Tuesday, August 18, 2026

Essay 9. Mbah Slamet yang Tak Pernah Mengeluh

Selepas salat Zuhur, Mbah Slamet muda pernah duduk di rumah dengan perut kosong. Bukan karena sedang berpuasa. Bukan pula karena tidak ingin makan. Hari itu, beras di rumah memang sudah habis. Ia menoleh ke dapur. Tidak ada segenggam beras yang bisa dimasak. Tidak ada persediaan yang bisa diambil. Sementara di rumah itu ada tiga anak kecil—tiga keponakannya—yang menunggu sesuatu untuk dimakan.

Mbah Slamet masih muda ketika itu. Belum punya pekerjaan tetap. Belum punya usaha. Belum punya rumah sendiri. Hidupnya bahkan belum benar-benar menjadi miliknya sendiri. Tetapi tanggungjawab sudah datang lebih dulu. Ia bisa saja mengeluh. Bisa saja mengatakan, "Saya juga tidak punya apa-apa." Bisa saja memilih pergi dan membiarkan keadaan. Tetapi Mbah Slamet tidak melakukannya. Ia justru berpikir bagaimana caranya mendapatkan beras. Dari situlah, sebuah perjalanan panjang dimulai. Bukan  perjalanan yang indah. Bukan pula perjalanan yang mudah. Tetapi perjalanan seorang manusia yang sejak muda belajar satu hal: kalau hidup sedang sempit, jangan hanya menunggu pintu terbuka. Carilah jalan.

Hari ini usianya 65 tahun. Warga Desa Kaleng mengenalnya sebagai Mbah Slamet. Tubuhnya masih tegap. Perawakannya tinggi. Otot tangan dan kakinya masih terlihat menonjol di balik kulit yang mulai menua. Ketika berbicara, ia tidak banyak menggerakkan tangan. Tidak banyak mengeluh. Tidak banyak membesar-besarkan cerita. Justru itu yang membuat saya tertarik.

Ada orang-orang yang ketika bercerita tentang perjuangan hidupnya, seolah ingin memastikan kita tahu betapa berat penderitaannya. Mbah Slamet berbeda. Ia menceritakan masa lalunya seperti seseorang sedang membuka halaman lama sebuah buku. Pelan. Sederhana. Tanpa dramatisasi. Tetapi semakin lama saya mendengarkan, semakin saya sadar: hidup orang ini ternyata tidak ringan. Ia hanya sudah terlalu lama belajar mengangkat beban tanpa banyak suara.

Sejak SD, Mbah Slamet sudah mengenal apa yang disebut ngenger. Dalam kehidupan masyarakat Jawa, ngenger berarti ikut bekerja atau mengabdi kepada orang lain. Ia bekerja membantu keluarga yang ditempatinya, dan sebagai gantinya kebutuhan pokoknya dicukupi—makan, pakaian, dan tempat tinggal.

Bagi anak-anak seusianya, masa SD mungkin adalah masa bermain. Pagi masuk sekolah. Siang pulang. Sore bermain bersama teman-teman. Tetapi kehidupan Mbah Slamet berbeda. Sejak kecil ia sudah belajar bahwa untuk mendapatkan sesuap nasi, seseorang harus bekerja. Ia tidak punya banyak pilihan.

Ia menerima kehidupan sebagaimana adanya. Dan salah satu pekerjaan yang dipercayakan kepadanya adalah membuat "bothok", minyak kelapa. Pekerjaan itu dimulai sejak pagi. Kelapa tua harus disiapkan. Dikupas. Dibelah. Diparut. Kemudian diperas. Santannya dimasak. Api harus dijaga agar tidak terlalu besar. Pelan-pelan santan berubah. Airnya menguap. Minyak mulai terpisah. Endapan yang kemudian menjadi blondo harus dipisahkan. Minyak yang sudah jadi dimasukkan ke dalam botol kaca. Besoknya dilakukan lagi. Lusa dilakukan lagi. Dan hari berikutnya dilakukan lagi. Tidak ada mesin yang membuat pekerjaan menjadi cepat. Tidak ada tombol yang bisa ditekan untuk menyelesaikannya. Yang ada hanya tangan. Parutan. Kelapa. Api. Dan waktu.

Setelah pekerjaan itu selesai, ia tidak lantas beristirahat. Pada siang hingga sore hari, ia mencari rumput untuk pakan sapi. Sapi itu bukan miliknya. Ia memeliharanya dengan sistem "gaduhan atau paron"  Induk sapi dipelihara, dirawat, diberi makan. Jika kemudian beranak dan anak sapi itu dijual, hasilnya dibagi sesuai kesepakatan. 

Sederhana. Tetapi dari situlah Mbah Slamet belajar tentang tanggung jawab. Bahwa sesuatu yang dipercayakan kepada kita harus dirawat sebaik-baiknya. Mungkin itulah sebabnya ia bertahun-tahun dipercaya bekerja di tempat tersebut. Ia tidak banyak bicara. Ia bekerja.

Ada sesuatu yang menarik dari cara Mbah Slamet mengingat masa kecilnya. Ia tidak berkata, "Dulu saya miskin sekali." Ia tidak mengatakan, "Saya paling menderita." Ia hanya bercerita tentang apa yang ia kerjakan. Tentang kelapa. Tentang sapi. Tentang rumput. Tentang pekerjaan yang harus diselesaikan.

Seolah-olah bagi dirinya, kemiskinan bukan alasan untuk berhenti. Kemiskinan adalah keadaan yang harus dijalani sambil mencari jalan keluar. Dan mungkin cara pandang itulah yang kemudian menyelamatkannya ketika hidup memberinya ujian yang lebih berat.

Masa remaja datang. Tetapi kehidupan belum juga memberi ruang untuk bernapas. Dalam kondisi ekonomi yang belum mandiri, Mbah Slamet harus menanggung tiga orang keponakannya. Tiga anak kecil. Tiga kehidupan yang membutuhkan makan. Membutuhkan pakaian. Membutuhkan perhatian.

Dan suatu siang, selepas Zuhur, ia mengalami salah satu titik paling perih dalam hidupnya. Tidak ada beras. Barang segenggam pun tidak ada! Saya membayangkan suasana siang itu. Rumah yang sederhana. Udara panas. Perut yang kosong. Tiga anak kecil yang mungkin belum sepenuhnya mengerti mengapa makanan belum tersedia. Dan seorang pemuda yang harus berpikir bagaimana memberi makan mereka.

Ketika menceritakan bagian ini, mata Mbah Slamet berkaca-kaca. Untuk pertama kalinya dalam percakapan itu, saya melihat sesuatu yang berbeda di wajahnya. Bukan kemarahan. Bukan penyesalan. Melainkan ingatan tentang sebuah masa ketika hidup benar-benar berada di ujung kemampuan. Saya sendiri ikut diam. Ada cerita yang tidak membutuhkan banyak kata untuk terasa berat. Dan ini salah satunya.

Tetapi setelah tidak memiliki beras, Mbah Slamet justru menemukan jalan untuk berdagang beras. Ia mengambil gabah dari tetangga yang baru panen. Tidak harus dibayar saat itu juga. Kepercayaan menjadi modal pertamanya. Gabah diambil terlebih dahulu. Pembayaran dilakukan kemudian. Kadang setelah panen berikutnya.

Bayangkan. Hari ini banyak orang berbicara tentang modal usaha. Modal uang. Modal tempat. Modal kendaraan. Modal teknologi. Tetapi Mbah Slamet memulai dengan modal yang jauh lebih sederhana: kepercayaan. Karena ia dipercaya, ia mendapatkan barang. Karena mendapatkan barang, ia bisa berdagang. Karena berdagang, ia bisa mendapatkan uang. Dan uang itu kembali ke rumah. Menjadi beras. Menjadi makanan. Menjadi tenaga untuk melanjutkan hari.

Ia menjual beras dari pasar ke pasar. Dengan sepeda. Jaraknya bukan lima kilometer. Bukan sepuluh. Kadang 10 sampai 20 kilometer.  Saya membayangkan roda sepeda itu berputar di jalan yang mungkin belum sebagus sekarang. Panas. Hujan. Debu. Beban. Tubuh yang lelah. Tetapi sepeda terus dikayuh. Orang-orang di sekitarnya memperhatikan aktivitasnya yang tidak pernah berhenti. Lalu muncullah sebuah panggilan. Slamet Loyo. Karena ia terlihat begitu lelah dan tetap bekerja.

Saya tersenyum ketika mendengarnya. Tetapi kemudian saya berpikir, betapa sering manusia menilai seseorang dari apa yang terlihat tanpa mengetahui alasan di baliknya. Mereka melihat seorang lelaki yang tidak pernah berhenti. Tetapi mereka mungkin tidak melihat tiga anak kecil yang menunggu makanan di rumah. Mereka tidak melihat dapur yang kosong. Mereka tidak tahu bahwa setiap kilometer yang ditempuh adalah bagian dari usaha untuk mengisi kembali dapur itu. Dan ketika Mbah Slamet ditanya apakah ia tidak capek, jawabannya sederhana.

"Ya capek, Pak."

Ia tertawa. Lalu melanjutkan,

"Tapi kalau sudah melihat ada makanan untuk tiga balita keponakan saya, capek itu hilang."

Kalimat itu membuat saya lama terdiam. Karena ternyata manusia memiliki kemampuan luar biasa untuk mengubah rasa lelah menjadi sesuatu yang berbeda. Bukan ketika beban menjadi ringan. Tetapi ketika kita tahu untuk siapa kita memikulnya. Mungkin itu salah satu rahasia orang-orang yang bertahan. Mereka bukan tidak merasa lelah. Mereka hanya memiliki alasan yang lebih besar daripada rasa lelahnya. Mbah Slamet tidak mengatakan, "Saya kuat." Ia hanya mengatakan,

"Ada anak-anak yang harus makan."

Mas Rahmat tidak perlu mengatakan bahwa dirinya pahlawan. Ia hanya menyalakan wajan karena anaknya ingin kuliah. Mak Sri tidak membutuhkan panggung. Ia hanya menjaga dapurnya tetap menyala. Pak Musdar tidak membutuhkan penghargaan. Ia hanya ingin ketika pulang ada keluarga yang bisa makan. Orang-orang seperti ini sering kali tidak menyebut perjuangannya sebagai perjuangan. Mereka menyebutnya sebagai tanggung jawab. Dan mungkin karena itulah mereka sanggup melakukannya bertahun-tahun.

Tetapi Mbah Slamet tidak berhenti pada berdagang beras. Ia terus melihat peluang. Ia pernah menjual rendeng,  rumput untuk pakan ternak. Ia juga membuat  batu bata. Awalnya, batu bata dibuat satu demi satu. Tanah dicetak. Dilepas. Dijemur. Dipindahkan. Dibakar. Kemudian diulang lagi. Seribu batu bata dalam sehari bisa dibuatnya bersama istrinya. Seribu. Saya membayangkan tangan mereka bekerja sepanjang hari. Satu cetakan. Satu batu bata. Lalu satu lagi.

Mbah Slamet ternyata bukan hanya pekerja keras. Ia juga belajar mencari cara agar pekerjaan menjadi lebih efektif. Ketika kemudian ia menggunakan cetakan empat sekaligus, hasilnya meningkat berkali-kali lipat. Di situlah saya melihat sesuatu yang penting. Kerja keras bukan berarti melakukan hal yang sama selamanya. Kerja keras juga berarti mau belajar. Mau mencari cara. Mau memperbaiki proses. Mau melihat bahwa tenaga kita terbatas, sehingga cara bekerja harus terus berkembang.

Mbah Slamet tidak memiliki sekolah bisnis. Tidak mengikuti seminar kewirausahaan. Tidak membaca buku tentang produktivitas. Tetapi kehidupan mengajarinya langsung. Jika ingin maju, bukan hanya tenaga yang harus ditambah. Cara berpikir juga harus berubah. Dari pekerjaan-pekerjaan itu, sedikit demi sedikit kehidupan keluarganya mulai berubah. Tidak langsung. Tidak dramatis. Tidak seperti cerita sukses yang tiba-tiba mendapatkan modal besar lalu usahanya berkembang.

Perubahannya kecil. Sedikit demi sedikit. Ada uang untuk kebutuhan sehari-hari. Ada kesempatan menabung. Bisa membeli tanah. Bisa menyimpan material. Sampai akhirnya mereka memiliki rumah sendiri. Saya suka bagian ini. Karena rumah itu bukan sekadar bangunan. Di dalamnya ada ribuan perjalanan menggunakan sepeda. Ada keringat. Ada batu bata. Ada rumput yang dipanggul. Ada gabah yang dibawa pulang. Ada minyak kelapa yang dibuat sejak pagi. Ada tangan suami-istri yang mencetak bata satu demi satu.

Rumah itu sebenarnya adalah bentuk lain dari ketekunan. Dindingnya mungkin terbuat dari batu bata. Tetapi fondasinya dibangun dari ketidakmauan untuk menyerah. Ada satu kalimat Mbah Slamet yang menurut saya layak disimpan lama-lama. Ia menganggap beban hidup sebagai tanggungjawab yang harus dibayar dengan bekerja. Bekerja adalah ikhtiar. Dan rasa capek, menurutnya, sudah dibayar Allah dengan rasa syukur.

Saya tidak tahu apakah semua orang mampu memiliki cara pandang seperti itu. Saya sendiri belum tentu. Ada saat-saat ketika saya merasa lelah lalu ingin mengeluh. Ada saat ketika pekerjaan terasa terlalu berat. Ada ketika usaha terasa tidak sebanding dengan hasil. Ada saat ketika saya ingin bertanya:

"Mengapa harus saya?"

Karena itu saya tidak ingin menempatkan Mbah Slamet sebagai manusia yang tidak pernah lelah.  Ia lelah. Ia pernah lapar. Ia pernah berada dalam keadaan sulit. Ia pernah tidak memiliki beras. Ia harus bekerja jauh.  Ia harus mengurus tiga keponakan. Ia harus mencari jalan ketika tidak ada jalan yang mudah. Tetapi yang membedakannya adalah: ia tidak menjadikan kesulitan sebagai alasan untuk berhenti mencari ikhtiar.

Kita sering menunggu kehidupan menjadi lebih mudah sebelum mulai bergerak. Menunggu punya modal. Menunggu punya pekerjaan yang bagus. Menunggu kondisi membaik. Menunggu ada orang yang membantu. Menunggu kesempatan. Padahal hidup tidak selalu memberikan semua itu.

Kadang kita harus mulai dari apa yang ada. Mbah Slamet memulai dari apa yang ada.  Ada tenaga. Ia gunakan untuk bekerja. Ada kepercayaan tetangga. Ia gunakan untuk berdagang. Ada sepeda. Ia gunakan untuk mengangkut beras. Ada tanah. Ia gunakan untuk membuat batu bata. Ada seorang istri. Ia ajak bekerja bersama. Ada tanggung jawab. Ia terima sebagai bagian hidup.

Begitulah orang-orang biasa sering kali bertahan. Mereka tidak menunggu hidup memberi kondisi ideal. Mereka menggunakan apa yang tersedia untuk membuat kondisi sedikit lebih baik. Hari ini sedikit. Besok sedikit lagi. Sampai suatu hari mereka menoleh ke belakang dan sadar: ternyata saya sudah berjalan sangat jauh.

Ketika saya memikirkan Mbah Slamet, saya teringat satu hal. Kita sering mengira orang hebat adalah orang yang tidak pernah jatuh. Padahal mungkin orang hebat justru adalah orang yang jatuh, merasakan sakit, lalu bertanya:

"Apa yang masih bisa saya lakukan?

Bukan, "Mengapa kita hidup begini?

Bukan berarti pertanyaan itu tidak boleh. Boleh. Kita manusia. Kita boleh sedih. Boleh kecewa. Boleh menangis. Boleh merasa lelah. Tetapi setelah itu, ada satu pertanyaan yang harus kita bawa kembali ke kehidupan: "Apa satu langkah yang masih bisa saya lakukan hari ini?" Mungkin jawabannya kecil. Mencari satu pelanggan. Menghubungi satu orang. Mengerjakan satu tugas. Membuka warung. Memperbaiki satu motor. Mencetak seratus batu bata. Menjual satu karung beras. Atau sekadar bangun pagi dan kembali mencoba.

Tidak semua masalah selesai dalam satu hari. Tetapi hidup sering berubah justru karena kita mau melakukan satu hal kecil berulang-ulang. Hari ini, ketika melihat Mbah Slamet berdiri dengan tubuhnya yang masih tegap, saya tidak hanya melihat seorang lelaki berusia 65 tahun. Saya melihat perjalanan panjang seorang manusia. Seorang anak yang sejak SD belajar bekerja. Seorang pemuda yang pernah tidak memiliki beras. Seorang paman yang memikul tanggung jawab tiga keponakan. Seorang pedagang yang mengayuh sepeda puluhan kilometer. Seorang pekerja yang dipanggil Slamet Loyo karena tidak pernah berhenti bergerak. Seorang suami yang membuat batu bata bersama istrinya. Dan akhirnya seorang kepala keluarga yang berhasil membawa keluarganya dari hari-hari penuh kekurangan menuju sebuah rumah milik sendiri.

Ia tidak pernah memenangkan penghargaan. Tidak ada piala. Tidak ada panggung. Tetapi bukankah hidupnya sendiri sudah menjadi sebuah penghargaan? Saya akhirnya mengerti sesuatu dari Mbah Slamet. Mengeluh tidak selalu membuat beban menjadi lebih ringan. Tetapi bersyukur membuat kita mampu melihat bahwa di tengah beban selalu ada sesuatu yang masih bisa diperjuangkan. Dan perjuangan tidak harus besar. Tidak perlu menunggu menjadi kaya. Tidak perlu menunggu menjadi terkenal. Tidak perlu menunggu semua keadaan sempurna. 

Mulailah dari apa yang ada. Gunakan apa yang bisa digunakan. Kerjakan apa yang bisa dikerjakan. Jaga kepercayaan. Cari peluang. Belajar memperbaiki cara. Dan ketika lelah datang, jangan buru-buru menganggapnya sebagai tanda bahwa kita harus berhenti. Tanyakan kepada diri sendiri: "Untuk siapa saya melakukan ini?"


Barangkali jawabannya adalah anak. Barangkali keluarga. Barangkali orang tua. Barangkali seseorang yang kita cintai. Atau mungkin, untuk diri kita sendiri—untuk kehidupan yang suatu hari ingin kita bangun. Sebab sering kali bukan karena beban kita ringan sehingga kita mampu bertahan. Kita bertahan karena kita menemukan alasan untuk terus memikulnya. Mbah Slamet pernah mengayuh sepeda 20 sampai 30 kilometer untuk membawa pulang beras.


Hari ini mungkin kita tidak perlu mengayuh sejauh itu. Tetapi hidup tetap meminta kita melakukan perjalanan. Kadang melalui pekerjaan. Kadang melalui kegagalan. Kadang melalui kehilangan. Kadang melalui hari-hari yang terasa begitu panjang. Jika hari ini Anda sedang lelah, mungkin Anda tidak perlu memikirkan bagaimana menyelesaikan seluruh perjalanan. Cukup pikirkan satu hal: apa yang masih bisa Anda lakukan hari ini?

Lakukan itu. Besok, lakukan satu langkah lagi. Karena rumah yang kokoh tidak dibangun dalam sehari. Ia dibangun dari batu bata yang disusun satu per satu. Dan begitu pula kehidupan. Orang-orang hebat bukan mereka yang hidupnya tidak pernah diuji. Orang-orang hebat adalah mereka yang ketika hidup menguji, memilih untuk tetap bekerja, tetap bersyukur, dan tetap mencari jalan. 
Seperti Mbah Slamet. Tidak banyak mengeluh. Tidak banyak bicara. Hanya terus berjalan. Dan dari langkah-langkah kecil itulah, sebuah keluarga akhirnya memiliki rumah untuk pulang.

No comments:

Post a Comment