Wednesday, December 21, 2016

Inilah buku pertama yang membuatku kuat untuk bisa menulis

Ketrampilan menulis bagi sebagian orang, dianggap tidak menarik. Begitu juga aku menganggapnya, sebelum aku membaca buku yang berjudul  "Kreatif Mengarang" karya A. Widyamartaya, terbitan Kanisius-Yogyakarta. Tahun terbitnya, aku lupa tahun berapa. Buku itu awalnya aku menemukannya di Perpustakaan sekolah di SPG Negeri Pekalongan, sekitar tahun 1985.

Mengenal dunia menulis
Saat itulah, aku baru mengetahui bahwa kemampuan menulis itu bukan bakat lahir, tetapi dapat dipelajari. Seseorang yang ingin dapat mahir mengarang atau menulis, haruslah rajin berlatih dengan bersungguh-sungguh. Karena tanpa keinginan kuat, seorang yang berkeinginan menjadi seorang pengarang atau penulis, pastilah tidak akan kesampaian. Sehingga kita bisa melihat banyak contoh, orang yang merasa gagal menulis, gagal mengarang, gagal menerbitkan buku dan seterusnya. Ini masalahnya karena seseorang tidak memiliki keingainan kuat untuk menulis.

Dengan keinginan kuat, seseorang akan giat dan banyak berlatih untuk menulis. Dengan banyak menulis, akan memacu daya imajinasi dan ide pokok tulisan., melatih ketrampilan memilih kata yang tepat, menyusun kalimat yang efektif, hingga menyusun paragraf yang dinamis dan saling berkesinambungan. Karena pada dasarnya sebuah tulisan itu tersusun oleh paragraf-paragraf. Sedangkan paragraf yang dinamis tersusun oleh minimal dua kalimat efektif. Dalam format bahasa Indonesia, kalimat akan efektif minimal mengandung unsur subyek dan predikat, atau subyek dan obyek, atau subyek dan kata keterangan.

Mengetahui beda menulis dan mengarang
Sepintas antara kegiatan menulis dan mengarang itu hampir sama, karena dua-duanya melalui proses kegiatan menulis dan  menghasilkan sebuah karya tulis. Namun ternyata, keduanya memilikiciri-ciri yang berbeda terutama dalam proses menciptakan karya tulis. Dalam hal mengarang, seorang penulis mengandalkan kemampuan pribadinya, dalam hal mengambil ide dan tema karangan. Mengarang merupakan proses kreatif seseorang yang sangat tergantung dari imajinasinya. Sehingga hasil karya tulis pengarang sangatlah subyektif, tergantung kemampuan penulis menggali emosi-emosi pembacanya.

Berbeda dengan aktivitas menulis. Seorang penulis dalam menghasilkan karya tulis, sangat memerlukan konsep-konsep logis yang diperolehnya dari proses membaca dan atau proses 'melakukan penelitian' terhadap fenomena yang ada di lingkungan sekitar. Karena sebuah tulisan merupakan serangkaian penjelasan logis atas suatu kejadian menuju kebenaran. Sehingga seorang penulis yang berhasil, bukan dari panjangnya tulisan atau kemampuan menampilkan peran tokoh-tokoh utama dalam  suatu peristiwa. Sebuah karya tulis  yang berhasil ditentukan dari kedalaman analisisnya!

Mulailah dari ide pokok yang ditulis dalam kalimat lengkap
Awal mula sebuah tulisan atau cerita, adalah adanya ide pokok yang ditulis dalam kalimat lengkap. Ide pokok inilah yang mengikaat keseluruhan paragraf menjadi satu kesatuan tulisan yang koheren. 
Bagaimana memulainya?  Ide pokok merupakan sikap atau pandangan seorang penulis terhadap tema atau suatu pokok permasalahan. Dari sinilah kemudian penulis menguraikannya ke dalam sub-sub tema dalam paragraf-paragraf.
Di dalam pragaraf, penjelasan ide pokok itu disusun ke dalam kalimat utama dan kalimat kalimat penjelas dan menguraikanya menjadi informasi yang lebih detil.

Jangan lupa membuat out-line, untuk memet akan pokok pikiran penjelas
Agar paragraf-paragraf itu tidak lepas dari ide pokoknya, ada baiknya penulis menyarankan membuat out-line, atau kerangka karangan. Outline bisa juga berbentuk seperti daftar isi dalam sebuah buku.
Selain untuk menjaga kesinambungan dengan ide pokok, out-line yang kita buat juga bermanfaat untuk memetakan ide pokok tersebut ke dalam pokok-pokok pikiran secara lengkap, menyeluruh, sehingga dapat menjelaskan seluruh aspeknya.

Teknik mengembangkan paragraf
Di bagian akhir buku ini, diberikan beberapa teknik mengembangkan paragraf. Beberapa teknikyang masih aku ingat dan sering aku gunakan dalam menulis adalah teknik kronologis urutan waktu, urutan proses, teknik kontras dulu-sekarang, sebelum-sesudah.

Dalam menulis, aku juga sering menggunakan teknik D-A-M-K. Yaitu dengan mulai menulis "Duduk perkara" yang menjadi masalah utama. Kemudian dengan meng-Analisa-nya, dengan teknik-teknik di atas atau dengan teknik yang tidak kalah populernya adalah dengan menjawab rumus 5W+1H. Bagian selanjutnya, kita dapat menyajikan "Misal" atau contoh atau data penjelas. Dan dibagian akhir  paragraf adalah memberikan "Kesimpulan". Dengan demikian, masing-masing paragraf dapat tampil dinamis, berdiri menjadi satu kesatuan ide pokok tulisan.

Monday, December 19, 2016

Teknik mengembangkan tulisan dengan menambahkan bumbu rahasia ala Anang YB

Menulis ternyata butuh sentuhan khusus atau resep rahasia, agar tulisan menjadi lebih menarik, mengalir dan tidak kaku. Itulah tujuan Anang YB menulis “Guru writing berdiri, murid writing berlari. Buku yang tidak terlalu tebal itu, memuat tips-tips  mengembangkan tulisan. Hingga akhirnya tulisan kita menjadi lebih ber-energi!

Kata seru
Resep pertama yang disarankan adalah  dengan menyisipkan kata seru. Menambahkan kata seru dalam tulisan akan membuat kalimat tidak monoton. Kata seru dapat memberi tone  tertentu pada kalimat, sehingga tulisan menjadi lebih hidup. Karena dalam paragrafnya menjadi ada dialog, membuat tulisan enak dibaca dan tidak menjemukan. Pembaca sesekali “dikagetkan” dengan kata seru, hingga membuat pembaca senantiasa terjaga menikmati tulisan kita. Anang YB mengingatkan perlunya menyisipkan kata seru, meskipun kata seru tersebut bukan dalam kalimat langsung.

Dialek
Selain kata seru, bumbu rahasia mengembangkan cerita atau tulisan adalah dengan memberinya dialek.  Dialek adalah ungkapan-ungkapan khusus yang bersifat lokal atau kedaerahan. Unsur dialek di dalam cerita atau kalimat akan membuat cerita lebih berkembang. Mengapa begitu? Dengan dialek dan istilah lokal itu, dapat bikin pembaca geregetan, karena secara tiba-tiba kita diajak “pergi jauh” ke suatu tempat atau komunitas tertentu. Selain itu, dengan menambahkan dialek, dapat menghadirkan citarasa “lokal” tertentu.

Kata pengganti
Menggunakan kata pengganti merupakan  sentuhan rahasia Anang untuk menghindari perasaan pembaca cepat bosan. Dengan menggunakan kata pengganti, seorang penulis dapat menghadirkan tokohnya, atau membahas subyek dengan berbagai “penampilan” dan variatif.

Bergaya sinetron
Ini dia resep rahasia Anang YB yang heboh, menurutku. Yaitu teknik membuat cerita atau tulisan kita benar-benar seperti hidup! Yaitu dengan membuatnya seperti sinetron. Seperti dalam sinetron, obyek atau subyek dalam cerita atau tulisan digambarkan tampak benar-benar nyata. Mata pembaca dimanjakan, kenyataan disajikan di depan mata secara detil. Kelezatan dan citarasa dilukiskan secara sempurna, hingga pembaca menelan ludah! Teknik ini seperti diingatkan Anang, terutama untuk mendiskripsikan secara detil sebuah kata sifat.

Bergaya Curhat
Menurutku tips rahasia bergaya curhat ini adalah tips yang paling masuk aka. Mengapa demikian? Rata-rata orang sangatlah pandai untuk bercakap-cakap, dibanding ketika seseorang diminta untuk menulis. Dengan gaya curhat, memungkinkan seorang penulis menyampaikan pesan dalam tulisannya secara santai, tidak terburu-buru, namun mendalam. Kita dapat menggambarkan obyek dan suasana hati secara tulus dan jujur.

Buku seru!
Buku tulisan Anang YB ini telah menjadi baku bacaan favoritku. Meski sudah membacanya, aku masih suka membukanya berulang kali. Meskipun buku ini  tergolong bacaan yang sudah tidak baru lagi, namun bagiku sangat inspiratif. Dapat menjadi sumber “vitamin” dan menggairahkan aktivitas menulis.