"Orang-Orang Biasa yang Menolak Menyerah"
Dari kejauhan saya melihat asap tipis mengepul dari sebuah
kantin kecil di sudut halaman. Aromanya lebih cepat menyapa daripada
pemiliknya. Bau bawang putih yang baru ditumis bercampur dengan wangi nasi yang
baru matang. Ada suara sendok beradu dengan wajan. Sesekali terdengar bunyi
tutup panci yang dibuka lalu ditutup kembali. Suasana itu terasa begitu akrab,
seperti mengingatkan saya pada dapur rumah sendiri.
Saya melangkah mendekat. Di balik meja sederhana itu berdiri
seorang perempuan berkerudung. Usianya mungkin sekitar lima puluh tahunan.
Celemeknya tampak mulai kusam karena terlalu sering dipakai. Tangannya bergerak
cepat, tetapi wajahnya tetap tenang. Ia sesekali tersenyum kepada pegawai yang
datang.
"Sudah sarapan, Pak?" sapanya kepada seseorang
yang baru masuk.
Sapaan itu terdengar biasa. Namun saya tidak tahu mengapa,
ada kehangatan yang membuat saya berhenti lebih lama daripada sekadar memesan makanan.
Namanya Sri Lestari. Semua orang memanggilnya Mak Sri. Saya memesan beberapa
gorengan i. Sambil menunggu, kami mulai mengobrol. Awalnya percakapan itu tidak
berbeda dengan obrolan antara pembeli dan penjual pada umumnya.
Sudah berapa lama jualan?
Ramai tidak, Bu?
Masaknya mulai jam berapa?
Pertanyaan-pertanyaan ringan. Tetapi sering kali, justru
pertanyaan-pertanyaan sederhana itulah yang membuka pintu menuju cerita yang
luar biasa. Saya baru mengetahui bahwa setiap hari Mak Sri bangun jauh sebelum
sebagian besar orang membuka mata. Ketika langit masih gelap, ia sudah berada
di dapur. Menanak nasi. Memotong sayuran. Menyiapkan lauk. Menyalakan kompor. Bukan
karena ia menyukai bangun pagi. Bukan pula karena pekerjaannya ringan.Ia
melakukannya karena ada dua anak yang sedang kuliah di Yogyakarta.
Lalu ia bercerita tentang masa kecilnya. Tentang seorang
ayah yang pernah berkata bahwa sebagai anak perempuan, ia tidak perlu sekolah
tinggi. Tentang sembilan tahun menjadi buruh pabrik tekstil. Tentang gaji yang
hampir seluruhnya habis untuk membiayai sekolah adik-adiknya. Tentang dirinya
yang lebih sering membeli buku untuk orang lain daripada membeli kebutuhan
untuk dirinya sendiri.
Saya mulai lupa pada gorengan yang ada di depan saya. Saya lebih sibuk
mendengarkan. Di hadapan saya berdiri seorang perempuan yang mungkin tidak
pernah diwawancarai televisi. Namanya tidak pernah menjadi berita utama. Ia
tidak memiliki jabatan. Tidak memiliki penghargaan. Tidak memiliki ribuan
pengikut di media sosial. Tetapi hidupnya dipenuhi oleh sesuatu yang semakin
jarang saya temukan: kesediaan mengorbankan diri agar orang lain memiliki masa
depan yang lebih baik.Ketika saya bertanya apakah ia tidak lelah, Mak Sri hanya tersenyum kecil.
"Capek itu biasa, pak."
"Lalu apa yang bikin tetap semangat?"
Ia menoleh sebentar ke arah wajannya yang masih mengepul.
"Kalau ingat anak-anak, capeknya jadi ringan."
Jawaban itu sederhana. Begitu sederhana sampai hampir
terdengar biasa. Namun justru di situlah saya merasa seperti sedang ditampar. Saya
pulang hari itu membawa perut kenyang. Tetapi yang benar-benar memenuhi pikiran
saya bukan rasa kenyang. Melainkan satu pertanyaan yang terus berputar-putar. Mengapa
saya baru mengenal orang seperti Mak Sri sekarang? Bukankah selama ini saya lebih mengenal
nama-nama orang yang sering muncul di televisi? Bukankah saya lebih hafal kisah
hidup para selebritas daripada perempuan yang setiap pagi memasak untuk puluhan
orang sambil menyekolahkan anak-anaknya? Mengapa kisah seperti ini begitu
jarang diceritakan?
Pertanyaan itu tidak berhenti di kepala saya. Ia ikut
pulang. Ikut duduk di meja kerja saya. Ikut menemani ketika saya menulis. Dan
tanpa saya sadari, pertanyaan itu mengubah cara saya berjalan. Sejak hari itu,
saya mulai lebih sering berhenti. Saya duduk lebih lama di warung. Saya
mengobrol dengan pedagang kaki lima. Saya bertanya kepada tukang becak. Saya
mendengarkan cerita para penjaga kantin, pedagang nasi goreng, petani,
fotografer keliling, guru, buruh, dan banyak orang lain yang selama ini nyaris
tidak pernah saya perhatikan.
Semakin banyak saya bertemu mereka, semakin saya sadar bahwa
negeri ini dipenuhi oleh orang-orang yang luar biasa. Sayangnya, mereka hampir
tidak pernah disebut luar biasa. Mereka terlalu sibuk bekerja untuk sempat
menceritakan perjuangannya. Saya bertemu seorang ayah yang tidur hanya beberapa
jam setiap malam karena membuka dua warung nasi goreng demi membiayai kuliah
anaknya. Saya bertemu seorang pedagang yang bertahun-tahun tidak pulang kampung
karena ongkos perjalanan lebih baik dipakai membeli seragam sekolah
anak-anaknya. Saya bertemu seorang fotografer yang memilih meninggalkan
gemerlap Jakarta untuk kembali ke tanah kelahirannya, memotret wajah-wajah
sederhana yang selama ini luput dari perhatian.
Mereka semua berbeda. Pekerjaannya berbeda. Latar
belakangnya berbeda. Cara hidupnya berbeda. Tetapi ada satu benang merah yang menyatukan
mereka. Mereka menolak menyerah.
Bukan karena hidup mereka mudah. Justru karena hidup mereka
sering kali sangat sulit. Mereka tidak memiliki semua jawaban. Mereka juga
pernah takut. Pernah gagal. Pernah kehilangan. Pernah menangis. Namun setiap
kali hidup memberi alasan untuk berhenti, mereka memilih bangun lagi keesokan
paginya.Mereka memilih menyalakan kompor lagi. Mendorong gerobak lagi. Membuka
toko lagi. Memanggul cangkul lagi. Mengangkat kamera lagi.Mereka memilih
berharap.
Di situlah saya mulai memahami sesuatu yang selama ini luput
dari perhatian saya. Harapan ternyata bukan perasaan. Harapan adalah keputusan.Keputusan
untuk tetap bekerja ketika hasilnya belum terlihat. Keputusan untuk tetap
mencintai ketika keadaan tidak mudah. Keputusan untuk tetap percaya bahwa hari
esok layak diperjuangkan.
Banyak buku berbicara tentang kesuksesan. Tentang bagaimana
menjadi lebih kaya. Lebih produktif. Lebih terkenal. Lebih berpengaruh. Semua
itu penting. Namun saya merasa ada sesuatu yang sering terlupakan.
Bagaimana caranya tetap menjadi manusia ketika hidup tidak
berjalan sesuai rencana?
Bagaimana caranya menjaga harapan ketika keadaan tidak
kunjung berubah?
Bagaimana caranya tetap berjalan ketika langkah terasa
begitu berat?
Orang-orang yang akan Anda temui dalam buku ini mungkin
tidak memiliki rumus kesuksesan.
Tetapi mereka memiliki sesuatu yang menurut saya jauh lebih
berharga. Mereka memiliki alasan untuk terus bangkit. Dan sering kali, alasan
itu sesederhana satu kalimat.
"Saya ingin anak saya sekolah."
"Saya tidak ingin keluarga saya menyerah."
"Saya hanya ingin tetap berguna."
Kalimat-kalimat sederhana itulah yang membuat mereka sanggup
melakukan hal-hal yang tampak luar biasa. Buku ini tidak ditulis untuk
mengangkat orang-orang biasa menjadi tokoh besar. Mereka sudah cukup besar
tanpa harus dipuji. Buku ini juga tidak ditulis agar Anda mengasihani mereka. Sebaliknya.
Saya berharap setelah membaca halaman-halaman berikutnya, Anda akan menghormati
mereka.Karena mereka menunjukkan bahwa martabat manusia tidak ditentukan oleh
jabatan, melainkan oleh kesetiaannya terhadap tanggung jawab.
Saya juga tidak berharap Anda menutup buku ini dengan
berkata, "Kasihan sekali hidup mereka." Saya justru berharap Anda
berkata, "Ternyata saya dikelilingi oleh orang-orang hebat." Mungkin
setelah membaca buku ini, Anda akan lebih lama berbincang dengan pedagang
langganan. Mungkin Anda akan lebih menghargai kerja keras orang tua. Mungkin
Anda akan mulai bertanya kepada guru lama yang pernah mengubah hidup Anda,
"Apa kabar, Bu?" Atau mungkin, Anda akan melihat diri sendiri dengan
cara yang baru. Karena siapa tahu, selama ini Anda juga sedang menjadi tokoh
dalam kisah seseorang.
Maka sebelum kita membuka cerita pertama, saya hanya ingin
mengajak Anda melakukan satu hal. Bacalah buku ini perlahan. Jangan hanya
membaca nama-nama yang tertulis. Dengarkan napas mereka. Rasakan lelah mereka. Ikuti
harapan yang mereka jaga dari hari ke hari.
Sebab kisah-kisah di halaman berikutnya bukan tentang orang-orang yang
selalu menang. Ini adalah kisah tentang orang-orang yang memilih tetap berdiri
ketika hidup berkali-kali menjatuhkan mereka. Dan saya percaya, di situlah
letak kehebatan yang sesungguhnya.
Selamat datang. Mari kita berkenalan dengan orang-orang yang
mungkin tidak pernah masuk berita, tetapi diam-diam menjaga agar dunia tetap
memiliki harapan
No comments:
Post a Comment