Wednesday, September 2, 2026

Essay 15 Pak Gito Tukang Ojek Stasiun: Menjemput Penumpang, Menjemput Harapan

Jam sudah mendekati pukul 19.00 malam ketika saya melihat deretan sepeda motor di sekitar pangkalan ojek stasiun. Udara malam terasa lebih dingin. Sesekali suara kereta terdengar dari kejauhan, disusul pengumuman yang sayup-sayup terdengar dari dalam stasiun. 

Beberapa penumpang berjalan tergesa membawa tas, sebagian menunggu jemputan, sebagian lagi mencari kendaraan untuk mengantar mereka pulang. Di antara para tukang ojek yang masih berada di pangkalan malam itu, ada seorang lelaki tua yang duduk tenang. Usianya 68 tahun. Namanya Pak Gito. Tubuhnya tentu tidak lagi sekuat ketika ia pertama kali mengojek puluhan tahun lalu. Rambutnya sudah banyak memutih. Wajahnya menyimpan garis-garis usia yang tidak mungkin disembunyikan.

Tetapi malam itu ia masih berada di pangkalan. Menunggu. Entah penumpang berikutnya akan datang atau tidak. Saya memperhatikan wajahnya dan tiba-tiba berpikir: berapa banyak malam yang sudah dilewati lelaki ini dengan cara seperti ini?  Satu malam. Dua malam. Seribu malam.Sepuluh ribu malam? Saya tidak tahu.

Yang saya tahu, Pak Gito sudah menjadi tukang ojek pangkalan di stasiun itu sejak sebelum krisis moneter 1998. Kalau dihitung, sudah sekitar 36 tahun lebih. Tiga puluh enam tahun. Bukan tiga puluh enam hari. Bukan tiga puluh enam bulan. Tiga puluh enam tahun. Selama itu pula ia menjemput orang-orang yang datang dan pergi, sementara dirinya sendiri tetap menunggu di tempat yang sama. Dan mungkin, tanpa banyak orang sadari, selama 36 tahun itu ia sebenarnya bukan hanya menjemput penumpang. Ia sedang menjemput harapan.


Saya bertanya kepadanya tentang awal mula menjadi tukang ojek. Pak Gito mengingat satu hal yang bagi saya sederhana, tetapi sekaligus terasa seperti sebuah penanda zaman. Harga bensin. “Saya masih ingat, dulu bensin satu liter Rp450!.” Ia mengatakannya sambil tersenyum kecil.

Saya mencoba membayangkan masa itu. Harga-harga belum seperti sekarang. Ojek online belum pernah terbayangkan. Ponsel pintar belum menjadi bagian dari kehidupan. Orang yang turun dari kereta membutuhkan kendaraan, lalu mencari tukang ojek yang menunggu di pangkalan. Dan Pak Gito ada di sana. Ia mulai dari situ.Menunggu penumpang. Mengantar mereka ke rumah. Kemudian kembali lagi ke stasiun. Menunggu lagi. Begitu seterusnya. Pekerjaan itu mungkin terlihat biasa. Bahkan terlalu biasa.

Tidak ada kantor. Tidak ada seragam dengan logo perusahaan besar. Tidak ada meja kerja. Tidak ada ruang berpendingin udara. Tempat kerjanya adalah pangkalan ojek. Kantornya adalah jalan raya. Teman kerjanya adalah sesama tukang ojek. Dan pendapatannya tergantung pada satu hal yang tidak pernah bisa ia pastikan: apakah malam ini akan ada penumpang? Tetapi justru karena itulah saya merasa pekerjaan Pak Gito layak diceritakan.

Sebab ada pekerjaan yang tidak pernah masuk daftar pekerjaan bergengsi, tetapi membuat seseorang mampu mempertahankan keluarganya selama puluhan tahun.


Pak Gito tinggal di daerah Bojong, kira-kira satu kilometer dari stasiun. Tidak jauh.Tetapi perjalanan pulang-pergi dari rumah ke stasiun hanyalah bagian kecil dari rutinitas hidupnya. Biasanya ia mulai berangkat setelah Magrib. Ketika sebagian orang mulai berkumpul bersama keluarga di rumah, Pak Gito justru berangkat bekerja. Malam menjadi waktu kerjanya. Ia menunggu di stasiun sampai sekitar pukul dua dini hari.

Pukul dua.

Bagi sebagian besar orang, itu adalah waktu ketika tidur sudah begitu dalam. Rumah-rumah sudah gelap. Jalanan mulai sepi. Suara kendaraan tidak seramai siang hari.Tetapi bagi Pak Gito, pukul dua adalah tanda bahwa hari kerjanya selesai.Kalau ada penumpang, ia mengantar.Kalau tidak ada, ia menunggu. 

Dan inilah bagian yang paling getir dari pekerjaannya sekarang. Penumpang semakin sedikit.Sejak munculnya ojek online, keadaan ojek pangkalan berubah drastis. Masyarakat memiliki pilihan baru. Tarif ojek online rata-rata bisa separuh, bahkan lebih murah dibandingkan ojek pangkalan. Bagi konsumen, mungkin ini adalah kemudahan. Bagi Pak Gito dan teman-temannya, perubahan itu berarti sesuatu yang berbeda. 

Berarti semakin sedikit orang yang datang ke pangkalan.Semakin lama menunggu. Semakin sering pulang tanpa membawa banyak hasil. Bahkan ada malam ketika ia sama sekali tidak mendapatkan penumpang.

Tidak narik sama sekali.

Saya membayangkan bagaimana rasanya duduk berjam-jam, menunggu, sementara waktu terus berjalan. Pukul delapan. Sembilan. Sepuluh. Sebelas.Tengah malam.Satu.Dua. Dan ternyata tidak ada satu pun penumpang yang menjadi rezeki malam itu. Mungkin pada awalnya kita akan berkata, “Tidak apa-apa, besok masih bisa mencoba.”

Tetapi kalau keadaan seperti itu terjadi berulang kali, tentu ada rasa cemas.Ada rasa kecewa. Mungkin juga ada sedikit rasa iri ketika melihat kendaraan ojek online datang silih berganti.

Saya tidak ingin berpura-pura bahwa orang yang sudah berusia 68 tahun selalu bisa menerima perubahan dengan lapang dada. Saya kira ada saat-saat ketika Pak Gito juga merasa berat. Barangkali pernah terlintas dalam pikirannya, “Dulu saya bisa mengandalkan pekerjaan ini. Mengapa sekarang semakin sulit?”

Itu manusiawi. Tetapi yang menarik adalah: ia tidak memilih berhenti. Saya bertanya kepadanya, mengapa masih tetap ngojek sampai sekarang. Padahal anak-anaknya sudah besar. Ia memiliki dua anak.

Keduanya sudah lulus. Salah satunya sudah bekerja di sebuah rumah makan setelah menyelesaikan pendidikan SMK. Ia juga sudah memiliki seorang cucu. Kebutuhan untuk membiayai sekolah anak tidak lagi sebesar dulu.

Kalau menggunakan ukuran ekonomi semata, mungkin Pak Gito bisa saja berkata: “Sudahlah. Saya di rumah saja.” Tetapi ia tidak melakukan itu.Ia tetap datang ke pangkalan. Tetap duduk bersama teman-temannya.

Tetap menunggu penumpang.Tetap pulang sekitar pukul dua dini hari. Ketika mendengar alasannya, saya justru terdiam. “Pertama, saya bisa mandiri. Tidak merepotkan anak.” Kalimat itu sederhana. Tetapi saya bisa merasakan harga diri yang ada di dalamnya. Pak Gito tidak ingin ketika anaknya sudah bekerja, kemudian semua kebutuhan hidupnya menjadi tanggungan anak.

Ia ingin tetap bisa memenuhi kebutuhannya sendiri. Tidak banyak. Tidak berlebihan.. Cukup. Tetapi dari hasil keringatnya sendiri. Ada sesuatu yang sangat manusiawi dalam keinginan itu. Kita semua, pada akhirnya, ingin merasa masih berguna. Masih mampu berdiri. Masih mampu memberikan sesuatu.Masih punya kendali atas hidup sendiri. Bahkan ketika usia sudah tidak muda lagi.


Namun ada alasan lain yang membuat Pak Gito tetap bertahan. Teman. Di pangkalan itu ada sekitar 46 tukang ojek yang terdaftar. Empat puluh enam orang. Mereka mungkin sama-sama mencari penumpang. Sama-sama membutuhkan penghasilan.

Sama-sama menghadapi sepinya pangkalan.Tetapi mereka juga menjadi semacam keluarga kedua.Pak Gito bercerita bahwa di antara mereka ada kebiasaan saling membantu. Kalau ada teman yang sedang kesulitan, ada yang membantu. Kalau ada persoalan, dibicarakan bersama. Kalau ada yang membutuhkan pertolongan, teman-temannya tidak tinggal diam.

Maka pangkalan itu ternyata bukan sekadar tempat menunggu penumpang. Ia adalah tempat bertemunya manusia dengan manusia. Tempat orang-orang yang sama-sama berjuang menemukan teman seperjalanan.

Dan saya kira ini salah satu hal yang sering hilang dalam pembicaraan tentang pekerjaan. Kita terlalu sering bertanya: “Berapa penghasilannya?” “Apakah menjanjikan?” “Apakah masa depannya bagus?”Tetap i jarang bertanya: “Apakah pekerjaan itu membuat seseorang merasa tidak sendirian?”

Bagi Pak Gito, mungkin jawabannya iya. Ia datang bukan hanya untuk mendapatkan penumpang.Ia datang untuk bertemu kawan. Untuk bercengkerama. Untuk menjaga silaturahmi. Untuk saling menguatkan. Dan di tengah pekerjaan yang semakin sepi, perasaan bahwa ia tidak sendirian mungkin menjadi rezeki tersendiri.


Saya membayangkan kehidupan Pak Gito bertahun-tahun yang lalu. Ketika anak-anaknya masih sekolah. Ketika kebutuhan rumah tangga lebih banyak. Ketika uang hasil mengojek bukan sekadar tambahan, tetapi bagian penting dari kehidupan keluarga.  Alhamdulillah, meski pas-pasan bisa untuk biaya hidup. Dan untuk biaya sekolah waktu itu.” Lagi-lagi ia tidak menggunakan kata-kata besar.

Pas-pasan.

Tetapi mungkin justru di situlah cerita banyak keluarga Indonesia. Mereka tidak hidup berlebihan. Mereka tidak memiliki tabungan besar. Mereka tidak memiliki banyak pilihan. Tetapi mereka menemukan cara agar anak-anak tetap sekolah. Sedikit demi sedikit. Hari demi hari. Pak Gito mungkin tidak pernah menghitung berapa kilometer yang telah ia tempuh selama 36 tahun. Berapa kali ia mengisi bensin. Berapa kali ban motornya bocor. Berapa kali hujan turun ketika ia sedang mengantar penumpang.Berapa kali ia pulang larut malam. Berapa kali ia menunggu tanpa hasil. Tetapi semua itu menjadi bagian dari perjalanan yang akhirnya membawa kedua anaknya sampai lulus.

Dan bagi seorang ayah, keberhasilan anak kadang menjadi bentuk penghargaan terbesar. Tidak perlu piagam. Tidak perlu piala. Tidak perlu namanya disebut orang. Cukup melihat anaknya mampu berdiri sendiri. Itu sudah cukup.


Tetapi Pak Gito juga melihat nasib teman-temannya yang masih memiliki anak sekolah. di sinilah ceritanya berubah menjadi lebih getir. Ia mengatakan, kalau seorang tukang ojek pangkalan berada dalam kondisi seperti sekarang sementara masih harus membiayai anak sekolah, pasti sangat pusing. Banyak teman yang bercerita. Mengeluh. Bahkan kadang meminta bantuan. Saya bisa membayangkan percakapan di antara mereka. Mungkin terjadi ketika malam sudah larut dan tidak ada penumpang.

Motor-motor berjajar. Tidak banyak yang berbicara. Lalu satu orang mulai bercerita tentang uang sekolah. Yang lain tentang kebutuhan rumah. Yang lain tentang cicilan. Yang lain tentang anak. Di luar sana, dunia terus bergerak. Teknologi terus berubah. Cara orang bepergian berubah.

Tetapi di pangkalan kecil itu, ada orang-orang yang sedang berusaha memastikan keluarganya tetap bisa makan. Saya tiba-tiba merasa malu pada diri sendiri. Sering kali kita mudah sekali mengeluh tentang hal-hal kecil. Internet lambat. Pesanan datang terlambat. Pekerjaan menumpuk. Keinginan belum tercapai.

Sementara ada orang yang mungkin menghabiskan enam atau tujuh jam malam hanya untuk menunggu satu penumpang. Dan kalau penumpang itu tidak datang, ia tetap harus pulang. Besok mencoba lagi. Di sinilah saya belajar bahwa menyerah dan berhenti adalah dua hal yang berbeda.

Pak Gito mungkin sudah berhenti mengejar kehidupan yang berlebihan.Tetapi ia belum berhenti berjuang. Ia tidak lagi berada pada masa ketika kebutuhan sekolah anak begitu mendesak. Tetapi ia masih ingin mandiri. Ia masih ingin punya penghasilan sendiri. Ia masih ingin bertemu teman-temannya. Ia masih ingin menjadi bagian dari lingkungan yang selama puluhan tahun menjadi tempatnya bekerja.

Ada orang yang bekerja karena ingin kaya. Ada yang bekerja karena ingin memiliki jabatan. Ada yang bekerja karena mengejar karier. Tetapi ada juga yang bekerja karena ingin tetap berguna.

Pak Gito adalah salah satunya. Dan bagi orang seperti itu, pekerjaan bukan semata-mata alat untuk mendapatkan uang. Pekerjaan adalah cara untuk menjaga martabat. Kita hidup di zaman ketika perubahan datang begitu cepat. 

Teknologi bisa membuat pekerjaan tertentu hilang. Sebagai contoh, aplikasi bisa menggantikan cara lama. Harga bisa berubah. Kebiasaan masyarakat berubah. Yang dulu ramai bisa menjadi sepi. Yang dulu menjadi sumber penghasilan bisa kehilangan pelanggan. Dan kita sering kali tidak punya kuasa untuk menghentikan perubahan itu. Tetapi kita masih punya pilihan tentang bagaimana meresponsnya.

Pak Gito tidak bisa menghentikan ojek online. Ia tidak bisa memaksa masyarakat kembali menggunakan ojek pangkalan. Ia tidak bisa mengembalikan keadaan seperti tahun-tahun ketika penumpang masih ramai.

Yang bisa ia lakukan hanyalah menerima kenyataan itu dan tetap mencari cara untuk bertahan. Itulah bentuk keberanian yang sering tidak kita kenali. Keberanian tidak selalu berarti mengambil keputusan besar. Kadang keberanian adalah menerima bahwa dunia telah berubah, lalu tetap mencari tempat untuk berdiri di dalam perubahan itu.


Ada satu hal lagi yang saya pelajari dari Pak Gito. Kita tidak selalu harus menang untuk disebut berhasil. Kadang kita hanya perlu bertahan cukup lama sampai melihat sesuatu yang kita perjuangkan mulai membuahkan hasil. Pak Gito tidak menjadi orang kaya dari pekerjaannya. Ia tidak mengubah kehidupannya menjadi kisah sukses yang spektakuler. Tetapi kedua anaknya sudah lulus. Salah satunya sudah bekerja. Ia memiliki seorang cucu.

Dan hari ini ia masih bisa mengatakan bahwa dirinya berusaha mandiri. Bukankah itu keberhasilan? Mungkin bukan keberhasilan yang sering ditampilkan di media sosial. Tetapi keberhasilan yang nyata.Keberhasilan seorang ayah yang selama puluhan tahun mengantar orang lain pulang, sambil memastikan keluarganya sendiri memiliki jalan untuk melangkah ke masa depan.


Ketika malam semakin larut dan jam mendekati pukul dua, saya membayangkan Pak Gito mulai bersiap pulang. Mungkin malam itu ada penumpang. Mungkin juga tidak. Ia akan menghidupkan  motornya. Mesin berbunyi. Lampu menyala. Kemudian ia meninggalkan stasiun. Jalanan mulai sepi. Tidak ada sorotan lampu kamera. Tidak ada tepuk tangan.Tidak ada orang yang menunggunya di garis finish. Hanya rumah sederhana di Bojong yang menunggu. Di sana mungkin ada cucu yang masih terlelap. Besok malam, ia mungkin akan kembali lagi. Maghrib berangkat.  Menunggu. Mengantar jika ada penumpang.  Bercengkerama dengan teman-teman. Saling membantu.  Dan sekitar pukul dua, pulang. Begitu seterusnya. Tiga puluh enam tahun lebih.

Saya kemudian sadar, mungkin selama ini kita terlalu mudah menyebut orang hebat sebagai mereka yang berhasil mencapai sesuatu yang luar biasa. Padahal Pak Gito mengajarkan definisi yang berbeda. Orang hebat bisa saja orang yang hidupnya biasa-biasa saja, tetapi kesetiaannya terhadap tanggung jawab luar biasa. Ia tidak pernah masuk panggung. Tetapi ia hadir setiap malam. Ia tidak pernah menerima penghargaan. Tetapi ia menghidupi keluarganya.  Ia tidak pernah menjadi terkenal. Tetapi ia telah menjadi bagian dari kehidupan ribuan penumpang yang pernah duduk di belakang motornya.

Dan mungkin ada banyak orang yang tidak akan pernah tahu bahwa lelaki yang mengantarkan mereka pulang malam itu telah bekerja sejak sebelum mereka lahir.


Saya pulang dari pertemuan dengan Pak Gito membawa satu kesadaran sederhana. Bahwa pekerjaan yang jarang dipuji bukan berarti pekerjaan yang tidak berarti. Bahwa menunggu bukan berarti tidak melakukan apa-apa. Bahwa hidup yang sederhana bukan berarti hidup yang gagal. Dan bahwa seseorang tidak harus memiliki banyak hal untuk menjadi berarti bagi keluarganya.

Pak Gito menjemput penumpang. Tetapi sesungguhnya ia juga sedang menjemput harapan. Harapan untuk bisa tetap mandiri. Harapan agar tidak merepotkan anak. Harapan untuk terus bersilaturahmi dengan teman-temannya.

Dan mungkin, jauh di dalam dirinya, ada kepuasan sederhana karena selama puluhan tahun ia telah melakukan satu hal dengan setia:bekerja. Maka ketika suatu hari kita merasa pekerjaan kita tidak dihargai, ingatlah bahwa nilai sebuah pekerjaan tidak selalu ditentukan oleh tepuk tangan orang lain.

Ketika usaha kita terasa sepi, jangan buru-buru menganggapnya sia-sia. Ketika zaman berubah dan jalan yang dulu kita kenal mulai kehilangan arah, carilah cara untuk tetap berjalan. Dan ketika kita mulai merasa terlalu tua untuk memulai atau melanjutkan sesuatu, ingatlah Pak Gito.

Usia 68 tahun. Masih berangkat setelah Magrib. Masih menunggu sampai pukul dua dini hari. Bukan karena hidup memaksanya. Tetapi karena ia memilih untuk tetap berdiri dengan caranya sendiri. Sebab kadang-kadang, kemenangan terbesar dalam hidup bukanlah menjadi yang paling cepat sampai. Kemenangan terbesar adalah tetap berada di jalan ketika banyak orang sudah memilih berhenti. Dan mungkin itulah yang dilakukan Pak Gito selama lebih dari tiga puluh enam tahun: menjemput penumpang, menjemput rezeki, dan diam-diam menjemput harapan.

No comments:

Post a Comment