Tetapi perjalanan sering kali mempertemukan kita dengan orang yang tidak pernah kita rencanakan untuk temui. Di perjalanan menuju Gresik itu, saya berbincang dengan seorang laki-laki yang ternyata memiliki tujuan yang sama. Namanya Ahmad Vanco. Biasa dipanggil Ahmad Usianya 45 tahun. Ia lahir di Surabaya, tetapi kini tinggal di Tangerang Selatan. Hari itu ia sedang dalam perjalanan pulang ke rumah ibunya di Sidoarjo. Setelah itu, ada pekerjaan yang harus ia selesaikan di Sidoarjo dan Gresik.
Pekerjaannya bukan pekerjaan yang mungkin langsung menarik perhatian banyak orang. Ia adalah teknisi sound system. Sederhana. Namun semakin lama kami berbincang, saya semakin merasa bahwa pekerjaan sederhana itu ternyata menyimpan cerita yang panjang. Ahmad berkeluarga, dengan seorang istri dan dikaruniai Allah, tiga orang anak. Dua anaknya masih duduk di sekolah dasar, sementara anak ketiganya sedang bersiap memasuki taman kanak-kanak.
Ketika ia bercerita tentang anak-anaknya, ada perubahan kecil dalam ekspresinya. Senyumnya menjadi lebih ringan. Suaranya terasa lebih hangat. Saya menangkap sesuatu yang mungkin tidak terlihat dari pekerjaannya: ia adalah seorang ayah yang sedang berusaha memastikan anak-anaknya tumbuh dengan kehidupan yang baik. Padahal, perjalanan hidup Ahmad sendiri tidak selalu berada di jalur yang sederhana.
Ia mengenal dunia sound system sejak SMA. Sekitar tahun 1996. Saat teman-teman sebayanya mungkin menghabiskan akhir pekan dengan bermain atau berkumpul, Ahmad mulai ikut rental sound system. Biasanya pekerjaan datang pada Sabtu atau Minggu. Acara ulang tahun, hajatan, pertunjukan, dan berbagai kegiatan yang membutuhkan perangkat suara. Dari sana ia belajar. Bukan sekadar belajar bagaimana menyalakan perangkat. Ia belajar bagaimana memastikan suara keluar dengan baik. Bagaimana mengatur peralatan. Bagaimana mengetahui ketika ada gangguan. Bagaimana bekerja dalam tekanan ketika acara sudah dimulai dan semua orang berharap suara tetap terdengar sempurna.
Kemudian hidup membawanya ke Jakarta. Ia kuliah di program studi penyiaran di sebuah universitas. Di sana, dunia sound system yang sebelumnya hanya menjadi pekerjaan sambilan perlahan berubah menjadi bagian penting dari kehidupannya. Sekitar tahun 2000, ia mulai terjun lebih serius ke sound musik pertunjukan. Dunia itu berbeda. Lebih besar. Lebih ramai. Lebih gemerlap.Dan tentu saja lebih menantang. Pekerjaannya dimulai ketika kebanyakan orang sudah ingin tidur. Tengah malam. Ketika gedung pertunjukan mulai sepi dari penonton. Ahmad dan timnya justru mulai sibuk. Peralatan dipasang. Kabel ditata. Speaker ditempatkan. Mikrofon diuji. Instrumen musik diperiksa. Satu per satu. Tidak boleh ada yang terlewat. Kemudian dilakukan uji coba. Ia harus memastikan semuanya berfungsi.
Setelah pertunjukan dimulai, pekerjaannya belum selesai. Ia harus tetap berjaga. Memastikan suara tetap keluar. Memastikan instrumen tidak bermasalah. Memastikan ketika penyanyi bernyanyi, musik terdengar sebagaimana mestinya. Dan semua itu berlangsung sampai pertunjukan berakhir. Kadang malam sudah berganti pagi ketika ia baru benar-benar selesai bekerja. Begitu seterusnya. Hari berganti hari. Minggu berganti minggu. Bulan berganti bulan. Tahun berganti tahun. Ahmad menjalani kehidupan malam itu selama bertahun-tahun.
Ia pernah bekerja di sebuah stasiun televisi swasta. Ia terlibat dengan kelompok band. Ia fokus pada sound musik pertunjukan. Sekitar sepuluh tahun hidupnya berada di dunia tersebut. Sampai sekitar 2014. Dua tahun setelah ia menikah. Pada masa itu, ia juga pernah mencoba usaha warung nasi di Cilandak. Ia pernah menjadi teknisi sound di sebuah stasiun televisi berbasis keagamaan. Hidupnya terus bergerak. Tetapi ternyata ada sesuatu yang pelan-pelan berubah di dalam dirinya. Perubahan itu tidak datang ketika Ahmad mendapatkan pekerjaan baru. Perubahan itu datang ketika ia memiliki anak. Menjadi ayah ternyata membuat seseorang memandang hidup dengan cara yang berbeda. Ada pertanyaan yang mulai muncul. Pertanyaan yang mungkin tidak bisa dijawab hanya dengan uang.
Ahmad mulai bertanya kepada dirinya sendiri: Akan seperti apa kehidupan anak-anak saya nanti? Pertanyaan itu mungkin terdengar sederhana. Tetapi bagi seorang ayah, pertanyaan sederhana bisa berubah menjadi kegelisahan yang panjang. Ia mulai memikirkan kehidupan malam yang selama bertahun-tahun ia jalani. Pertunjukan. Gemerlap lampu. Musik. Keramaian. Jam kerja yang tidak mengenal malam. Dunia yang selama ini menjadi sumber penghidupannya. Lalu muncul kegelisahan lain:Apakah kehidupan seperti ini yang ingin saya perkenalkan kepada anak-anak saya?
Bukan berarti Ahmad menganggap pekerjaannya buruk. Bukan.Pekerjaan itu telah menghidupi dirinya. Pekerjaan itu memberinya penghasilan. Pekerjaan itu juga mengajarinya banyak hal. Tetapi ketika seseorang menjadi orang tua, ukuran tentang "cukup" kadang berubah. Dulu mungkin cukup jika pekerjaan menghasilkan uang. Setelah memiliki anak, cukup bisa berarti sesuatu yang lebih luas. Cukup waktu bersama keluarga. Cukup ketenangan. Cukup makna. Cukup keyakinan bahwa apa yang dikerjakan hari ini akan meninggalkan sesuatu yang baik bagi anak-anaknya. Dan di situlah Ahmad mulai melakukan pencarian. Seolah-olah semesta membuka pintu dari arah yang tidak pernah ia duga. Ketika suatu kali pulang ke Surabaya, Ahmad mendapatkan kesempatan mengerjakan instalasi sound system di sebuah masjid.
Mungkin bagi orang lain itu hanya pekerjaan. Sebuah proyek. Ada perangkat yang harus dipasang. Ada kabel yang harus ditata. Ada speaker yang harus ditempatkan. Ada sistem suara yang harus diuji. Tetapi bagi Ahmad, pekerjaan itu terasa berbeda. Setelah instalasi selesai, ia melihat perangkat yang baru saja dipasangnya. Speaker itu tidak lagi hanya menjadi alat untuk menghasilkan suara. Ia membayangkan bagaimana perangkat tersebut akan digunakan setiap hari. Untuk azan. Untuk panggilan salat. Untuk menyampaikan pengajian. Untuk menyenandungkan kalam Tuhan. Untuk kegiatan keagamaan. Untuk rapat masyarakat. Untuk berbagai aktivitas yang melibatkan banyak orang. Saat itu, mungkin Ahmad menemukan sesuatu yang selama ini ia cari tanpa sadar. Pekerjaannya bisa meninggalkan manfaat yang lebih panjang daripada sebuah pertunjukan yang selesai dalam satu malam.
Ketika sebuah pertunjukan selesai. Lampu dimatikan. Penonton pulang. Peralatan dibongkar. Keesokan harinya, tempat itu kembali seperti semula. Sepi. Tetapi sebuah instalasi sound system di masjid bisa terus digunakan. Hari ini untuk azan. Besok untuk kajian.Lusa untuk pendidikan. Minggu depan untuk kegiatan masyarakat. Bulan depan masih digunakan. Bahkan bertahun-tahun kemudian, selama perangkat itu masih berfungsi, suara yang keluar darinya masih membawa manfaat. Dan mungkin di situlah hati Ahmad mulai menemukan ruang yang sebelumnya kosong. Sejak itu, pekerjaan Ahmad perlahan berubah arah. Ia tetap menjadi teknisi. Keahliannya dan kejujurannya tidak berubah. Tangannya masih memasang kabel. Matanya masih memeriksa perangkat. Telinganya masih mendengarkan kualitas suara. Tetapi tujuan pekerjaannya berubah. Ia mulai mendapatkan pekerjaan seputar sound system masjid. Kemudian perkantoran.Gedung pertemuan. Gedung olahraga. Berbagai tempat yang membutuhkan keahliannya.
Secara ekonomi, mungkin pilihan itu bukan yang paling menguntungkan. Penghasilannya jauh lebih kecil dibanding ketika ia bekerja di dunia pertunjukan musik. Kalau ukuran keberhasilan hanya uang, mungkin Ahmad sedang mengambil jalan mundur. Tetapi kehidupan tidak selalu sesederhana itu. Ada sesuatu yang tidak bisa masuk ke dalam angka di rekening. Ada ketenangan. Ada kepuasan batin. Ada rasa bahwa pekerjaan kita memiliki arti. Ada perasaan ketika melihat hasil kerja kita dipakai orang lain untuk sesuatu yang kita anggap baik. Dan Ahmad menemukannya.
Ia mungkin tidak menjadi orang kaya. Tetapi ia menjadi orang yang bahagia. Kalimat itu sederhana. Namun semakin saya memikirkannya, semakin saya merasa bahwa kalimat itu tidak sederhana sama sekali. Bahagia, tetapi tidak kaya. Di zaman ketika banyak orang mengejar kekayaan dengan sekuat tenaga, kalimat tersebut seperti sesuatu yang hampir terdengar aneh. Kita sering diajarkan untuk mengejar lebih. Penghasilan lebih besar. Rumah lebih besar. Kendaraan lebih bagus. Jabatan lebih tinggi. Usaha lebih besar. Tetapi jarang sekali kita diajarkan untuk bertanya: Apakah semua itu membuat saya lebih bahagia?
Perjalanan bersama Ahmad membuat saya kembali melihat arti pekerjaan. Selama ini kita sering menilai pekerjaan dari hasil akhirnya. Berapa gajinya Berapa omzetnya Berapa keuntungan yang didapat Berapa besar rumah yang bisa dibeli? Padahal ada dimensi lain yang sering terlupakan: Apa yang pekerjaan itu lakukan terhadap jiwa kita? Ada pekerjaan yang membuat rekening bertambah, tetapi membuat hati semakin kosong.
Ada pekerjaan yang menghasilkan banyak uang, tetapi menghabiskan seluruh waktu yang seharusnya kita gunakan bersama keluarga. Ada pekerjaan yang membuat seseorang terlihat sukses dari luar, tetapi setiap malam ia pulang dengan perasaan tidak mengenali dirinya sendiri. Sebaliknya, ada pekerjaan yang mungkin menghasilkan lebih sedikit, tetapi membuat seseorang merasa hidupnya berguna. Ahmad memilih yang kedua. Bukan karena ia tidak membutuhkan uang. Ia tetap memiliki istri dan tiga anak. Ia tetap membutuhkan biaya sekolah, kebutuhan rumah tangga, dan berbagai kebutuhan lainnya. Tetapi ia menemukan bahwa uang bukan satu-satunya bentuk kekayaan. Ada kekayaan dalam ketenangan. Ada kekayaan dalam waktu bersama keluarga. Ada kekayaan ketika seseorang bangun pagi tanpa merasa menyesal denga pekerjaan yang dilakukannya. Ada kekayaan ketika kita tahu bahwa keterampilan yang kita miliki bisa membantu orang lain. Dan ada kekayaan yang tidak pernah masuk ke dalam laporan keuangan: kepuasan batin. Saya kemudian menyadari sesuatu.
Mungkin menemukan makna bukan berarti menemukan pekerjaan yang paling hebat. Menemukan makna adalah menemukan alasan mengapa kita ingin terus mengerjakan sesuatu. Ahmad sudah memiliki keterampilan sejak lama.Ia tidak perlu memulai dari nol lagi. Ia hanya mengubah arah penggunaannya. Keahlian yang dulu digunakan untuk pertunjukan musik, kini digunakan untuk membantu masjid, perkantoran, gedung pertemuan, dan fasilitas masyarakat.
Ini pelajaran penting. Kadang kita berpikir bahwa untuk menemukan makna, kita harus meninggalkan semuanya dan memulai kehidupan baru. Padahal tidak selalu demikian. Bisa jadi yang perlu diubah bukan keahlian kita. Bukan pekerjaan kita. Melainkan cara kita melihat pekerjaan itu. Satu keterampilan yang sama dapat memberikan makna yang berbeda ketika digunakan untuk tujuan yang berbeda. Ahmad tidak membuang masa lalunya. Ia tidak menyangkal sepuluh tahun perjalanan di dunia sound musik. Justru pengalaman itulah yang membuatnya memiliki kemampuan ketika kesempatan baru datang.
Tidak ada pengalaman yang benar-benar sia-sia jika suatu hari kita tahu untuk apa pengalaman itu digunakan. Saya juga belajar bahwa kebahagiaan tidak selalu datang ketika kita mendapatkan lebih banyak. Kadang kebahagiaan datang ketika kita akhirnya tahu apa yang cukup bagi kita. Ahmad mungkin bisa saja mengejar kembali pekerjaan dengan penghasilan lebih tinggi. Mungkin ia bisa kembali ke dunia pertunjukan. Mungkin ia bisa mengambil lebih banyak proyek. Tetapi ia sudah menemukan sesuatu yang lebih penting. Ia menemukan pekerjaan yang membuat dirinya merasa memiliki dampak. Dan bagi seorang ayah, mungkin itu adalah hadiah yang tidak ternilai.
Anak-anaknya mungkin belum memahami semua keputusan ayah mereka hari ini. Mereka mungkin belum tahu mengapa ayahnya memilih pekerjaan dengan pendapatan lebih sedikit. Tetapi suatu hari, mereka mungkin akan memahami satu hal: Ayah mereka pernah memilih bukan hanya berdasarkan berapa banyak uang yang bisa dibawa pulang, tetapi berdasarkan kehidupan seperti apa yang ingin ia bangun untuk keluarganya. Itulah keberanian yang sering tidak terlihat. Bukan keberanian untuk melawan orang lain. Melainkan keberanian untuk mendengarkan suara hati sendiri ketika dunia terus mengatakan bahwa uang adalah ukuran utama keberhasilan.
Ketika kereta akhirnya membawa kami semakin dekat ke tujuan, saya memikirkan kembali percakapan sederhana dengan Ahmad. Kami bertemu sebagai dua orang asing di dalam perjalanan. Tidak ada janji sebelumnya. Tidak ada agenda. Tetapi dari pertemuan singkat itu, saya membawa pulang sebuah pertanyaan yang jauh lebih panjang: Sebenarnya, untuk apa saya bekerja? Pertanyaan itu mungkin juga layak kita tanyakan kepada diri sendiri. Untuk apa kita mengejar uang Untuk apa kita ingin sukses? Untuk apa kita ingin memiliki lebih banyak? Jika semua itu tidak membuat kita lebih damai, lebih berguna, lebih dekat dengan keluarga, dan lebih mengenal diri sendiri, mungkin kita perlu berhenti sejenak. Bukan untuk menyerah. Tetapi untuk menata ulang arah.
Sebab hidup bukan hanya tentang seberapa banyak yang bisa kita kumpulkan. Hidup juga tentang seberapa banyak makna yang bisa kita tinggalkan. Ahmad mengajarkan kepada saya bahwa seseorang tidak harus kaya untuk merasa berharga. Ia tidak harus memiliki penghasilan terbesar untuk merasa berhasil. Ia hanya perlu tahu bahwa pekerjaannya memiliki arti. Bahwa keahliannya berguna. Bahwa keluarganya menjadi alasan untuk terus berjuang. Dan bahwa setiap hari yang ia jalani meninggalkan sesuatu yang baik bagi orang lain.
Itulah mungkin bentuk lain dari orang hebat. Bukan orang yang paling kaya. Bukan orang yang paling terkenal. Tetapi orang biasa yang menemukan makna di dalam pekerjaannya, lalu memilih untuk tetap berjalan meskipun jalan itu tidak selalu menghasilkan uang paling banyak. Pada akhirnya, mungkin kita semua sedang mencari hal yang sama. Bukan sekadar kehidupan yang lebih kaya. Tetapi kehidupan yang lebih berarti. Dan jika suatu hari kita harus memilih antara menjadi kaya tetapi kosong, atau tidak terlalu kaya tetapi hati kita penuh, semoga kita cukup berani untuk bertanya: Apa yang sebenarnya ingin kita bawa pulang dari perjalanan hidup ini? Sebab kekayaan bisa dihitung. Tetapi makna tidak. Uang bisa habis. Tetapi manfaat bisa terus hidup. Dan kebahagiaan sejati mungkin bukan ketika kita memiliki semuanya. Melainkan ketika kita menyadari bahwa yang kita miliki sudah cukup untuk membuat hidup kita berarti.

No comments:
Post a Comment