Pagi itu matahari belum terlalu tinggi, tetapi cahayanya sudah memantul keras di atas genteng-genteng rumah. Jalan di kompleks perumahan itu masih relatif lengang. Sebagian orang mungkin baru saja membuka pintu rumah, sebagian lainnya sedang bersiap berangkat bekerja.
Di salah satu sudut jalan, saya melihat sebuah kendaraan roda tiga berhenti. Bentuknya sederhana. Di bagian belakang ada bak untuk mengangkut sampah. Atap terpal menaunginya dari panas dan hujan. Cat pada beberapa bagian kendaraan sudah tidak lagi tampak baru. Debu menempel di roda. Kendaraan itu jelas bukan kendaraan yang dibuat untuk bergaya. Di atasnya duduk seorang lelaki yang usianya sudah lebih dari setengah abad. Tinggal di rumah kontrakan di kampung dekat dengan kompleks perumahan.
Namanya Pak Sugeng. Ia mengenakan topi dan pakaian kerja sederhana. Tangannya berada di setang kendaraan. Wajahnya tampak tenang. Tidak ada kesan bahwa pekerjaan yang sebentar lagi ia lakukan adalah sesuatu yang istimewa. Padahal, kalau kita mau berhenti sebentar dan melihat lebih dekat, mungkin kita akan menemukan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar seorang lelaki yang sedang mengangkut sampah.
Di situlah saya mulai memahami bahwa tidak semua perjuangan datang dengan suara keras. Ada perjuangan yang datang setiap pagi, dalam bentuk kendaraan tua, bau sampah, keringat, jalanan yang berdebu, dan segelas kopi panas yang dibuatkan seorang istri sebelum suaminya berangkat bekerja. Itulah perjuangan Pak Sugeng. Dan ia sudah melakukannya selama bertahun-tahun.
Pak Sugeng adalah lelaki kelahiran Sleman, Yogyakarta. Ia meninggalkan tanah kelahirannya dan memilih menetap di Kebumen. Ketika datang, ia mengaku tidak membawa banyak hal. Tidak ada modal besar. Tidak ada pekerjaan dengan gaji tetap. Tidak ada kepastian bahwa hidup di tempat baru akan menjadi lebih mudah. Yang ia bawa hanyalah niat untuk membangun kehidupan bersama keluarganya.
Pada awalnya, ia bahkan menjalani hidup dengan berpindah-pindah rumah kontrakan. Istilah yang ia gunakan sederhana dan agak menggelikan: menjadi “kontraktor”. Bukan kontraktor yang membangun gedung. Kontraktor rumah. Hari ini tinggal di sini. Ketika keadaan tidak memungkinkan, pindah ke tempat lain. Begitu seterusnya.
Tetapi hidup memang sering kali dimulai dari tempat yang tidak ideal. Yang penting bukan di mana kita memulai, melainkan apakah kita bersedia terus berjalan. Pada tahun 2006, ketika kompleks perumahan tempat ia bekerja mulai dibangun dan dihuni, Pak Sugeng mulai menjadi pemungut sampah. Waktu itu rumah yang dilayani masih beberapa saja. Tidak banyak.
Mungkin pekerjaan itu terlihat sederhana. Mengambil sampah dari rumah ke rumah, mengangkutnya, kemudian membawanya ke tempat pengelolaan. Tetapi dari pekerjaan yang kelihatannya sederhana itulah sebuah keluarga perlahan-lahan bertahan. Tahun berganti tahun. Rumah bertambah. Penghuni bertambah. Sampah bertambah. Dan pelanggan Pak Sugeng pun akhirnya menjadi hampir ratusan keluarga.
Saya membayangkan berapa kali ia harus menaiki dan menuruni kendaraan itu. Berapa banyak gang yang harus dilewati. Berapa banyak pintu rumah yang harus didatangi. Berapa banyak kantong sampah yang harus diangkat. Dan berapa banyak bau yang harus ia terima, sementara sebagian besar dari kita justru berusaha menjauh ketika mencium bau sampah.
Pekerjaan seperti itu jarang dipuji. Ketika rumah kita bersih, kita mungkin tidak pernah berpikir siapa yang membuat sampah di depan rumah kita menghilang. Kita baru menyadarinya ketika sampah tidak diambil. Ketika kantong-kantong mulai menumpuk. Ketika halaman mulai berbau. Ketika lalat datang. Barulah kita sadar bahwa ada seseorang yang selama ini bekerja dalam diam. Pak Sugeng adalah salah satunya. Saya bertanya kepadanya, apakah tidak capek melayani begitu banyak keluarga. Jawabannya sederhana.
“Ya capek, Pak.”
Saya suka kejujuran itu. Tidak ada kalimat motivasi yang dibuat-buat. Tidak ada jawaban sok kuat. Ya, ia capek. Tentu saja. Bagaimana mungkin tidak? Tetapi kemudian ia mengatakan sesuatu yang membuat saya terdiam. Capek itu hilang ketika melihat kebutuhan sehari-hari bisa dipenuhi. Terutama makan.
Kalimat itu terdengar sederhana. Tetapi bagi saya, justru di situlah letak kemewahan sebuah perjuangan. Bukan tentang punya mobil. Bukan tentang rumah besar. Bukan tentang bisa pergi berlibur. Bukan tentang bisa membeli sesuatu yang mahal. Bagi Pak Sugeng, perjuangan itu menjadi berarti ketika dari pekerjaan yang ia jalani, keluarganya masih bisa makan.
Ada hari ketika penghasilan terasa sedikit. Ada pelanggan yang membayar tepat waktu. Tetapi ada juga yang menunggak beberapa bulan. Bahkan ada yang kemudian pindah rumah dan meninggalkan kewajiban pembayaran. Bagi orang lain mungkin itu hanya beberapa bulan tagihan. Bagi keluarga yang menggantungkan hidup dari pungutan sampah, itu bisa berarti sesuatu yang jauh lebih besar. Karena penghasilan Pak Sugeng tidak tetap. Ia harus kreatif.
Ia tidak bisa hanya mengandalkan uang pungutan sampah. Maka pekerjaannya tidak berhenti ketika sampah diangkut. Di situlah saya melihat bahwa orang-orang seperti Pak Sugeng bukan sekadar pekerja kasar. Mereka adalah orang-orang yang setiap hari melakukan manajemen kehidupan. Menghitung. Menghemat. Mencari tambahan. Menyesuaikan diri. Bertahan. Dan mengulanginya lagi besok pagi.
Setiap pagi, sekitar pukul enam, Pak Sugeng berangkat. Sebelum itu, ada satu ritual kecil yang mungkin bagi orang lain tidak berarti apa-apa. Segelas kopi panas. Istrinya yang membuatkan. Saya membayangkan suasananya. Pagi yang masih menyisakan dingin. Asap tipis dari gelas kopi. Aroma kopi yang naik bersama uapnya. Mungkin tidak ada meja makan mewah. Tidak ada sarapan hotel. Hanya secangkir kopi yang menjadi bekal sebelum menjalani hari yang panjang.
Tetapi sering kali, yang membuat seseorang kuat bukanlah sesuatu yang besar. Justru hal-hal kecil seperti itu. Segelas kopi. Sapaan istri. Doa sebelum berangkat. Dan keyakinan bahwa di rumah ada keluarga yang menunggu. Pak Sugeng kemudian berangkat mengumpulkan sampah.
Sekitar pukul sepuluh, ia pulang. Namun pekerjaannya belum benar-benar selesai. Ada pembagian tugas yang sederhana tetapi sangat berarti antara dirinya dan istrinya. Setelah sampah dibawa dan disetor ke TPS3R kelurahan, istrinya melanjutkan pekerjaan. Ia memilah dan mengumpulkan barang-barang yang masih memiliki nilai ekonomi. Kardus. Kertas. Botol plastik. Botol kaca. Barang-barang bekas yang oleh sebagian orang dianggap tidak berguna.
Bagi keluarga Pak Sugeng, barang-barang itu belum tentu sampah. Ada kemungkinan bahwa di dalamnya masih tersimpan uang untuk membeli beras. Maka barang-barang itu dikumpulkan. Tidak sehari dua hari. Sedikit demi sedikit. Kalau sudah banyak, biasanya sekitar sebulan sekali, pengepul rongsok dipanggil. Barang ditimbang. Kemudian dijual. Hasilnya mungkin tidak besar. Tetapi Pak Sugeng mengatakan, lumayan. Dan dalam kehidupan keluarga yang harus memenuhi banyak kebutuhan, kata “lumayan” bisa mempunyai arti yang sangat besar. Lumayan untuk membeli beras. Lumayan untuk membayar kebutuhan sekolah. Lumayan untuk kebutuhan rumah. Lumayan untuk membuat hari ini bisa dilewati.
Pak Sugeng memiliki tujuh anak. Tiga sudah berkeluarga. Empat masih bersamanya. Salah satunya adalah anak istimewa yang menyandang disabilitas. Seharusnya anak itu bisa bersekolah di sekolah luar biasa. Tetapi biaya menjadi kendala. Dan pada akhirnya, anak itu tidak bersekolah. Ada bagian dari cerita itu yang membuat saya merasa sesak.
Karena di balik angka-angka tentang kemiskinan, biaya pendidikan, dan keterbatasan akses, ada wajah seorang anak. Ada seorang ayah. Ada seorang ibu. Ada mimpi yang mungkin harus ditunda. Dan ada rasa bersalah yang mungkin diam-diam pernah muncul di hati orang tua ketika mereka tidak mampu memberikan apa yang seharusnya diterima anaknya.
Saya tidak tahu apakah Pak Sugeng pernah merasa marah kepada keadaan. Mungkin pernah. Saya kira manusiawi kalau pernah. Saya juga tidak ingin menggambarkan Pak Sugeng sebagai manusia yang selalu kuat, selalu tersenyum, dan tidak pernah mengeluh. Sebab orang yang bekerja keras pun bisa lelah. Orang tua yang mencintai anaknya pun bisa merasa tidak berdaya. Orang yang setiap hari berjuang pun bisa bertanya dalam hati, “Sampai kapan?”
Tetapi yang membuat saya kagum bukan karena Pak Sugeng tidak pernah merasa berat. Justru karena meskipun berat, ia tetap berangkat. Besok pagi ia tetap menghidupkan kendaraannya. Tetap mengambil sampah. Tetap memilah barang. Tetap mencari tambahan. Tetap pulang. Tetap mencoba. Di situlah arti “tidak menyerah” menjadi lebih nyata. Tidak menyerah ternyata bukan selalu tentang melakukan sesuatu yang luar biasa. Kadang-kadang tidak menyerah hanya berarti: besok pagi kita tetap bangun.
Pak Sugeng pernah bekerja sebagai tenaga kebersihan pada seorang saudagar kaya. Pekerjaan itu ia jalani lebih dari delapan tahun. Dari luar mungkin terlihat lebih baik. Ada majikan. Ada pekerjaan. Ada aturan. Tetapi menurut Pak Sugeng, ia merasa seperti terjerat. Banyak aturan. Harus begini. Tidak boleh begitu. Ia harus menyesuaikan dirinya dengan banyak hal. Dan selama masa itu, istrinya juga sering sakit-sakitan.
Pada akhirnya, ia memilih jalan yang mungkin secara ekonomi tidak lebih menjanjikan, tetapi terasa lebih merdeka. Menjadi pemungut sampah di kompleks perumahan. Penghasilannya tidak pasti. Pekerjaannya berat. Status sosialnya mungkin tidak tinggi. Tetapi ia merasa memiliki ruang untuk mengatur hidupnya sendiri.
Saya kira ini pelajaran yang sering terlupakan. Kita terlalu sering mengukur pekerjaan dari penghasilan. Padahal bagi sebagian orang, pekerjaan juga tentang martabat, kebebasan, waktu, kesehatan, dan kesempatan untuk menentukan arah hidup. Pekerjaan Pak Sugeng mungkin tidak membuatnya kaya. Tetapi pekerjaan itu memberinya sesuatu yang ia anggap penting: kesempatan untuk berdiri di atas kakinya sendiri. Ia tidak sedang mengejar kemewahan. Ia sedang mengejar kecukupan. Dan mungkin, bagi banyak keluarga, kecukupan adalah bentuk kemewahan yang sesungguhnya.
Yang paling kuat dari cerita Pak Sugeng bagi saya adalah kalimatnya tentang anak-anak. Dengan segala keterbatasannya, ia memiliki satu mimpi: anak-anaknya jangan sampai bernasib sama dengan orangtuanya.
Saya berhenti pada kalimat itu cukup lama. Karena di dalamnya ada cinta seorang ayah yang sangat sederhana. Ia tidak mengatakan anak-anaknya harus menjadi orang kaya. Tidak mengatakan mereka harus terkenal. Tidak mengatakan mereka harus mempunyai jabatan tinggi.Ia hanya tidak ingin anak-anaknya menjalani hidup sesulit yang ia jalani.
Bukankah banyak orang tua memiliki mimpi yang sama? Mereka bekerja bukan semata-mata untuk dirinya sendiri. Mereka ingin anak-anaknya mempunyai pilihan yang lebih banyak. Mereka ingin anak-anaknya bisa belajar. Mereka ingin anak-anaknya mempunyai pekerjaan yang lebih baik. Mereka ingin anak-anaknya tidak harus memilih antara makan dan sekolah. Mereka ingin memutus satu mata rantai kesulitan yang selama ini diwariskan dari generasi ke generasi. Dan untuk mewujudkan mimpi itu, Pak Sugeng memilih jalan yang mungkin tidak pernah masuk daftar pekerjaan impian siapa pun. Ia memilih menjadi pemungut sampah.
Saya kemudian berpikir tentang bagaimana kita sering memberi penghargaan kepada pekerjaan tertentu. Kita mudah kagum kepada dokter. Kita menghormati guru. Kita memuji pengusaha. Kita mengagumi orang yang memiliki jabatan. Semua itu baik. Tetapi ada pekerjaan yang keberadaannya baru terasa ketika tidak dikerjakan. Pemungut sampah salah satunya. Mereka bekerja supaya lingkungan kita tetap bersih. Mereka berhadapan dengan sesuatu yang kita buang. Mereka menyentuh sesuatu yang kita hindari. Dan sering kali, setelah pekerjaan itu selesai, kita tidak lagi mengingat siapa yang melakukannya. Mungkin memang tidak semua pekerjaan membutuhkan tepuk tangan. Tetapi semua pekerjaan yang halal dan dilakukan dengan sungguh-sungguh layak mendapatkan penghormatan.
Pak Sugeng mengajarkan saya bahwa kehormatan seseorang tidak ditentukan oleh seberapa bersih pekerjaan itu di mata orang lain. Kehormatan muncul dari kesediaan seseorang menjalankan tanggung jawabnya dengan jujur. Ia mungkin mengangkut sampah orang lain. Tetapi sesungguhnya ia sedang mengangkut harapan keluarganya sendiri. Setiap kantong sampah yang ia angkat adalah bagian dari biaya hidup. Setiap botol plastik yang dikumpulkan istrinya adalah tambahan untuk dapur. Setiap rupiah yang masuk adalah bagian dari mimpi anak-anaknya.
Maka kendaraan tua itu, bagi saya, bukan sekadar kendaraan pengangkut sampah. Ia adalah kendaraan yang membawa sebuah keluarga melewati kehidupan. Kita sering berpikir bahwa orang hebat adalah mereka yang berhasil melakukan sesuatu yang besar. Padahal setelah bertemu orang-orang seperti Pak Sugeng, ukuran itu terasa terlalu sempit. Orang hebat bisa saja seseorang yang setiap pagi bangun sebelum matahari tinggi. Orang hebat bisa seseorang yang pekerjaannya tidak pernah masuk berita. Orang hebat bisa seseorang yang tidak pernah menerima penghargaan. Orang hebat bisa seseorang yang penghasilannya tidak seberapa, tetapi tetap berusaha agar anak-anaknya memiliki masa depan. Dan orang hebat bisa jadi adalah seseorang yang hari ini sedang kita lewati begitu saja.
Pak Sugeng tidak sedang mengubah dunia. Ia hanya mengambil sampah dari rumah-rumah. Tetapi ia sedang mengubah dunia kecil milik keluarganya. Ia sedang memastikan dapur tetap mengepul. Ia sedang menjaga agar anak-anaknya tetap mempunyai harapan. Ia sedang berusaha agar kehidupan keluarganya tidak berhenti pada keadaan yang ia terima sejak awal. Dan bukankah perubahan besar memang sering dimulai dari sana? Dari satu keluarga. Dari satu ayah. Dari satu ibu. Dari satu keputusan sederhana untuk tidak menyerah.
Mungkin kita tidak semua berada dalam situasi seperti Pak Sugeng. Tetapi hampir setiap orang pernah berada pada titik ketika hidup terasa terlalu berat. Pekerjaan tidak sesuai harapan. Penghasilan tidak cukup. Rencana berantakan. Usaha gagal. Anak membutuhkan sesuatu yang belum mampu kita berikan. Orang tua mulai menua. Tagihan datang lebih cepat daripada uang. Pada saat seperti itu, kita sering bertanya:
“Apa yang harus saya lakukan?”
Cerita Pak Sugeng memberi jawaban yang sangat sederhana. Lakukan apa yang masih bisa dilakukan. Kalau penghasilan utama tidak cukup, cari tambahan. Kalau pekerjaan berat, jalani selangkah demi selangkah. Kalau keadaan tidak sesuai harapan, jangan berhenti mencari kemungkinan. Kalau hari ini belum bisa memberikan yang terbaik kepada anak-anak, jangan berhenti berusaha memberi mereka kesempatan yang lebih baik besok. Dan kalau kita belum mampu mengubah kehidupan secara besar-besaran, ubahlah sedikit demi sedikit.
Pak Sugeng tidak menyelesaikan seluruh masalah keluarganya dalam sehari. Ia menyelesaikannya melalui ribuan pagi. Pagi demi pagi. Tahun demi tahun. Sejak 2006 sampai hari ini. Bahkan jauh sebelum itu. Itulah yang sering tidak kita lihat dari sebuah keberhasilan. Kita hanya melihat hasil akhirnya. Kita lupa menghitung berapa banyak pagi yang harus dilalui seseorang untuk sampai ke sana.
Ketika saya melihat Pak Sugeng duduk di atas kendaraan pengangkut sampahnya, saya tidak lagi melihat seorang pemungut sampah. Saya melihat seorang ayah. Seorang suami. Seorang lelaki yang pernah meninggalkan tanah kelahirannya tanpa membawa banyak bekal, tetapi membawa satu keyakinan: keluarganya harus tetap hidup dan memiliki harapan. Saya melihat seseorang yang mungkin tidak bisa memberikan segala sesuatu kepada anak-anaknya. Tetapi ia memberikan sesuatu yang jauh lebih penting: contoh tentang bagaimana bertahan hidup.
Ia mengajarkan bahwa hidup tidak selalu memberi kita pekerjaan yang kita inginkan. Tidak selalu memberi penghasilan yang kita harapkan. Tidak selalu memberikan fasilitas yang kita butuhkan. Tetapi selama masih ada kemauan untuk bekerja, masih ada keluarga yang dicintai, dan masih ada alasan untuk bangun esok pagi, harapan belum selesai. Mungkin suatu hari nanti anak-anak Pak Sugeng akan mengenang ayah mereka bukan karena berapa banyak uang yang pernah ia hasilkan. Mereka akan mengenangnya karena setiap pagi ayahnya pergi bekerja. Karena ayahnya tidak malu melakukan pekerjaan yang dianggap rendah oleh sebagian orang. Karena ayahnya tidak berhenti meskipun hidup tidak mudah. Dan karena di antara bau sampah, debu jalanan, kendaraan tua, serta segelas kopi panas dari tangan ibunya, ada sebuah pesan yang terus diwariskan:
“Hidup boleh sederhana. Keadaan boleh terbatas. Tetapi jangan berhenti berusaha membuat hari esok lebih baik.”
Barangkali itulah arti orang hebat yang sebenarnya. Bukan mereka yang selalu menang. Melainkan mereka yang berkali-kali berhadapan dengan keadaan, lalu tetap memilih untuk berjalan. Seperti Pak Sugeng. Setiap pagi, ketika sebagian dari kita masih menikmati rumah yang bersih, ia sudah berada di jalan. Mengambil sesuatu yang kita buang. Membawanya pergi. Dan tanpa banyak orang tahu, bersamaan dengan sampah itu ia juga sedang membawa sesuatu yang jauh lebih berharga, yaitu harapan untuk anak-anaknya.
Maka jika suatu pagi kita melihat seseorang memungut sampah di depan rumah, mungkin tidak perlu banyak kata. Cukup berhenti sebentar. Lihatlah ia sebagai manusia. Sapa.Hargai pekerjaannya. Bayar haknya tepat waktu. Sebab bagi kita mungkin hanya sejumlah uang pungutan sampah. Tetapi bagi seseorang seperti Pak Sugeng, uang itu bisa berarti nasi di meja makan, kebutuhan rumah tangga yang terpenuhi, atau satu langkah kecil menuju mimpi anak-anaknya.
Dan untuk kita sendiri, mungkin ada satu pelajaran yang bisa dibawa pulang: Jangan menunggu pekerjaan kita terlihat hebat untuk mulai menghargai perjuangan kita sendiri. Kerjakan apa yang ada di depan kita. Lakukan dengan jujur. Cari jalan ketika satu jalan buntu. Bertahan ketika keadaan belum berubah. Dan ketika alasan untuk menyerah terasa begitu kuat, ingatlah Pak Sugeng.
Seorang lelaki tua di atas kendaraan pengangkut sampah, yang setiap pagi berangkat bukan karena hidupnya mudah, tetapi karena ada keluarga yang dicintainya dan ada masa depan anak-anak yang ingin ia perjuangkan. Kadang-kadang, itulah keberanian yang paling sunyi. Tidak ada panggung. Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada kamera. Hanya jalanan, sampah, keringat, segelas kopi, dan sebuah mimpi yang menolak mati.

No comments:
Post a Comment