Sunday, May 29, 2016

Kewajiban orang tua mendidik anak*)


Assalamu,alaikum
Yth. Kepala LPI Al Iman Kebumen
Yth. Kepala SDIT Al Madinah Kebumen
Yth. Kepala RAT Yaa Bunnayya Kebumen
Yth. Bapak/Ibu dari Kantor UPTD Dikpora Kec. Kebumen
Yth. Ketua Komite Sekolah
Yth. Bapak/Ibu orang tua/Walisiswa RAT Yaa Bunnayya Kebumen

Pertama-tama, perkenankan saya menyertai Bapak/Ibu sekalian untuk memanjatkan puji syukur kehadirat Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Karena atas perkenan-Nya, kita dapat bertemu dalam suatu majelis ilmu, yaitu acara Akhirussanah RAT Yaa Bunnayya Kebumen yang ke 13 tahun 2016 dalam keadaan sehat wal afiat. Salam dan sholawat semuga tercurahkan pada junjungan Nabi Muhammad SAW, semoga kita tercatat sebagai umatnya.
Selanjutnya perkenankan saya berdiri di sini untuk mewakili orang tua/walisiswa RAT Yaa Bunnayya Kebumen pada acara hari ini, manakala dalam beberapa hal yang akan saya sampaikan ada kesalahan atau kekurangannya. Untuk itu, saya sampaikan permohonan maaf lahir-bathin.

Kewajiban mendidik anak
Istilah akhirussanah dalam pengertian sehari-hari dimaknai sebagai kegiatan tutup tahun pelajaran.  Walaupun sebenarnya pendidikan anak menurut Islam berlangsung sepanjang hayat, belajar dari ayunan sampai ke liang lahat. Hal ini mengandung pengertian bahwa manusia membutuhkan pendidikan dalam seumur hidupnya. Dalam sebuah hadits shohih, dinyatakan bahwa pada dasarnya manusia dilahirkan dalam keadaan suci. Selanjutnya seseorang akan menjadi yahudi, nasrani atau majusi, tergantung dari pendidikan yang diberikan orang tuanya.
Oleh karena itulah, wajib hukumnya bagi orang tua untuk menyiapkan pendidikan anaknya. Orang tua wajib menjaga anaknya dari kesatan. Sebagaimana diperintahkan Allah dalam Qur’an surat At-Tahrim ayat 6: “Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”

Dimulai dari rumah
Seorang anak sejak lahir, tumbuh dan berkembang bermula dari rumah. Pendidikan yang ia terima sangat tergantung dari pola dan pendidikan orang tuanya, terutama ibu dan bapaknya. Oleh karena itu, keluarga harus menjadi madrasah pertama anak. Peran orang tua sangatlah mutlak. Perlunya keteladanan, karena anak efektif belajar dengan meniru atas contoh yang biasa ia lihat dari bapak atau ibunya, kakak-adiknya dan juga eyang atau pamannya. Oleh karena itu, seringkali sikap dan perilaku anak, menggambarkan bagaimana sikap dan perilaku orangtua dalam kesehariannya  hidup di rumah.

Memberikan pendidikan yang islami
Sayangnya, banyak keterbatasan orangtua-karena alasan kesiapan, pengetahuan, kesempatan hingga kesibukan, hingga akhirnya orangtua menyerahkan kepengasuhan dan pendidikannya pada orang lain, termasuk kepada fihak sekolah. Saat ini, banyak berdiri sekolah yang menawarkan berbagai fitur dan keunggulan pendidikan anak. Tetapi apakah ada pedoman memilih sekolah yang baik? Bagaimana memilih sekolah dan  pendidikan yang baik, sesuai akidah Islam?

Secara mendasar Allah telah mengariskan bagaimana dasar-dasar mendidik anak. Dalam Qur’an surat Luqman ayat 13, diantaranya disebutkan. Bahwa pendidikan anak menurut akidah Islam adalah pendidikan yang tidak menyekutukan Allah! Maknanya bahwa seluruh kebaikan yang ada berasal dari kuasa Allah, sedangkan hal keburukan terjadi akibat perilaku manusia.  Sehingga pendidikan tidak terjebak mendewakan ilmu pengetahuan dan teknologi. Tetapi, harus difahami bahwa pencapaian ilmu dan teknologi manusia berasal dari ilmu Allah semata. Selain itu, pendidikan sesuai kaidah Islam senantiasa mengaitkan setiap kejadian dengan Allah, memberi contoh dan bimbingan beribadah, membina dan memilihkan teman anak-anak yang sholeh dan sholehah.

Pesan untuk orangtua: Investasi dunia-akhirat
Bapak/Ibu yang saya hormati. Saya tidak sedang menggurui, tetapi saya ingin menyatakan secara tulus. Bahwa ciri pendidikan yang baik untuk anak itu sudah ada disini! “Siapa yang tidak bersyukur, ketika anak sesusia lulus TK sudah bisa dan biasa melakukan sholat. Dan sesusainya ia sholat berdo’a memintakan ampunan dan kebahagiaan kepada Allah untuk dirinya dan orangtuanya” Ini sungguh menenteramkan hati. Ini merupakan investasi yang sangat besar dan bernilai dunia-akhirat. Bagaimana tidak? Dalam satu hadits diriwayatkan bahwa, ketika seseorang itu meninggal dunia, maka putuslah semua hal yang ada di dunia, kecuali tiga perkara. Tiga perkara itu adalah: (1) ilmu yang bermanfaat (2) amal kebaikan yang bermanfaat bagi  orang banyak (3) anak sholeh yang mendo’akan orang tuanya.

Pesan untuk lembaga
Apa yang sudah diraih dan diperoleh oleh anak-anak kita di RAT Yaa Bunnayya Kebumen ini barulah sedikit. Pendidikan yang harus ditempuh anak-anak kita masih sangat panjang. Untuk itu, kewajiban orangtua untuk memilihkan sekolah berikutnya yang dapat memberikan pendidikan yang baik kepada anak.

Meskipun baru sedikit, namun lembaga ini telah memberikan kepada anak, tentang dasar-dasar keimanan, tatacara ibadah dan bermu’amalat. Untuk itu pada kesempatan ini saya ingin menyampaikan terimakasih sekaligus permohonan maaf.  Di mata anak-anak,  para Ustadzah adalah penerang sekaligus penyejuk hati mereka. Namun kadang, kami orang tua terlalu banyak menuntut harapan. Padahal sejatinya fungsi mendidik anak, sekali lagi adalah kewajiban orang tua.

Di bagian akhir sambutan saya mewakili orang tua/wali siswa Yaa Bunnayya Kebumen, saya berharap semoga tali silaturahmi yang sudah terbangun ini tidaklah putus. Dan lembaga ini teruslah makin maju dan menjadi pilihan orang tua dalam rangka mendidik anak sesuai tuntunan agama. Aamiin

(* Catatan:
Arsip Naskah yang disampaikan pada Akhirussanah RAT Yaa Bunnayaa Kebumen
Angkatan XIII, Minggu 22 Mei 2016

Sunday, May 22, 2016

Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui

Ini adalah peribahasa yang tepat untuk kondisiku waktu itu, Isteriku sekolah lagi dan mengandung buah cinta keduaku, Bagas. Meskipun tidak seperti yang aku rasakan pada awalnya. Keputusan untuk sekolah lagi, bagi seorang ibu rumah tangga dengan satu anak dengan tanpa memiliki pembantu, merupakan keputusan yang nekad . Apalagi pada priode itu, isteriku positif hamil.

Bagas bersekolah sejak dalam kandungan
Didorong oleh semangat yang tinggi untuk menempuh pelajaran di Akademi Kebidanan Aisyiyah itu, kondisi hamil tidak membuat isteriku kehilangan “power”. Justru dengan seiring kegiatan perkuliahan, kehamilan anakku Bagas ini dirasakan isteriku dengan “enjoy”. Bahkan banyak dorongan dari dosen dan teman, bahwa mengandung pada saat masa kuliah itu sangat bermanfaat bagi perkembangan janin. Karena pada saat yang sama, sang janin juga belajar dan merangsang pertumbuhan sel-sel otaknya. “Tetaplah semangat mbak, semoga bayimu kelak akan jadi anak yang cerdas. Karena janin sudah belajar dan diajak belajar oleh ibunya sejak dari kandungan” Demikian, motivasi yang sering diterima dari dosenya. “Tiga hal yang dipelajari bayi di dalam kandungan. Bayi belajar bahasa, bayi belajar tersenyum dan bayi belajar mengenali rasa” tambahnya kepada isteriku. Ada pesan yang membuat isteriku terus mengingat dan membuatnya terus bersemangat untuk belajar dan menjaga kehamilannya. “Pada trimester ke dua kehamilan, bayi sudah dapat merespon keadaan lingkungannya. Pada saat inilah waktu yang tepat untuk anda mengajar seorang bayi di dalam kandungan karena bayi sudah melakukan reaksi atau mendengar saat anda melakukan rangsangan pada janin. Ini terlihat ketika ada gerakan respon bayi selama di dalam kandungan seperti memukul perut ibu ataupun menendang”

Masa hamil banyak konsumsi ikan
Lagi-lagi adalah skenario Allah. Pada masa hamil Bagas, Isteriku sudah pindah kontrakan. Saat itu, isteriku menempati rumah kost di daerah Ngampilan-Yogyakarta. Di rumah mbah Khotimah. Jarak rumah kost ke kampus, tidak jauh, kira-kira 400 m.
Di rumah kost mbah Khotimah itulah isteriku banyak makan ikan, terutama ikan laut. Mengapa begitu? Karena sehari-harinya, mbah Khotimah bekerja sebagai pedagang ikan di pasar Ngampilan. Sore harinya, ia mengolah sebagian ikannya untuk dijual kepada tetangga, termasuk beberapa anak kost yang ada di rumah maupun sekitar rumahnya. Ikan yang biasa dimasak mbah Khotimah adalah ikan tengiri dan ikan kembung. Ikan-ikan itu dimasak dengan berbagai variasi. Tentu mbah Khotimah tahu, agar pelanggannya tidak bosan.

Suatu saat, tentang konsumsi ikan tengiri dan ikan kembung  ini aku konsulkan pada dokter. Ternyata tanggapan dokter sangat bagus. Bahkan aku memperoleh pelajaran yang sangat berharga. “Ikan ini sangat  kaya akan asam lemak omega-3 yang penting untuk mempertahankan fungsi normal organ tubuh kita. kan kembung yang dikonsumsi ibu hamil dapat membantu memenuhi kebutuhan  omega 3 yang diperlukan untuk tumbuh kembang janin selama masa kehamilan. Kandungan asam lemak essential omega 3 yaitu DHA ((Docosahexaenoic acid) dan EPA (Eicosapentaenoic acid) dalam ikan kembung dapat membantu pertumbuhan organ tubuh janin, serta sel-sel otak janin. Beberapa studi telah membuktikan bahwa kandungan asam lemak omega 3 adalah  lemak tak jenuh yang terbukti mampu mengembangkan IQ dan Psikomotorik pada bayi dan anak-anak. Selain itu, kandungan omega 3 juga bermanfaat pada aktivitas mata (visual activity), meningkatkan kemampuan belajar, daya ingat, meningkatkan kekebalan tubuh” Subhanallah, ternyata banyak manfaatnya mengkonsumsi ikan. Selain itu juga ikan kembung dapat meningkatkan aktivitas obat antidepresan. Ikan kembung kaya akan DHA (Docosahexaenoic acid) yang dapat menurunkan kemungkinan resiko penyakit Alzheimer dan penyakit Parkinson.


Saturday, May 21, 2016

Bagas lahir pada peride praktek akhir kebidanan

Lahir pas periode praktek
Anakku Bagas, lahir pada periode mendekati akhir pendidikan diploma kebidanan yang diikuti isteriku. Saat itu, isteriku baru saja menjalani praktek kebidanan RS PKU Muhammadiyah Purworejo. Dan harus berpindah di rumah Bidan Praktek Mandiri. Dengan berbagai negosiasi, akhirnya isteriku bisa memperoleh ijin melahirkan, walaupun hanya satu minggu. Sesudahnya isteriku harus memulai menjalani praktek kebidanan.


ASI berhenti
Dalam kondisi seperti itu, aku melihat bagaimana situasi sulit yang dialami isteriku. Satu sisi, baru melahirkan dan merawat bayi. Sementara, ia harus menyelesaikan tugas-tugas praktek. Aku melihat bagaimana ia harus pulang pergi dari tempat praktek untuk merawat dan memberikan ASI. Dengan mengendarai sepeda motor, seminggu pasca persalinan, menurutku tindakan yang sangat membahayakan.

Tetapi kondisi ini dilalui isteriku dengan semangat. Walaupun akhirnya aku menyadari, betapa isteriku sangat stres dengan kondisi semacam ini. Akibat dari keadaan isteriku, ASI yang untuk Bagas anakku, berhenti total. Tidak mengalir. Sejak itu, aku dan isteriku mencoba memperkenalkan beberapa jenis produk susu formula. Alhamdulillah, Bagaspun tidak terlalu sulit untuk menyesuaiakan.

Thursday, May 19, 2016

Allah menyelematkan anakku Adi, dapat mengikuti tes ujian masuk mahasiswa

Ceritanya berawal ketika aku dan keluarga pergi menginap di sebuah guest house di bilangan Maguwoharjo-Yogyakarta. Misi perjalanan keluarga itu adalah mengantar dan menyemangati anakku Adi mengikuti seleksi masuk sebuah perguruan tinggi kedinasan. Setelah menginap semalam, paginya (15/6/2016) berangkat menuju tempat test. Lokasinya kira-kira satu setengah kilo meter dari penginapan.

Sebelum berangkat isteriku, mengingatkan kepada anakku untuk berkemas, menyiapkan perlengkapan test dan mengingatkan agar menon-aktifkan telepon genggam agar tidak mengganggu konsentrasi. Anakku menyatakan siap, dan kamipun berangkat menuju lokasi ujian. Tidak terlalu ramai Yogyakarta di pagi itu. Hanya sesekali agak terhambat karena rutenya melewati pasar, dengan lalulintas pengunjungnya hingga jalan raya. Benar, tidak lebih dari seperempat jam, kamipun sampai. Namun,di sana telah banyak pengunjung,  pengantar, keluarga dan peserta ujian telah banyak hadir, memadati tempat parkir. Sementara para peserta ujian saling sibuk mencari ruang sesuai nomor dan kode peserta ujian. Melihat keadaan tersebut, kami bersepakat bahwa anakku Adi aku drop di bahu jalan yang memungkinkan kendaraan dapat berhenti. Selanjutnya   anakku mengurus sendiri ruang test-nya,  Sehingga aku tidak tahu di ruang/gedung mana anakku Adi memperoleh tempat test.

KTP dan telepon genggam tertinggal
Karena waktunya masih lama hingga test selesai jam 11.00 WIB, aku putuskan untuk kembali ke penginapan. Istri dan dua anakku lainnya, Bagas dan Nadiyyah sedang menunggu. Mereka sudah selesai berkemas. Namun betapa kagetnya ketika isteriku menyatakan bahwa anakku Adi tidak membawa telepon genggam dan dompet yang berisi KTP, SIM dan lainnya tidak terbawa. Adi hanya membawa alat tulis dan kartu peserta. Dalam hati semoga,anakku lancar mengikuti tes. Setelah membahasnya sebentar, kamipun check-out dari penginapan. Keluar dari penginapan dengan tujuan yang bermacam-macam sesuai keinginan. Ada yang usul untuk pergi  ke mall Ambarukmo Plaza, mall Hartono yang baru buka dan sedang banyak promo atau ke Malioboro dulu, baru siangnya ke tempat anakku Adi mengikuti test. Namun mengingat waktu masih terlalu pagi, akhirnya kami memutuskan untuk langsung ke lokasi test anakku. Dengan mengambil jalur yang sama, seperti yang aku lalui sebelumnya, maka dengan mudah dan tidak terlalu lama aku sampai kembali ke lokasi test. Dan segera mengambil tempat parkir di luar, tidak jauh dari kompleks gedung Instiper Yogyakarta sebagai lokasi test.

Setelah turun dari parkir kendaraan, sekitar  08.30, kami memasuki kompleks gedung Instiper Yogyakarta dengan jalan kaki. Di kanan-kiri terlihat gedung-gedung tempat lokasi test yang sepanjang dan sekeliling gedungnya dipadati untuk parkir kendaraan. Setelah melewati halaman dan ting bendera, kami melihat gedung di bagian tengah sebagai Ruang Sekretariat Panitia Test Seleksi Masuk calon mahasiswa. Hingga akhirnya kami memutuskan untuk duduk-duduk dan menunggu
anakku selesai test. Meskipun sebenarnya, aku sudah berpesan pada anakku, aku akan bertemu dan menjemput di teras sebuah toko di seberang jalan, tempat tadi pagi aku menurunkanya disana. Sambil sesekali bertanya pada panitia kapan tepatnya ujian ini dinyatakan selesai. Dan akupun dapat kepastian, bahwa ujian akan selesai dan dihentikan pada pukul 11.00 WIB. Kami berembug, untuk mencari tempat yang nyaman untuk menunggu hingga jam 11.00 nanti. Isteri dan anakku Bagas dan Nadiyyah sepertinya sudah menemukan tempat strategis untuk bersantai, yaitu di depan pintu keluar ruang sekretariat. Sedangkan aku memutuskan untuk duduk-duduk di dekat teras depan yang terdapat pintu keluar-masuk utama sekretariat. Duduk dekat teras itu memungkinkan aku dapat mengamati panitia itu beraktivitas.

Anakku harus menunjukkan KTP
Belum lama, aku duduk, tiba-tiba isteriku dan Bagas berteriak seperti memberitahu "Itu mas Adi. Adi sih kenapa ada di situ" Isteriku melihat sosok anakku berjalan ke arah pintu keluar, sambil diikuti oleh seseorang Bapak yang berseragam sebagai panitia test ujian. Spontan aku berfikir, anakku Adi sedang mengalami masalah. Sejurus aku bangkit dari duduk, dan benar aku melihat pintu itu terbuka. Tepat di hadapanku, Adi berdiri. Dari sorot matanya aku tahu dia sedang kebingungan sekaligus kaget,  Responnya kaget,   belakangan aku tahu bahwa anakku Adi tidak menyangka bahwa dalam kebingungannya mencari KTP yang tertinggal dan dibawa ibunya, ternyata di luar ruangan itu ibunya telah ada di situ! Akhirnya segera isteriku menyerahkan KTP itu kepada anakku. Setelah menerima KTP tersebut, anakku Adi segera masuk kembali ke ruangan dengan diikuti panitia.

Di luar ruangan ,aku dan isteriku melihat runtutan kejadian itu sebagai "kemahakuasaan" Allah yang mengatur seluruh kejadian tersebut dengan sangat sempurna! Sejenak kemudian, akupun segera bergegas menuju Mushola, untuk melaksanakan sholat dhuha. Dalam doaku, aku panjatkan rasa syukurku, betapa Allah telah menyelamatkan anakku, hingga dia dapat melanjutkan mengerjakan test ujian masuk calon mahasiswa. Subhanallah



Wednesday, May 11, 2016

Hadiah terindah itu adalah Nadiyyah

Namanya Nadiyyah Aulia Fajrin
Aku bersepakat dengan isteri, untuk memberi nama anakku yang ke tiga itu  Nadiyyah Aulia Fajrin. Nama itu memiliki kisah dari arti kata yang ada di dalamnya. Nadiyyah dalam sastra arab berarti pohon yang senantiasa basah oleh embun. Aulia mengandung arti orang suci. Sedangkan fajrin menyerap makna waktu fajar. Dari keseluruhanya, Nadiyyah Aulia Fajrin, mengandung kisah telah lahir seorang anak yang suci dan sejuk, karena senantiasa terbasuh embun pagi hari.

Hadiah terindah
Nadiyyah, demikian nama panggilannya dalam keluarga, proses tanda  lahirnya diawali saat fajar menjelang shubuh. Dengan persiapan secukupnya, aku mengajak isteriku untuk bersalin di RSUD Kebumen. Dengan harapan dalam waktu yang tidak terlalu lama, anakku sudah lahir. Saat itu, aku dan istriku tidak berada di rumah. Sudah hampir sebulan, kami menempati rumah dinas istriku, yaitu sebuah klinik kesehatan yang ada di desa. Jarak dari klinik tempat isteriku ke RSUD kira-kira sepuluh kilo meter. Dengan  menggunakan jeep Daihatsu Feroza tua, kami keluar rumah, melintas sepi. Kami melaju, menembus kegelapan jalan pedukuhan yang dingin menuju rumah sakit. Dan benar, selang tidak begitu lama berada di ruang pemeriksaan  dan belum sempat petugas rumah sakit membawanya masuk ke ruang persalinan, isteriku bersalin. Bayi anakku lahir. Allah memberiku hadiah terindah. Mengapa terindah? Karena kelahiran anakku Nadiyyah ini penuh surprised dan penuh rasa syukur. Pertama, anakku lahir sehat fisik maupun mental, meskipun dalam hitungan umur  kehamilan, lebih awal empat minggu dari hari perkiraan lahir menurut dokter ahli kebidanan. Kedua, anakku lahir perempuan, telah menjadi lengkaplah anakku laki-laki dan perempuan. Ketiga, subhanallah, Allah mengaruniai tiga anakku lahir semuanya di hari ahad dan Keempat, Nadiyyah anakku, lahir tepat pada saat hari ulang tahunku, 29 Nopember 2009.

Awal yang memprihatinkan
Nadiyyah tergolong lahir premature, empat minggu lebih awal dari perkiraan lahirnya. Kkondisi ini, berdampak pada banyak hal setelah kelahirannya. Hal yang paling mudah dilihat adalah pengaruhnya pada berat badan. Nadiyyah termasuk bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR), karena hanya dua kilo empat ons. Pada hari-hari pertamanya, warna kulitnya muncul kekuningan. Yang oleh dokter dijelaskan karena ada gangguan bilirubin. "Tapi kondisi kekuningan ini dapat diatasi dengan cara menjemur bayi pada sinar matahari pagi. Waktunya bisa setiap hari, dari kira-kira jam 07.00 sampai dengan jam 08.00 satu jam sudah cukup, dengan membolak-balikkan posisi badan bayi. Agar semua bagian tubuh bayi, baik depan atau belakang dapat terkena sinar matahari. Pada saat posisi telentang, mata bayi dapat ditutup dengan sapu tangan atau kain, agar sinar matahari tidak langsung mengenai matanya" Demikian pesan petugas RSUD. Selain, itu bayi Nadiyyah tangisnya lirih, rambut lanugo-nya tumbuh banyak di bagian tubuhnya. "Ini salah satu tanda bayi pre-mature. Tanda yang lain, biasanya sutura pada kepala belum rapat, sehingga seperti ada rongga. Tapi jangan khawatir, nanti berangsur akan kembali normal. Asal minum ASI-nya kuat" Demikian  Bidan RSUD menambahkan keterangan. Setelah berat badannya dianggap normal, bayi Nadiyyah diperbolehkan pulang. Sebelumnya, setelah lahir, selama tiga hari bayi Nadiyyah menjalani perawatan perinatal.
Tiga hari pertama  di rumah, Nadiyyah  minum ASI-nya tidak kuat. Melihat kondisi seperti itu,aku dan  isteriku  panik. Pada saat yang bersamaan istereiku merasakan bahwa ASInya macet. Sementara si mungil Nadiyyah tergolek diam. Menangispun lirih suaranya. Pada hari keempatnya aku membawa Nadiyyah kembali ke RSUD. Pikirku agar memperoleh perawatan di Rumah Sakit. Setelah konsultasi dengan dokter spesialis anak, disarankan agar menjaga kehangatan tubuh bayi.   "Bayi pre-mature biasanya ada yang gak mau minum (mimik), karena lingkungan sekelilingnya relatif dingin. Untuk itu perlu menjaga agar bayi merasa hangat. Untuk  menjaga kehangatan  dan kesehatan tubuh bayi, dapat dilakukan dengan meletakkan lampu pijar dengan jarak kira-kira 60 cm. Ini  berguna untuk mencegah bayi mengalami hypothermi. Jika hangat, bayi akan mau minum susu" Jelas dokter Pras, sepesialis anak.

Sejak itu, aku menyiapkan 'inkabator' sederhana untuk Nadiyyah. Dengan memanfaatkan lampu belajar, aku pasang-arahkan tepat di bawah tempat tidur bayi. Posisi lampu menghadap ke atas dengan sorot cahaya lampunya mengenai tepat posisi tubuh bayi. Jarak lampu ke tubuh bayi kira-kira 60 cm. Lampu dinyalakan sepanjang waktu terutama pada bula-bulan pertama. Tatalaksana ini aku lakukan hingga Nadiyyah berumur tiga bulan. Sesudahnya, lampu sorot itu hanya dinyalakan pada saat-saat tertentu, jika dipandang perlu. Tetapi, pemberian lampu itu sangat membantu dan berguna bagi bayi pre-mature. Berangsur, kondisi kesehatannya makin bagus, dan berat badannyapun berangsur meningkat. Walaupun hingga bulan ketiga, bayi anakku memiliki berat badan terendah diantara bayi seumurnya di Pos Penimbangan Balita.

Pengalaman menariknya bahwa lampu listrik dan  pijat bayi dapat merangsang nafsu makan dan meningkatkan pertumbuhan berat badan bayi. Pada bulan keempat hingga bulan keenam, berat badan anakku naik terus, Anakku terus bertumbuh. Nadiyyah bertambah berat dan bertambah tinggi. Di bulan ke tujuh berat badan anakku menjadi tertinggi diantara bayi yang seumur di Pos Penimbangan. Bahkan secara fisik postur tubuhnya sama dengan balita yang berumur setahun di atasnya. Tidak hanya pertumbuhan fisiknya, juga perkembangan motorik, kemampuan bahasa dan kecepatan responya mengalami perkembangan yang sangat pesat.

Tiga tahun yang cemerlang
Pertumbuhan dan perkembanga Nadiyyah tergolong istimewa. Diusianya yang dini, kemampuan berbicara dan berjalan berlangsung cepat. Nadiyyah banyak tertarik pada musik, gerak ritmis dan berbicara dengan kalimat lengkap dan utuh. Bahkan Nadiyyah sering menanyakan secara kritis.tentang banyak hal.


Pernah aku mendengar percakapan isteriku denganya pada suatu waktu. Saat ketika menjemputnya pulang dari sekolah play-group. Pada usianya sekarang, seringkali sulit diajak tidur siang sepulangnya sekolah. Sehingga ibunya harus mengarahkan ceritanya sepanjang perjalanan pulangnya. Suatu siang, isteri dan anakku melewati kendaraan berat excavator yang ditinggal operatornya sedang istirahat. Kendaraan berat itu berada di tengah saluran air, yang sedang dikeruk karena mungkin  telah terjadi pendangkalan. Melihat excavator yang besar dan diam di dasar sungai yang dalam itu, tiba-tiba mengusik akal kreatif isteriku untuk mulai bercerita pada anakku. "Nadiyyah, coba lihat excavator itu, dia juga sedang bobok (tidur) siang..." Ucap isteriku memulai cerita untuk mengarahkan anakku. Agar nantinya ketika sampai di rumah, anakku juga mau tidur siang. Dengan cerita pembuka itu, isteriku berharap, anakku paling tidak merespon mengiyakan, seperti: O ya excavator bobok juga ya bu? Tetapi, subhanallah. Jawaban anakku di luar dugaan. "Apa excavator punya mata bu? Apa excavator bisa tidur?" Tanya anakku. Dan isteriku  seketika kaget campur geli dalam hati. Sejurus kemudian isteriku hanya tersenyum sendiri mengingat peristiwa yang barusaja terjadi.

Mutiaraku itu bernama Adi

Pagi itu,isteriku yang sedang memasuki umur kehamilan 40 minggu sempat mengeluh 'rembes"  Segera setelah itu, kami membawa dan memeriksakan ke bidan terdekat. Jarak dari rumah tinggal ke tempat bidan Erna, kira-kira 300 meter. Hasil pemeriksaan bidan, pada kandungan isteriku mengatakan air ketubanya sudah pecah. Kepada isteriku, bu bidan menyarankan untuk segera membawanya ke Rumah Sakit. Sejurus kemudian, kami bergegas ke RSUD Kebumen. Perjalanan ke rumah sakit, tidak terlalu jauh, kira-kira 15 menit dengan menggunakan becak.

Dalam perjalanan, pikiranku campur aduk. Sesekali aku mendengar, isteriku menghela nafas panjang. Kudekap, kedekap lagi isteriku dan hanya ini yang dapat aku lakukan. Diterpa udara pagi, mukaku terasa dingin. Dalam hati, aku berharap Allah melancarkan semua jalan untuk kelahiran anak dan juga isteriku. Tiga jam berikutnya, kira-kira jam 08.00 di RSUD Kebumen, anakku lahir. Anak pertamaku lahir.setelah menunggu kira-kira 14 bulan sejak menikah. Di ruang VK RSUD Kebumen itulah anak pertamaku memekikkan tangis pertamanya. Dia lahir pada hari minggu, tepatnya tanggal 21 Desember 1997.  Dengan berat 2,6 kilo gram, memang tidak terlalu besar, tetapi bersyukurnya dapat lahir spontan tidak terjadi penyulit selama proses persalinanya. Bu Bidan Puji, aku ingat namanya, dialah yang membantu menolong persalinan anak pertamaku. Pagi itu, Allah memberiku mutiara hidup melalui isteriku. Mutiara itu kami beri nama Adi Nugroho. Adi Nugroho, dalam bahasa jawa kuna berarti karunia yang besar. Aku memaknai kelahiran anakku sebagai pemberian Allah yang besar kepadaku. Untuk itu, sebagai amanah, aku harus menjaga dan merawatnya dengan baik. Agar anakku itu bisa tumbuh sehat, sholeh dan berguna bagi agama dan masyarakat.

·         "Nak, Bapak mohon maaf, mengasuh tanpa pengalaman"
Di hari-hari pertama kehadiran si buah hati tentulah sangat luar biasa. Terutama dalam mengurus bayi. Terutama aku sebagai bapak, blank tidak tahu harus berbuat apa-apa. Sehingga lebih banyak menunggu komando. Inilah barangkali kebodohanku sebagai seorang bapak. Aku tahunya hanya bekerja dan bekerja. Bahkan di kantorpun, aku coba kerjakan kegiatan lembur. Dengan harapan rezeki akan mengikutinya. Tetapi aku tidak tahu, bagaimana istriku dirumah dengan anakku. Hingga suatu ketika, aku melihat anakku sudah tidur, isteriku juga tidur, dari raut mukanya nampak,  lelah. Aku segera mengambil air wudlu untuk sholat. Setelah sholat, aku berdoa. Aku meminta ampun pada Allah, atas segala kesalahanku. Aku juga meminta maaf pada anak dan isteriku. "Nak, Bapak mohon maaf, mengasuhmu tanpa pengalaman. Dan aku belum bisa jadi Bapak yang baik”

Tahun-tahun pertama kehidupan Adi, anakku lebih banyak dan terasa lebih dekat dengan istriku. Waktu itu isteriku lebih banyak di rumah. Sejak menjalang kelahiran anakku yang pertama, istriku memutuskan untuk tidak memperpanjang kontrak kerja di RS Swasta di Jogjakarta tempatnya bekerja. Kami memutuskan menetap di Kebumen. Isteriku praktis kegiatannya full sebagai ibu rumah tangga. Sehingga isterikupun dapat menyempurnakan memberikan air susunya untuk anakku hingga dua tahun. Akupun bersyukur, isteriku sudah memberikan hak anak dengan sebaik-baiknya. Kondisi ini membuat kesehatan, terutama daya tahan anakku lebih baik. Anakku tumbuh dan berkembang cukup optimal. Anakku tergolong sangat aktif, dan Alhamdulillah jarang menderita sakit.

Istriku sekolah lagi: babak baru bagi Adi
Babak baru kehidupan Adi, dimulai ketika isteriku memutuskan untuk sekolah lagi. Kali ini isteriku mencoba masuk di Akademi Kebidanan ‘Aisyiyah Jogjakarta. Isteriku memiliki latar belakang pendidikan SMA swasta masehi di Kebumen; setelah lulus, masuk ke sekolah perawat RS Bethesda di Jogja, hingga bekerja di sana. Berbekal keyakinan untuk meningkatkan kualitas agama dan pendidikan yang berbasis Islam, berbagai upayapun aku dan isteriku lakukan. Dari mempersiapkan ujian tertulis, hingga persiapan ujian praktek membaca Al Qur’an. Isteriku bersemangat untuk ini. Tekadnya yang tinggi membawanya dapat menyelesaikan Kursus Cepat membaca Al Qur’an dengan metode An-Nur di komplek ruko di Gamping-Jogjakarta.

Subhanallah, pada hari pengumuman seleksi penerimaan mahasiswa baru, isteriku diterima. Diterima masuk kuliah di Perguruan Tinggi, dengan kondisi sudah mempunyai anak, memang bukan tanpa masalah. Masalah terbesarnya justru baukan persoalan akademiknya. Tetapi lebih pada persoalan pengasuhan anak. Tanpa pikir panjang aku putuskan, untuk kontrak rumah di Gamping-Jogjakarta. Dengan pertimbangan, suasana cukup tenang untuk anak dan isteriku, dekat perbelanjaan dan jalur angkutan bis kotanya mudah untuk berangkat dan pulang dari kampus.
Kamipun pindah ke Jogjakarta. Isteriku sudah mulai sibuk matrikulasi dan pengkaderan. Sementara Adi, usia 3 tahun tidak dalam pengasuhan penuh ibunya.

Adi berkembang menjadi anak dengan solidaritas tinggi
Memasuki usia sekolah dasar, Adi berkembang menjadi anak dengan solidaritas tinggi. Menonjol jiwa sosialnya terhadap kawan, serta kemampuannya untuk memimpin kelompok. Dalam prestasi pelajaran, Adi lebih berminat pada mata pelajaran non-eksakta. Aku melihat  Adi memiliki kemampuan menghafal konsep dan mengingat kejadian.

Melepas ke Pondok dengan Subhanallah
Adi telah lulus dari SDIT Al Madinah Kebumen. Tiba giliran masa pendaftaran masuk SMP. Banyak tawaran dan adanya peluang masuk di sekolah favorit di Kebumen. Sebagai orang tua, aku menyarankan agar selektif dalam memilih sekolah. Sebagai anak-anak yang beragama Islam, sebaiknya memilih sekolah yang juga bernuansa Islam. Subhanallah, Adi membenarkan, bahkan ia menyatakan keinginannya bersekolah di pondok pesantren.

Di sekolahnya, SDIT Al Madinah sering ada pembekalan bagi siswa juga program parenting bagi orang tua. Termasuk pembekalan tentang keutamaan memilih sekolah untuk anak yang bernuansa agama. Hal ini penting, seperti dikatakan Ketua MUI Riau, Prof DR H Mahdini yang dikutip Republika, karena pendidikan akhlak dan agama merupakan hal yang tidak boleh terlupakan apalagi ditinggalkan semata-mata mengejar kesuksesan duniawi. Perlu diketahui juga, demikian Mahdini, bahwa tidak semua institusi pendidikan formal mengajarkan tentang akhlak dan keagamaan. "Untuk itu, para orang tua perlu, bahkan sangat perlu agar selektif dalam memilih jenjang pendidikan untuk anak-anak. Jangan sampai salah dan menyesal di belakang hari," katanya. Jangan sampai, kata dia, demi mengejar kecerdasan duniawi, akhlak dan akidahnya menjadi terganggu dan makin berkurang.

Untuk memperoleh gambaran pendidikan di Pondok Pesantren, aku mengajak Adi, anakku, berkunjung dan mencari informasi ketiga pondok pesantren. Lokasi pertama yang aku tuju, adalah SMP Islam Terpadu Pondok pesantren Hidayatullah di Ngaglik-Sleman, Jogjakarta. Pondok pesantren ini sama seperti SDIT Al Madinah Kebumen, dikelola oleh   Hidayatullah. Beralamat di Jl.Palagan Tentara Pelajar Km. 14, 5, Candi, Ngaglik, Kec. Sleman,
Pesantren Hidayatullah Yogyakarta berlokasi di Balong –sebuah dusun kecil nan asri dengan panorama lereng Merapi- sebagai pusat kegiatannya. Di atas tanah seluas kurang lebih 1 hektar ini berdiri masjid, gedung pendidikan TPA-KB Permata Ummi, TKIT Yaa Bunayya, SDIT Hidayatullah, SMP-SMA Integral Hidayatullah, asrama anak binaan, rumah pengasuh dan dapur umum.
Sekolah bernuansa Islam yang aku tunjukkan pada anakku Adi, adalah SMPIT Al Furqan-Kutowinangun, Kebumen, yang berdiri pada tahun 2010. Bertepatan ketika aku dan anakku berkunjung, SMPIT Al Furqan Kutowinangun, Kebumen, mulai berdiri dan menerima pendaftaran. Ketika berkesempatan bertemu dengan staf sekolah, aku sempat memperoleh penjelasan dan gambaran tentang sekolah. Lembaga pendidikan yang dirintis oleh Bapak KH Mudzofir itu dimulai tahun 2002. Pada tahun 2002 Yayasan Al-Hidayah mulai merintis Play Group dan Taman Kanak-kanak Islam Terpadu, dan mendapat apresiasi yang menggembirakan dari masyarakat.  Atas desakan wali murid dan tokoh-tokoh masyarakat sekitar, pada tahun 2004 didirikanlah Sekolah Dasar Islam Terpadu AL-FURQAN.  Semenjak didirikan hingga sekarang, SDIT Al-Furqan mampu meraih prestasi yang gemilang, baik prestasi akademik maupun non akademik di Jawa Tengah, sehingga AL-FURQAN menjadi salah satu ikon Lembaga Pendidikan Islam Alternatif yang sangat diperhitungkan di Wilayah Kabupaten Kebumen.Tingginya animo masyarakat baik di lingkungan sekitar maupun dari luar kota, serta untuk menampung lulusan SDIT Al-Furqan, agar pendidikan islami yang berkelanjutan terwujud, maka pada tahun 2010 di dirikan SMP IT AL-FURQAN.

Sekolah ketiga yang aku tunjukkan pada anakku Adi, adalah Pondok Pesantren Darul Hikmah di Kutoarjo. Pondok Pesantren Modern yang dirintis oleh keluarga Bustanil Arifin itu, berlokasi di Jl. Brigjend Katamso, Gunung Tugel, Kutoarjo-Purworejo. Berdiri sejak tahun 2000. Pondok Pesantren Darul Hikmah menyelenggarakan pendidikan SMP dan SMA.
Ketika bertemu Bapak Rusmanto, yang akrab dipanggil Pak Nanang-staf pondok, aku mendapat informasi banyak tentang konsep pendidikan di Pondok Pesantren Darul Hikmah yang mengedepankan pencapaian akhlak dan pengetahuan

Mantap belajar di Pondok
Dari ketiga sekolah bernuansa islami itu, anakku berketetapan memilih bersekolah di Pondok Pesantren Darul Hikmah. Alasan anakku, disamping sistem pendidikan yang islami, letaknya tidak terlalu jauh dan transportasinya mudah, bahkan jika ditempuh dengan angkutan umum.
Hari seleksi santri barupun tiba. Aku dan seluruh keluarga, berangkat untuk mengikuti seleksi. Sistem seleksinya, ada materi yang melibatkan wawancara dengan orang tua/wali santri. Seleksi berlangsung selama lebih dari 12 jam, dimulai i jam 08.00 hingga malam. Ini adalah pengalaman yang sangat mengesankan. Bagaimana tidak? Sistem seleksi santri siswa baru diikuti oleh santri beserta keluarga, termasuk anakku terkecil, Nadiyyah, yang baru berusia enam bulan juga ikut terlibat.

Tiba giliran hari pengumuman penerimaan santri,Alhamdulillah, Adi anakku termasuk bagian kecil dari pendaftar yang diterima. Sementara itu,  aku tahu, lebih dari separoh pendaftar yang tidak diterima. Aku bersama anakku melakukan sholat berjamaah. Dalam do’a lirihku kepada Allah: “Terimakasih ya Allah, Kau telah memberi anugerah pada anakku, dan juga keluargaku. Bukakanlah pintu hikmahMu pada anakku”

Bulan-bulan pertama di pondok, merupakan pengalaman baru bagi Adi. Dengan berbagai upaya dan do’a semoga anakku dapat menyesuaikan dengan irama kehidupan santri di pondok pesantren. Dalam perkembangannya, aku melihat perubahan mendasar pada akhlak dan perilaku anakku. . Dari keterangan Adi yang aku tangkap, implementasi pendidikan akhlak di pondok pesantren modern dilakukan dengan menggunakan banyak cara,  diantaranya melalui:  (1). Keteladanan Kyai dan guru. Sikap perilaku santri di pondok, sangat tergantung dari apa yang biasa mereka lihat dari kyai dan gurunya. Seperti halnya, ketika di rumah, seorang anak pastilah akan mencontoh sikap dan perilaku ibu-bapaknya. Bagi anak-anak, orang tua merupakan madrasah pertamanya. Begitu juga, perilaku santri di pondok  (2). Pembinaan Intensif dan terus menerus. Kehidupan di pondok pesantren memungkinkan santri dan kyai/guru berinteraksi selama 24 jam. Interaksi ini dapat menjadi proses pembudayaan aturan dan norma yang efektif  (3) Pengajaran di kelas dan asrama  (4) Motivasi dan dorongan (5). Pembiasaan dengan penguatan program. (6). Reward dan Punishment.(7). Nasihat.( 8). Pendampingan melekat.( 9) Penugasan dalam organisasi. (10). Praktek langsung di tengah masyarakat (11) Penciptaan lingkungan yang kondusif. (12) Penerapan aturan dan tata tertib yang memiliki karakter tegas, manusiawi, tidak membebani, edukatif, syar’i dan bertahap.

Fokus menghadapi ujian akhir SMP
Pada tahun-tahun terakhir di SMP, aku melihat Adi anakku, sudah menikmati kehidupan di pondok pesantren. Pondok pesantren sudah merupakan tempat yang menyenangkan, sehingga membuat orang akan betah tinggal di dalamnya. Dalam konteks dunia pendidikan, kelas merupakan ruang yang sering ditempati siswa. Di sinilah siswa memperoleh ilmu, dan di sini pula siswa berinteraksi dengan guru dan siswa yang lain. Harapan­nya, seperti yang diharapkan fihak sekolah,  kelas itu dapat menjadi surga, tempat yang nyaman untuk belajar dan menambah pengetahuan sehingga siswa betah tinggal di dalam kelas. Aku sudah membuktikannya pada anakku. Dalam kesempatan libur sekolah, dua bulan sekali santri dapat pulang ke rumah, namun seringkali Adi menjalaninya lebih banyak di pondok. Baru saja sampai di rumah, sudah harus pamit pergi, karena ada kegiatan di pondok. Aktivitas dan suasana di pondok telah membawanya lebih nyaman di sana.

Mandiri di jenjang SMA
Setelah lulus SMP Pondok Pesantren Darul Hikmah, anakku Adi berkeputusan meneruskannya di SMA yang sama. Tidak seperti ketika Adi masuk SMP dulu. Masuk di SMA Pondok Pesantren Darul Hikmah hampir tanpa masalah. Tidak banyak melakukan penyesuaian, karena lingkungan belajar, pergaulan antar siswa dan para guru, sistem pendidikan dan tata aturan kehidupan pondok tidak banyak berubah. Dengan kondisi lingkungan sekolah dan kenyamanan belajarnya, di SMA Adi tumbuh lebih mandiri. Dapat mengelola sendiri kebutuhan dan aktivitas belajar, ibadah dan amaliahnya. Dapat menjadi contoh dan semangat bagi adiknya. Bahkan, Bagas adiknya, terinspirasi ingin meneruskan jenjang SMP-nya juga di Pondok Pesantren Darul Hikmah. Alhamdulillah. Kemajuan dalam prestasi maupun aktivitasnya di SMA makin menonjol. Adi aktif di organisasi OSDH-Osisnya Darul Hikmah, PMI Kabupaten Purworejo. Dari prestasi akademiknya, sejak kelas satu SMA sudah masuk 10 besar. Di kelas dua, bisa ranking satu.

Bersiap menghadapi ujian akhir SMA
Masuk di kelas tiga, dia makin serius. Adi bersiap menghadapi ujian akhir dan menyiapkan ke jenjang pendidikan berikutnya. Terbukti prestasi akademik dan kematangan pribadinya makin mantap. Terutama sejak ada penjurusan di kelas XI dan XII. Pernah suatu saat berkesempatan pulang, dia mengutarakan minatnya. Selanjutnya kamipun terlibat dialog. “Mulai semester depan, aku di kelas sudah mulai penjurusan. Menurut Bapak, aku harus mengambil jurusan IPA atau IPS ya?” pertanyaannya membuka pembicaraan. Aku menjawabnya dengan balik bertanya “Menurutmu, diantara jurusan IPA dan IPS itu, Adi menaruh minat yang mana?”. Sesaat dia diam, sepertinya dia sedang bimbang. Kemudian pandangannya mulai fokus “Menurutku, aku lebih cocok ke IPS, banyak pelajaran di jurusan itu yang menarik minatku. Tetapi jujur, rasanya jurusan IPS itu dipandang kurang keren!” Untuk meyakinkan bahwa aku mendukung pilihanya, maka aku segera menyambutnya. “Bagus itu, artinya Adi sudah memilih. Yakinlah dengan pilihanmu, Insyaallah kita akan sukses. Orang IPS yang berprestasi dan sukses banyak. Itu hanya menyangkut minat terhadap ilmu. Kalau Adi berminat dalam bidang-bidang ilmu sosial dan kemanusiaan, ya di jurusan IPS lah tempatnya!” Aku kemudian memberi motivasi kepadanya, bagaimana mudahnya seseorang melakukan sesuatu, termasuk belajar atau mencipta, jika seseorang itu didorong oleh rasa suka!

Kembali dari pondok dengan Alhamdulillah
Ini mungkin buah dari keseriusan memupuk hobi terhadap ilmu yang diminati. Selama semester XI dan XII prestasi akademiknya tergolong cemerlang. Dia selalu ranking pertama di kelasnya. Aku ingat dia menerima hadiah atas prestasinya itu dari sekolahan, juga dari KPRI Husada-yang memberikan hadiah bagi siswa dari keluarga anggota, yang meraih predikat peringkat pertama pada periode kenaikan kelas. Hingga puncaknya pada pelaksanaan kelulusan, baik dari hasil Ujian Nasional (UN) maupun Ujian Sekolah (US). Adi meraih nilai yang menggembirakan, menerima penghargaan Lulusan Terbaik Jurusan IPS!
Aku berkesempatan mendampingi anakku Adi saat menerima penghargaan itu, 22 Mei 2016; bertepatan dengan acara pelepasan santri SMA Darul Hikmah Angkatan X. Aku sempat bisikkan ketelinganya “Alhamdulillah. Allah Maha Kuasa atas segala upaya manusia, untuk itu Tetaplah semangat”

  

  

Istriku, matahariku

Tidak ada keraguan:  itu yang membuatku berhasil. Ini mungkin saat berakhirnya masa kegelapanku, ketika aku seperti menemukan setitik sinar. Setitik sinar itu tak lain adalah isteriku. Setelah lebih kurang lima tahun mencari sosok wanita idaman. 

Awalnya mengenal dari kata-kata
Awalnya aku mengenal dan memperoleh gambaran isteriku itu hanya dari kata-kata dan sebuah pas photo. Yu, demikian panggilan singkat istriku, lahir di Caruban, Adimulyo, Kebumen, pada tanggal 25 Juni 1973. Saat itu, isteriku sedang menempuh studi di Kota Jogja. Sedangkan aku, berada di kecamatan Karangnyar Kabupaten Kebumen.

Jarak tempuhnya dari tempatku tinggal menuju ke Jogja, kira-kira 2-3 jam perjalanan menggunakan angkutan bus. Dengan pertimbangan tidak ingin mengganggu studinya, aku memilih mencoba berkomunikasi melalui surat pos kilat khusus. Surat pertamaku terbalas. Hingga berlanjut surat-surat berikutnya. Akupun mulai akrab, hingga terbersit perasaan rinduku mengantarkan surat-suratku padanya. Betapa hari-hariku selanjutnya adalah memelihara perasaan menantikan balasan surat-surat dari isteriku. Perasaanku campur aduk!

Liburan itu saatnya aku melihatnya pertama kali
Suatu saat, ketika liburan, aku mencoba bersilaturahmi ke rumah isteriku. Sepertinya dadaku berdetak tidak teratur. Sedang menahan perasaan yang mengguncang dada. Sepanjang jalanku, aku terus bermunajad dalam hati. "Ya Allah jika memang ini jodohku, maka mudahkanlah aku untuk meraihnya". 

Setelah sampai di rumah, tidak ada siap-siapa, yang menerimaku adalah ibunya.  Bersyukur, diperkenankan masuk oleh ibunya, Ibu  Sur, demikian nama panggilan beberapa kali aku pernah mendengarnya. Kaku juga awalnya, aku mulai mengenalkan diri pada ibunya, juga menyampaikan beberapa informasi tentang data diri. Ya maklumlah, orang tua harus mengetahui siapa teman , sekaligus menjaga keamanan anaknya.

Sinar terangnya sampai ke hati
Sejurus kemudian, ibunya mempersilakan aku duduk, kemudian ibu masuk. Lirih aku mendengar ibunya memanggil anaknya untuk menemuiku. "Alhamdulillah, artinya aku bisa menemuinya" pikirku dalam hati, karena biasanya orang tua tidak memperkenankan anak putrinya keluar, jika situasinya tidak aman. 

Dan Subhanallah, aku beradu pandangan dengan wanita yang sekian lama aku banyak berimajinasi dan menggambarkanya lewat foto kemudian aku menghiasnya dengan kata-kata, angan dan mimpi-mimpi. Aku seperti diguyur sumur sewindu. Sejuk. Aku melihat matahari itu sangatlah dekat. Sinar terangnya sampai ke hati.

Menunggu hingga selesai studi
Meskipun pertemuan itu tidak lama, karena liburnya hanya sehari. Tetapi hubungan komunikasi itu tetap berlanjut. Walaupun harus kembali ke cara terdahulu, melalui surat, namun sepertinya aku tidak canggung lagi. Walau hanya bertemu sekali, namun rasanya lewat kata-kata aku sudah membawanya berjalan dan menempuh rute yang sangat panjang. Kami saling bercerita, dan membagi pengalaman. Walaupun, diantara kami, terutama aku  belum menyatakan perasaan satu sama lainnya. Keadaan ini berlangsung hingga istriku menyelesaikan studinya. 

Selesai studi, istriku mengambil kontrak kerja di RS swasta di Jogja-RS tempat istriku bersekolah. Kontrak kerja itu lamanya tiga tahun, jika akan diperpanjang, dapat diurus pada tahun periode kontrak selanjutnya. Melihat posisinya sudah bukan anak sekolah lagi, aku makin serius mendekatinya. Ini sesuai pesan ibunya, ketika menerimaku untuk kali pertama dan terakhir. Karena tidak lama berselang aku berkunjung, ibu Rr. Soertijah sakit hingga meninggal dunia. Ibu Surtiyah, demikian aku memanggil namanya hingga menyebutnya dalam doa-doaku. Kala itu beliau berpesan kepadaku, hubungan saat ini cukuplah saling mengenal, kecuali jika nanti sudah lulus. 

Status hubungan membuat pasang-surut
Status hubungan komunikasi dengan istriku, pernah mengalami pasang-surut. Karena masing-masing sedang meyakinkan pada fihak lainnya, serius dan tidak main-main. Hingga suatu saat, dengan segenap jiwa dan perasaanku, aku raih hatinya. Aku katakan, aku mencintainya. Aku sangat merindukannya. Pada waktu itu, aku tidak ingin tahu apa jawabanya. Yang penting, dengan seluruh keyakinan, aku sudah mengungkapkan isi hatiku padanya.

Udara sore kota Jogjapun berasa sejuk, hingga aku mengerti bahwa istriku menerimaku. Tanpa sadar, sudut-sudut mataku seperti berlinang air mata. Sebersit muncul rasa syukur, betapa Allah telah menghadirkan seorang wanita kepadaku. Sejurus kemudian, malampun turun, menyelimuti daerah Sagan Wetan-kota Jogja. Tiba saatnya, aku harus pulang, untuk kembali ke Kebumen. Malam itu, adalah malam bersejarah. Perjalanan pulang paling mengesankan dengan berbagai macam perasaan yang bercampur seiring laju bus malam Mandala jurusan Malang-Tasikmalaya.


Aku harus mengakhiri dengan meresmikannya
Hubunganku berlanjut, manun ada yang kurang nyaman. Mengapa begitu? Soalnya statusku dan juga istriku posisinya sudah "tidak muda" lagi. Sehingga aku berfikir untuk segera mengakhiri status itu dengan meminangnya. Aku segera menikah. Karena hubungan yang tidak resmi sering mendatangkan fitnah dan dapat berbahaya.

Dalam pandanganku, Islam yang sempurna telah mengatur hubungan dengan lawan jenis. Hubungan ini telah diatur dalam syariat yang berbentuk pernikahan. Pernikahan yang benar dalam islam juga bukanlah yang diawali dengan pacaran, tapi dengan mengenal karakter calon pasangan tanpa melanggar syariat. Melalui pernikahan inilah akan dirasakan percintaan yang hakiki 

Tahun pertama: masa adaptasi
Tahun-tahun pertama setelah pernikahan, merupakan masa sulit bagiku. Tahun-tahun pertama menikah merupakan tahun-tahun adaptasi dalam segala hal. Kepribadian, keluarga, saudara, lingkungan sosial, keadaan fisik rumah, kebutuhan harian dan masih banyak lagi. Meskipun sebagian orang menganggapnya sebagai masa bulan madu, menandakan romatisme, kesan akan manisnya hari-hari yang akan dilalui. Apalagi bagi pemuda dan pemudi yang sebelumnya ”berpuasa” menahan diri dari romantisme dan pacaran yang tidak halal, tidak heran jika bayangan bulan madu sedemikian menjanjikan bagi mereka.
Namun, jika itu yang kita bayangkan dan tidak mengantisipasi kenyataan, maka kita akan terkejut. Bulan madu pasti indah, namun jangan pernah lupa bahwa ini dunia fana, hanya sementara. Pernikahan, layaknya dua manusia bersatu dalam sebuah lembaga norma, akan mengalami pasang dan surutnya gelombang kehidupan. Itu pasti. Untunglah senantiasa aku ingat arti doa yang disunnahkan dibacakan untuk pengantin:
Semoga Allah berkahi kalian berdua dalam masa bahagia dan smoga Allah berkahi kalian berdua dalam masa sulit dan semoga Allah selalu himpun kalian berdua dalam kebaikan (di dunia & di Akhirat).

Dari doa yang diajarkan oleh Nabi kita SAW ini jelaslah bahwa pasangan suami istri akan mengalami masa bahagia dan juga masa sulit. Yang terpenting adalah selalu hadirnya keberkahan dalam situasi seperti apapun dan juga penting untuk selalu ”berhimpun dalam kebaikan”. Apapun masalah yang muncul dan terjadi dalam keluargaku. Aku dan istriku sepakat untuk membahas dan menyelesaikannya di “dalam rumah” untuk memperoleh jalan terbaik.
Ketika upacara dan tasyakuran sudah usai,kursi- tenda sudah digulung dan dikemasi, kerabat yang datang sudah kembali ke rumah masing-masing, kado sudah dibuka, dan aku dan istriku tinggal hanya bersama keluarga terdekat istriku, maka adaptasi babak pertamapun dimulai. Banyak yang harus aku adaptasikan, dari perbedaan latar belakang sosial ekonomi, pendidikan, perbedaan usia, budaya, interaksi sifat-sifat pribadi, hingga perbedaan ideologi maupun pandangan-pandangan dalam agama. Sebagai contoh, sebelumnya aku tidak memperhatikan detil perbedaan selera makanan, gaya bersantai hingga  sikap terhadap waktu, dan masih banyak lagi. Pendek kata,  segala hal mungkin berpotensi menjadi masalah antara suami dan istri,jika keduanya tidak saling menyesuaikan. Karena hakekatnya persatuan dua insan pasti butuh penyesuaian. Lantas, jika segala hal dapat menjadi sebab persoalan, apakah itu berarti pernikahan yang aku lalui ini merupakan suatu langkah yang salah?
Tentulah tidak. Membaca dari syari’at Islam, menikah merupakan tuntutan fitrah, sehingga betapapun ada tantangannya, tetap saja pernikahan adalah kebutuhan. Persoalan adapatasi bukan suatu hal  yang menakutkan dan harus dihandari. Tetapi munculnya masalah, persoalan atau kesulitan itu mendidik kita untuk terus belajar memperbaiki diri menjadi lebih baik. Bukankan Allah telah menjamin, bahwa dalam kesulitan itu ada kemudahan.
Pribadi yang simpel, rasional dan jujur
Istriku aku kenal sosoknya sebagai pribadi yang simpel. Berfikirnya sederhana, tidak berbelit dan suka berterus terang. Keterusterangannya kadang membuat aku kaget. Tetapi di belakang hari, aku melihat banyak manfaatnya dari keterusterangannya itu. Aku dapat pelajaran yang banyak dari sikap istriku. 

Benar yang dikatakan Qur’an, bahwa jujur itu menenteramkan. Bayangkan saja, kata isteriku ketika suatu saat membahasnya. Betapa seseorang sekali berbohong, maka selanjutnya seseorang akan berkali-kali bohong, untuk menutupi kebohongannya tadi. Ini akan meracuni jiwa. Sehingga ketika jiwa seseorang itu kacau  dan  gelisah, jangan-jangan dia sedang berbohong atau menutupi kebohongannya! Hal ini persis isi ceramah pak Kyai kondang AA Gym, yang dikutip Dr HM Harry Mulya Zein, “Bohong itu adalah penjara bagi diri manusia,” betapa tidak, kebohongan akan membuat kita selalu was was, karena takut kebohongan  kita diketahui, kita pun kembali berbohong untuk menutupi kebohongan kita itu. Dan kebohongan baru yang baru saja kita reproduksi itu akan menjadi penjara baru. Demikianlah riwayat hidup orang yang dipenuhi oleh dusta atau tidak jujur dalam bentuk apapun. Orang –orang yang tidak menjaga dirinya dari kedustaan dan ketidakjujuran tidak akan pernah tenang dan tawadu dalam hidupnya.

Pemaaf dan dermawan
Ketika suatu saat marah, kemarahannya bisa meledak-ledak. Terutama jika menyangkut hal-hal yang prinsip. Pada saat seperti ini, aku biasanya memilih diam. Tetapi jika masalahnya sudah terselesaikan, akan reda kembali.

 Isteriku termasuk pribadi yang tidak menyimpan kesalahan orang lain. Bukan pribadi yang pendendam, namun sangat pemaaf. Suka pada hal-hal sederhana dan warna-warna coklat yang mencerminkan kesederhanaan. Dalam bertindak lebih banyak menggunakan ukuran-ukuran rasional. Tulus dalam menolong orang lain tanpa tendensi atau imbalan yang bersifat menguntungkan diri pribadi. Ketulusan dalam menolong orang lain bagi istriku menimbulkan kepuasan tersendiri yang tidak bisa digantikan oleh apapun.




Budaya Kebumen: sungguh maen

Yang aku tahu, ada perbedaan mendasar antara desa tempat aku dan orang tuaku tinggal, yaitu Pekalongan dengan daerah yang aku menetap sekarang di Kebumen. Perbedaan itu sangat terasa dalam hal sosio-kultural dan orientasi budaya dan nilai hidup. Kedua hal itu bisa aku rasakan sendiri, karena bagaimanapun aku merupakan produk budaya dari orangtua, saudara dan lingkunganku. Perbedaan yang menonjol itu antara lain:

Orientasi nilai budaya. 
Dalam hal orientasi nilai budaya masyarakat, di Pekalongan sangatlah berbeda jauh dengan masyarakat di Kebumen. Dalam pandanganku, masyarakat Pekalongan memiliki orientasi hidup sebagai “kekinian”. Maknanya, menikmati hidup untuk hari ini. Sehingga segala usaha diarahkan untuk membangun hari ini. Hari-harinya penuh makna, dengan sangat  kompetitif. 

Berbeda dengan masyarakat Kebumen. Memandang hidup untuk masa depan.  Sehingga segala usaha diarahkan untuk membangun masa depan. Memaknai hari ini sebagai upaya investatif. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Dari sisi  positif, aku melihat budaya suka menabung dan arisan serta hemat.

Kelas sosial. 
Pekalongan mayoritas terdiri dari kelas buruh dan pedagang.  Dalam kehidupan sosial masyarakat, buruh dan pedagang dikenal sebagai masyarakat yang egaliter, hangat dan solider. Sementara masyarakat di Kebumen, lebih banyak terdiri dari kelas petani dan pegawai. Dalam kehidupan sosial, masyarakat petani kental sekali dengan sistem kekerabatannya, hati-hati dan sangat memegang “unggah-ungguh” dan tata krama, terutama jika bergaul dengan pegawai. Sementara masyarakat pegawai masih ada yang menganut faham premordial.

 Pelayanan sosial.
 Dalam banyak urusan banyak menyukai hal-hal yang njlimet, keteraturan dan mengikuti pola yang sudah baku. Sehingga keterkaitan budaya dan tradisi terhadap kehidupan sehari-hari di Kebumen sangatlah kuat.

 Sistem kekerabatan.
Sistem trah atau garis keturunan masih sangat terjaga. Dalam aplikasinya sistem kekerabatan ini mendorong sukses seseorang untuk menopang keberhasilan saudaranya yang lain

 Jenis makanan dan pola memasak. 
Dalam hal makanan, perbedaan itu dapat dilihat dalam rasa dan teknik penyajian. Aku terbiasa dengan makanan hangat berasa asin-pedas. Kebumen kebanyakan masak makanan sekali untuk sehari, dengan citarasa manis dan bersantan. Pada tahun-tahun pertama, aku mearasa kesulitan beradaptasi dengan makanan lokal. Beruntung ada masakan padang yang memiliki citarasa nasional, mie-bakso atau mie instan sebagai pilihan berikutnya.

Bahasa dan gaya bercakap.
Bahasa Kebumen memiliki banyak istilah-istilah lokal.Bahasa atau logat kebumen memiliki ciri khas  nada tinggi dan cenderung pendek pengucapannya dengan intonasi kuat di akhir kalimat. Mendengar gaya bercakap yang asing itu, bagiku terkesan seperti orang sedang bertengkar. Namun ternyata tidak demikian, apalagi jika diakhiri istilah-istilah lokalnya menunjukkan keakraban. Logat bahasa ini sering juga disebut sebagai ngapak.

Menghadapi perbedaan-perbedaan itu, awalnya aku merasa sendirian di tengah keramaian. Namun aku harus belajar menyesuaiakan diri dan mencoba menikmatinya. Inilah pengalaman perjalanan melintas budaya.


Bertemu dengan keluarga Sabaryanto: pintu masuk Kebumen

Bapak dan ibu Sabaryanto, yang keduanya saat ini sudah meninggal, adalah salah satu pejabat struktural di Dinas Kesehatan Kabupaten. Beliau tinggal di rumah kontrakan di Jalan Nusatenggara Kebumen, bersama isteri dan ketiga anaknya, Mafakir, Khalim dan Udin, serta seorang keponakan. Rumah tinggal miliknya ada di Kecamatan Pituruh, Kabupaten Purworejo, ditempati Ibunya. Sesekali waktu keluarga ini pulang untuk menjenguk dan melihat keadaan rumahnya.
Aku diterima hangat di keluarga ini. Memasuki rumah kontrakan itu, meskipun sempit, tapi terasa lega dan menentramkan. Kesederhanaan dan keikhlasan inilah yang membuat aku merasa “teduh”. Makanan dan minuman yang dihidangkan terasa nikmat. Hingga tidur di tempat tidur yang berdesakanpun, terasa nyenyak, hingga dapat menghilangkan rasa penat sepanjang hari perjalanan.

Bapak dan ibu Sabaryanto bagiku merupakan pintu masuk kehidupan di Kebumen. Dari pergaulan sehari-hari dengan keluarga ini, aku memperoleh banyak pelajaran hidup, makna bekerja, kemandirian, harga diri dan yang paling penting adalah kejujuran.

"Dekatlah dengan tempat kerja"
Jadi PNS adalah pilihan hidupnya. Meskipun harus hidup sederhana, namun lebih tenang dan mulia. Jadi PNS harus dapat mengikuti aturan birokrasi, bekerja sesuai tugas pokok dan fungsinya. Melayani masyarakat, dan siap menerima tugas setiap saat.
Jaga jeneng, akan mendapatkan jenang
Harga diri akan muncul ketika menghargai orang lain
Kejujuran, adalah nilai tertinggi
Ragam bahasa Kebumen: kaya  kosa  kata
Selain itu, aku juga banyak mendengar dari keluarga ini tentang sikap, perilaku, kebiasaan, adat-istiadat, hingga budaya sebagian masyarakat Kebumen. Dari logat bicara hingga istilah-istilah lokal yang sangat khas Kebumen.
Bahasa daerah Kebumen termasuk ragam bahasa ngapak.Bahasa ngapak biasanya memiliki ciri khas dalam tempo, logat “a” dan penekanan berat di akhir kalimat. Berbeda dengan bahasa masyarakat Solo, Jogja dan daerah-daerah sekitarnya, banyak menggunakan logat “o”. Masyarakat Kebumen menamakan logat bahasa dengan logat “o” itu sebagai bahasa “bandek”.  Bahasa yang halus, digunakan oleh kalangan priyayi dan kaum terpelajar. Sementara, bahasa Kebumen, dianggap sebagai bahasa masyarakat kebanyakan dan mencerminkan keakraban.
Selain itu, bahasa Kebumen memiliki padanan kosa kata yang sangat banyak. Masyarakat mengerti  istilah dalam bahasa “bandek”, tetapi mereka juga memiliki padanan kosa kata bandek itu dalam bahasa ngapak. Bahkan bisa memiliki padanan kata yang lebih banyak lagi. Di daerah Kebumen “kulon kali”-untuk menyebut daerah di sebelah barat sungai luk-ulo,  relatif lebih banyak memiliki kosa kata. Sehingga untuk  menyebut sebuah benda atau aktivitas, bisa beragam namanya.



Burung itupun lepas dari sangkarnya

Ini adalah cerita ketika aku menerima penugasan, sebagai tenaga PNS INPRES di Kabupaten Kebumen. Sekitar akhir Nopember 1987. Sebagai konsekuensi logis dari pendidikan crash-program tenaga kesehatan untuk tenaga pembantu ahli gizi. Sebuah program biesiswa  diploma yang dikelola oleh Departemen Kesehatan kala itu.

Ketika menerima ‘surat penempatan kerja’, perasaanku campur aduk. Satu sisi aku senang, karena berarti aku akan memasuki dunia kerja dan bisa mandiri, pikirku. Di sisi lain, berarti aku harus meninggalkan tempat kelahiranku. Ditambah reaksi keluarga, terutama ibuku. Walaupun tidak terungkapkan, aku dapat membaca, ibuku masih berharap lokasi penempatan tugasku itu masih bisa diubah. Tetapi dengan semangatku, aku mencoba menahan kegembiraanku, sambil meyakinkan ibuku, bahwa dimanapun bumi yang kita pijak adalah bumi Allah. Dan Allah akan mencukupkan segala apa yang manusia perlukan. Dan meskipun jauh secara geografis, tetapi dengan kuasa Allah sangatlah mudah untuk mempertemukan kembali aku dengan ibuku. Lambat laun, ibuku berubah pikiran, walaupun masih berat dengan perasaannya. Dengan semangat yang aku sembunyikan, aku berangkat dengan sepenuh keyakinan dengan senantiasa meminta doa restu ibu dan keluargaku. Ibarat burung, aku lepas dari sangkar, memasuki dunia lain.

Bagaimana tidak? Kebumen yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya, ternyata sangatlah mengejutkan. Pagi itu, Jum’at Kliwon sekitar jam 09.00 aku pamit berangkat ke Kebumen. Dengan harapan sebelum sholat Jum’at sudah sampai. Setelah mengikuti rute perjalanan bis umum, sambil sesekali bertanya pada penumpang dan sopir bus, akhirnya sampai juga di Kebumen.

Aku turun bis, hari sudah gelap. Aku lihat jam tangan, jam 17.55. Di kantor Dinas Kesehatan Kabupaten yang aku tuju sudah tutup dan tidak ada penjaga. Saat itu hujanpun turun. Aku yakin hujan itu rahmat. Dan sungguh, belum lama aku berfikir tentang hujan, rahmat Allah datang. Tiba-tiba mataku melihat dalam gelap seorang tukang becak.  Aku menerobos hujan menghampiri seorang tukang becak, di seberang jalan persis di depan kantor. Setelah bercakap secukupnya, akhirnya oleh tukang becak itu aku diantar pada salah seorang karyawan Dinas Kesehatan Kabupaten yang tinggal tidak jauh dari kantor. Dan di keluarga itu, yang belakangan aku ketahui Bapak dan Ibu Sabaryanto inilah aku memulai belajar hidup dan mengetahui banyak hal tentang Kebumen. Semoga kebaikan budi dan amal keluarga ini dapat balasan dari Allah.


Keluarga adalah cermin

Aku lahir di Pekalongan, di bulan Nopember 1966. Di sebuah dukuh pesantren, desa Pakisputih Kecamatan Kedungwuni, aku dibesarkan dan hidup bersama orangtua dan keluargaku. Aku dibesarkan dalam keluarga sederhana, ayahku seorang pegawai rendahan di sebuah kantor pemerintah. Tugasnya, yang aku tahu sehari-harinya memeriksa pintu-pintu air di sepanjang aliran sungai simbang yang menjadi wilayah kerjanya. Jika pagi buta berangkat, maka sore harinya setelah Ashar ayahku baru pulang. Hari minggu, ayahku libur. Waktunya ayah gunakan untuk menggarap sepetak sawah atau memperbaiki perabot yang rusak.

Dari lingkungan sosial pedagang
Sementara ibuku adalah seorang ibu rumah tangga yang sesekali berjualan sayuran di pasar desa. Rumah ayahku, memang tidak jauh dari pasar. Jarak dari rumah ke pasar  kurang dari 400 meter, sehingga sesekali ibuku memanfaatkan waktunya di rumah untuk berjualan di pasar. Mengikuti kebiasaan lingkungan sosial yang sebagian besar masyarakat sebagai pedagang di pasar. Setiap hari di depan rumah ayahku, ramai berlalu-lalang penjual dan pembeli ke pasar. Pasar desa di daerahku, ramai dan buka setiap hari. Setiap pagi, aku menyaksikan transaksi di pinggir jalan depan rumah, antara penjual dengan para bakul tengkulak yang akan membeli barang dan menjualnya di pasar. Barang dagangan yang diperjualbelikan, rata-rata hasil pertanian dan kebutuhan sehari-hari.

Menjelang tengah hari biasanya jual beli sudah mulai sepi. Para pedagangpun sudah mulai pada pulang, termasuk ibuku. Ibuku pulang biasanya sambil membawa untuk anak-anaknya, jajan pasar dan kebutuhan dapuruntuk masak siang hari. Sementara aku dan kakakku sudah memasak nasi di rumah.

Keluarga yang menginspirasi
Dalam keluarga, aku hidup bersama ayah, ibu, dua kakak lali-laki dan seorang kakak perempuan. Aku memiliki dua orang adik, semuanya lali-laki. Orang-orang inilah yang kemudian menjadi cermin hidupku. Bagiku, mereka sangat menginspirasikan banyak hal tentang konsep dan semangat hidup, sikap dan perilaku.
Ayahku merupakan anak dari Tasidjan,kakekku. Dalam hidupnya, ayahku adalah kerja dan kerja untuk mencapai suatu tujuan. Kehidupannya banyak menginspirasikan tentang keberanian, tekad yang bulat dan tidak setengah-setengah. "kalau kamu berani, maka jangan takut-takut. Tetapi jika kamu takut, jangan pernah berani coba-coba" Ia senantiasa bersemangat untuk terus bekerja tanpa berhitung imbalan. "Rezeki itu wujudnya harus kita raih dengan melakukan sesuatu".  Dalam keyakinan ayahku,  "Allah telah menyiapkan imbalan itu sebanding dengan upaya dan kerja keras yang kita lakukan". Demikian sepenggal pesan yang sering disampaikan pada anak-anaknya.
Ibuku yang pemeluk teguh
Ibuku, di mataku adalah seorang pemeluk teguh. Karena keteguhannya kadang terkesan "cerewet" akan sesatu hal. Tujuannya, agar anak-anaknya senantiasa percaya dan selalu ingat pada Tuhan-Sang pemberi hidup. Bagi ibuku, dimana dan kapanpun kita berada, sebenarnya tidak ada yang lepas dari kuasa Allah. "Sehingga jika kita berserah diri, maka tenteramlah jiwa kita" demikian ibuku sering membisikkan kata-kata itu padaku. 

Dalam kondisinya yang sakit, puluhan tahun lamanya. Ibuku tidak banyak beraktivitas. Lebih banyak berbaring, diam tapi tidak tidur.  Karena selama itu pula, ibuku mengalami gangguan tidur. Tetapi, dari mulutnya, bibirnya komat-kamit tidak hentinya berdzikir, melantunkan kalimat thoyibah. Dari mulutnya berucap kalimat thoyibah.
Kakak yang pembelajar
Kakak pertamaku, Bambang Cahyono, adalah seorang pembelajar. Kalau tidak disebut sebagai kutu buku. Karena memang tidak banyak buku. Tetapi dia akan menghabiskan bacaan apa saja yang ada di depannya. Tidak terkecuali mengisi buku Teka-Teki Silang. Meskipun hanya  berkesempatan mengikuti pendidikan dasar, itupun tidak sampai selesai. Ijazahnya diperoleh melalui ujian-ujian persamaan, Kakak pertamaku sangat haus informasi dan ilmu. Sering dia menyatakan:  "Tuntulah ilmu, karena ialah yang akan menyelamatkanmu" Di jaman yang maju, hanya sedikit orang yang dapat bertahan. Yaitu orang-orang yang mempunyai ilmu pengetahuan. Teruslah belajar,, maka kamu akan menjadi seperti mutiara. Mutiara itu barang bagus, yang dicari orang" Itu pesan kakakku yang terlontar ketika mengajak aku belajar.

Dan dari tangan dinginnyalah aku, kakakku dan adikku dapat menyelesaikan pendidikan yang memadai. Setiap malam, dialah yang mengarahkan kami untuk belajar. Membuat garis bidang pada halaman buku tulis, untuk tempat aku mengerjakan tugas mata pelajaran. Agar aku menulisnya tidak secara acak dan meloncat-loncat halamanya. Kakakku yang satu ini terkenal disiplin.
Kakak perempuan yang taat pada syari'at
Berpeganglah kuat pada syari’at. Demikian yang sering diucapkan kakak perempuanku, Tarmonah. Seperti ibuku,  ia sering terlihat sedih hingga berurai air mata. Dengan sesekali menyeka mata, sambil menghentikan isak tangisnya, ia sering sedih ketika memikirkan saudara-saudaranya. 

Yang  membuatnya sedih jika ada orang yang tidak melaksanakan kewajiban  dan tidak mengikuti ajaran agama. "Hidup di dunia, tidak lama. Dan akan berakhir secara tiba-tiba. Tidak pernah ada yang menduga. Amal ibadahmu yang akan menyelamatkanmu" itu kata-kata yang sering keluar dari mulutnya.
Romantis dan kuat dalam komitmen
Hangatlah dengan keluarga” Demikian filosofi kakak laki-lakiku yang kedua. Orangnya romantis. Sepertinya dalam dirinya banyak mengalir jiwa seni. Termasuk seni dan pengalamannya menikmati hidup. Mengapa begitu? Aku pernah menanyakan tentang filosofi itu. Menurutnya, karena kehidupan di luar sana, tidak selalu ramah. Bahkan teramat keras. Pada saat itulah, keluarga meanjadi tempat berteduh yang nyaman.
Adik-adikku yang konsisten.
Adikku yang konsisten memegang komitmen dalam keadaan apapun. Banyak cobaan hidup yang dihadapi dua adik lali-lakiku. Sejak dari masa sekolah, remaja, hingga ia berkeluarga. Namun, aku melihat bagaimana ia menghadapi masalah dengan senantiasa memegang teguh komitmen. Baginya kepercayaan orang lain dan kejujurannya adalah harga mati.
Itulah orang-orang dalam keluarga  yang banyak menginspirasikan hidupku, hingga suatu saat aku harus “keluar rumah”.