"Orang-Orang Biasa yang Menolak Menyerah"
Saya masih ingat sore itu. Matahari mulai condong ke barat
ketika saya menyusuri Jalan Kota Lama Banyumas. Cahaya keemasan menempel di
dinding-dinding bangunan tua. Bayangan pohon beringin memanjang di atas batu
jalan yang telah dipijak ribuan orang selama puluhan tahun. Seorang tukang
becak duduk santai sambil menyeruput kopi. Anak-anak bersepeda melintasi jalan
dengan tawa yang terdengar lebih jujur daripada suara klakson kendaraan.
Di tengah suasana yang terasa tenang itu, saya melihat
seorang lelaki berdiri sendirian.
Ia tidak sedang memotret.
Kameranya menggantung di dada.
Lensa menghadap ke bawah.
Ia hanya berdiri.
Diam.
Matanya menyapu setiap sudut jalan, seolah sedang menunggu
sesuatu yang belum datang.
Saya menghampirinya.
"Lagi nunggu siapa?"
Ia tersenyum kecil.
"Bukan nunggu orang."
"Lalu?"
"Nunggu cerita."
Jawaban itu membuat saya berhenti sejenak.
Saya terbiasa mendengar fotografer berbicara tentang cahaya,
lensa, komposisi, atau kamera terbaru.
Tetapi sore itu saya bertemu seseorang yang justru sedang
menunggu cerita.
Namanya Kelana.
Di dadanya tergantung sebuah kamera DSLR berwarna kuning yang
membuatnya mudah dikenali.
Belakangan saya tahu, warna itu memang sengaja dipilih.
"Biar gampang dicari," katanya sambil tertawa.
Saya ikut tertawa.
Tetapi semakin lama kami berbincang, semakin saya sadar bahwa
yang mudah ditemukan bukan hanya kameranya. Melainkan ketulusannya. Kami
berjalan perlahan menyusuri Kota Lama Banyumas.Setiap beberapa langkah, Kelana
berhenti. Bukan karena lelah. Melainkan karena melihat sesuatu yang menurutnya
menarik. Seorang nenek yang sedang menyapu halaman. Sepasang suami istri yang
berjalan sambil bergandengan tangan. Seorang anak kecil yang mencoba meniup
gelembung sabun. Seekor kucing yang tidur di ambang pintu rumah tua. Semuanya
terlihat biasa. Saya bahkan mungkin akan melewatinya tanpa benar-benar
memperhatikan.
Tetapi bagi Kelana, semuanya layak dilihat.
"Kenapa nggak dipotret?" tanya saya.
Ia menggeleng.
"Belum waktunya."
"Lho, bukannya momen bisa hilang?"
"Iya."
"Lalu?"
"Kalau orangnya belum nyaman, fotonya juga belum
jujur."
Kalimat itu terdengar sederhana. Tetapi entah mengapa saya
merasa ia sedang berbicara tentang sesuatu yang jauh lebih besar daripada
fotografi. Ia sedang berbicara tentang kehidupan. Tentang bagaimana kita sering
terlalu terburu-buru mengambil kesimpulan sebelum benar-benar mengenal
seseorang.
Kami duduk di bangku taman.
Angin sore bertiup pelan. Daun-daun berguguran. Saya mulai
bertanya tentang hidupnya. Ia lahir di Banjarnegara. Masa kecilnya dihabiskan
di antara kabut Dieng, Sungai Serayu, dan warung-warung sederhana yang setiap
pagi dipenuhi aroma teh panas dan singkong rebus.
"Dulu belum punya kamera."
"Lalu belajar motret dari mana?"
"Dari melihat."
Jawaban itu membuat saya tersenyum.
Ia bercerita bahwa sejak kecil ia senang memperhatikan
hal-hal kecil. Embun yang menempel di daun teh. Asap yang keluar dari dapur. Keriput
tangan seorang nenek penjual getuk. Langit setelah hujan.
"Banjarnegara ngajarin aku kalau momen bagus itu datang
sebentar."
"Kalau nggak peka?"
"Ya hilang."
Saya mengangguk. Tanpa sadar saya sedang belajar. Bukan
tentang fotografi. Tetapi tentang perhatian. Perjalanan hidup membawanya ke
Jakarta. Ia kuliah di Institut Kesenian Jakarta.
Lulus.
Bekerja.
Memotret berbagai acara.
Belajar teknik.
Belajar pencahayaan.
Belajar komposisi.
Kariernya berjalan.
Apa yang selama ini disebut banyak orang sebagai kesuksesan,
perlahan mulai ia raih. Tetapi ada sesuatu yang tidak ikut bertumbuh. Hatinya.
"Saya sering pulang kerja dengan foto yang bagus."
"Lalu?"
"Hatinya kosong."
Saya terdiam.
Kalimat itu terasa sangat dekat.
Bukankah banyak orang pernah merasakan hal yang sama?
Bekerja keras.
Mencapai target.
Naik jabatan.
Mendapat penghasilan lebih baik.
Tetapi entah mengapa tetap merasa ada sesuatu yang hilang. Kita
hidup di zaman yang mengajarkan cara mengejar keberhasilan. Namun tidak banyak
yang mengajarkan bagaimana mengenali makna. Kita diajari membuat rencana
karier. Tetapi jarang diajak bertanya,
"Untuk apa semua ini?"
Kita diajari mengejar impian. Tetapi jarang diajak memeriksa
apakah impian itu masih milik kita. Saya merasa, bukan hanya Kelana yang pernah
kehilangan arah. Banyak dari kita juga pernah mengalaminya. Hanya saja
bentuknya berbeda. Ada yang merasa kosong di balik meja kantor. Ada yang merasa
lelah mengejar angan. Ada yang mulai mempertanyakan hidup ketika semua target
justru sudah tercapai. Ada pula yang diam-diam bertanya,
"Apakah ini benar-benar hidup yang saya inginkan?"
Sekitar tahun 2023, Kelana mengambil keputusan yang tidak
dipahami banyak orang. Ia pulang. Bukan karena gagal. Bukan karena diusir. Bukan
karena kehilangan pekerjaan. Ia pulang karena ingin menemukan kembali dirinya. Ia
memilih hidup di antara Banjarnegara dan Banyumas. Memotret pernikahan
sederhana. Mengabadikan keluarga kecil. Menyewakan baju adat. Mengobrol dengan
tukang becak. Mendengar cerita para pedagang.
Sebagian orang mungkin menyebutnya langkah mundur. Tetapi
ketika saya melihat wajahnya sore itu, saya justru melihat seseorang yang
akhirnya berdamai dengan hidupnya. Saya bertanya,
"Menyesal pulang?"
Ia tersenyum sambil menggeleng.
"Justru baru sekarang rasanya pulang."
Kalimat itu terus tinggal di kepala saya. Barangkali rumah
memang bukan sekadar alamat. Rumah adalah tempat di mana hati kita tidak lagi
berpura-pura. Sebelum matahari tenggelam, kami berjalan menuju Alun-Alun
Banyumas. Ia memandang pohon beringin tua cukup lama. Lalu berkata pelan,
"Semoga tempat-tempat seperti ini tetap dijaga."
"Kenapa?"
"Karena kalau semuanya berubah, nanti kita lupa dari
mana kita berasal."
Saya kembali terdiam.
Kelana ternyata bukan hanya sedang memotret kota. Ia sedang
merawat ingatan. Ia sedang menjaga identitas. Ia sedang memastikan bahwa
keindahan tidak hilang hanya karena kita terlalu sibuk mengejar hal-hal baru.Di
situlah saya mulai memahami mengapa saya merasa perjalanan sore itu begitu
berharga.
Saya tidak sedang bertemu seorang fotografer. Saya sedang
bertemu seseorang yang menemukan makna hidupnya. Sepanjang perjalanan pulang,
saya bertanya kepada diri sendiri. Mengapa begitu banyak orang berhasil, tetapi
tidak bahagia? Mengapa ada orang yang memiliki semuanya, tetapi tetap merasa
kehilangan? Mengapa ada yang berani meninggalkan sesuatu yang dianggap sukses
oleh banyak orang demi hidup yang lebih sederhana?
Mungkin karena kita sering keliru membedakan antara
pencapaian dan makna. Pencapaian membuat orang bertepuk tangan.Makna membuat
hati tenang. Pencapaian bisa dilihat orang lain. Makna sering kali hanya
diketahui oleh diri sendiri. Dan ketika keduanya tidak berjalan bersama,
manusia mulai merasa hampa. Saya percaya, hampir setiap orang pernah mengalami
fase itu.
Fase ketika hidup terasa berjalan, tetapi hati tertinggal. Fase
ketika kita sibuk memenuhi jadwal, tetapi lupa bertanya mengapa semua itu
dilakukan. Fase ketika kita tersenyum di depan banyak orang, tetapi diam-diam
merasa asing terhadap diri sendiri. Kalau Anda pernah mengalami itu,
percayalah, Anda tidak sendirian.
Buku ini lahir dari pertemuan-pertemuan seperti sore itu. Saya
tidak berniat mengumpulkan kisah orang-orang yang sempurna. Saya justru mencari
mereka yang pernah tersesat, pernah gagal, pernah kehilangan arah, tetapi tidak
berhenti mencari makna.
Mak Sri menemukannya di dapur kecil yang menghidupi
anak-anaknya. Mas Rahmat menemukannya di dua wajan yang menjaga cita-cita
keluarganya. Pak Musdar menemukannya dalam kesetiaan menjaga gerobak dan
keluarganya. Kelana menemukannya ketika memilih pulang dan merawat
cerita-cerita kecil yang hampir terlupakan.
Mereka semua berbeda. Tetapi mereka mengajarkan satu hal yang
sama. Makna hidup jarang ditemukan di tempat yang paling ramai. Sering kali ia
menunggu kita di tempat yang paling sederhana.
Di rumah.
Di keluarga.
Di pekerjaan yang dilakukan dengan sepenuh hati.
Di orang-orang yang kita layani.
Di keberanian untuk menjadi diri sendiri.
Saya tidak tahu kisah siapa yang nanti paling menyentuh hati
Anda. Tetapi saya berharap, setelah menutup buku ini, Anda tidak hanya merasa
terinspirasi. Saya berharap Anda mulai bertanya kepada diri sendiri:
"Apa yang sebenarnya sedang saya perjuangkan?"
"Siapa yang membuat saya terus bertahan?"
"Dan... di mana saya menemukan makna hidup saya?"
Karena saya percaya, setiap orang pada akhirnya tidak hanya
membutuhkan alasan untuk hidup. Kita semua membutuhkan alasan untuk terus
melangkah. Dan mungkin, jawaban itu tidak berada di tempat yang jauh. Mungkin
ia sedang menunggu, seperti Kelana menunggu cerita, di sudut-sudut kehidupan
yang selama ini kita lewati tanpa benar-benar melihatnya.
Selamat datang di perjalanan ini. Perjalanan untuk mengenal
orang-orang biasa yang menolak menyerah. Dan mudah-mudahan, perjalanan untuk
menemukan kembali makna dalam hidup kita sendir.
No comments:
Post a Comment