Tuesday, June 2, 2026

BAGIAN II Saat Hidup Menguji

 "Orang-Orang Biasa yang Menolak Menyerah"

 Malam itu saya sebenarnya tidak sedang mencari inspirasi. Saya hanya sedang lapar. Jam hampir menunjukkan pukul sembilan malam ketika saya berhenti di sebuah gerobak nasi goreng di pojok perempatan barat Alun-Alun Pancasila Kebumen. Jalanan masih ramai. Anak-anak berlarian mengejar balon yang menyala. Beberapa keluarga duduk di trotoar menikmati malam. Pengemudi ojek daring datang silih berganti mengambil pesanan. Di kejauhan terdengar suara pengamen bercampur deru sepeda motor yang tidak pernah benar-benar berhenti.

Di tengah keramaian itu, perhatian saya tertuju pada satu suara yang berulang-ulang terdengar.

"Cesss..."

Suara nasi yang bertemu wajan panas. Api kompor menjilat bagian bawah penggorengan. Asap tipis naik membawa aroma bawang putih, kecap, dan telur yang baru dipecahkan. Tangan lelaki di depan wajan itu bergerak begitu cepat. Sesekali ia mengangkat penggorengan tinggi-tinggi, lalu mengayunkannya dengan gerakan yang terlihat begitu ringan, seolah wajan itu tidak memiliki berat sama sekali.

"Pesen tiga  ya, Pak."

"Pedes level tiga."

Pesanan datang tanpa jeda. Lelaki itu hanya mengangguk sambil terus memasak.

Tidak panik.

Tidak terburu-buru.

Tangannya seperti sudah hafal apa yang harus dilakukan, bahkan sebelum pembeli selesai berbicara.

Namanya Rahmat. Semua orang memanggilnya Mas Rahmat. Saya duduk di bangku plastik yang mulai memudar warnanya. Di depan saya, satu demi satu piring nasi goreng keluar dari wajan. Pembeli datang dan pergi. Ada mahasiswa. Ada sopir. Ada pegawai yang baru pulang kerja. Ada keluarga yang sengaja menikmati malam di alun-alun.

Saya memperhatikan satu hal. Setiap kali menyerahkan pesanan, Mas Rahmat selalu menyelipkan senyum. Bukan senyum yang dibuat-buat. Tetapi senyum seseorang yang sudah berdamai dengan pekerjaannya. Setelah antrean mulai sedikit lengang, saya memberanikan diri mengobrol.

 

"Sudah berapa lama jualan di sini, Mas?"

"Enam belas tahun."

Jawabannya singkat.

Saya mengangguk.

"Lama juga."

Beliau tersenyum.

"Iya, Mas. Tempatnya ya di sini terus."

Percakapan sederhana itu ternyata menjadi pintu menuju sebuah kisah yang terus saya ingat sampai hari ini. Saya baru tahu bahwa sebelum berdiri di depan wajan ini, Mas Rahmat pernah menghabiskan hampir sepuluh tahun bekerja di Johor Bahru, Malaysia.

Ia berangkat sebagai perantau. Seperti banyak orang Indonesia lainnya, ia membawa mimpi yang sederhana: bekerja keras, mengumpulkan uang, lalu pulang dengan kehidupan yang lebih baik. Di negeri orang, ia belajar memasak. Belajar mengatur api. Belajar mengolah bumbu. Belajar bertahan hidup.

Tetapi hidup tidak selalu mengikuti rencana yang kita buat. Suatu hari, semuanya berubah. Ia harus pulang. Bukan karena kontraknya selesai. Bukan pula karena mimpinya sudah tercapai. Ia dipulangkan. Dengan tangan yang nyaris kosong. Saya membayangkan bagaimana rasanya.

Bertahun-tahun bekerja jauh dari keluarga. Lalu kembali tanpa membawa apa yang selama ini diperjuangkan. Saya tidak bertanya bagaimana perasaannya waktu itu. Saya tidak perlu. Matanya sudah menceritakan semuanya.

Tetapi yang membuat saya terdiam bukanlah cerita tentang kegagalannya. Melainkan cerita setelah kegagalan itu. Ia tidak berhenti. Ia membuka gerobak nasi goreng. Pelan-pelan. Sedikit demi sedikit. Hari berganti minggu. Minggu berganti bulan.Bulan berganti tahun. Hingga tanpa terasa, enam belas tahun berlalu.

Saya bertanya lagi,

"Apa yang membuat Mas tRahmat etap bertahan?"

Ia tidak langsung menjawab. Tangannya masih sibuk menggoreng satu porsi nasi. Beberapa detik kemudian ia berkata pelan,

"Anak saya mau kuliah."

Hanya itu. Empat kata. Tetapi entah mengapa, saya merasa empat kata itu lebih berat daripada semua kalimat motivasi yang pernah saya baca. Belakangan saya mengetahui bahwa anak sulungnya baru lulus SMK dan bercita-cita menjadi sarjana. Anak keduanya masih duduk di bangku sekolah dasar.

Artinya, perjuangan itu belum selesai. Justru baru memasuki bab berikutnya.  Lalu Mas Rahmat bercerita tentang rutinitas yang membuat saya menggeleng pelan. Setiap malam ia berjualan di alun-alun sampai sekitar pukul sebelas. Gerobaknya didorong pulang.

Banyak orang mungkin mengira pekerjaannya selesai. Ternyata tidak. Beberapa jam kemudian, sekitar pukul tiga dini hari, ia sudah kembali menyalakan kompor. Kali ini bukan di alun-alun. Melainkan di dekat Pasar Pagi. Usaha barunya. Nasi Goreng Bar-Bar. Menu lebih sederhana.Harga lebih murah. Sasarannya para buruh pasar yang membutuhkan sarapan sebelum bekerja.

Saya mencoba menghitung dalam hati.  Kalau selesai jam sebelas malam, pulang, beres-beres, lalu bangun lagi sekitar pukul dua atau tiga pagi... Berapa jam sebenarnya ia tidur? Mungkin hanya tiga jam. Mungkin kurang. Saya bertanya,

"Capek, Mas?"

Ia tertawa kecil.

"Hilang kalau ingat anak."

Jawaban itu kembali membuat saya diam. Saya menyadari sesuatu. Selama ini saya terlalu sering mendengar orang berbicara tentang sukses. Tentang cara menghasilkan lebih banyak uang. Tentang bagaimana mencapai impian. Tentang menjadi versi terbaik dari diri sendiri. Tetapi malam itu saya bertemu seseorang yang tidak sedang mengejar kesuksesan. Ia sedang menjaga harapan.

Dan ternyata, menjaga harapan jauh lebih melelahkan daripada sekadar mengejar mimpi. Perjalanan pulang malam itu terasa berbeda. Lampu-lampu jalan masih menyala.Keramaian alun-alun perlahan berkurang. Tetapi pikiran saya justru semakin ramai.

 Mengapa kita lebih mengenal orang-orang yang sukses setelah mencapai puncak, tetapi jarang mengenal mereka yang sedang mendaki dengan tertatih-tatih?

 Mengapa kita begitu mudah mengagumi hasil, tetapi sering lupa menghormati proses?

Mengapa ukuran keberhasilan selalu diukur dari apa yang dimiliki seseorang, bukan dari apa yang ia perjuangkan setiap hari?

Pertanyaan-pertanyaan itu terus mengikuti saya.  Dan ternyata, Mas Rahmat bukan satu-satunya. Setelah malam itu, saya mulai sengaja berhenti lebih sering.

Saya mengobrol dengan pedagang.

Dengan penjaga kantin.

Dengan buruh.

Dengan fotografer keliling.

Dengan ibu-ibu yang memasak sejak dini hari.

Dengan ayah-ayah yang rela tidur hanya beberapa jam demi menyekolahkan anak-anaknya.

Semakin banyak saya mendengar, semakin saya sadar bahwa negeri ini dipenuhi oleh orang-orang yang sedang bertarung dalam diam.

Mereka tidak meminta dikasihani.

Mereka juga tidak sedang mencari tepuk tangan.

Mereka hanya ingin keluarganya hidup lebih baik. Sesederhana itu. Lalu saya mulai memahami sesuatu. Hidup memang akan menguji setiap orang. Dengan cara yang berbeda.

Ada yang diuji oleh kemiskinan.

Ada yang diuji oleh kehilangan.

Ada yang diuji oleh kegagalan.

Ada yang diuji oleh sakit.

Ada yang diuji oleh sepinya perjuangan yang tidak pernah dilihat siapa pun.

Tidak ada seorang pun yang benar-benar bebas dari ujian. Yang membedakan bukanlah seberapa berat ujiannya. Melainkan bagaimana ia memilih menjawabnya. Sebagian orang berhenti. Sebagian lagi berjalan lebih pelan.Dan sebagian yang lain—seperti Mas Rahmat—tetap menyalakan kompor setiap hari, meski tubuhnya lelah, karena ada mimpi yang tidak boleh padam.

Buku ini lahir dari perjumpaan-perjumpaan seperti itulah. Saya tidak menulis kisah para miliarder. Saya juga tidak sedang mengumpulkan cerita para tokoh besar. Saya hanya ingin mengabadikan orang-orang yang mungkin tidak pernah menjadi berita, tetapi diam-diam menjaga agar dunia tetap berjalan. Orang-orang yang mengajari saya bahwa keberanian bukan berarti tidak pernah jatuh. Keberanian adalah memilih bangun lagi setelah jatuh.

Bahwa harapan bukan sekadar kata-kata indah. Harapan adalah keputusan untuk kembali bekerja ketika hasilnya belum terlihat. Harapan adalah menyalakan kompor lagi. Mendorong gerobak lagi. Membuka toko lagi. Mengajar lagi. Menanam lagi. Mencintai lagi. Percaya lagi.

Di halaman-halaman berikutnya, Anda akan bertemu banyak orang seperti Mas Rahmat. Mereka mungkin tidak memiliki gelar yang panjang. Tidak memiliki rumah yang megah. Tidak dikenal banyak orang. Namun mereka memiliki sesuatu yang semakin langka di zaman ini: keteguhan hati untuk tetap melangkah ketika hidup berkali-kali menguji.

Saya tidak meminta Anda mengasihani mereka. Saya mengajak Anda menghormati mereka. Saya juga tidak menjanjikan bahwa setelah membaca buku ini hidup Anda akan menjadi lebih mudah. Tetapi saya berharap, ketika suatu hari hidup menguji Anda—dan percayalah, hari itu akan datang—Anda akan mengingat wajah-wajah sederhana di dalam buku ini. Anda akan mengingat seorang ayah yang menggoreng nasi hampir sepanjang malam demi biaya kuliah anaknya. Anda akan mengingat seorang ibu yang menjaga dapur agar mimpi keluarganya tetap menyala. Anda akan mengingat bahwa kekuatan manusia sering kali lahir bukan ketika semuanya baik-baik saja, melainkan ketika tidak ada pilihan lain selain terus melangkah.

 

Dan mungkin, pada saat itulah Anda akan berkata kepada diri sendiri,"Kalau mereka bisa bertahan, aku juga bisa melangkah satu langkah lagi."

No comments:

Post a Comment