Pagi itu, di antara beberapa tukang becak yang biasa mangkal di depan kantor Samsat lama Mertokondo, Kebumen, saya kembali melihat Pak Yadi. Usianya sudah 64 tahun. Tubuhnya tidak lagi muda. Wajahnya menyimpan gurat-gurat waktu yang tidak mungkin disembunyikan. Tetapi becak yang menjadi teman kerjanya masih sama seperti dulu: becak kayuh, becak biasa, becak yang belum berubah menjadi bentor seperti sebagian besar becak di Kebumen.
Saya memperhatikannya beberapa saat. Ada
sesuatu yang selalu membuat saya tertarik setiap kali melihat orang-orang
seperti Pak Yadi. Mereka tidak sedang melakukan sesuatu yang oleh banyak orang
disebut luar biasa. Tidak ada panggung. Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada orang
yang berdiri di pinggir jalan untuk memberi penghargaan.
Hanya sebuah becak. Hanya seorang lelaki tua. Dan
sebuah pekerjaan yang barangkali bagi sebagian orang sudah dianggap tidak
menjanjikan. Tetapi justru di situlah saya sering menemukan sesuatu yang
penting tentang kehidupan.
Pak Yadi sudah sekitar 25 tahun menjadi tukang
becak. Selama itu pula tempat mangkalnya tidak banyak berubah. Di depan kantor
Samsat lama Mertokondo itulah ia mencari penumpang, menunggu orang yang
membutuhkan tenaganya untuk mengantar barang atau seseorang ke tempat tujuan.
Namun kehidupan tidak selalu berjalan seperti
dulu. Kantor pembuatan SIM yang sebelumnya menjadi salah satu sumber
penumpangnya telah pindah ke Polres Kebumen. Sejak kepindahan itu, keadaan
menjadi jauh lebih sepi.
Penumpang berkurang. Sementara becak Pak Yadi
tetap sama. Tidak ada mesin yang bisa membantunya mengayuh. Tidak ada motor
yang bisa membuatnya bergerak lebih cepat. Ketika sebagian tukang becak lain
sudah memodifikasi becaknya menjadi bentor, Pak Yadi masih mengandalkan dua
kaki dan tenaga yang tersisa di tubuhnya.
Saya membayangkan bagaimana rasanya duduk
berjam-jam di atas becak, menunggu.Menunggu orang lewat. Menunggu seseorang
memanggil. Menunggu suara sederhana:
“Pak, antar ke sana.”
Barangkali bagi kita kalimat itu terdengar
biasa saja. Tetapi bagi Pak Yadi, kalimat itu berarti uang untuk dibawa pulang.
Dan ternyata, bahkan kalimat sesederhana itu tidak selalu datang. Pernah suatu
ketika, lima hari berturut-turut tidak ada penumpang. Lima hari. Saya mencoba
membayangkan lima hari itu.
Pagi datang. Pak Yadi mungkin datang ke tempat
mangkalnya. Becak diposisikan seperti biasa. Ia duduk menunggu. Orang-orang
berjalan melewati jalan di depannya. Kendaraan berlalu-lalang. Matahari naik
semakin tinggi. Kemudian sore datang. Tetapi tidak ada penumpang. Besoknya ia
datang lagi. Tidak ada. Hari berikutnya lagi. Masih tidak ada. Sampai lima hari
berlalu. Lima hari tanpa seorang pun naik ke becaknya.Kalau saya berada di
posisi itu, entah apa yang akan saya rasakan.
Mungkin cemas.
Mungkin marah.
Mungkin kecewa.
Mungkin juga malu mengakui kepada keluarga
bahwa selama beberapa hari tidak ada penghasilan. Dan mungkin, pada satu titik,
saya akan bertanya kepada diri sendiri:
“Masih harus dilanjutkan?”
Pertanyaan semacam itu sangat manusiawi. Sebab
kita sering kali kuat ketika masih melihat hasil dari apa yang kita lakukan.
Kita bisa bekerja keras ketika ada kepastian bahwa kerja keras itu akan membawa
sesuatu. Tetapi bertahan ketika hasil hampir tidak terlihat adalah perkara
lain.
Di situlah saya melihat Pak Yadi. “Tetap
narik becak, Pak?” Pertanyaan itu sederhana. Tetapi jawaban Pak Yadi
membuat saya melihat pekerjaannya dengan cara berbeda. Bagi Pak Yadi, menjadi
tukang becak bukan semata-mata pekerjaan.Itu adalah ikhtiar.
Ia sudah sekitar seperempat abad menjalani
pekerjaan tersebut. Dari pekerjaannya itulah kedua anak laki-lakinya bisa
bersekolah. Keduanya bahkan berhasil menyelesaikan pendidikan sampai SMK. Dan
sekarang, kedua anaknya sudah bekerja di Yogyakarta. Saya membayangkan ada
bagian kecil dari perjalanan panjang itu yang mungkin tidak pernah diketahui
kedua anaknya.
Mungkin mereka tidak pernah tahu berapa kali
ayahnya duduk sendirian menunggu penumpang. Mungkin mereka tidak pernah
menghitung berapa kali ayahnya mengayuh becak ketika tubuh sebenarnya sudah
ingin beristirahat. Mungkin mereka tidak pernah tahu bagaimana rasanya lima
hari tanpa penumpang.Dan mungkin mereka juga tidak tahu berapa banyak harapan
yang pernah diletakkan ayahnya di atas sebuah becak tua.
Sebab seorang ayah sering kali memang begitu. Ia
tidak selalu bercerita tentang beratnya hidup. Ia hanya bekerja. Anak-anak
melihat hasilnya, tetapi tidak selalu melihat proses panjang yang menghasilkan
hasil tersebut. Ketika anak akhirnya mengenakan seragam sekolah, ayah mungkin
tidak bercerita tentang hari ketika ia tidak mendapatkan penumpang.
Ketika anak lulus SMK, ayah mungkin tidak
mengatakan bahwa bertahun-tahun sebelumnya ia pernah hampir putus asa. Ketika
anak mendapatkan pekerjaan, ayah mungkin hanya tersenyum. Seolah semua itu
memang sudah seharusnya. Padahal di belakang senyum itu ada puluhan tahun
perjuangan. Pak Yadi memilih bertahan.
Bukan karena pekerjaannya mudah. Bukan karena
penghasilannya selalu cukup. Bukan karena masa depan pekerjaannya terlihat
cerah. Ia bertahan karena ada orang-orang yang dicintainya. Dan saya kira, di
situlah kita bisa memahami bentuk keberanian yang sering luput dari perhatian.
Keberanian tidak selalu berbentuk keputusan
besar. Kadang-kadang keberanian hanya berupa keputusan untuk bangun pagi dan
mencoba sekali lagi. Datang ke tempat yang sama. Duduk di atas kendaraan yang
sama. Menunggu sesuatu yang belum tentu datang. Dan mengatakan kepada diri
sendiri:
“Ya sudah. Dicoba lagi.”
Ada satu hal yang membuat kisah Pak Yadi
semakin menarik bagi saya. Ia tidak hanya menunggu rezeki dari becaknya. Ketika
penumpang sepi, ia menerima pekerjaan lain. Salah satunya menjadi kuli
bangunan. Artinya, ia tidak memahami ikhtiar sebagai satu jalan yang harus
dipaksakan sampai mati. Ketika satu pintu sepi, ia mencari pintu lain.
Ini mungkin terdengar sederhana. Tetapi
bukankah banyak di antara kita yang justru berhenti ketika satu rencana gagal? Kita
terlalu sering mengira bahwa bertahan berarti terus melakukan hal yang sama. Padahal
tidak selalu begitu. Bertahan bisa berarti mengubah cara, tanpa mengubah
tujuan. Pak Yadi tetap ingin bekerja. Tetap ingin memiliki penghasilan. Tetap
ingin hidup dengan tenaganya sendiri.
Kalau becak sedang sepi, ia menjadi kuli
bangunan. Kalau ada kesempatan lain, ia mengambilnya. Yang berubah adalah
jalannya. Yang tidak berubah adalah kemauannya untuk terus berusaha. Saya
menyukai cara pandang semacam ini. Sebab kehidupan sering kali tidak memberikan
kita jalan lurus. Kadang kita sudah bekerja keras, tetapi hasilnya belum
datang.
Kadang usaha yang kita bangun bertahun-tahun
tiba-tiba kehilangan pelanggan. Kadang pekerjaan yang selama ini menjadi
sandaran tidak lagi seramai dulu. Kadang dunia berubah lebih cepat daripada
kemampuan kita untuk menyesuaikan diri. Pada keadaan seperti itu, kita punya
dua pilihan. Menganggap semuanya selesai. Atau mencari cara lain untuk tetap
berjalan. Pak Yadi memilih yang kedua.
Ada hal lain yang saya perhatikan dari cerita
hidupnya. Ia percaya bahwa rezeki sudah diatur oleh Allah. Kalimat itu mungkin
terdengar sederhana. Bahkan mungkin terlalu sering kita dengar.Tetapi ada
perbedaan antara sekadar mengucapkannya dan benar-benar menjalankannya. Bagi
Pak Yadi, percaya bahwa rezeki diatur Allah bukan alasan untuk duduk diam. Justru
sebaliknya.Ia tetap mangkal. Tetap mengayuh.Tetap menerima pekerjaan ketika ada
kesempatan. Tetap beraktivitas di masyarakat.
Ia juga menekuni kegiatan keagamaan. Misalnya
mengikuti pengajian Rabu Pon maupun pengajian Paingan di Masjid Dusun
Tanuraksan, Desa Gemeksekti. Jaraknya sekitar lima kilometer dari rumah. Lima
kilometer mungkin bukan jarak yang luar biasa bagi kendaraan bermotor. Tetapi
bagi seorang lelaki berusia 64 tahun yang sepanjang hidupnya sudah bekerja
dengan tenaga fisik, jarak itu memiliki cerita tersendiri.
Saya membayangkan jalan yang ditempuhnya. Mungkin
tidak selalu mudah.Tetapi ia pergi. Sebab kehidupan baginya bukan hanya tentang
mendapatkan uang. Ada kebutuhan lain yang juga harus dijaga: hubungan dengan
Tuhan, hubungan dengan masyarakat, dan rasa bahwa dirinya masih menjadi bagian
dari lingkungan tempat ia hidup. Di sini saya belajar bahwa bertahan bukan
hanya soal bertahan secara ekonomi.
Kadang kita juga perlu bertahan secara batin. Menjaga
agar hati tidak menjadi pahit ketika keadaan tidak sesuai harapan. Menjaga agar
kegagalan tidak membuat kita merasa tidak berguna. Menjaga agar kesulitan tidak
membuat kita kehilangan hubungan dengan orang lain. Dan mungkin yang paling
penting: menjaga agar kita tidak kehilangan alasan untuk terus bangun setiap
pagi.
Saya tidak tahu persis apa yang dirasakan Pak
Yadi ketika lima hari tidak mendapatkan penumpang. Saya tidak ingin mengarang
perasaannya. Mungkin ia kecewa. Mungkin ia khawatir. Mungkin ia juga pernah
merasa lelah. Sebab ia manusia, bukan tokoh yang selalu kuat. Dan justru di
situlah kisahnya terasa dekat.
Orang-orang yang tidak menyerah bukan berarti
orang-orang yang tidak pernah ingin menyerah. Saya kira itu dua hal yang
berbeda. Orang yang tidak mengenal menyerah bukanlah orang yang tidak pernah
lelah. Ia bisa lelah. Ia bisa takut. Ia bisa kecewa. Ia bisa bertanya-tanya
apakah semua ini masih layak diperjuangkan. Tetapi setelah semua perasaan itu
datang, ia tetap memilih untuk melanjutkan. Mungkin hanya satu langkah. Mungkin
hanya satu hari. Mungkin hanya satu kayuhan. Tetapi ia tetap bergerak.
Pak Yadi mungkin tidak pernah menganggap
dirinya sebagai orang hebat. Ia hanya seorang tukang becak yang sudah menjalani
pekerjaannya selama sekitar 25 tahun. Namun dari kehidupan yang tampak biasa
itu, saya justru menemukan ukuran lain tentang kehebatan. Kehebatan tidak
selalu diukur dari seberapa tinggi seseorang berdiri. Kadang ia diukur dari
seberapa lama seseorang bersedia bertahan ketika hidup memintanya untuk
menyerah. Dan sering kali, alasan terkuat untuk bertahan bukanlah diri sendiri.
Melainkan orang yang kita cintai.
Saya membayangkan kedua anak Pak Yadi sekarang
berada di Yogyakarta. Mereka bekerja. Mungkin menjalani kehidupan mereka
masing-masing. Mungkin mereka sedang sibuk dengan pekerjaan, teman, keluarga,
dan masa depan. Sementara di Kebumen, seorang lelaki berusia 64 tahun masih
menjaga becaknya. Becak yang dulu menjadi alat untuk mengantarkan mereka menuju
masa depan.
Ada sesuatu yang terasa mengharukan dalam
hubungan antara pekerjaan dan cinta seperti itu. Sebuah becak mungkin hanya
benda sederhana. Tetapi bagi sebuah keluarga, ia bisa menjadi kendaraan menuju
pendidikan. Menjadi sumber uang sekolah. Menjadi biaya makan. Menjadi ongkos
hidup. Menjadi saksi ketika seorang ayah mempertaruhkan sisa tenaganya untuk
memastikan anak-anaknya memiliki kesempatan yang lebih baik daripada dirinya.
Itulah sebabnya saya semakin percaya bahwa
kita tidak boleh terlalu cepat menilai pekerjaan seseorang hanya dari bentuk
luarnya. Kita melihat tukang becak. Tetapi mungkin yang sebenarnya kita lihat
adalah seorang ayah. Kita melihat seorang kuli bangunan. Tetapi mungkin yang
sebenarnya kita lihat adalah seseorang yang sedang membiayai masa depan
keluarganya. Ketika k ita melihat
pedagang kecil. Tetapi mungkin yang sebenarnya kita lihat adalah seorang ibu
yang sedang membayar sekolah anaknya. Di balik pekerjaan yang tidak banyak
dipuji, sering kali ada cinta yang sedang bekerja diam-diam. Dan cinta semacam
itu tidak membutuhkan panggung. Ia hanya membutuhkan ketekunan.
Dari Pak Yadi saya belajar satu hal yang
sangat sederhana: Kita tidak selalu bisa memilih keadaan, tetapi kita masih
bisa memilih untuk terus berikhtiar. Ketika pekerjaan sepi, jangan buru-buru
menganggap hidup selesai. Cari jalan lain.
Ketika rencana gagal, jangan langsung menganggap diri kita gagal.
Ketika hasil belum datang, jangan menganggap
usaha kita sia-sia. Bisa jadi hasilnya sedang tumbuh di tempat yang belum bisa
kita lihat. Dan ketika kita merasa sudah tidak punya alasan untuk bertahan,
barangkali kita perlu mengingat kembali siapa yang sedang kita perjuangkan. Sebab
terkadang, kekuatan terbesar manusia bukan berasal dari keinginan untuk menjadi
sukses. Melainkan dari keinginan sederhana agar orang-orang yang dicintainya
tetap memiliki kesempatan untuk hidup lebih baik.
Pak Yadi sudah membuktikannya selama sekitar
seperempat abad. Ia tidak punya banyak pilihan. Tetapi ia punya kemauan. Ia
tidak selalu mendapatkan penumpang. Tetapi ia tetap datang. Ia tidak selalu
mendapatkan penghasilan dari becak. Tetapi ia mencari pekerjaan lain. Ia tidak
tahu persis apa yang akan terjadi besok. Tetapi ia percaya bahwa tugasnya
adalah berikhtiar hari ini. Mungkin itulah arti bertahan hidup yang
sesungguhnya.
Bukan memaksa hidup selalu sesuai dengan
keinginan kita. Bukan pula berpura-pura bahwa kita tidak pernah lelah. Bertahan
adalah menerima bahwa hidup kadang sulit, kemudian tetap mencari jalan untuk
melaluinya. Kadang dengan sebuah becak. Kadang dengan menjadi kuli bangunan. Kadang
dengan berjalan lima kilometer menuju pengajian. Kadang hanya dengan bangun
pagi dan berkata:
“Hari ini saya coba lagi.”
Dan mungkin, orang-orang seperti Pak Yadi
perlu kita lihat lebih lama. Sebab mereka mengingatkan kita bahwa kehidupan
tidak hanya dibangun oleh orang-orang yang menang besar. Kehidupan juga
ditopang oleh orang-orang yang setiap hari bekerja dalam diam. Orang-orang yang
tidak banyak dipuji. Orang-orang yang mungkin tidak pernah masuk berita. Tetapi
terus berjalan karena ada seseorang yang mereka cintai dan mereka perjuangkan. Pada
akhirnya, mungkin itulah bentuk keberanian yang paling sunyi: tetap mengayuh,
meskipun jalan sedang sepi, karena kita tahu ada orang-orang yang menunggu kita
sampai di rumah.

No comments:
Post a Comment