Sunday, August 23, 2026

Essay 2. Mimpi Sanidi yang Menolak Padam

Malam itu, laut seperti tidak pernah benar-benar tidur. Angin berembus kencang. Udara dingin menampar wajah. Di atas kapal kecil yang bergoyang mengikuti gelombang, seorang anak bernama  Sanidi berdiri sambil berusaha menjaga keseimbangan tubuhnya. Tangannya memegang jala. Matanya masih menyimpan sisa-sisa kantuk. Jam menunjukkan sekitar pukul sepuluh malam. Anak-anak seusianya mungkin sedang berada di rumah. Ada yang sudah tertidur setelah belajar, ada yang masih menonton televisi bersama orang tua, atau mungkin sedang bercanda dengan saudara-saudaranya.Sanidi tidak. 

Ia berada di tengah laut. Saat itu usianya belum genap remaja. Dari kelas 5 SD sampai kelas 3 SMP, malam-malamnya dihabiskan sebagai anak buah kapal ikan. Ia ikut melaut, menebar jala, membantu melepas jangkar, menarik jala, dan memungut ikan. Tubuh kecilnya harus berkompromi dengan pekerjaan yang tidak kecil. Dingin laut menembus pakaian. Air asin mengenai kulit. Bau ikan bercampur dengan solar dan udara malam. Kapal berguncang setiap kali dihantam ombak. Dan di antara suara mesin kapal, hempasan angin, serta teriakan orang-orang dewasa yang bekerja, ada seorang anak yang sedang belajar satu hal yang tidak pernah diajarkan di sekolah: bagaimana caranya bertahan. 

Upahnya tidak banyak. Sekitar dua puluh ribu rupiah untuk sehari bekerja. Dua puluh ribu. Bagi sebagian orang, mungkin angka itu terlihat kecil. Tetapi bagi Sanidi kecil, uang itu adalah hasil dari tangan yang dingin, badan yang lelah, mata yang mengantuk, dan keberanian yang dipaksakan tumbuh terlalu cepat. Ia tidak pernah benar-benar memilih kehidupan seperti itu. Kehidupanlah yang lebih dulu memilihnya. 

Sanidi lahir di Indramayu sebagai anak semata wayang dari pasangan yang kemudian berpisah. Ayah dan ibunya pernah berusaha memperbaiki keadaan ekonomi keluarga dengan bekerja di luar negeri. Ayahnya bekerja di sektor perikanan empang di Taiwan. Ibunya bekerja sebagai pekerja rumah tangga di Arab Saudi. Mungkin pada awalnya ada harapan sederhana: bekerja jauh dari rumah, mengumpulkan uang, lalu pulang membawa kehidupan yang lebih baik. Tetapi hidup kadang memiliki jalan cerita yang tidak pernah kita pesan. Pernikahan mereka akhirnya berakhir. Ayahnya menikah lagi dan memiliki seorang anak. Ibunya juga menikah lagi dan memiliki tiga anak. Mereka kemudian sibuk dengan keluarga baru masing-masing.

Sementara Sanidi tinggal bersama embahnya. Jarak yang paling menyakitkan bukan selalu jarak antara dua kota atau dua negara. Kadang-kadang jarak itu berada di dalam sebuah keluarga—ketika seseorang masih memiliki orang tua, tetapi tidak lagi merasa memiliki tempat untuk pulang. Sanidi bercerita bahwa sejak awal pernikahan, hubungan ayah dan ibunya sebenarnya tidak mendapatkan persetujuan dari orang tua mereka. Rumah keduanya bahkan nyaris berhadap-hadapan, hanya dipisahkan oleh sebuah gang. Ketika prosesi pernikahan dilakukan, rutenya harus dibuat memutar agar jarak perjalanan menjadi lebih jauh.

Ada begitu banyak cerita di balik sebuah keluarga. Ada keputusan orang dewasa yang tidak pernah dimengerti anak-anak. Ada luka yang diwariskan tanpa sengaja. Dan ada seorang anak yang akhirnya tumbuh di tengah semua itu. Sanidi Ia pernah merasa dirinya bukan anak yang menyenangkan bagi keluarga, terutama bagi embah yang menjadi tempat ia tinggal. Perhatian yang seharusnya menjadi hak seorang anak terasa jauh. Orang tuanya pergi bekerja. Keluarga berubah. Rumah tidak selalu menjadi tempat yang nyaman. Mungkin karena itulah sejak kecil Sanidi tumbuh menjadi anak yang mencari perhatian di luar rumah. Dan mungkin karena itulah pula ia belajar mencari jalan hidupnya sendiri.

Empat tahun terakhir, Sanidi bekerja sebagai tukang kunci. Usianya sekarang 24 tahun. Masih sangat muda. Tetapi ketika saya melihatnya bekerja, saya tidak melihat seorang anak muda yang sedang mencari pekerjaan sambilan. Saya melihat seseorang yang sudah terlalu lama berkenalan dengan kerasnya hidup. Menjadi tukang kunci tidak serta-merta membuatnya bisa membuka semua jenis kunci. Ia memulainya dari nol. Tidak ada sekolah khusus yang membekalinya dengan semua keterampilan itu. Ia belajar secara autodidak, tekun, sedikit demi sedikit, dengan penuh semangat. Ia belajar dari pekerjaannya dan terutama dari bosnya, Yani Prasetyo.

Satu kunci demi satu kunci. Satu kesalahan demi satu kesalahan. Satu pengalaman demi satu pengalaman. Dari tangan yang mungkin dulu terbiasa menarik jala di tengah laut, kini tangannya belajar memegang alat-alat kecil untuk membuka, memperbaiki, dan membuat kunci. Ada sesuatu yang menarik dari perjalanan Sanidi. Ia tidak tiba-tiba menjadi hebat. Tidak ada satu pagi ketika ia bangun,  lalu mendapati dirinya sudah menguasai semuanya. Ia hanya terus belajar. Dan terkadang, itulah bentuk keberanian yang paling sederhana sekaligus paling sulit. Terus belajar ketika tidak ada yang menjanjikan kita akan berhasil.

Saya membayangkan perjalanan Sanidi seperti membuka sebuah pintu yang terkunci. Ia tidak memiliki kunci kehidupan yang lengkap. Ia hanya memiliki sedikit pengalaman, sedikit keberanian, dan kemauan untuk mencoba. Tetapi ia terus mencari cara. Ada satu bagian dari cerita Sanidi yang membuat saya terdiam cukup lama. Ketika sudah bekerja sebagai tukang kunci, ia mulai memiliki penghasilan sendiri. Dan dari uang yang ia dapatkan, ada satu keinginan sederhana yang tumbuh di dalam dirinya: Ia ingin membahagiakan embahnya. Mungkin ia ingin memberikan sesuatu. Mungkin ingin membuat embahnya tersenyum. Mungkin ingin membuktikan bahwa anak yang dahulu tumbuh dengan banyak kekurangan itu akhirnya bisa berdiri dengan kakinya sendiri. Namun hidup kembali menunjukkan bahwa tidak semua niat baik mendapatkan kesempatan untuk selesai. Sekitar seratus hari yang lalu, embahnya meninggal dunia.

Orang yang selama ini menjadi bagian dari perjalanan hidupnya pergi sebelum Sanidi sempat melakukan semua yang ia inginkan. Ada perasaan kehilangan yang tidak bisa dibayar dengan uang.  Ada kebaikan yang belum dilakukan. Ada kalimat yang tidak sempat disampaikan. Ada keinginan sederhana yang akhirnya hanya tinggal di dalam hati. Saya membayangkan bagaimana perasaan Sanidi. Mungkin ada sedih. Mungkin ada kecewa. Mungkin juga ada penyesalan. Dan kalau saya boleh jujur, mungkin ada sedikit kemarahan kepada keadaan. 

Bukankah hidup sudah cukup berat? 

Bukankah ia sudah bekerja sejak kecil?

Bukankah setelah akhirnya memiliki penghasilan, ia hanya ingin membuat seseorang yang pernah menjadi bagian dari hidupnya bahagia?

Tetapi kematian tidak pernah bertanya apakah kita sudah siap. Ia datang ketika datang. Dan manusia hanya bisa belajar menerima bahwa ada hal-hal yang tidak bisa diubah, betapapun keras kita menginginkannya. Namun yang membuat saya kagum dari Sanidi bukan karena ia tidak memiliki kesedihan. Justru karena ia memilikinya. Ia kehilangan embahnya, tetapi ia tidak ingin kehilangan arah hidupnya. Kini, ketika saya bertanya apa yang ingin ia lakukan selanjutnya, jawabannya sederhana. Ia ingin berbuat baik. Ia ingin bermanfaat bagi masyarakat. Bukan menjadi terkenal. Bukan menjadi kaya raya. Bukan pula mengejar kehidupan yang terlihat hebat di mata orang lain. Hanya ingin berguna.

Ketika saya bertanya apakah ia ingin melanjutkan sekolah atau menikah, ia menjawab belum terpikirkan. Dan saya pikir, tidak apa-apa. Tidak semua orang harus memiliki peta kehidupan yang lengkap di usia 24 tahun. Ada orang yang baru sedang mencari jalan. Ada yang sedang memperbaiki hidup. Ada yang sedang belajar berdamai dengan masa lalu. Ada yang sedang mengumpulkan keberanian untuk bermimpi lagi. Sanidi mungkin belum tahu persis akan menjadi apa dirinya lima atau sepuluh tahun mendatang. Tetapi satu hal sudah jelas: ia tidak menyerah.

Kisah Sanidi membuat saya berpikir bahwa kita sering salah memahami arti orang hebat. Kita terlalu sering menghubungkan kehebatan dengan pencapaian besar. Dengan gelar. Dengan jabatan. Dengan rumah yang megah. Dengan rekening yang besar. Dengan nama yang dikenal banyak orang. Padahal, mungkin kehebatan justru sering bersembunyi di tempat-tempat yang tidak kita perhatikan. Di kapal kecil yang berangkat malam-malam. Di tangan seorang tukang kunci yang belajar dari nol. Di seseorang yang tetap bekerja meskipun hidup tidak memberinya banyak pilihan. Di anak muda yang kehilangan orang yang ingin ia bahagiakan, tetapi memilih meneruskan hidup dengan niat untuk berguna. Orang-orang seperti Sanidi jarang masuk berita. Tidak ada tepuk tangan ketika mereka bangun pagi dan kembali bekerja. Tidak ada kamera ketika mereka gagal. Tidak ada penghargaan ketika mereka memilih tetap bertahan. Tetapi justru di sanalah keberanian sering kali ditemukan. Bukan ketika hidup mudah. Melainkan ketika hidup terasa tidak adil, tetapi kita tetap memilih berjalan.

Saya belajar dari Sanidi bahwa mimpi tidak selalu berbentuk sesuatu yang besar. Kadang mimpi hanya berupa keinginan untuk memiliki pekerjaan. Kadang mimpi adalah keinginan untuk membuat orang tua tersenyum. Kadang mimpi adalah keinginan untuk hidup lebih baik daripada kemarin. Dan kadang, setelah semua yang kita cintai pergi, mimpi berubah menjadi satu hal yang lebih sederhana: menjadi manusia yang bermanfaat. Itulah sebabnya saya percaya bahwa mimpi yang paling kuat bukanlah mimpi yang selalu menyala terang. Mimpi yang paling kuat adalah mimpi yang tetap menyisakan bara ketika hampir semua hal di sekelilingnya sudah padam.

Sanidi pernah kehilangan keluarga dalam bentuk yangtidak  ia harapkan. Ia kehilangan masa kanak-kanak yang mungkin seharusnya lebih ringan. Ia kehilangan kesempatan untuk tumbuh tanpa harus bekerja terlalu dini. Ia kehilangan embahnya ketika akhirnya ingin membahagiakannya. Tetapi ia tidak kehilangan satu hal: keinginan untuk terus hidup dengan baik. Dan mungkin itulah inti dari cerita ini. Orang hebat bukan selalu orang yang hidupnya paling mudah. Orang hebat adalah mereka yang, meskipun hidup memberinya banyak alasan untuk menyerah, tetap menemukan satu alasan untuk melanjutkan.

Kita semua mungkin pernah berada di titik seperti Sanidi. Bukan berada di tengah laut. Bukan bekerja sebagai tukang kunci. Tetapi berada di titik ketika hidup tidak berjalan seperti yang kita rencanakan. Mungkin usaha gagal. Mungkin pekerjaan hilang. Mungkin hubungan berakhir. Mungkin keluarga tidak seperti yang kita harapkan. Mungkin orang yang kita cintai pergi sebelum kita sempat membahagiakannya. Atau mungkin kita sedang melihat teman-teman sebaya melangkah jauh sementara kita masih berdiri di tempat yang sama.

Pada saat seperti itu, sebaiknya jangan buru-buru menganggap hidup kita gagal. Barangkali kita hanya sedang menjalani bagian cerita yang belum selesai. Kita tidak harus mengetahui seluruh jalan. Kita hanya perlu mengetahui langkah berikutnya. Sanidi tidak tahu sejak kecil bahwa suatu hari ia akan menjadi tukang kunci. Ia hanya menjalani hari. Ia bekerja. Ia belajar. Ia mencoba. Ia jatuh. Ia bangkit. Kemudian ia menemukan keterampilan yang membuatnya mampu berdiri sendiri. Begitulah hidup sering bekerja. Pintu masa depan tidak selalu terbuka karena kita memiliki kunci yang tepat sejak awal. Kadang kita harus belajar membuat kuncinya sendiri.

Kalau ada satu hal yang ingin saya titipkan dari kisah Sanidi kepada siapa pun yang sedang membaca tulisan ini, mungkin ini: Jangan ukur hidup hanya dari seberapa jauh kamu sudah sampai. Ukurlah juga dari seberapa keras kamu menolak menyerah. Karena ada orang yang berjalan cepat tetapi tidak tahu ke mana arahnya. Ada pula orang yang berjalan pelan, tertatih, bahkan beberapa kali jatuh, tetapi terus bergerak menuju kehidupan yang lebih baik. Sanidi mungkin belum tahu apakah ia akan melanjutkan sekolah. Belum tahu kapan akan menikah. Belum tahu bagaimana masa depannya.

Tetapi ia tahu satu hal yang sangat penting yaitu Ia ingin hidupnya bermanfaat. Kadang, itu sudah cukup untuk menjadi kompas. Tidak semua mimpi harus selesai hari ini. Tidak semua luka harus sembuh hari ini. Tidak semua pertanyaan harus memiliki jawaban hari ini. Yang penting, jangan padamkan harapan hanya karena jalan yang kita tempuh lebih panjang daripada jalan orang lain. Sebab mungkin, seperti Sanidi, kita sedang belajar membuka pintu kehidupan kita sendiri. Pelan-pelan. Dengan tangan yang pernah terluka. Dengan hati yang pernah kecewa. Dengan masa lalu yang tidak bisa diubah. Tetapi dengan satu keyakinan sederhana: selama kita masih mau mencoba, cerita kita belum selesai. Dan mungkin itulah arti sebenarnya dari mimpi yang menolak padam. Bukan mimpi yang tidak pernah terluka. Melainkan mimpi yang, setelah berkali-kali dihantam kehidupan, masih memilih untuk menyala.

No comments:

Post a Comment