Saat Hidup Menguji, Orang-Orang Hebat: Orang Biasa yang Menolak Menyerah
Pagi itu, sebelum matahari benar-benar muncul dari balik garis pantai, Samir sudah memulai harinya. Jam belum menunjukkan pukul lima. Udara masih dingin. Tubuhnya belum selesai beristirahat, tetapi pekerjaannya sudah menunggu. Ia harus turun dari rumah, menuju kebun, memanjat pohon kelapa untuk mengambil nira. Pekerjaan itu harus dilakukan sebelum ia berangkat ke laut. Ada gula kelapa yang menunggu. Ada perahu yang menunggu. Ada jaring yang menunggu. Dan ada keluarga yang menunggu hasil dari semua pekerjaan itu. Namanya Samir. Usianya 57 tahun. Ia lahir di Dukuh Sasak.
Ketika saya mendengar cerita tentang kehidupannya, saya membayangkan betapa panjang hari-hari yang sudah ia lewati. Bagi sebagian orang, satu pekerjaan saja sudah cukup menguras tenaga. Tetapi bagi Samir, satu pekerjaan sering kali belum cukup. Pagi mengambil nira. Setelah salat Subuh, pergi melaut. Menerjang ombak. Menebar jaring. Menunggu ikan. Pulang dari laut. Kemudian mencari rumput untuk ternak. Besok diulang lagi. Lusa diulang lagi. Begitu seterusnya. Dan anehnya, ketika saya bertanya apakah semua itu melelahkan, jawabannya justru membuat saya berpikir lama.
“Capek, pasti capek. Tapi cpeknya hilang kalau melihat anak dan cucu tumbuh baik.”
Mungkin bagi orang lain, itu hanya kalimat sederhana. Bagi saya, itu adalah ringkasan dari sebuah kehidupan.
Pertama Kali Bersahabat dengan Laut
Samir mulai mengenal laut ketika usianya baru 15 tahun. Tahun 1985. Di usia ketika sebagian anak seusianya mungkin masih sibuk bermain atau menikmati masa sekolah, Samir sudah belajar memahami watak laut. Saat itu perahunya belum menggunakan mesin. Ia mengandalkan dayung. Kadang layar. Hanya itu. Tidak ada mesin yang bisa diandalkan ketika angin berubah arah. Tidak ada teknologi yang membuat perjalanan menjadi lebih mudah. Perahu kecil itu harus mengikuti kemampuan tangan manusia. Dan laut tidak pernah berjanji akan bersahabat. Samir muda harus belajar menghadapinya.
Pada awalnya, tubuhnya sering oleng mengikuti gerakan ombak. Perahu dimainkan gelombang. Naik, turun, miring, kembali tegak, kemudian dihantam gelombang berikutnya. Tubuhnya belum terbiasa. Ia muntah-muntah. Tetapi ia tetap berangkat. Tiga tahun lamanya ia menggunakan dayung.
Tiga tahun belajar bahwa mencari ikan bukan pekerjaan yang bisa dilakukan hanya dengan keberanian. Ada ketahanan tubuh. Ada kesabaran. Ada kemampuan membaca keadaan.
Kemudian zaman berubah. Teknologi kapal mulai berkembang. Mesin tempel mulai digunakan. Samir pun ikut bekerja bersama juragan dengan sistem bagi hasil 40-60.Laut tetap sama. Ombak tetap datang. Angin tetap bisa berubah. Tetapi cara manusia menghadapinya berkembang. Namun ada satu hal yang tidak berubah dari Samir: ia tetap berangkat.
Sebelum Laut, Ada Pohon Kelapa
Ada sesuatu yang menarik dari rutinitas Samir. Pekerjaannya di laut sebenarnya belum dimulai ketika hari masih gelap. Sekitar pukul empat pagi, ia sudah pergi ke kebun. Ia mengambil nira dari pohon kelapa, terutama ketika usia masih dibawah 40 tahunan. Nderes. Pekerjaan yang membutuhkan tenaga, keseimbangan, ketekunan, dan dilakukan berulang-ulang. Saya membayangkan suasana pagi di kebun. Langit masih gelap. Udara dingin. Pohon-pohon kelapa berdiri tinggi. Dan seorang lelaki berusia 57 tahun memulai pekerjaan sebelum banyak orang membuka mata.
Setelah itu ia turun, menunaikan salat Subuh, kemudian berangkat ke laut. Seolah-olah hari belum benar-benar dimulai bagi sebagian orang, tetapi Samir sudah menjalani babak pertama perjuangannya. Lalu laut menjadi babak kedua. Ia naik ke perahu. Membawa jaring. Menerjang ombak. Mencari ikan. Jika tangkapan sedang banyak, ia bisa berada di laut hingga sekitar pukul lima sore. Tetapi jika ikan sedang sedikit, ia mungkin hanya sampai sekitar pukul sebelas siang. Di laut, ia tidak bisa menentukan hasil.
Ia hanya bisa berusaha. Ia tidak bisa memerintahkan ikan untuk datang. Tidak bisa meminta ombak untuk tenang. Tidak bisa menyuruh angin agar sesuai keinginannya. Yang bisa ia lakukan hanyalah menebar jaring dan menunggu. Di situlah saya menemukan salah satu pelajaran penting dari kehidupan seorang nelayan:
kita tidak selalu bisa mengendalikan hasil, tetapi kita masih bisa mengendalikan ikhtiar.
Ketika Laut Tidak Memberikan Banyak
Ada hari ketika laut memberikan banyak. Ada hari ketika laut pelit.
Ada hari ketika jaring terasa berat karena dipenuhi tangkapan. Ada hari ketika perjalanan pulang mungkin tidak membawa hasil sebanyak yang diharapkan. Tetapi kehidupan harus tetap berjalan.Keluarga harus tetap makan. Ternak harus tetap diberi makan. Kebutuhan rumah harus tetap dipenuhi. Karena itu, setelah dari laut, Samir tidak selalu pulang untuk beristirahat.
Sering kali ia langsung mencari rumput untuk pakan ternak. Matahari mulai condong. Tubuh sudah melewati pekerjaan panjang sejak dini hari. Tetapi rumput masih harus dicari sebelum malam. Sementara itu, di rumah, istrinya memiliki bagian perjuangan sendiri. Ketika Samir berada di laut, istrinya bertugas memberi makan dan minum sapi ternaknya. Tidak ada satu orang yang bekerja sendirian. Keluarga mereka seperti sebuah perahu. Satu orang mendayung di laut. Satu orang menjaga kehidupan di darat. Keduanya sama-sama berjuang agar rumah tetap berjalan.
Dan mungkin begitulah keluarga bertahan: bukan karena salah satu orang kuat sendirian, melainkan karena mereka saling menopang ketika yang lain sedang tidak berdaya. Samir kini memiliki tiga anak perempuan dan empat cucu. Anak pertamanya bekerja sebagai petugas kebersihan di kawasan taman wisata pantai menganti. Anak kedua menjadi karyawan di tempat pelelangan ikan atau TPI. Anak ketiganya, sekitar setahun terakhir, menjadi polisi wanita berdinas di Polres.
Ketika mendengar cerita itu, saya membayangkan wajah Samir. Mungkin ada kebanggaan yang tidak selalu ia ucapkan. Sebab di balik keberhasilan anak-anak itu, ada perjalanan panjang seorang ayah. Ada pagi-pagi yang dimulai dari pohon kelapa. Ada jaring yang ditebar di tengah laut. Ada ombak yang harus diterjang. Ada rumput yang harus dicari. Ada tubuh yang berkali-kali merasa lelah tetapi tetap bergerak. Dan kini, ia melihat anak-anaknya tumbuh. Ia juga melihat keempat cucunya tumbuh dengan baik. Barangkali itulah yang ia maksud ketika mengatakan bahwa rasa capeknya hilang.
Bukan berarti tubuhnya benar-benar tidak lelah. Tubuh tetap punya batas. Punggung tetap bisa pegal. Tangan tetap bisa terasa berat. Tetapi manusia kadang memiliki kekuatan yang tidak berasal dari otot. Ada kekuatan yang lahir dari alasan mengapa kita harus terus berjalan. Bagi Samir, alasan itu adalah keluarga.
Mimpi yang Datang Terlambat
Ada satu bagian lain dari kisah Samir yang menurut saya sangat menyentuh. Di tengah kehidupan yang penuh pekerjaan, ia masih mempunyai keinginan untuk belajar. Dulu, pendidikan formalnya hanya sampai madrasah, setingkat sekolah dasar. Kesempatan untuk melanjutkan pendidikan tidak datang ketika ia masih muda. Hidup terlalu cepat memberinya tanggung jawab. Ia harus bekerja. Harus membantu keluarga. Harus mencari nafkah. Harus bertahan. Tetapi rupanya ada mimpi yang tidak benar-benar mati hanya karena terlalu lama ditinggalkan. Samir kini bersemangat menempuh ujian persamaan SMP dan SMA. Bayangkan. Di usia 57 tahun, ketika sebagian orang mungkin merasa sudah terlambat untuk belajar, ia justru kembali membuka pintu yang dahulu belum sempat ia masuki.
Saya kira ini salah satu bentuk keberanian yang jarang mendapatkan tepuk tangan. Keberanian untuk mengakui: “Dulu saya belum bisa. Tetapi mungkin sekarang saya masih bisa mencoba.” Tidak semua mimpi harus dicapai pada usia muda. Tidak semua cita-cita mempunyai tanggal kedaluwarsa. Kadang kehidupan membuat kita menunda sesuatu selama bertahun-tahun. Dan ketika kesempatan datang kembali, kita hanya perlu cukup berani untuk mengetuk pintunya. Samir sedang mengetuk pintu itu.
Dengan tangan yang setiap hari memegang jaring. Dengan tubuh yang setiap pagi bekerja. Dengan usia yang tidak lagi muda. Tetapi dengan semangat yang belum tua. Tidak hanya mencari ikan. Menjadi nelayan bagi Samir ternyata bukan hanya soal mencari ikan. Ia juga aktif di tengah masyarakat. Ia dipercaya menjadi ketua RW. Ia bergabung dalam Tim SAR. Ia juga aktif dalam koperasi bersama rekan-rekannya untuk memperjuangkan kesejahteraan nelayan. Ini menarik. Karena orang yang hidupnya sendiri penuh perjuangan ternyata masih mau memikirkan kehidupan orang lain. Bukankah sering kali kita berpikir bahwa kita harus menyelesaikan masalah sendiri dulu sebelum membantu orang lain?
Tetapi Samir menunjukkan sesuatu yang berbeda. Barangkali seseorang tidak harus menunggu hidupnya sempurna untuk berguna bagi sesama. Ia bisa membantu sambil tetap berjuang. Ia bisa menjadi bagian dari masyarakat sambil tetap mencari nafkah. Ia bisa memperjuangkan kesejahteraan nelayan sambil dirinya sendiri masih harus melaut setiap hari. Dan mungkin justru karena ia merasakan kehidupan itu sendiri, ia memahami kesulitan orang lain lebih dalam.
Ia tahu bagaimana rasanya ketika tangkapan sedikit. Ia tahu bagaimana rasanya ketika pekerjaan bergantung pada alam. Ia tahu bagaimana rasanya bekerja keras tetapi hasil tidak selalu bisa dipastikan. Karena itu, ketika ia memperjuangkan nelayan bersama teman-temannya, ia tidak sedang memperjuangkan sesuatu yang jauh dari kehidupannya. Ia sedang memperjuangkan dirinya sendiri dan orang-orang yang hidup dalam nasib yang sama.
Saat Ubur-Ubur Datang
Belakangan ini ada satu hal yang membuat suasana menjadi berbeda. Musim panen ubur-ubur. Bagi Samir, itu adalah kegembiraan. Setelah hari-hari panjang mengambil nira, menebar jaring, melawan ombak, dan mencari rumput sebelum matahari tenggelam, datangnya hasil tangkapan seperti sebuah jawaban.
Bukan hanya soal uang. Tetapi juga tentang perasaan bahwa kerja keras tidak sia-sia. Ada saat ketika kita menanam. Ada saat ketika kita menunggu. Ada saat ketika kita hampir kehilangan harapan.
Kemudian tiba waktunya memanen. Begitulah kehidupan. Tidak semua hari memberikan hasil yang sama. Tetapi kita tidak boleh menyimpulkan bahwa sebuah perjuangan sia-sia hanya karena hari ini hasilnya belum terlihat. Petani tahu itu. Nelayan tahu itu. Orang tua tahu itu. Dan mungkin siapa pun yang sedang memperjuangkan sesuatu juga harus belajar memahaminya.
Laut Kehidupan Tidak Selalu Bersahabat
Saya tidak tahu berapa kali Samir merasa ingin berhenti selama puluhan tahun hidupnya sebagai nelayan. Mungkin ada. Mungkin pernah ada hari ketika tubuhnya terlalu lelah. Mungkin pernah ada saat ketika hasil tangkapan tidak sebanding dengan tenaga yang dikeluarkan. Mungkin pernah ada pagi ketika ia berharap bisa tidur lebih lama. Tetapi ia tetap berangkat. Dan saya kira, di situlah keberanian yang sebenarnya. Keberanian bukan berarti tidak takut. Keberanian bukan berarti tidak lelah. Keberanian juga bukan berarti selalu yakin bahwa semuanya akan berhasil. Keberanian adalah tetap melakukan apa yang harus dilakukan meskipun kita tidak memiliki jaminan hasil.
Laut adalah gambaran kehidupan yang sangat jujur. Kita bisa mempersiapkan perahu sebaik mungkin. Kita bisa menyiapkan jaring. Kita bisa mengetahui arah angin. Tetapi kita tidak pernah benar-benar bisa mengendalikan laut.Begitu pula hidup. Kita tidak bisa mengatur semua keadaan.
Kita tidak bisa memilih keluarga tempat kita dilahirkan. Tidak bisa mengatur kapan ujian datang. Tidak bisa memastikan semua usaha langsung berhasil. Tidak bisa memaksa orang lain memahami perjuangan kita. Tetapi kita masih mempunyai pilihan: mau berhenti atau tetap berlayar. Samir memilih berlayar.
Untuk Kita yang Sedang Diuji
Mungkin saat membaca kisah ini, ada di antara kita yang sedang berada di tengah “laut” masing-masing. Ada yang sedang kehilangan pekerjaan. Ada yang sedang membangun usaha dari nol. Ada yang sedang membayar biaya sekolah anak. Ada yang sedang merawat orang tua. Ada yang sedang mengejar pendidikan yang tertunda. Ada yang sedang menghadapi kegagalan. Ada pula yang mungkin sudah sangat lelah sampai tidak tahu harus berharap kepada siapa.
Jika itu yang sedang Anda alami, kisah Samir mungkin tidak akan membuat masalah anda langsung selesai. Tetapi semoga ia mengingatkan satu hal: Anda tidak harus menyelesaikan seluruh hidup hari ini. Cukup lakukan pekerjaan hari ini. Seperti Samir. Pagi mengambil nira. Setelah Subuh pergi melaut. Menebar jaring. Pulang. Mencari rumput. Merawat ternak. Mendampingi keluarga. Belajar lagi. Besok, ulangi. Bukan karena hidup mudah. Tetapi karena ada kehidupan yang harus dijaga.
Tetap Berlayar
Saya membayangkan Samir berdiri di tepi laut. Usianya sudah 57 tahun. Tubuhnya tidak lagi seperti ketika pertama kali naik perahu pada usia 15 tahun. Tetapi mungkin ada sesuatu yang justru semakin kuat selama 42 tahun itu:keteguhan.
Ia pernah menjadi anak muda yang muntah ketika perahunya dimainkan ombak. Kini ia telah menjadi seorang ayah, kakek, nelayan, ketua RW, anggota Tim SAR, dan bagian dari perjuangan masyarakat nelayan. Ia telah melewati begitu banyak gelombang. Dan ternyata, hidup memang tidak pernah menjanjikan laut yang tenang. Yang dijanjikan kepada manusia barangkali hanya kesempatan untuk terus berusaha. Maka selama tangan masih bisa memegang dayung, ia akan mendayung. Selama jaring masih bisa ditebar, ia akan menebar. Selama pohon kelapa masih bisa dipanjat, ia akan mengambil nira. Selama rumput masih bisa dicari, ia akan mencarinya. Selama anak-anak dan cucunya masih menjadi alasan untuk tersenyum, ia akan terus bekerja. Dan selama Allah masih memberikan kehidupan, ia akan terus berikhtiar. Mungkin itulah arti sebenarnya dari menolak menyerah. Bukan hidup tanpa masalah. Bukan hidup tanpa lelah. Bukan pula hidup yang selalu menang. Tetapi ketika gelombang datang, kita tidak buru-buru membuang dayung. Kita belajar mengatur napas. Kita menguatkan pegangan. Kita menunggu gelombang lewat. Lalu kembali mengarahkan perahu. Sebab hidup tidak selalu meminta kita untuk menjadi yang paling kuat. Kadang hidup hanya meminta kita untuk tetap berlayar.
Dan Samir telah mengajarkan itu kepada saya: ketika laut tidak bersahabat, jangan selalu berpikir bahwa perjalanan harus berakhir. Bisa jadi, kita hanya sedang diminta belajar menjadi pelaut yang lebih tangguh.
No comments:
Post a Comment