Thursday, June 4, 2026

BAGIAN V MENEMUKAN MAKNA

"Orang-Orang Biasa yang Menolak Menyerah"

 

Saya masih ingat sore itu. Matahari mulai condong ke barat ketika saya menyusuri Jalan Kota Lama Banyumas. Cahaya keemasan menempel di dinding-dinding bangunan tua. Bayangan pohon beringin memanjang di atas batu jalan yang telah dipijak ribuan orang selama puluhan tahun. Seorang tukang becak duduk santai sambil menyeruput kopi. Anak-anak bersepeda melintasi jalan dengan tawa yang terdengar lebih jujur daripada suara klakson kendaraan.

Di tengah suasana yang terasa tenang itu, saya melihat seorang lelaki berdiri sendirian.

Ia tidak sedang memotret.

Kameranya menggantung di dada.

Lensa menghadap ke bawah.

Ia hanya berdiri.

Diam.

Matanya menyapu setiap sudut jalan, seolah sedang menunggu sesuatu yang belum datang.

Saya menghampirinya.

"Lagi nunggu siapa?"

Ia tersenyum kecil.

"Bukan nunggu orang."

"Lalu?"

"Nunggu cerita."

Jawaban itu membuat saya berhenti sejenak.

Saya terbiasa mendengar fotografer berbicara tentang cahaya, lensa, komposisi, atau kamera terbaru.

Tetapi sore itu saya bertemu seseorang yang justru sedang menunggu cerita.

Namanya Kelana.

Di dadanya tergantung sebuah kamera DSLR berwarna kuning yang membuatnya mudah dikenali.

Belakangan saya tahu, warna itu memang sengaja dipilih.

 

"Biar gampang dicari," katanya sambil tertawa.

Saya ikut tertawa.

Tetapi semakin lama kami berbincang, semakin saya sadar bahwa yang mudah ditemukan bukan hanya kameranya. Melainkan ketulusannya. Kami berjalan perlahan menyusuri Kota Lama Banyumas.Setiap beberapa langkah, Kelana berhenti. Bukan karena lelah. Melainkan karena melihat sesuatu yang menurutnya menarik. Seorang nenek yang sedang menyapu halaman. Sepasang suami istri yang berjalan sambil bergandengan tangan. Seorang anak kecil yang mencoba meniup gelembung sabun. Seekor kucing yang tidur di ambang pintu rumah tua. Semuanya terlihat biasa. Saya bahkan mungkin akan melewatinya tanpa benar-benar memperhatikan.

Tetapi bagi Kelana, semuanya layak dilihat.

"Kenapa nggak dipotret?" tanya saya.

Ia menggeleng.

"Belum waktunya."

"Lho, bukannya momen bisa hilang?"

"Iya."

"Lalu?"

"Kalau orangnya belum nyaman, fotonya juga belum jujur."

Kalimat itu terdengar sederhana. Tetapi entah mengapa saya merasa ia sedang berbicara tentang sesuatu yang jauh lebih besar daripada fotografi. Ia sedang berbicara tentang kehidupan. Tentang bagaimana kita sering terlalu terburu-buru mengambil kesimpulan sebelum benar-benar mengenal seseorang.

Kami duduk di bangku taman.

Angin sore bertiup pelan. Daun-daun berguguran. Saya mulai bertanya tentang hidupnya. Ia lahir di Banjarnegara. Masa kecilnya dihabiskan di antara kabut Dieng, Sungai Serayu, dan warung-warung sederhana yang setiap pagi dipenuhi aroma teh panas dan singkong rebus.

"Dulu belum punya kamera."

"Lalu belajar motret dari mana?"

"Dari melihat."

Jawaban itu membuat saya tersenyum.

 

Ia bercerita bahwa sejak kecil ia senang memperhatikan hal-hal kecil. Embun yang menempel di daun teh. Asap yang keluar dari dapur. Keriput tangan seorang nenek penjual getuk. Langit setelah hujan.

"Banjarnegara ngajarin aku kalau momen bagus itu datang sebentar."

"Kalau nggak peka?"

"Ya hilang."

Saya mengangguk. Tanpa sadar saya sedang belajar. Bukan tentang fotografi. Tetapi tentang perhatian. Perjalanan hidup membawanya ke Jakarta. Ia kuliah di Institut Kesenian Jakarta.

Lulus.

Bekerja.

Memotret berbagai acara.

Belajar teknik.

Belajar pencahayaan.

Belajar komposisi.

Kariernya berjalan.

Apa yang selama ini disebut banyak orang sebagai kesuksesan, perlahan mulai ia raih. Tetapi ada sesuatu yang tidak ikut bertumbuh. Hatinya.

"Saya sering pulang kerja dengan foto yang bagus."

"Lalu?"

"Hatinya kosong."

Saya terdiam.

Kalimat itu terasa sangat dekat.

Bukankah banyak orang pernah merasakan hal yang sama?

Bekerja keras.

Mencapai target.

Naik jabatan.

Mendapat penghasilan lebih baik.

Tetapi entah mengapa tetap merasa ada sesuatu yang hilang. Kita hidup di zaman yang mengajarkan cara mengejar keberhasilan. Namun tidak banyak yang mengajarkan bagaimana mengenali makna. Kita diajari membuat rencana karier. Tetapi jarang diajak bertanya,

"Untuk apa semua ini?"

Kita diajari mengejar impian. Tetapi jarang diajak memeriksa apakah impian itu masih milik kita. Saya merasa, bukan hanya Kelana yang pernah kehilangan arah. Banyak dari kita juga pernah mengalaminya. Hanya saja bentuknya berbeda. Ada yang merasa kosong di balik meja kantor. Ada yang merasa lelah mengejar angan. Ada yang mulai mempertanyakan hidup ketika semua target justru sudah tercapai. Ada pula yang diam-diam bertanya,

"Apakah ini benar-benar hidup yang saya inginkan?"

Sekitar tahun 2023, Kelana mengambil keputusan yang tidak dipahami banyak orang. Ia pulang. Bukan karena gagal. Bukan karena diusir. Bukan karena kehilangan pekerjaan. Ia pulang karena ingin menemukan kembali dirinya. Ia memilih hidup di antara Banjarnegara dan Banyumas. Memotret pernikahan sederhana. Mengabadikan keluarga kecil. Menyewakan baju adat. Mengobrol dengan tukang becak. Mendengar cerita para pedagang.

Sebagian orang mungkin menyebutnya langkah mundur. Tetapi ketika saya melihat wajahnya sore itu, saya justru melihat seseorang yang akhirnya berdamai dengan hidupnya. Saya bertanya,

"Menyesal pulang?"

Ia tersenyum sambil menggeleng.

"Justru baru sekarang rasanya pulang."

Kalimat itu terus tinggal di kepala saya. Barangkali rumah memang bukan sekadar alamat. Rumah adalah tempat di mana hati kita tidak lagi berpura-pura. Sebelum matahari tenggelam, kami berjalan menuju Alun-Alun Banyumas. Ia memandang pohon beringin tua cukup lama. Lalu berkata pelan,

"Semoga tempat-tempat seperti ini tetap dijaga."

"Kenapa?"

"Karena kalau semuanya berubah, nanti kita lupa dari mana kita berasal."

Saya kembali terdiam.

Kelana ternyata bukan hanya sedang memotret kota. Ia sedang merawat ingatan. Ia sedang menjaga identitas. Ia sedang memastikan bahwa keindahan tidak hilang hanya karena kita terlalu sibuk mengejar hal-hal baru.Di situlah saya mulai memahami mengapa saya merasa perjalanan sore itu begitu berharga.

 

Saya tidak sedang bertemu seorang fotografer. Saya sedang bertemu seseorang yang menemukan makna hidupnya. Sepanjang perjalanan pulang, saya bertanya kepada diri sendiri. Mengapa begitu banyak orang berhasil, tetapi tidak bahagia? Mengapa ada orang yang memiliki semuanya, tetapi tetap merasa kehilangan? Mengapa ada yang berani meninggalkan sesuatu yang dianggap sukses oleh banyak orang demi hidup yang lebih sederhana?

Mungkin karena kita sering keliru membedakan antara pencapaian dan makna. Pencapaian membuat orang bertepuk tangan.Makna membuat hati tenang. Pencapaian bisa dilihat orang lain. Makna sering kali hanya diketahui oleh diri sendiri. Dan ketika keduanya tidak berjalan bersama, manusia mulai merasa hampa. Saya percaya, hampir setiap orang pernah mengalami fase itu.

Fase ketika hidup terasa berjalan, tetapi hati tertinggal. Fase ketika kita sibuk memenuhi jadwal, tetapi lupa bertanya mengapa semua itu dilakukan. Fase ketika kita tersenyum di depan banyak orang, tetapi diam-diam merasa asing terhadap diri sendiri. Kalau Anda pernah mengalami itu, percayalah, Anda tidak sendirian.

Buku ini lahir dari pertemuan-pertemuan seperti sore itu. Saya tidak berniat mengumpulkan kisah orang-orang yang sempurna. Saya justru mencari mereka yang pernah tersesat, pernah gagal, pernah kehilangan arah, tetapi tidak berhenti mencari makna.

Mak Sri menemukannya di dapur kecil yang menghidupi anak-anaknya. Mas Rahmat menemukannya di dua wajan yang menjaga cita-cita keluarganya. Pak Musdar menemukannya dalam kesetiaan menjaga gerobak dan keluarganya. Kelana menemukannya ketika memilih pulang dan merawat cerita-cerita kecil yang hampir terlupakan.

Mereka semua berbeda. Tetapi mereka mengajarkan satu hal yang sama. Makna hidup jarang ditemukan di tempat yang paling ramai. Sering kali ia menunggu kita di tempat yang paling sederhana.

Di rumah.

Di keluarga.

Di pekerjaan yang dilakukan dengan sepenuh hati.

Di orang-orang yang kita layani.

Di keberanian untuk menjadi diri sendiri.

Saya tidak tahu kisah siapa yang nanti paling menyentuh hati Anda. Tetapi saya berharap, setelah menutup buku ini, Anda tidak hanya merasa terinspirasi. Saya berharap Anda mulai bertanya kepada diri sendiri:

"Apa yang sebenarnya sedang saya perjuangkan?"

 

"Siapa yang membuat saya terus bertahan?"

"Dan... di mana saya menemukan makna hidup saya?"

Karena saya percaya, setiap orang pada akhirnya tidak hanya membutuhkan alasan untuk hidup. Kita semua membutuhkan alasan untuk terus melangkah. Dan mungkin, jawaban itu tidak berada di tempat yang jauh. Mungkin ia sedang menunggu, seperti Kelana menunggu cerita, di sudut-sudut kehidupan yang selama ini kita lewati tanpa benar-benar melihatnya.

Selamat datang di perjalanan ini. Perjalanan untuk mengenal orang-orang biasa yang menolak menyerah. Dan mudah-mudahan, perjalanan untuk menemukan kembali makna dalam hidup kita sendir.

No comments:

Post a Comment