Sunday, August 9, 2026

Pak Yadi 25 tahun bertahan untuk mengayuh, walaupun jalanan sepi

 


Pagi itu, di antara beberapa tukang becak yang biasa mangkal di depan kantor Samsat lama Mertokondo, Kebumen, saya kembali melihat Pak Yadi. Usianya sudah 64 tahun. Tubuhnya tidak lagi muda. Wajahnya menyimpan gurat-gurat waktu yang tidak mungkin disembunyikan. Tetapi becak yang menjadi teman kerjanya masih sama seperti dulu: becak kayuh, becak biasa, becak yang belum berubah menjadi bentor seperti sebagian besar becak di Kebumen.

Saya memperhatikannya beberapa saat. Ada sesuatu yang selalu membuat saya tertarik setiap kali melihat orang-orang seperti Pak Yadi. Mereka tidak sedang melakukan sesuatu yang oleh banyak orang disebut luar biasa. Tidak ada panggung. Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada orang yang berdiri di pinggir jalan untuk memberi penghargaan.

Hanya sebuah becak. Hanya seorang lelaki tua. Dan sebuah pekerjaan yang barangkali bagi sebagian orang sudah dianggap tidak menjanjikan. Tetapi justru di situlah saya sering menemukan sesuatu yang penting tentang kehidupan.

Pak Yadi sudah sekitar 25 tahun menjadi tukang becak. Selama itu pula tempat mangkalnya tidak banyak berubah. Di depan kantor Samsat lama Mertokondo itulah ia mencari penumpang, menunggu orang yang membutuhkan tenaganya untuk mengantar barang atau seseorang ke tempat tujuan.

Namun kehidupan tidak selalu berjalan seperti dulu. Kantor pembuatan SIM yang sebelumnya menjadi salah satu sumber penumpangnya telah pindah ke Polres Kebumen. Sejak kepindahan itu, keadaan menjadi jauh lebih sepi.

Penumpang berkurang. Sementara becak Pak Yadi tetap sama. Tidak ada mesin yang bisa membantunya mengayuh. Tidak ada motor yang bisa membuatnya bergerak lebih cepat. Ketika sebagian tukang becak lain sudah memodifikasi becaknya menjadi bentor, Pak Yadi masih mengandalkan dua kaki dan tenaga yang tersisa di tubuhnya.

Saya membayangkan bagaimana rasanya duduk berjam-jam di atas becak, menunggu.Menunggu orang lewat. Menunggu seseorang memanggil. Menunggu suara sederhana:

“Pak, antar ke sana.”

Barangkali bagi kita kalimat itu terdengar biasa saja. Tetapi bagi Pak Yadi, kalimat itu berarti uang untuk dibawa pulang. Dan ternyata, bahkan kalimat sesederhana itu tidak selalu datang. Pernah suatu ketika, lima hari berturut-turut tidak ada penumpang. Lima hari. Saya mencoba membayangkan lima hari itu.

Pagi datang. Pak Yadi mungkin datang ke tempat mangkalnya. Becak diposisikan seperti biasa. Ia duduk menunggu. Orang-orang berjalan melewati jalan di depannya. Kendaraan berlalu-lalang. Matahari naik semakin tinggi. Kemudian sore datang. Tetapi tidak ada penumpang. Besoknya ia datang lagi. Tidak ada. Hari berikutnya lagi. Masih tidak ada. Sampai lima hari berlalu. Lima hari tanpa seorang pun naik ke becaknya.Kalau saya berada di posisi itu, entah apa yang akan saya rasakan.

Mungkin cemas.

Mungkin marah.

Mungkin kecewa.

Mungkin juga malu mengakui kepada keluarga bahwa selama beberapa hari tidak ada penghasilan. Dan mungkin, pada satu titik, saya akan bertanya kepada diri sendiri:

“Masih harus dilanjutkan?”

Pertanyaan semacam itu sangat manusiawi. Sebab kita sering kali kuat ketika masih melihat hasil dari apa yang kita lakukan. Kita bisa bekerja keras ketika ada kepastian bahwa kerja keras itu akan membawa sesuatu. Tetapi bertahan ketika hasil hampir tidak terlihat adalah perkara lain.

Di situlah saya melihat Pak Yadi. “Tetap narik becak, Pak?” Pertanyaan itu sederhana. Tetapi jawaban Pak Yadi membuat saya melihat pekerjaannya dengan cara berbeda. Bagi Pak Yadi, menjadi tukang becak bukan semata-mata pekerjaan.Itu adalah ikhtiar.

Ia sudah sekitar seperempat abad menjalani pekerjaan tersebut. Dari pekerjaannya itulah kedua anak laki-lakinya bisa bersekolah. Keduanya bahkan berhasil menyelesaikan pendidikan sampai SMK. Dan sekarang, kedua anaknya sudah bekerja di Yogyakarta. Saya membayangkan ada bagian kecil dari perjalanan panjang itu yang mungkin tidak pernah diketahui kedua anaknya.

Mungkin mereka tidak pernah tahu berapa kali ayahnya duduk sendirian menunggu penumpang. Mungkin mereka tidak pernah menghitung berapa kali ayahnya mengayuh becak ketika tubuh sebenarnya sudah ingin beristirahat. Mungkin mereka tidak pernah tahu bagaimana rasanya lima hari tanpa penumpang.Dan mungkin mereka juga tidak tahu berapa banyak harapan yang pernah diletakkan ayahnya di atas sebuah becak tua.

Sebab seorang ayah sering kali memang begitu. Ia tidak selalu bercerita tentang beratnya hidup. Ia hanya bekerja. Anak-anak melihat hasilnya, tetapi tidak selalu melihat proses panjang yang menghasilkan hasil tersebut. Ketika anak akhirnya mengenakan seragam sekolah, ayah mungkin tidak bercerita tentang hari ketika ia tidak mendapatkan penumpang.

Ketika anak lulus SMK, ayah mungkin tidak mengatakan bahwa bertahun-tahun sebelumnya ia pernah hampir putus asa. Ketika anak mendapatkan pekerjaan, ayah mungkin hanya tersenyum. Seolah semua itu memang sudah seharusnya. Padahal di belakang senyum itu ada puluhan tahun perjuangan. Pak Yadi memilih bertahan.

Bukan karena pekerjaannya mudah. Bukan karena penghasilannya selalu cukup. Bukan karena masa depan pekerjaannya terlihat cerah. Ia bertahan karena ada orang-orang yang dicintainya. Dan saya kira, di situlah kita bisa memahami bentuk keberanian yang sering luput dari perhatian.

Keberanian tidak selalu berbentuk keputusan besar. Kadang-kadang keberanian hanya berupa keputusan untuk bangun pagi dan mencoba sekali lagi. Datang ke tempat yang sama. Duduk di atas kendaraan yang sama. Menunggu sesuatu yang belum tentu datang. Dan mengatakan kepada diri sendiri:

“Ya sudah. Dicoba lagi.”

Ada satu hal yang membuat kisah Pak Yadi semakin menarik bagi saya. Ia tidak hanya menunggu rezeki dari becaknya. Ketika penumpang sepi, ia menerima pekerjaan lain. Salah satunya menjadi kuli bangunan. Artinya, ia tidak memahami ikhtiar sebagai satu jalan yang harus dipaksakan sampai mati. Ketika satu pintu sepi, ia mencari pintu lain.

Ini mungkin terdengar sederhana. Tetapi bukankah banyak di antara kita yang justru berhenti ketika satu rencana gagal? Kita terlalu sering mengira bahwa bertahan berarti terus melakukan hal yang sama. Padahal tidak selalu begitu. Bertahan bisa berarti mengubah cara, tanpa mengubah tujuan. Pak Yadi tetap ingin bekerja. Tetap ingin memiliki penghasilan. Tetap ingin hidup dengan tenaganya sendiri.

Kalau becak sedang sepi, ia menjadi kuli bangunan. Kalau ada kesempatan lain, ia mengambilnya. Yang berubah adalah jalannya. Yang tidak berubah adalah kemauannya untuk terus berusaha. Saya menyukai cara pandang semacam ini. Sebab kehidupan sering kali tidak memberikan kita jalan lurus. Kadang kita sudah bekerja keras, tetapi hasilnya belum datang.

Kadang usaha yang kita bangun bertahun-tahun tiba-tiba kehilangan pelanggan. Kadang pekerjaan yang selama ini menjadi sandaran tidak lagi seramai dulu. Kadang dunia berubah lebih cepat daripada kemampuan kita untuk menyesuaikan diri. Pada keadaan seperti itu, kita punya dua pilihan. Menganggap semuanya selesai. Atau mencari cara lain untuk tetap berjalan. Pak Yadi memilih yang kedua.

Ada hal lain yang saya perhatikan dari cerita hidupnya. Ia percaya bahwa rezeki sudah diatur oleh Allah. Kalimat itu mungkin terdengar sederhana. Bahkan mungkin terlalu sering kita dengar.Tetapi ada perbedaan antara sekadar mengucapkannya dan benar-benar menjalankannya. Bagi Pak Yadi, percaya bahwa rezeki diatur Allah bukan alasan untuk duduk diam. Justru sebaliknya.Ia tetap mangkal. Tetap mengayuh.Tetap menerima pekerjaan ketika ada kesempatan. Tetap beraktivitas di masyarakat.

Ia juga menekuni kegiatan keagamaan. Misalnya mengikuti pengajian Rabu Pon maupun pengajian Paingan di Masjid Dusun Tanuraksan, Desa Gemeksekti. Jaraknya sekitar lima kilometer dari rumah. Lima kilometer mungkin bukan jarak yang luar biasa bagi kendaraan bermotor. Tetapi bagi seorang lelaki berusia 64 tahun yang sepanjang hidupnya sudah bekerja dengan tenaga fisik, jarak itu memiliki cerita tersendiri.

Saya membayangkan jalan yang ditempuhnya. Mungkin tidak selalu mudah.Tetapi ia pergi. Sebab kehidupan baginya bukan hanya tentang mendapatkan uang. Ada kebutuhan lain yang juga harus dijaga: hubungan dengan Tuhan, hubungan dengan masyarakat, dan rasa bahwa dirinya masih menjadi bagian dari lingkungan tempat ia hidup. Di sini saya belajar bahwa bertahan bukan hanya soal bertahan secara ekonomi.

Kadang kita juga perlu bertahan secara batin. Menjaga agar hati tidak menjadi pahit ketika keadaan tidak sesuai harapan. Menjaga agar kegagalan tidak membuat kita merasa tidak berguna. Menjaga agar kesulitan tidak membuat kita kehilangan hubungan dengan orang lain. Dan mungkin yang paling penting: menjaga agar kita tidak kehilangan alasan untuk terus bangun setiap pagi.

Saya tidak tahu persis apa yang dirasakan Pak Yadi ketika lima hari tidak mendapatkan penumpang. Saya tidak ingin mengarang perasaannya. Mungkin ia kecewa. Mungkin ia khawatir. Mungkin ia juga pernah merasa lelah. Sebab ia manusia, bukan tokoh yang selalu kuat. Dan justru di situlah kisahnya terasa dekat.

Orang-orang yang tidak menyerah bukan berarti orang-orang yang tidak pernah ingin menyerah. Saya kira itu dua hal yang berbeda. Orang yang tidak mengenal menyerah bukanlah orang yang tidak pernah lelah. Ia bisa lelah. Ia bisa takut. Ia bisa kecewa. Ia bisa bertanya-tanya apakah semua ini masih layak diperjuangkan. Tetapi setelah semua perasaan itu datang, ia tetap memilih untuk melanjutkan. Mungkin hanya satu langkah. Mungkin hanya satu hari. Mungkin hanya satu kayuhan. Tetapi ia tetap bergerak.

Pak Yadi mungkin tidak pernah menganggap dirinya sebagai orang hebat. Ia hanya seorang tukang becak yang sudah menjalani pekerjaannya selama sekitar 25 tahun. Namun dari kehidupan yang tampak biasa itu, saya justru menemukan ukuran lain tentang kehebatan. Kehebatan tidak selalu diukur dari seberapa tinggi seseorang berdiri. Kadang ia diukur dari seberapa lama seseorang bersedia bertahan ketika hidup memintanya untuk menyerah. Dan sering kali, alasan terkuat untuk bertahan bukanlah diri sendiri. Melainkan orang yang kita cintai.

Saya membayangkan kedua anak Pak Yadi sekarang berada di Yogyakarta. Mereka bekerja. Mungkin menjalani kehidupan mereka masing-masing. Mungkin mereka sedang sibuk dengan pekerjaan, teman, keluarga, dan masa depan. Sementara di Kebumen, seorang lelaki berusia 64 tahun masih menjaga becaknya. Becak yang dulu menjadi alat untuk mengantarkan mereka menuju masa depan.

Ada sesuatu yang terasa mengharukan dalam hubungan antara pekerjaan dan cinta seperti itu. Sebuah becak mungkin hanya benda sederhana. Tetapi bagi sebuah keluarga, ia bisa menjadi kendaraan menuju pendidikan. Menjadi sumber uang sekolah. Menjadi biaya makan. Menjadi ongkos hidup. Menjadi saksi ketika seorang ayah mempertaruhkan sisa tenaganya untuk memastikan anak-anaknya memiliki kesempatan yang lebih baik daripada dirinya.

Itulah sebabnya saya semakin percaya bahwa kita tidak boleh terlalu cepat menilai pekerjaan seseorang hanya dari bentuk luarnya. Kita melihat tukang becak. Tetapi mungkin yang sebenarnya kita lihat adalah seorang ayah. Kita melihat seorang kuli bangunan. Tetapi mungkin yang sebenarnya kita lihat adalah seseorang yang sedang membiayai masa depan keluarganya. Ketika  k ita melihat pedagang kecil. Tetapi mungkin yang sebenarnya kita lihat adalah seorang ibu yang sedang membayar sekolah anaknya. Di balik pekerjaan yang tidak banyak dipuji, sering kali ada cinta yang sedang bekerja diam-diam. Dan cinta semacam itu tidak membutuhkan panggung. Ia hanya membutuhkan ketekunan.

Dari Pak Yadi saya belajar satu hal yang sangat sederhana: Kita tidak selalu bisa memilih keadaan, tetapi kita masih bisa memilih untuk terus berikhtiar. Ketika pekerjaan sepi, jangan buru-buru menganggap hidup selesai. Cari jalan lain.  Ketika rencana gagal, jangan langsung menganggap diri kita gagal.

Ketika hasil belum datang, jangan menganggap usaha kita sia-sia. Bisa jadi hasilnya sedang tumbuh di tempat yang belum bisa kita lihat. Dan ketika kita merasa sudah tidak punya alasan untuk bertahan, barangkali kita perlu mengingat kembali siapa yang sedang kita perjuangkan. Sebab terkadang, kekuatan terbesar manusia bukan berasal dari keinginan untuk menjadi sukses. Melainkan dari keinginan sederhana agar orang-orang yang dicintainya tetap memiliki kesempatan untuk hidup lebih baik.

Pak Yadi sudah membuktikannya selama sekitar seperempat abad. Ia tidak punya banyak pilihan. Tetapi ia punya kemauan. Ia tidak selalu mendapatkan penumpang. Tetapi ia tetap datang. Ia tidak selalu mendapatkan penghasilan dari becak. Tetapi ia mencari pekerjaan lain. Ia tidak tahu persis apa yang akan terjadi besok. Tetapi ia percaya bahwa tugasnya adalah berikhtiar hari ini. Mungkin itulah arti bertahan hidup yang sesungguhnya.

Bukan memaksa hidup selalu sesuai dengan keinginan kita. Bukan pula berpura-pura bahwa kita tidak pernah lelah. Bertahan adalah menerima bahwa hidup kadang sulit, kemudian tetap mencari jalan untuk melaluinya. Kadang dengan sebuah becak. Kadang dengan menjadi kuli bangunan. Kadang dengan berjalan lima kilometer menuju pengajian. Kadang hanya dengan bangun pagi dan berkata:

“Hari ini saya coba lagi.”

Dan mungkin, orang-orang seperti Pak Yadi perlu kita lihat lebih lama. Sebab mereka mengingatkan kita bahwa kehidupan tidak hanya dibangun oleh orang-orang yang menang besar. Kehidupan juga ditopang oleh orang-orang yang setiap hari bekerja dalam diam. Orang-orang yang tidak banyak dipuji. Orang-orang yang mungkin tidak pernah masuk berita. Tetapi terus berjalan karena ada seseorang yang mereka cintai dan mereka perjuangkan. Pada akhirnya, mungkin itulah bentuk keberanian yang paling sunyi: tetap mengayuh, meskipun jalan sedang sepi, karena kita tahu ada orang-orang yang menunggu kita sampai di rumah.

 

No comments:

Post a Comment