Sunday, May 31, 2026

BAGIAN I Mimpi yang Menolak Padam

 "Orang-Orang Biasa yang Menolak Menyerah"

 Saya datang ke kantor itu bukan untuk mencari cerita. Sejujurnya, saya hanya sedang lapar.  Hari masih pagi ketika saya memasuki halaman sebuah kantor pemerintah di Kebumen. Matahari belum sepenuhnya meninggi. Embun masih bertahan di ujung dedaunan. Beberapa pegawai datang bergantian, sebagian menenteng tas kerja, sebagian lagi masih mengusap kantuk sambil menyapa satpam di gerbang.

Dari kejauhan saya melihat asap tipis mengepul dari sebuah kantin kecil di sudut halaman. Aromanya lebih cepat menyapa daripada pemiliknya. Bau bawang putih yang baru ditumis bercampur dengan wangi nasi yang baru matang. Ada suara sendok beradu dengan wajan. Sesekali terdengar bunyi tutup panci yang dibuka lalu ditutup kembali. Suasana itu terasa begitu akrab, seperti mengingatkan saya pada dapur rumah sendiri.

Saya melangkah mendekat. Di balik meja sederhana itu berdiri seorang perempuan berkerudung. Usianya mungkin sekitar lima puluh tahunan. Celemeknya tampak mulai kusam karena terlalu sering dipakai. Tangannya bergerak cepat, tetapi wajahnya tetap tenang. Ia sesekali tersenyum kepada pegawai yang datang.

"Sudah sarapan, Pak?" sapanya kepada seseorang yang baru masuk.

Sapaan itu terdengar biasa. Namun saya tidak tahu mengapa, ada kehangatan yang membuat saya berhenti lebih lama daripada sekadar memesan makanan. Namanya Sri Lestari. Semua orang memanggilnya Mak Sri. Saya memesan beberapa gorengan i. Sambil menunggu, kami mulai mengobrol. Awalnya percakapan itu tidak berbeda dengan obrolan antara pembeli dan penjual pada umumnya.

Sudah berapa lama jualan?

Ramai tidak, Bu?

Masaknya mulai jam berapa?

Pertanyaan-pertanyaan ringan. Tetapi sering kali, justru pertanyaan-pertanyaan sederhana itulah yang membuka pintu menuju cerita yang luar biasa. Saya baru mengetahui bahwa setiap hari Mak Sri bangun jauh sebelum sebagian besar orang membuka mata. Ketika langit masih gelap, ia sudah berada di dapur. Menanak nasi. Memotong sayuran. Menyiapkan lauk. Menyalakan kompor. Bukan karena ia menyukai bangun pagi. Bukan pula karena pekerjaannya ringan.Ia melakukannya karena ada dua anak yang sedang kuliah di Yogyakarta.

Lalu ia bercerita tentang masa kecilnya. Tentang seorang ayah yang pernah berkata bahwa sebagai anak perempuan, ia tidak perlu sekolah tinggi. Tentang sembilan tahun menjadi buruh pabrik tekstil. Tentang gaji yang hampir seluruhnya habis untuk membiayai sekolah adik-adiknya. Tentang dirinya yang lebih sering membeli buku untuk orang lain daripada membeli kebutuhan untuk dirinya sendiri.

Saya mulai lupa pada gorengan  yang ada di depan saya. Saya lebih sibuk mendengarkan. Di hadapan saya berdiri seorang perempuan yang mungkin tidak pernah diwawancarai televisi. Namanya tidak pernah menjadi berita utama. Ia tidak memiliki jabatan. Tidak memiliki penghargaan. Tidak memiliki ribuan pengikut di media sosial. Tetapi hidupnya dipenuhi oleh sesuatu yang semakin jarang saya temukan: kesediaan mengorbankan diri agar orang lain memiliki masa depan yang lebih baik.Ketika saya bertanya apakah ia tidak lelah,  Mak Sri hanya tersenyum kecil.

"Capek itu biasa, pak."

"Lalu apa yang bikin tetap semangat?"

Ia menoleh sebentar ke arah wajannya yang masih mengepul.

"Kalau ingat anak-anak, capeknya jadi ringan."

Jawaban itu sederhana. Begitu sederhana sampai hampir terdengar biasa. Namun justru di situlah saya merasa seperti sedang ditampar. Saya pulang hari itu membawa perut kenyang. Tetapi yang benar-benar memenuhi pikiran saya bukan rasa kenyang. Melainkan satu pertanyaan yang terus berputar-putar. Mengapa saya baru mengenal orang seperti Mak Sri sekarang?  Bukankah selama ini saya lebih mengenal nama-nama orang yang sering muncul di televisi? Bukankah saya lebih hafal kisah hidup para selebritas daripada perempuan yang setiap pagi memasak untuk puluhan orang sambil menyekolahkan anak-anaknya? Mengapa kisah seperti ini begitu jarang diceritakan?

Pertanyaan itu tidak berhenti di kepala saya. Ia ikut pulang. Ikut duduk di meja kerja saya. Ikut menemani ketika saya menulis. Dan tanpa saya sadari, pertanyaan itu mengubah cara saya berjalan. Sejak hari itu, saya mulai lebih sering berhenti. Saya duduk lebih lama di warung. Saya mengobrol dengan pedagang kaki lima. Saya bertanya kepada tukang becak. Saya mendengarkan cerita para penjaga kantin, pedagang nasi goreng, petani, fotografer keliling, guru, buruh, dan banyak orang lain yang selama ini nyaris tidak pernah saya perhatikan.

Semakin banyak saya bertemu mereka, semakin saya sadar bahwa negeri ini dipenuhi oleh orang-orang yang luar biasa. Sayangnya, mereka hampir tidak pernah disebut luar biasa. Mereka terlalu sibuk bekerja untuk sempat menceritakan perjuangannya. Saya bertemu seorang ayah yang tidur hanya beberapa jam setiap malam karena membuka dua warung nasi goreng demi membiayai kuliah anaknya. Saya bertemu seorang pedagang yang bertahun-tahun tidak pulang kampung karena ongkos perjalanan lebih baik dipakai membeli seragam sekolah anak-anaknya. Saya bertemu seorang fotografer yang memilih meninggalkan gemerlap Jakarta untuk kembali ke tanah kelahirannya, memotret wajah-wajah sederhana yang selama ini luput dari perhatian.

Mereka semua berbeda. Pekerjaannya berbeda. Latar belakangnya berbeda. Cara hidupnya berbeda.  Tetapi ada satu benang merah yang menyatukan mereka. Mereka menolak menyerah.

Bukan karena hidup mereka mudah. Justru karena hidup mereka sering kali sangat sulit. Mereka tidak memiliki semua jawaban. Mereka juga pernah takut. Pernah gagal. Pernah kehilangan. Pernah menangis. Namun setiap kali hidup memberi alasan untuk berhenti, mereka memilih bangun lagi keesokan paginya.Mereka memilih menyalakan kompor lagi. Mendorong gerobak lagi. Membuka toko lagi. Memanggul cangkul lagi. Mengangkat kamera lagi.Mereka memilih berharap.

Di situlah saya mulai memahami sesuatu yang selama ini luput dari perhatian saya. Harapan ternyata bukan perasaan. Harapan adalah keputusan.Keputusan untuk tetap bekerja ketika hasilnya belum terlihat. Keputusan untuk tetap mencintai ketika keadaan tidak mudah. Keputusan untuk tetap percaya bahwa hari esok layak diperjuangkan.

Banyak buku berbicara tentang kesuksesan. Tentang bagaimana menjadi lebih kaya. Lebih produktif. Lebih terkenal. Lebih berpengaruh. Semua itu penting. Namun saya merasa ada sesuatu yang sering terlupakan.

Bagaimana caranya tetap menjadi manusia ketika hidup tidak berjalan sesuai rencana?

Bagaimana caranya menjaga harapan ketika keadaan tidak kunjung berubah?

Bagaimana caranya tetap berjalan ketika langkah terasa begitu berat?

Orang-orang yang akan Anda temui dalam buku ini mungkin tidak memiliki rumus kesuksesan.

Tetapi mereka memiliki sesuatu yang menurut saya jauh lebih berharga. Mereka memiliki alasan untuk terus bangkit. Dan sering kali, alasan itu sesederhana satu kalimat.

"Saya ingin anak saya sekolah."

"Saya tidak ingin keluarga saya menyerah."

"Saya hanya ingin tetap berguna."

Kalimat-kalimat sederhana itulah yang membuat mereka sanggup melakukan hal-hal yang tampak luar biasa. Buku ini tidak ditulis untuk mengangkat orang-orang biasa menjadi tokoh besar. Mereka sudah cukup besar tanpa harus dipuji. Buku ini juga tidak ditulis agar Anda mengasihani mereka. Sebaliknya. Saya berharap setelah membaca halaman-halaman berikutnya, Anda akan menghormati mereka.Karena mereka menunjukkan bahwa martabat manusia tidak ditentukan oleh jabatan, melainkan oleh kesetiaannya terhadap tanggung jawab.

Saya juga tidak berharap Anda menutup buku ini dengan berkata, "Kasihan sekali hidup mereka." Saya justru berharap Anda berkata, "Ternyata saya dikelilingi oleh orang-orang hebat." Mungkin setelah membaca buku ini, Anda akan lebih lama berbincang dengan pedagang langganan. Mungkin Anda akan lebih menghargai kerja keras orang tua. Mungkin Anda akan mulai bertanya kepada guru lama yang pernah mengubah hidup Anda, "Apa kabar, Bu?" Atau mungkin, Anda akan melihat diri sendiri dengan cara yang baru. Karena siapa tahu, selama ini Anda juga sedang menjadi tokoh dalam kisah seseorang.

Maka sebelum kita membuka cerita pertama, saya hanya ingin mengajak Anda melakukan satu hal. Bacalah buku ini perlahan. Jangan hanya membaca nama-nama yang tertulis. Dengarkan napas mereka. Rasakan lelah mereka. Ikuti harapan yang mereka jaga dari hari ke hari.  Sebab kisah-kisah di halaman berikutnya bukan tentang orang-orang yang selalu menang. Ini adalah kisah tentang orang-orang yang memilih tetap berdiri ketika hidup berkali-kali menjatuhkan mereka. Dan saya percaya, di situlah letak kehebatan yang sesungguhnya.

Selamat datang. Mari kita berkenalan dengan orang-orang yang mungkin tidak pernah masuk berita, tetapi diam-diam menjaga agar dunia tetap memiliki harapan

No comments:

Post a Comment