Tuesday, August 8, 2017

Membangun personal branding (OPD) melalui tulisan*)

Di era informasi seperti sekarang ini, banyak orang menempuh berbagai cara dalam mengaktualisasikan diri dan kemampuannya. Tujuannya tidak lain, agar gambaran personal kita  lebih dikenal. Ada orang yang menempuhnya melalui dunia seni, olahraga, maupun bela diri. Bahkan ada yang sangat ekstrem, dengan melakukan adegan-adegan berbahaya, sebagai upaya membangun gambaran personalnya. Masih ingat kan, bagaimana seseorang berfoto selfie di atas jurang atau di dekat mesin atau kendaraan berbahaya? Hanya semata untuk meng-update statusnya di media sosial. Itulah sebenarnya gambaran personal branding.

Membangun personal branding melalui tulisan


Mengapa tidak? Akhir-akhir ini, banyak dilakukan orang dalam membangun personal branding melalui tulisan. Tidak terbatas para tokoh, selebritri, politisi, calon pimpinan daerah, calon kepala sekolah, bahkan calon ketua OSIS pun telah banyak yang melakukan untuk membangun image tentang dirinya melalui tulisan. Medianya, ada yang berupa buku, buku ringkas (buklet), iklan di koran, website dan media sosial.


Bahkan dalam tulisannya seorang ahli pendidikan menyatakan sebagai sebuah langkah yang sangat efektif membangun personal branding dengan menulis. Mengapa begitu? Karena ketika anda berani mempublikasikan tulisan anda, itu berarti anda telah berbagi informasi atau ilmu yang bernilai dengan orang lain. Dan secara tidak langsung, anda memposisikan diri anda layaknya seorang ahli pada topik tulisan yang anda pilih. Setelah membaca tulisan anda, tentu orang ingin mengenal anda secara lebih dalam. Mereka juga ingin mengenal hasil karya anda yang lain, mereka bisa menemukan, serta bagaimana cara mendapatkannya. Pembaca atau masyarakat akan yakin bahwa anda adalah sosok yang kreatif dan berkualitas, berdasarkan kualitas tulisan yang anda bagi kepada mereka. Dan tidak segan-segan orang akan membaca dan membaca lagi tulisan-tulisan anda.


Mem-branding pelayanan OPD


Begitu juga dengan pelayanan OPD tempat kita bekerja. Seringkali kita dengar keluhan masyarakat terhadap pelayanan atau program OPD. Sebut saja, betapa media sosial selama tiga bulan terakhir ini banyak mengeluhkan jalan yang rusak dan bolong-bolong-hingga terkenal dengan sebutan jeglongan sewu. Belum lagi keluhan ribetnya pelayanan BPJS, naiknya harga pupuk, merebaknya wereng hingga gagal panen di beberapa tempat, banyak dikeluhkan warga. Sementara itu kita sebagai pelayanan masyarakat, merasa tidak kurang-kurang dalam menjelaskan, memberi penyuluhan, menulis rilis berita bahkan menulis pesan-pesan praktis yang berguna bagi masyarakat.


Tapi seberapa efektifkah tulisan-tulisan kita di web? Dapatkah kita mem-branding OPD kita melalui tulisan? Inilah sebenarnya pertanyaan-pertanyaan mendasar bagi seorang admin website. Agar dengan mudah pembaca  mendapatkan alamat website kita. Karena di jaringan internet ini ada ribuan bahkan jutaan alamat web dan tulisan. Para pengunjung website ketika mencari artikel atau alamat website, seringkali hanya mengandalkan kata-kunci (key word) di halaman pencarian. Namun apa jadinya ketika tulisan atau alamat website  kita itu tidak muncul dihalaman-halaman pertama pencarian. Jika demikian, sudah pasti, akan tidak dikunjungi orang.


Selain itu, kita juga perlu tahu bagaimana membuat tulisan dan berita yang kita posting,  mampu menarik orang untuk membaca. Keluhan terbesar pengunjung website OPD adalah tidak menarik. Berita atau tulisan di website OPD seringkali terlalu panjang atau terlalu pendek, bahkan posting beritanya hanya berupa gambar. Tanpa keterangan pendukung yang memadai sehingga informasi yang diterima pembaca menjadikan tidak nyaman. Dalam kondisi seperti ini yang paling banyak dilakukan pengunjung, adalah meninggalkan website dan berganti mencari informasi dari alamat website yang lain. Akibatnya, tulisan, rilis, sosialisasi kita tentang layanan OPD, lagi-lagi ditinggalkan pembaca. Dan selama itu, program dan layanan OPD kita sepertinya tidak nyambung dengan permasalahan masyarakat.


Mem-branding OPD melalui tulisan yang SEO Friendly


Untuk mengatasi dua persoalan mendasar di atas, yang dapat kita lakukan adalah meningkatkan kualitas website. Website yang berkualitas tidak hanya bagus untuk mesin pencari (search-enggine), tapi juga untuk pembaca (human). Karena tujuan kita mengelola website OPD adalah menyajikan informasi yang mudah dicari dan disukai pembaca. Inilah yang disebut paradigma baru SEO-Friendly dalam konsep pengelolaan website. 


Sehingga, ketika pengguna internet melakukan pencarian dengan memasukkan sebuah keyword, maka mesin pencari akan langsung merekomendasikan website OPD kita. Hasilnya, dengan teknik SEO friendly, jumlah kunjungan akan terus meningkat lebih cepat. Dan terwujudlah upaya kita mem-branding OPD.

Lalu, bagaimana cara mudah membuat website yang SEO friendly tersebut? Ada beberapa cara yang biasanya sering dipraktekkan oleh para pemilik website atau blogger. Biasanya, terkait dengan konten, keyword, serta desain dari website tersebut, selain juga menyematkan kode-kode pada HTML template-nya.

Inilah langkah-langkah praktisnya


Tips atau langkah-langkah mengelola website yang SEO friendly sebenarnya banyak sudah disarankan para ahli, namun langkah praktis ini saya peroleh dari penuturan Asrittada

Pertama, lakukan posting yang berkualitas. Konten posting yang berkualitas adalah yang baru dan relevan sesuai tugas dan layanan OPD. Jadi, sering-seringlah meng-update berita baru dan jangan pernah sekalipun meng-upload posting ulang dan usang dari website lain! Kedua, mengatur banyaknya kata kunci (keyword density) pada tulisan/artikel/berita Artikel yang memiliki kepadatan kata kunci pada teksnya secara merata, biasanya akan menjadi prioritas bagi mesin pencari. Selain itu, pastikan juga artikel yang di-upload cukup panjang, minimal 500 kata atau lebih, tentunya dengan tetap menjaga keaslian artikel tersebut.
Ketiga, Manfaatkan tag header. Mesin pencari diketahui lebih cenderung menyukai konten artikel yang memiliki tag header pada sebuah website. Apalagi, jika tag header itu juga termuat pada paragraf pertama dan kedua artikel tersebut. Selain itu, gunakan juga tag header yang banyak dicari.
Keempat, gunakan sitemaps. Keberadaan fitur sitemaps pada sebuah website, akan memberikan indeks yang jauh lebih baik pada mesin pencari. Halaman "artsip berita", "indeks berita" atau" berita terkait" memiliki fungsi yang hampir sama dengan sitemaps. Kelima, sesuaikan desain tampilan yang yang cocok untuk seluler. Dengan mendesain website untuk bisa juga diakses melalui perangkat mobile, seperti smartphone memungkinkan pengunjungnya tidak hanya terbatas pada pengguna laptop atau komputer saja tetapi juga dari mobile phone.

*) Disampaikan pada Workshop penulisan dan pengelolaan website instansi bagi Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Kabupaten Kebumen, Tahun 2017 di Ruang CAT Badan Kepegawaian Kab. Kebumen, 9 Agustus 2017.


Tuesday, June 13, 2017

Membangun kebiasaan menulis di lingkungan kantor KOMINFO

Sesuai tugasnya, Dinas Kominfo salah satunya adalah menyajikan informasi pembangunan kepada masyarakat. Penyebarluasan informasi tersebut melalui media radio In-FM, RATIH televisi, website dan media sosial. Untuk itu, kemampuan menulis untuk mengisi konten bagi tim liputan maupun admin website dan media sosial sangatlah penting dan mendesak. Peningkatan kemampuan menulis itu mendesak dikarenakan adanya perubahan pola pemberitaan dan kebijakan pemkab terkait standar pelayanan informasi publik.

Membangun tradisi menulis
Untuk itu beberapa upaya yang aku lakukan adalah membangun tradisi menulis. Tradisi menulis  bagi perorangan ditempuh dengan cara setiap pegawai melaporkan kegiatan perorangan atau kelompok dalam format berita yang disertai gambar. Selama ini, pegawai hanya mengirimkan gambar atau foto kegiatan melalui aplikasi  group whats apps.

Sebagai upaya menanamkan tradisi menulis berita, maka untuk melaporkan kegiatan, pegawai diharapkan menyertakan keterangan gambar/foto kegiatan tersebut ke dalam format berita. Format berita dimaksud, minimal memuat komponen keterangan yang menjawab pertanyaan: what, when, where, why, who dan how (5W 1H). Dengan begitu, tradisi itu akan mendatangkan manfaat yang sangat luas. Di satu sisi, melatih pegawai menulis berita atas kegiatan yang menjadi tugas pokoknya. Di sisi yang lain, kita memperoleh bahan berita yang dapat disebarluaskan kepada masyarakat.

Membangun pola pemberitaan
Selama ini pola penayangan berita di Ratih TV, In FM dan Website Pemkab tidak terintegrasi, bahkan berbeda konten. Berita yang berasal dari Tim liputan  Ratih TV dan  In FM ditayangkan secara bersama pada saat sore hari, selama 30 menit. Sedangkan konten berita Website Pemkab lebih banyak berasal dari kegiatan OPD. Sehingga pernah terjadi berita di website, sudah beberapa saat tidak di update.

Namun, kondisinya sekarang berbeda. Saat ini Ratih TV, In FM, Website Pemkab Kebumen dan Website OPD Diskominfo, menjadi satu pengelolaan di bawah Dinas Kominfo Kebumen. Sehingga langkah-langkah yang aku ambil adalah membangun pola pemberitaan yang terpadu dan terintegrasi. Terintegrasi sejak dari liputan ke media penyiaran. Tim liputan terdiri dari unsur tv, radio, website dan media sosial. Tim liputan diperluas tujuannya  untuk menjangkau berita yang lebih banyak. Targetnya adalah seluruh agenda kegiatan Bupati dan Wakil Bupati serta kegiatan penting lainnya di tingkat Kabupaten.

Seluruh berita yang masuk, setelah melalui tim editor disiarkan melalui Ratih TV, In FM, Website Pemkab Kebumen, Website OPD dan media sosial. Sehingga "Berita Terkini Kebumen" dapat diakses masyarakat melalui berbagai media penyiaran.

Menyambut kebijakan Pemkab
Standar pelayanan informasi publik #2-34-2#

Monday, February 27, 2017

Menyajikan tulisan dengan menarik*)

Bagi sebagian orang kemampuan menulis, dapat digunakan sebagai jalan untuk berbagi kebaikan. Seperti halnya semangat penulis Antoni Ludfi Arifin, yang tercermin dalam bukunya "Be a Writer. Pandangan ini banyak benarnya. 


Mengapa menulis
Bagaimana tidak, karena seorang penulis adalah seorang komunikator, menyampaikan pesan, menyampaikan ilmu. Sehingga seorang penulis, jika tulisannya menebar kebaikan, membagi ilmu yang bermanfaat, maka sesungguhnya seseorang sedang membangun amal yang abadi. Karena sesungguhnya ilmu yang bermanfaat itu pahalanya mengalir terus, meski seseorang telah meninggal dunia.

Namun tidak banyak yang menyadari, bahwa manusia terbatas dalam menyerap ilmu yang dia pelajari. Untuk itu, tepatlah kita jika mengikuti kata-kata bijak dari seorang shahabat Rasul "Ikatlah ilmu dengan menuliskannya".

Kendala menulis
Seringkali seseorang lebih suka berbicara, dari pada menulis, karena banyak kendala, baik teknis maupun non-teknis. Tapi alasan tersebut lebih banyak karena non-teknis, seperti macet-idenya tidak mau berkembang, alasan tidak terbiasa, sibuk dan tidak memiliki waktu,  tidak berbakat, malas membaca, banyak aturan. 

Apa benar begitu? Tapi, mengapa jika ngobrol, bisa panjang dan berlama-lama, mengasyikkan dan sampai tidak ingat waktu?

Solusi
Menulis dengan gaya bertutur! Ya, kita akan mulai dengan belajar menulis seperti halnya gaya orang bercerita. Maka akan menarik seperti orang ngobrol, runtut, mengalir, tdk kehabisan ide, bahkan dapat menulis serial.

Menulis vs. Mengarang
Menulis berdasar pada ilmu dan pengalaman. Ilmu dan pengalaman kita peroleh dari membaca, membaca buku, membaca kehidupan dan pengalaman pribadi. Sedangkan aktivitas mengarang lebih berdasar pada imajinasi dan khayalan seseorang. Sehingga hasil tulisan seorang pengarang biasa diiiiiebut karya fiksi.

Mulai menulis dari pengalaman pribadi
Setiap orang pastilah punya pengalaman belajar, pengalaman membaca dan pengalaman pribadi. Kita dapat mulai menulis dg menuliskan pengalaman pribadi kita yg paling berkesan. Sebagai contoh,  sepanjang  pagi  hari ini hingga menjelang siang, tentulah banyak pengalaman atau kejadian yang menimbulkan kesan mendalam dan kitapun dapat mulai menuliskannya. Ambil atau mintalah selembar kertas kosong.
  • Sekarang tuliskan apa pengalamn yg paling berkesan hari ini
  • Kapan waktu tepatnya kejadian yg kita alami itu terjadi
  • Dimana saat itu kita berada
  • Dengan siapa saja yg terlibat, atau siapa saja yang membantu
  • Coba ingat-ingat kembali kira_kira mengapa kejadian tersebut timbul
  • Kemudian, apa pesan utk org lain, keluarga, masyarakat atas kejadian yg kita alami
Dengan begitu ALHAMDULILLAH, kita sudah bisa menulis.  Semoga tulisan kita jadi ibadah sekaligus menjadi amal kebaikan. Bagaimana caranya? Teruslah menulis, dan menyampaikann hal-hal yang baik. Dengan semangat berlomba-lomba berbuat  kebaikan, maka kita akan bersemangat untuk terus menulis dan menyampaikan hal-hal yang bermanfaat.

Penutup


Kunci  sebuah tulisan,adalah kemampuan memilih kata, merangkainya dlm kalimat efektif, dan mengembangkannya dlm sebuah paragraf yang berurutan. Jika paragraf     berhasil kita ciptakan, sebenarnya itu sudah cukup. Namun jika masih banyak informasi   yang penting yg ingin kita sampaikan, kita dapat meempuhnya dengan beberapa cara. Diantara cara tersebut, adalah melalui teknik kronologis kejadian, urutan proses, kontras atau perbandingan dulu-sekarang, sebelum dan sesudah.

(* Disampaikan pada Workshop penulisan dan pengelolaan website instansi bagi Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Kabupaten Kebumen, Tahun 2017 di Ruang Jatijajar Kompleks Pendopo Bupati Kebumen, 28-02-2017

Tuesday, January 24, 2017

Berbagi kebaikan dengan menjadi penulis ala Antoni Ludfi Arifin

Berbagi kebaikan dengan menjadi penulis! Inilah tema sentral dari sebuah buku "Be a Writer" karya seorang dosen, yang telah beberapa kali menerbitkan buku-buku seputar motivasi. Karena dengan menjadi penulis, seseorang sedang menebar pesan, menebar inspirasi, menebar energi hingga membangkitkan semangat  dan kemaslahatan.

Banyak kendala internal
Sayangnya untuk menjadi seorang penulis, seringkali banyak menghadapi kendala. Walaupun kendala atau hambatan tersebut lebih  banyak muncul dari dalam diri kita sendiri. Mengapa bisa begitu? Tentu saja ya, karena sebenarnya setiap orang pada dasarnya cukup memiliki kemampuan untuk berbahasa. Dalam penguasaan bahasa secara lisan, seseorang relatif lebih lancar dalam berkata-kata. Bahkan ketika ada kesempatan ngobrol, seseorang dapat berjam-jam asyik membicarakan sesuatu, tanpa ada hambatan.

Namun, berbeda ketika seseorang harus menuliskan ide atau bahan pembicaraannya dalam tulisan. Nyatanya tidak semua orang dapat menulis, menyampaikan pesan dan idenya secara konstruktif dalam bentuk tertulis. Karena memang dalam bahasa tulis, dibutuhkan ketrampilan dan banyak berlatih. Dalam menulis, membutuhkan kemampuan memilih kata, kemampuan menyusun kalimat serta kemahiran memilih gaya bahasa.

Meneguhkan niat
Kunci keberhasilan dalam menulis adalah banyak berlatih. Namun, mendengar kalimat ini seringkali kita banyak yang menyerah kalah. Akibatnya, banyak orang bermimpi jadi seorang penulis, namun tidak banyak yang kuat memegang teguh impian menjadi penulis, dengan mewujudkannya melalui banyak berlatih. Sehingga di awal penulisan buku ini, Antoni Ludfi Arifin, beerulang-ulang menekankan pentingnya meneguhkan niat. Karena dengan niat yang kuat menulis, kita dapat membagi kebaikan dan membagi ilmu yang bermanfaat. Bukankah yang demikian ini, merupakan investasi dunia-akhirat?

Setelah memiliki kemauan dan niat yang kuat, maka untuk menjadi seorang penulis tinggalah mengatasi hal-hal teknis yang dapat diasah dan dipelajari sambil terus menulis. Hal-hal teknis tersebut menyangkut kemampuan menggali dan mengeksplorasi ide, memilih kata dan menggunakan kalimat yang "menyihir", mengembangkan wacana dan tema tulisan, hingga tulisan jadi dan mengirimkan naskah ke penerbit.

Membaca sebagai bekal menulis 
Hal-hal teknis di atas  yang dibahas dalam buku yang di katapengantari oleh Prof. DR. Erika Revida Saragih, M.Si tersebut dengan mudah dapat kita peroleh, ketika kita juga banyak membaca. Karena dengan membaca kita dapat mengetahui dan memperoleh pengalaman praktek penulis lain menyelesaikan hasil karyanya. Dengan membaca, dapat memperkaya kemampuan teknis yang sudah kita miliki.

Sunday, January 1, 2017

Tahun baru, Dinas baru

Tahun 2017 menghadirkan suasana baru, bagi pekerjaanku. Menyusul telah dilantiknya seluruh pejabat di lingkungan pemerintah kabupaten Kebumen oleh Bupati Ir. HM.Yahya Fuad, SE. Jumlah pejabat yang dilantik kali ini terhitung paling banyak, karena melibatkan lebih dari 800 orang pejabat. Pelantikan kali ini dilakukan dalam rangka perubahan nomenklatur organisasi perangkat daerah (OPD) yang baru.


Dinas baru itu, bernama KOMINFO
Kali ini aku memperoleh penugasan baru di Dinas Kominfo (Diskominfo) Kabupaten Kebumen. Diskominfo merupakan OPD baru setelah dipisah dari Dinas Perhubungan. Diskominfo memiliki tugas pokok melaksanakan urusan dalam bidang pengelolaan data elektronik (PDE) dan bidang Komunikasi dan Informasi Publik.

Di bidang pengelolaan data elektronik, menjalankan urusan perencanaan dan pengembangan infrastruktur jaringan data elektronik, statistik dan integrasi sistem informasi serta urusan sandi dan telekomunikasi. Sementara itu, di bidang komunikasi dan informasi publik menjalankan urusan penyiaran termasuk pengelolaan Ratih-tv Kebumen dan Radio In-FM, Dessiminasi informasi dan analisis media, serta menjalankan urusan pengembangan media alternatif.

Banyak yang harus dibenahi
Bertugas di Dinas yang secara kelembagaan baru lahir, ternyata banyak hal yang menjadi tantangan dan harus dibenahi, termasuk struktur Kepala Dinas belum terisi, gedung yang sangat tidak memenuhi syarat menampung pegawai, serta terbatasnya tenaga administrasi.

Yang berbeda mutasi kali ini, selain menerima surat penempatan di tempat kerja yang baru, aku juga menerima surat perintah dari Bupati sebagai pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Kominfo. Tugas ini sangat mengejutkan aku juga sekaligus menjadi tantangan. Karena disamping tugas pokokku sebagai sekretaris, juga harus menjalankan fungsi-fungsi sebagai kepala dinas. Dengan berbekal kewenangan, tugas pokok dan fungsi Diskominfo yang diatur dalam Perda Kabupaten Kebumen Nomor 7 tahun 2016 dan Perbup Kebumen Nomor 77 tahun 2016, aku mulai melangkah melalui pendekatan manajemen berbasis kinerja. Sebagai lembaga pemerintah yang memberikan pelayanan publik kepada masyarakat, aku berfikir bahwa produk atau hasil kerja dinas memiliki nilai kemanfaatan yang tinggii dengan proses layanan yang efektif dan efisien.

Tantangan di tempat kerja baruku ini adalah gedung. Saat ini Dinas Kominfo yang terdiri dari bidang  PDE dan bidang IKP serta unit sekretariat, menempati lokasi bidang kominfo lama di kompleks Dinas perhubungan. Jika dulu, bangunan itu sangatlah memadai untuk lokasi kerja satu bidang kominfo, namun dengan kondisi Dinas Kominfo saat ini, bangunan itu sangatlah minimalis yang padat penghuni.Belum lagi dari luas bangunan yang tersedia, hanya sekitar 70 % untuk kantor, karena 30% lainnya adalah ruang penyimpanan alat dan pengelolaan data center, server dari seluruh aplikasi sistem informasi dari banyak OPD di lingkungan Pemkab Kebumen. Aku jadi teringat syair lagu tempo dulu "gang kelinci". Dalam satu lahan bangunan yang sempit kami hidup, bekerja berinteraksi dengan berdesak-desakan. Persis kaya anak kelinci. Belum lagi lokasi bangunan gedung itu berhimpit antara halaman kantor dengan lahan parkir Dishub untuk kendaraan umum yang akan melakukan cek fisik kendaraan roda empat. Seringkali kami kesulitan masuk parkiran kantor atau keluar parkir, karena terhalang oleh berbagai jenis kendaraan yang berderet antri menunggu giliranuntuk uji dan cek fisik kendaraan.Meskipun di dalam rapat

Keterbatasan sumber daya staf, anggaran kegiatan perkantoran dan peralatan kerja
Selain keterbatasan infrastruktur gedung dan tempat kerja,  di Diskominfo, juga mengalami kelangkaan staf, terutama staf administrasi. Tenaga staf yang ada di Diskominfo saat ini kebanyakan staf teknis baik di bidang PDE maupun bidang KIP. Staf teknis yang ada meliputi pranata komputer, jaringan, pemrogragaman, multimedia dll sebagai tim teknis di bidang-bidang yang ada. Meskipun, dari Setda Kebumen sebenarnya sudah mengantisipasinya dengan melakukan redistribusi staf, terutama ke organisasi perangkat daerah yang baru. Namun, pada kenyataannya di lapangan dapat berjalan berbeda. Sebagai contoh kecil, masih ada keinginan unsur kantor dinas yang lama untuk mempertahankan staf lamanya untuk tetap berada di lingkungannya. Sehingga tidak jarang, seorang staf sudah menerima penugasan ke suatu kantor dinas, namun oleh kantor dinas lamanya tidak mau "melepasnya" dengan tidak membuatkan surat penghadapan.

Dalam hal anggaran, sebenarnya perubahan adanya kantor dinas baru sudah diantisipasi penganggarannya. Namun karena anggaran disiapkan oleh pegawai yang dulu berada di bidang teknis, kurang mengetahui detail kebutuhan-kebutuhan sekretariat. Akibatnya beberapa kebutuhan untuk administrasi perkantoran sangatlah minim, bahkan untuk biaya suatu kegiatan yang nyaris tidak ada, atau hanya cukup untuk beberapa bulan, seperti kebutuhan anggaran listrik, air dan biaya telpon kantor.

Tugas ke depan: menuju pelayanan prima Diskominfo
 Untuk mewujudkannya, perlu adanya tata-nilai organisasi yang menjadi inspirasi dan semangat seluruh orang-orang yang ada di dalamnya untuk mewujudkannya, diantaranya:
·         Kejelasan pelayanan. Mengupayakan paparan yang jelas melalui papan informasi atau petunjuk yang mudah dipahami dan diperoleh pada setiap tempat/ lokasi pelayanan sesuai dengan kepentingannya menyangkut prosedur /tata cara pelayanan, pendaftaran, pengambilan sample atau hasil pemeriksaan, biaya / tarif pelayanan serta jadwal / waktu pelayanan.
·         Sesuai aturan perundangan. Setiap aturan tentang prosedur / tata cara / petunjuk seperti yang tersebut diatas harus dilaksanakan secara tepat, konsisten, konsekuen sesuai dengan peraturan perundang – undangan yang berlaku.
·         Pemenuhan hak dan kewajiban. Hak dan kewajiban pemberi atau penerima pelayanan diatur secara jelas setiap persyaratan yang diwajibkan dalam rangka menerima pelayanan harus mudah diperoleh dan berkaitan langsung dengan kepentingan pelayanan serta tidak menambah beban masyarakat penerima pelayanan.
·         Terbuka untuk perbaikan. Tersedia loket informasi dan kotak saran bagi penerima pelayanan yang mudah dilihat / dijumpai pada setiap tempat pelayanan. Saran yang masuk harus selalu dipantau dan dievaluasi, bila perlu diberi tanggapan atau tindak lanjut dalam rangka upaya perbaikan dan peningkatan mutu pelayanan.
·         Profesional. Penanganan proses pelayanan sedapat mungkin dilakukan oleh petugas yang berwenang atau kompeten, mampu terampil dan professional sesuai spesifikasi tugasnya. Setiap pelaksanaan pemberian pelayanan dan hasilnya harus dapat menjamin perlindungan hukum dan dapat dijadikan alat bukti yang sah.
·         Keramahan dan kedekatan. Selalu diupayakan untuk menciptakan pola pelayanan yang penuh keramahan dan kedekatan, tepat sesuai dengan sifat dan jenis pelayanan yang bersangkutan dengan mempertimbangkan efisiensi dan efektivitas dalam pelaksanaannya.
·         Tanpa pungli. Jika ada biaya atau tarif pelayanan harus ditetapkan secara wajar dengan memperhitungkan kemampuan masyarakat. Hendaknya diupayakan untuk mengatur mekanisme pungutan biaya yang memudahkan pembayarannya dan tidak menimbulkan pungutan liar dan biaya tinggi.
·         Netralitas dalam pelayanan. Pemberian pelayanan dilakukan secara tertib, teratur dan adil, tidak membedakan status social masyarakat. Cakupan / jangkauan pelayanan diupayakan seluas mungkin dengan distribusi yang merata.
·         Kenyamanan. Kebersihan dan sanitasi lingkungan tempat dan fasilitas pelayanan harus selalu dijamin untuk mewujudkan kenyamanan, melalui pelaksanaan pembersihan secara rutin dan penyediaan fasilitas pembuangan sampah / kotoran secukupnya sesuai dengan kepentingannya.
·         Partisipasi. Selalu diupayakan agar petugas memberikan pelayanan dengan sikap ramah dan sopan serta berupaya meningkatkan kinerja pelayanan secara optimal dengan kemampuan pelayanan yang tersedia dalam jumlah dan jenis yang cukup, serta mendorong tumbuhnya partisipasi masyarakat.

Wednesday, December 21, 2016

Inilah buku pertama yang membuatku kuat untuk bisa menulis

Ketrampilan menulis bagi sebagian orang, dianggap tidak menarik. Begitu juga aku menganggapnya, sebelum aku membaca buku yang berjudul  "Kreatif Mengarang" karya A. Widyamartaya, terbitan Kanisius-Yogyakarta. Tahun terbitnya, aku lupa tahun berapa. Buku itu awalnya aku menemukannya di Perpustakaan sekolah di SPG Negeri Pekalongan, sekitar tahun 1985.

Mengenal dunia menulis
Saat itulah, aku baru mengetahui bahwa kemampuan menulis itu bukan bakat lahir, tetapi dapat dipelajari. Seseorang yang ingin dapat mahir mengarang atau menulis, haruslah rajin berlatih dengan bersungguh-sungguh. Karena tanpa keinginan kuat, seorang yang berkeinginan menjadi seorang pengarang atau penulis, pastilah tidak akan kesampaian. Sehingga kita bisa melihat banyak contoh, orang yang merasa gagal menulis, gagal mengarang, gagal menerbitkan buku dan seterusnya. Ini masalahnya karena seseorang tidak memiliki keingainan kuat untuk menulis.

Dengan keinginan kuat, seseorang akan giat dan banyak berlatih untuk menulis. Dengan banyak menulis, akan memacu daya imajinasi dan ide pokok tulisan., melatih ketrampilan memilih kata yang tepat, menyusun kalimat yang efektif, hingga menyusun paragraf yang dinamis dan saling berkesinambungan. Karena pada dasarnya sebuah tulisan itu tersusun oleh paragraf-paragraf. Sedangkan paragraf yang dinamis tersusun oleh minimal dua kalimat efektif. Dalam format bahasa Indonesia, kalimat akan efektif minimal mengandung unsur subyek dan predikat, atau subyek dan obyek, atau subyek dan kata keterangan.

Mengetahui beda menulis dan mengarang
Sepintas antara kegiatan menulis dan mengarang itu hampir sama, karena dua-duanya melalui proses kegiatan menulis dan  menghasilkan sebuah karya tulis. Namun ternyata, keduanya memilikiciri-ciri yang berbeda terutama dalam proses menciptakan karya tulis. Dalam hal mengarang, seorang penulis mengandalkan kemampuan pribadinya, dalam hal mengambil ide dan tema karangan. Mengarang merupakan proses kreatif seseorang yang sangat tergantung dari imajinasinya. Sehingga hasil karya tulis pengarang sangatlah subyektif, tergantung kemampuan penulis menggali emosi-emosi pembacanya.

Berbeda dengan aktivitas menulis. Seorang penulis dalam menghasilkan karya tulis, sangat memerlukan konsep-konsep logis yang diperolehnya dari proses membaca dan atau proses 'melakukan penelitian' terhadap fenomena yang ada di lingkungan sekitar. Karena sebuah tulisan merupakan serangkaian penjelasan logis atas suatu kejadian menuju kebenaran. Sehingga seorang penulis yang berhasil, bukan dari panjangnya tulisan atau kemampuan menampilkan peran tokoh-tokoh utama dalam  suatu peristiwa. Sebuah karya tulis  yang berhasil ditentukan dari kedalaman analisisnya!

Mulailah dari ide pokok yang ditulis dalam kalimat lengkap
Awal mula sebuah tulisan atau cerita, adalah adanya ide pokok yang ditulis dalam kalimat lengkap. Ide pokok inilah yang mengikaat keseluruhan paragraf menjadi satu kesatuan tulisan yang koheren. 
Bagaimana memulainya?  Ide pokok merupakan sikap atau pandangan seorang penulis terhadap tema atau suatu pokok permasalahan. Dari sinilah kemudian penulis menguraikannya ke dalam sub-sub tema dalam paragraf-paragraf.
Di dalam pragaraf, penjelasan ide pokok itu disusun ke dalam kalimat utama dan kalimat kalimat penjelas dan menguraikanya menjadi informasi yang lebih detil.

Jangan lupa membuat out-line, untuk memet akan pokok pikiran penjelas
Agar paragraf-paragraf itu tidak lepas dari ide pokoknya, ada baiknya penulis menyarankan membuat out-line, atau kerangka karangan. Outline bisa juga berbentuk seperti daftar isi dalam sebuah buku.
Selain untuk menjaga kesinambungan dengan ide pokok, out-line yang kita buat juga bermanfaat untuk memetakan ide pokok tersebut ke dalam pokok-pokok pikiran secara lengkap, menyeluruh, sehingga dapat menjelaskan seluruh aspeknya.

Teknik mengembangkan paragraf
Di bagian akhir buku ini, diberikan beberapa teknik mengembangkan paragraf. Beberapa teknikyang masih aku ingat dan sering aku gunakan dalam menulis adalah teknik kronologis urutan waktu, urutan proses, teknik kontras dulu-sekarang, sebelum-sesudah.

Dalam menulis, aku juga sering menggunakan teknik D-A-M-K. Yaitu dengan mulai menulis "Duduk perkara" yang menjadi masalah utama. Kemudian dengan meng-Analisa-nya, dengan teknik-teknik di atas atau dengan teknik yang tidak kalah populernya adalah dengan menjawab rumus 5W+1H. Bagian selanjutnya, kita dapat menyajikan "Misal" atau contoh atau data penjelas. Dan dibagian akhir  paragraf adalah memberikan "Kesimpulan". Dengan demikian, masing-masing paragraf dapat tampil dinamis, berdiri menjadi satu kesatuan ide pokok tulisan.

Monday, December 19, 2016

Teknik mengembangkan tulisan dengan menambahkan bumbu rahasia ala Anang YB

Menulis ternyata butuh sentuhan khusus atau resep rahasia, agar tulisan menjadi lebih menarik, mengalir dan tidak kaku. Itulah tujuan Anang YB menulis “Guru writing berdiri, murid writing berlari. Buku yang tidak terlalu tebal itu, memuat tips-tips  mengembangkan tulisan. Hingga akhirnya tulisan kita menjadi lebih ber-energi!

Kata seru
Resep pertama yang disarankan adalah  dengan menyisipkan kata seru. Menambahkan kata seru dalam tulisan akan membuat kalimat tidak monoton. Kata seru dapat memberi tone  tertentu pada kalimat, sehingga tulisan menjadi lebih hidup. Karena dalam paragrafnya menjadi ada dialog, membuat tulisan enak dibaca dan tidak menjemukan. Pembaca sesekali “dikagetkan” dengan kata seru, hingga membuat pembaca senantiasa terjaga menikmati tulisan kita. Anang YB mengingatkan perlunya menyisipkan kata seru, meskipun kata seru tersebut bukan dalam kalimat langsung.

Dialek
Selain kata seru, bumbu rahasia mengembangkan cerita atau tulisan adalah dengan memberinya dialek.  Dialek adalah ungkapan-ungkapan khusus yang bersifat lokal atau kedaerahan. Unsur dialek di dalam cerita atau kalimat akan membuat cerita lebih berkembang. Mengapa begitu? Dengan dialek dan istilah lokal itu, dapat bikin pembaca geregetan, karena secara tiba-tiba kita diajak “pergi jauh” ke suatu tempat atau komunitas tertentu. Selain itu, dengan menambahkan dialek, dapat menghadirkan citarasa “lokal” tertentu.

Kata pengganti
Menggunakan kata pengganti merupakan  sentuhan rahasia Anang untuk menghindari perasaan pembaca cepat bosan. Dengan menggunakan kata pengganti, seorang penulis dapat menghadirkan tokohnya, atau membahas subyek dengan berbagai “penampilan” dan variatif.

Bergaya sinetron
Ini dia resep rahasia Anang YB yang heboh, menurutku. Yaitu teknik membuat cerita atau tulisan kita benar-benar seperti hidup! Yaitu dengan membuatnya seperti sinetron. Seperti dalam sinetron, obyek atau subyek dalam cerita atau tulisan digambarkan tampak benar-benar nyata. Mata pembaca dimanjakan, kenyataan disajikan di depan mata secara detil. Kelezatan dan citarasa dilukiskan secara sempurna, hingga pembaca menelan ludah! Teknik ini seperti diingatkan Anang, terutama untuk mendiskripsikan secara detil sebuah kata sifat.

Bergaya Curhat
Menurutku tips rahasia bergaya curhat ini adalah tips yang paling masuk aka. Mengapa demikian? Rata-rata orang sangatlah pandai untuk bercakap-cakap, dibanding ketika seseorang diminta untuk menulis. Dengan gaya curhat, memungkinkan seorang penulis menyampaikan pesan dalam tulisannya secara santai, tidak terburu-buru, namun mendalam. Kita dapat menggambarkan obyek dan suasana hati secara tulus dan jujur.

Buku seru!
Buku tulisan Anang YB ini telah menjadi baku bacaan favoritku. Meski sudah membacanya, aku masih suka membukanya berulang kali. Meskipun buku ini  tergolong bacaan yang sudah tidak baru lagi, namun bagiku sangat inspiratif. Dapat menjadi sumber “vitamin” dan menggairahkan aktivitas menulis. 

Wednesday, November 30, 2016

Meningkatkan minat guru untuk melakukan penelitian *)

Sejak diberlakukannya UU Guru dan Dosen tahun 2005 dan sertifikasi guru dalam jabatan tahun 2007, ternyata sangat berdampak besar dalam dunia pendidikan kita. Banyak yang mengikuti sertifikasi guru agar dapat memperoleh sertifikat, dan menjadi guru profesional. Akibatnya, makin meningkatkan minat  masyarakat untuk menjadi guru.  Profesi guru memperoleh posisi sosial yang istimewa, dengan nilai ekonomi yang tinggi. Kita maklumi, karena memang perhatian pemerintah dalam dunia pendidikan dan guru selama ini dirasakan belum optimal.

Impian jadi guru profesional
Namun realitanya, harapan adanya guru yang profesional masih jauh.  Aktivitas sebagian guru belum berubah, terjebak rutinitas, pagi datang hingga siang pulang. Guru mengajar seperti biasa dengan metode ceramah. Andalan utama guru adalah buku teks. Akibatnya proses pengajaran tidak merangsang anak untuk membaca lebih dalam dari informasi guru. Pemandangan semacam ini mestinya dapat diatasi,  jika guru lebih sensitif dengan kondisi anak. Serta adanya kemauan dan kemampuan  guru untuk mencari tahu kemampuan dan kemauan anak.

Melalui penelitian tindakan kelas misalnya, memungkinkan seorang guru mengetahui efektivitas proses pembelajaran,  mencari cara-cara untuk meningkatkan, serta  memilih metode mengajar yang efektif.  Namun,  riset di kalangan guru masih belum menjadi tradisi keilmuan. Di kalangan guru, masih banyak terdengar bahwa  penelitian tindakan kelas itu dibuat sekedar untuk memenuhi persyaratan sertifikasi atau kenaikan pangkat

Berbagai faktor penyebab utama
Dari pemberitaan koran lokal, suatu Kabupaten di Jawa Tengah  menyatakan akan menarik sertifikasi guru untuk sementara, jika selama lima tahun yang bersangkutan tidak membuat karya ilmiah. Ini merupakan fenomena masih rendahnya minat guru untuk meneliti dan menyusun karya ilmiah.  Rendahnya minat guru untuk melakukan penelitian, paling tidak ada dua faktor yang melatarbelakanginya.

Pertama, adalah faktor mentalitas. Ada sebagian orang berfikiran dapat mencapai keberhasilan itu, tanpa usaha keras. Ada sebagian guru, membuat karya penelitian itu hanya karena memenuhi  persyaratan sertifikasi atau kenaikan pangkat.  Praktis,  karya ilmiah itu dibuat sekedarnya dan tidak maksimal. Belum lagi, dari sisi administrasi, masih permisif kearah kualitas karya. Kedua, selain  mentalitas, faktor lainnya  adalah kemampuan. Ketika seorang guru harus menyusun laporan penelitian, berarti dia harus memiliki kemampuan menulis dan kemampuan meneliti. Dalam hal kemampuan menulis, ternyata tidak seluruhnya guru memiliki kemampuan untuk itu. Sebab musababnya karena sebagian guru relatif jarang membaca.  

Awalnya adalah kebiasaan membaca
Jika seseorang tidak pernah membaca, bagaimana mungkin dia dapat menulis?  Mengapa begitu? Karena proses menulis pada dasarnya merupakan kegiatan menghubungkan antara konsep yang satu dengan yang lain. Beberapa konsep itu, bisa jadi berasal dari satu, dua atau bahkan banyak bacaan. Rendahnya  minat baca biasanya berpengaruh terhadap minat menulis. Dengan memiliki kemampuan menulis, seorang guru akan mudah menyampaikan idenya dengan kalimat yang efektif. Dia juga, akan dapat memilih kata dan gaya bahasa yang tepat,  menciptakan paragraf yang dinamis dengan hubungan yang koherent.

Meneliti untuk mengatasi masalah
Belum lagi, persoalan kemampuan meneliti. Kemampuan meneliti, berarti berhubungan dengan  menerapkan metode penelitian. Karena penelitian sebagai metode ilmiah, tentulah harus mengikuti tahapan dan mekanisme baku yang harus diikuti oleh seorang peneliti. Agar hasilnya dapat dipertanggungjawabkan secara ilmu.  Penelitian atau re-search, secara sederhana dapat dijelaskan sebagai  cara ilmiah untuk mencari jawab atas persoalan-persoalan yanag sifatnya kompleks.

Melalui pendekatan  ilmiah itu, problematika penelitian kemudian dirumuskan ke dalam kerangka yang lebih terukur untuk menemukan fokus. Fokus inilah yaang kemudian disebut sebagai variabel. Berdasarkan tinjauan teori dari ilmu pengetahuan yang telah ada, seorang peneliti dapat menduga sementara bagaimana  arah interaksi  antar variabel penelitianya. Inilah yang dinamakan hipotesis. Agar hipotesis yang sifatnya teoritis itu dapat digunakan untuk mengukur realitas yang terjadi dalam kegiatan belajar-mengajar misalnya, maka hipotesis teori itu harus dioperasionalkan. Sehingga nantinya, seorang guru yang bertindak sebagai peneliti akan tahu,  bagaimana cara mengukurnya di kelas, dengan teknik apa mengumpulkan datanya, meliputi berapa siswa yang perlu diikutsertakan serta bagaimana mengolah datanya setelah dikumpulkan.

Inilah yang dianggap sebagian guru kita sebagai sesuatu yang ribet. Sehingga wajarlah jika kemudian, ada sebagian guru, memilih cara-cara “belakang” yang pikirnya lebih mudah.  Jika keadaan dan mentalitas itu tidak segera diubah, niscaya dunia pendidikan kita akan mengalami masa yang suram.

Mulai dari perpustakaan
Sudah saatnya menegakkan kualitas mekanisme sertifikasi guru, dengan menutup rapat-rapat “pintu belakang” di tiap tingkatan administrasi. Terhadap guru sudah bersertifikasi, perlunya sistem penghargaan yang lebih memadai, sehingga kesejahteraannya meningkat dan memiliki dorongan untuk terus exist menjadi guru yang profesional. Sementara itu, untuk menutup kesenjangan kemampuan menulis maupun kemampuan meneliti, dapat dimulai dari ruang perpustakaan. Saatnya koleksi perpustakaan sekolah tidak lagi berisi  latihan soal dan bacaan untuk siswa saja.

 Guru perlu membaca. Guru perlu bahan bacaan yang memperkaya  pola pikir. Perlu adanya forum, workshop atau sanggar yang dapat meningkatkan kemampuan praktis guru, serta adanya kegiatan kompetitif yang dapat mendorong  kegiatan meneliti. Jika hal-hal tersebut dapat dicapai, kita bisa yakin bahwa pendidikan, mulai dari  proses belajar mengajar akan meningkat dengan  memanfaatkan hasil penelitian tindakan kelas yang valid dan reliabel.


*)  Catatan:
Arsip naskah un-publish dalam rangka memperingati Hari Guru


Peran KORPRI dalam meneguhkan profesionalisme dan netralitas ASN dalam pelayanan publik *)

Melalui berbagai regulasinya, pemerintah sebenarnya telah demikian jelas mendudukkan posisi PNS sebagai profesi yang netral dengan tujuan untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat secara profesional, jujur, adil, dan merata. Hal ini sebagaimana diatur dalam undang-undang pokok-pokok kepegawaian, yang ditetapkan sejak tahun 1999. Namun, upaya ini belumlah nampak riil pada perilaku kerja PNS dalam pelayanan publik.

Potret kinerja pelayanan publik
Laaporan Ombudsman Republik Indonesia akhir-akhir ini, menengarai adanya kenaikan drastis keluhan masyarakat terkait penyimpangan penyelenggaraan pelayanan publik. Pada tahun 2013, keluhan atas kasus penyimpangan itu meningkat hampir dua kali lipat! Dari 2.209 laporan pada tahun 2012  meningkat menjadi 4.359 laporan masyarakat pada tahun 2013. Jumlah itu meningkat 97,3 %, dengan lokus terbanyak terjadi pada pelayanan Pemerintah Daerah, pelayanan di kepolisian, instansi vertikal dan Badan Pertanahan  (Pikiran Rakyat, 2014). Selanjutnya dalam laporan itu, juga menyebutkan bahwa penyimpangan pelayanan publik tersebut terjadi dalam bentuk konflik kepentingan, permintaan uang, barang, dan jasa serta terjadinya mal-administrasi pelayanan.  Kerja aparat dianggap lamban, adanya keberpihakan dan dinilai tidak kompeten.

Profesionalisme dan netralitas
Jika kita perhatikan, potret kinerja pelayanan publik di atas, mencerminkan bagaimana kondisi kinerja sesungguhnya para aparat sipil negara kita sebagai penyelenggara pelayanan publik. Dari bentuk penyimpangan pelayanan di atas, kita dapat mengerti, bahwa permasalahan utama Aparatur Sipil Negara (ASN) adalah masalah profesionalisme dan netralitas. Kedua permasalahan tersebut, baik profesionalisme maupun netralitas dapat saling mempengaruhi. Keduanya melekat pada aktivitas seseorang ASN.  

Dalam hal profesionalisme, seseorang dikatakan profesional jika ia melakukan pekerjaan dengan keahlian khusus dan menghasilkan produk  layanan yang berkualitas, bertanggung jawab, dan sistematis. Tingkat profesionalisme seseorang sebenarnya dapat diamati dari apakah seseorang itu menyukai atau menikmati tugas yang ia kerjakan. Dari tingkat rasa suka dan menikmati pekerjaan akan terpantul antusiasme dan kepeduliannya dalam melayani klien atau masyarakat. Kedua hal itulah yang langsung dirasakan dan dinilai oleh masyarakat, bahwa ia telah dilayani secara profesional atau tidak. Telah terjadi mal-administrasi atau tidak. Oleh karena itu, jika kita ingin membangun profesionalisme, kita bisa meminjam konsep David H.Maister (1997) seorang penulis “True Profesionalism : The courage to care about your people, your client, and your career”, bahwa profesionalisme itu sesungguhnya merupakan perpaduan antara motivasi, inisiatif, komitmen, keterlibatan langsung dengan pekerjaan dan antusiasme.

Netralitas melahirkan keadilan dalam pelayanan
Permasalahan netralitas ASN sebenarnya tidak hanya dalam konteks Pilkada atau proses suksesi kepemimpinan saja. Dalam konteks yang lebih luas, netralitas ASN sering diuji ketika menyangkut SARA. Rendahnya netralitas ASN dalam pelayanan publik sering kali berakibat munculnya konflik kepentingan, keberfihakan dan pelayanan yang tidak merata, penyimpangan prosedur dan tidak transparan.  Kesemuanya itu akan menyebabkan munculnya ketidakadilan dalam pelayanan.

Menunggu realisasi reformasi birokrasi
Melihat besar dan luasnya persoalan dalam sistem pelayanan publik, sebenarnya Pemerintahpun tidak tinggal diam. Upaya yang dilakukan pemerintah sangatlah mendasar dalam bentuk Grand Disain Reformasi Birokrasi, untuk mewujudkan tata kelola kepemerintahan yang baik (good governance). Tujuanya adalah untuk menciptakan birokrasi pemerintah yang profesional dengan karakteristik, berintegrasi, berkinerja tinggi, bebas dan bersih KKN, mampu melayani publik, netral, sejahtera, berdedikasi, dan memegang teguh nilai-nilai dasar dan kode etik aparatur negara.

Melahirkan Undang-undang ASN
Dari Reformasi Birokrasi melahirkan UU Nomor 5 tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara, yang menempatkan aparatur sipil negara sebagai bagian dari reformasi birokrasi, menetapkan aparatur sipil negara sebagai profesi dan menerapkan prinsip merit dalam pelaksanaan manajemen aparatur sipil negara.  Dengan kelahiran undang-undang ASN memberi landasan manajemen pengelolaan dan pengembangan aparatur di kemudian hari.

Berharap dari implementasi merit system
Untuk merealisasikanya, Pemerintah menerbitkan Permen PAN-RB No. 13 tahun 2014. Sesuai Peraturan menteri ini,  manajemen ASN dilakukan sesuai dengan kualifikasi, kompetensi, dan kinerja secara adil dan wajar dengan tanpa membedakan latar belakang politik, ras, warna kulit, agama, asal usul, jenis kelamin, status pernikahan, umur, atau kondisi kecacatan. Sistem merit ini dengan sembilan prinsipnya, akan mampu membangun terciptanya aparatur yang memiliki profesionalisme dan netralitas tinggi dalam pelayanan publik.

Peran KORPRI ke depan
Sebagai korps yang beranggotakan para profesi pegawai ASN, KORPRI ke depan memiliki peran strategis, dalam menumbuhkembangkan profesionalisme dan menjaga netralitas ASN dalam pelayanan publik, baik melalui upaya internal maupun eksternal. Secara internal KORPRI paling tidak berperan membangun independensi, profesionalisme dan netralitas. Sedangkan eksternal, KORPRI dituntut perannya dalam mendorong Pemerintah mengimplementasikan prinsip-prinsip manajemen ASN dengan  sistem merit, yang memungkinkan terbinanya kinerja, profesionalisme dan netralitas ASN dalam pelayanan publik.

Dengan demikian, harapan besar akan meningkatnya kualitas pelayanan publik, sebenarnya masyarakat sangat menggantungkan harapan tersebut kepada KORPRI dalam memainkan peranya dalam menumbuhkan profesionalisme dan netralitas ASN.

(* Catatan:
Arsip naskah lomba karya tulis
dalam rangka HUT KORPRI Kabupaten Kebumen
tgl 29 Nopember 2016, sebagai Juara I. 




Riwayat pekerjaan

Riwayat pekerjaanku di Kebumen, aku awali bekerja sebagai CPNS Petugas Gizi Puskesmas Karanganyar, pada  tahun 1987. Selama hampir lima tahun aku bekerja di sana. Pada tahun 1992, aku hijrah bekerja di Dinas Kesehatan Kabupaten Kebumen sebagai staf di Sub Seksi Gizi.

Menjadi Sekretaris KORPRI Sub Unit Dinkes 
Menjadi staf di dinkes, banyak mengalami pergeseran tempat tugas. Hingga ada pengangkatan sebagai sekretaris KOPRI Sub Unit Dinas Kesehatan. Jabatan sekretaris itu disamakan dengan jabatan struktural eselon VB.  Dengan surat keputusan  Bupati Kebumen, sejak  tanggal 04 - 12 -1995 aku menjadi  Sekretaris KORPRI dan memperoleh tunjangan. Namun itu tidak lama, karena pada tahun berikutnya, tunjangan sekretaris KORPRI itu dihentikan.

Menjadi Sekretaris DEST
Dalam keseharian selain tugas sebagai Sekretaris KORPRI, aku sebagai staf Sub Bagian Perencanaan di bawah Kepala Bagian TU Dinas Kesehatan Kabupaten Kebumen. Ketika itu, ada struktur baru yaitu Sub Bagian Perencanaan. Hampir dua tahun, aku bekerja di Sub bagian Perencanaan, hingga aku ditugasi sebagai Sekretaris tim DEST (District Epidemiological Surveilance Team). Akupun dimutasi sebagai staf di Seksi Surveilans Bidang Pemberantasan Penyakit Menular. Buah pekerjaan inilah, Alhamdulillah aku berkesempatan mengikuti tugas belajar pendidikan pasca sarjana di UGM Yogyakarta hingga lulus tahun 2001.

Sebagai Kasubag Perencanaan.
Beberapa tahun setelah lulus dan masih berada sebagai  staf Seksi Surveilans Bidang Pemberantasan Penyakit Menular., aku menerima penugasan Bupati sebagai Kepala Sub.Bag Perencanaan Dinkes Kebumen  mulai tanggal 22 Oktober2004. Dan dikukuhkan lagi tetap sebagai Kepala Sub.Bag Perencanaan Dinkes pada tahun 2010.

Mutasi sebagai Kepala Puskesmas Kebumen III
Pada tanggal 31 Desember 2010 aku menerima penugasan sebagai Kepala Puskesmas Kebumen III di Kutosari. Puskesmas Kebumen III merupakan puskesmas yang berada di wilayah perkotaan kebumen, dengan 6 Desa dan Kelurahan sebagai wilayah kerja Puskesmas. Meskipun bekerja sebagai Kepala Puskesmas, tidak lama, namun aku merasa banyak yang bisa aku perbuat, terutama dalam hal penerapan dasar-dasar  manajemen Puskesmas-perencanaan, pengendalian dan evaluasi program pelayanan Puskesmas. Hingga pada bulan Mei 2011, aku menerima penugasan sebagai Kepala Bidang Pengendalian Masalah Kesehatan (PMK) Dinkes.

Kembali masuk lingkungan Dinkes sebagai Kabid PMK
Setelah hampir lima bulan sebagai Kepala Puskesmas Kebumen III,  terhitung mulai 11 Mei 2011 aku kembali masuk lingkungan Dinkes lagi sebagai Kepala Bidang Pengendalian Masalah Kesehatan (PMK) Dinkes. Bidang PMK melaksanakan banyak program, yang terbagi dalam tiga Seksi, yaitu Seksi Kesehatan Lingkungan, Seksi Pemberantasan penyakit, baik menular maupun tidak menular dan Seksi Surveilans penyakit dan Kejadian Luar Biasa. 

Keluar Dinkes: Dari Sekretaris Bappeda ke UPTP2K
Ini adalah periode aku menerima penugasan yang benar-benar keluar dari lingkungan Dinas Kesehatan. Yaitu ketika aku menerima penugasan sebagai Sekretaris BAPPEDA, terhitung mulai 20 Januari 2014. Memasuki tahun ke dua di BAPPEDA, aku menerima tugas rangkap sebagai Kepala UPT-P2K Kebumen.

Tugas kali ini sebenarnya merupakan tugas ad-officio karena  tugas ini melaksanakan fungsi dari jabatan sekretaris BAPPEDA, yaitu sebagai Kepala Unit Pelayanan Terpadu Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (UPT-P2K). Yang tugas pokok dan fungsinya adalah melayani warga miskin, berdasarkan basis data kemiskinan, melakukan verifikasi dan validasi data sasaran. Dengan konsep pelayanan berbasis data memungkinkan pelayanan pada warga miskin dapat tepat sasaran. Di UPTP2K saat ini juga bertindak sebagai  call-center ambulance gratis bagi warga miskin.


Tuesday, October 25, 2016

Mengikuti Tugas Belajar Pasca Sarjana di UGM Yogyakarta, banyak memperoleh kemudahan

Mendapat kesempatan mengikuti tugas belajar pasca sarjana di UGM tahun 1999 itu, tentulah merupakan pengalaman yang mengesankan. Kesempatan ini tidak lepas dari ditetapkannya  Dinas Kesehatan Kabupaten Kebumen sebagai lokasi Proyek Intensifikasi Pengendalian Penyakit Menular (Intensified Communicable Desease Control Project) dari Dirjen Pemberantasan Penyakit Menular (P2M) Depkes RI. Dari komponen kegiatan proyeknya menyediakan biasiswa  pasca sarjana untuk  program tugas belajar epidemiologi dan non-epid.

Lulus seleksi  program MMPK
Dari Kabupaten Kebumen, aku diusulkan mengikuti test seleksi tertulis nasional  program biasiswa  pasca sarjana non-epid yang diselenggarakan di FK-UGM Yogyakarta. Dari hasil seleksi  tertulis tersebut, aku termasuk peserta yang dinyatakan lulus dan harus mengikuti pemberkasan di Dirjen P2M Depkes RI.

Setelah dinyatakan lulus administrasi, maka sejak bulan September 1999 aku memulai serangkaian tugas belajar itu. Program pendidikan yang aku ikuti adalah  Program pasca sarjana magister manajemen pelayanan kesehatan (MMPK) pada  Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat., Fakultas Kedokteran-UGM Yogyakarta.

Rumah kost di Jalan Kaliurang
Dengan sistem perkuliahan reguler, dari Senin hingga Kamis  sampai malam hari, mengharuskan aku untuk mencari dan menempati rumah kost di Yogyakarta. Kali ini aku bersama lagi dengan rekan seperjuangan dari SPG, SPAG dan UT, yaitu Sonhaji yang berangkat selaku utusan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Banjarnegara. Setelah berjuang selama beberapa hari mencari rumah kost, akhirnya aku berdua menemukan di komplek perumahan Jalan Pandega Padma I, Jalan Kaliurang Km 4 dekat Apotik Kentungan, Yogyakarta.

Rumah kost ini aku pilih dengan pertimbangan ekonomis dan praktis. Ekonomis artinya terjangkau untuk kocek mahasiswa yang sudah berkeluarga. Praktis dalam hal jangkauan transportasi menuju kampus, baik ketika menggunakan motor atau ketika naik bis kota sangat mudah. 

Ketika naik bis kota menuju kampus UGM, aku naik  bis kota yang dari kaliurang, dan turun persis di depan RSUP Dr. Sardjito. Untuk mencapai lokasi kampus Jurusan IKM Fakultas Kedokteran, aku hanya  jalan kaki, melintasi kampus Kedokteran Forensik.  Dibelakang kampus kedokteran forensik itulah komplek kampus Jurusan IKM. Pada jurusan IKM sendiri, terdapat beberapa program pasca sarjana, diantaranya magister manajemen pelayanan kesehatan, manajemen obat, manajemen Rumah sakit, manajemen Gizi kesehatan dan manajemen promosi kesehatan.


Lulus TOEFL dengan sekali ujian
Ketika  mahasiswa baru, harus menyerahkan hasil test TOEFL yang dipersyaratkan, dengan minimal score 450, aku segera ikut mendaftar. Di UGM test TOEFL dilayani di Pusat Pelatihan Bahasa UGM. Di sana tersedia bermacam-macam layanan test TOEFL. 

Ada jenis layanan test saja, ada pula layanan test dengan bimbingan kursus sebagai pendahuluan. Tarif biayanyapun  bervariasi, dari Rp 15.000,-Rp 350.000,-  Alhamdulillah dan sangat bersyukur, aku lulus dengan sekali ujian dengan biaya Rp 15.000,- Aku juga melihat rekan, yang mendaftar test TOEFL, ada beberapa tidak lulus, bahkan harus mengulang beberapa kali test, hingga lulus test dengan score minimal yang ditetapkan.

Lolos menjadi peneliti Puslit IKM FK-UGM
Suatu saat ada seleksi peneliti untuk sebuah project penelitian yang dilakukan oleh Pusat Penelitian Ilmu Kesehatan Masyarakat (Puslit IKM) FK-UGM yang berasal dari mahasiswa. Rencananya akan diambil tujuh orang peneliti. Untuk melakukan riset payung, yang akan meneliti keberadaan dan kinerja Pusat Informasi dan Penanggulangan Krisis Kesehatan (PIPKK) yang ada di tingkat kabupaten.

Akupun mengikuti proses seleksi tersebut, dan sangat berharap dapat ikut terpilih sebagai peneliti dalam kegiatan besar itu. Mengapa? Bagiku kegiatan penelitian tersebut sungguh sangat bermanfaat. Bagaimana tidak? Dengan ikut terlibat dalam kegiatan riset tersebut, peneliti dalam hal ini mahasiswa dapat mengambil bagian dari tema besar penelitian tersebut, untuk diperdalam menjadi thesis. Sehingga dengan ikut menjadi peneliti, di satu sisi, mendapat pengalaman sebagai peneliti dan memperoleh fasilitas pendukungnya. Di lain fihak, aku dapat sekaligus menyiapkan bahan thesis pribadiku. Tiba saat waktu pengumuman, dari ketujuh peneliti yang dinyatakan lolos seleksi, Alhamdulillah aku ikut diantaranya.

Dan benar, aku memperoleh banyak manfaat menjadi peneliti Puslit IKM FK-UGM. Aku berkesempatan melakukan pengumpulan data di Kabupaten Gunung Kidul-Daerah Istimewa Yogyakarta dan Kabupaten Purworejo-Jawa Tengah. Sekaligus aku dapat menyelesaikan thesisku, melalui pendalaman sub tema riset imbalan kinerja di Kabupaten Purworejo.