekerja konstruksi. Tempat kerjanya berpindah-pindah, dari Kalimantan Timur hingga Sumatra. Ada masa ketika kehidupan memang seperti itu. Hari ini bekerja di satu tempat. Besok belum tentu tahu akan berada di mana. Tubuh berpindah. Pekerjaan berpindah. Lingkungan berubah. Tetapi kebutuhan keluarga tetap sama. Anak-anak tetap membutuhkan biaya sekolah. Rumah tetap membutuhkan biaya. Kehidupan tidak pernah berhenti hanya karena seseorang sedang lelah. Lalu ayahnya sakit. Dan kemudian meninggal dunia.
Peristiwa itu membuat Pak Ansori berpikir lebih dalam. Selama bertahun-tahun ia pergi untuk bekerja. Tetapi sekarang ia mulai bertanya kepada dirinya sendiri: Sampai kapan saya harus terus pergi? Ada satu kebutuhan yang semakin kuat: bekerja, tetapi tetap berada di rumah. Akhirnya, ia memilih bertani.
Pulang dan Memulai dari Tanah Sendiri
Ada sesuatu yang berbeda ketika seseorang bekerja di tanah milik keluarganya sendiri. Tanah itu bukan sekadar lahan. Di sana ada kenangan orang tua. Ada jejak kehidupan yang diwariskan. Ada kemungkinan untuk membangun kembali kehidupan keluarga.
Dari sawah peninggalan orang tuanya, Pak Ansori mulai menanam palawija. Gambas. Timun. Cabai. Tidak ada yang istimewa dari jenis tanaman itu jika hanya dilihat dari namanya. Tetapi bagi Pak Ansori, setiap benih adalah harapan. Ia menanam. Merawat. Menunggu. Lalu menghadapi ketidakpastian. Cabai menjadi salah satu tanaman yang paling banyak menguji kesabarannya. Ia pernah mencoba menanam cabai di empat lokasi. Bukan sekali gagal. Bukan dua kali. Berkali-kali.
Pada suatu musim, banjir datang. Air merendam tanaman hingga berhari-hari. Bahkan ada tanaman yang terendam sampai sekitar satu minggu. Bayangkan perasaan seseorang yang sudah mengeluarkan tenaga, waktu, benih, pupuk, dan harapan, lalu melihat air perlahan menenggelamkan tanaman yang sedang ia tunggu hasilnya. Saya kira tidak mudah untuk tetap tenang. Ada rasa kecewa. Ada rasa kesal. Ada juga mungkin rasa ingin menyerah.
Pak Ansori tidak menutup-nutupi bahwa menjadi petani itu tidak mudah. Tetapi ia juga tidak berhenti. Ia menanam lagi. Percobaan pertama berhasil. Percobaan kedua berhasil. Keberhasilan itu tentu memberikan semangat. Mungkin ia mulai berpikir, “Ternyata saya bisa.” Tetapi kemudian datang percobaan berikutnya. Gagal total. Banjir kembali datang. Tanaman cabai yang sudah dirawat harus menerima kenyataan bahwa alam tidak selalu berpihak. Dan ketika ia mencoba lagi, masalahnya bukan lagi banjir. Tanaman terkena hama yang membuat daunnya menguning. Sekali lagi, ia harus berhadapan dengan kegagalan. Di titik seperti ini, saya membayangkan betapa mudahnya seseorang menyalahkan keadaan. Tanahnya tidak bagus. Cuacanya tidak mendukung. Harga pupuk mahal. Modal tidak cukup. Atau mungkin berkata, “Sudahlah. Saya tidak cocok menjadi petani.” Tetapi Pak Ansori memilih cara yang berbeda. Ia mencari tahu. Ia bertanya. Ia mencoba memahami masalah. Dan di situlah saya melihat bahwa ketekunan ternyata bukan hanya soal bekerja keras. Ketekunan juga berarti bersedia belajar dari kegagalan.
Ketika Gagal Tidak Lagi Berarti Kalah
Pak Ansori bergabung dengan kelompok tani. Bagi saya, ini bagian penting dari ceritanya. Sebab orang yang sedang berjuang sering kali merasa bahwa dirinya harus menyelesaikan semuanya sendiri. Padahal tidak. Kelompok tani memberinya tempat untuk bertanya ketika tanaman bermasalah. Ada orang lain yang bisa diajak berdiskusi. Ada pengalaman orang lain yang bisa dipelajari. Dan yang tidak kalah penting: ada dukungan mental. Kadang-kadang seseorang tidak membutuhkan jawaban yang rumit. Ia hanya membutuhkan orang lain yang berkata: "Coba lagi." "Jangan menyerah dulu." "Masalah ini pernah kami alami." "Kita cari jalan keluarnya bersama." Dukungan seperti itu kelihatannya sederhana. Tetapi bagi orang yang sedang menghadapi kegagalan, dukungan sederhana bisa menjadi tenaga yang besar.
Pak Ansori juga mendapatkan dukungan dari pedagang yang menyediakan benih dan pupuk dengan sistem pembayaran bertahap setiap kali panen. Artinya, ia tidak harus menyediakan seluruh kebutuhan modal sekaligus. Ada kepercayaan yang diberikan kepadanya. Dan kepercayaan itu kemudian harus dibayar dengan tanggung jawab. Saya melihat sesuatu yang menarik di sini. Perjuangan seseorang memang miliknya sendiri, tetapi ia tidak selalu harus dilakukan sendirian. Ada keluarga. Ada kelompok. Ada tetangga. Ada orang yang percaya. Ada orang yang mau memberi kesempatan kedua. Dan terkadang, keberanian untuk mencoba kembali tumbuh karena ada seseorang yang berkata, “Saya percaya kamu masih bisa.”
Dari Perantauan ke Rumah
Jika kita melihat perjalanan Pak Ansori dari jauh, hidupnya seperti rangkaian perpindahan. Jakarta. Pekerjaan konstruksi. Kalimantan Timur. Sumatra. Kemudian kembali ke kampung. Tetapi mungkin sebenarnya ia tidak sedang berpindah-pindah tanpa arah. Ia sedang mencari tempat di mana ia bisa menjadi lebih dekat dengan keluarganya sekaligus tetap memenuhi tanggung jawabnya sebagai seorang ayah.
Anaknya yang pertama kini sudah bekerja. Anaknya yang kedua masih sekolah. Ada kehidupan yang harus terus dibangun. Ada biaya yang harus dipenuhi. Ada masa depan anak yang tidak boleh berhenti hanya karena orang tuanya pernah mengalami kegagalan. Dan mungkin inilah yang membuat Pak Ansori tetap bertahan. Ia tidak lagi mengejar kehidupan yang terlihat besar. Ia hanya ingin kehidupan keluarganya berjalan sedikit lebih baik dari hari kemarin.
Bukankah sebagian besar orang tua sebenarnya seperti itu? Mereka bekerja bukan supaya namanya dikenal. Mereka bekerja agar anaknya bisa berangkat sekolah. Mereka menabung bukan untuk dipuji. Mereka menabung supaya ketika kebutuhan datang, ada sesuatu yang bisa digunakan. Mereka bertahan bukan karena tidak pernah takut. Mereka bertahan karena ada orang yang mereka cintai.
Saya Belajar dari Tanaman yang Tumbuh
Ada satu hal yang saya pikirkan setelah mendengar cerita Pak Ansori. Petani mungkin adalah salah satu manusia yang paling akrab dengan ketidakpastian. Ia menanam tanpa pernah benar-benar bisa memastikan hasil. Ia bisa bekerja keras, tetapi hujan yang terlalu banyak bisa menghancurkan. Ia bisa merawat tanaman dengan teliti, tetapi hama bisa datang. Ia bisa menghitung modal, tetapi harga bisa berubah. Ia bisa membuat rencana, tetapi alam memiliki rencananya sendiri. Namun petani tetap menanam. Mengapa? Karena kalau ia berhenti menanam hanya karena pernah gagal, maka tidak akan pernah ada panen berikutnya.
Begitu juga hidup. Kita sering mengira keberanian berarti tidak takut. Padahal mungkin keberanian yang sebenarnya jauh lebih sederhana: takut, kecewa, lelah, tetapi tetap melakukan satu langkah berikutnya. Pak Ansori pernah gagal menjadi pedagang di Jakarta. Ia tidak berhenti bekerja. Ia pernah menghadapi kehidupan sebagai pekerja konstruksi yang berpindah-pindah. Ia tetap bekerja. Ia pernah gagal menanam cabai karena banjir. Ia menanam lagi. Ia pernah gagal karena hama. Ia belajar lagi. Barangkali inilah yang sering tidak kita lihat dari keberhasilan seseorang. Kita hanya melihat panennya. Kita tidak melihat benih yang mati. Kita melihat rumah yang sudah berdiri. Kita tidak melihat berapa kali seseorang hampir kehilangan harapan. Kita melihat seseorang yang sekarang tampak kuat. Kita tidak melihat berapa kali ia pernah menangis diam-diam.
Hidup Tidak Selalu Meminta Kita Menang
Ada masa ketika kita terlalu sibuk mengejar kemenangan. Kita ingin berhasil. Ingin cepat. Ingin segera melihat hasil. Ketika gagal, kita merasa hidup tidak adil. Ketika orang lain berhasil lebih dulu, kita merasa tertinggal. Padahal mungkin hidup tidak selalu meminta kita menang. Kadang-kadang hidup hanya meminta kita bertahan cukup lama sampai kesempatan berikutnya datang. Pak Ansori mengajarkan itu kepada saya. Gagal bukan berarti perjalanan selesai. Gagal bisa menjadi informasi. Banjir memberi tahu bahwa ada sesuatu yang harus dipikirkan dalam memilih lokasi dan waktu tanam. Hama memberi tahu bahwa tanaman harus dipelajari lebih baik. Kegagalan usaha memberi tahu bahwa cara lama mungkin perlu ditinggalkan. Dan kelompok tani mengingatkan bahwa kita tidak harus mengetahui semua jawaban sendirian. Dengan cara itu, kegagalan tidak lagi menjadi musuh. Ia menjadi guru. Memang guru yang mahal. Kadang bayarannya adalah uang. Kadang waktu. Kadang tenaga. Kadang air mata. Tetapi jika kita mau belajar, kegagalan bisa meninggalkan sesuatu yang tidak bisa dibeli: pengalaman.
Untuk Siapa Kita Bertahan?
Saya sering berpikir, dari mana sebenarnya manusia mendapatkan tenaga untuk bangkit? Kadang jawabannya bukan ambisi. Bukan uang. Bukan juga keinginan untuk membuktikan sesuatu kepada orang lain. Kadang jawabannya adalah keluarga. Seorang ayah mungkin sanggup menahan lelah karena melihat anaknya masih harus sekolah. Seorang ibu mungkin tetap bekerja meskipun tubuhnya ingin beristirahat karena besok ada kebutuhan rumah. Seseorang mungkin mau memulai usaha lagi setelah gagal karena ada keluarga yang menunggu.
Pak Ansori memilih pulang setelah bertahun-tahun merantau. Kemudian ia memilih bertani. Dan ketika pertanian kembali mengujinya, ia tidak berhenti. Bukan karena hidupnya mudah. Justru karena ia tahu hidup tidak mudah. Ia tahu bahwa anak-anaknya membutuhkan masa depan. Dan untuk masa depan itu, ia bersedia kembali menanam. Mungkin besok gagal. Mungkin lusa berhasil. Tidak ada yang bisa memastikan. Tetapi selama masih ada tanah yang bisa digarap, benih yang bisa ditanam, dan kesempatan untuk mencoba, harapan belum selesai.
Pelajaran yang Bisa Kita Bawa Pulang
Kisah Pak Ansori mungkin terasa sederhana. Tidak ada panggung besar. Tidak ada penghargaan. Tidak ada berita utama. Hanya seorang lelaki yang pulang dari perantauan, mengolah tanah peninggalan orang tua, menghadapi banjir, hama, modal yang terbatas, lalu mencoba lagi. Tetapi justru di situlah letak kehebatannya. Ia mengajarkan kepada kita beberapa hal. Pertama, jangan jadikan satu kegagalan sebagai keputusan seumur hidup. Satu usaha gagal tidak berarti Anda gagal sebagai manusia. Satu pekerjaan hilang tidak berarti masa depan Anda selesai. Satu rencana tidak berhasil bukan berarti semua rencana harus dibuang. Berikan diri Anda kesempatan untuk mencoba dengan cara yang lebih baik. Kedua, jangan malu meminta bantuan. Pak Ansori menemukan kekuatan melalui kelompok tani. Ia mendapatkan pengetahuan, solusi, dan dukungan mental dari orang-orang di sekitarnya. Kita pun demikian. Jika sedang menghadapi masalah, carilah orang yang bisa membantu. Bertanya bukan tanda kelemahan. Justru sering kali itu tanda bahwa kita serius ingin memperbaiki keadaan. Ketiga, belajar membaca kegagalan. Jangan hanya bertanya, “Mengapa saya gagal?” Tambahkan pertanyaan: “Apa yang bisa saya pelajari?” “Apa yang harus saya ubah?” “Siapa yang bisa saya mintai nasihat?” “Apa langkah kecil yang masih bisa saya lakukan hari ini?” Dan yang terakhir, mungkin yang paling penting: ingat untuk siapa kita berjuang. Ketika tujuan terasa terlalu berat, ingatlah orang-orang yang ingin kita bahagiakan. Sebab kadang-kadang, alasan untuk bangkit tidak datang dari diri kita sendiri. Ia datang dari wajah anak. Dari pasangan. Dari orang tua. Dari keluarga.Dari seseorang yang menunggu kita pulang.
Tetap Menanam
Saya tidak tahu bagaimana hasil panen Pak Ansori berikutnya. Mungkin berhasil. Mungkin kembali diuji. Tetapi saya belajar bahwa ada sesuatu yang lebih penting daripada memastikan panen selalu berhasil. Yaitu memastikan kita tidak berhenti menanam. Sebab kita tidak pernah tahu benih yang mana yang akan tumbuh. Tanaman yang mana yang akan bertahan. Musim yang mana yang akan membawa hasil. Begitu pula hidup. Kita tidak pernah tahu usaha yang mana yang akhirnya berhasil. Pekerjaan yang mana yang membuka jalan. Pertemuan dengan siapa yang mengubah keadaan. Kesempatan yang mana yang menjadi pintu. Karena itu, selama masih diberi kesempatan, lakukan bagian kita. Tanam. Rawat. Belajar. Berdoa. Perbaiki. Dan jika gagal, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa semuanya sia-sia. Mungkin Tuhan sedang mengajarkan kita cara menanam yang lebih baik. Pak Ansori telah berkali-kali diuji oleh kehidupan. Ia pernah kehilangan modal, berpindah-pindah pekerjaan, kehilangan ayah, menghadapi banjir, menghadapi hama, dan melihat tanaman yang dirawatnya tidak selalu memberikan hasil. Tetapi ia masih memilih untuk menanam. Bukan karena ia yakin semua akan mudah. Melainkan karena ia percaya, selama ia masih mau berikhtiar, selalu ada kemungkinan jalan rezeki terbuka. Dan mungkin itulah arti sebenarnya dari orang biasa yang menolak menyerah.
Bukan mereka yang tidak pernah jatuh. Bukan mereka yang selalu berhasil. Bukan pula mereka yang tidak pernah menangis atau kecewa. Tetapi mereka yang setelah semua itu terjadi, masih mampu berkata kepada dirinya sendiri: "Baiklah. Kita coba lagi.” Karena hidup memang tidak menjanjikan bahwa setiap benih akan tumbuh. Tetapi selama tangan kita masih mau menanam, harapan belum pernah benar-benar padam.
