Ini adalah rangkaian kegiatan diklat kepemimpinan dalam session "cultural and social observation" Perjalanan bermula dari dermaga tanjung puting, pangkalan bun, kalimantan tengah, kami menyusuri sungai sepertinya ke arah hulu. Dengan menggunakan kapal, sudah satu jam perjalanan pemandangannya sangat eksotik, hijau dan alami. Kanan kiri sungai kumai ini ditumbuhi tanaman nipah. Makin ke hulu, tanamannya makin bervariasi pepohonan hutan di pedalaman kalimantan. Sesekali kami melihat sekelompok kukang bergelantungan di atas pohon. Kukang-kukang itu sepertinya makan daun muda, bunga hingga jenis buah-buahan hutan.
Selamat datang di Desa Sikonyer
Setelah perjalanan dua jam menyusur sungai, sampailah saya di desa sungai sikonyer. Warna air sungai tidak lagi biru, bening, namun berwarna coklat. Mungkin karena air tawar keruh, akibat banyak akar pohon yang terendam. Ada bangunan dari kayu yang dicat putih biru menyerupai pintu gerbang desa, di pinggir sebelah kiri badan sungai. Tidak seperti di hilir yang berair laut hingga payau. Di hulu sungai, air sungai sudah tawar. Tumbuhan pun terlihat lebih bermacam-macam jenisnya. Lebih ke hulu lagi, kami jumpai ada perahu parkir. Sepertinya perahu pengunjung "Rimba Lodge and Restaurant".
Di menit ke 150, kami bertemu kapal dari arah yang berlawanan. Terlihat dua turis asing, melambaikan tangan ke arahku. Akupun membalas lambaian tanganya sembari tersenyum. Sementara tanganku terus menulis laporan perjalanan ini. Makin ke hulu, lebar badan sungai seperti menyempit, dengan sesekali berkelok. Kami bersama 30 orang lainya, rombongan diklat dari Semarang. Sebagian besar, mereka tertidur karena terlelap dibuai halus suasana alam hutan. Dan mereka bangun, ketika bocah awak perahu, yang bercelana pendek itu memberi isyarat dengan membawa baki berisi pisang goreng, dan dua ketel berisi teh dan kopi. Kamipun semua, seketika bangun. Kemudian menyantap pisang goreng panas yang dipotong kecil. Dengan dua gigitan sepotong pisang goreng itu habis. Hingga datang paket pisang goreng susulan. Tidak lebih dari 10 menit, hidangan itupun habis! Dalam sekejap, hidangan itupun habis. Bahkan ketika bocah awak perahu itupun mengemasi piring-piring itu. Bersih Tak bersisa!
Udarapun mulai terasa lebih sejuk. Sesekali angin bertiup agak kencang dari lambung perahu. Kicau burung bersahutan, dengan warna-warni biru-orange-hitam, terasa seperti melihat lukisan alam. Sangat indah.Tidak lama berselang, rombongan bertemu dengan dua perahu motor tempel. Melaju dengan kecepatan penuh. Sekilas terlihat dari atas perahu, dua perahu motor tempel itu membawa barang dagangan. Sepertinya mereka seorang pedagang.
Memasuki hutan Kalimantan
Setelah kurang lebih perjalanan menempuh tiga jam, 16 menit, kamipun sampai di suatu tempat pendaratan perahu. Kamipun turun dan memasuki hutan.. Setelah berjalan masuk hutan sejauh dua kilometer dengan melewati jembatan kayu yg ditata apik, dan jalan tanah sedimen, pasir putih kamipun sampai di "rumah" orang hutan. Hewan yang dilindungi, menjadi ciri khas daerah tanjung putting. Dengan sebuah panggung papan kayu ulin, kurang lebih seluas 6 m2, diletakkan beberapa buah pisang. Tempat itu dijadikan tempat berjemur, bermain dan menyusui bagi para orang hutan.
Sepertinya tempat ini sengaja dibuat sebagai tempat "laktasi orang hutan.
Waktu bermain dan menyusui di tempat itu, tidak lama. Berkisar dari jam 09.00-11.00. Dan benar, sekitar jam 11.15 orang hutanpun mulai masuk ke dalam hutan. Dibalik rimbunya tanaman hutan, kita tidak tahu apa yang dilakukan orang hutan selanjutnya. Namun orang-orang yang "bertamu" menyaksikanya, harusnya berubah pola parentingnya. Karena sesungguhnya menyusui itu, tidak sekedar memasukkan makanan, air susu ke anak bayinya. Namun, lebih dari itu, sang ibu sedang memberi makan jiwa anaknya dengan kasih sayang. Sehingga tidaklah heran, jika anak sekarang banyak yang tumbuh besar, berpenampilan menarik, namun keropos moralnya. Karena si-anak hanya diberi makan fisiknya, namun tidak jiwanya.
Cokroaminoto
Tanjung puting, 28 Maret 2019
Thursday, March 28, 2019
Ekspedisi Tanjung Puting
Wednesday, June 6, 2018
Membangun Budaya Menulis di Kalangan Santri*)
"Di era milenial ini, santri bukan sekedar mereka yang mondok saja, tapi dia yang berjiwa santri dan bersifat santri, itulah santri yang sebenarnya". Demikian yang dikatakan Mustofa Bisri alias Gusmus yang kini menjadi pimpinan pondok pesantren Raudlatut Thalibin, Rembang sekaligus sastrawan yang karya-karyanya selalu bijak dan memukau. Sehingga ketika jaman menggeser kehidupan ke arah digital, seorang santri harus dapat menyesuaiakannya.
Disadari atau tidak, saat ini masyarakat terutama kaum muda telah mendiami alam digital dengan menjadi warga netizen. Setiap hari masyarakat disibukkan dengan permasalahan internet, kuota dan koneksi dengan dunia maya. Kaum muda di jaman now, setiap saat tidak bisa lepas dari gadget, smartphone, laptop dan komputer. Kondisi semacam ini, menjadi tidak relevan jika pendekatan kajian, dakwah dan dialog masih menggunakan cara-cara tradisional. Sudah saatnya kita melayani mereka dengan pendekatan yang lebih kekinian, menyesuaikan tempat hidupnya sekarang. Sarana komunikasi di jaman digital mampu menembus ruang dan waktu, mengatasi jarak dan melampaui ruang yang terpisah jauh.
Teknologi informasi dapat melipatgandakan kecepatan penyampaian pesan.
Namun bukan tanpa kendala.Untuk dapat berkomunikasi melalui media informasi dibutuhkan semangat dan kemampuan menuliskan pesan-pesan dakwah. Karena pada hakikatnya berdakwah itu menyerukan untuk berbuat kebaikan dan mencegah kemungkaran. Diakui atau tidak, saat ini tradisi menulis di kalangan santri kurang terbina dengan baik. Santri lebih banyak didorong untuk melakukan komunikasi dialogis secara konvensional.
Penulis versus Pengarang
Antara penulis dengan pengarang sepintas memiliki kesamaan pengertian, namun sebenarnya memiliki perbedaan yang nyata. Seorang penulis, menuangkan ide dan karya tulisannya berasal dari bahan, ilmu dan pengetahuan yang diperoleh dari proses membaca. Membaca karya tulis, buku atau hasil karya ilmuwan/penulis lain. Sehingga untuk dapat menulis bagus, menghasilkan karya tulis yang mengesankan seorang penulis harus banyak dan rajin membaca.
Penulis juga Pendakwah
Pada hakikatnya seorang penulis juga seorang pendakwah, jika tulisan-tulisannya dapat menggerakkan orang lain untuk melakukan kebaikan dan mencegah orang lain melakukan keburukan.
Berdakwah di Era Digital
Dakwah di era digital tidak lepas dari aturan-aturan berkomunikasi secara elektronik. Dengan menggunakan alat-alat komunikasi yang serba canggih, seperti smartphone memungkinkan seorang dapat berkomunikasi multi chanel, multi platform dan multi media. Maknanya bahwa seseorang dalam kecanggihan teknologi informasi saat ini dapat berkonunikasi dan dapat diakses dengan berbagai cara, oleh banyak orang sekaligus dengan berbagai macam alat yang digunakan. Sehingga jika seorang santri ingin berdakwah melalui tulisan misalnya, dan mengirimkan tulisan itu melalui media sosial dalam sekejap dan dalam waktu yang sama dapat dilihat oleh banyak bahkan berjuta orang. Sehingga tidak jarang suatu pesan yang disampaikan itu dapat bermanfaat, menghindarkan orang dari berbuat jahat dan mengembalikan anak-anak yang durhaka menjadi sholeh kembali. Namun tidak jarang pula, efek sebuah pesan menimbulkan kontroversi, polemik dan mencelakakan orang.
Melihat dampak dari pesan-pesan yang dikirim melalui transmisi (saluran) komunikasi ini Pemerintah berkewajiban memberi perlindungan dengan menciptakan regulasi atau aturan-aturan untuk menjaga kenyamanan proses komunikasi. Saat ini Pemerintah telah mengeluarkan Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) dalam rangka melindungi hak-hak warga negara dalam berkomunikasi.Hal-hal yang dilarang dalam kegiatan transaksi elektronik, antara lain:
*) Disiapkan untuk
Disadari atau tidak, saat ini masyarakat terutama kaum muda telah mendiami alam digital dengan menjadi warga netizen. Setiap hari masyarakat disibukkan dengan permasalahan internet, kuota dan koneksi dengan dunia maya. Kaum muda di jaman now, setiap saat tidak bisa lepas dari gadget, smartphone, laptop dan komputer. Kondisi semacam ini, menjadi tidak relevan jika pendekatan kajian, dakwah dan dialog masih menggunakan cara-cara tradisional. Sudah saatnya kita melayani mereka dengan pendekatan yang lebih kekinian, menyesuaikan tempat hidupnya sekarang. Sarana komunikasi di jaman digital mampu menembus ruang dan waktu, mengatasi jarak dan melampaui ruang yang terpisah jauh.
Teknologi informasi dapat melipatgandakan kecepatan penyampaian pesan.
Namun bukan tanpa kendala.Untuk dapat berkomunikasi melalui media informasi dibutuhkan semangat dan kemampuan menuliskan pesan-pesan dakwah. Karena pada hakikatnya berdakwah itu menyerukan untuk berbuat kebaikan dan mencegah kemungkaran. Diakui atau tidak, saat ini tradisi menulis di kalangan santri kurang terbina dengan baik. Santri lebih banyak didorong untuk melakukan komunikasi dialogis secara konvensional.
Penulis versus Pengarang
Antara penulis dengan pengarang sepintas memiliki kesamaan pengertian, namun sebenarnya memiliki perbedaan yang nyata. Seorang penulis, menuangkan ide dan karya tulisannya berasal dari bahan, ilmu dan pengetahuan yang diperoleh dari proses membaca. Membaca karya tulis, buku atau hasil karya ilmuwan/penulis lain. Sehingga untuk dapat menulis bagus, menghasilkan karya tulis yang mengesankan seorang penulis harus banyak dan rajin membaca.
Penulis juga Pendakwah
Pada hakikatnya seorang penulis juga seorang pendakwah, jika tulisan-tulisannya dapat menggerakkan orang lain untuk melakukan kebaikan dan mencegah orang lain melakukan keburukan.
Berdakwah di Era Digital
Dakwah di era digital tidak lepas dari aturan-aturan berkomunikasi secara elektronik. Dengan menggunakan alat-alat komunikasi yang serba canggih, seperti smartphone memungkinkan seorang dapat berkomunikasi multi chanel, multi platform dan multi media. Maknanya bahwa seseorang dalam kecanggihan teknologi informasi saat ini dapat berkonunikasi dan dapat diakses dengan berbagai cara, oleh banyak orang sekaligus dengan berbagai macam alat yang digunakan. Sehingga jika seorang santri ingin berdakwah melalui tulisan misalnya, dan mengirimkan tulisan itu melalui media sosial dalam sekejap dan dalam waktu yang sama dapat dilihat oleh banyak bahkan berjuta orang. Sehingga tidak jarang suatu pesan yang disampaikan itu dapat bermanfaat, menghindarkan orang dari berbuat jahat dan mengembalikan anak-anak yang durhaka menjadi sholeh kembali. Namun tidak jarang pula, efek sebuah pesan menimbulkan kontroversi, polemik dan mencelakakan orang.
Melihat dampak dari pesan-pesan yang dikirim melalui transmisi (saluran) komunikasi ini Pemerintah berkewajiban memberi perlindungan dengan menciptakan regulasi atau aturan-aturan untuk menjaga kenyamanan proses komunikasi. Saat ini Pemerintah telah mengeluarkan Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) dalam rangka melindungi hak-hak warga negara dalam berkomunikasi.Hal-hal yang dilarang dalam kegiatan transaksi elektronik, antara lain:
- Sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan atau mentransmisikan dan atau membuat dapat diaksesnya informasi elektronik dan atau dokumen elektronik yang memiliki muatan yang melanggar kesusilaan.
- Sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan atau mentransmisikan dan atau membuat dapat diaksesnya informasi elektronik dan atau dokumen elektronik yang memiliki muatan perjudian.
- Sengaja, dan tanpa hak mendistribusikan dan atau mentransmisikan dan atau membuat dapat diaksesnya informasi elektronik dan atau dokumen elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan atau pencemaran nama baik.
- Sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan atau mentransmisikan dan atau membuat dapat diaksesnya informasi elektronik dan atau dokumen elektronik yang memiliki muatan pemerasan dan/atau pengancaman.
- Sengaja, dan tanpa hak menyebarkan berita bohong dan menyesatkan yang mengakibatkan kerugian konsumen dalam transaksi elektronik.
- Sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).
- Sengaja dan tanpa hak mengirimkan informasi elektronik dan atau dokumen elektronik yang berisi ancaman kekerasan atau menakut-nakuti yang ditujukan secara pribadi.
- Membangun semangat menulis
- Bagaimana menulis yang menarik
- Menulis di media sosial
*) Disiapkan untuk
Tuesday, August 8, 2017
Membangun personal branding (OPD) melalui tulisan*)
Di era informasi seperti sekarang ini, banyak orang menempuh berbagai cara dalam mengaktualisasikan diri dan kemampuannya. Tujuannya tidak lain, agar gambaran personal kita lebih dikenal. Ada orang yang menempuhnya melalui dunia seni, olahraga, maupun bela diri. Bahkan ada yang sangat ekstrem, dengan melakukan adegan-adegan berbahaya, sebagai upaya membangun gambaran personalnya. Masih ingat kan, bagaimana seseorang berfoto selfie di atas jurang atau di dekat mesin atau kendaraan berbahaya? Hanya semata untuk meng-update statusnya di media sosial. Itulah sebenarnya gambaran personal branding.
Membangun personal branding melalui tulisan
Mengapa tidak? Akhir-akhir ini, banyak dilakukan orang dalam membangun personal branding melalui tulisan. Tidak terbatas para tokoh, selebritri, politisi, calon pimpinan daerah, calon kepala sekolah, bahkan calon ketua OSIS pun telah banyak yang melakukan untuk membangun image tentang dirinya melalui tulisan. Medianya, ada yang berupa buku, buku ringkas (buklet), iklan di koran, website dan media sosial.
Bahkan dalam tulisannya seorang ahli pendidikan menyatakan sebagai sebuah langkah yang sangat efektif membangun personal branding dengan menulis. Mengapa begitu? Karena ketika anda berani mempublikasikan tulisan anda, itu berarti anda telah berbagi informasi atau ilmu yang bernilai dengan orang lain. Dan secara tidak langsung, anda memposisikan diri anda layaknya seorang ahli pada topik tulisan yang anda pilih. Setelah membaca tulisan anda, tentu orang ingin mengenal anda secara lebih dalam. Mereka juga ingin mengenal hasil karya anda yang lain, mereka bisa menemukan, serta bagaimana cara mendapatkannya. Pembaca atau masyarakat akan yakin bahwa anda adalah sosok yang kreatif dan berkualitas, berdasarkan kualitas tulisan yang anda bagi kepada mereka. Dan tidak segan-segan orang akan membaca dan membaca lagi tulisan-tulisan anda.
Mem-branding pelayanan OPD
Begitu juga dengan pelayanan OPD tempat kita bekerja. Seringkali kita dengar keluhan masyarakat terhadap pelayanan atau program OPD. Sebut saja, betapa media sosial selama tiga bulan terakhir ini banyak mengeluhkan jalan yang rusak dan bolong-bolong-hingga terkenal dengan sebutan jeglongan sewu. Belum lagi keluhan ribetnya pelayanan BPJS, naiknya harga pupuk, merebaknya wereng hingga gagal panen di beberapa tempat, banyak dikeluhkan warga. Sementara itu kita sebagai pelayanan masyarakat, merasa tidak kurang-kurang dalam menjelaskan, memberi penyuluhan, menulis rilis berita bahkan menulis pesan-pesan praktis yang berguna bagi masyarakat.
Tapi seberapa efektifkah tulisan-tulisan kita di web? Dapatkah kita mem-branding OPD kita melalui tulisan? Inilah sebenarnya pertanyaan-pertanyaan mendasar bagi seorang admin website. Agar dengan mudah pembaca mendapatkan alamat website kita. Karena di jaringan internet ini ada ribuan bahkan jutaan alamat web dan tulisan. Para pengunjung website ketika mencari artikel atau alamat website, seringkali hanya mengandalkan kata-kunci (key word) di halaman pencarian. Namun apa jadinya ketika tulisan atau alamat website kita itu tidak muncul dihalaman-halaman pertama pencarian. Jika demikian, sudah pasti, akan tidak dikunjungi orang.
Selain itu, kita juga perlu tahu bagaimana membuat tulisan dan berita yang kita posting, mampu menarik orang untuk membaca. Keluhan terbesar pengunjung website OPD adalah tidak menarik. Berita atau tulisan di website OPD seringkali terlalu panjang atau terlalu pendek, bahkan posting beritanya hanya berupa gambar. Tanpa keterangan pendukung yang memadai sehingga informasi yang diterima pembaca menjadikan tidak nyaman. Dalam kondisi seperti ini yang paling banyak dilakukan pengunjung, adalah meninggalkan website dan berganti mencari informasi dari alamat website yang lain. Akibatnya, tulisan, rilis, sosialisasi kita tentang layanan OPD, lagi-lagi ditinggalkan pembaca. Dan selama itu, program dan layanan OPD kita sepertinya tidak nyambung dengan permasalahan masyarakat.
Mem-branding OPD melalui tulisan yang SEO Friendly
Untuk mengatasi dua persoalan mendasar di atas, yang dapat kita lakukan adalah meningkatkan kualitas website. Website yang berkualitas tidak hanya bagus untuk mesin pencari (search-enggine), tapi juga untuk pembaca (human). Karena tujuan kita mengelola website OPD adalah menyajikan informasi yang mudah dicari dan disukai pembaca. Inilah yang disebut paradigma baru SEO-Friendly dalam konsep pengelolaan website.
Sehingga, ketika pengguna internet melakukan pencarian dengan memasukkan sebuah keyword, maka mesin pencari akan langsung merekomendasikan website OPD kita. Hasilnya, dengan teknik SEO friendly, jumlah kunjungan akan terus meningkat lebih cepat. Dan terwujudlah upaya kita mem-branding OPD.
Lalu, bagaimana cara mudah membuat website yang SEO friendly tersebut? Ada beberapa cara yang biasanya sering dipraktekkan oleh para pemilik website atau blogger. Biasanya, terkait dengan konten, keyword, serta desain dari website tersebut, selain juga menyematkan kode-kode pada HTML template-nya.
Inilah langkah-langkah praktisnya
Tips atau langkah-langkah mengelola website yang SEO friendly sebenarnya banyak sudah disarankan para ahli, namun langkah praktis ini saya peroleh dari penuturan Asrittada.
*) Disampaikan pada Workshop penulisan dan pengelolaan website instansi bagi Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Kabupaten Kebumen, Tahun 2017 di Ruang CAT Badan Kepegawaian Kab. Kebumen, 9 Agustus 2017.
Membangun personal branding melalui tulisan
Mengapa tidak? Akhir-akhir ini, banyak dilakukan orang dalam membangun personal branding melalui tulisan. Tidak terbatas para tokoh, selebritri, politisi, calon pimpinan daerah, calon kepala sekolah, bahkan calon ketua OSIS pun telah banyak yang melakukan untuk membangun image tentang dirinya melalui tulisan. Medianya, ada yang berupa buku, buku ringkas (buklet), iklan di koran, website dan media sosial.
Bahkan dalam tulisannya seorang ahli pendidikan menyatakan sebagai sebuah langkah yang sangat efektif membangun personal branding dengan menulis. Mengapa begitu? Karena ketika anda berani mempublikasikan tulisan anda, itu berarti anda telah berbagi informasi atau ilmu yang bernilai dengan orang lain. Dan secara tidak langsung, anda memposisikan diri anda layaknya seorang ahli pada topik tulisan yang anda pilih. Setelah membaca tulisan anda, tentu orang ingin mengenal anda secara lebih dalam. Mereka juga ingin mengenal hasil karya anda yang lain, mereka bisa menemukan, serta bagaimana cara mendapatkannya. Pembaca atau masyarakat akan yakin bahwa anda adalah sosok yang kreatif dan berkualitas, berdasarkan kualitas tulisan yang anda bagi kepada mereka. Dan tidak segan-segan orang akan membaca dan membaca lagi tulisan-tulisan anda.
Mem-branding pelayanan OPD
Begitu juga dengan pelayanan OPD tempat kita bekerja. Seringkali kita dengar keluhan masyarakat terhadap pelayanan atau program OPD. Sebut saja, betapa media sosial selama tiga bulan terakhir ini banyak mengeluhkan jalan yang rusak dan bolong-bolong-hingga terkenal dengan sebutan jeglongan sewu. Belum lagi keluhan ribetnya pelayanan BPJS, naiknya harga pupuk, merebaknya wereng hingga gagal panen di beberapa tempat, banyak dikeluhkan warga. Sementara itu kita sebagai pelayanan masyarakat, merasa tidak kurang-kurang dalam menjelaskan, memberi penyuluhan, menulis rilis berita bahkan menulis pesan-pesan praktis yang berguna bagi masyarakat.
Tapi seberapa efektifkah tulisan-tulisan kita di web? Dapatkah kita mem-branding OPD kita melalui tulisan? Inilah sebenarnya pertanyaan-pertanyaan mendasar bagi seorang admin website. Agar dengan mudah pembaca mendapatkan alamat website kita. Karena di jaringan internet ini ada ribuan bahkan jutaan alamat web dan tulisan. Para pengunjung website ketika mencari artikel atau alamat website, seringkali hanya mengandalkan kata-kunci (key word) di halaman pencarian. Namun apa jadinya ketika tulisan atau alamat website kita itu tidak muncul dihalaman-halaman pertama pencarian. Jika demikian, sudah pasti, akan tidak dikunjungi orang.
Selain itu, kita juga perlu tahu bagaimana membuat tulisan dan berita yang kita posting, mampu menarik orang untuk membaca. Keluhan terbesar pengunjung website OPD adalah tidak menarik. Berita atau tulisan di website OPD seringkali terlalu panjang atau terlalu pendek, bahkan posting beritanya hanya berupa gambar. Tanpa keterangan pendukung yang memadai sehingga informasi yang diterima pembaca menjadikan tidak nyaman. Dalam kondisi seperti ini yang paling banyak dilakukan pengunjung, adalah meninggalkan website dan berganti mencari informasi dari alamat website yang lain. Akibatnya, tulisan, rilis, sosialisasi kita tentang layanan OPD, lagi-lagi ditinggalkan pembaca. Dan selama itu, program dan layanan OPD kita sepertinya tidak nyambung dengan permasalahan masyarakat.
Mem-branding OPD melalui tulisan yang SEO Friendly
Untuk mengatasi dua persoalan mendasar di atas, yang dapat kita lakukan adalah meningkatkan kualitas website. Website yang berkualitas tidak hanya bagus untuk mesin pencari (search-enggine), tapi juga untuk pembaca (human). Karena tujuan kita mengelola website OPD adalah menyajikan informasi yang mudah dicari dan disukai pembaca. Inilah yang disebut paradigma baru SEO-Friendly dalam konsep pengelolaan website.
Sehingga, ketika pengguna internet melakukan pencarian dengan memasukkan sebuah keyword, maka mesin pencari akan langsung merekomendasikan website OPD kita. Hasilnya, dengan teknik SEO friendly, jumlah kunjungan akan terus meningkat lebih cepat. Dan terwujudlah upaya kita mem-branding OPD.
Lalu, bagaimana cara mudah membuat website yang SEO friendly tersebut? Ada beberapa cara yang biasanya sering dipraktekkan oleh para pemilik website atau blogger. Biasanya, terkait dengan konten, keyword, serta desain dari website tersebut, selain juga menyematkan kode-kode pada HTML template-nya.
Inilah langkah-langkah praktisnya
Tips atau langkah-langkah mengelola website yang SEO friendly sebenarnya banyak sudah disarankan para ahli, namun langkah praktis ini saya peroleh dari penuturan Asrittada.
Pertama, lakukan posting yang berkualitas. Konten posting yang berkualitas adalah yang baru dan relevan sesuai tugas dan layanan OPD. Jadi, sering-seringlah meng-update berita baru dan jangan pernah sekalipun meng-upload posting ulang dan usang dari website lain! Kedua, mengatur banyaknya kata kunci (keyword density) pada tulisan/artikel/berita Artikel yang memiliki kepadatan kata kunci pada teksnya secara merata, biasanya
akan menjadi prioritas bagi mesin pencari. Selain itu, pastikan juga artikel
yang di-upload cukup panjang, minimal 500 kata atau lebih, tentunya
dengan tetap menjaga keaslian artikel tersebut.
Ketiga, Manfaatkan tag header. Mesin pencari diketahui lebih cenderung menyukai konten artikel yang
memiliki tag header pada sebuah website. Apalagi, jika tag
header itu juga termuat pada paragraf pertama dan kedua artikel
tersebut. Selain itu, gunakan juga tag header yang banyak
dicari.
Keempat, gunakan sitemaps. Keberadaan fitur sitemaps pada sebuah website, akan
memberikan indeks yang jauh lebih baik pada mesin pencari. Halaman "artsip berita", "indeks berita" atau" berita terkait" memiliki fungsi yang hampir sama dengan sitemaps. Kelima, sesuaikan desain tampilan yang yang cocok untuk seluler. Dengan mendesain website untuk bisa juga diakses melalui perangkat mobile,
seperti smartphone memungkinkan pengunjungnya tidak hanya terbatas
pada pengguna laptop atau komputer saja tetapi juga dari mobile phone.
*) Disampaikan pada Workshop penulisan dan pengelolaan website instansi bagi Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Kabupaten Kebumen, Tahun 2017 di Ruang CAT Badan Kepegawaian Kab. Kebumen, 9 Agustus 2017.
Tuesday, June 13, 2017
Membangun kebiasaan menulis di lingkungan kantor KOMINFO
Sesuai tugasnya, Dinas Kominfo salah satunya adalah menyajikan informasi pembangunan kepada masyarakat. Penyebarluasan informasi tersebut melalui media radio In-FM, RATIH televisi, website dan media sosial. Untuk itu, kemampuan menulis untuk mengisi konten bagi tim liputan maupun admin website dan media sosial sangatlah penting dan mendesak. Peningkatan kemampuan menulis itu mendesak dikarenakan adanya perubahan pola pemberitaan dan kebijakan pemkab terkait standar pelayanan informasi publik.
Membangun tradisi menulis
Untuk itu beberapa upaya yang aku lakukan adalah membangun tradisi menulis. Tradisi menulis bagi perorangan ditempuh dengan cara setiap pegawai melaporkan kegiatan perorangan atau kelompok dalam format berita yang disertai gambar. Selama ini, pegawai hanya mengirimkan gambar atau foto kegiatan melalui aplikasi group whats apps.
Sebagai upaya menanamkan tradisi menulis berita, maka untuk melaporkan kegiatan, pegawai diharapkan menyertakan keterangan gambar/foto kegiatan tersebut ke dalam format berita. Format berita dimaksud, minimal memuat komponen keterangan yang menjawab pertanyaan: what, when, where, why, who dan how (5W 1H). Dengan begitu, tradisi itu akan mendatangkan manfaat yang sangat luas. Di satu sisi, melatih pegawai menulis berita atas kegiatan yang menjadi tugas pokoknya. Di sisi yang lain, kita memperoleh bahan berita yang dapat disebarluaskan kepada masyarakat.
Membangun pola pemberitaan
Selama ini pola penayangan berita di Ratih TV, In FM dan Website Pemkab tidak terintegrasi, bahkan berbeda konten. Berita yang berasal dari Tim liputan Ratih TV dan In FM ditayangkan secara bersama pada saat sore hari, selama 30 menit. Sedangkan konten berita Website Pemkab lebih banyak berasal dari kegiatan OPD. Sehingga pernah terjadi berita di website, sudah beberapa saat tidak di update.
Namun, kondisinya sekarang berbeda. Saat ini Ratih TV, In FM, Website Pemkab Kebumen dan Website OPD Diskominfo, menjadi satu pengelolaan di bawah Dinas Kominfo Kebumen. Sehingga langkah-langkah yang aku ambil adalah membangun pola pemberitaan yang terpadu dan terintegrasi. Terintegrasi sejak dari liputan ke media penyiaran. Tim liputan terdiri dari unsur tv, radio, website dan media sosial. Tim liputan diperluas tujuannya untuk menjangkau berita yang lebih banyak. Targetnya adalah seluruh agenda kegiatan Bupati dan Wakil Bupati serta kegiatan penting lainnya di tingkat Kabupaten.
Seluruh berita yang masuk, setelah melalui tim editor disiarkan melalui Ratih TV, In FM, Website Pemkab Kebumen, Website OPD dan media sosial. Sehingga "Berita Terkini Kebumen" dapat diakses masyarakat melalui berbagai media penyiaran.
Menyambut kebijakan Pemkab
Standar pelayanan informasi publik #2-34-2#
Membangun tradisi menulis
Untuk itu beberapa upaya yang aku lakukan adalah membangun tradisi menulis. Tradisi menulis bagi perorangan ditempuh dengan cara setiap pegawai melaporkan kegiatan perorangan atau kelompok dalam format berita yang disertai gambar. Selama ini, pegawai hanya mengirimkan gambar atau foto kegiatan melalui aplikasi group whats apps.
Sebagai upaya menanamkan tradisi menulis berita, maka untuk melaporkan kegiatan, pegawai diharapkan menyertakan keterangan gambar/foto kegiatan tersebut ke dalam format berita. Format berita dimaksud, minimal memuat komponen keterangan yang menjawab pertanyaan: what, when, where, why, who dan how (5W 1H). Dengan begitu, tradisi itu akan mendatangkan manfaat yang sangat luas. Di satu sisi, melatih pegawai menulis berita atas kegiatan yang menjadi tugas pokoknya. Di sisi yang lain, kita memperoleh bahan berita yang dapat disebarluaskan kepada masyarakat.
Membangun pola pemberitaan
Selama ini pola penayangan berita di Ratih TV, In FM dan Website Pemkab tidak terintegrasi, bahkan berbeda konten. Berita yang berasal dari Tim liputan Ratih TV dan In FM ditayangkan secara bersama pada saat sore hari, selama 30 menit. Sedangkan konten berita Website Pemkab lebih banyak berasal dari kegiatan OPD. Sehingga pernah terjadi berita di website, sudah beberapa saat tidak di update.
Namun, kondisinya sekarang berbeda. Saat ini Ratih TV, In FM, Website Pemkab Kebumen dan Website OPD Diskominfo, menjadi satu pengelolaan di bawah Dinas Kominfo Kebumen. Sehingga langkah-langkah yang aku ambil adalah membangun pola pemberitaan yang terpadu dan terintegrasi. Terintegrasi sejak dari liputan ke media penyiaran. Tim liputan terdiri dari unsur tv, radio, website dan media sosial. Tim liputan diperluas tujuannya untuk menjangkau berita yang lebih banyak. Targetnya adalah seluruh agenda kegiatan Bupati dan Wakil Bupati serta kegiatan penting lainnya di tingkat Kabupaten.
Seluruh berita yang masuk, setelah melalui tim editor disiarkan melalui Ratih TV, In FM, Website Pemkab Kebumen, Website OPD dan media sosial. Sehingga "Berita Terkini Kebumen" dapat diakses masyarakat melalui berbagai media penyiaran.
Menyambut kebijakan Pemkab
Standar pelayanan informasi publik #2-34-2#
Monday, February 27, 2017
Menyajikan tulisan dengan menarik*)
Bagi sebagian orang kemampuan menulis, dapat digunakan sebagai jalan untuk berbagi kebaikan. Seperti halnya semangat penulis Antoni Ludfi Arifin, yang tercermin dalam bukunya "Be a Writer. Pandangan ini banyak benarnya.
Mengapa menulis
Namun tidak banyak yang menyadari, bahwa manusia terbatas dalam menyerap ilmu yang dia pelajari. Untuk itu, tepatlah kita jika mengikuti kata-kata bijak dari seorang shahabat Rasul "Ikatlah ilmu dengan menuliskannya".
Kendala menulis
Seringkali seseorang lebih suka berbicara, dari pada menulis, karena banyak kendala, baik teknis maupun non-teknis. Tapi alasan tersebut lebih banyak karena non-teknis, seperti macet-idenya tidak mau berkembang, alasan tidak terbiasa, sibuk dan tidak memiliki waktu, tidak berbakat, malas membaca, banyak aturan.
Apa benar begitu? Tapi, mengapa jika ngobrol, bisa panjang dan berlama-lama, mengasyikkan dan sampai tidak ingat waktu?
Apa benar begitu? Tapi, mengapa jika ngobrol, bisa panjang dan berlama-lama, mengasyikkan dan sampai tidak ingat waktu?
Solusi
Menulis dengan gaya bertutur! Ya, kita akan mulai dengan belajar menulis seperti halnya gaya orang bercerita. Maka akan menarik seperti orang ngobrol, runtut, mengalir, tdk kehabisan ide, bahkan dapat menulis serial.
Menulis vs. Mengarang
Menulis berdasar pada ilmu dan pengalaman. Ilmu dan pengalaman kita peroleh dari membaca, membaca buku, membaca kehidupan dan pengalaman pribadi. Sedangkan aktivitas mengarang lebih berdasar pada imajinasi dan khayalan seseorang. Sehingga hasil tulisan seorang pengarang biasa diiiiiebut karya fiksi.
Mulai menulis dari pengalaman pribadi
Setiap orang pastilah punya pengalaman belajar, pengalaman membaca dan pengalaman pribadi. Kita dapat mulai menulis dg menuliskan pengalaman pribadi kita yg paling berkesan. Sebagai contoh, sepanjang pagi hari ini hingga menjelang siang, tentulah banyak pengalaman atau kejadian yang menimbulkan kesan mendalam dan kitapun dapat mulai menuliskannya. Ambil atau mintalah selembar kertas kosong.
- Sekarang tuliskan apa pengalamn yg paling berkesan hari ini
- Kapan waktu tepatnya kejadian yg kita alami itu terjadi
- Dimana saat itu kita berada
- Dengan siapa saja yg terlibat, atau siapa saja yang membantu
- Coba ingat-ingat kembali kira_kira mengapa kejadian tersebut timbul
- Kemudian, apa pesan utk org lain, keluarga, masyarakat atas kejadian yg kita alami
Dengan begitu ALHAMDULILLAH, kita sudah bisa menulis. Semoga tulisan kita jadi ibadah sekaligus menjadi amal kebaikan. Bagaimana caranya? Teruslah menulis, dan menyampaikann hal-hal yang baik. Dengan semangat berlomba-lomba berbuat kebaikan, maka kita akan bersemangat untuk terus menulis dan menyampaikan hal-hal yang bermanfaat.
Penutup
(* Disampaikan pada Workshop penulisan dan pengelolaan website instansi bagi Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Kabupaten Kebumen, Tahun 2017 di Ruang Jatijajar Kompleks Pendopo Bupati Kebumen, 28-02-2017
Tuesday, January 24, 2017
Berbagi kebaikan dengan menjadi penulis ala Antoni Ludfi Arifin
Berbagi kebaikan dengan menjadi penulis! Inilah tema sentral dari sebuah buku "Be a Writer" karya seorang dosen, yang telah beberapa kali menerbitkan buku-buku seputar motivasi. Karena dengan menjadi penulis, seseorang sedang menebar pesan, menebar inspirasi, menebar energi hingga membangkitkan semangat dan kemaslahatan.Banyak kendala internal
Sayangnya untuk menjadi seorang penulis, seringkali banyak menghadapi kendala. Walaupun kendala atau hambatan tersebut lebih banyak muncul dari dalam diri kita sendiri. Mengapa bisa begitu? Tentu saja ya, karena sebenarnya setiap orang pada dasarnya cukup memiliki kemampuan untuk berbahasa. Dalam penguasaan bahasa secara lisan, seseorang relatif lebih lancar dalam berkata-kata. Bahkan ketika ada kesempatan ngobrol, seseorang dapat berjam-jam asyik membicarakan sesuatu, tanpa ada hambatan.
Namun, berbeda ketika seseorang harus menuliskan ide atau bahan pembicaraannya dalam tulisan. Nyatanya tidak semua orang dapat menulis, menyampaikan pesan dan idenya secara konstruktif dalam bentuk tertulis. Karena memang dalam bahasa tulis, dibutuhkan ketrampilan dan banyak berlatih. Dalam menulis, membutuhkan kemampuan memilih kata, kemampuan menyusun kalimat serta kemahiran memilih gaya bahasa.
Meneguhkan niat
Kunci keberhasilan dalam menulis adalah banyak berlatih. Namun, mendengar kalimat ini seringkali kita banyak yang menyerah kalah. Akibatnya, banyak orang bermimpi jadi seorang penulis, namun tidak banyak yang kuat memegang teguh impian menjadi penulis, dengan mewujudkannya melalui banyak berlatih. Sehingga di awal penulisan buku ini, Antoni Ludfi Arifin, beerulang-ulang menekankan pentingnya meneguhkan niat. Karena dengan niat yang kuat menulis, kita dapat membagi kebaikan dan membagi ilmu yang bermanfaat. Bukankah yang demikian ini, merupakan investasi dunia-akhirat?
Setelah memiliki kemauan dan niat yang kuat, maka untuk menjadi seorang penulis tinggalah mengatasi hal-hal teknis yang dapat diasah dan dipelajari sambil terus menulis. Hal-hal teknis tersebut menyangkut kemampuan menggali dan mengeksplorasi ide, memilih kata dan menggunakan kalimat yang "menyihir", mengembangkan wacana dan tema tulisan, hingga tulisan jadi dan mengirimkan naskah ke penerbit.
Membaca sebagai bekal menulis
Hal-hal teknis di atas yang dibahas dalam buku yang di katapengantari oleh Prof. DR. Erika Revida Saragih, M.Si tersebut dengan mudah dapat kita peroleh, ketika kita juga banyak membaca. Karena dengan membaca kita dapat mengetahui dan memperoleh pengalaman praktek penulis lain menyelesaikan hasil karyanya. Dengan membaca, dapat memperkaya kemampuan teknis yang sudah kita miliki.
Sunday, January 1, 2017
Tahun baru, Dinas baru
Tahun 2017 menghadirkan suasana baru, bagi pekerjaanku. Menyusul telah dilantiknya seluruh pejabat di lingkungan pemerintah kabupaten Kebumen oleh Bupati Ir. HM.Yahya Fuad, SE. Jumlah pejabat yang dilantik kali ini terhitung paling banyak, karena melibatkan lebih dari 800 orang pejabat. Pelantikan kali ini dilakukan dalam rangka perubahan nomenklatur organisasi perangkat daerah (OPD) yang baru.Dinas baru itu, bernama KOMINFO
Kali ini aku memperoleh penugasan baru di Dinas Kominfo (Diskominfo) Kabupaten Kebumen. Diskominfo merupakan OPD baru setelah dipisah dari Dinas Perhubungan. Diskominfo memiliki tugas pokok melaksanakan urusan dalam bidang pengelolaan data elektronik (PDE) dan bidang Komunikasi dan Informasi Publik.
Di bidang pengelolaan data elektronik, menjalankan urusan perencanaan dan pengembangan infrastruktur jaringan data elektronik, statistik dan integrasi sistem informasi serta urusan sandi dan telekomunikasi. Sementara itu, di bidang komunikasi dan informasi publik menjalankan urusan penyiaran termasuk pengelolaan Ratih-tv Kebumen dan Radio In-FM, Dessiminasi informasi dan analisis media, serta menjalankan urusan pengembangan media alternatif.
Banyak yang harus dibenahi
Bertugas di Dinas yang secara kelembagaan baru lahir, ternyata banyak hal yang menjadi tantangan dan harus dibenahi, termasuk struktur Kepala Dinas belum terisi, gedung yang sangat tidak memenuhi syarat menampung pegawai, serta terbatasnya tenaga administrasi.
Yang berbeda mutasi kali ini, selain menerima surat penempatan di tempat kerja yang baru, aku juga menerima surat perintah dari Bupati sebagai pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Kominfo. Tugas ini sangat mengejutkan aku juga sekaligus menjadi tantangan. Karena disamping tugas pokokku sebagai sekretaris, juga harus menjalankan fungsi-fungsi sebagai kepala dinas. Dengan berbekal kewenangan, tugas pokok dan fungsi Diskominfo yang diatur dalam Perda Kabupaten Kebumen Nomor 7 tahun 2016 dan Perbup Kebumen Nomor 77 tahun 2016, aku mulai melangkah melalui pendekatan manajemen berbasis kinerja. Sebagai lembaga pemerintah yang memberikan pelayanan publik kepada masyarakat, aku berfikir bahwa produk atau hasil kerja dinas memiliki nilai kemanfaatan yang tinggii dengan proses layanan yang efektif dan efisien.
Tantangan di tempat kerja baruku ini adalah gedung. Saat ini Dinas Kominfo yang terdiri dari bidang PDE dan bidang IKP serta unit sekretariat, menempati lokasi bidang kominfo lama di kompleks Dinas perhubungan. Jika dulu, bangunan itu sangatlah memadai untuk lokasi kerja satu bidang kominfo, namun dengan kondisi Dinas Kominfo saat ini, bangunan itu sangatlah minimalis yang padat penghuni.Belum lagi dari luas bangunan yang tersedia, hanya sekitar 70 % untuk kantor, karena 30% lainnya adalah ruang penyimpanan alat dan pengelolaan data center, server dari seluruh aplikasi sistem informasi dari banyak OPD di lingkungan Pemkab Kebumen. Aku jadi teringat syair lagu tempo dulu "gang kelinci". Dalam satu lahan bangunan yang sempit kami hidup, bekerja berinteraksi dengan berdesak-desakan. Persis kaya anak kelinci. Belum lagi lokasi bangunan gedung itu berhimpit antara halaman kantor dengan lahan parkir Dishub untuk kendaraan umum yang akan melakukan cek fisik kendaraan roda empat. Seringkali kami kesulitan masuk parkiran kantor atau keluar parkir, karena terhalang oleh berbagai jenis kendaraan yang berderet antri menunggu giliranuntuk uji dan cek fisik kendaraan.Meskipun di dalam rapat
Keterbatasan sumber daya staf, anggaran kegiatan perkantoran dan peralatan kerja
Selain keterbatasan infrastruktur gedung dan tempat kerja, di Diskominfo, juga mengalami kelangkaan staf, terutama staf administrasi. Tenaga staf yang ada di Diskominfo saat ini kebanyakan staf teknis baik di bidang PDE maupun bidang KIP. Staf teknis yang ada meliputi pranata komputer, jaringan, pemrogragaman, multimedia dll sebagai tim teknis di bidang-bidang yang ada. Meskipun, dari Setda Kebumen sebenarnya sudah mengantisipasinya dengan melakukan redistribusi staf, terutama ke organisasi perangkat daerah yang baru. Namun, pada kenyataannya di lapangan dapat berjalan berbeda. Sebagai contoh kecil, masih ada keinginan unsur kantor dinas yang lama untuk mempertahankan staf lamanya untuk tetap berada di lingkungannya. Sehingga tidak jarang, seorang staf sudah menerima penugasan ke suatu kantor dinas, namun oleh kantor dinas lamanya tidak mau "melepasnya" dengan tidak membuatkan surat penghadapan.
Dalam hal anggaran, sebenarnya perubahan adanya kantor dinas baru sudah diantisipasi penganggarannya. Namun karena anggaran disiapkan oleh pegawai yang dulu berada di bidang teknis, kurang mengetahui detail kebutuhan-kebutuhan sekretariat. Akibatnya beberapa kebutuhan untuk administrasi perkantoran sangatlah minim, bahkan untuk biaya suatu kegiatan yang nyaris tidak ada, atau hanya cukup untuk beberapa bulan, seperti kebutuhan anggaran listrik, air dan biaya telpon kantor.
Tugas ke depan: menuju pelayanan prima Diskominfo
Untuk
mewujudkannya, perlu adanya tata-nilai organisasi yang menjadi inspirasi dan semangat seluruh
orang-orang yang ada di dalamnya untuk mewujudkannya, diantaranya:
·
Kejelasan pelayanan. Mengupayakan paparan yang jelas melalui papan
informasi atau petunjuk yang mudah dipahami dan diperoleh pada setiap tempat/ lokasi pelayanan sesuai dengan
kepentingannya menyangkut prosedur /tata cara pelayanan, pendaftaran,
pengambilan sample atau hasil pemeriksaan, biaya / tarif pelayanan serta jadwal
/ waktu pelayanan.
·
Sesuai aturan perundangan. Setiap aturan tentang prosedur / tata cara /
petunjuk seperti yang tersebut diatas harus dilaksanakan secara tepat,
konsisten, konsekuen sesuai dengan peraturan perundang – undangan yang berlaku.
·
Pemenuhan hak dan kewajiban. Hak dan kewajiban pemberi atau
penerima pelayanan diatur secara jelas setiap persyaratan yang diwajibkan dalam
rangka menerima pelayanan harus mudah diperoleh dan berkaitan langsung dengan
kepentingan pelayanan serta tidak menambah beban masyarakat penerima pelayanan.
·
Terbuka untuk perbaikan. Tersedia loket informasi dan kotak saran bagi
penerima pelayanan yang mudah dilihat / dijumpai pada setiap tempat pelayanan.
Saran yang masuk harus selalu dipantau dan dievaluasi, bila perlu diberi
tanggapan atau tindak lanjut dalam rangka upaya perbaikan dan peningkatan mutu pelayanan.
·
Profesional. Penanganan proses pelayanan sedapat mungkin
dilakukan oleh petugas yang berwenang atau kompeten, mampu terampil dan
professional sesuai spesifikasi tugasnya. Setiap pelaksanaan pemberian
pelayanan dan hasilnya harus dapat menjamin perlindungan hukum dan dapat
dijadikan alat bukti yang sah.
·
Keramahan dan kedekatan. Selalu diupayakan untuk menciptakan pola
pelayanan yang penuh keramahan dan kedekatan, tepat sesuai dengan sifat dan jenis pelayanan
yang bersangkutan dengan mempertimbangkan efisiensi dan efektivitas dalam
pelaksanaannya.
·
Tanpa pungli. Jika ada biaya atau tarif pelayanan harus ditetapkan secara
wajar dengan memperhitungkan kemampuan masyarakat. Hendaknya diupayakan untuk
mengatur mekanisme pungutan biaya yang memudahkan pembayarannya dan tidak
menimbulkan pungutan liar dan biaya tinggi.
·
Netralitas dalam pelayanan. Pemberian pelayanan dilakukan secara tertib,
teratur dan adil, tidak membedakan status social masyarakat. Cakupan /
jangkauan pelayanan diupayakan seluas mungkin dengan distribusi yang merata.
·
Kenyamanan. Kebersihan dan sanitasi lingkungan tempat dan
fasilitas pelayanan harus selalu dijamin untuk mewujudkan
kenyamanan, melalui pelaksanaan pembersihan
secara rutin dan penyediaan fasilitas pembuangan sampah / kotoran secukupnya
sesuai dengan kepentingannya.
·
Partisipasi. Selalu diupayakan agar petugas memberikan
pelayanan dengan sikap ramah dan sopan serta berupaya meningkatkan kinerja
pelayanan secara optimal dengan kemampuan pelayanan yang tersedia dalam jumlah
dan jenis yang cukup, serta mendorong tumbuhnya partisipasi masyarakat.
Wednesday, December 21, 2016
Inilah buku pertama yang membuatku kuat untuk bisa menulis
Ketrampilan menulis bagi sebagian orang, dianggap tidak menarik. Begitu juga aku menganggapnya, sebelum aku membaca buku yang berjudul "Kreatif Mengarang" karya A. Widyamartaya, terbitan Kanisius-Yogyakarta. Tahun terbitnya, aku lupa tahun berapa. Buku itu awalnya aku menemukannya di Perpustakaan sekolah di SPG Negeri Pekalongan, sekitar tahun 1985.Mengenal dunia menulis
Saat itulah, aku baru mengetahui bahwa kemampuan menulis itu bukan bakat lahir, tetapi dapat dipelajari. Seseorang yang ingin dapat mahir mengarang atau menulis, haruslah rajin berlatih dengan bersungguh-sungguh. Karena tanpa keinginan kuat, seorang yang berkeinginan menjadi seorang pengarang atau penulis, pastilah tidak akan kesampaian. Sehingga kita bisa melihat banyak contoh, orang yang merasa gagal menulis, gagal mengarang, gagal menerbitkan buku dan seterusnya. Ini masalahnya karena seseorang tidak memiliki keingainan kuat untuk menulis.
Dengan keinginan kuat, seseorang akan giat dan banyak berlatih untuk menulis. Dengan banyak menulis, akan memacu daya imajinasi dan ide pokok tulisan., melatih ketrampilan memilih kata yang tepat, menyusun kalimat yang efektif, hingga menyusun paragraf yang dinamis dan saling berkesinambungan. Karena pada dasarnya sebuah tulisan itu tersusun oleh paragraf-paragraf. Sedangkan paragraf yang dinamis tersusun oleh minimal dua kalimat efektif. Dalam format bahasa Indonesia, kalimat akan efektif minimal mengandung unsur subyek dan predikat, atau subyek dan obyek, atau subyek dan kata keterangan.
Mengetahui beda menulis dan mengarang
Sepintas antara kegiatan menulis dan mengarang itu hampir sama, karena dua-duanya melalui proses kegiatan menulis dan menghasilkan sebuah karya tulis. Namun ternyata, keduanya memilikiciri-ciri yang berbeda terutama dalam proses menciptakan karya tulis. Dalam hal mengarang, seorang penulis mengandalkan kemampuan pribadinya, dalam hal mengambil ide dan tema karangan. Mengarang merupakan proses kreatif seseorang yang sangat tergantung dari imajinasinya. Sehingga hasil karya tulis pengarang sangatlah subyektif, tergantung kemampuan penulis menggali emosi-emosi pembacanya.
Berbeda dengan aktivitas menulis. Seorang penulis dalam menghasilkan karya tulis, sangat memerlukan konsep-konsep logis yang diperolehnya dari proses membaca dan atau proses 'melakukan penelitian' terhadap fenomena yang ada di lingkungan sekitar. Karena sebuah tulisan merupakan serangkaian penjelasan logis atas suatu kejadian menuju kebenaran. Sehingga seorang penulis yang berhasil, bukan dari panjangnya tulisan atau kemampuan menampilkan peran tokoh-tokoh utama dalam suatu peristiwa. Sebuah karya tulis yang berhasil ditentukan dari kedalaman analisisnya!
Mulailah dari ide pokok yang ditulis dalam kalimat lengkap
Awal mula sebuah tulisan atau cerita, adalah adanya ide pokok yang ditulis dalam kalimat lengkap. Ide pokok inilah yang mengikaat keseluruhan paragraf menjadi satu kesatuan tulisan yang koheren.
Bagaimana memulainya? Ide pokok merupakan sikap atau pandangan seorang penulis terhadap tema atau suatu pokok permasalahan. Dari sinilah kemudian penulis menguraikannya ke dalam sub-sub tema dalam paragraf-paragraf.
Di dalam pragaraf, penjelasan ide pokok itu disusun ke dalam kalimat utama dan kalimat kalimat penjelas dan menguraikanya menjadi informasi yang lebih detil.
Jangan lupa membuat out-line, untuk memet akan pokok pikiran penjelas
Agar paragraf-paragraf itu tidak lepas dari ide pokoknya, ada baiknya penulis menyarankan membuat out-line, atau kerangka karangan. Outline bisa juga berbentuk seperti daftar isi dalam sebuah buku.
Selain untuk menjaga kesinambungan dengan ide pokok, out-line yang kita buat juga bermanfaat untuk memetakan ide pokok tersebut ke dalam pokok-pokok pikiran secara lengkap, menyeluruh, sehingga dapat menjelaskan seluruh aspeknya.
Teknik mengembangkan paragraf
Di bagian akhir buku ini, diberikan beberapa teknik mengembangkan paragraf. Beberapa teknikyang masih aku ingat dan sering aku gunakan dalam menulis adalah teknik kronologis urutan waktu, urutan proses, teknik kontras dulu-sekarang, sebelum-sesudah.
Dalam menulis, aku juga sering menggunakan teknik D-A-M-K. Yaitu dengan mulai menulis "Duduk perkara" yang menjadi masalah utama. Kemudian dengan meng-Analisa-nya, dengan teknik-teknik di atas atau dengan teknik yang tidak kalah populernya adalah dengan menjawab rumus 5W+1H. Bagian selanjutnya, kita dapat menyajikan "Misal" atau contoh atau data penjelas. Dan dibagian akhir paragraf adalah memberikan "Kesimpulan". Dengan demikian, masing-masing paragraf dapat tampil dinamis, berdiri menjadi satu kesatuan ide pokok tulisan.
Monday, December 19, 2016
Teknik mengembangkan tulisan dengan menambahkan bumbu rahasia ala Anang YB
Menulis
ternyata butuh sentuhan khusus atau resep rahasia, agar tulisan menjadi lebih
menarik, mengalir dan tidak kaku. Itulah tujuan Anang YB menulis “Guru writing berdiri,
murid writing berlari. Buku yang tidak terlalu tebal itu, memuat tips-tips mengembangkan tulisan. Hingga akhirnya tulisan
kita menjadi lebih ber-energi!
Kata seru
Resep
pertama yang disarankan adalah dengan
menyisipkan kata seru. Menambahkan kata seru dalam tulisan akan membuat kalimat
tidak monoton. Kata seru dapat memberi tone
tertentu pada kalimat, sehingga tulisan
menjadi lebih hidup. Karena dalam paragrafnya menjadi ada dialog, membuat
tulisan enak dibaca dan tidak menjemukan. Pembaca sesekali “dikagetkan” dengan
kata seru, hingga membuat pembaca senantiasa terjaga menikmati tulisan kita. Anang
YB mengingatkan perlunya menyisipkan kata seru, meskipun kata seru tersebut
bukan dalam kalimat langsung.
Dialek
Selain kata
seru, bumbu rahasia mengembangkan cerita atau tulisan adalah dengan memberinya
dialek. Dialek adalah ungkapan-ungkapan
khusus yang bersifat lokal atau kedaerahan. Unsur dialek di dalam cerita atau
kalimat akan membuat cerita lebih berkembang. Mengapa begitu? Dengan dialek dan
istilah lokal itu, dapat bikin pembaca geregetan, karena secara tiba-tiba kita
diajak “pergi jauh” ke suatu tempat atau komunitas tertentu. Selain itu, dengan
menambahkan dialek, dapat menghadirkan citarasa “lokal” tertentu.
Kata pengganti
Menggunakan
kata pengganti merupakan sentuhan
rahasia Anang untuk menghindari perasaan pembaca cepat bosan. Dengan
menggunakan kata pengganti, seorang penulis dapat menghadirkan tokohnya, atau
membahas subyek dengan berbagai “penampilan” dan variatif.
Bergaya sinetron
Ini dia
resep rahasia Anang YB yang heboh, menurutku. Yaitu teknik membuat cerita atau
tulisan kita benar-benar seperti hidup! Yaitu dengan membuatnya seperti
sinetron. Seperti dalam sinetron, obyek atau subyek dalam cerita atau tulisan digambarkan
tampak benar-benar nyata. Mata pembaca dimanjakan, kenyataan disajikan di depan
mata secara detil. Kelezatan dan citarasa dilukiskan secara sempurna, hingga
pembaca menelan ludah! Teknik ini seperti diingatkan Anang, terutama untuk
mendiskripsikan secara detil sebuah kata sifat.
Bergaya Curhat
Menurutku
tips rahasia bergaya curhat ini adalah tips yang paling masuk aka. Mengapa
demikian? Rata-rata orang sangatlah pandai untuk bercakap-cakap, dibanding
ketika seseorang diminta untuk menulis. Dengan gaya curhat, memungkinkan
seorang penulis menyampaikan pesan dalam tulisannya secara santai, tidak terburu-buru,
namun mendalam. Kita dapat menggambarkan obyek dan suasana hati secara tulus
dan jujur.
Buku seru!
Buku tulisan Anang YB ini telah menjadi baku bacaan favoritku. Meski sudah membacanya, aku masih suka membukanya berulang
kali. Meskipun buku ini tergolong bacaan
yang sudah tidak baru lagi, namun bagiku sangat inspiratif. Dapat menjadi sumber “vitamin” dan menggairahkan aktivitas menulis.
Wednesday, November 30, 2016
Meningkatkan minat guru untuk melakukan penelitian *)
Sejak
diberlakukannya UU Guru dan Dosen tahun 2005 dan sertifikasi guru dalam jabatan
tahun 2007, ternyata sangat berdampak besar dalam dunia pendidikan kita. Banyak
yang mengikuti sertifikasi guru agar dapat memperoleh sertifikat, dan menjadi
guru profesional. Akibatnya, makin meningkatkan minat masyarakat untuk menjadi guru. Profesi guru memperoleh posisi sosial yang
istimewa, dengan nilai ekonomi yang tinggi. Kita maklumi, karena memang
perhatian pemerintah dalam dunia pendidikan dan guru selama ini dirasakan belum
optimal.
Impian jadi guru profesional
Namun
realitanya, harapan adanya guru yang profesional masih jauh. Aktivitas sebagian guru belum berubah, terjebak
rutinitas, pagi datang hingga siang pulang. Guru mengajar seperti biasa dengan
metode ceramah. Andalan utama guru adalah buku teks. Akibatnya proses
pengajaran tidak merangsang anak untuk membaca lebih dalam dari informasi guru.
Pemandangan semacam ini mestinya dapat diatasi,
jika guru lebih sensitif
dengan kondisi anak. Serta adanya kemauan dan kemampuan guru untuk mencari tahu kemampuan dan kemauan
anak.
Melalui
penelitian tindakan kelas misalnya, memungkinkan seorang guru mengetahui
efektivitas proses pembelajaran, mencari
cara-cara untuk meningkatkan, serta memilih
metode mengajar yang efektif. Namun,
riset di kalangan guru masih belum menjadi tradisi keilmuan. Di kalangan
guru, masih banyak terdengar bahwa
penelitian tindakan kelas itu dibuat sekedar untuk memenuhi persyaratan
sertifikasi atau kenaikan pangkat
Berbagai faktor penyebab utama
Dari
pemberitaan koran lokal, suatu Kabupaten di Jawa Tengah menyatakan akan menarik sertifikasi guru
untuk sementara, jika selama lima tahun yang bersangkutan tidak membuat karya
ilmiah. Ini merupakan fenomena masih rendahnya minat guru untuk meneliti dan
menyusun karya ilmiah. Rendahnya minat
guru untuk melakukan penelitian, paling tidak ada dua faktor yang
melatarbelakanginya.
Pertama, adalah faktor
mentalitas. Ada sebagian orang berfikiran dapat mencapai keberhasilan itu,
tanpa usaha keras. Ada sebagian guru, membuat karya penelitian itu hanya karena
memenuhi persyaratan sertifikasi atau
kenaikan pangkat. Praktis, karya ilmiah itu dibuat sekedarnya dan tidak
maksimal. Belum lagi, dari sisi administrasi, masih permisif kearah kualitas karya. Kedua,
selain mentalitas, faktor lainnya adalah kemampuan. Ketika seorang guru harus
menyusun laporan penelitian, berarti dia harus memiliki kemampuan menulis dan
kemampuan meneliti. Dalam hal kemampuan menulis, ternyata tidak seluruhnya guru
memiliki kemampuan untuk itu. Sebab musababnya karena sebagian guru relatif
jarang membaca.
Awalnya adalah kebiasaan membaca
Jika
seseorang tidak pernah membaca, bagaimana mungkin dia dapat menulis? Mengapa begitu? Karena proses menulis pada
dasarnya merupakan kegiatan menghubungkan antara konsep yang satu dengan yang
lain. Beberapa konsep itu, bisa jadi berasal dari satu, dua atau bahkan banyak
bacaan. Rendahnya minat baca biasanya
berpengaruh terhadap minat menulis. Dengan memiliki kemampuan menulis, seorang guru
akan mudah menyampaikan idenya dengan kalimat yang efektif. Dia juga, akan
dapat memilih kata dan gaya bahasa yang tepat,
menciptakan paragraf yang dinamis dengan hubungan yang koherent.
Meneliti untuk mengatasi masalah
Belum
lagi, persoalan kemampuan meneliti. Kemampuan meneliti, berarti berhubungan
dengan menerapkan metode penelitian.
Karena penelitian sebagai metode ilmiah, tentulah harus mengikuti tahapan dan
mekanisme baku yang harus diikuti oleh seorang peneliti. Agar hasilnya dapat
dipertanggungjawabkan secara ilmu. Penelitian
atau re-search, secara sederhana
dapat dijelaskan sebagai cara ilmiah
untuk mencari jawab atas persoalan-persoalan yanag sifatnya kompleks.
Melalui
pendekatan ilmiah itu, problematika
penelitian kemudian dirumuskan ke dalam kerangka yang lebih terukur untuk
menemukan fokus. Fokus inilah yaang kemudian disebut sebagai variabel.
Berdasarkan tinjauan teori dari ilmu pengetahuan yang telah ada, seorang
peneliti dapat menduga sementara bagaimana
arah interaksi antar variabel
penelitianya. Inilah yang dinamakan hipotesis.
Agar hipotesis yang sifatnya teoritis itu dapat digunakan untuk mengukur
realitas yang terjadi dalam kegiatan belajar-mengajar misalnya, maka hipotesis
teori itu harus dioperasionalkan. Sehingga nantinya, seorang guru yang bertindak
sebagai peneliti akan tahu, bagaimana
cara mengukurnya di kelas, dengan teknik apa mengumpulkan datanya, meliputi
berapa siswa yang perlu diikutsertakan serta bagaimana mengolah datanya setelah
dikumpulkan.
Inilah
yang dianggap sebagian guru kita sebagai sesuatu yang ribet. Sehingga wajarlah
jika kemudian, ada sebagian guru, memilih cara-cara “belakang” yang pikirnya
lebih mudah. Jika keadaan dan mentalitas
itu tidak segera diubah, niscaya dunia pendidikan kita akan mengalami masa yang
suram.
Mulai dari perpustakaan
Sudah saatnya menegakkan kualitas mekanisme sertifikasi guru, dengan menutup rapat-rapat “pintu belakang” di tiap tingkatan administrasi. Terhadap guru sudah bersertifikasi, perlunya sistem penghargaan yang lebih memadai, sehingga kesejahteraannya meningkat dan memiliki dorongan untuk terus exist menjadi guru yang profesional. Sementara itu, untuk menutup kesenjangan kemampuan menulis maupun kemampuan meneliti, dapat dimulai dari ruang perpustakaan. Saatnya koleksi perpustakaan sekolah tidak lagi berisi latihan soal dan bacaan untuk siswa saja.
Sudah saatnya menegakkan kualitas mekanisme sertifikasi guru, dengan menutup rapat-rapat “pintu belakang” di tiap tingkatan administrasi. Terhadap guru sudah bersertifikasi, perlunya sistem penghargaan yang lebih memadai, sehingga kesejahteraannya meningkat dan memiliki dorongan untuk terus exist menjadi guru yang profesional. Sementara itu, untuk menutup kesenjangan kemampuan menulis maupun kemampuan meneliti, dapat dimulai dari ruang perpustakaan. Saatnya koleksi perpustakaan sekolah tidak lagi berisi latihan soal dan bacaan untuk siswa saja.
Guru perlu membaca. Guru perlu bahan bacaan yang
memperkaya pola pikir. Perlu adanya
forum, workshop atau sanggar yang dapat meningkatkan kemampuan praktis guru,
serta adanya kegiatan kompetitif yang dapat mendorong kegiatan meneliti. Jika hal-hal tersebut
dapat dicapai, kita bisa yakin bahwa pendidikan, mulai dari proses belajar mengajar akan meningkat dengan memanfaatkan hasil penelitian tindakan kelas
yang valid dan reliabel.
*) Catatan:
Arsip
naskah un-publish dalam rangka
memperingati Hari Guru
Peran KORPRI dalam meneguhkan profesionalisme dan netralitas ASN dalam pelayanan publik *)
Melalui berbagai regulasinya, pemerintah
sebenarnya telah demikian jelas mendudukkan posisi PNS sebagai profesi yang
netral dengan tujuan untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat secara
profesional, jujur, adil, dan merata. Hal ini sebagaimana diatur dalam
undang-undang pokok-pokok kepegawaian, yang ditetapkan sejak tahun 1999. Namun,
upaya ini belumlah nampak riil pada perilaku kerja PNS dalam pelayanan publik.
Potret
kinerja pelayanan publik
Laaporan Ombudsman Republik Indonesia
akhir-akhir ini, menengarai adanya kenaikan drastis keluhan masyarakat terkait
penyimpangan penyelenggaraan pelayanan publik. Pada tahun 2013, keluhan atas
kasus penyimpangan itu meningkat hampir dua kali lipat! Dari 2.209 laporan pada
tahun 2012 meningkat menjadi 4.359
laporan masyarakat pada tahun 2013. Jumlah itu meningkat 97,3 %, dengan lokus
terbanyak terjadi pada pelayanan Pemerintah Daerah, pelayanan di kepolisian, instansi
vertikal dan Badan Pertanahan (Pikiran
Rakyat, 2014). Selanjutnya dalam laporan itu, juga menyebutkan bahwa
penyimpangan pelayanan publik tersebut terjadi dalam bentuk konflik
kepentingan, permintaan uang, barang, dan jasa serta terjadinya mal-administrasi
pelayanan. Kerja
aparat dianggap lamban, adanya keberpihakan dan dinilai tidak kompeten.
Profesionalisme
dan netralitas
Jika kita perhatikan, potret kinerja
pelayanan publik di atas, mencerminkan bagaimana kondisi kinerja sesungguhnya
para aparat sipil negara kita sebagai penyelenggara pelayanan publik. Dari
bentuk penyimpangan pelayanan di atas, kita dapat mengerti, bahwa permasalahan
utama Aparatur Sipil Negara (ASN) adalah masalah profesionalisme dan
netralitas. Kedua permasalahan tersebut, baik profesionalisme maupun netralitas
dapat saling mempengaruhi. Keduanya melekat pada aktivitas seseorang ASN.
Dalam hal profesionalisme, seseorang dikatakan profesional jika ia melakukan
pekerjaan dengan keahlian khusus dan menghasilkan produk layanan yang berkualitas, bertanggung jawab,
dan sistematis. Tingkat profesionalisme seseorang sebenarnya dapat diamati dari
apakah seseorang itu menyukai atau menikmati tugas yang ia kerjakan. Dari
tingkat rasa suka dan menikmati pekerjaan akan terpantul antusiasme dan kepeduliannya
dalam melayani klien atau masyarakat. Kedua hal itulah yang langsung dirasakan
dan dinilai oleh masyarakat, bahwa ia telah dilayani secara profesional atau
tidak. Telah terjadi mal-administrasi atau tidak. Oleh karena itu, jika kita
ingin membangun profesionalisme, kita bisa meminjam konsep David H.Maister
(1997) seorang penulis “True Profesionalism : The courage to care about your
people, your client, and your career”, bahwa profesionalisme itu sesungguhnya merupakan
perpaduan antara motivasi, inisiatif, komitmen, keterlibatan langsung dengan
pekerjaan dan antusiasme.
Netralitas
melahirkan keadilan dalam pelayanan
Permasalahan netralitas ASN sebenarnya tidak
hanya dalam konteks Pilkada atau proses suksesi kepemimpinan saja. Dalam
konteks yang lebih luas, netralitas ASN sering diuji ketika menyangkut SARA.
Rendahnya netralitas ASN dalam pelayanan publik sering kali berakibat munculnya
konflik kepentingan, keberfihakan dan pelayanan yang tidak merata, penyimpangan
prosedur dan tidak transparan.
Kesemuanya itu akan menyebabkan munculnya ketidakadilan dalam pelayanan.
Menunggu
realisasi reformasi birokrasi
Melihat besar dan luasnya persoalan dalam
sistem pelayanan publik, sebenarnya Pemerintahpun tidak tinggal diam. Upaya
yang dilakukan pemerintah sangatlah mendasar dalam bentuk Grand Disain
Reformasi Birokrasi, untuk mewujudkan tata kelola kepemerintahan yang baik (good governance). Tujuanya adalah untuk
menciptakan birokrasi pemerintah yang profesional dengan karakteristik,
berintegrasi, berkinerja tinggi, bebas dan bersih KKN, mampu melayani publik,
netral, sejahtera, berdedikasi, dan memegang teguh nilai-nilai dasar dan kode
etik aparatur negara.
Melahirkan
Undang-undang ASN
Dari Reformasi Birokrasi melahirkan UU Nomor
5 tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara, yang menempatkan aparatur sipil
negara sebagai bagian dari reformasi birokrasi, menetapkan aparatur sipil
negara sebagai profesi dan menerapkan prinsip merit dalam pelaksanaan manajemen
aparatur sipil negara. Dengan kelahiran undang-undang
ASN memberi landasan manajemen pengelolaan dan pengembangan aparatur di
kemudian hari.
Berharap
dari implementasi merit system
Untuk
merealisasikanya, Pemerintah menerbitkan Permen PAN-RB No. 13 tahun 2014. Sesuai
Peraturan menteri ini, manajemen ASN dilakukan
sesuai dengan kualifikasi, kompetensi, dan kinerja secara adil dan wajar dengan
tanpa membedakan latar belakang politik, ras, warna kulit, agama, asal usul,
jenis kelamin, status pernikahan, umur, atau kondisi kecacatan. Sistem merit
ini dengan sembilan prinsipnya, akan mampu membangun terciptanya aparatur yang
memiliki profesionalisme dan netralitas tinggi dalam pelayanan publik.
Peran KORPRI ke depan
Sebagai
korps yang beranggotakan para profesi pegawai ASN, KORPRI ke depan memiliki
peran strategis, dalam menumbuhkembangkan profesionalisme dan menjaga netralitas
ASN dalam pelayanan publik, baik melalui upaya internal maupun eksternal. Secara
internal KORPRI paling tidak berperan membangun independensi, profesionalisme
dan netralitas. Sedangkan eksternal, KORPRI dituntut perannya dalam mendorong
Pemerintah mengimplementasikan prinsip-prinsip manajemen ASN dengan sistem merit, yang memungkinkan terbinanya
kinerja, profesionalisme dan netralitas ASN dalam pelayanan publik.
Dengan
demikian, harapan besar akan meningkatnya kualitas pelayanan publik, sebenarnya
masyarakat sangat menggantungkan harapan tersebut kepada KORPRI dalam memainkan
peranya dalam menumbuhkan profesionalisme dan netralitas ASN.
(* Catatan:
Arsip naskah lomba karya tulis
dalam rangka HUT KORPRI Kabupaten Kebumen
tgl 29 Nopember 2016, sebagai Juara I.
tgl 29 Nopember 2016, sebagai Juara I.
Subscribe to:
Posts (Atom)



