Saturday, August 29, 2026

Essay 16. Pak Mitro dan Harga Sebuah Keringat sejak Pagi Buta

Pekerjaan yang Jarang Dipuji, Orang-Orang Hebat yang Menolak Menyerah

Pagi itu saya datang ke Pasar Tumenggungan ketika matahari belum benar-benar naik.

Udara masih menyisakan dingin. Jalanan mulai ramai oleh suara sepeda motor, pedagang yang membuka lapak, roda gerobak yang didorong tergesa-gesa, dan sesekali teriakan orang yang menawarkan dagangannya. Bau sayuran basah bercampur dengan aroma ayam, tanah, plastik, dan masakan dari warung-warung kecil yang baru mulai menyiapkan sarapan.

Di tengah kesibukan itu, saya melihat seorang lelaki tua.

Ia berdiri dengan tubuh yang tampak lelah. Keringat sudah membasahi wajahnya, padahal matahari baru saja muncul. Bajunya sederhana. Tubuhnya tidak lagi muda, tetapi ada sesuatu dari caranya berdiri yang membuat saya berhenti memperhatikannya.

Ia seperti seseorang yang sudah sangat akrab dengan rasa lelah.

Saya mendekat.

Namanya Pak Mitro.

Usianya 63 tahun. Ia kelahiran Kutoarjo.

Dan, dari semua hal yang kemudian ia ceritakan kepada saya pagi itu, ada satu hal yang membuat saya cukup lama terdiam:

Pak Mitro sudah hidup di pasar sejak masih kecil.

Bukan sebagai pedagang.

Bukan sebagai pemilik kios.

Bukan sebagai orang yang datang untuk berbelanja.

Ia hidup di sana karena memang tidak punya tempat lain untuk pulang.


Sejak Kecil, Pasar Menjadi Rumah

Sekitar tahun 1974, ketika anak-anak seusianya mungkin masih bermain, bersekolah, atau pulang ke rumah menunggu makanan dari orang tua, Pak Mitro sudah mengenal kehidupan yang berbeda.

Sejak SD, ia hidup menggelandang di pasar.

Pasar menjadi tempat ia bertahan hidup.

Los pasar menjadi tempat beristirahat. Emperan menjadi tempat berlindung. Keramaian menjadi teman. Pedagang menjadi orang-orang yang sedikit banyak ikut menyaksikan perjalanan hidupnya.

Pernah suatu ketika hidup membawanya sampai ke Jakarta. Ia mencoba peruntungan di sana.

Namun tidak sampai setahun, ia kembali.

Entah karena kota itu terlalu keras, pekerjaan tidak sesuai harapan, atau memang hatinya masih tertambat pada tempat yang sudah dikenalnya sejak kecil.

Yang jelas, ia kembali ke pasar.

Dan sejak saat itu, pasar seperti menjadi alamat hidupnya.

Memasuki tahun 1980-an, Pak Mitro mulai bekerja sebagai tukang panggul.

Pekerjaannya sederhana.

Mengangkat barang.

Memindahkan barang.

Menurunkan barang dari kendaraan.

Mengantar barang ke tempat pedagang.

Kemudian menunggu lagi.

Begitu seterusnya.

Barang yang dipanggulnya bermacam-macam. Singkong. Beras. Ketela. Dan berbagai macam dagangan yang keluar-masuk pasar.

Tidak ada seragam.

Tidak ada meja kantor.

Tidak ada ruang berpendingin udara.

Tidak ada kartu nama yang bisa membuat orang langsung tahu siapa dirinya.

Yang ia punya hanyalah tenaga.

Dan tenaga itu ia jual untuk mendapatkan uang agar bisa makan.

Setiap hari aktivitasnya bisa dimulai sekitar pukul empat pagi.

Saat kebanyakan orang masih menarik selimut, Pak Mitro sudah berada di pasar.

Saat sebagian orang baru memikirkan sarapan, ia sudah berkeringat mengangkat barang.

Saat sebagian orang mulai sibuk dengan pekerjaan masing-masing, ia masih menunggu kalau-kalau ada pedagang yang membutuhkan tenaganya.

Kalau ada barang, ia bekerja.

Kalau tidak ada barang, ia menunggu.

Dan kalau tidak ada yang meminta bantuan, ia menganggur.

Begitulah kehidupan seorang tukang panggul.


"Capek, Pak. Tapi Kalau Capek Berarti Ada Pendapatan."

Saya bertanya kepadanya:

"Pak, tidak capek?"

Ia tersenyum.

"Ya pasti capek."

Jawaban itu sederhana.

Tidak ada heroisme di dalamnya.

Tidak ada kata-kata besar.

Tidak ada usaha untuk membuat dirinya terlihat kuat.

Ia memang capek.

Tubuhnya berusia 63 tahun.

Tetapi kemudian ia mengatakan sesuatu yang menurut saya jauh lebih kuat daripada sekadar kalimat motivasi.

"Tapi kalau capek berarti ada pendapatan."

Saya diam.

Kalimat itu sederhana, tetapi semakin saya pikirkan, semakin dalam rasanya.

Bagi Pak Mitro, lelah bukan sekadar rasa sakit di badan.

Lelah adalah tanda bahwa hari itu ia masih mendapatkan kesempatan untuk bekerja.

Kalau punggungnya terasa pegal, berarti ada barang yang berhasil ia angkat.

Kalau bajunya basah oleh keringat, berarti ada pekerjaan yang ia lakukan.

Kalau kakinya terasa berat, berarti hari itu ia masih berusaha mendapatkan uang untuk makan.

Dengan cara pandang seperti itu, rasa capek berubah makna.

Bukan berarti capeknya hilang.

Bukan berarti hidupnya menjadi mudah.

Tetapi ia menemukan alasan untuk menerima rasa lelah tersebut.

Saya membayangkan, mungkin banyak dari kita yang sering mengeluh hanya karena pekerjaan tidak sesuai keinginan.

Kita mengeluh karena harus berangkat terlalu pagi.

Mengeluh karena atasan.

Mengeluh karena pekerjaan menumpuk.

Mengeluh karena penghasilan belum sesuai harapan.

Saya tidak sedang mengatakan keluhan itu salah.

Saya juga manusia.

Saya pun pernah merasa malas. Pernah merasa pekerjaan terlalu berat. Pernah ingin berhenti ketika sesuatu tidak berjalan seperti yang saya harapkan.

Tetapi bertemu Pak Mitro membuat saya malu pada sebagian keluhan saya sendiri.

Bukan karena masalah saya tidak penting.

Melainkan karena saya sadar, ada orang yang menghadapi kehidupan jauh lebih keras, tetapi memilih tetap bangun setiap pagi.


Pasar yang Semakin Sepi

Namun perjuangan Pak Mitro hari ini tidak sama dengan puluhan tahun lalu.

Pasar berubah.

Cara orang berbelanja berubah.

Toko-toko modern berkembang.

Belanja melalui internet semakin mudah.

Aktivitas jual-beli di pasar tradisional pun menurun.

Menurut Pak Mitro, sekitar sepuluh tahun terakhir keadaan pasar semakin sepi.

Dan bagi orang seperti dirinya, perubahan itu bukan sekadar perubahan zaman.

Itu berarti semakin sedikit barang yang harus diangkat.

Semakin sedikit pedagang yang membutuhkan tenaga.

Semakin sedikit uang yang bisa dibawa pulang.

Dulu mungkin seseorang bisa bekerja berkali-kali dalam sehari.

Sekarang lebih banyak waktu dihabiskan dengan menunggu.

Ia masih mengangkat ayam potong.

Selebihnya, kalau ada pedagang yang meminta bantuan mengangkat barang, ia bekerja.

Kalau tidak ada?

Menunggu.

Pagi bergeser menjadi siang.

Siang menjadi sore.

Dan terkadang sebagian besar waktunya berlalu tanpa pekerjaan.

Saya mencoba membayangkan bagaimana rasanya.

Tubuh siap bekerja.

Pikiran siap bekerja.

Tetapi pekerjaan tidak datang.

Bagi sebagian orang, tidak bekerja sehari mungkin hanya berarti kehilangan kesempatan mendapatkan tambahan uang.

Bagi Pak Mitro, tidak bekerja bisa berarti berkurangnya makanan yang bisa masuk ke perut hari itu.

Pendapatannya sekarang bahkan tidak selalu cukup untuk biaya makan.

Makan sederhana dengan lauk dan es teh pun kadang pas-pasan.

Dan di situlah saya semakin memahami kalimatnya:

"Kalau capek berarti ada pendapatan."

Karena yang ia cari bukan kemewahan.

Ia hanya ingin memastikan hari itu ia masih bisa makan.


Hidup yang Tidak Banyak Memberi Pilihan

Pak Mitro hidup sebatang kara.

Ia tinggal di pasar.

Ia tidak bercerita kepada saya tentang rumah yang nyaman, tabungan, kendaraan, atau rencana pensiun.

Barangkali kehidupan memang tidak pernah memberinya banyak pilihan.

Ada orang yang sejak lahir sudah memiliki rumah untuk pulang.

Ada yang ketika kehilangan pekerjaan masih memiliki keluarga yang bisa membantu.

Ada yang ketika sakit bisa meminta pertolongan.

Ada yang ketika penghasilan turun masih memiliki tabungan.

Pak Mitro tidak memiliki banyak kemewahan itu.

Ia bertahan dengan sesuatu yang jauh lebih sederhana:

tenaga yang masih tersisa.

Dan keberanian untuk kembali bekerja esok pagi.

Dalam kehidupan pasar, katanya, ia juga banyak mengandalkan kebaikan para pedagang.

Ada pedagang yang memberinya pekerjaan.

Ada yang memberinya kesempatan.

Ada yang mungkin sekadar memberinya sesuatu untuk dimakan.

Tetapi hidup di pasar juga mengajarkannya satu hal yang pahit:

semuanya seakan memiliki harga.

Termasuk penghargaan kepada seseorang.

Orang yang punya uang sering lebih mudah dihormati.

Orang yang tidak punya uang sering kali dipandang sebelah mata.

Pak Mitro memahami itu dari pengalaman hidupnya sendiri.

Tetapi ia tidak mengubah dirinya menjadi orang yang penuh kebencian.

Ia tetap menyapa.

Tetap bekerja.

Tetap membantu kalau ada yang membutuhkan.

Barangkali karena ia sudah terlalu lama berada di bawah, sehingga ia tahu bagaimana rasanya tidak dianggap.


Pekerjaan yang Tidak Pernah Masuk Berita

Saya kemudian berpikir tentang pekerjaan-pekerjaan yang jarang kita lihat sebagai sesuatu yang hebat.

Tukang panggul seperti Pak Mitro adalah salah satunya.

Ketika sebuah truk datang membawa beras, kita melihat berasnya.

Kita melihat harga beras.

Kita melihat pedagangnya.

Tetapi sering kali kita tidak melihat tangan yang membantu menurunkannya.

Kita melihat pasar sudah penuh dengan barang.

Tetapi kita jarang memikirkan siapa yang mengangkat barang-barang itu sejak pagi.

Kita datang, membeli, membayar, lalu pulang.

Sementara ada orang yang sejak subuh sudah mengeluarkan tenaga agar aktivitas pasar tetap berjalan.

Pekerjaan seperti ini jarang mendapat pujian.

Tidak ada penghargaan "karyawan terbaik".

Tidak ada panggung.

Tidak ada foto dengan latar belakang gedung megah.

Tidak ada unggahan media sosial yang mengatakan:

"Hari ini saya berhasil mengangkat puluhan karung."

Padahal pekerjaan itu penting.

Sangat penting.

Sebab kehidupan sehari-hari dibangun bukan hanya oleh orang-orang yang pekerjaannya terlihat besar.

Ia juga ditopang oleh tangan-tangan yang sering tidak kita perhatikan.

Tangan tukang panggul.

Tangan buruh.

Tangan pedagang kecil.

Tangan tukang becak.

Tangan petugas kebersihan.

Tangan penjaga malam.

Tangan orang-orang yang bekerja ketika kita tidur.

Mereka mungkin tidak terkenal.

Tetapi mereka membantu membuat kehidupan kita tetap berjalan.


Ada yang Lebih Sulit dari Mengangkat Barang

Ketika saya berbicara dengan Pak Mitro, saya merasa bahwa pekerjaan terberatnya bukan sebenarnya mengangkat barang.

Bukan beras.

Bukan singkong.

Bukan ketela.

Bukan ayam.

Pekerjaan terberatnya adalah mempertahankan harga dirinya ketika keadaan tidak banyak berpihak kepadanya.

Ia harus kuat secara fisik.

Tetapi mungkin yang lebih penting, ia harus kuat secara mental.

Sebab ketika pekerjaan semakin sedikit, godaan untuk berhenti pasti ada.

Ketika pendapatan tidak cukup untuk makan, keputusasaan pasti pernah datang.

Ketika melihat orang lain hidup lebih baik, rasa iri mungkin saja muncul.

Saya tidak ingin mengarang bahwa Pak Mitro tidak pernah merasakan semua itu.

Ia manusia.

Dan manusia pasti memiliki saat-saat ketika hati terasa berat.

Saya sendiri pun tidak selalu mampu bersikap bijaksana.

Kadang saya mudah tersinggung ketika merasa tidak dihargai. Kadang saya kecewa ketika kebaikan tidak dibalas. Kadang saya ingin menjelaskan kepada orang lain bahwa saya juga sudah berusaha.

Mungkin Pak Mitro pun pernah merasakan hal serupa.

Tetapi yang membedakannya adalah satu hal:

ia tetap kembali.

Besok pagi, ia kembali ke pasar.

Bukan karena hidup menjanjikan sesuatu yang lebih baik.

Tetapi karena ia tidak punya alasan untuk berhenti berharap.


Tentang Hati yang Mulia

Di tengah percakapan, saya teringat satu hal lain yang ingin ia sampaikan tentang kehidupan.

Ia berbicara tentang orang-orang baik.

Tentang hati yang mulia.

Tentang orang-orang yang tetap berbuat baik kepada siapa pun, meskipun tidak semua orang menyukainya.

Saya menangkap sesuatu yang sangat manusiawi dari ucapannya.

Kebaikan tidak selalu membuat kita disukai.

Seorang yang baik pun bisa dibenci.

Bisa difitnah.

Bisa disalahpahami.

Bisa dicurigai.

Bisa mendapatkan balasan yang tidak sebanding dengan kebaikannya.

Dan mungkin di situlah ujian sebenarnya.

Apakah ketika kebaikan kita dibalas dengan keburukan, kita akan berubah menjadi buruk?

Apakah ketika difitnah, kita harus membalas dengan fitnah?

Apakah ketika disakiti, kita harus membuat orang lain merasakan sakit yang sama?

Saya kira tidak.

Ada kalanya kemarahan perlu berhenti di dalam diri kita.

Bukan karena kita lemah.

Tetapi karena kita tidak ingin keburukan orang lain menentukan siapa diri kita.

Pak Mitro mungkin bukan orang yang memiliki banyak hal.

Tetapi pagi itu saya merasa ia sedang mengajari saya sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang:

bahwa mempertahankan hati tetap baik ketika hidup tidak selalu baik kepada kita adalah salah satu bentuk keberanian.


Jangan Meremehkan Langkah Kecil

Saya pulang dari Pasar Tumenggungan dengan perasaan yang agak berbeda.

Saya datang untuk bertemu seorang tukang panggul.

Tetapi saya pulang membawa pertanyaan untuk diri sendiri.

Berapa banyak pekerjaan yang selama ini saya anggap kecil, padahal bagi orang lain pekerjaan itu adalah cara mempertahankan hidup?

Berapa banyak orang yang saya lewati setiap hari tanpa pernah benar-benar melihat perjuangannya?

Berapa banyak orang yang saya kira biasa saja, padahal setiap pagi ia sedang memenangkan pertempuran yang tidak pernah saya tahu?

Dan yang paling penting:

berapa kali saya sendiri ingin menyerah hanya karena hidup tidak berjalan sesuai keinginan?

Pak Mitro mengingatkan saya bahwa hidup tidak selalu memberi kita pekerjaan yang kita impikan.

Tidak semua orang mendapatkan kesempatan memilih jalan yang nyaman.

Ada yang harus memulai dari pasar.

Ada yang harus tidur di emperan.

Ada yang harus menjual tenaga.

Ada yang harus bekerja sampai usia yang sebenarnya sudah pantas untuk beristirahat.

Tetapi selama masih ada satu langkah yang bisa dilakukan, satu pekerjaan yang masih bisa dikerjakan, satu orang yang masih bisa dibantu, dan satu hari lagi yang bisa dijalani, harapan belum selesai.

Mungkin kita tidak perlu langsung mengubah hidup.

Mungkin kita hanya perlu melakukan satu hal kecil hari ini.

Bangun.

Datang bekerja.

Menyelesaikan tanggung jawab.

Menjaga keluarga.

Membayar satu utang.

Mencari satu peluang.

Belajar satu keterampilan.

Meminta maaf.

Memaafkan.

Atau sekadar bertahan satu hari lagi.

Sebab sering kali kita terlalu sibuk menunggu perubahan besar, sampai lupa bahwa kehidupan sebenarnya dibangun dari langkah-langkah kecil yang dilakukan berulang-ulang.

Pak Mitro telah melakukannya selama puluhan tahun.


Pekerjaan Boleh Sederhana, Keteguhan Jangan

Ketika saya melihatnya berdiri di tengah pasar pagi itu, saya tidak melihat seorang lelaki berusia 63 tahun yang sedang menunggu pekerjaan.

Saya melihat seseorang yang telah melewati lebih dari separuh abad hidupnya dengan satu prinsip sederhana:

selama masih mampu bekerja, ia akan bekerja.

Ia tidak sedang mengejar popularitas.

Tidak sedang mencari tepuk tangan.

Tidak sedang berusaha membuktikan bahwa dirinya lebih hebat daripada orang lain.

Ia hanya ingin makan.

Dan untuk makan, ia bekerja.

Sesederhana itu.

Namun justru dalam kesederhanaan itulah saya menemukan sesuatu yang besar.

Kita sering mengira orang hebat adalah mereka yang berhasil melakukan sesuatu yang luar biasa.

Padahal mungkin orang hebat adalah orang yang melakukan hal biasa dengan keteguhan luar biasa.

Bangun setiap pagi.

Datang ke pasar.

Menunggu.

Mengangkat barang.

Menerima upah.

Makan.

Tidur.

Lalu mengulanginya lagi keesokan hari.

Tidak ada yang spektakuler.

Tetapi ketika dilakukan selama puluhan tahun, bukankah itu sebuah keberanian?


Pelajaran yang Saya Bawa Pulang

Saya tidak tahu sampai kapan Pak Mitro masih akan berada di Pasar Tumenggungan.

Saya tidak tahu apakah suatu hari pasar akan kembali ramai.

Saya juga tidak tahu apakah pendapatannya akan menjadi lebih baik.

Tetapi saya tahu satu hal.

Pagi itu ia mengajarkan kepada saya bahwa menyerah bukan satu-satunya pilihan ketika hidup sedang sulit.

Kadang kita memang tidak bisa memilih keadaan.

Kita tidak bisa memilih dari keluarga seperti apa kita dilahirkan.

Tidak bisa memilih seberapa cepat ekonomi berubah.

Tidak bisa memaksa orang lain menghargai kita.

Tidak bisa memastikan setiap kebaikan akan dibalas dengan kebaikan.

Tetapi kita masih bisa memilih bagaimana kita merespons semuanya.

Kita bisa memilih untuk tetap bekerja.

Tetap jujur.

Tetap menjaga hati.

Tetap menghormati orang lain.

Tetap mencari jalan.

Dan ketika jalan itu sempit, kita tidak perlu malu berjalan perlahan.

Sebab hidup bukan perlombaan siapa yang paling cepat.

Kadang hidup hanya bertanya:

"Apakah kamu masih mau melangkah?"

Pak Mitro menjawab pertanyaan itu setiap pagi.

Dengan tubuhnya.

Dengan keringatnya.

Dengan kesediaannya mengangkat apa pun yang masih bisa diangkat.

Dan mungkin, tanpa ia sadari, ia telah memberi pelajaran kepada banyak orang yang melihatnya.

Bahwa pekerjaan yang sederhana tidak pernah membuat seseorang menjadi rendah.

Yang membuat seseorang mulia adalah bagaimana ia menjalankan pekerjaannya dengan jujur, sabar, dan tidak menyerah.

Pagi itu, sebelum meninggalkan pasar, saya kembali melihat Pak Mitro.

Ia masih berdiri di sana.

Menunggu.

Barangkali sebentar lagi ada pedagang yang memanggil.

Barangkali ada barang yang harus diangkat.

Barangkali hari itu ia akan membawa pulang cukup uang untuk makan.

Atau mungkin tidak.

Saya tidak tahu.

Tetapi saya tahu, selama masih ada kesempatan, ia akan mencoba.

Dan mungkin itulah arti sebenarnya dari menolak menyerah.

Bukan selalu tentang memenangkan hidup.

Bukan selalu tentang menjadi kaya.

Bukan selalu tentang mencapai tempat yang tinggi.

Kadang, menolak menyerah hanya berarti:

ketika hari ini kita belum bisa mengubah hidup, kita memilih untuk tetap melakukan apa yang masih bisa kita lakukan.

Satu pekerjaan.

Satu langkah.

Satu kebaikan.

Satu hari lagi.

Lalu satu hari lagi.

Dan satu hari lagi.

Karena ada orang-orang yang tidak pernah masuk halaman koran, tidak pernah berdiri di atas panggung, dan tidak pernah menerima penghargaan.

Namun setiap pagi mereka bangun dan mempertahankan hidup dengan tangan sendiri.

Mereka adalah orang-orang biasa.

Tetapi keteguhan mereka luar biasa.

Dan pagi itu, di Pasar Tumenggungan, saya belajar dari seorang lelaki bernama Pak Mitro:

selama keringat masih bisa jatuh, harapan belum boleh berhenti.

No comments:

Post a Comment