Sunday, September 11, 2016

Membangun semangat menulis

Dulu ketika ditanya tentang apa hobiku? Sering kali ketika aku jawab membaca dan menulis, dan pilihan profesi yang  ingin aku tekuni adalah jadi penulis, mereka mentertawakan. Hingga pada suatu saat, aku tidak bersemangat dan hampir mengubur hobi itu. Sehingga  latihan menulispun makin lama makin jarang. Namun untuk membaca, hingga saat ini masih belum hilang. Meskipun intensitas membacanya tidak segairah dulu.

Menulis itu mengikat ilmu
Saat ini, dengan banyak berkembangnya teknologi informasi, dan terbukanya akses internet, aku lebih banyak membaca artikel atau tulisan di website. Pertimbangannya, di dunia maya tersedia tulisan dari berbagai topik, bermacam penulis atau pengarang, dari beragam penerbit. Bahkan melalui search di internet, kita bisa mencari tulisan tentang suatu topik dari tahun terlama hingga pembahasan terkini.  

Dari kebiasaan membaca di website itu, aku menemukan semangat menulis dari sahabat Rasulullah SAW, yaitu Ali bin Abitholib R.A. Dalam sebuah tulisan orang, beliau mengajarkan bahwa ketika kita sudah membaca, maka kita akan memperoleh ilmu. Dan untuk menjaga agar  ilmu itu  terkumpul dan  tidak tercerai berai, maka ikatlah ilmu itu dengan menuliskannya.

Sesaat aku tertegun. Aku menemukan semangat baru untuk memupuk hobi. Karena sebenarnya membaca dan menulis itu merupakan ajaran agama, dan sudah dianjurkan sejak jaman Rasulullah SAW. Betapa tidak, wahyu pertama dalam Al Qur’an  yang diturunkan Allah kepada Rasulullah SAW adalah perintah untuk membaca. Dari sinilah, aku merasa bahwa menggiatkan lagi kebiasaan membaca dan menulis merupakan keharusan.

Sebagai amalan yang tidak terputus pahalanya
Selain itu, aku tersadar bahwa manfaat yang akan kita petik dari membaca dan menulis sangatlah besar. Bahkan  membaca dan menulis itu dapat bermanfaat hingga akhirat. Ini sejalan dengan hadits Rasulullah SAW bersabda bahwa akan putus hubungan antara segala hal di dunia dengan seseorang sesudah mati. Namun ada tiga perkara yang tidak akan pernah putus, yaitu (1) ilmu yang bermanfaat (2) amal jariyah dan (3) anak shalih yang mendoa untuk orang tuanya. Dalam hal ini, jika kita membaca tentang sebuah ilmu, kemudian menuliskannya; Tulisan kita itu bermanfaat bagi orang lain. Bukankah ini sebuah hobi yang berdampak dunia-akhirat?  Subhanallah.

Ada tiga jenis bacaan wajib yang bervitamin
Untuk itulah dengan berbagai upaya, aku berusaha untuk memupuk hobi menulisku dengan banyak membaca.Mengapa membaca? Jelaslah untuk bisa menulis harus banyak membaca. Karena segala yang kita tulis, sesungguhnya berasal dari informasi yang kita baca.

Untuk memupuk kebiasan membaca, aku rutinkan tetap membaca artikel di website. Namun pernah aku diingatkan oleh Ibu Agus Mita, dalam artikel yang pernah aku baca. Beliau menyatakan bahwa buku atau bahan bacaan yang perlu dibaca untuk meningkatkan kapasitas seseorang dalam sebulan minimal adalah tiga macam buku.  Ketiga macam buku tersebut adalah buku agama, buku yang membahas tentang bidang keilmuan kita dan buku tentang hobi kita. Kalau dirasa, ada benarnya. Kadang sehari ini, ibarat makan, kita banyak makan makanan yang mengandung Karbohidrat. Di kehari berikutnya kita hanya makan vitamin. Bukankah tubuh kita setiap hari perlu konsumsi karbohidrat-protein-vitamin dan mineral secara bersama-sama dalam jumlah seimbang? Begitu juga dengan membaca jenis bacaan. Perlulah seimbang jenis bacaan yang kita baca..

Dua buku favoritku
Dalam hal menulis, ada buku yang sangat aku suka berulang-ulang membacanya. Sebut saja misalnya buku Goenawan Mohammad “Seandainya aku wartawan TEMPO” dan buku tulisan Slamet Suseno “Teknik menulis ilmiah populer”. Kedua buku itu bagiku sangat inspiratif dan layak sebagai sumber belajar menulis. Terutama bagiku yang menekuni menulis jenis non-fiksi.

Saturday, September 10, 2016

Memupuk Kemampuan Menulis

Memupuk kemampuan menulis, sebegitu pentingkah?
Setiap orang yang belajar di sekolah formal, tentunya menguasai kemampuan membaca dan menulis.  Tetapi dari sekian banyak orang yang sekolah itu, pernahkan kita menghitung berapa yang mampu menulis dengana baik. Kebanyakan orang mengalami kesulitan untuk menulis. Banyak alasan dan tantangannya jika seseorang harus menulis.

Harus berani mencoba, bukan berangan-angan saja
Banyak orang ingin menjadi penulis, ingin menulis buku, ingin memiliki website dengan tulisan yang dikunjungi banyak orang. Namun jarang yang sudak kesampean keinginannya itu. Seingkali, banyak diantaranya beralasan karena belum ada waktu, nanti kalau sudah pensiun, jika proyeknya selesai, jika anaknya sudah gede. Dan banyak lagi alasannya hingga idenya tidak terlaksana juga. Keinginannya sebatas menjadi angan-angan.

Nyatanya, menulis itu dapat dilakukan juga oleh seoranag profesor yang banyak riset, pebisnis yang banyak urusan, pegawai yang harus banyak waktu lemburnya, mahasiswa yang belum selesai kuliah dan tugas akhirnya. Mereka bisa mengatasi masalahnya itu, karena mereka berani menyatakan angan-angannya itu dengan berbuat. Dengan niata besar dan semangat penuh untuk menulis. Kabar baiknya bahwa aktivitas menulis itu, sekarang dengan perkembangan teknologi informasi dan jaringan internet, seseorang sudah dapat menjadi penulis dengan mudah dan kapan saja akan melakukannya.

Harus banyak berlatih
Menulis itu sebuah ketrampilan, bukan keturunan. Sehingga jangan salah orang yang dekat atau kenal baik dengan seorang penulis mahir pun belum tentu bisa menulis. Bahkan seorang anak dari penulis terkenal juga belum tentu bisa menulis. Untuk menumbuhkan kemampuan menulis, seseorang harus sering mencoba. Dengan banyak menulis, seseorang akan berlatih konsentrasi dan fokus, penggunaan gaya bahasa bahasa dan kosa kata serta kesinambungan ide. Meminjam rahasia Ibu Agus Mita, untuk memulai menulis adalah dengan menggunakan jurus 2JT. J yang pertama, jangan kritik tulisan anda. J yang kedua, jangan berhenti. T artinya teruslah menulis.

Di awal menulis, banyak orang mengalami kesulitan, harus dimulai dari mana. Sebenarnya dapat dimulai dari mana saja. Bisa dimulai dari pandangan kita tentang sesuatu hal, atau persaan kita tentang sesuatu pelayanan, bahkan dapat dimulai dengan ungkapan rasa syukur, marah, berontak terhadap suatu persoalan. Setelah kalimat pertama  berhasil kita tuliskan, maka kalimat selanjutnya adalah terserah kita, sesuai ide dan jalan pikiran kita. Kalimat kedua dan seterusnya biasanya merupakan penjelasan rinci atau pendukung kalimat pertama.

Harus banyak membaca
Sebuah karya tulis merupakan kesatuan gagasan penulis, yang berisi ide pokok, pokok pikiran penjelas dan kesimpulan saran atau penutup. Untuk melahirkan keseluruhana gagasan itu, seorang penulis dituntut banyak membaca. Seorang penulis harus mengetaui konsep, teori dan pandangan dari penulis lain, sebelum menuangkannya dalam bahasa penulis. Karena seorang penulis berbeda dengan seorang pengarang atau penulis fiksi. Seorang penulis fiksi pun dituntut pula banyak membaca, membaca fakta dan menyelami kehidupan, sehingga dapat mengarahkan imajinasinya.

Dengan banyak membaca, seorang dapat mengetahui perkembangan teori, kemajuan teknologi dan budaya di luar sana. Sehingga dari banyak membaca, kita bisa memperoleh ilmu, teori, detail desain, keunikan serta rahasia alam yang tidak sempat kita bisa lihat secara pribadi.
Lantas bacaan apa saja yang musti kita baca? Sebenarnya tidak ada batasan jenis buku apa yang harus kita baca. Namun, sebenarnya kita bisa mulai dari buku bacaan yang sesuai minat kita. Buku bacaan yang menguatkan iman, buku teknis yang memperkuat kemampuan profesi serta buku-buku yang dapat mengembangkan hobi.

Harus berjiwa terbuka
Salah satu tantangan yang membuat seorang enggan menulis, karena khawatir hasil karya tulisannya tidak bagus dan dikritik orang. Apalagi jika nseorang itu adalah pimpinan, pejabat, selebriti atau public figur lainnya. Sebenarnya ketika kita menulis, saatnya kita berbagi pengalaman dan kemampuan, sekaligus terbuka untuk kritik dan saran untuk membangun kelengkapan tulisan kita. Dan ketika tulisan kita dikritik, sebenarnya bukan merupakan akhir dari segalanya. Dengan menerima kritik, saatnya kita bisa memperbaiaki atau melengkapi tulisankita.

Namun, untuk mengatasi masalah ini sebenarnya dapat dilakukan dengan menuliskan hal-hal yang ringan, dengan bahasa lugasa yang sederhana dan mudah dimengerti khalayak.

Wednesday, September 7, 2016

Oleh-oleh pengalaman seru Bagas mengikuti Jamnas 2016

Jambore Nasional X dan Peringatan Hari Pramuka ke 55 di Bumi Perkemahan Pramuka Cibubur, Jakarta, sudah berlalu. Namun menjadi bagian dari kegiatan itu, bagi Bagas, sangat membawa kenangan yang mengsankan. Bagaimana tidak? Seperti yang dituturkan Bagas, sehari setelah di rumah, sebelum kembali masuk pondok di Darul Hikmah. Selama jambore nasional itu banyak hal-hal yang baginya sangat seru dan menyenangkan.

Dibuka presiden  
Diantaranya ketika ia dapat melihat dari dekat Presiden Jokowi dan juga tokoh menteri yang hadir. Selama ini sosok presiden ini hanya dapat dilihat dari media televisi dan koran saja.  Presiden Jokowi saat itu menghadiri peringatan Hari Pramuka Ke-55 sekaligus membuka Jambore Nasional Ke-10 tahun 2016 di Bumi Perkemahan Cibubur, Jakarta, pada hari Minggu (14/8/2016), sekitar pukul 8.00 WIB. Presiden Jokowi yang juga Ketua Majelis Pembimbing Nasional Gerakan Pramuka menjadi pembina upacara dan menyampaikan sambutan di hadapan 25.000 anggota Pramuka dari 34 provinsi di Indonesia dan 225 peserta dari luar negeri. Baginya mengikuti kegiatan sebesar ini merupakan pengalaman yang menakjubkan.

Banyak lomba dan Pameran Kreasi
Keseruan selama Jamnas 2016 menurut Bagas, adalah banyaknya lomba-lomba yang diadakan. Baik lomba yang diadakan sebelum maupun selama acara Jamnas diselenggarakan. Lho, memangnya ada lomba-lomba yang diselenggarakan sebagai pra-acara Jamnas? Saya mencoba menanyakanya pada Bagas.

Diantara lomba yang diselenggarakan oleh Kwartir Nasional sebelum acara Jamnas 2016, adalah lomba Logo dan Maskot Jamnas, Lomba Foto dan Lomba membuat Video Film Pendek. Selanjutnya hasil dari lomba-lomba tersebut dipamerkan selama kegiatan Jamnas berlangsung. Seperti halnya Logo dan Maskot Jamnas 2016. Kabarnya, telah melewati seleksi yang ketat. Adapun logo Jamnas 2016 yang digunakan, secara umum disesuaikan dengan dengan tema kegiatan Jamnas 2016, yaitu: “Keren, Gembira, Asyik”. Sedangkan maskot kegiatan Jambore Nasional X Tahun 2016 adalah sepasang karakter pramuka yang diberi nama Si Bon dan Si Ela. Nama keduanya diambil dari nama salah satu jenis elang yakni Elang Bondol (Haliastur indus). “Burung Elang Bondol merupakan salah satu hewan langka dan dilindungi yang sekaligus menjadi maskot provinsi DKI Jakarta, tempat diselenggarakannya Jamnas X 2016 kali ini” demikian Bagas menirukan penjelasan dari Panitia.

Saya mencoba menyelidik, dengan bertanya kepada Bagas. Apa sih sebenarnya  makna logo Jamnas, hingga Panitia susah-susah mempersiapkannya? Alhamdulillah, Bagas tahu dan menjelaskannya kepada kami, meskipun sambil sesekali diam dan mengernyitkan dahi, sepertinya mengingat-ingat kembali penjelasan yang pernah ia terima. Kemudian dengan pelan ia mencoba menjawab pertanyaan saya dengan hati-hati.  

“Jadi logo Jamnas 2016, secara garis besar ada tiga bagian, yaitu logogram, tipografi atau jenis huruf dan warna logo” tutur Bagas, mengawali penjelasannya. Pada logogram terdapat (1) motif huruf  J, mewakili simbol Jambore yang modern (2) motif Pepohonan, diantara tapak kemah berdiri pohon-pohon yang memberikan keteguhan, harmonisasi, dan kelestarian alam (3) motif Tugu Monas, sebagai penanda bahwa lokasi Jambore Nasional kali ini berlokasi di Ibukota Negara (4) motif tenda kemah, tiga tenda menyiratkan makna Trisatya Pramuka Penggalang (5) motif Cikal, lambang Gerakan Pramuka, penanda bahwa Jambore Nasional 2016 diselenggarakan oleh Kwartir Nasional Gerakan Pramuka (6) motif tulisan WOSM, Gerakan Pramuka sebagai bagian dari organisasi kepanduan dunia. Tipografi atau penggunaan font Fututa Md Bt dengan garis tegas dan tebal menandakan akan tekad yang kuat dan berkarakter sebagai tekad Jambore Nasional X tahun 2016. Sedangkan warna-warni pada logo, terdapat  (1) warna hijau, mengekspresikan pertumbuhan, pembaharuan, keseimbangan, jiwa-jiwa tunas muda (2) warna merah, melambangkan semangat muda yang berani, matang, dan tegas (3) warna ungu, mengekspresikan kreativitas, imajinatif, dan kebijaksanaan serta keluhuran budi tunas bangsa (4) warna hitam, menegaskan kekokohan, elegan, dan tangguh.

Kegiatan yang keren, gembira, asyik

"Saya paling terkesan mengikuti mata kegiatan teknologi, seni dan budaya," kata Bagas. Bagas menjelaskan dia dapat mempelajari keseniaan dari daerah lain yang diperagakan di arena Jambore Nasional 2016 yang bertema keren, gembira dan asyik. Begitu juga menyaksikan kemajuan teknologi Indonesia yang digelar dalam stand teknologi. 

Manfaat lain yang dirasakan Bagas selama mengikuti Jamnas adalah mendapat sahabat baru dan mengenal teman dari berbagai provinsi dan luar negeri. “Peserta Jamnas memang utusan seluruh kota dan kabupaten di Tanah Air. Selain itu ada 9 negara yang mengirimkan anggota pramukanya sebagai peserta” Bagas menerangkan.
 
Bagas juga menceriterakan  ada kegiatan yang sangat menarik ketika di Global Development Village. Masing-masing kelompok secara beregu  mengikuti kegiatan pengendalian emosi dan komposting. "kegiatan itu sangat bermanfaat tentang bagaimana cara membuat pupuk kompos yang mudah dan murah," katanya. Tetapi menurut Bagas, ada kegiatan yang paling seru dan menantang, Gudep dari Kwarcab Purworejo itu mengikuti kegiatan petualangan di Jungle Land, Bogor. "Seru dan menantang," katanya. Dia mencoba beberapa wahana di Jungle Land.


Hadir Megawati di acara penutupan Jamnas
Penutupan Jambore Nasional 2016 berlangsung pada Sabtu malam, 20 Agustus 2016. Acara diawali sambutan Ketua Kwarnas Gerakan Pramuka Adhyaksa Dault dan diikuti penyematan lencana Tunas Kencana untuk Megawati Soekarnoputri. Kemudian presiden Republik Indonesia kelima ini memberikan pidato mengenai manfaat pohon kelapa dan makna lambang tunas kelapa bagi Gerakan Pramuka.  

Tiada gading yang tak retak
Selama sepekan lebih ia dan teman-teman Gudepnya  mendapat pengetahuan, pengalaman dan sahabat baru. Namun ada sejumlah keluhan yang ia rasakan. "Banyak perubahan kegiatan di lapangan, tidak sesuai dengan buku pedoman acara.  Kekurangan lain menyangkut pasokan air dan listrik serta keamanan" katanya mengakhiri cerita seru Jamnas 2016. 




Friday, August 12, 2016

Bagas Siap jadi wakil Jambore Nasional di Cibubur

Do'anya dikabulkan Allah
Betapa tidak? Pada akhirnya ketika panitia seleksi di Tingkat Kwarcab mengumumkan, bahwa yang lolos dari dua calon sekolahnya, adalah Bagas.Hasil pengumuman itu merupakan "surprised", karena sebelumnya ada kabar, bahwa Bagas tidak lolos. Meskipun sebenarnya, Bagas sudah berserah diri, ketika beredar kabar, dia tidak lolos. Bagas menduga-duga, kalaupun dirinya tidak lolos, mungkin karena kemampuan fisiknya pada waktu ujian seleksi. Di aspek kognisi atau pengetahuan, Bagas merasa dapat mengatasinya.
Menerima berita keputusan dari panitia seleksi peserta Jambore Nasional, sebagai orang tua, aku merasakan bahwa anakku sangat bahagia dan penuh rasa syukur.Do'anya dikabulkan Allah, keinginanya dapat mewakili sekolah dan berangkat ke arena Jambore Nasional 2016 di Cibubur.

Belajar dan berlatih
Dengan ditetapkannya sebagai wakil sekolah mengikuti Jambore Nasional, membawa konsekuensi kegiatan sekolahnya bertambah. Selama persiapan sebelum hari pelaksanaan jambore, Bagas dijadwalkan mengikuti latihan di Sanggar Pramuka Kabupaten Purworejo. Jadwal latihannya seminggu sekali, setiap hari minggu pagi. Kegiatan latihannya berlangsung dari pagi hingga menjelang sore. Aktivitas semacam itu, dijalaninya secara enjoy, hingga akhirnya Bagas menyadari bahwa kegiatan Pramuka sangat bermanfaat bagi kehidupannya.

Tiba saatnya berangkat
Setelah mengikuti kegiatan latihan persiapan selama tiga bulan, hingga tibalah saat diselenggarakannya Jambore Nasional tersebut.  Jambore Nasional (Jamnas) adalah Pertemuan Pramuka Penggalang se-Indonesia dalam bentuk perkemahan besar yang diselenggarakan oleh Kwartir Nasional (Kwarnas). Jambore Nasional dilaksanakan setiap 5 tahun sekali dengan peserta dari perwakilan seluruh Kabupaten dan Kota se-Indonesia. Jambore Nasional pertama kali dilaksanakan pada tahun 1973 di Situ Baru Jakarta. Jamnas tahun 2016 ini adalah penyelenggaraan yang ke sepuluh.Diselenggarakan selama satu minggu, dari tanggal 14 Agustus sampai dengan 21 Agustus 2016.
Kontingan Pramuka Kwarcab Purworejo berangkat tanggal 11 Agustus 2016, jam 10.00 WIB dari halaman Sanggar Pramuka Kwarcab. Purworejo.

Tulisan mendatang:
Yang seru selama Jamnas

Monday, August 8, 2016

STOP KEKERASAN PADA ANAK: Janganlah Marah*)

Seringkali kita mendengar tentang larangan untuk melakukan kekerasan terhadap anak. Bahkan suatu kali ada kasus penganiayaan pada anak di suatu sekolah di ibu kota. Sontak dalam sehari bahkan berminggu-minggu berita di media massa, siaran televisi, semua membahas dan menentang perbuatan yang mengandung kekerasan pada anak. Tetapi apakah kita menyadari, bahwa kita sebagai orang tuapun kadang-kadang melakukan “kekerasan” terhadap anak.  Jangan-jangan kita biasa melakukanya pada anak kita.

Mengapa bisa begitu? Ingatlah sahabat, marah itu juga termasuk kekerasan!  Kekerasan pada anak ternyata tidak hanya  berupa penyiksaan fisik saja, tetapi dapat berupa pelecehan sosial, pengabaian dan penyiksaan emosional anak. Marah, seperti yang dituturkan Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas, adalah bara yang dilemparkan setan ke dalam hati anak Adam sehingga ia mudah emosi, dadanya membara, urat sarafnya menegang, wajahnya memerah, dan terkadang ungkapan dan tindakannya tidak masuk akal.
Pada saat orang tua menumpahkan kemarahannya pada anak, pada saat yang sama orang tua telah menyiksa emosi anak. Kemarahan  orang tua dapat memunculkan sikap  penolakan,  tidak peduli, mengancam, mengisolasi dan membiarkan anak. Akibatnya, anak merasa tersiksa perasaannya.

Dampak penyiksaan emosional anak
Kemarahan orangtua dapat berdampak buruk pada anak. Marah banyak sekali menimbulkan perbuatan yang diharamkan seperti memukul, melempar barang pecah belah, menyiksa, menyakiti orang, dan mengeluarkan perkataan-perkataan yang diharamkan seperti menuduh, mencaci maki, berkata kotor, dan berbagai bentuk kezhaliman dan permusuhan, bahkan sampai membunuh. Seperti kasus penganiayaan terhadap Arie Hanggara yang dilakukan ayahnya, menjadi cerita yang sangat memilukan. Bahkan sempat diangkat ke layar perak. Arie, pada Desember 1984, menjadi korban kekerasan ayahnya yang menyebabkan nyawanya melayang.

Mempengaruhi jiwa anak
Anak-anak seringkali akan meniru perilaku orang tua kepadanya. Dan jauh dalam hatinya, perlakuan marah orangtua membuatnya  merasa sakit. Dan sakit itu terus diingatnya, bahkan hingga dia dewasa. Dalam perkembangan anak, orangtua terutama ibu adalah madrasah pertama dan utama anak.
“Ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan.’’ (Al-Ahqaf: 15). Dalam kehidupan anak selanjutnya, ibunya yang melatihnya duduk, berdiri, dan berjalan. Ibunya yang mendekap dan menggendongnya jika dia jatuh ketika berlatih berjalan. Ibunya  yang melatih berbicara, memanggil mama, papa, ibulah yang menyuapinya sekaligus melatihnya cara-cara makan, ibulah yang dan seterusnya.

Dari perilaku orang tualah, anak belajar berterimakasih, dan meminta maaf, hingga membentuk karakter anak. Karakter anak akan terbentuk oleh bagaimana kebiasaan orang tua memperlakukan anak. Seperti yang dituturkan Dorothy Law Nolte dalam bukunya  “CHILDREN LEARN WHAT THEY LIVE” :
Jika anak dibesarkan dengan celaan, dia belajar memaki
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan/kekerasan, dia belajar membenci
Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, dia belajar rendah diri
Jika anak dibesarkan dengan hinaan, dia belajar menyesali diri
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, dia belajar menahan diri
Jika anak dibesarkan dengan pujian, dia belajar menghargai
Jika anak dibesarkan dengan dorongan, dia belajar percaya diri
Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baiknya perlakuan, dia belajar keadilan
Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, dia belajar menaruh kepercayaan
Jika anak dibesarkan dengan dukungan, dia belajar menyenangi dirinya
Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, dia pun belajar menemukan cinta dalam kehidupan”

Janganlah marah
Mengingat dampak buruk marah orang tua pada anak, maka segeralah untuk mengakhiri. Karena marah merupakan salah satu bentuk kekerasan pada anak. Rendahkanlah nada suaramu para orangtua, berikan pelukan dan sentuhan lembut pada kepala anak sebagai tanda berbaikan. Selanjutnya, ingatlah pesan agama, janganlah marah, maka bagimu syurga. Biarlah anak-anak memperoleh syurganya, dengan kehidupan penuh damai. Dengan memberinya kasih sayang dan persahabatan. Dengan begitu, sirnalah kekerasan pada anak dengan berhenti marah.

*)  Catatan:
Arsip naskah  Lomba Menulis Esai untuk Mahasiswa dan Umum, 
yang diselenggarakan oleh PDNA Kebumen
sebagai Juara I

Thursday, June 9, 2016

Mulailah hidup sederhana dan tidak boros*)

Dalam kehidupan sehari-hari hidup sederhana seringkali diidentikan dengan kehidupan dari golongan orang-orang yang tidak berada. Atau kehidupan orang miskin dari golongan menengah ke bawah. Namun pada hakekatnya ajaran tentang hidup sederhana merupakan syari’at Islam. Islam tidak menganjurkan umatnya dengan bergaya hidup mewah, hidup yang berlebih-lebihan, glamour serta bermegah-megahan. Hal ini sesuai firman Allah swt. dalam Al-Quran yang berbunyi :

وَكُلُواْ وَٱشۡرَبُواْ وَلَا تُسۡرِفُوٓاْۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلۡمُسۡرِفِينَ 

Artinya: makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (al-A'raf: 31 ).
Oleh karena itu, prinsip hidup sederhana bukanlah hanya semboyan dalam ucapan belaka, namun harus tercermin dalam perilaku kehidupan sehari-hari dalam menjalani hidup.
Memang tidak mudah dalam praktiknya. Sudah menjadi tabiat manusia, ia akan lebih konsumtif dan menghamburkan uang, manakala mulai meraih kehidupan yang mapan, dengan segala kemudahan ekonomi. Banyak yang berfikir, seolah-olah kekayaanya  kurang berarti banyak, jika pemiliknya tidak mempergunakannya untuk keperluan yang lebih besar dan menunjukkan kesan kemewahan. Misalnya dengan banyak membeli barang-barang  yang sebenarnya kurang penting baginya, tetapi dari barang tersebut memberi kesan pada orang lain, seseorang itu lebih kaya dan lebih modern.

Memaknai dan mewujudkan hidup sederhana
Jika kita perhatikan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala di atas, maka disebut hidup sederhana itu adalah gaya hidup yang tidak berlebih-lebihan.
Agar tercipta mentalitas yang baik berhubungan dengan gaya hidup itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan manusia agar dalam pemenuhan kebutuhannya dilakoni secara bersahaja, tengah-tengah, dan tidak boros dalam pengeluaran. Seperti yang difirmankan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam al-A’râf/7:31:

يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.

وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

Dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan. [al-An’am/6:141).

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan bahwa hidup bermewah-mewah meskipun dengan barang-barang yang sifatnya mubah, dapat berpotensi menyeret manusia kepada pemborosan. Ini juga dapat menunjukkan manusia tersebut tidak memberikan apresiasi yang semestinya terhadap harta yang merupakan nikmat Allah, sehingga ia masuk dalam perilaku menyia-nyiakan harta.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya: “Jauhilah gaya hidup bermewahan. Sesungguhnya hamba-hamba Allah itu bukan orang-orang yang bermewah-mewahan”

Sehingga orang yang hidup sederhana adalah Mereka yang tidak menghambur-hamburkan uang dengan belanja di luar kebutuhannya. Juga bukan orang-orang yang bakhil kepada keluarganya, sehingga kebutuhan bagi keluarganya pun terpenuhi dan tidak kekurangan. Mereka membelanjakan hartanya secara adil. Dan sebaik-baik urusan adalah yang tengah-tengah, tidak berlebihan ataupun tidak kikir.

*) Catatan:
Arsip naskah yang menjadi bahan penulisan
Buku MIMBAR DAKWAH KEUMATAN-Buku kumpulan tulisan, 
yang di KataPengantari oleh beliau Bupati Kebumen, Ir.H.M.Yahya Fuad, SE

Sunday, May 29, 2016

Kewajiban orang tua mendidik anak*)


Assalamu,alaikum
Yth. Kepala LPI Al Iman Kebumen
Yth. Kepala SDIT Al Madinah Kebumen
Yth. Kepala RAT Yaa Bunnayya Kebumen
Yth. Bapak/Ibu dari Kantor UPTD Dikpora Kec. Kebumen
Yth. Ketua Komite Sekolah
Yth. Bapak/Ibu orang tua/Walisiswa RAT Yaa Bunnayya Kebumen

Pertama-tama, perkenankan saya menyertai Bapak/Ibu sekalian untuk memanjatkan puji syukur kehadirat Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Karena atas perkenan-Nya, kita dapat bertemu dalam suatu majelis ilmu, yaitu acara Akhirussanah RAT Yaa Bunnayya Kebumen yang ke 13 tahun 2016 dalam keadaan sehat wal afiat. Salam dan sholawat semuga tercurahkan pada junjungan Nabi Muhammad SAW, semoga kita tercatat sebagai umatnya.
Selanjutnya perkenankan saya berdiri di sini untuk mewakili orang tua/walisiswa RAT Yaa Bunnayya Kebumen pada acara hari ini, manakala dalam beberapa hal yang akan saya sampaikan ada kesalahan atau kekurangannya. Untuk itu, saya sampaikan permohonan maaf lahir-bathin.

Kewajiban mendidik anak
Istilah akhirussanah dalam pengertian sehari-hari dimaknai sebagai kegiatan tutup tahun pelajaran.  Walaupun sebenarnya pendidikan anak menurut Islam berlangsung sepanjang hayat, belajar dari ayunan sampai ke liang lahat. Hal ini mengandung pengertian bahwa manusia membutuhkan pendidikan dalam seumur hidupnya. Dalam sebuah hadits shohih, dinyatakan bahwa pada dasarnya manusia dilahirkan dalam keadaan suci. Selanjutnya seseorang akan menjadi yahudi, nasrani atau majusi, tergantung dari pendidikan yang diberikan orang tuanya.
Oleh karena itulah, wajib hukumnya bagi orang tua untuk menyiapkan pendidikan anaknya. Orang tua wajib menjaga anaknya dari kesatan. Sebagaimana diperintahkan Allah dalam Qur’an surat At-Tahrim ayat 6: “Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”

Dimulai dari rumah
Seorang anak sejak lahir, tumbuh dan berkembang bermula dari rumah. Pendidikan yang ia terima sangat tergantung dari pola dan pendidikan orang tuanya, terutama ibu dan bapaknya. Oleh karena itu, keluarga harus menjadi madrasah pertama anak. Peran orang tua sangatlah mutlak. Perlunya keteladanan, karena anak efektif belajar dengan meniru atas contoh yang biasa ia lihat dari bapak atau ibunya, kakak-adiknya dan juga eyang atau pamannya. Oleh karena itu, seringkali sikap dan perilaku anak, menggambarkan bagaimana sikap dan perilaku orangtua dalam kesehariannya  hidup di rumah.

Memberikan pendidikan yang islami
Sayangnya, banyak keterbatasan orangtua-karena alasan kesiapan, pengetahuan, kesempatan hingga kesibukan, hingga akhirnya orangtua menyerahkan kepengasuhan dan pendidikannya pada orang lain, termasuk kepada fihak sekolah. Saat ini, banyak berdiri sekolah yang menawarkan berbagai fitur dan keunggulan pendidikan anak. Tetapi apakah ada pedoman memilih sekolah yang baik? Bagaimana memilih sekolah dan  pendidikan yang baik, sesuai akidah Islam?

Secara mendasar Allah telah mengariskan bagaimana dasar-dasar mendidik anak. Dalam Qur’an surat Luqman ayat 13, diantaranya disebutkan. Bahwa pendidikan anak menurut akidah Islam adalah pendidikan yang tidak menyekutukan Allah! Maknanya bahwa seluruh kebaikan yang ada berasal dari kuasa Allah, sedangkan hal keburukan terjadi akibat perilaku manusia.  Sehingga pendidikan tidak terjebak mendewakan ilmu pengetahuan dan teknologi. Tetapi, harus difahami bahwa pencapaian ilmu dan teknologi manusia berasal dari ilmu Allah semata. Selain itu, pendidikan sesuai kaidah Islam senantiasa mengaitkan setiap kejadian dengan Allah, memberi contoh dan bimbingan beribadah, membina dan memilihkan teman anak-anak yang sholeh dan sholehah.

Pesan untuk orangtua: Investasi dunia-akhirat
Bapak/Ibu yang saya hormati. Saya tidak sedang menggurui, tetapi saya ingin menyatakan secara tulus. Bahwa ciri pendidikan yang baik untuk anak itu sudah ada disini! “Siapa yang tidak bersyukur, ketika anak sesusia lulus TK sudah bisa dan biasa melakukan sholat. Dan sesusainya ia sholat berdo’a memintakan ampunan dan kebahagiaan kepada Allah untuk dirinya dan orangtuanya” Ini sungguh menenteramkan hati. Ini merupakan investasi yang sangat besar dan bernilai dunia-akhirat. Bagaimana tidak? Dalam satu hadits diriwayatkan bahwa, ketika seseorang itu meninggal dunia, maka putuslah semua hal yang ada di dunia, kecuali tiga perkara. Tiga perkara itu adalah: (1) ilmu yang bermanfaat (2) amal kebaikan yang bermanfaat bagi  orang banyak (3) anak sholeh yang mendo’akan orang tuanya.

Pesan untuk lembaga
Apa yang sudah diraih dan diperoleh oleh anak-anak kita di RAT Yaa Bunnayya Kebumen ini barulah sedikit. Pendidikan yang harus ditempuh anak-anak kita masih sangat panjang. Untuk itu, kewajiban orangtua untuk memilihkan sekolah berikutnya yang dapat memberikan pendidikan yang baik kepada anak.

Meskipun baru sedikit, namun lembaga ini telah memberikan kepada anak, tentang dasar-dasar keimanan, tatacara ibadah dan bermu’amalat. Untuk itu pada kesempatan ini saya ingin menyampaikan terimakasih sekaligus permohonan maaf.  Di mata anak-anak,  para Ustadzah adalah penerang sekaligus penyejuk hati mereka. Namun kadang, kami orang tua terlalu banyak menuntut harapan. Padahal sejatinya fungsi mendidik anak, sekali lagi adalah kewajiban orang tua.

Di bagian akhir sambutan saya mewakili orang tua/wali siswa Yaa Bunnayya Kebumen, saya berharap semoga tali silaturahmi yang sudah terbangun ini tidaklah putus. Dan lembaga ini teruslah makin maju dan menjadi pilihan orang tua dalam rangka mendidik anak sesuai tuntunan agama. Aamiin

(* Catatan:
Arsip Naskah yang disampaikan pada Akhirussanah RAT Yaa Bunnayaa Kebumen
Angkatan XIII, Minggu 22 Mei 2016

Sunday, May 22, 2016

Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui

Ini adalah peribahasa yang tepat untuk kondisiku waktu itu, Isteriku sekolah lagi dan mengandung buah cinta keduaku, Bagas. Meskipun tidak seperti yang aku rasakan pada awalnya. Keputusan untuk sekolah lagi, bagi seorang ibu rumah tangga dengan satu anak dengan tanpa memiliki pembantu, merupakan keputusan yang nekad . Apalagi pada priode itu, isteriku positif hamil.

Bagas bersekolah sejak dalam kandungan
Didorong oleh semangat yang tinggi untuk menempuh pelajaran di Akademi Kebidanan Aisyiyah itu, kondisi hamil tidak membuat isteriku kehilangan “power”. Justru dengan seiring kegiatan perkuliahan, kehamilan anakku Bagas ini dirasakan isteriku dengan “enjoy”. Bahkan banyak dorongan dari dosen dan teman, bahwa mengandung pada saat masa kuliah itu sangat bermanfaat bagi perkembangan janin. Karena pada saat yang sama, sang janin juga belajar dan merangsang pertumbuhan sel-sel otaknya. “Tetaplah semangat mbak, semoga bayimu kelak akan jadi anak yang cerdas. Karena janin sudah belajar dan diajak belajar oleh ibunya sejak dari kandungan” Demikian, motivasi yang sering diterima dari dosenya. “Tiga hal yang dipelajari bayi di dalam kandungan. Bayi belajar bahasa, bayi belajar tersenyum dan bayi belajar mengenali rasa” tambahnya kepada isteriku. Ada pesan yang membuat isteriku terus mengingat dan membuatnya terus bersemangat untuk belajar dan menjaga kehamilannya. “Pada trimester ke dua kehamilan, bayi sudah dapat merespon keadaan lingkungannya. Pada saat inilah waktu yang tepat untuk anda mengajar seorang bayi di dalam kandungan karena bayi sudah melakukan reaksi atau mendengar saat anda melakukan rangsangan pada janin. Ini terlihat ketika ada gerakan respon bayi selama di dalam kandungan seperti memukul perut ibu ataupun menendang”

Masa hamil banyak konsumsi ikan
Lagi-lagi adalah skenario Allah. Pada masa hamil Bagas, Isteriku sudah pindah kontrakan. Saat itu, isteriku menempati rumah kost di daerah Ngampilan-Yogyakarta. Di rumah mbah Khotimah. Jarak rumah kost ke kampus, tidak jauh, kira-kira 400 m.
Di rumah kost mbah Khotimah itulah isteriku banyak makan ikan, terutama ikan laut. Mengapa begitu? Karena sehari-harinya, mbah Khotimah bekerja sebagai pedagang ikan di pasar Ngampilan. Sore harinya, ia mengolah sebagian ikannya untuk dijual kepada tetangga, termasuk beberapa anak kost yang ada di rumah maupun sekitar rumahnya. Ikan yang biasa dimasak mbah Khotimah adalah ikan tengiri dan ikan kembung. Ikan-ikan itu dimasak dengan berbagai variasi. Tentu mbah Khotimah tahu, agar pelanggannya tidak bosan.

Suatu saat, tentang konsumsi ikan tengiri dan ikan kembung  ini aku konsulkan pada dokter. Ternyata tanggapan dokter sangat bagus. Bahkan aku memperoleh pelajaran yang sangat berharga. “Ikan ini sangat  kaya akan asam lemak omega-3 yang penting untuk mempertahankan fungsi normal organ tubuh kita. kan kembung yang dikonsumsi ibu hamil dapat membantu memenuhi kebutuhan  omega 3 yang diperlukan untuk tumbuh kembang janin selama masa kehamilan. Kandungan asam lemak essential omega 3 yaitu DHA ((Docosahexaenoic acid) dan EPA (Eicosapentaenoic acid) dalam ikan kembung dapat membantu pertumbuhan organ tubuh janin, serta sel-sel otak janin. Beberapa studi telah membuktikan bahwa kandungan asam lemak omega 3 adalah  lemak tak jenuh yang terbukti mampu mengembangkan IQ dan Psikomotorik pada bayi dan anak-anak. Selain itu, kandungan omega 3 juga bermanfaat pada aktivitas mata (visual activity), meningkatkan kemampuan belajar, daya ingat, meningkatkan kekebalan tubuh” Subhanallah, ternyata banyak manfaatnya mengkonsumsi ikan. Selain itu juga ikan kembung dapat meningkatkan aktivitas obat antidepresan. Ikan kembung kaya akan DHA (Docosahexaenoic acid) yang dapat menurunkan kemungkinan resiko penyakit Alzheimer dan penyakit Parkinson.


Saturday, May 21, 2016

Bagas lahir pada peride praktek akhir kebidanan

Lahir pas periode praktek
Anakku Bagas, lahir pada periode mendekati akhir pendidikan diploma kebidanan yang diikuti isteriku. Saat itu, isteriku baru saja menjalani praktek kebidanan RS PKU Muhammadiyah Purworejo. Dan harus berpindah di rumah Bidan Praktek Mandiri. Dengan berbagai negosiasi, akhirnya isteriku bisa memperoleh ijin melahirkan, walaupun hanya satu minggu. Sesudahnya isteriku harus memulai menjalani praktek kebidanan.


ASI berhenti
Dalam kondisi seperti itu, aku melihat bagaimana situasi sulit yang dialami isteriku. Satu sisi, baru melahirkan dan merawat bayi. Sementara, ia harus menyelesaikan tugas-tugas praktek. Aku melihat bagaimana ia harus pulang pergi dari tempat praktek untuk merawat dan memberikan ASI. Dengan mengendarai sepeda motor, seminggu pasca persalinan, menurutku tindakan yang sangat membahayakan.

Tetapi kondisi ini dilalui isteriku dengan semangat. Walaupun akhirnya aku menyadari, betapa isteriku sangat stres dengan kondisi semacam ini. Akibat dari keadaan isteriku, ASI yang untuk Bagas anakku, berhenti total. Tidak mengalir. Sejak itu, aku dan isteriku mencoba memperkenalkan beberapa jenis produk susu formula. Alhamdulillah, Bagaspun tidak terlalu sulit untuk menyesuaiakan.

Thursday, May 19, 2016

Allah menyelematkan anakku Adi, dapat mengikuti tes ujian masuk mahasiswa

Ceritanya berawal ketika aku dan keluarga pergi menginap di sebuah guest house di bilangan Maguwoharjo-Yogyakarta. Misi perjalanan keluarga itu adalah mengantar dan menyemangati anakku Adi mengikuti seleksi masuk sebuah perguruan tinggi kedinasan. Setelah menginap semalam, paginya (15/6/2016) berangkat menuju tempat test. Lokasinya kira-kira satu setengah kilo meter dari penginapan.

Sebelum berangkat isteriku, mengingatkan kepada anakku untuk berkemas, menyiapkan perlengkapan test dan mengingatkan agar menon-aktifkan telepon genggam agar tidak mengganggu konsentrasi. Anakku menyatakan siap, dan kamipun berangkat menuju lokasi ujian. Tidak terlalu ramai Yogyakarta di pagi itu. Hanya sesekali agak terhambat karena rutenya melewati pasar, dengan lalulintas pengunjungnya hingga jalan raya. Benar, tidak lebih dari seperempat jam, kamipun sampai. Namun,di sana telah banyak pengunjung,  pengantar, keluarga dan peserta ujian telah banyak hadir, memadati tempat parkir. Sementara para peserta ujian saling sibuk mencari ruang sesuai nomor dan kode peserta ujian. Melihat keadaan tersebut, kami bersepakat bahwa anakku Adi aku drop di bahu jalan yang memungkinkan kendaraan dapat berhenti. Selanjutnya   anakku mengurus sendiri ruang test-nya,  Sehingga aku tidak tahu di ruang/gedung mana anakku Adi memperoleh tempat test.

KTP dan telepon genggam tertinggal
Karena waktunya masih lama hingga test selesai jam 11.00 WIB, aku putuskan untuk kembali ke penginapan. Istri dan dua anakku lainnya, Bagas dan Nadiyyah sedang menunggu. Mereka sudah selesai berkemas. Namun betapa kagetnya ketika isteriku menyatakan bahwa anakku Adi tidak membawa telepon genggam dan dompet yang berisi KTP, SIM dan lainnya tidak terbawa. Adi hanya membawa alat tulis dan kartu peserta. Dalam hati semoga,anakku lancar mengikuti tes. Setelah membahasnya sebentar, kamipun check-out dari penginapan. Keluar dari penginapan dengan tujuan yang bermacam-macam sesuai keinginan. Ada yang usul untuk pergi  ke mall Ambarukmo Plaza, mall Hartono yang baru buka dan sedang banyak promo atau ke Malioboro dulu, baru siangnya ke tempat anakku Adi mengikuti test. Namun mengingat waktu masih terlalu pagi, akhirnya kami memutuskan untuk langsung ke lokasi test anakku. Dengan mengambil jalur yang sama, seperti yang aku lalui sebelumnya, maka dengan mudah dan tidak terlalu lama aku sampai kembali ke lokasi test. Dan segera mengambil tempat parkir di luar, tidak jauh dari kompleks gedung Instiper Yogyakarta sebagai lokasi test.

Setelah turun dari parkir kendaraan, sekitar  08.30, kami memasuki kompleks gedung Instiper Yogyakarta dengan jalan kaki. Di kanan-kiri terlihat gedung-gedung tempat lokasi test yang sepanjang dan sekeliling gedungnya dipadati untuk parkir kendaraan. Setelah melewati halaman dan ting bendera, kami melihat gedung di bagian tengah sebagai Ruang Sekretariat Panitia Test Seleksi Masuk calon mahasiswa. Hingga akhirnya kami memutuskan untuk duduk-duduk dan menunggu
anakku selesai test. Meskipun sebenarnya, aku sudah berpesan pada anakku, aku akan bertemu dan menjemput di teras sebuah toko di seberang jalan, tempat tadi pagi aku menurunkanya disana. Sambil sesekali bertanya pada panitia kapan tepatnya ujian ini dinyatakan selesai. Dan akupun dapat kepastian, bahwa ujian akan selesai dan dihentikan pada pukul 11.00 WIB. Kami berembug, untuk mencari tempat yang nyaman untuk menunggu hingga jam 11.00 nanti. Isteri dan anakku Bagas dan Nadiyyah sepertinya sudah menemukan tempat strategis untuk bersantai, yaitu di depan pintu keluar ruang sekretariat. Sedangkan aku memutuskan untuk duduk-duduk di dekat teras depan yang terdapat pintu keluar-masuk utama sekretariat. Duduk dekat teras itu memungkinkan aku dapat mengamati panitia itu beraktivitas.

Anakku harus menunjukkan KTP
Belum lama, aku duduk, tiba-tiba isteriku dan Bagas berteriak seperti memberitahu "Itu mas Adi. Adi sih kenapa ada di situ" Isteriku melihat sosok anakku berjalan ke arah pintu keluar, sambil diikuti oleh seseorang Bapak yang berseragam sebagai panitia test ujian. Spontan aku berfikir, anakku Adi sedang mengalami masalah. Sejurus aku bangkit dari duduk, dan benar aku melihat pintu itu terbuka. Tepat di hadapanku, Adi berdiri. Dari sorot matanya aku tahu dia sedang kebingungan sekaligus kaget,  Responnya kaget,   belakangan aku tahu bahwa anakku Adi tidak menyangka bahwa dalam kebingungannya mencari KTP yang tertinggal dan dibawa ibunya, ternyata di luar ruangan itu ibunya telah ada di situ! Akhirnya segera isteriku menyerahkan KTP itu kepada anakku. Setelah menerima KTP tersebut, anakku Adi segera masuk kembali ke ruangan dengan diikuti panitia.

Di luar ruangan ,aku dan isteriku melihat runtutan kejadian itu sebagai "kemahakuasaan" Allah yang mengatur seluruh kejadian tersebut dengan sangat sempurna! Sejenak kemudian, akupun segera bergegas menuju Mushola, untuk melaksanakan sholat dhuha. Dalam doaku, aku panjatkan rasa syukurku, betapa Allah telah menyelamatkan anakku, hingga dia dapat melanjutkan mengerjakan test ujian masuk calon mahasiswa. Subhanallah



Wednesday, May 11, 2016

Hadiah terindah itu adalah Nadiyyah

Namanya Nadiyyah Aulia Fajrin
Aku bersepakat dengan isteri, untuk memberi nama anakku yang ke tiga itu  Nadiyyah Aulia Fajrin. Nama itu memiliki kisah dari arti kata yang ada di dalamnya. Nadiyyah dalam sastra arab berarti pohon yang senantiasa basah oleh embun. Aulia mengandung arti orang suci. Sedangkan fajrin menyerap makna waktu fajar. Dari keseluruhanya, Nadiyyah Aulia Fajrin, mengandung kisah telah lahir seorang anak yang suci dan sejuk, karena senantiasa terbasuh embun pagi hari.

Hadiah terindah
Nadiyyah, demikian nama panggilannya dalam keluarga, proses tanda  lahirnya diawali saat fajar menjelang shubuh. Dengan persiapan secukupnya, aku mengajak isteriku untuk bersalin di RSUD Kebumen. Dengan harapan dalam waktu yang tidak terlalu lama, anakku sudah lahir. Saat itu, aku dan istriku tidak berada di rumah. Sudah hampir sebulan, kami menempati rumah dinas istriku, yaitu sebuah klinik kesehatan yang ada di desa. Jarak dari klinik tempat isteriku ke RSUD kira-kira sepuluh kilo meter. Dengan  menggunakan jeep Daihatsu Feroza tua, kami keluar rumah, melintas sepi. Kami melaju, menembus kegelapan jalan pedukuhan yang dingin menuju rumah sakit. Dan benar, selang tidak begitu lama berada di ruang pemeriksaan  dan belum sempat petugas rumah sakit membawanya masuk ke ruang persalinan, isteriku bersalin. Bayi anakku lahir. Allah memberiku hadiah terindah. Mengapa terindah? Karena kelahiran anakku Nadiyyah ini penuh surprised dan penuh rasa syukur. Pertama, anakku lahir sehat fisik maupun mental, meskipun dalam hitungan umur  kehamilan, lebih awal empat minggu dari hari perkiraan lahir menurut dokter ahli kebidanan. Kedua, anakku lahir perempuan, telah menjadi lengkaplah anakku laki-laki dan perempuan. Ketiga, subhanallah, Allah mengaruniai tiga anakku lahir semuanya di hari ahad dan Keempat, Nadiyyah anakku, lahir tepat pada saat hari ulang tahunku, 29 Nopember 2009.

Awal yang memprihatinkan
Nadiyyah tergolong lahir premature, empat minggu lebih awal dari perkiraan lahirnya. Kkondisi ini, berdampak pada banyak hal setelah kelahirannya. Hal yang paling mudah dilihat adalah pengaruhnya pada berat badan. Nadiyyah termasuk bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR), karena hanya dua kilo empat ons. Pada hari-hari pertamanya, warna kulitnya muncul kekuningan. Yang oleh dokter dijelaskan karena ada gangguan bilirubin. "Tapi kondisi kekuningan ini dapat diatasi dengan cara menjemur bayi pada sinar matahari pagi. Waktunya bisa setiap hari, dari kira-kira jam 07.00 sampai dengan jam 08.00 satu jam sudah cukup, dengan membolak-balikkan posisi badan bayi. Agar semua bagian tubuh bayi, baik depan atau belakang dapat terkena sinar matahari. Pada saat posisi telentang, mata bayi dapat ditutup dengan sapu tangan atau kain, agar sinar matahari tidak langsung mengenai matanya" Demikian pesan petugas RSUD. Selain, itu bayi Nadiyyah tangisnya lirih, rambut lanugo-nya tumbuh banyak di bagian tubuhnya. "Ini salah satu tanda bayi pre-mature. Tanda yang lain, biasanya sutura pada kepala belum rapat, sehingga seperti ada rongga. Tapi jangan khawatir, nanti berangsur akan kembali normal. Asal minum ASI-nya kuat" Demikian  Bidan RSUD menambahkan keterangan. Setelah berat badannya dianggap normal, bayi Nadiyyah diperbolehkan pulang. Sebelumnya, setelah lahir, selama tiga hari bayi Nadiyyah menjalani perawatan perinatal.
Tiga hari pertama  di rumah, Nadiyyah  minum ASI-nya tidak kuat. Melihat kondisi seperti itu,aku dan  isteriku  panik. Pada saat yang bersamaan istereiku merasakan bahwa ASInya macet. Sementara si mungil Nadiyyah tergolek diam. Menangispun lirih suaranya. Pada hari keempatnya aku membawa Nadiyyah kembali ke RSUD. Pikirku agar memperoleh perawatan di Rumah Sakit. Setelah konsultasi dengan dokter spesialis anak, disarankan agar menjaga kehangatan tubuh bayi.   "Bayi pre-mature biasanya ada yang gak mau minum (mimik), karena lingkungan sekelilingnya relatif dingin. Untuk itu perlu menjaga agar bayi merasa hangat. Untuk  menjaga kehangatan  dan kesehatan tubuh bayi, dapat dilakukan dengan meletakkan lampu pijar dengan jarak kira-kira 60 cm. Ini  berguna untuk mencegah bayi mengalami hypothermi. Jika hangat, bayi akan mau minum susu" Jelas dokter Pras, sepesialis anak.

Sejak itu, aku menyiapkan 'inkabator' sederhana untuk Nadiyyah. Dengan memanfaatkan lampu belajar, aku pasang-arahkan tepat di bawah tempat tidur bayi. Posisi lampu menghadap ke atas dengan sorot cahaya lampunya mengenai tepat posisi tubuh bayi. Jarak lampu ke tubuh bayi kira-kira 60 cm. Lampu dinyalakan sepanjang waktu terutama pada bula-bulan pertama. Tatalaksana ini aku lakukan hingga Nadiyyah berumur tiga bulan. Sesudahnya, lampu sorot itu hanya dinyalakan pada saat-saat tertentu, jika dipandang perlu. Tetapi, pemberian lampu itu sangat membantu dan berguna bagi bayi pre-mature. Berangsur, kondisi kesehatannya makin bagus, dan berat badannyapun berangsur meningkat. Walaupun hingga bulan ketiga, bayi anakku memiliki berat badan terendah diantara bayi seumurnya di Pos Penimbangan Balita.

Pengalaman menariknya bahwa lampu listrik dan  pijat bayi dapat merangsang nafsu makan dan meningkatkan pertumbuhan berat badan bayi. Pada bulan keempat hingga bulan keenam, berat badan anakku naik terus, Anakku terus bertumbuh. Nadiyyah bertambah berat dan bertambah tinggi. Di bulan ke tujuh berat badan anakku menjadi tertinggi diantara bayi yang seumur di Pos Penimbangan. Bahkan secara fisik postur tubuhnya sama dengan balita yang berumur setahun di atasnya. Tidak hanya pertumbuhan fisiknya, juga perkembangan motorik, kemampuan bahasa dan kecepatan responya mengalami perkembangan yang sangat pesat.

Tiga tahun yang cemerlang
Pertumbuhan dan perkembanga Nadiyyah tergolong istimewa. Diusianya yang dini, kemampuan berbicara dan berjalan berlangsung cepat. Nadiyyah banyak tertarik pada musik, gerak ritmis dan berbicara dengan kalimat lengkap dan utuh. Bahkan Nadiyyah sering menanyakan secara kritis.tentang banyak hal.


Pernah aku mendengar percakapan isteriku denganya pada suatu waktu. Saat ketika menjemputnya pulang dari sekolah play-group. Pada usianya sekarang, seringkali sulit diajak tidur siang sepulangnya sekolah. Sehingga ibunya harus mengarahkan ceritanya sepanjang perjalanan pulangnya. Suatu siang, isteri dan anakku melewati kendaraan berat excavator yang ditinggal operatornya sedang istirahat. Kendaraan berat itu berada di tengah saluran air, yang sedang dikeruk karena mungkin  telah terjadi pendangkalan. Melihat excavator yang besar dan diam di dasar sungai yang dalam itu, tiba-tiba mengusik akal kreatif isteriku untuk mulai bercerita pada anakku. "Nadiyyah, coba lihat excavator itu, dia juga sedang bobok (tidur) siang..." Ucap isteriku memulai cerita untuk mengarahkan anakku. Agar nantinya ketika sampai di rumah, anakku juga mau tidur siang. Dengan cerita pembuka itu, isteriku berharap, anakku paling tidak merespon mengiyakan, seperti: O ya excavator bobok juga ya bu? Tetapi, subhanallah. Jawaban anakku di luar dugaan. "Apa excavator punya mata bu? Apa excavator bisa tidur?" Tanya anakku. Dan isteriku  seketika kaget campur geli dalam hati. Sejurus kemudian isteriku hanya tersenyum sendiri mengingat peristiwa yang barusaja terjadi.

Mutiaraku itu bernama Adi

Pagi itu,isteriku yang sedang memasuki umur kehamilan 40 minggu sempat mengeluh 'rembes"  Segera setelah itu, kami membawa dan memeriksakan ke bidan terdekat. Jarak dari rumah tinggal ke tempat bidan Erna, kira-kira 300 meter. Hasil pemeriksaan bidan, pada kandungan isteriku mengatakan air ketubanya sudah pecah. Kepada isteriku, bu bidan menyarankan untuk segera membawanya ke Rumah Sakit. Sejurus kemudian, kami bergegas ke RSUD Kebumen. Perjalanan ke rumah sakit, tidak terlalu jauh, kira-kira 15 menit dengan menggunakan becak.

Dalam perjalanan, pikiranku campur aduk. Sesekali aku mendengar, isteriku menghela nafas panjang. Kudekap, kedekap lagi isteriku dan hanya ini yang dapat aku lakukan. Diterpa udara pagi, mukaku terasa dingin. Dalam hati, aku berharap Allah melancarkan semua jalan untuk kelahiran anak dan juga isteriku. Tiga jam berikutnya, kira-kira jam 08.00 di RSUD Kebumen, anakku lahir. Anak pertamaku lahir.setelah menunggu kira-kira 14 bulan sejak menikah. Di ruang VK RSUD Kebumen itulah anak pertamaku memekikkan tangis pertamanya. Dia lahir pada hari minggu, tepatnya tanggal 21 Desember 1997.  Dengan berat 2,6 kilo gram, memang tidak terlalu besar, tetapi bersyukurnya dapat lahir spontan tidak terjadi penyulit selama proses persalinanya. Bu Bidan Puji, aku ingat namanya, dialah yang membantu menolong persalinan anak pertamaku. Pagi itu, Allah memberiku mutiara hidup melalui isteriku. Mutiara itu kami beri nama Adi Nugroho. Adi Nugroho, dalam bahasa jawa kuna berarti karunia yang besar. Aku memaknai kelahiran anakku sebagai pemberian Allah yang besar kepadaku. Untuk itu, sebagai amanah, aku harus menjaga dan merawatnya dengan baik. Agar anakku itu bisa tumbuh sehat, sholeh dan berguna bagi agama dan masyarakat.

·         "Nak, Bapak mohon maaf, mengasuh tanpa pengalaman"
Di hari-hari pertama kehadiran si buah hati tentulah sangat luar biasa. Terutama dalam mengurus bayi. Terutama aku sebagai bapak, blank tidak tahu harus berbuat apa-apa. Sehingga lebih banyak menunggu komando. Inilah barangkali kebodohanku sebagai seorang bapak. Aku tahunya hanya bekerja dan bekerja. Bahkan di kantorpun, aku coba kerjakan kegiatan lembur. Dengan harapan rezeki akan mengikutinya. Tetapi aku tidak tahu, bagaimana istriku dirumah dengan anakku. Hingga suatu ketika, aku melihat anakku sudah tidur, isteriku juga tidur, dari raut mukanya nampak,  lelah. Aku segera mengambil air wudlu untuk sholat. Setelah sholat, aku berdoa. Aku meminta ampun pada Allah, atas segala kesalahanku. Aku juga meminta maaf pada anak dan isteriku. "Nak, Bapak mohon maaf, mengasuhmu tanpa pengalaman. Dan aku belum bisa jadi Bapak yang baik”

Tahun-tahun pertama kehidupan Adi, anakku lebih banyak dan terasa lebih dekat dengan istriku. Waktu itu isteriku lebih banyak di rumah. Sejak menjalang kelahiran anakku yang pertama, istriku memutuskan untuk tidak memperpanjang kontrak kerja di RS Swasta di Jogjakarta tempatnya bekerja. Kami memutuskan menetap di Kebumen. Isteriku praktis kegiatannya full sebagai ibu rumah tangga. Sehingga isterikupun dapat menyempurnakan memberikan air susunya untuk anakku hingga dua tahun. Akupun bersyukur, isteriku sudah memberikan hak anak dengan sebaik-baiknya. Kondisi ini membuat kesehatan, terutama daya tahan anakku lebih baik. Anakku tumbuh dan berkembang cukup optimal. Anakku tergolong sangat aktif, dan Alhamdulillah jarang menderita sakit.

Istriku sekolah lagi: babak baru bagi Adi
Babak baru kehidupan Adi, dimulai ketika isteriku memutuskan untuk sekolah lagi. Kali ini isteriku mencoba masuk di Akademi Kebidanan ‘Aisyiyah Jogjakarta. Isteriku memiliki latar belakang pendidikan SMA swasta masehi di Kebumen; setelah lulus, masuk ke sekolah perawat RS Bethesda di Jogja, hingga bekerja di sana. Berbekal keyakinan untuk meningkatkan kualitas agama dan pendidikan yang berbasis Islam, berbagai upayapun aku dan isteriku lakukan. Dari mempersiapkan ujian tertulis, hingga persiapan ujian praktek membaca Al Qur’an. Isteriku bersemangat untuk ini. Tekadnya yang tinggi membawanya dapat menyelesaikan Kursus Cepat membaca Al Qur’an dengan metode An-Nur di komplek ruko di Gamping-Jogjakarta.

Subhanallah, pada hari pengumuman seleksi penerimaan mahasiswa baru, isteriku diterima. Diterima masuk kuliah di Perguruan Tinggi, dengan kondisi sudah mempunyai anak, memang bukan tanpa masalah. Masalah terbesarnya justru baukan persoalan akademiknya. Tetapi lebih pada persoalan pengasuhan anak. Tanpa pikir panjang aku putuskan, untuk kontrak rumah di Gamping-Jogjakarta. Dengan pertimbangan, suasana cukup tenang untuk anak dan isteriku, dekat perbelanjaan dan jalur angkutan bis kotanya mudah untuk berangkat dan pulang dari kampus.
Kamipun pindah ke Jogjakarta. Isteriku sudah mulai sibuk matrikulasi dan pengkaderan. Sementara Adi, usia 3 tahun tidak dalam pengasuhan penuh ibunya.

Adi berkembang menjadi anak dengan solidaritas tinggi
Memasuki usia sekolah dasar, Adi berkembang menjadi anak dengan solidaritas tinggi. Menonjol jiwa sosialnya terhadap kawan, serta kemampuannya untuk memimpin kelompok. Dalam prestasi pelajaran, Adi lebih berminat pada mata pelajaran non-eksakta. Aku melihat  Adi memiliki kemampuan menghafal konsep dan mengingat kejadian.

Melepas ke Pondok dengan Subhanallah
Adi telah lulus dari SDIT Al Madinah Kebumen. Tiba giliran masa pendaftaran masuk SMP. Banyak tawaran dan adanya peluang masuk di sekolah favorit di Kebumen. Sebagai orang tua, aku menyarankan agar selektif dalam memilih sekolah. Sebagai anak-anak yang beragama Islam, sebaiknya memilih sekolah yang juga bernuansa Islam. Subhanallah, Adi membenarkan, bahkan ia menyatakan keinginannya bersekolah di pondok pesantren.

Di sekolahnya, SDIT Al Madinah sering ada pembekalan bagi siswa juga program parenting bagi orang tua. Termasuk pembekalan tentang keutamaan memilih sekolah untuk anak yang bernuansa agama. Hal ini penting, seperti dikatakan Ketua MUI Riau, Prof DR H Mahdini yang dikutip Republika, karena pendidikan akhlak dan agama merupakan hal yang tidak boleh terlupakan apalagi ditinggalkan semata-mata mengejar kesuksesan duniawi. Perlu diketahui juga, demikian Mahdini, bahwa tidak semua institusi pendidikan formal mengajarkan tentang akhlak dan keagamaan. "Untuk itu, para orang tua perlu, bahkan sangat perlu agar selektif dalam memilih jenjang pendidikan untuk anak-anak. Jangan sampai salah dan menyesal di belakang hari," katanya. Jangan sampai, kata dia, demi mengejar kecerdasan duniawi, akhlak dan akidahnya menjadi terganggu dan makin berkurang.

Untuk memperoleh gambaran pendidikan di Pondok Pesantren, aku mengajak Adi, anakku, berkunjung dan mencari informasi ketiga pondok pesantren. Lokasi pertama yang aku tuju, adalah SMP Islam Terpadu Pondok pesantren Hidayatullah di Ngaglik-Sleman, Jogjakarta. Pondok pesantren ini sama seperti SDIT Al Madinah Kebumen, dikelola oleh   Hidayatullah. Beralamat di Jl.Palagan Tentara Pelajar Km. 14, 5, Candi, Ngaglik, Kec. Sleman,
Pesantren Hidayatullah Yogyakarta berlokasi di Balong –sebuah dusun kecil nan asri dengan panorama lereng Merapi- sebagai pusat kegiatannya. Di atas tanah seluas kurang lebih 1 hektar ini berdiri masjid, gedung pendidikan TPA-KB Permata Ummi, TKIT Yaa Bunayya, SDIT Hidayatullah, SMP-SMA Integral Hidayatullah, asrama anak binaan, rumah pengasuh dan dapur umum.
Sekolah bernuansa Islam yang aku tunjukkan pada anakku Adi, adalah SMPIT Al Furqan-Kutowinangun, Kebumen, yang berdiri pada tahun 2010. Bertepatan ketika aku dan anakku berkunjung, SMPIT Al Furqan Kutowinangun, Kebumen, mulai berdiri dan menerima pendaftaran. Ketika berkesempatan bertemu dengan staf sekolah, aku sempat memperoleh penjelasan dan gambaran tentang sekolah. Lembaga pendidikan yang dirintis oleh Bapak KH Mudzofir itu dimulai tahun 2002. Pada tahun 2002 Yayasan Al-Hidayah mulai merintis Play Group dan Taman Kanak-kanak Islam Terpadu, dan mendapat apresiasi yang menggembirakan dari masyarakat.  Atas desakan wali murid dan tokoh-tokoh masyarakat sekitar, pada tahun 2004 didirikanlah Sekolah Dasar Islam Terpadu AL-FURQAN.  Semenjak didirikan hingga sekarang, SDIT Al-Furqan mampu meraih prestasi yang gemilang, baik prestasi akademik maupun non akademik di Jawa Tengah, sehingga AL-FURQAN menjadi salah satu ikon Lembaga Pendidikan Islam Alternatif yang sangat diperhitungkan di Wilayah Kabupaten Kebumen.Tingginya animo masyarakat baik di lingkungan sekitar maupun dari luar kota, serta untuk menampung lulusan SDIT Al-Furqan, agar pendidikan islami yang berkelanjutan terwujud, maka pada tahun 2010 di dirikan SMP IT AL-FURQAN.

Sekolah ketiga yang aku tunjukkan pada anakku Adi, adalah Pondok Pesantren Darul Hikmah di Kutoarjo. Pondok Pesantren Modern yang dirintis oleh keluarga Bustanil Arifin itu, berlokasi di Jl. Brigjend Katamso, Gunung Tugel, Kutoarjo-Purworejo. Berdiri sejak tahun 2000. Pondok Pesantren Darul Hikmah menyelenggarakan pendidikan SMP dan SMA.
Ketika bertemu Bapak Rusmanto, yang akrab dipanggil Pak Nanang-staf pondok, aku mendapat informasi banyak tentang konsep pendidikan di Pondok Pesantren Darul Hikmah yang mengedepankan pencapaian akhlak dan pengetahuan

Mantap belajar di Pondok
Dari ketiga sekolah bernuansa islami itu, anakku berketetapan memilih bersekolah di Pondok Pesantren Darul Hikmah. Alasan anakku, disamping sistem pendidikan yang islami, letaknya tidak terlalu jauh dan transportasinya mudah, bahkan jika ditempuh dengan angkutan umum.
Hari seleksi santri barupun tiba. Aku dan seluruh keluarga, berangkat untuk mengikuti seleksi. Sistem seleksinya, ada materi yang melibatkan wawancara dengan orang tua/wali santri. Seleksi berlangsung selama lebih dari 12 jam, dimulai i jam 08.00 hingga malam. Ini adalah pengalaman yang sangat mengesankan. Bagaimana tidak? Sistem seleksi santri siswa baru diikuti oleh santri beserta keluarga, termasuk anakku terkecil, Nadiyyah, yang baru berusia enam bulan juga ikut terlibat.

Tiba giliran hari pengumuman penerimaan santri,Alhamdulillah, Adi anakku termasuk bagian kecil dari pendaftar yang diterima. Sementara itu,  aku tahu, lebih dari separoh pendaftar yang tidak diterima. Aku bersama anakku melakukan sholat berjamaah. Dalam do’a lirihku kepada Allah: “Terimakasih ya Allah, Kau telah memberi anugerah pada anakku, dan juga keluargaku. Bukakanlah pintu hikmahMu pada anakku”

Bulan-bulan pertama di pondok, merupakan pengalaman baru bagi Adi. Dengan berbagai upaya dan do’a semoga anakku dapat menyesuaikan dengan irama kehidupan santri di pondok pesantren. Dalam perkembangannya, aku melihat perubahan mendasar pada akhlak dan perilaku anakku. . Dari keterangan Adi yang aku tangkap, implementasi pendidikan akhlak di pondok pesantren modern dilakukan dengan menggunakan banyak cara,  diantaranya melalui:  (1). Keteladanan Kyai dan guru. Sikap perilaku santri di pondok, sangat tergantung dari apa yang biasa mereka lihat dari kyai dan gurunya. Seperti halnya, ketika di rumah, seorang anak pastilah akan mencontoh sikap dan perilaku ibu-bapaknya. Bagi anak-anak, orang tua merupakan madrasah pertamanya. Begitu juga, perilaku santri di pondok  (2). Pembinaan Intensif dan terus menerus. Kehidupan di pondok pesantren memungkinkan santri dan kyai/guru berinteraksi selama 24 jam. Interaksi ini dapat menjadi proses pembudayaan aturan dan norma yang efektif  (3) Pengajaran di kelas dan asrama  (4) Motivasi dan dorongan (5). Pembiasaan dengan penguatan program. (6). Reward dan Punishment.(7). Nasihat.( 8). Pendampingan melekat.( 9) Penugasan dalam organisasi. (10). Praktek langsung di tengah masyarakat (11) Penciptaan lingkungan yang kondusif. (12) Penerapan aturan dan tata tertib yang memiliki karakter tegas, manusiawi, tidak membebani, edukatif, syar’i dan bertahap.

Fokus menghadapi ujian akhir SMP
Pada tahun-tahun terakhir di SMP, aku melihat Adi anakku, sudah menikmati kehidupan di pondok pesantren. Pondok pesantren sudah merupakan tempat yang menyenangkan, sehingga membuat orang akan betah tinggal di dalamnya. Dalam konteks dunia pendidikan, kelas merupakan ruang yang sering ditempati siswa. Di sinilah siswa memperoleh ilmu, dan di sini pula siswa berinteraksi dengan guru dan siswa yang lain. Harapan­nya, seperti yang diharapkan fihak sekolah,  kelas itu dapat menjadi surga, tempat yang nyaman untuk belajar dan menambah pengetahuan sehingga siswa betah tinggal di dalam kelas. Aku sudah membuktikannya pada anakku. Dalam kesempatan libur sekolah, dua bulan sekali santri dapat pulang ke rumah, namun seringkali Adi menjalaninya lebih banyak di pondok. Baru saja sampai di rumah, sudah harus pamit pergi, karena ada kegiatan di pondok. Aktivitas dan suasana di pondok telah membawanya lebih nyaman di sana.

Mandiri di jenjang SMA
Setelah lulus SMP Pondok Pesantren Darul Hikmah, anakku Adi berkeputusan meneruskannya di SMA yang sama. Tidak seperti ketika Adi masuk SMP dulu. Masuk di SMA Pondok Pesantren Darul Hikmah hampir tanpa masalah. Tidak banyak melakukan penyesuaian, karena lingkungan belajar, pergaulan antar siswa dan para guru, sistem pendidikan dan tata aturan kehidupan pondok tidak banyak berubah. Dengan kondisi lingkungan sekolah dan kenyamanan belajarnya, di SMA Adi tumbuh lebih mandiri. Dapat mengelola sendiri kebutuhan dan aktivitas belajar, ibadah dan amaliahnya. Dapat menjadi contoh dan semangat bagi adiknya. Bahkan, Bagas adiknya, terinspirasi ingin meneruskan jenjang SMP-nya juga di Pondok Pesantren Darul Hikmah. Alhamdulillah. Kemajuan dalam prestasi maupun aktivitasnya di SMA makin menonjol. Adi aktif di organisasi OSDH-Osisnya Darul Hikmah, PMI Kabupaten Purworejo. Dari prestasi akademiknya, sejak kelas satu SMA sudah masuk 10 besar. Di kelas dua, bisa ranking satu.

Bersiap menghadapi ujian akhir SMA
Masuk di kelas tiga, dia makin serius. Adi bersiap menghadapi ujian akhir dan menyiapkan ke jenjang pendidikan berikutnya. Terbukti prestasi akademik dan kematangan pribadinya makin mantap. Terutama sejak ada penjurusan di kelas XI dan XII. Pernah suatu saat berkesempatan pulang, dia mengutarakan minatnya. Selanjutnya kamipun terlibat dialog. “Mulai semester depan, aku di kelas sudah mulai penjurusan. Menurut Bapak, aku harus mengambil jurusan IPA atau IPS ya?” pertanyaannya membuka pembicaraan. Aku menjawabnya dengan balik bertanya “Menurutmu, diantara jurusan IPA dan IPS itu, Adi menaruh minat yang mana?”. Sesaat dia diam, sepertinya dia sedang bimbang. Kemudian pandangannya mulai fokus “Menurutku, aku lebih cocok ke IPS, banyak pelajaran di jurusan itu yang menarik minatku. Tetapi jujur, rasanya jurusan IPS itu dipandang kurang keren!” Untuk meyakinkan bahwa aku mendukung pilihanya, maka aku segera menyambutnya. “Bagus itu, artinya Adi sudah memilih. Yakinlah dengan pilihanmu, Insyaallah kita akan sukses. Orang IPS yang berprestasi dan sukses banyak. Itu hanya menyangkut minat terhadap ilmu. Kalau Adi berminat dalam bidang-bidang ilmu sosial dan kemanusiaan, ya di jurusan IPS lah tempatnya!” Aku kemudian memberi motivasi kepadanya, bagaimana mudahnya seseorang melakukan sesuatu, termasuk belajar atau mencipta, jika seseorang itu didorong oleh rasa suka!

Kembali dari pondok dengan Alhamdulillah
Ini mungkin buah dari keseriusan memupuk hobi terhadap ilmu yang diminati. Selama semester XI dan XII prestasi akademiknya tergolong cemerlang. Dia selalu ranking pertama di kelasnya. Aku ingat dia menerima hadiah atas prestasinya itu dari sekolahan, juga dari KPRI Husada-yang memberikan hadiah bagi siswa dari keluarga anggota, yang meraih predikat peringkat pertama pada periode kenaikan kelas. Hingga puncaknya pada pelaksanaan kelulusan, baik dari hasil Ujian Nasional (UN) maupun Ujian Sekolah (US). Adi meraih nilai yang menggembirakan, menerima penghargaan Lulusan Terbaik Jurusan IPS!
Aku berkesempatan mendampingi anakku Adi saat menerima penghargaan itu, 22 Mei 2016; bertepatan dengan acara pelepasan santri SMA Darul Hikmah Angkatan X. Aku sempat bisikkan ketelinganya “Alhamdulillah. Allah Maha Kuasa atas segala upaya manusia, untuk itu Tetaplah semangat”