Jika ini memang akhir penugasan menjelang purna tugas, maka saya ingin menutupnya di Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Kebumen. Tempat yang urusannya langsung menyentuh pada hajat hidup orang banyak: kerja, upah, keterampilan, dan harapan untuk hidup yang lebih layak.
Jalan Panjang Pengabdian
Perjalanan 39 tahun ini tidak dimulai di kantor yang sejuk. Awal saya bekerja sebagai tenaga Puskesmas Karanganyar yang di kenal masyarakat sebagai RS Nirmolo. Hingga berkesempatan mengemban amanah sebagai Kepala Puskesmas Kebumen III. Bekerja dari desa ke desa, saya belajar bahwa melayani rakyat artinya mendengar keluh kesah mereka dari dekat. Cukup lama saya mengabdi di Dinas Kesehatan. Di sana saya paham betul bahwa sehat adalah syarat pertama agar orang bisa bekerja. Mereka tidak mengenal "sakit", hingga ketika kondisinya sudah tidak dapat digunakan untuk bekerja, barulah bergegas untuk berobat.
Allah SWT lalu memberi amanah baru. Saya pindah tugas sebagai Sekretaris Bappeda sekaligus Kepala UPT Penanggulangan Kemiskinan yang lebih dikenal masyarakat sebagai “Rumah Harapan”. Di Rumah Harapan saya menyaksikan wajah kemiskinan yang sesungguhnya: bukan hanya soal angka statistik, tapi soal ibu yang bingung besok makan apa, soal anak yang putus sekolah karena sepatunya jebol, keluarga pasien yang tertahan pulang, karena tidak bisa bayar biaya rawat inapnya. Di tempat itu saya belajar bahwa perencanaan pembangunan sehebat apa pun tidak ada artinya jika tidak sampai ke dapur keluarga.
Selang tiga tahun, saya diamanahi memimpin Dinas Kominfo selama hampir lima tahun. Di periode inilah saya melihat betapa tipisnya batas hidup dan mati seseorang: saat pandemi Covid-19!. Kami berjibaku dengan disinformasi, memastikan jaringan komunikasi dan informasi tetap hidup agar anak-anak bisa sekolah daring, dan menyebarkan info yang benar di tengah ketakutan. Di Kominfo saya belajar bahwa informasi bisa menyelamatkan nyawa, dan keterbukaan dan akses informasi adalah kunci kepercayaan publik.
Sebelum di Disnaker, saya mengabdi selama empat tahun lebih di Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa. Blusukan dan bersilaturahmi ke 449 desa dan 11 kelurahan, mendorong BUMDes, memastikan dana desa tepat sasaran serta ketaatan pembayaran pajak dan premi BPJS Kesehatan maupun Ketenagakerjaan. Di Dinas PMD saya makin yakin, bahwa kekuatan Kabupaten Kebumen ada di desa. Kalau desanya kuat, maka kabupaten berdaya.
Rumah Terakhir itu Bernama Disnaker
Kini saya berada di Dinas Tenaga Kerja. Strukturnya sederhana, satu Sekretariat dan dua Bidang, dengan satu UPT BLK. Tapi bebannya tidak pernah sederhana. Apalagi jika konteksnya mengentaskan kemiskinan dan pengangguran.
Bidang Penempatan Tenaga Kerja dan Transmigrasi
Di Bidang ini Kebumen masih bertengger di 10 besar daerah pengirim Pekerja Migran Indonesia ke luar negeri di Jawa Tengah. Angka yang membanggakan sekaligus menyayat hati. Membanggakan karena devisa dan cerita sukses para pahlawan devisa. Menyayat hati karena di baliknya masih banyak persoalan: penempatan non-prosedural, dokumen palsu, hingga kerentanan terhadap perdagangan orang. Di bidang ini saya belajar bahwa mengurus penempatan bukan sekadar memperoleh stempel rekomendasi, tapi menjaga nyawa dan martabat manusia.
Bidang Pelatihan, Produktivitas dan Hubungan Industrial
Kalau penempatan adalah “mengirim”, maka pelatihan adalah “menyiapkan”. Masalahnya, Kebumen masih sangat membutuhkan pelatihan berbasis kompetensi. Dunia industri berubah cepat, tapi keterampilan tenaga kerja kita sering tertinggal. UPT BLK menjadi harapan. Di bengkel las, ruang jahit, kelas komputer dan teknik perbaikan sepeda motor, anak-anak muda Kebumen ditempa agar tidak hanya menjadi buruh, tapi menjadi tenaga terampil yang produktif. Di bidang ini pula saya belajar bahwa hubungan industrial yang harmonis bukan soal serikat pekerja versus pengusaha, tapi soal duduk bersama agar dapur tetap ngebul.
Sregep Ngode Bareng Biyunge
Masa-masa terakhir pengabdian ini berbarengan dengan program prioritas Bupati: Sregep Ngode Bareng Biyunge. “Sregep ngode” artinya rajin bekerja, ulet mencari nafkah. “Bareng biyunge” artinya bersama ibu, simbol keluarga dan ketahanan. Program ini mengingatkan kami bahwa semua angka penempatan dan semua sertifikat pelatihan muaranya satu: agar keluarga di Kebumen bisa makan dari keringat sendiri.
Catatan Kecil yang Berarti
Ada dua catatan yang ingin saya simpan sebelum purna: Pertama, Disnaker Kebumen lolos penilaian masuk Zona Integritas menuju Wilayah Bebas dari Korupsi. Bagi kami, ini bukti bahwa integritas bisa ditegakkan, bahkan di dinas yang sering dianggap rawan. Kedua, PR besar kita masih sama: mengurangi pengiriman PMI non-skill dan memperbanyak pelatihan kompetensi. Selama tenaga kerja kita hanya mengandalkan otot, maka selamanya kita akan kirim tenaga kerja rentan. UPT BLK harus naik kelas. Hubungan industrial harus naik kelas.
PENUTUP: Akhir yang Penuh Syukur
Dari Puskesmas, Dinas Kesehatan, Bappeda dan Rumah Harapan, Kominfo di masa pandemi, PMD dengan desa-desanya, hingga Disnaker hari ini. 39 tahun saya banyak belajar oleh Kebumen tentang arti melayani. Sehingga keberadaan kita sen
antiasa bermanfaat untuk orang lain. Jika ini memang akhir penugasan saya sebagai PNS, maka saya ingin mengakhiri dengan satu pesan untuk teman-teman yang masih _sregep ngode: jabatan boleh berakhir, tapi keberpihakan pada wong cilik jangan pernah pensiun. Terima kasih Kebumen. Terima kasih untuk semua guru, kawan, dan “biyung” yang hebat, yang telah mengajari saya arti pengabdian.
No comments:
Post a Comment