Siang itu, saya ketemu Pak Mundir, bercerita menikmati aktivitasnya akhir-akhir ini. Duduk di balik mangkuk-mangkuk sop rempah yang mengepulkan uap. Aroma daging dan rempah memenuhi udara. Wortel dan seledri tampak mengapung di dalam kuah bening yang panas. Dari mangkuk yang baru saja disajikan, uap tipis naik perlahan, membawa aroma yang terasa hangat sekaligus menyegarkan.
Tetapi ada sesuatu yang membuat pemandangan itu terasa berbeda. Tempat itu biasanya lebih ramai. Lapangan alun-alun kecamatan yang menjadi tempat Pak Mundir berjualan sedang dalam proses renovasi. Aktivitas orang-orang yang biasanya lalu-lalang tidak lagi seramai sebelumnya. Sebagian akses berubah. Keramaian berkurang. Dan bagi pedagang kecil, berkurangnya keramaian bukan sekadar perubahan suasana. Itu berarti berkurangnya pembeli. Berarti berkurangnya omzet. Berarti ada malam-malam ketika dagangan yang sudah disiapkan dengan susah payah tidak habis seperti yang diharapkan.
Mundir Hasan atau yang biasa dipanggil Pak Mundir, berusia 59 tahun. Ia memiliki enam orang anak. Dan pada usia ketika sebagian orang mulai berpikir untuk mengurangi aktivitas, Pak Mundir justru sedang memulai sesuatu yang baru.
Sop rempah.
Usaha itu baru berjalan sekitar dua setengah tahun. Kalau hanya melihat angka usia, mungkin orang akan bertanya, “Mengapa baru sekarang?” Bukankah seharusnya usia 59 tahun adalah waktunya menikmati hasil perjuangan. Bukankah setelah puluhan tahun bekerja, seseorang berhak untuk duduk tenang, mengurangi risiko, dan tidak perlu lagi memulai sesuatu dari nol? Tetapi Pak Mundir punya cara pandang yang berbeda. Ia justru ingin menyiapkan masa tua agar tetap mandiri. Dan bagi saya, di situlah cerita tentang Pak Mundir sebenarnya dimulai.
Sebelum berjualan sop rempah, Pak Mundir bukan orang yang asing dengan dunia usaha. Selama sekitar dua puluh tahun, ia menjadi salah satu perintis sekaligus manajer di sebuah lembaga keuangan syariah di daerahnya. Dua puluh tahun bukan waktu yang sebentar. Ia melewati masa ketika lembaga itu belum sebesar sekarang. Ia ikut membangun dari awal. Mengelola. Mengembangkan. Menghadapi persoalan. Mengambil keputusan. Dan memastikan lembaga tersebut bisa terus berjalan. Bahkan, lembaga yang pernah dipimpinnya pernah menjadi BMT terbaik se-kabupaten.
Dari pengalaman itu, sebenarnya Pak Mundir sudah memiliki sesuatu yang tidak semua orang punya, yaitu pengalaman. Tetapi pengalaman tidak membuatnya takut untuk memulai kembali. Justru sebaliknya. Ketika kemudian ia memilih berjualan sop rempah, ia seperti kembali menjadi orang yang belajar dari awal. Mencari tempat. Mencari pelanggan. Menghitung modal. Mengatur bahan. Menentukan menu. Menjaga rasa. Dan yang paling penting adalah menunggu pembeli.
Ada perbedaan besar antara menjadi manajer lembaga yang pernah meraih prestasi dengan berdiri di lapak makanan dan menunggu orang membeli semangkuk sop. Di lembaga keuangan, ada meja, sistem, struktur organisasi, rapat, target dan laporan. Di lapak sop, semua terasa lebih sederhana sekaligus lebih langsung. Kalau pembeli datang, ada pemasukan. Kalau pembeli tidak datang, tidak ada yang bisa disembunyikan. Kuah tetap mengepul. Daging tetap harus dibeli. Wortel tetap harus disiapkan. Seledri tetap harus segar. Dan ketika orang tidak datang, omzet ikut diam. Mungkin bagi sebagian orang, memulai seperti itu di usia 59 tahun adalah sesuatu yang menakutkan. Tetapi Pak Mundir memilih menjalaninya. Ia berani mulai dari nol.
Saya tertarik dengan pilihan menu yang dijualnya. Sop rempah. Bukan sekadar sop biasa. Di dalamnya ada daging non-lemak, sayuran seperti wortel dan seledri, serta bumbu rempah yang dibuat dengan pertimbangan kesehatan dan kenyamanan. Kuahnya hangat. Rempahnya terasa. Dagingnya menjadi sumber protein. Sayurannya memberi kesegaran.
Ada keyakinan yang ingin dibawa Pak Mundir melalui makanan itu: makanan bukan hanya untuk mengenyangkan perut, tetapi juga bisa menjadi bagian dari menjaga tubuh. Bagi orang seusianya, pemikiran itu terasa sangat masuk akal. Ia tidak sedang sekadar mencari menu yang laku. Ia sedang menawarkan sesuatu yang ia yakini berguna.
Ada mimpi yang lebih besar di balik semangkuk sop itu. Pak Mundir ingin menjalani masa tua dengan mandiri. Bukan menjadi orang tua yang hanya menunggu anak. Bukan menjadi orang tua yang seluruh kebutuhan hidupnya harus ditanggung anak. Ia ingin tetap sehat. Tetap produktif. Tetap memiliki aktivitas. Dan kalau masih diberi umur serta kesehatan, ia ingin masa tuanya menjadi masa yang bermakna. Ia pernah mengatakan bahwa jika berkaca kepada Rasulullah, masa tua bukan berarti berhenti berkarya. Justru masa tua tetap bisa menjadi masa untuk berdakwah dan berjuang.
Karena itu, menurutnya, masa tua harus dipersiapkan dengan kesehatan. Pemikiran itu kemudian bertemu dengan usaha sop rempah yang ia jalankan. Sop yang sehat. Sop yang menyegarkan. Dan usaha yang diharapkan bisa menopang kemandirian di masa tua. Saya melihat ada sesuatu yang indah dalam hubungan antara makanan dan mimpi itu. Ia tidak hanya menjual sop. Ia sedang menjual keyakinan tentang bagaimana ia ingin menjalani sisa hidupnya.
Tetapi kemudian datang masalah yang tidak sepenuhnya bisa ia kendalikan. Alun-alun kecamatan direnovasi. Bagi masyarakat, renovasi mungkin berarti perbaikan. Pembangunan. Penataan. Harapan akan ruang publik yang lebih baik. Tetapi Saya membayangkan perasaan Pak Mundir. Ia sudah memulai usaha dari nol. Sudah berusaha menjaga kualitas. Sudah menyiapkan bahan. Sudah berharap pada pembeli. Lalu keadaan di sekitar tempat usahanya berubah. Tidak mudah. Saya kira ada rasa kecewa. Mungkin ada rasa khawatir. Mungkin juga pernah muncul pikiran, “Apakah usaha ini akan bertahan?”
Dan saya kira akan sangat manusiawi kalau Pak Mundir merasa lelah. Usia 59 tahun membuat seseorang tidak bisa lagi menganggap waktu sebagai sesuatu yang tidak terbatas. Namun menariknya, ia tidak berhenti pada keluhan. Ia sedang menyiapkan strategi pemulihan. Salah satunya melalui program COD bebas ongkir untuk wilayah kecamatan. Kalau pembeli tidak lagi mudah datang ke lapak, maka produk yang mendatangi pembeli. Ada perubahan sederhana tetapi penting dalam cara berpikir itu. Bukan: "Pembeli sekarang sepi.” Tetapi: “Bagaimana caranya agar sop tetap sampai kepada pembeli?” Bukan: “Alun-alun sedang direnovasi.” Tetapi: “Kalau tempat jualan berubah, apakah cara menjual juga harus berubah?”
Bagi saya, di situlah mental seorang yang pernah membangun lembaga selama puluhan tahun kembali terlihat. Ia tidak hanya melihat masalah. Ia mencari sistem baru. Ia mencari jalan keluar. Ia beradaptasi. Ketika berbicara tentang Pak Mundir, saya tidak bisa memisahkan perjuangannya dari enam anaknya. Enam anak bukan jumlah yang kecil. Mendidik satu anak saja membutuhkan kesabaran, biaya, perhatian, dan energi. Apalagi enam.
Tetapi Pak Mundir memiliki sebuah keyakinan sederhana: "anak harus lebih baik daripada orang tuanya". Dari enam anaknya, lima pernah mondok. Anak ketiganya memang tidak sempat mondok, tetapi pernah belajar ke Jepang. Saya tidak tahu persis berapa banyak pengorbanan yang sudah dikeluarkan untuk semua itu. Berapa kali ia harus menunda keinginannya sendiri. Berapa kali ia harus menghitung uang dengan hati-hati. Berapa kali ia harus memilih kebutuhan anak daripada kebutuhan pribadi.
Tetapi dari perjalanan keluarganya, saya melihat satu hal: seorang ayah sering kali bekerja bukan hanya untuk hari ini. Ia bekerja untuk sesuatu yang mungkin belum bisa ia lihat hasilnya sekarang. Ia menanam sesuatu yang kelak mungkin dipanen oleh anak-anaknya. Pendidikan adalah salah satunya. Mungkin ketika anak-anaknya tumbuh dewasa dan memiliki kehidupan yang lebih baik, mereka tidak selalu tahu detail perjuangan orang tuanya. Mereka mungkin tidak tahu berapa kali ayahnya merasa takut. Tidak tahu berapa kali usaha hampir jatuh. Tidak tahu berapa kali harus memulai lagi. Tetapi itulah salah satu bentuk cinta orang tua.
Sering orangtua bekerja dalam diam. Berjuang tanpa menuntut anak-anak melihat seluruh prosesnya. Saya teringat satu kalimat Pak Mundir: “Kondisi jatuh-bangun, saya nikmati.” Kalimat itu terdengar sederhana. Tetapi semakin saya pikirkan, semakin saya merasa bahwa kalimat tersebut mengandung kedewasaan. Karena hidup memang tidak pernah benar-benar stabil. Ada masa naik. Ada masa turun. Ada masa usaha berkembang. Ada masa omzet jatuh. Ada masa kita dipuji. Ada masa tidak ada yang memperhatikan. Ada masa kita merasa yakin. Ada masa kita mempertanyakan diri sendiri.
Kita tidak selalu bisa memilih apa yang terjadi. Tetapi kita bisa memilih bagaimana menjalaninya. Pak Mundir tampaknya memilih untuk tidak menganggap jatuh sebagai akhir. Jatuh adalah bagian dari perjalanan. Dan mungkin itulah alasan ia berani memulai dari nol. Karena orang yang sudah pernah mengalami jatuh-bangun biasanya tahu satu hal: memulai lagi tidak seseram yang kita bayangkan. Yang paling menakutkan justru ketika kita berhenti mencoba.
Dari Pak Mundir, saya belajar bahwa usia bukan alasan untuk berhenti memiliki mimpi. Sering kali kita membuat batas berdasarkan umur.
“Sudah terlalu tua.”
“Sudah waktunya istirahat.”
“Sudah tidak perlu mengejar apa-apa.”
Tentu saja, setiap orang memiliki kondisi dan kemampuan yang berbeda.
Tidak semua orang harus membuka usaha di usia 59 tahun. Tidak semua orang harus bekerja sampai tua. Tetapi yang ingin saya garis bawahi adalah: jangan biarkan usia membunuh keinginan untuk tetap berguna. Masa tua bukan hanya tentang berkurangnya tenaga. Masa tua juga bisa menjadi masa ketika pengalaman mulai memiliki nilai yang jauh lebih besar. Pak Mundir membawa pengalaman dua puluh tahun di lembaga keuangan syariah ke dalam perjalanan barunya.
Ia mungkin memulai dari lapak sop. Tetapi ia tidak benar-benar memulai dari nol. Ia memulai dengan pengalaman. Dengan jaringan. Dengan pengetahuan. Dengan kegagalan. Dengan keberhasilan. Dengan luka. Dengan keyakinan. Dan dengan enam anak yang menjadi alasan untuk terus melangkah. Begitu pula kita. Ketika suatu hari harus memulai sesuatu lagi, jangan hanya melihat apa yang hilang. Lihat juga apa yang sudah kita bawa. Pengalaman. Keterampilan. Hubungan baik dengan orang lain. Kesalahan yang pernah kita buat. Pelajaran yang pernah kita dapat. Semua itu adalah modal.
Saya juga belajar bahwa bertahan untuk orang yang dicintai tidak selalu berarti melakukan sesuatu yang besar. Kadang bentuknya sangat sederhana. Seperti menyiapkan sop sejak pagi. Memotong wortel. Membersihkan seledri. Memilih daging yang tidak banyak lemak. Merebus kuah dengan bumbu rempah. Membuka lapak. Menunggu pelanggan. Ketika pelanggan berkurang, mencari cara baru. Ketika alun-alun direnovasi, mencoba COD. Ketika omzet turun, tidak langsung menyerah.
Hal-hal kecil yang dilakukan berulang kali itulah yang pada akhirnya membentuk sebuah perjuangan besar. Dan mungkin cinta memang bekerja seperti itu. Tidak selalu berupa kata-kata. Lebih sering berupa tindakan yang diulang setiap hari.
Ada sesuatu yang saya sukai dari kisah Pak Mundir. Ia tidak bermimpi menjadi kaya raya di masa tua. Ia bermimpi menjadi mandiri. Itu berbeda. Mandiri berarti masih bisa mengambil keputusan atas hidup sendiri. Masih bisa bekerja sesuai kemampuan. Masih bisa memberi manfaat. Masih bisa membantu orang lain. Masih bisa memiliki ruang untuk memilih. Dan mungkin yang paling penting, masih bisa berkata kepada anak-anak: “Jangan khawatir, Ayah masih bisa berusaha.”
Saya kira itulah bentuk cinta yang sangat dalam. Bukan membuat anak bergantung kepada orang tua. Bukan pula membuat orang tua bergantung sepenuhnya kepada anak. Tetapi berusaha menciptakan hubungan yang sehat: orang tua tetap berusaha, anak-anak tumbuh menjadi lebih baik. Karena itulah Pak Mundir ingin anak-anaknya lebih baik daripada dirinya. Bukan karena ia merasa dirinya kurang. Justru karena ia tahu, tugas orang tua bukan membuat anak mengulang kehidupan yang sama. Tugas orang tua adalah membuka jalan agar anak bisa melangkah lebih jauh.
Saya kembali membayangkan sore di lapangan alun-alun itu. Uap sop naik perlahan. Aroma rempah bercampur dengan udara sore. Ada suara kendaraan yang sesekali lewat. Ada orang yang datang dan pergi. Di tengah perubahan tempat, perubahan keadaan, dan turunnya omzet, Pak Mundir masih mencoba mempertahankan usahanya. Usia 59 tahun. Enam anak. Dua puluh tahun pengalaman membangun lembaga keuangan. Pernah merasakan keberhasilan. Pernah merasakan jatuh. Dan kini, kembali berdiri dari titik yang sederhana. Sebuah usaha sop rempah. Semangkuk makanan. Sebuah mimpi tentang masa tua yang mandiri. Dan sebuah keluarga yang ingin ia tinggalkan dalam keadaan lebih baik daripada ketika ia memulainya.
Mungkin inilah arti sebenarnya dari berani mulai dari nol. Bukan berarti kita tidak punya apa-apa. Tetapi kita bersedia kembali belajar ketika keadaan memaksa kita mengubah cara. Kita bersedia menerima bahwa rencana bisa berubah. Kita bersedia mencari jalan lain. Kita bersedia memulai lagi. Dan yang paling penting, kita memiliki alasan untuk terus melangkah. Bagi Pak Mundir, alasan itu adalah keluarganya. Enam anak yang ingin ia lihat memiliki kehidupan lebih baik. Masa tua yang ingin ia jalani dengan mandiri. Dan keyakinan bahwa selama masih diberi kesehatan dan kesempatan, hidup masih bisa digunakan untuk memberi manfaat. Maka, jika suatu hari hidup membuat kita merasa terlambat, mungkin kita perlu mengingat Pak Mundir. Usia 59 tahun tidak membuatnya berhenti.
Renovasi alun-alun tidak membuatnya berhenti. Omzet yang turun tidak membuatnya berhenti. Jatuh-bangun tidak membuatnya berhenti. Ia hanya mengubah cara berjalan. Dan mungkin itu yang perlu kita lakukan juga. Ketika jalan lama tertutup, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa perjalanan telah selesai. Bisa jadi kita hanya sedang diminta menemukan jalan yang baru. Sebab orang-orang hebat tidak selalu menang dalam setiap keadaan. Mereka hanya memiliki satu kebiasaan yang membuat mereka berbeda: ketika jatuh, mereka belajar berdiri; ketika jalan buntu, mereka mencari jalan lain; dan ketika hidup meminta mereka memulai dari nol, mereka tidak malu untuk memulai lagi. Pak Mundir mengajarkan saya bahwa hidup bukan tentang berapa kali kita berhasil berdiri di tempat yang sama. Hidup adalah tentang keberanian untuk tetap berdiri, bahkan ketika tempatnya sudah berubah. Dan selama masih ada orang yang kita cintai, masih ada alasan untuk mencoba sekali lagi
No comments:
Post a Comment