Sunday, May 31, 2026

BAGIAN I Mimpi yang Menolak Padam

 Ada mimpi yang mati bukan karena kita tidak menginginkannya lagi. Ia mati karena kita terlalu lelah untuk mengejarnya. Ada pula mimpi yang tidak pernah benar-benar mati. Ia mungkin disimpan bertahun-tahun. Diletakkan di sudut hati yang paling dalam. Ditutup oleh kebutuhan hidup, pekerjaan, keluarga, kegagalan, bahkan oleh keadaan yang memaksa kita menjadi orang lain dari yang pernah kita bayangkan. Namun suatu hari, mimpi itu muncul lagi. Tidak selalu dalam bentuk yang sama. Kadang ia hadir sebagai keinginan seorang ibu agar anaknya bisa sekolah lebih tinggi daripada dirinya.

Kadang berupa seorang anak muda yang ingin membuktikan bahwa masa lalu yang sulit tidak harus menentukan masa depannya. Kadang ia hadir dalam bentuk seorang ayah yang setiap hari mendorong gerobak bukan karena ia mencintai panas jalanan, tetapi karena ada anak-anak yang ingin ia antarkan menjadi manusia baik. Dan kadang mimpi datang sebagai keberanian seorang manusia yang sudah memasuki usia yang tidak lagi muda untuk berkata:

“Saya akan mulai lagi.”

Itulah mimpi-mimpi yang akan kita temui di bagian pertama buku ini. Mimpi yang tidak selalu besar jika dilihat dari luar. Tetapi sangat besar bagi orang yang menjalaninya. Sebab barangkali kita selama ini keliru memahami mimpi.

Kita sering mengira mimpi harus selalu berbentuk sesuatu yang spektakuler. Menjadi orang terkenal. Membangun perusahaan besar. Memiliki rumah mewah. Mendapatkan jabatan tinggi. Menjadi juara. Pergi ke luar negeri. Memiliki kehidupan yang membuat orang lain berkata, “Wah, hebat sekali.”

Tidak ada yang salah dengan semua itu.Tetapi setelah bertemu dengan begitu banyak orang dalam perjalanan menulis buku ini, saya mulai bertanya kembali:Apakah mimpi hanya tentang menjadi sesuatu yang besar? Atau jangan-jangan mimpi yang paling penting justru sering kali sangat sederhana? Mimpi agar anak tidak putus sekolah. Mimpi agar keluarga bisa makan dengan layak. Mimpi agar anak-anak tumbuh dengan akhlak yang baik. Mimpi memiliki rumah sendiri. Mimpi bisa bekerja dengan tangan sendiri. Mimpi agar suatu hari kehidupan sedikit lebih baik daripada hari ini. Mimpi untuk tidak menjadi beban bagi orang lain. Dan bahkan mimpi yang paling sederhana sekalipun—mimpi untuk tetap bertahan.


Saya pernah membayangkan bahwa orang yang memiliki mimpi besar pasti memiliki keberanian yang besar pula. Ternyata tidak selalu. Sering kali mereka justru takut.Takut gagal. Takut tidak cukup uang. Takut mengecewakan keluarga.Takut ditertawakan. Takut memulai dari nol. Takut usia sudah terlalu tua.Takut usaha tidak laku. Takut sekolah anak tidak bisa dibayar. Takut besok tidak tahu harus bekerja apa. Namun mereka tetap berjalan. Di situlah saya mulai memahami bahwa keberanian bukan berarti tidak memiliki rasa takut. Keberanian adalah tetap melakukan sesuatu yang kita anggap benar meskipun rasa takut itu ada.

Dan mimpi yang menolak padam bukan berarti mimpi yang selalu diperjuangkan dengan cara yang sama. Kadang jalannya harus berubah. Cita-cita bisa berubah bentuk. Strategi bisa berganti.Pekerjaan bisa berganti. Kota tempat tinggal bisa berganti. Bahkan ukuran keberhasilan bisa berubah.Tetapi sesuatu yang lebih dalam tetap tinggal: keinginan untuk membuat kehidupan menjadi lebih baik.


Mak Sri adalah salah satu orang yang membuat saya memahami hal itu. Sejak kecil, ia belajar bahwa hidup tidak selalu memberi kesempatan yang sama kepada semua orang. Ia adalah anak pertama dari enam bersaudara. Ketika masih kecil, ia mendengar kalimat yang mungkin sederhana bagi orang lain, tetapi mengubah jalan hidupnya:

“Nduk, kamu perempuan. Nggak usah sekolah tinggi-tinggi. Yang penting kamu bisa bantu adik-adikmu.”

Mungkin bagi sebagian orang, kalimat itu hanya nasihat orang tua yang hidup dalam keterbatasan. Tetapi bagi seorang anak perempuan yang sedang memiliki mimpi, kalimat itu berarti sesuatu yang lain.  Ada pintu yang harus ditutup. Ada keinginan yang harus ditunda. Ada masa depan yang harus dikorbankan. Mak Sri tidak kemudian hidup tanpa mimpi. Ia hanya mengubah siapa yang menjadi tujuan dari mimpinya.

Kalau dulu mungkin ia ingin sekolah lebih tinggi untuk dirinya sendiri, kemudian ia bekerja agar adik-adiknya bisa sekolah. Bertahun-tahun ia menjadi buruh pabrik. Gajinya tidak digunakan untuk membangun kehidupan yang mewah. Ia menggunakannya untuk kebutuhan sekolah adik-adiknya.

Dan ketika kemudian ia membangun keluarga sendiri, mimpi itu tidak berhenti. Mimpi itu berpindah kepada anak-anaknya. Hari ini, ketika anak-anaknya kuliah, kita mungkin hanya melihat hasil akhirnya. Tetapi di balik bangku kuliah itu ada seorang perempuan yang pernah menunda dirinya sendiri. Ada keringat. Ada pagi yang dimulai terlalu dini. Ada makanan yang harus dimasak. Ada uang yang harus dihitung berkali-kali. Ada kebutuhan yang harus dipilih mana yang lebih penting. Ada keinginan pribadi yang mungkin berkali-kali dikalahkan.

Dari Mak Sri saya belajar: Mimpi tidak selalu berarti mendapatkan apa yang kita inginkan untuk diri sendiri. Kadang mimpi berarti memastikan orang yang kita cintai mendapatkan kesempatan yang dulu tidak pernah kita miliki. Dan mungkin itulah salah satu bentuk cinta yang paling sunyi. Tidak banyak dibicarakan. Tidak banyak dipuji.Tetapi mengubah masa depan seseorang. 

Lalu saya bertemu dengan Sanidi.

Seorang anak muda yang hidupnya sejak kecil tidak berjalan sebagaimana mestinya. Ada keluarga yang tidak utuh. Ada orang tua yang masing-masing menjalani kehidupan baru.

Ada masa kecil yang tidak sepenuhnya mendapatkan kehangatan yang dibutuhkan seorang anak.Bahkan sejak masih duduk di sekolah dasar, ia sudah harus bekerja sebagai anak buah kapal ikan. Ketika sebagian anak seusianya mungkin sedang tidur di rumah, Sanidi justru berhadapan dengan malam, laut, angin dan dingin. Jam sepuluh malam berangkat.

Menerjang laut. Menebar jala. Membantu menarik hasil tangkapan Dan pulang ketika hari mulai siang. Upahnya tidak besar. Tetapi dari sana ia belajar sesuatu yang mungkin tidak diajarkan di ruang kelas:

Hidup harus diperjuangkan.

Bertahun-tahun kemudian, ia menemukan pekerjaan sebagai tukang kunci. Ia belajar secara autodidak. Tidak ada jalan pintas. Tidak ada sekolah khusus yang tiba-tiba membuatnya mahir. Ada alat. Ada kesalahan. Ada latihan. Ada kesabaran. Dan ada kemauan untuk terus belajar. Ketika saya mendengar kisahnya, saya tidak lagi melihat sebagai  seorang tukang kunci. Saya melihat seorang anak yang pernah mengalami kehilangan kasih sayang, tetapi memilih untuk tidak menjadikan kehilangan itu sebagai alasan untuk kehilangan masa depan.

Mimpi Sanidi mungkin belum berbentuk gelar. Belum berbentuk jabatan. Belum berbentuk sesuatu yang bisa dipamerkan. Tetapi ada satu hal yang penting: ia masih ingin menjadi manusia yang bermanfaat. Dan bukankah itu juga sebuah mimpi? Bahwa setelah hidup memperlakukan kita dengan keras, kita masih memilih untuk tidak menjadi keras kepada kehidupan.


Kemudian ada Bang Dani.

Dua puluh lima tahun berjualan bakso keliling. Kalau kita hanya melihat gerobaknya, mungkin kita akan menganggap pekerjaannya biasa saja. Gerobak. Panci. Kuah panas. Mangkuk. Jalan kampung. Suara pedagang yang berkeliling. Tetapi coba kita lihat lebih dekat. Setiap kali roda gerobaknya bergerak, ada keluarga yang ikut bergerak bersamanya. Ada anak-anak yang harus sekolah. Ada kebutuhan rumah yang harus dipenuhi. Ada pendidikan agama yang ia anggap penting. Ada keinginan agar anak-anaknya tumbuh bukan hanya pintar, tetapi juga memiliki akhlak. 

Bang Dani pernah mengalami kegagalan. Pernah pergi. Pernah bekerja di Jakarta. Pernah menikah dan mengalami perceraian. Pernah mencoba berjualan di Malang dan gagal. Kemudian ia kembali ke Kebumen dan memulai usaha bakso dari awal. 

Ia memilih  hidup dengan prinsip sederhana: sebisa mungkin tidak berutang, menunda keinginan, dan memprioritaskan pendidikan anak. Ketika saya mendengar itu, saya kembali bertanya tentang arti mimpi. Mungkin mimpi seorang ayah tidak selalu berbunyi, “Saya ingin menjadi kaya.”Kadang bunyinya jauh lebih sederhana: “Saya ingin anak-anak saya tumbuh baik.”

Ia mungkin tidak mampu memberikan semua yang anak-anaknya inginkan. Tetapi ia berusaha memberikan sesuatu yang menurutnya jauh lebih penting: pendidikan, agama, dan kemampuan menjaga diri. 

Maka selama dua puluh lima tahun ia mendorong bakso. Hari demi hari. Tahun demi tahun. Bukan karena hidupnya tidak memiliki pilihan lain. Tetapi karena dari pekerjaan itulah ia menemukan cara untuk menjaga sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri. Keluarganya. 


Dan kemudian ada Tukimin.

Sebuah nama yang mungkin tidak akan masuk dalam daftar orang-orang sukses yang sering kita baca. Usia yang tidak lagi muda. Tetapi justru pada usia ketika sebagian orang mulai berhenti mencoba, ia berani memulai dari nol. Di situlah saya menemukan bentuk lain dari mimpi. Mimpi tidak mengenal batas usia. Kita sering mengatakan, “Sudah terlambat.” Padahal terlambat menurut siapa? Ada orang yang baru menemukan keberanian ketika usianya empat puluh. Ada yang baru membangun usaha ketika usia lima puluh. Ada yang baru berani belajar ketika anak-anaknya sudah dewasa. Ada yang baru menemukan jalan hidup setelah berkali-kali tersesat.

Kita terlalu sering mengukur kehidupan menggunakan kalender. Padahal manusia tidak tumbuh dengan jadwal yang sama. Ada orang yang cepat menemukan jalannya. Ada yang membutuhkan waktu lebih panjang. Ada yang harus jatuh berkali-kali. Ada yang harus memulai dari titik yang sangat rendah. Tetapi selama seseorang masih mau mencoba, perjalanan itu belum selesai. 

Tukimin mengingatkan saya bahwa memulai dari nol bukan berarti tidak memiliki apa-apa. Kita membawa pengalaman. Membawa kegagalan. Membawa keterampilan. Membawa hubungan dengan orang lain. Membawa keyakinan. Dan yang paling penting, membawa keberanian untuk mencoba lagi. 

Empat kisah. Empat jalan. Empat kehidupan yang berbeda. Namun ada benang merah yang mengikat semuanya. Mereka tidak memiliki kehidupan yang sempurna. Mereka tidak selalu mendapatkan kesempatan yang mereka inginkan. Mereka tidak berjalan di jalan yang lurus. Tetapi mereka memiliki satu kesamaan: mereka tidak membiarkan keadaan menentukan seluruh masa depan mereka.

Keadaan boleh menentukan dari mana mereka memulai. Tetapi mereka berusaha menentukan ke mana mereka akan pergi. Dan mungkin itulah makna dari judul bagian ini: Mimpi yang Menolak Padam. Mimpi bukan sesuatu yang selalu menyala terang. Kadang ia hanya seperti bara. Kecil. Merah. Hampir tidak terlihat. Tertutup abu kehidupan. Tetapi belum mati. Satu masalah datang, bara itu mengecil. Kegagalan datang, hampir padam. Kemiskinan datang, tertutup abu. Kehilangan datang, kita bahkan mungkin lupa bahwa bara itu pernah ada. Namun suatu hari, sedikit angin datang. Sedikit harapan. Sedikit keberanian. Sedikit dukungan dari seseorang. Sedikit keberhasilan. Lalu bara itu menyala lagi. Begitulah manusia.

Kita mungkin pernah mengatakan, “Saya sudah tidak punya harapan.” Tetapi beberapa waktu kemudian kita bangun dan mencoba lagi. Kita mungkin pernah berkata, “Saya tidak sanggup.” Namun ketika melihat anak kita membutuhkan kita, entah dari mana tenaga itu datang. Kita mungkin pernah merasa cita-cita sudah terlalu jauh. Tetapi ternyata ada mimpi lain yang tumbuh dari reruntuhan mimpi lama. Dan mungkin itulah yang membuat manusia begitu menarik. Kita bisa patah tanpa benar-benar hancur. Kita bisa kecewa tanpa berhenti berharap. Kita bisa kehilangan arah tanpa kehilangan keinginan untuk pulang. 

Buku ini tidak ingin mengatakan bahwa siapa pun yang bekerja keras pasti akan mendapatkan semua yang ia inginkan. Kehidupan tidak sesederhana itu. Kerja keras tidak selalu langsung menghasilkan keberhasilan. Orang baik pun bisa mengalami kegagalan. Orang jujur pun bisa mengalami kesulitan. Orang yang sudah berusaha sekuat tenaga pun kadang tetap kalah oleh keadaan. Karena itu, kisah-kisah dalam buku ini bukanlah janji bahwa hidup akan selalu memberi hadiah kepada orang yang berjuang. 

Kisah-kisah ini menawarkan sesuatu yang lebih realistis. Bahwa kita masih memiliki pilihan tentang bagaimana kita merespons kehidupan. Ketika pintu tertutup, kita bisa mencari pintu lain. Ketika jalan berubah, kita bisa mencari arah baru. Ketika mimpi pertama tidak tercapai, kita bisa bertanya: “Apa yang masih bisa saya perjuangkan?” Ketika hidup terasa terlalu berat, kita boleh beristirahat. Menangis. Mengeluh.Mengaku bahwa kita lelah.Itu semua manusiawi.

Yang penting, jangan terlalu cepat menganggap bahwa perjalanan kita sudah selesai. Sebab bisa jadi yang kita anggap sebagai akhir hanyalah belokan.Untuk Anda yang masih muda, mungkin Anda sedang mengejar cita-cita dan merasa tertinggal. Untuk Anda yang sedang membangun keluarga, mungkin Anda sedang bertanya bagaimana memenuhi kebutuhan hari esok. Untuk Anda yang sudah memasuki usia matang, mungkin Anda merasa kesempatan terbaik telah lewat. Untuk Anda yang pernah gagal, mungkin Anda takut mencoba lagi. Untuk Anda yang sedang kehilangan pekerjaan, mungkin hari-hari terasa panjang dan penuh ketidakpastian. Untuk Anda yang sedang berjuang membiayai pendidikan anak, mungkin Anda tahu persis bagaimana rasanya menghitung uang berkali-kali.  Dan untuk siapa pun yang sedang merasa mimpinya semakin jauh, saya berharap empat kisah dalam bagian ini bisa menjadi teman.

Bukan untuk membuat Anda merasa bersalah karena belum berhasil. Bukan untuk mengatakan bahwa Anda harus selalu kuat. Tetapi untuk mengingatkan: Tidak apa-apa berjalan pelan. Tidak apa-apa mengubah rencana. Tidak apa-apa memulai kembali. Tidak apa-apa jika mimpi Anda hari ini berbeda dengan mimpi Anda sepuluh tahun lalu.

Yang penting adalah menemukan sesuatu yang layak diperjuangkan. Sesuatu yang membuat Anda bersedia bangun lagi. Mungkin pada akhirnya, pertanyaan yang paling penting bukanlah: “Seberapa besar mimpi saya?” Tetapi: “Untuk siapa dan untuk apa saya terus memperjuangkannya?”

Mak Sri menemukan jawabannya pada adik-adik dan anak-anaknya. Sanidi menemukannya dalam keinginan untuk membangun kehidupan yang lebih baik setelah masa kecil yang tidak mudah. Bang Dani menemukannya pada pendidikan dan masa depan anak-anaknya. Tukimin menemukannya pada keberanian untuk membuktikan bahwa usia bukan alasan untuk berhenti mencoba.

Dan mungkin pembaca akan menemukan jawabannya sendiri. Bisa jadi untuk keluarga. Bisa jadi untuk orang tua. Bisa jadi untuk anak. Bisa jadi untuk pasangan. Bisa jadi untuk diri sendiri. Atau mungkin untuk sebuah kehidupan sederhana yang ingin kita jalani dengan bermartabat. Sebab tidak semua mimpi harus membuat kita terkenal. Ada mimpi yang cukup membuat rumah tetap menyala. Ada mimpi yang cukup membuat seorang anak terus bersekolah. Ada mimpi yang cukup membuat seseorang bisa makan hari ini. Ada mimpi yang cukup membuat seorang ayah dan ibu tetap tersenyum. Dan ada mimpi yang hanya ingin memastikan bahwa ketika suatu hari kita menoleh ke belakang, kita bisa berkata: “Saya mungkin tidak mendapatkan semua yang saya inginkan. Tetapi saya tidak menyerah begitu saja.” 

Maka sebelum membaca empat kisah berikutnya, saya ingin mengajak Anda mengingat satu mimpi Anda sendiri. Mimpi yang pernah Anda miliki. Mungkin sekarang masih Anda perjuangkan. Mungkin pernah Anda tinggalkan. Mungkin sudah lama Anda kubur karena keadaan. Tidak perlu menjawab dengan keras. Cukup tanyakan kepada diri sendiri: Apakah mimpi itu benar-benar sudah mati, atau hanya sedang menunggu saya berani menyalakannya kembali?

Barangkali jawabannya ada di halaman-halaman berikut. Barangkali dari kisah seorang ibu yang menjaga dapurnya tetap menyala. Dari seorang anak muda yang menolak membiarkan masa lalunya menentukan masa depan. Dari seorang ayah yang selama seperempat abad mendorong gerobak demi anak-anaknya. Atau dari seseorang yang, ketika banyak orang menganggap usianya sudah cukup untuk berhenti, justru memilih berkata: “Saya akan mulai lagi.”

Karena ternyata, orang-orang hebat bukan selalu mereka yang berhasil mewujudkan semua mimpinya. Orang-orang hebat adalah mereka yang, ketika hidup berkali-kali memadamkan cahaya itu, tetap mencari cara untuk menyalakannya kembali. Dan mungkin, di suatu tempat dalam hidup kita masing-masing, ada satu mimpi yang sampai hari ini masih berbisik pelan: “Jangan menyerah dulu.”

BUKU ORANG-ORANG HEBAT: Orang Biasa yang menolak menyerah

DAFTAR ISI

PENGANTAR PENULIS

SINOPSIS

BAGIAN I  Mimpi yang Menolak Padam

Essay 1.Mak Sri menjaga Dapur yang Tidak Pernah Padam demi Mimpinya

Essay 2. Mimpi Sanidi yang Menolak Padam

Essay 3. Bang Dani: Dua Puluh Lima Tahun Mendorong Bakso, Mengantar Anak-Anak Menjadi Baik

Essay 4. Tukimin: Di Usia Pensiun Berani Memulai dari Nol

 

BAGIAN II Saat Hidup Menguji

Essay 5. Dua Wajan, Satu Mimpi Mas Rahmat Bangkit dari PHK dan Deportasi

Essay 6. Warung Kecil yang Menyelamatkan Keluarga Om Tolani

Essay 7. Pak Ansori: Berkali-kali Gagal, Tetapi Tidak Pernah Berhenti Menanam

Essay 8. Samir  Tetap Berlayar Walaupun  Laut Tak  selalu Bersahabat

Essay 9. Mbah Slamet yang Tak Pernah Mengeluh

 

BAGIAN III Bertahan untuk Orang yang Dicintai

Essay 10. Pak Musdar: Ayah yang Tak Pernah Libur dan pulang kampung

Essay 11. Pak  Qomar yang berjuang Demi Sekolah Anaknya

Essay 12. Pak Yadi  bertahan 25 tahun tetap mengayuh , walaupun jalanan sepi

Essay 13. Soleh: Bertahan Karena Ada Mereka yang Dicintai

Essay 14. Pak Mundir: Suami-Istri yang Memulai Lagi dari Nol

 

BAGIAN IV Pekerjaan yang Jarang Dipuji

Essay 15. Pak Gito Tukang ojek stasiun: menjemput penumpang , menjemput harapan

Essay 16. Pak Mitro dan Harga Sebuah Keringat sejak Pagi Buta

Essay 17. Pak Sugeng: Pagi, Segelas Kopi dan Sampah yang membiayai mimpi 

Essay 18. Orang Hebat itu bernama Pak Musliman

Essay 19. Anton: Menjaga Malam , menjaga harapan keluarganya 

 

BAGIAN V Menemukan Makna

 Essay 20. Arif: Dua kayuh, satu rumah dan sejuta harapan

Essay 21. Dimas Menemukan Makna di Balik Cita-Cita yang Tak Kesampaian

Essay 22. Kelana: Mereka yang Memilih Pulang ke Desa

Essay 23. HM Garage: Teras rumah yang mengajarkan keberanian mas Halim Tetap Jujur Ketika Semua Bisa Curang

Essay 24. Pak Ahmad:  Bahagia Meski Tidak Kaya

Essay 25. Umi dari Ampelsari: Pulang untuk tidak menyerah

REFERENSI

UCAPAN TERIMAKASIH


Tuesday, May 19, 2026

Buku NGODE DI KEBUMEN telah terbit

 Bismillah Alhamdulillah. Bertepatan dengan memperingati Hari Kebangkitan Nasional tahun 2026,  Buku catatan 40 tahun masa tugas saya  yang berjudul NGODE DI KEBUMEN: Pengalaman, belajar dan bertahan hidup di Kebumen  telah terbit. 

Link ebook:

https://play.google.com/store/books/details?id=xvDaEQAAQBAJ

Link Shopee:

https://id.shp.ee/F5XMA1Z9

Link Tokopedia:

https://tk.tokopedia.com/ZSxkFSmYH/

Link Tiktok:

https://vt.tokopedia.com/t/ZS9YShNPT1Jb1-DuKuX/

Link website Penerbit:

https://elementamedia.id/id/product/INF-12000.html

Wednesday, May 6, 2026

NGODE DI KEBUMEN: Catatan 40 tahun belajar, menikmati dan bertahan hidup di Kebumen

Jika ini memang akhir penugasan menjelang purna tugas, maka saya ingin menutupnya di Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Kebumen. Tempat yang urusannya langsung menyentuh pada hajat hidup orang banyak:  kerja, upah, keterampilan, dan harapan untuk hidup yang lebih layak.

Jalan Panjang Pengabdian

Perjalanan 39 tahun 10 bulan ini tidak dimulai di kantor yang sejuk. Awal saya bekerja sebagai tenaga Puskesmas Karanganyar yang di kenal masyarakat sebagai RS Nirmolo. Hingga berkesempatan mengemban amanah sebagai Kepala Puskesmas Kebumen III. Bekerja dari desa ke desa, saya belajar bahwa melayani rakyat artinya mendengar keluh kesah mereka dari dekat. Cukup lama saya mengabdi di Dinas Kesehatan. Di sana saya paham betul bahwa sehat adalah syarat pertama agar orang bisa bekerja. Mereka tidak mengenal "sakit", hingga ketika kondisinya sudah tidak dapat digunakan untuk bekerja, barulah bergegas untuk berobat.

Allah SWT lalu memberi amanah baru. Saya pindah tugas sebagai Sekretaris Bappeda sekaligus Kepala UPT Penanggulangan Kemiskinan yang lebih dikenal masyarakat sebagai “Rumah Harapan”. Di Rumah Harapan saya menyaksikan wajah kemiskinan yang sesungguhnya: bukan hanya soal angka statistik, tapi soal ibu yang bingung besok makan apa, soal anak yang putus sekolah karena sepatunya jebol, keluarga pasien yang tertahan pulang, karena tidak bisa bayar biaya rawat inapnya. Di tempat itu saya belajar bahwa perencanaan pembangunan sehebat apa pun tidak ada artinya jika tidak sampai ke dapur keluarga.

Selang tiga tahun, saya diamanahi memimpin Dinas Kominfo selama hampir lima tahun. Di periode inilah saya melihat betapa tipisnya batas hidup dan mati seseorang: saat pandemi Covid-19!. Kami berjibaku dengan disinformasi, memastikan jaringan komunikasi dan informasi tetap hidup agar anak-anak bisa sekolah daring, dan menyebarkan info yang benar di tengah ketakutan. Di Kominfo saya belajar bahwa informasi bisa menyelamatkan nyawa, dan keterbukaan dan akses informasi adalah kunci kepercayaan publik.

Sebelum di Disnaker, saya mengabdi selama empat tahun lebih di Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa. Blusukan dan bersilaturahmi  ke 449 desa dan 11 kelurahan, mendorong BUMDes, memastikan dana desa tepat sasaran serta ketaatan pembayaran pajak dan premi BPJS Kesehatan maupun Ketenagakerjaan. Di Dinas PMD saya makin yakin, bahwa kekuatan Kabupaten Kebumen ada di desa. Kalau desanya kuat, maka kabupaten berdaya.

Rumah Terakhir itu Bernama Disnaker

Kini saya berada di Dinas Tenaga Kerja. Strukturnya sederhana, satu Sekretariat dan dua Bidang, dengan satu UPT BLK. Tapi bebannya tidak pernah sederhana. Apalagi jika konteksnya mengentaskan kemiskinan dan pengangguran.

Bidang Penempatan Tenaga Kerja dan Transmigrasi

 Di Bidang ini Kebumen masih bertengger di 10 besar daerah pengirim Pekerja Migran Indonesia ke luar negeri di Jawa Tengah. Angka yang membanggakan sekaligus menyayat hati. Membanggakan karena devisa dan cerita sukses para pahlawan devisa. Menyayat hati karena di baliknya masih banyak persoalan: penempatan non-prosedural, dokumen palsu, hingga kerentanan terhadap perdagangan orang. Di bidang ini saya belajar bahwa mengurus penempatan bukan sekadar memperoleh stempel rekomendasi, tapi menjaga nyawa dan martabat manusia.

Bidang Pelatihan, Produktivitas dan Hubungan Industrial  

Kalau penempatan adalah “mengirim”, maka pelatihan adalah “menyiapkan”. Masalahnya, Kebumen masih sangat membutuhkan pelatihan berbasis kompetensi. Dunia industri berubah cepat, tapi keterampilan tenaga kerja kita sering tertinggal. UPT BLK menjadi harapan. Di bengkel las, ruang jahit, kelas komputer dan teknik perbaikan sepeda motor, anak-anak muda Kebumen ditempa agar tidak hanya menjadi buruh, tapi menjadi tenaga terampil yang produktif. Di bidang ini pula saya belajar bahwa hubungan industrial yang harmonis bukan soal serikat pekerja versus pengusaha, tapi soal duduk bersama agar dapur tetap ngebul.

Sregep Ngode Bareng Biyunge

Masa-masa terakhir pengabdian ini berbarengan dengan program prioritas Bupati: Sregep Ngode Bareng Biyunge. “Sregep ngode” artinya rajin bekerja, ulet mencari nafkah. “Bareng biyunge” artinya bersama ibu, simbol keluarga dan ketahanan. Program ini mengingatkan kami bahwa semua angka penempatan dan semua sertifikat pelatihan muaranya satu: agar keluarga di Kebumen bisa makan dari keringat sendiri.

Catatan Kecil yang Berarti

Ada dua catatan yang ingin saya simpan sebelum purna: Pertama, Disnaker Kebumen lolos penilaian masuk Zona Integritas menuju Wilayah Bebas dari Korupsi. Bagi kami, ini bukti bahwa integritas bisa ditegakkan, bahkan di dinas yang sering dianggap rawan. Kedua, PR besar kita masih sama: mengurangi pengiriman PMI non-skill dan memperbanyak pelatihan kompetensi. Selama tenaga kerja kita hanya mengandalkan otot, maka selamanya kita akan kirim tenaga kerja rentan. UPT BLK harus naik kelas. Hubungan industrial harus naik kelas.

PENUTUP: Akhir yang Penuh Syukur

Dari Puskesmas, Dinas Kesehatan, Bappeda dan Rumah Harapan, Kominfo di masa pandemi, PMD dengan desa-desanya, hingga Disnaker hari ini. 39 tahun saya banyak belajar oleh Kebumen tentang arti melayani. Sehingga keberadaan kita sen
antiasa bermanfaat untuk orang lain. Jika ini memang akhir penugasan saya sebagai PNS, maka saya ingin mengakhiri dengan satu pesan untuk teman-teman yang masih _sregep ngode: jabatan boleh berakhir, tapi keberpihakan pada wong cilik jangan pernah pensiun. Terima kasih Kebumen. Terima kasih untuk semua guru, kawan, dan “biyung” yang hebat, yang telah mengajari saya arti pengabdian.

Thursday, December 4, 2025

KAJORAN: membangun tradisi, trah dan merawat sejarah

Hadir menyaksikan tradisi  kirab gunungan di Desa Kajoran Karanggayam (27/07/2025), suasananya sangat hidmat dan sakral. Pagi itu, tidak hanya sesepuh desa, tapi juga pemuda-pemudi desa sudah memadati area seputar balai desa. Mereka mengenakan baju adat kejawen. Dengan nuansa warna gelap untuk kaum laki-lakinya. Sementara kaum perempuan berpakaian lengkap dengan mengenakan jarik , selendang dan kerudung bernuansa kuning kecokelatan. 

Setting tempat duduknya diatur menjadi tiga kelompok. Persis berhadapan dengan kelompok sesepuh dan pemuda desa Kajoran, ditempati sekelompok kidungan yang pelan melantunkan tembang-tembang macapat. Sementara saya diterima dan dipersilakan duduk di seberang area panggung bersama para tamu dan undangan.  Diantara para tamu itu, saya bisa melihat beberapa pejabat, tokoh politik dan rombongan dari luar Kabupaten Kebumen.

Hingga tiba saatnya kirab budaya gunungan itu diberangkatkan menuju makam, saya baru tahu kalau tamu yang hadir hampir semua merupakan keluarga atau trah keturunan dari sesepuh Desa Kajoran. Gunungan itu diberangkatkan  dengan diikuti secara berbaris rapih para ahli waris dan keturunan sesepuh Desa.


Kidungan: menceritakan sejarah hingga pesan moral

Ketika kelompok kidungan melantunkan tembang macapat terdengar syairnya  berisi sejarah awal berdirinya desa Kajoran. Disela-sela  tembang pangkur, dhandhanggula, sinom, kinanthi, mijil dan gambuh terselip petuah dan ajaran moral tentang semangat hidup dan nguri-uri adat dan budaya leluhur. Seperti yang dituturkan Sumbreng Ariyanto, sebagai Kepala sekaligus  sesepuh Desa Kajoran.

Trah Kajoran: Terawat dan berkembang 

Awal mula sejarah trah Kajoran tidak lepas dari keberadaan Eyang Lugu atau disebut sebagai Ki Danasari . Dalam kidungan pangkur dikisahkan oleh pak Kades Sumbreng sampailah perjalanan Eyang Lugu di sebuah lembah sunyi, namun berbahaya karena banyak binatang buas, penjahat dan para lelembut di sebuah Jurangjero yang dikelilingi bukit dan pegunungan. Dengan kerendahan hati dan keluhuran budi, Eyang lugu datang dan menyatu dengan masyarakat lumrah hingga dapat membangun komunitas sosial disana.

Di tembang-tembang macapat berikutnya pak Kades Sumbreng menceritakan perkembangan trah Kajoran. Melalui delapan anaknya dari dua isteri Eyang Lugu, yang kemudian dikenal sebagai Eyang Agung inilah trah Kajoran berkembang ke berbagai desa bahkan ke luar Kabupaten seperti Cilacap, Banyumas dan Purbalingga.

Eyang Agung dikisahkan memiliki dua isteri. Dari kedua istri tersebut melahirkan delapan anak. Dari istri pertama melahirkan  anak putri sulungnya bernama Nyai Wiramenggala. Disusul Nyai Trunajaya, Mbah Bogem dan Mbah Derwak Ki Ditawangsa. Dari Mbah Derwak ini kemudian melahirkan tokoh-tokoh penting yang membangun Kajoran seperti Nyi Ragajaya, Padureksa, Pasemprungan dan Kedungpane. Dari istri ke dua, melahirkan putri sulung Nyai Astrasuta yang menikah dengan Adipati Panjer, menurunkan dua anak laki-laki yaitu Astrawerdana dan Jayamenggala. Disusul  Eyang Wangsakerti, Ki Kertileksana yang menetap jauh di Desa Kutawis wilayah Kabupaten Purbalingga. Dan sebagai putri  bungsu adalah Nyi Kertijaya.

Hingga saat ini, penyelenggaraan upacara kirab gunungan setiap tahun itu, bukan sekedar melestarikan tradisi, namun juga upaya menyatukan kembali trah Kajoran yang tetsebar di mana-mana. Seperti dituturkan pak Kades Sumbreng dalam sebait suair  tembang gambuh: "Sedaya guyub rukun, sesarengan arsa amemangun, trah Kajoran dimen bisaa lestari, anjunjung para leluhur, nglampahaken ingkang ilok"

Monday, August 4, 2025

PURWAKARTA: kota yang lekat dengan sejarah masa lalunya

Menikmati pagi di Kabupaten Purwakarta, kota kecil dengan banyak keunikan. Sepanjang perjalanan  rombongan bertolak dari penginapan hingga sampai di kompleks perkantoran Setda Kabupaten (4/8/2025), kita bisa melihat kekhasan gapura gedung perkantoran, semua seragam. Bermotif ukiran dengan lekuk yang sama.


Banyak bangunan merupakan Peninggalan Belanda


Kekhasan  pada bangunan gedung dan kantor utama di Kabupaten Purwakarta kental dengan arsitektur Eropa. Keunikan ini nampak dari halaman yang luas, ornamen bangunan jembatan diatas air/kolam, adanya pilar-pilar  sebagai penyangga utama gedung, penggunaan material lokal batu, bata ekspos dan kayu jati serta adanya pajangan dokar dan becak. Meskipun bangunan itu sudah di renovasi, namun tetap mempertahankan ornamen aslinya. Seperti dituturkan pak Alit Sukandi Plt. Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Purwakarta.


Purwakarta terpatri nilai-nilai filosofi Sunda yang kuat

Filosofi Sunda yang diterapkan di Purwakarta tercermin dalam beberapa konsep dan struktur bangunan yang memiliki makna mendalam. Salah satu contohnya adalah Gapura Indung Rahayu yang memiliki arti "Ibu sebagai akar kemuliaan hidup". Konsep ini merujuk pada filosofi kesundaan "Indung Tunggul Rahayu" yang menggambarkan pentingnya peran ibu dalam kehidupan.


Memasuki gedung diorama Diorama Indung Rahayu kita disuguhi visualisasi yang memiliki makna  mendalam, dalam konteks budaya dan sejarah Sunda.  Beberapa makna yang terkandung dalam diorama tersebut paling tidak ada empat hal (1) Indung Rahayu memiliki arti "Ibu sebagai sumber keselamatan" atau "Ibu sebagai pelindung". Visualisasi ini menggambarkan peran penting ibu dalam keluarga dan masyarakat. (2) Diorama Indung Rahayu  juga menggambarkan simbol kesuburan dan kemakmuran, yang terkait dengan peran ibu sebagai sumber kehidupan. (3) Merupakan bentuk penghormatan terhadap perempuan dan peranannya dalam masyarakat, khususnya dalam konteks budaya Sunda. (4) Menjunjung nilai-nilai budaya Sunda yang kuat, seperti pentingnya keluarga, peran ibu, dan kesuburan.


Mengamati bentuk-bentuk arsitektur bangunan dan visualisasi diorama di Purwakarta, sejatinya tidak hanya menikmati karya seni, tetapi juga memiliki makna yang mendalam dalam konteks memahami budaya dan sejarah Sunda dalam kehidupan batin masyarakat Purwakarta.


Harper Purwakarta, R.716, dinihari

Wednesday, January 15, 2025

Bertemu Pekundi Tangguh di Kampung Gerabah Pejagatan


Desa Pejagatan Kecamatan Kutowinangun terdiri  empat pedukuhan yaitu; Krajan, Karunan, Kedungsumur dan Konduran. Desa ini memiliki tradisi masyarakat yang turun temurun sebagai pekundi, yakni memproduksi kerajinan gerabah.




Gerabah Pejagatan

Gerabah merupakan hasil kerajinan para pekundi berupa perkakas rumah tangga tradisional yang terbuat dari bahan dasar tanah liat dan  tuffa- pasir putih dari kali, dan air serta tanah puru-berupa lempung merah yang berfungsi sebagai pewarna merah gerabah  sebelum dibakar. Sedangkan alat-alat yang digunakan adalah peralatan tradisional berupa perbot kayu tebal, berbentuk melingkar yang dipasang laher di bagian tengahnya hingga bisa diputar dengan ujung jari kaki, damin, penggerus, kain kelambu dan batu penghalus.

Untuk menghasilkan sebuah kerajinan gerabah, melewati beberapa tahapan yang harus dilalui. Di mulai dari tahap persiapan bahan baku dan alat, tahap pembuatan mulu-adonan tanah liat yang dibentuk bulatan-bulatan, pengolahan dan  pembentukan secara manual, pengeringan, finishing bentuk, dan pembakaran manual menggunakan "tobong".

Tangguh: Bersyukur dan Menikmati proses

Menurut penuturan Muslihatun (40 th) wanita warga dukuh Kedungsumur, bersyukur dan menekuni sebagai pekundi bersama suami dan anaknya, tahapan paling krusial adalah ketika  membentuk produk gerabah secara manual. Pada tahap ini diperlukan keterpaduan proses, antara irama putaran perbot, kelenturan adonan tanah, tetesan air, gerakan jari tangan dan kejernihan fikiran! "Pikiran kita harus tenang. Pada saat fikiran atau perasaan kita tidak nyaman, gelisah atau kemrungsung-terburu-buru, tidak santai,  pembentukan adonan bisa berantakan" tuturnya menjelaskan.

Para pekundi dengan kesederhanaanya, harus tenang dan menikmati proses ketika dalam tahap pembentukan produk gerabah. Ini yang saya lihat terjadi pada  Painem, wanita pekundi sebelah rumah  Muslihatun nampak "khusuk" dengan pekerjaanya. Serius, tidak banyak merespon, ketika saya banyak bertanya.

Tantangan dan peluang

Melihat dari dekat, para pekundi bekerja, terlihat tantangan besar yang dihadapi pengrajin gerabah adalah seputar modernisasi alat/perbot, sertifikasi produk dan kapasitas produksi. Dengan perbot yang manual para pekundi sangatlah terbatas menghasilkan produk. Tentu kondisi ini juga akan mempengaruhi kapasitas produksi. Sehingga tidak bisa mencukupi kuota ketika ada pesanan dari luar dalam jumlah besar. Namun saya melihat peluang. Tidak jauh dari tempat tinggal kedua pekundi ini, diseberang jalan ada bangunan permanen Griya belajar gerabah pejagatan. Ketika saya mencoba melihat kondisinya. Semacam ruang pajang produk para pekundi, namun sepertinya kurang terawat dan jarang dimanfaatkan. Dilihat dari  lokasinya sangat strategis, lebih menyatu dengan warga pekundi dan di area samping adalah tanah lapang. Sangat berpotensi untuk dikembangkan menjadi sentra terpadu edukasi dan pengembangan ekonomi, melalui pendirian museum, pusat jual-beli dan gelar event festival seperti "grebeg gerabah pejagatan".

Tentu  upaya ini perlu effort yang serius dan banyak dukungan dari banyak fihak, terutama komunitas mudanya. Seperti diakui pejabat Pemerintahan Desa,  komunitas muda Pejagatan sudah cukup berperan dan memiliki potensi untuk dikembangkan. Sehingga ketajinan gerabah yang sudah ditekuni secara turun temurun, menjadi bisnis keluarga dan melahirkan banyak pekundi tangguh, akan tetap eksis dan berkembang di masa datang.  Menjadi sumber ekonomi yang dapat mendatangkan manfaat bagi seluruh warga Pejagatan. Wallahu a'lam.

Friday, January 10, 2025

Berharap peran lebih dari komunitas dalam melakukan edukasi Geopark Kebumen

Alisa Amelia, Mahasiswa, tinggal di Kebumen

Karya Tulis Terbaik Ketiga 
Kelas Workshop Menulis tema Geopark Kebumen 
Bappeda Kebumen, 24 September 2024

Kebumen adalah salah satu kabupaten di Jawa Tengah yang memiliki kondisi geografis yang beragam, mulai dari perbukitan, pesisir pantai, daerah geologi serta dataran rendah yang memiliki potensi pariwisata cukup tinggi. Salah satu potensi terbesar di Kebumen yang tidak dimiliki oleh kabupaten lain di Jawa Tengah adalah Geopark. Geopark Kebumen sudah diakui oleh UNESCO pada tahun 2024 sebagai UNESCO Global Geopark (UGGp). Daerah yang telah menjadi UGGp antara lain Geopark Karangsambung-Karangbolong, Geosite Watukelir, Gunung Parang dan Cangkring di bagian Kebumen Utara. 

Dengan adanya Geopark Kebumen sebagai situs geologi, diharapkan bisa menjadi sumber media pembelajaran bagi semua orang yang tertarik mempelajari batuan. Hal ini diperlukan adanya kontribusi pemerintah untuk menjalankan program ini. Di wilayah Karangsambung, sudah didirikan BRIN sebagai Badan Riset dan Inovasi Nasional. BRIN berfungsi sebagai pusat riset kebumian dan sumber penelitian bagi para ahli geologi dan mahasiswa sebagai salah satu infrastruktur yang disediakan oleh pemerintah. Di situs ini, terdapat tempat pertemuan antara lempeng Samudra Hindia dengan Benua Asia yang mengakibatkan terdapat banyak lempeng batuan beraneka jenis dan berusia jutaan tahun lalu di wilayah Geodiversitas ini. Di dalam pengelolaannya, BRIN juga bekerjasama dengan beberapa universitas, sekolah dan instansi dari berbagai kota di Indonesia untuk penelitian batuan atau kunjungan studi. 

Dalam mengembangkan Geopark Kebumen di bidang edukasi, pemerintah kabupaten Kebumen juga membentuk berbagai komunitas Geopark. Komunitas Geopark tersebut antara lain Kebumen Geopark Youth Forum dan Sekolah Bumi. Sekolah Bumi adalah komunitas berjangka pendek yang dilakukan tiap hari minggu selama enam minggu sebagai wadah pembelajaran geologi dan potensi di wilayah Kebumen yang diikuti oleh tiga puluh peserta dari beragam usia. Sedangkan Kebumen Geopark Youth Forum adalah wadah kesempatan untuk remaja berusia 16 - 30 tahun dengan tujuan menyadarkan masyarakat tentang pentingnya memanfaatkan sumber daya alam dan budaya secara bijak berdasarkan prinsip geopark. Kebumen Geopark Youth Forum sudah melakukan banyak kegiatan, antara lain geopark goes to school, edukasi dan penanaman mangrove, webinar tentang potensi bencana alam di kabupaten Kebumen dan kegiatan lainnya. Kegiatan dalam komunitas ini bertujuan meningkatkan skill para anggotanya dan memberikan edukasi kepada masyarakat, pelajar dan khalayak luas pengenalan tentang Geopark Kebumen. 

Geopark Kebumen tidak hanya sebatas batuan, tetapi terdapat banyak potensi daerah di Kebumen. Potensi tersebut antara lain Mata Air Panas Krakal yang dipercaya bisa menyembuhkan berbagai penyakit kulit. Air panas ini berasal dari patahan dalam serta pengaruh gradian geotermal, dengan kandungan sulfur rendah dan tinggi garam. Sedangkan keragaman alam meliputi Hutan Pager Jawa, kelapa genjah entok, jambu kristal, sapi PO dan hutan Mangrove. Keragaman budaya dan kerajinan yang dimiliki oleh kabupaten Kebumen adalah tari Cepetan, anyaman pandan, kerajinan bambu, genteng Soka dan batik Tanuraksan. Dengan banyaknya potensi yang dimiliki oleh kabupaten Kebumen dan telah menjadi  UNESCO Global Geopark (UGGp) diharapkan bisa menjadi tujuan eduwisata bagi pelajar, mahasiswa maupun wisatawan dari berbagai kota di Indonesia maupun mancanegara. Sebagai media pembelajaran mengenai geosite, kekayaan alam dan budaya di kabupaten Kebumen.

Diperlukan strategi edukasi berkelanjutan untuk melestarikan Geopark Kebumen

Binti Murtaziqoh, Mahasiswa tinggal di Kebumen

Karya Tulis Terbaik Kedua 
Kelas Workshop Menulis tema Geopark Kebumen 
Bappeda Kebumen, 24 September 2024

Setelah Geopark Kebumen resmi diakui UNESCO sebagai Geopark Dunia, langkah yang harus kita ambil selanjutnya adalah dengan menjaga keberlanjutannya dengan pendekatan yang terencana dan berkelanjutan terutama melalui pendidikan. Pengakuan ini memberikan peluang besar untuk mempromosikan Geopark Kebumen ke tingkat internasional, namun juga membawa tanggung jawab yang besar untuk memastikan kelestarian alam dan budaya yang ada di dalamnya. Melalui pendekatan pola diseminasi, advokasi, mitigasi, dan konservas, kita dapat menjaga Geopark Kebumen agar tetap lestari dan bermanfaat bagi generasi mendatang. Pengakuan ini bukan sekadar kebanggaan, namun juga sebuah tantangan untuk mengelola dan melestarikan kekayaan alam Kebumen secara bijaksana.

Sebagai langkah awal yang perlu dilakukan adalah memastikan masyarakat baik lokal maupun pengunjung, memahami pentingnya Geopark Kebumen. Hal ini bisa dilakukan melalui berbagai program edukasi mulai dari sekolah-sekolah hingga promosi atau kampanye di media sosial. Informasi harus terus disebarluaskan agar kesadaran masyarakat juga terus meningkat. Semakin cepat program edukasi ini dimulai, maka semakin baik dampaknya terhadap kesadaran publik. Selain itu, pengakuan UNESCO ini harus menjadi momentum awal untuk menanamkan rasa memiliki dan tanggung jawab terhadap geopark baik di kalangan anak-anak sekolah maupun masyarakat umum.

     Kita dapat memulai dari komunitas lokal yang ada di sekitar Geopark Kebumen. Masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan ini memegang peran penting sebagai penjaga pertama wilayah Geopark Kebumen. Mereka harus diberdayakan dan diberikan pemahaman yang mendalam mengenai cara menjaga keseimbangan antara pelestarian alam dan pengembangan pariwisata. Selain di masyarakat lokal program edukasi dan advokasi juga harus menyasar ke sekolah-sekolah, universitas, serta pusat informasi di Kebumen agar lebih banyak orang yang tau dan memahami nilai Geopark Kebumen. Kolaborasi antara pemerintah daerah, lembaga pendidikan, dan organisasi lokal sangat penting untuk mewujudkan program melestarikan Geoparak Kebumen.

     Kenapa hal ini begitu penting? Karena pengakuan sebagai geopark dunia tidak hanya membawa kehormatan dan perhatian internasional, tetapi juga membuka peluang besar bagi peningkatan sektor pariwisata serta pertumbuhan ekonomi di Kebumen. Dengan status ini, Geopark Kebumen berpotensi menarik lebih banyak wisatawan, baik domestik maupun mancanegara yang pada gilirannya dapat meningkatkan pendapatan masyarakat lokal dan memajukan infrastruktur wilayah. Namun, tanpa adanya pengelolaan yang tepat dan strategi yang terukur status tersebut juga bisa menjadi ancaman serius bagi kelestarian alam jika terjadi eksploitasi berlebihan dan tidak terkendali yang akan merusak ekosistem unik dan keseimbangan lingkungan di kawasan tersebut. Oleh karena itu, peran edukasi sangat krusial dalam memastikan bahwa baik masyarakat lokal maupun wisatawan memahami nilai penting dari geopark ini, sehingga mereka lebih menghargai, menjaga, dan terlibat dalam upaya pelestarian. Edukasi yang berkelanjutan tidak hanya akan mengajarkan pentingnya menjaga lingkungan tetapi juga akan mendorong partisipasi aktif semua pihak dalam melindungi warisan alam ini agar tetap lestari untuk generasi mendatang.

     Contoh nyata bisa kita lihat dari Geopark Batur yang ada di Bali, di mana masyarakat lokal dilibatkan secara aktif dalam program pelatihan sebagai pemandu wisata serta pelindung alam. Hasilnya, masyarakat tidak hanya mendapatkan manfaat ekonomi dari wisatawan, tetapi juga ikut serta dalam menjaga lingkungan. Di Geopark Kebumen, pendekatan serupa bisa diterapkan dengan melibatkan masyarakat lokal dalam pelatihan terkait konservasi alam dan budaya. Selain itu, Geopark Gunung Sewu telah sukses melibatkan masyarakat dalam mitigasi bencana seperti longsor, sebuah langkah yang relevan mengingat kondisi geologi di Kebumen yang juga rawan bencana.

     Kita dapat memastikan bahwa Geopark Kebumen akan tetap lestari dan berkelanjutan dengan menerapkan strategi yang tepat. Sosialisasi dan dukungan berperan penting dalam meningkatkan kesadaran masyarakat, sementara mitigasi diperlukan untuk mengurangi risiko kerusakan lingkungan. Konservasi menjadi langkah penting untuk menjamin kelestarian Geopark Kebumen. Harapannya dengan partisipasi aktif dari masyarakat lokal, dukungan kebijakan pemerintah, serta kerja sama dari berbagai pihak, Geopark Kebumen dapat menjadi contoh geopark yang dikelola secara baik, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di dunia internasional. Selain menjaga kelestarian alam dan warisan budaya, pengelolaan yang baik ini juga berpotensi membuka peluang bagi pengembangan ekonomi dan pendidikan yang lebih luas bagi masyarakat sekitar.



Melalui pemanfaatan kawasan geopark menjadi daerah swasembada pangan untuk mengatasi kemiskinan di Kebumen


Ariffiawan, PNS tinggal di Kebumen

Karya Tulis Terbaik Pertama 
Kelas Workshop Menulis tema Geopark Kebumen 
Bappeda Kebumen, 24 September 2024


Kabupaten Kebumen menempati urutan kpertama sebagai kabupaten dengan prosentase penduduk miskin terbanyak di Provinsi Jawa Tengah. Komponen penentu besarnya prosentase jumlah penduduk miskin adalah distribusi pengeluaran perkapita antar golongan pendapatan dan tingginya garis kemiskinan. Data sementara angka pengeluaran perkapita penduduk dari Badan Pusat Statistik menunjukkan masih ada Kabupaten Lain yang angka pengeluaran perkapita penduduk lebih rendah dari Kabupaten Kebumen. Di sisi lain pendapatan perkapita penduduk Kabupaten Kebumen juga bukanlah yang terendah di Jawa Tengah. 

Mencermati data kemiskinan di Kebumen

Garis kemiskinan adalah jumlah rupiah minimal yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan pokok makanan dan non-makanan per hari. Garis kemiskinan digunakan sebagai alat ekonomi untuk mengukur tingkat kemiskinan suatu negara /wilayah dan mempertimbangkan kebijakan untuk menanggulanginya. Apabila dilihat lebih detail bahwa ternyata garis kemiskinan yang ditetapkan oleh Badan Pusat Statistik di Kabupaten Kebumen jauh lebih tinggi dari beberapa kabupaten lain. Artinya seseorang dengan pendapatan yang sama akan dikatakan miskin di Kabupaten Kebumen namun tidak miskin di Kabupaten lain karena biaya hidup bagi penduduk di Kabupaten Kebumen dianggap lebih mahal dari Kabupaten lain. 

Data kemiskinan di Jawa Tengah Tahun 2024 yang diterbitkan BPS menunjukkan bahwa garis kemiskinan di Kabupaten Kebumen sebesar Rp 471.824,- dengan prosentase penduduk miskin 15,71 %. Membandingkan dengan Kabupaten Magelang yang berada di peringkat 20 garis kemiskinan ditetapkan hanya Rp 431.289,- dengan prosentase penduduk miskin 10, 83 %. Data Kabupaten Temanggung yang menempati urutan 12 angka garis kemiskinan sebesar Rp 416.006,- dengan prosentase 8,67 %. Penulis belum mendapat referensi seberapa penurunan angka kemiskinan untuk setiap ribu rupiah penurunan garis kemiskinan, namun penulis memiliki keyakinan bahwa setiap ribu rupiah penurunan garis kemiskinan akan mengurangi prosentase penduduk miskin setelah memperhatikan nilai P1 dan P2 di Kabupaten Kebumen. 

Strategi pengentasan kemiskinan

Mendasari telaah tersebut Upaya penurunan jumlah penduduk miskin dapat dilakukan dari dua sisi sekaligus. Pertama dengan menaikan pendapatan perkapita yang tentu akan berbanding lurus dengan pengeluaran perkapita. Yang kedua dengan menekan angka garis kemiskinan dengan berbagai kebijakan untuk menekan penurunan harga kebutuhan bahan pokok. 

Dua aspek ini bisa dilaksanakan secara simultan dalam satu kata sederhana yang disebut “swasembada”. Artinya apabila Kabupaten Kebumen berubah dari kabupaten penerima produk menjadi Kabupaten Penghasil yang dapat mencukupi kebutuhannya sendiri maka sektor pendapatan meningkat karena produksi yang digenjot sekaligus sektor pengeluaran turun karena harga produk menjadi lebih murah. Saat ini harga bahan pokok dikabupaten Kebumen dianggap lebih mahal dari kabupaten lain karena merupakan produk yang didatangkan dari Kabupaten lain. 

Menjadikan Kebumen sebagai daerah swasembada pangan

Pengakuan Kabupaten Kebumen sebagai Unesco Global Geopark (UGG) bisa dijadikan momen kesempatan emas membangunkan macan tidur. Potensi luar biasa sepanjang Karangbolong-Karangsambung yang selama ini belum digarap secara optimal bisa dirintis mengingat konsekuensi pengakuan UGG yang harus memberikan dampak ekonomi sekaligus tetap menjaga kelestarian. Yang paling selaras dengan aspek ekonomi dan ekologi adalah sektor pertanian dan pariwisata. Apabila dibandingkan dengan Kawasan perbukitan dengan Kabupaten Lain semisal Magelang, Temanggung, dan Wonosobo terlihat cukup kontras terkait pemanfaatan lahan miring di Kabupaten Kebumen. Lahan tersebut gersang dan hanya berupa sawah tadah hujan. Pemenfaatan masih sangat terbatas untuk padi sekali tanam dan tembakau yang juga terbatas. Kalopun ada yang mendapatkan mata air jumlahnya tidak sebanding dengan luasan lahan yang tersedia. Kendala ketersediaan air pada saat kemarau yang menyebabkan tidak dapat berproduksi sepanjang tahun karena petani membiarkan saja lahannya kering tidak ditanami. Agak berbeda memang untuk sedikit lahan yang ada di Desa Sadang Wetan dan Kawasan Karst Karangbolong. Di Sadang Wetan terdapat Dam di hulu sungai Lukulo yang dialirkan ke sawah-sawah. Sedangkan Kawasan karangbolong keutara terdapat banyak mata air abadi yang dapat dialirkan sepanjang tahun kerumah-rumah dan ladang. Sehingga dikedua kawasan tersebut pertanian bisa berjalan sepanjang tahun. Namun luasanya masih sangat kecil dibandingkan lahan yang tidak mendapatkan air.

Mengatasi masalah ketersediaan air di area perbukitan memang tidak mudah. Beberapa Langkah telah ditempuh pemerintah dengan pembuatan saluran irigasi maupun Pembangunan embung. Namun pembangunan embung yang sudah dibuat di beberapa desa tidak efektif karena embung hanya bisa menampung air hujan yang jumlahnya terbatas dan tidak dapat diandalkan untuk mencukupi kebutuhan di musim kemarau. Ketiadaan saluran masuk (inlet) embung menyebabkan air yang ditampung sepanjang musim penghujan akan habis dalam beberapa hari saja. Pembangunan saluran irigasi baik yang dilakukan Dinas Pekerjaan Umum maupun Dinas Kehutanan yang memangku wilayah hutan juga hanya memanfaatkan air sepanjang musim penghujan. Irigasi yang ada otomatis kering bahkan sebelum musim kemarau masuk. 

Sepertinya kita perlu belajar dari Kabupaten Lain dalam hal penyediaan air dikawasan perbukitan. Kabupaten tetangga yang berhasil memanfaatkan bukit-bukit menjadi lahan pertanian yang subur dan dapat menghasilkan sayur mayur sepanjang tahun. Kabupaten Banyumas pernah melakukan eksplorasi banyak titik sumur dalam di perbukitan. Sumur-sumur yang disebut Jaringan Air Tanah (JIAT) yang kedalamnya bahkan lebih dari 200 meter. Sebagai informasi bahwa pelaksana pekerjaan pembuatan sumur dalam tersebut merupakan penyedia yang berasal dari Kebumen. Maka perlu dilihat lagi seberapa efektif Pembangunan sumur JIAT disana dan apakah dapat menyediakan kebutuhan irigasi disana. Irigasi dimaksud tidak harus berupa air yang mengalir secara berlimpah kesawah-sawah. Namun ketersediaan air di area sekitar sawah/ ladang juga sudah cukup sehingga petani dapat mengakses dengan pipa-pipa atau bahkan jika perlu menyediakan mesin sedot pompa air.

Memanfaatkan potensi kawasan Geopark

Penyediaan air ini memang tidak murah sehingga pemanfaatanya juga harus tepat dengan pilihan produksi pertanian yang ekonomis. Perilaku petani juga harus diubah dari yang hanya pasrah menanam padi mengikuti musim menjadi pejuang yang siap berinvestasi menanam komoditas hortikultura diluar tembakau. Sebagai perbandingan petani lahan tadah hujan di Kawasan urutsewu menanam padi hanya saat musim hujan. Sedangkan saat kemarau mereka menanam produk hortikultura yang tidak membutuhkan air dalam jumlah banyak namun bernilai ekonomis karena pengeluaran mereka untuk operasional mesin sedot air, pupuk, dan obat-obatan juga bertambah. Sehingga wajar apabila saat ini kawasan urut sewu yang tadinya lahan pasir tandus berubah menjadi hijau dengan komoditas sayur-mayur, cabai, buah-buahan, jagung dan kacang tanah. Jika lahan pasir saja bisa berproduksi dengan adanya air tanah maka kami yakin lahan tanah diperbukitan juga bisa menghasilkan yang besar kemungkinan Kabupaten Kebumen menjadi swasembada produk hortikultura dan jawara di Jawa  Tengah.

Tuesday, September 24, 2024

Inilah tiga karya tulis terbaik dari Workshop Menulis tema pasca penetapan Geopark Kebumen menjadi UNESCO Global Geopark


Ketika permintaan untuk sharing bersama pegiat muda di Bappeda Kebumen saya sanggupi, akhirnya terselenggaralah workshop ini. Workshop menulis artikel di internet bagi pemula. Temanya dipilih yang sedang ringan, bebas tetapi aktual. Kebetulan belum lama waktunya, Geopark Kebumen dinyatakan resmi oleh UNESCO sebagai Unesco Global Geopark (UGGp). Alih-alih menjaring aspirasi kaum muda, apa yang harus kita perbuat setelah Geopark Kebumen menyandang predikat UGGp ini. Workshop berlangsung selama sehari (24/9/2024) di Ruang Rapat Bappeda Kebumen diikuti beberapa peserta baik pejabat, mahasiswa maupun  masyarakat umum.

Workshop secara garis besar terdiri dari tiga sesi, yaitu overview kegiatan menulis, pengantar tema prestasi pencapaian Geopark Kebumen menjadi geopark tingkat dunia dan praktek menulis. Workshop dibuka dengan sharing bagaimana konsep menulis, menulis artikel di internet, dan beberapa tips dan trik membuat tulisan yang enak dibaca. 

Di bagian mengantarkan tema penulisan tentang tema Geopark Kebumen, banyak diskusi dari peserta. Pada kenyataannya konsep dan keberadaan Geopark Kebumen belum secara menyeluruh dimengerti oleh masyarakat luas. Dari sinilah kemudian tema penulisan ini ingin menggali aspirasi para penulis peserta workshop untuk menuliskan ide apa yang harus dilakukan dalam rangka menjaga, merawat dan mengembangakan Geopark Kebumen di masa yang akan datang.

Workshop penulisan diakhiri dengan praktek menulis. Setelah dalam waktu kurang lebih  dua jam, selepas Ashar kegiatan ini diakhiri. Dengan kesepakatan karya tulis dikirim secara pribadi. Selanjutnya setelah memeriksa hasil dari karya tulis peserta yang masuk, diperoleh tiga karya terbaik. Penetapan karya tulis ini lebah banyak karena pertimbangan aspek penulisan, kesesuaian tema dan orisinalitas.

Ketiga karya tulis terbaik dari peserta workshop tersebut adalah:

  1. Melalui pemanfaatan kawasan geopark  menjadi daerah swasembada pangan untuk mengatasi kemiskinan di Kebumen karya Ariffiawan, PNS tinggal di Kebumen
  2. Diperlukan strategi edukasi berkelanjutan untuk melestarikan Geopark Kebumen karya Binti Murtaziqoh, Mahasiswa tinggal di Kebumen
  3. Berharap peran lebih dari komunitas   dalam melakukan edukasi Geopark Kebumen karya Alisa Amelia, Mahasiswa, tinggal di Kebumen



Tuesday, September 17, 2024

Tips praktis menulis artikel bagi pemula: "Geopark Kebumen resmi menjadi Geopark Dunia: apa upaya kita selanjutnya?"

Bagi  pemula, menulis artikel seringkali menjadi masalah. Banyak persoalan yang sering muncul, seperti judul yang tidak sesuai dengan isi tulisan, bingung harus menulis apa pada kalimat pertama, melebar di awal bahkan tidak bisa menemukan fokus. Namun tidak demikian bagi yang terbiasa menulis. Seorang penulis biasanya memiliki pola atau struktur tulisan. Sehingga bangunan tulisan itu logis dan runtut dan enak dibaca. 

Secara garis besar sebuah tulisan itu mengikuti pola: pendahuluan, batang tubuh atau isi tulisan dan penutup. Namun persoalan terbesarnya adalah bagaimana menempatkan ketiganya tersebut secara proporsional sejak dari menulis judul, pendahuluan, isi dan panjang tulisan, diksi dan gaya bahasa.Untuk ini saya akan berbagi beberapa tips praktis menulis artikel di media massa maupun di website.

Judul menarik dan mencerminkan isi

Untuk memperoleh judul yang menarik dan mencerminkan isi dapat dilakukan setelah penulis berhasuil menyelesaikan sebagaian atau seluruh tulisan. Sehingga tidak usah berfikir bahwa menulis judul itu harus di awal sebelum menulis. Aspek lain yang perlu dipertimbangkan adalah panjang kata dalam membuat judul tulisan. Sebaiknya sebuah judul tulisan memuat kata tidak lebih dari 12 kata. Judul tulisan yang terlalu panjang menjadi kurang menarik dan membosankan.

Isi yang tidak terlalu panjang

Selain judul, isi atau batang tubuh tulisan juga tidak  terlalu panjang. Berkisar  6-12  paragraf. Jika terlalu panjang, kebiasaan para pembaca  website, mereka mudah berpindah ke tulisan lain. Namun jika tulisan kita akan membahas suatu topik yang luas, dapat dilakukan dengan membuat sub judul.

Kalimat lengkap dan bahasa yang mudah dimengerti

Salah satu tujuan menulis adalah menuangkan gagasan agar diterima mudah oleh pembaca. Oleh karena itu gunakan kalimat lengkap, pola sederhana dan menggunakan bahasa yang mudah dimengerti. Kalimat lengkap secara aturan tata bahasa harus mengandung subyek. Kalimat sederhana cukup mengandung subyek-predikat, subyek-obyek atau subyek-keterangan. Bukan merupakan kalimat majemuk. Kalimat yang panjang dapat mengaburkan makna dan sulit dimengerti

Paragraf yang dinamis anti macet

Tulisan sejatinya tersusun oleh paragraf yang saling terkait, saling menjelaskan. Terdiri dari kalimat sederhana yang terangkai dengan pilihan kata yang tepat penggunaannya. Berikut ini ada beberapa tips yang dapat digunakan  untuk membangun paragraf.

  • Kembangkan paragraf dengan pola D-A-M-K (Duduk perkara-Analisa-Misal-Kesimpulan)
  • Dengan pola D-A-M-K ini mulailah tulisan kita  dengan pernyataan atau pandangan/sikap  penulis tentang sesuatu persoalan, dengan menggunakan kalimat lengkap. Jika terdapat banyak pandangan, pilih yang sangat penting.
  • Jelaskan lebih rinci pandangan kita tersebut dari aspek Apa, Kapan, Dimana Bagaimana terjadinya dan Mengapa bisa terjadi,  Penjelasan ini biasa disebut dengan 5W 1H
  • Setelah cukup kita menjelaskan pandangan kita, jangan lupa berikan contoh riil atau data yang mendukung. Tujuannya untuk meyakinkan pandangan kita kepada pembaca. Suatu persoalan yang didukung data nampak menjadi riil atau nyata.
  • Buatlah ringkasan dan kesimpulan,  atau saran  dan harapan

Geopark kelas dunia: apa yang harus kita perbuat?

Keberadaanya harus dipertahankan, agar geopark bermanfaat bagi masyarakat yang hidup di dalamnya. Untuk itu, Geopark Kebumen harus (1) menjaga kelestarian geopark dari kerusakan atau pengrusakan (konservasi)  (2) memanfaatkan geopark sebagai media pembelajaran atau sumber belajar, sehingga menumbuhkan kesadaran untuk memanfaatkanya secara bijak (edukasi) (3) mengolah dan mengembangkan geopark menjadi bernilai ekonomi yang berkelanjutan (ekonomi)

Langkah-langkah menulis:
  1. Pilih satu diantara tiga tema di atas, bisa nemilih tema konservasi atau edukasi atau ekonomi berkelanjutan
  2. Kembanglan dengan poila D-A-M-K
  3. Mulailah dengan menuliskan pandangan/sikap  kita tentang apa yang harus kita perbuat, setelah Geopark Kebumen resmi diakui UNESCO sebagai Geopark Dunia dengan menggunakan kalimat lengkap. 
  4. Jelaskan lebih rinci pandangan kita tersebut dari aspek Apa, Kapan, Dimana Bagaimana terjadinya dan Mengapa bisa terjadi,  
  5. Setelah cukup kita menjelaskan pandangan kita, jangan lupa berikan contoh riil atau data yang mendukung. Tujuannya untuk meyakinkan pandangan kita kepada pembaca. tentang ide sesuatu yang harus kita perbuat terhadap Geopark kita.
  6. Buatlah ringkasan dan kesimpulan,  atau saran  dan harapan
  7. Masya Allah. Alhamdulillah. Kita sudah berhasil menuangkan ide kita bagaimana menyelamatkan keberadaan Geopark Kebumen sebagai Geopark kelas Dunia!

Monday, August 19, 2024

Menikmati santai Forum konsultasi publik KPPN Purworejo di taman matoa

Menghadiri undangan rapat di KPPN Purworejo, identik serius membahas evaluasi capaian  APBN Desa. Namun tidak untuk kali ini. Pagi itu saya datang terhitung gasik, panitia pun ada yang masih menyiapkan beberapa properti rapat. Tamu tidak diterima di aula, namun rapat kali ini diselenggarakan di luar ruangan kantor. Mengambil tempat  di sebuah lokasi yang hanya beberapa meter saja dari tempat parkir. 

Taman Matoa!

Di lokasi ini tumbuh sebuah pohon matoa. Pohon asli Papua itu, dari penuturan Kepala KPPN, Ibu Yessy Silvia Maharini,  ditanam sudah lebih dari 20 tahun lalu. Kini pohon itu sudah tumbuh besar, bahkan besarnya lebih dari sedekap orang dewasa. Tinggi batang pohonnya kurang lebih 20 meter. Di habitat aslinya, pohon matoa (Pometia Pinnata) dapat tumbuh mencapai tinggi 50 meter dengan akar  tunggang. Sedangkan cabang dan ranting matoa  tumbuh miring hingga mendatar, sehingga membentuk pohon ini menjadi rindang . Oleh karena itu, sangatlah cocok buat lokasi penyelenggaraan rapat outdoor, dengan payung pohon matoa. Apalagi saat ini, pohon matoa di KPPN Purworejo sedang berbuah, sehingga semakin sedap dipandang mata. Buah matoa berbentuk bulat lonjong sebesar telur puyuh. Kulit luar buah (cangkang) licin berwarna kuning kehijauan ketika muda dan pada saat masak berwarna cokelat kemerahan.

Peningkatan Kualitas

Forum Konsultasi Publik KPPN Purworejo kali ini dilaksanakan dalam rangka mewujudkan pelayanan yang  berkualitas, cepat, mudah, akuntabel, partisipatif  dan berkeadilan yang inklusif. Terhadap tema kualitas pelayanan, Kepala KPPN Ibu Yessy mengharapkan adanya opini dan masukan dari pengguna layanan  dalam upaya peningkatan kualitas layanan maupun implementasi pengelolaan digitalisasi pembayaran pelayanan perbendaharaan untuk disabilitas, dalam keadaan khusus atau bencana, mendorong kearifan lokal serta kebutuhan informasi publik yang diperlukan.Pada kesempatan itu juga dilakukan paparan dan  komunikasi dialogis dengan unsur pengguna seperti sekolah, desa, organisasi kemasyarakatan dan budaya, difabilitas, kebencanaan, pers dan Satker.

Saat giliran saya menyampaikan tanggapan, kesempatan saya memberikan masukan kepada KPPN dalam kesiapsiagaan menghadapi keadaan darurat dan kebutuhan informasi publik. Dalam hal kesiapsiagaan keadaan darurat diperlukan redundancy system untuk penyiapan dua atau lebih sumberdaya yang aktif sekaligus sebagai  back up ketika terjadi keadaan darurat seperti penyimpanan data, sumber listrik, tim help desk, provider layanan internet. Dalam hal kebutuhan informasi publik yang dibutuhkan  pengguna, bahwa sebagai Badan Publik KPPN Purworejo selain harus menyediakan informasi yang setiap saat dan berkala, KPPN juga harus menyediakan informasi yang serta merta atau mendadak. Informasi ini seperti perubahan dalam kebijakan keuangan di Tingkat Pusat yang berlaku di Desa atau tambahan atau perubahan  persyaratan  penerima  BLTDD.

Secara keseluruhan acara konsultasi publik KPPN Purworejo kali ini berjalan sesuai agenda dalam situasi santai dan humanis. Acara diakhiri dengan penandatanganan berita acara layaknya rapat-rapat dinas. Namun kali ini ibu Yessi, mengjak serta seluruh tamunya untuk melihat dari dekat seluruh ruang dalamnya KPPN Purworejo. Luar biasa! Sudah selayaknya WBBM segera dapat terwujud. Semoga



Tuesday, July 16, 2024

MASYARAKAT SASAK ENDE: Kuat menjaga tradisi


Memasuki desa Sasak Ende, Sengkol Kecamatan Pujut, Lombok Tengah adalah menikmati kekhasan budaya masyarakat Sasak yang terjaga. Beberapa bangunan dengan ciri tertentu mencerminkan tradisi yang dirawat dan dijaga seluruh warganya. Seperti yang diungkapkan Amak Sultan seorang warga yang sekaligus menjadi pemandu lokal di sana.

Kekhasan bangunan adat Sasak

Berbagai bangunan fisik masyarakat Sasak Ende memanfaatkan bahan dari alam sekitar seperti tanah liat, kayu, bambu dan alang-alang. Pemanfaatan bahan-bahan alami ini mencerminkan keselarasan dengan alam sekitar dan kearifan lokal masyarakat Sasak Ende. Termasuk memanfaatkan kotoran ternak sebagai semen "roda ampat" sebagai penguat struktur bangunan lantai dan diyakini juga untuk mengusir serangga, nyamuk dan gangguan-gangguan energi "negatif" dari luar. Dijelaskan Sultan, dalam keseharian masyarakat Sasak Ende terutama laki-lakinya lebih banyak berada di luar rumah. Teras rumah menjadi arena publik untuk menerima tamu, santai dan bercengkerama.

Berbagai bentuk bangunan dibuat oleh warga sesuai peruntukannya, seperti _balai tani_ untuk rumah tinggal, _balai jajar_ untuk rumah pertemuan warga, _balai lumbung_ untuk menyimpan padi dan hasil pertanian lainnya, pos kamling untuk gardu jaga warga yang dibuat dengan struktur panggung dan mushola untuk tempat warga menunaikan ibadah. Dari macam bangunan itu, menurut sultan ada kekgasan dalam bentuk atap. atap: Atap rumah masyarakat Sasak Ende berbentuk seperti tumpeng terbalik, dengan tingkat yang semakin ke atas semakin kecil. Bentuk atap ini memiliki filosofi sebagai simbol kesakralan dan keharmonisan dengan alam. Dalam hal atap depan _balai tani_ dibuat relatif rendah, sehingga  ketika seseorang memasuki harus merunduk. Mengandung makna nilai filosofi untuk sopan santun ketika bertamu atau memasuki rumah.


Pembagian ruang dalam rumah adat Sasak Ende, Lombok memiliki tata ruang yang jelas, diantaranya ada untuk tempat tinggal, dapur, lumbung, dan tempat ibadah. Tata ruang ini mencerminkan nilai-nilai budaya dan tradisi masyarakat Sasak Ende.

Tradisi pernikahan yang unik dan menarik

Begitu juga dalam tradisi pernikahan orang Sasak Ende, paling tidak harus melewati enam tahapan yang begitu dramatis. Sejak dari _merarik, selabar, nuntut wali, nyongkolan, sorong-serah dan kuwade_ atau duduk di pelaminan. Walaupun adat  pernikahan tersebut  terkesan ribet, namun unik dan  menarik. Sehingga nilai dan tradisi ini justru menjadi kebanggan bagi masyarakat Sasak Ende untuk menjaga nilai dan tradisi tersebut Diantara enam tahapan dalam proses pernikahan masyarakat Sasak Ende, hal yang terdengar aneh adalah _merarik_ atau menculik gadis. Menculik gadis pada masyarakat Sasak Ende adalah proses melarikan anak perempuan orang lain yang sebelumnya telah melakukan kesepakatan terlebih dahulu diantara laki-laki dan perempuan tersebut tanpa sepengetahuan dari pihak orang tua dengan tujuan untuk menikah.


Riuhnya peringatan merdi bumi di desa Kaligending, Kecamatan Karangsambung*

Mungkin tradisi _merdi bumi_ menjadi salah satu momen sangat penting di desa Kaligending. Momen yang perlu mengerahkan persiapan ekstra, baik dari aspek waktu, tenaga, perlengkapan dan tentu dana yang tidak sedikit.  Merdi bumi menjadi  tradisi desa yang diperingati hampir setiap tahun di bulan Muharam itu dilaksanakan stidak kurang dari lima hari. Dari penuturan Kades Kaligending, Lukman tradisi  merdi bumi dilaksanakan di dua pedukuhan, yakni dukuh Duwet yang meliputi tiga RW dan pedukuhan Kalikudu meliputi dua RW. Meskipun masih dalam satu desa, dua pedukuhan tersebut memiliki kekhasan dalam kesenian dan tradisinya.

Tayub di dukuh Duwet

Prosesi Merdi Bumi di dukuh Duwet dilaksanakan selama tiga hari, dimulai dengan ziarah leluhur para pendiri desa,  selamatan tumpeng  bucon yaitu nasi gunungan yang dibentuk kerucut  berisi  ingkung ayam yang diselimuti bumbu mogana dari nangka muda yang dicacah lembut dengan cita rasa pedas-asin penuh aroma serai.

Selanjutnya acara merdi bumi diramaikan dengan tenonganm yaitu para kepala keluarga membawa makanan dan jajan pasar yang dikemas dalam sebuah wadah terbuat dari bambu yang dianyam. Beberapa tenong juga diberi pita warna warni sebagai hiasan. Sore harinya diselenggarakan pentas kudakepang yang dimainkan oleh kelompok seni lokal terdiri dari anak-anak muda yang ada di desa  Kaligending.

Di akhir rangkaian tradisi merdi bumidi pedukuhan Dhuwet diselenggarakan  tayuban yang melibatkan beberapa penari, dengan sesekali mengajak  penonton untuk ikut serta menari. Dalam seni tari tradisional tayub ini menjadi riuh, karena cara penari mengajak penonton untuk ikut menari dengan cara mengalungkan kain selendang sampur.  Penari kemudian menariknya ke arena mengikuti irama musik  diatonis gamelan.

Wayang kulit di dukuh Kalikudu

Tradisi merdi bumi di dukuh Kalikudu, desa Kaligending Kecamatan  Karangsambung diselenggarakan dalam bentuk upacara memotong kambing kendhit, gelar sewu tumpeng, dan pentas k3seniqn wayang kulit. Tradisi ini biasa dilaksanakan selama bulan Mukharam. Kambing kendhit adalah kambing berwarna hitam dengan corak putih melingkar tubuh di bagian tengahnya.Terhadap tradisi potong kambing _kendhit_ oleh pakar Javanologi UNS Prof. Sahid Teguh Widodo menjelaskan, bahwa sedekahan itu merupakan salah satu tradisi yang dilakukan masyarakat Indonesia. 

"Itu menunjukkan masih ada semesta simbolik dari zaman dahulu, yang masih dilakukan sekarang. Karena keyakinan seseorang itu substansinya berkorban atau sedekah, mengurangi apa yang kita peroleh diberikan kepada orang lain dalam bentuk apapun," seperti dikutip detikJateng.

Friday, December 15, 2023

Desa Panglipuran: Terbersih se-dunia karena kekuatan adatnya

Ini adalah moment out-door terbaik ketika berkesempatan berkunjung ke Bali, bersama rombongan Bumdesma Bodronolo Kebumen,  Rabu (13/12/2023) siang itu. Dari penjelasan pemandu, Desa Penglipuran  terletak di Kabupaten Bangli, Provinsi Bali. Desa yang merupakan  satu diantara banyak desa adat di Bali dengan banyak daya tarik yang unik.  Sehingga menarik minatku untuk mencari tahu ke sana.

Pesona Desa Penglipuran bukan dari pantainya yang menenangkan, bukan dari bentangan alamnya yang mengagumkan, bukan karena pesona bawah lautnya yang spektakuler, namun karena kekuatan memegang adat dan keharmonisan masyarakatnya. Benar, baru beberapa langkah saja dari area parkir menuju gapura desa Panglipuran sudah terasa daya tariknya. Tidak ada sampah dan bebas polusi! Lingkungan tradisional yang bersih, asri dan tertata rapi.

Berjalan memasuki desa ini, terasa lega, hilang sesak di dada. Karena  suasana segar dan  warna hijau  tanaman yang rapi tertata. Semakin  masuk ke area desa, udara dan pemandangan akan semakin terasa sejuk dan asri dengan pemandangan pagar tanaman  yang menghiasi seluruh area desa. Menurut penuturan Biyang Lancar yang aku singgahi rumahnya, ia, anak dan menantunya setiap hari sejak pagi buta sudah bersih-bersih rumah dan lingkungan pekarangan termasuk jalan lingkungan. Tentu jalan lingkungan yang ada tepat di depan atau samping rumahnya. Selain itu, kata ibu dari dua anak laki dan perempuan itu ada aturan adat yang berlaku di desa ini. "Ketika berjalan  dan mengelilingi desa ini, dilarang menggunakan kendaraan bermotor. Hal ini diberlakukan  untuk menjaga lingkungan Desa Penglipuran agar bebas dari udara kotor.  Selain itu, masyarakat juga tamu dilarang membuang sampah sembarangan. Di Desa Penglipuran, sudah disediakan tempat sampah kira-kira setiap 30 meter" tukasnya mengakhiri penuturannya. Bersamaan turunnya hujan siang itu, Biyang lancar dengan anak dan menantunya segera merapikan barang dagangan di seambi ramahnya, agar tidak basah.

Saturday, November 4, 2023

Batik LOGANDENG: Penuh keguyubrukunan warganya

Meski datang terlambat, Kamis sore itu (2/11/2023) saya tidak melewatkan kesempatan untuk berkunjung ke kelompok usaha batik di Kalurahan Logandeng, Kecamatan Playen, Gunungkidul. Untuk mengambil sebagian kecil dari banyak  prestasi desa Juara Lomba Desa Nasional ini, saya mengambil angel kelompok usaha batik.

Motif batik yang dikelola kelompok perempuan "Jemari ibu" jelas menggambarkan motif campuran. Motif batik ini nampak memasukkan  motif kontemporer, namun tetap mempertahankan motif pohon lo yang melegenda. Keberadaan pohon Lo (Ficus Racemosa) tidak lepas dari legenda desa Logandeng. Menurut penuturan Kepala Kalurahan, Bopo Suhardi, di awal sejarahnya di daerah ini tumbuh subur tanaman pohon lo. Saking suburnya tumbuhan itu  saling "bergandengan" menyatu antar pohon lainnya.

Motif lo gandeng, seperti dituturkan bu Ddhukuh Siyono, Kristina, mengandung makna petsatuan. Bahwa kekuatan desa ini dibangun dengan bersatunya kekuatan padhukuhan, dhusun, keluarga dan seluruh masyarakat yang ada di desa ini sebagai nilai luhur yang ada secara turun temurun. Sedangkan motif kontemporer, mencerminkan masyarakat desa Logandeng juga dapat menyesuaikan terhadap perkembangan jaman dan mengadopsi tren kekinian. Nilai-nilai luhur masyarakat Logandeng tentang persatuan, kesatuan kerjasama dalam membangun desa masih sangat kuat. Hal ini juga diakui ibu Sutroyani dan Sumini yang kami temui saat menyelesaikan pembatikan di kelompok Batik "Jemari Ibu" Dari penuturan kedua emak-emak ini, bahwa keguyubrukunan warga ini tercermin dari berbagai kegiatan.  Begitu juga dalam kelompok usaha batik yang dibentuk Bopo lurah ini.

Ada beberapa orang yang bergabung dalam usaha kelompok batik ini. Masing-masing orang saling membantu, disamping memiliki tugas pokoknya. Ada yang berperan dalam menetapkan pola, melukis dengan malam, mewarnai, nge-blok, hingga mencuci , mengemas kalau batik sudah jadi. dan batik siap di kirim ke pemesan atau di jual. Ada tiga jenis batik yang dikerjakan oleh para emak-emak di "Jemari Ibu" ini, yaitu batik tulis, batik cap dan campuran batik tulis dan cap. Tergantung dari pesanan pembeli. Tentu, akan berpengaruh dalam harga. Sebagai gambaran, satu lembar batik tulis akan selesai kurang lebih satu minggu. Sedangkan batik cap, dalam sehari mak-emak ini dapat menyelesaikan 6-7 lembar kain batik. Luarbiasa.



Tuesday, July 25, 2023

Selamat Jalan Mas Adityo Wibowo

 Di kalangan pebisnis, kaum muda, dan komunitas di Kebumen tentu sangat mengenal sosok mas Adityo Wibowo. Sosok muda yang enerjik, kreatif dan inovatif, memiliki jiwa enterpreunership yang tinggi. Hal inilah menyebabkan mas Adit, begitu panggilan akrabnya, memiliki banyak kegiatan dan seabreg aktivitas bisnis maupun sosial. Sayapun mulai mengenal mas Adit di kegiatan sosial KAGAMA (Keluarga Alumni Gadjah Mada,) Cabang Kebumen. Di KAGAMA mas Adit duduk di Bidang Pengembangan SDM, Inovasi dan Teknologi sejak tahun 2015. Melalui ide dan kreativitasnya banyak lahir kegiatan dan aksi sosial dalam hal peningkatan kapasitas alumni maupun masyarakat umum.

 Selain aktivitasnya di KAGAMA, mas Adit juga memiliki kesibukan pribadi sebagai Managing Director PT Selera Masa Berkah Wisata, Managing Director PT Mandiri Argo Sejahtera dan Direktur CV Hasta Karya.

Sosok humanis dan peduli

Dalam catatan saya sebagai anggota Satgas, Mas Adit adalah sosok muda yang berinovasi, di tengah dahsyatnya pandemi Covid-19, demi menyelamatkan "dapur" puluhan karyawannya. Hampir enam bulan perusahaan  jasa angkutan bus yang dia pimpin, tidak dapat beroperasi dan tidak dapat pemasukan akibat kebijakan pemerintah dan pembatasan penggunaan moda transportasi umum, kala itu.

Inovasi yang dilakukan mas Adit, adalah menyulap bus Selera Masa, menjadi cafe berjalan. Dalam inovasinya itu fihaknya menggandeng Radio Kopi, cafe kekinian dengan co-working space untuk menyajikan berbagai macam menu makanan, minuman dan camilan selama trip berlangsung.Untuk menyulap sebuah bis menjadi cafe berjalan, maka hal yang dilakukan adalah mengubah tempat duduk dan menambahkan meja, menetapkan rute pendek dan  menerapkan protokol pencegahan Covid-19. Setiap penumpang termasuk kru bus, wajib dicek suhunya, cuci tangan dengan hand sanitizer dan mengenakan masker.

Kemunculan cafe berjalan dengan mengusung brand cafe on bus itu tentulah disambut gembira para penumpang, seperti dikutip dari Kebumen Ekspres, karena mereka bisa berwisata sekaligus memperoleh hiburan di tengah suasana jenuh  pandemik yang berkepanjangan. Selain itu dengan  cafe on bus, penumpang memperoleh suasana perjalanan yang sensasional. Terlebih disediakan fasilitas makanan, camilan dan kopi yang bisa dinikmati selama perjalanan.

Bagi banyak orang penumpang, merupakan pengalaman yang mengasyikkan. Namun lebih dari itu bagi mas Adit, cafe on bus adalah pengalaman batin yang dalam, penuh syukur dapat menjadi jalan rezeki bagi puluhan karyawannya, di tengah suasana pandemi.

Semoga kebaikan hatinya dapat menjadi penerang jalan. Selamat jalan mas Adityo Wibowo.

Tuesday, July 4, 2023

GOA SILODONG: Eksotisme, Keramahan dan citarasa nasi Mogana


Setelah berjalan kaki, kira-kira 15 menit dari tempat kami parkir kendaraan,  akhirnya sampailah kami di mulut gua si-lodong. Oleh pegiat wisata desa disiapkan tempat duduk di atas gelaran tikar, cukup menampung 30 orang. Kami pun istirahat  sejenak, duduk dan melepas alas kaki. Sambil menghela nafas, terasa angin bertiup dari sela pepohonan dan batuan goa. Sejuk. Disitu sudah ada rombongan BRIN yang mengarahkan kami sebelumnya.  Ada pak doktor Chusni ,pak Triharjito. pak Sugiharto. pak Sukiman. pak Edi ,pak Haris dan bu Novi, 

Ada sajian khas pedesaan yang menggugah selera. Dua bakul nasi mogana! Masih hangat. Nasi gurih, di dalamnya ada  ayam ingkung dengan bumbu urab kelapa parut,  dengan cita rasa  pedas-asin. Disajikan di atas lembaran daun jati segar. Dimakan pakai tangan dengan rajangan lembut petai dan sayuran lokal.  Sungguh menggugah selera dengan suasana alam terbuka. Belum lagi teh panas, kental manis, dan singkong rebus. Lengkap sudah   mengembalikan tenaga kami yang hilang.

Misi "ekspedisi"

Tidak seperti  para geologist BRIN  Karangsambung datang untuk  melihat jenis dan sejarah terbentuknya batuan goa, maksud kunjungan kami ke goa silodong,  selain menikmati pesona salah satu situs geopark Kebumen, juga  mencari peluang pemberdayaan masyarakat sekitar dalam rangka membangun dan merawat bumi, batuan dan goa yang ada dengan baik. 

Sekilas kami melihat potensi yang bisa dipoles untuk dikembangkan. Di pemukiman terakhir dekat goa silodong, ada sekelompok keluarga yang menjajakan hasil anyaman pandan.  Sementara ada seorang ibu dan neneknya serius menyelesaikan complong, lembaran anyaman pandan yang nantinya sebagai bahan dasar beraneka produk kerajinan sepeti dompet, slepen,  topi, tas, tempat  koran dll.

Ada juga yang menjual pupuk  guano yang dikemas kiloan. Keberadaan goa silodong yang di dalamnya juga untuk hidup sekelompok kelelawar, kotorannya yang sudah bercampur tanah di dalam gua memiliki nilai ekonomi bagi penduduk setempat. Pupuk guano dari kotaran kelelawar itu sangat bagus untuk pupuk organik sebagai penyubur tanaman dan laku dijual.

Selain kesan exotic goa silodong yang masih perawan dengan banyak hiasan stalagtit "hidup", kesan yang mendalam adalah keramahan para pegiat wisata desa yang dikomandani pak Kades Langse Gunawan Sugiyanto dalam menyambut pendatang. Ini bisa jadi modal awal untuk membangun Desa Wisata Goa Silodong dengan devisi pemandu wisata yang handal, devisi kuliner  penuh cita rasa, devisi home stay yang mengesankan dan devisi cinderamata yang kreatif. Keberadaan mushola mungil yang bersih dengan ketersediaan sumber air yang cukup bisa menjadi daya tarik untuk dikembangkan menjadi rest area yang nyaman, Semoga,