Ada mimpi yang mati bukan karena kita tidak menginginkannya lagi. Ia mati karena kita terlalu lelah untuk mengejarnya. Ada pula mimpi yang tidak pernah benar-benar mati. Ia mungkin disimpan bertahun-tahun. Diletakkan di sudut hati yang paling dalam. Ditutup oleh kebutuhan hidup, pekerjaan, keluarga, kegagalan, bahkan oleh keadaan yang memaksa kita menjadi orang lain dari yang pernah kita bayangkan. Namun suatu hari, mimpi itu muncul lagi. Tidak selalu dalam bentuk yang sama. Kadang ia hadir sebagai keinginan seorang ibu agar anaknya bisa sekolah lebih tinggi daripada dirinya.
Kadang berupa seorang anak muda yang ingin membuktikan bahwa masa lalu yang sulit tidak harus menentukan masa depannya. Kadang ia hadir dalam bentuk seorang ayah yang setiap hari mendorong gerobak bukan karena ia mencintai panas jalanan, tetapi karena ada anak-anak yang ingin ia antarkan menjadi manusia baik. Dan kadang mimpi datang sebagai keberanian seorang manusia yang sudah memasuki usia yang tidak lagi muda untuk berkata:
“Saya akan mulai lagi.”
Itulah mimpi-mimpi yang akan kita temui di bagian pertama buku ini. Mimpi yang tidak selalu besar jika dilihat dari luar. Tetapi sangat besar bagi orang yang menjalaninya. Sebab barangkali kita selama ini keliru memahami mimpi.
Kita sering mengira mimpi harus selalu berbentuk sesuatu yang spektakuler. Menjadi orang terkenal. Membangun perusahaan besar. Memiliki rumah mewah. Mendapatkan jabatan tinggi. Menjadi juara. Pergi ke luar negeri. Memiliki kehidupan yang membuat orang lain berkata, “Wah, hebat sekali.”
Tidak ada yang salah dengan semua itu.Tetapi setelah bertemu dengan begitu banyak orang dalam perjalanan menulis buku ini, saya mulai bertanya kembali:Apakah mimpi hanya tentang menjadi sesuatu yang besar? Atau jangan-jangan mimpi yang paling penting justru sering kali sangat sederhana? Mimpi agar anak tidak putus sekolah. Mimpi agar keluarga bisa makan dengan layak. Mimpi agar anak-anak tumbuh dengan akhlak yang baik. Mimpi memiliki rumah sendiri. Mimpi bisa bekerja dengan tangan sendiri. Mimpi agar suatu hari kehidupan sedikit lebih baik daripada hari ini. Mimpi untuk tidak menjadi beban bagi orang lain. Dan bahkan mimpi yang paling sederhana sekalipun—mimpi untuk tetap bertahan.
Saya pernah membayangkan bahwa orang yang memiliki mimpi besar pasti memiliki keberanian yang besar pula. Ternyata tidak selalu. Sering kali mereka justru takut.Takut gagal. Takut tidak cukup uang. Takut mengecewakan keluarga.Takut ditertawakan. Takut memulai dari nol. Takut usia sudah terlalu tua.Takut usaha tidak laku. Takut sekolah anak tidak bisa dibayar. Takut besok tidak tahu harus bekerja apa. Namun mereka tetap berjalan. Di situlah saya mulai memahami bahwa keberanian bukan berarti tidak memiliki rasa takut. Keberanian adalah tetap melakukan sesuatu yang kita anggap benar meskipun rasa takut itu ada.
Dan mimpi yang menolak padam bukan berarti mimpi yang selalu diperjuangkan dengan cara yang sama. Kadang jalannya harus berubah. Cita-cita bisa berubah bentuk. Strategi bisa berganti.Pekerjaan bisa berganti. Kota tempat tinggal bisa berganti. Bahkan ukuran keberhasilan bisa berubah.Tetapi sesuatu yang lebih dalam tetap tinggal: keinginan untuk membuat kehidupan menjadi lebih baik.
Mak Sri adalah salah satu orang yang membuat saya memahami hal itu. Sejak kecil, ia belajar bahwa hidup tidak selalu memberi kesempatan yang sama kepada semua orang. Ia adalah anak pertama dari enam bersaudara. Ketika masih kecil, ia mendengar kalimat yang mungkin sederhana bagi orang lain, tetapi mengubah jalan hidupnya:
“Nduk, kamu perempuan. Nggak usah sekolah tinggi-tinggi. Yang penting kamu bisa bantu adik-adikmu.”
Mungkin bagi sebagian orang, kalimat itu hanya nasihat orang tua yang hidup dalam keterbatasan. Tetapi bagi seorang anak perempuan yang sedang memiliki mimpi, kalimat itu berarti sesuatu yang lain. Ada pintu yang harus ditutup. Ada keinginan yang harus ditunda. Ada masa depan yang harus dikorbankan. Mak Sri tidak kemudian hidup tanpa mimpi. Ia hanya mengubah siapa yang menjadi tujuan dari mimpinya.
Kalau dulu mungkin ia ingin sekolah lebih tinggi untuk dirinya sendiri, kemudian ia bekerja agar adik-adiknya bisa sekolah. Bertahun-tahun ia menjadi buruh pabrik. Gajinya tidak digunakan untuk membangun kehidupan yang mewah. Ia menggunakannya untuk kebutuhan sekolah adik-adiknya.
Dan ketika kemudian ia membangun keluarga sendiri, mimpi itu tidak berhenti. Mimpi itu berpindah kepada anak-anaknya. Hari ini, ketika anak-anaknya kuliah, kita mungkin hanya melihat hasil akhirnya. Tetapi di balik bangku kuliah itu ada seorang perempuan yang pernah menunda dirinya sendiri. Ada keringat. Ada pagi yang dimulai terlalu dini. Ada makanan yang harus dimasak. Ada uang yang harus dihitung berkali-kali. Ada kebutuhan yang harus dipilih mana yang lebih penting. Ada keinginan pribadi yang mungkin berkali-kali dikalahkan.
Dari Mak Sri saya belajar: Mimpi tidak selalu berarti mendapatkan apa yang kita inginkan untuk diri sendiri. Kadang mimpi berarti memastikan orang yang kita cintai mendapatkan kesempatan yang dulu tidak pernah kita miliki. Dan mungkin itulah salah satu bentuk cinta yang paling sunyi. Tidak banyak dibicarakan. Tidak banyak dipuji.Tetapi mengubah masa depan seseorang.
Lalu saya bertemu dengan Sanidi.
Seorang anak muda yang hidupnya sejak kecil tidak berjalan sebagaimana mestinya. Ada keluarga yang tidak utuh. Ada orang tua yang masing-masing menjalani kehidupan baru.
Ada masa kecil yang tidak sepenuhnya mendapatkan kehangatan yang dibutuhkan seorang anak.Bahkan sejak masih duduk di sekolah dasar, ia sudah harus bekerja sebagai anak buah kapal ikan. Ketika sebagian anak seusianya mungkin sedang tidur di rumah, Sanidi justru berhadapan dengan malam, laut, angin dan dingin. Jam sepuluh malam berangkat.
Menerjang laut. Menebar jala. Membantu menarik hasil tangkapan Dan pulang ketika hari mulai siang. Upahnya tidak besar. Tetapi dari sana ia belajar sesuatu yang mungkin tidak diajarkan di ruang kelas:
Hidup harus diperjuangkan.
Bertahun-tahun kemudian, ia menemukan pekerjaan sebagai tukang kunci. Ia belajar secara autodidak. Tidak ada jalan pintas. Tidak ada sekolah khusus yang tiba-tiba membuatnya mahir. Ada alat. Ada kesalahan. Ada latihan. Ada kesabaran. Dan ada kemauan untuk terus belajar. Ketika saya mendengar kisahnya, saya tidak lagi melihat sebagai seorang tukang kunci. Saya melihat seorang anak yang pernah mengalami kehilangan kasih sayang, tetapi memilih untuk tidak menjadikan kehilangan itu sebagai alasan untuk kehilangan masa depan.
Mimpi Sanidi mungkin belum berbentuk gelar. Belum berbentuk jabatan. Belum berbentuk sesuatu yang bisa dipamerkan. Tetapi ada satu hal yang penting: ia masih ingin menjadi manusia yang bermanfaat. Dan bukankah itu juga sebuah mimpi? Bahwa setelah hidup memperlakukan kita dengan keras, kita masih memilih untuk tidak menjadi keras kepada kehidupan.
Kemudian ada Bang Dani.
Dua puluh lima tahun berjualan bakso keliling. Kalau kita hanya melihat gerobaknya, mungkin kita akan menganggap pekerjaannya biasa saja. Gerobak. Panci. Kuah panas. Mangkuk. Jalan kampung. Suara pedagang yang berkeliling. Tetapi coba kita lihat lebih dekat. Setiap kali roda gerobaknya bergerak, ada keluarga yang ikut bergerak bersamanya. Ada anak-anak yang harus sekolah. Ada kebutuhan rumah yang harus dipenuhi. Ada pendidikan agama yang ia anggap penting. Ada keinginan agar anak-anaknya tumbuh bukan hanya pintar, tetapi juga memiliki akhlak.
Bang Dani pernah mengalami kegagalan. Pernah pergi. Pernah bekerja di Jakarta. Pernah menikah dan mengalami perceraian. Pernah mencoba berjualan di Malang dan gagal. Kemudian ia kembali ke Kebumen dan memulai usaha bakso dari awal.
Ia memilih hidup dengan prinsip sederhana: sebisa mungkin tidak berutang, menunda keinginan, dan memprioritaskan pendidikan anak. Ketika saya mendengar itu, saya kembali bertanya tentang arti mimpi. Mungkin mimpi seorang ayah tidak selalu berbunyi, “Saya ingin menjadi kaya.”Kadang bunyinya jauh lebih sederhana: “Saya ingin anak-anak saya tumbuh baik.”
Ia mungkin tidak mampu memberikan semua yang anak-anaknya inginkan. Tetapi ia berusaha memberikan sesuatu yang menurutnya jauh lebih penting: pendidikan, agama, dan kemampuan menjaga diri.
Maka selama dua puluh lima tahun ia mendorong bakso. Hari demi hari. Tahun demi tahun. Bukan karena hidupnya tidak memiliki pilihan lain. Tetapi karena dari pekerjaan itulah ia menemukan cara untuk menjaga sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri. Keluarganya.
Dan kemudian ada Tukimin.
Sebuah nama yang mungkin tidak akan masuk dalam daftar orang-orang sukses yang sering kita baca. Usia yang tidak lagi muda. Tetapi justru pada usia ketika sebagian orang mulai berhenti mencoba, ia berani memulai dari nol. Di situlah saya menemukan bentuk lain dari mimpi. Mimpi tidak mengenal batas usia. Kita sering mengatakan, “Sudah terlambat.” Padahal terlambat menurut siapa? Ada orang yang baru menemukan keberanian ketika usianya empat puluh. Ada yang baru membangun usaha ketika usia lima puluh. Ada yang baru berani belajar ketika anak-anaknya sudah dewasa. Ada yang baru menemukan jalan hidup setelah berkali-kali tersesat.
Kita terlalu sering mengukur kehidupan menggunakan kalender. Padahal manusia tidak tumbuh dengan jadwal yang sama. Ada orang yang cepat menemukan jalannya. Ada yang membutuhkan waktu lebih panjang. Ada yang harus jatuh berkali-kali. Ada yang harus memulai dari titik yang sangat rendah. Tetapi selama seseorang masih mau mencoba, perjalanan itu belum selesai.
Tukimin mengingatkan saya bahwa memulai dari nol bukan berarti tidak memiliki apa-apa. Kita membawa pengalaman. Membawa kegagalan. Membawa keterampilan. Membawa hubungan dengan orang lain. Membawa keyakinan. Dan yang paling penting, membawa keberanian untuk mencoba lagi.
Empat kisah. Empat jalan. Empat kehidupan yang berbeda. Namun ada benang merah yang mengikat semuanya. Mereka tidak memiliki kehidupan yang sempurna. Mereka tidak selalu mendapatkan kesempatan yang mereka inginkan. Mereka tidak berjalan di jalan yang lurus. Tetapi mereka memiliki satu kesamaan: mereka tidak membiarkan keadaan menentukan seluruh masa depan mereka.
Keadaan boleh menentukan dari mana mereka memulai. Tetapi mereka berusaha menentukan ke mana mereka akan pergi. Dan mungkin itulah makna dari judul bagian ini: Mimpi yang Menolak Padam. Mimpi bukan sesuatu yang selalu menyala terang. Kadang ia hanya seperti bara. Kecil. Merah. Hampir tidak terlihat. Tertutup abu kehidupan. Tetapi belum mati. Satu masalah datang, bara itu mengecil. Kegagalan datang, hampir padam. Kemiskinan datang, tertutup abu. Kehilangan datang, kita bahkan mungkin lupa bahwa bara itu pernah ada. Namun suatu hari, sedikit angin datang. Sedikit harapan. Sedikit keberanian. Sedikit dukungan dari seseorang. Sedikit keberhasilan. Lalu bara itu menyala lagi. Begitulah manusia.
Kita mungkin pernah mengatakan, “Saya sudah tidak punya harapan.” Tetapi beberapa waktu kemudian kita bangun dan mencoba lagi. Kita mungkin pernah berkata, “Saya tidak sanggup.” Namun ketika melihat anak kita membutuhkan kita, entah dari mana tenaga itu datang. Kita mungkin pernah merasa cita-cita sudah terlalu jauh. Tetapi ternyata ada mimpi lain yang tumbuh dari reruntuhan mimpi lama. Dan mungkin itulah yang membuat manusia begitu menarik. Kita bisa patah tanpa benar-benar hancur. Kita bisa kecewa tanpa berhenti berharap. Kita bisa kehilangan arah tanpa kehilangan keinginan untuk pulang.
Buku ini tidak ingin mengatakan bahwa siapa pun yang bekerja keras pasti akan mendapatkan semua yang ia inginkan. Kehidupan tidak sesederhana itu. Kerja keras tidak selalu langsung menghasilkan keberhasilan. Orang baik pun bisa mengalami kegagalan. Orang jujur pun bisa mengalami kesulitan. Orang yang sudah berusaha sekuat tenaga pun kadang tetap kalah oleh keadaan. Karena itu, kisah-kisah dalam buku ini bukanlah janji bahwa hidup akan selalu memberi hadiah kepada orang yang berjuang.
Kisah-kisah ini menawarkan sesuatu yang lebih realistis. Bahwa kita masih memiliki pilihan tentang bagaimana kita merespons kehidupan. Ketika pintu tertutup, kita bisa mencari pintu lain. Ketika jalan berubah, kita bisa mencari arah baru. Ketika mimpi pertama tidak tercapai, kita bisa bertanya: “Apa yang masih bisa saya perjuangkan?” Ketika hidup terasa terlalu berat, kita boleh beristirahat. Menangis. Mengeluh.Mengaku bahwa kita lelah.Itu semua manusiawi.
Yang penting, jangan terlalu cepat menganggap bahwa perjalanan kita sudah selesai. Sebab bisa jadi yang kita anggap sebagai akhir hanyalah belokan.Untuk Anda yang masih muda, mungkin Anda sedang mengejar cita-cita dan merasa tertinggal. Untuk Anda yang sedang membangun keluarga, mungkin Anda sedang bertanya bagaimana memenuhi kebutuhan hari esok. Untuk Anda yang sudah memasuki usia matang, mungkin Anda merasa kesempatan terbaik telah lewat. Untuk Anda yang pernah gagal, mungkin Anda takut mencoba lagi. Untuk Anda yang sedang kehilangan pekerjaan, mungkin hari-hari terasa panjang dan penuh ketidakpastian. Untuk Anda yang sedang berjuang membiayai pendidikan anak, mungkin Anda tahu persis bagaimana rasanya menghitung uang berkali-kali. Dan untuk siapa pun yang sedang merasa mimpinya semakin jauh, saya berharap empat kisah dalam bagian ini bisa menjadi teman.
Bukan untuk membuat Anda merasa bersalah karena belum berhasil. Bukan untuk mengatakan bahwa Anda harus selalu kuat. Tetapi untuk mengingatkan: Tidak apa-apa berjalan pelan. Tidak apa-apa mengubah rencana. Tidak apa-apa memulai kembali. Tidak apa-apa jika mimpi Anda hari ini berbeda dengan mimpi Anda sepuluh tahun lalu.
Yang penting adalah menemukan sesuatu yang layak diperjuangkan. Sesuatu yang membuat Anda bersedia bangun lagi. Mungkin pada akhirnya, pertanyaan yang paling penting bukanlah: “Seberapa besar mimpi saya?” Tetapi: “Untuk siapa dan untuk apa saya terus memperjuangkannya?”
Mak Sri menemukan jawabannya pada adik-adik dan anak-anaknya. Sanidi menemukannya dalam keinginan untuk membangun kehidupan yang lebih baik setelah masa kecil yang tidak mudah. Bang Dani menemukannya pada pendidikan dan masa depan anak-anaknya. Tukimin menemukannya pada keberanian untuk membuktikan bahwa usia bukan alasan untuk berhenti mencoba.
Dan mungkin pembaca akan menemukan jawabannya sendiri. Bisa jadi untuk keluarga. Bisa jadi untuk orang tua. Bisa jadi untuk anak. Bisa jadi untuk pasangan. Bisa jadi untuk diri sendiri. Atau mungkin untuk sebuah kehidupan sederhana yang ingin kita jalani dengan bermartabat. Sebab tidak semua mimpi harus membuat kita terkenal. Ada mimpi yang cukup membuat rumah tetap menyala. Ada mimpi yang cukup membuat seorang anak terus bersekolah. Ada mimpi yang cukup membuat seseorang bisa makan hari ini. Ada mimpi yang cukup membuat seorang ayah dan ibu tetap tersenyum. Dan ada mimpi yang hanya ingin memastikan bahwa ketika suatu hari kita menoleh ke belakang, kita bisa berkata: “Saya mungkin tidak mendapatkan semua yang saya inginkan. Tetapi saya tidak menyerah begitu saja.”
Maka sebelum membaca empat kisah berikutnya, saya ingin mengajak Anda mengingat satu mimpi Anda sendiri. Mimpi yang pernah Anda miliki. Mungkin sekarang masih Anda perjuangkan. Mungkin pernah Anda tinggalkan. Mungkin sudah lama Anda kubur karena keadaan. Tidak perlu menjawab dengan keras. Cukup tanyakan kepada diri sendiri: Apakah mimpi itu benar-benar sudah mati, atau hanya sedang menunggu saya berani menyalakannya kembali?
Barangkali jawabannya ada di halaman-halaman berikut. Barangkali dari kisah seorang ibu yang menjaga dapurnya tetap menyala. Dari seorang anak muda yang menolak membiarkan masa lalunya menentukan masa depan. Dari seorang ayah yang selama seperempat abad mendorong gerobak demi anak-anaknya. Atau dari seseorang yang, ketika banyak orang menganggap usianya sudah cukup untuk berhenti, justru memilih berkata: “Saya akan mulai lagi.”
Karena ternyata, orang-orang hebat bukan selalu mereka yang berhasil mewujudkan semua mimpinya. Orang-orang hebat adalah mereka yang, ketika hidup berkali-kali memadamkan cahaya itu, tetap mencari cara untuk menyalakannya kembali. Dan mungkin, di suatu tempat dalam hidup kita masing-masing, ada satu mimpi yang sampai hari ini masih berbisik pelan: “Jangan menyerah dulu.”

.jpeg)










