"Orang-Orang Biasa yang Menolak Menyerah"
Malam itu saya sengaja memperlambat langkah.Jalan di depan
Masjid Agung Tasikmalaya masih ramai. Lampu-lampu jalan memantulkan cahaya
kekuningan di atas aspal yang mulai basah oleh embun malam. Beberapa keluarga
masih menikmati jagung bakar di trotoar. Anak-anak berlarian mengejar gelembung
sabun. Pedagang minuman memanggil pembeli. Suara knalpot sesekali memecah
keramaian, lalu kembali tenggelam oleh obrolan orang-orang yang menikmati
malam.
Di antara deretan gerobak yang berjajar, perhatian saya
berhenti pada satu gerobak sederhana. Lampunya kecil. Tidak semeriah gerobak
lain yang dihiasi lampu LED berwarna-warni. Di depannya ada beberapa bangku
plastik. Kosong.
Kalau hanya melihat sekilas, orang mungkin akan berpikir
dagangannya sedang sepi. Saya pun sempat berpikir begitu. Sampai kemudian saya
melihat seorang lelaki sedang berdiri di balik wajan yang mengepul. Tangannya
terus mengaduk nasi. Sesekali api membesar ketika minyak menyentuh dasar wajan
yang panas.
Suara "cess..." terdengar berulang. Aroma bawang
putih, kecap, dan lada memenuhi udara. Lelaki itu bekerja tenang. Tanpa
tergesa. Tanpa banyak bicara. Saya mendekat.
"Masih buka, Pak?"
Beliau menoleh sambil tersenyum. "Masih, Mas."
Saya duduk. Bangku-bangku di sekitar saya tetap kosong. Entah
mengapa suasana itu terasa damai. Tidak ada hiruk-pikuk. Tidak ada antrean
panjang. Hanya suara penggorengan dan sesekali azan Isya yang masih terngiang
dari pengeras suara masjid.
Namanya Musdar. Usianya empat puluh enam tahun. Asalnya dari
Pamekasan, Madura. Saya mulai mengobrol sambil menunggu nasi goreng yang saya
pesan. Awalnya seperti perrcakapan
biasa.
Sudah lama jualan,
Pak?
Asalnya dari mana?
Ramai tidak sekarang?
Beliau menjawab dengan kalimat-kalimat pendek.
“Enam belas tahun. Tetap di tempat yang sama. Belum pernah
pindah.”
"Lho, kok tidak pulang?"
Beliau tersenyum kecil.
"Ongkosnya buat anak, Pak."
Hanya satu kalimat. Tetapi saya tidak langsung bisa menjawab.
Saya membayangkan bagaimana rasanya. Tiga tahun tidak melihat tanah tempat kita
dilahirkan. Tidak berziarah ke makam orang tua. Tidak bertemu saudara. Bukan
karena tidak ingin. Melainkan karena ada tiga anak yang harus didahulukan.
Saya memandang wajah beliau.Di balik senyum itu saya melihat
sesuatu yang sering tidak terlihat oleh orang-orang yang hanya datang membeli
nasi goreng. Ada rindu yang ditunda. Ada keinginan yang disimpan. Ada banyak
hal yang sengaja dikalahkan demi seseorang yang lebih dicintai.
Saya bertanya lagi.
"Kalau capek?"
Beliau tertawa pelan. "Ya capek."
"Lalu kenapa tetap jalan?"
Beliau mengaduk nasi goreng beberapa kali sebelum menjawab.
"Kalau saya berhenti, anak-anak makan apa?"
Saya tidak tahu harus berkata apa. Jawaban itu terlalu jujur.. Terlalu
sederhana. Terlalu nyata. Saya mulai memperhatikan gerobaknya lebih teliti. Catnya
sudah mulai kusam. Beberapa bagian
besinya tampak menghitam dimakan waktu. Kompor itu mungkin sudah ribuan malam
menyala. Wajan itu mungkin sudah menggoreng puluhan ribu porsi nasi. Dan selama
enam belas tahun, lelaki itu hampir selalu berada di tempat yang sama.
Orang-orang mungkin mengenalnya sebagai penjual nasi goreng. Tetapi
malam itu saya melihat sesuatu yang berbeda. Saya melihat seorang ayah. Saya
melihat seorang suami. Saya melihat seseorang yang sedang menjaga masa depan
keluarganya dengan cara yang paling sunyi. Dengan bekerja.
Dalam perjalanan pulang malam itu, saya terus memikirkan
bangku-bangku kosong di depan gerobak Pak Musdar. Saya sadar, bangku-bangku itu
ternyata mengajarkan sesuatu. Sering kali kita terlalu cepat menilai. Kita
melihat bangku kosong lalu menyimpulkan dagangannya sepi. Kita melihat gerobak sederhana lalu mengira
hidupnya biasa saja. Kita melihat seseorang tersenyum lalu menganggap hidupnya
baik-baik saja. Padahal kita tidak
pernah benar-benar tahu.
Di balik senyum seseorang bisa jadi ada rindu yang dipendam
bertahun-tahun. Di balik pekerjaan sederhana bisa jadi ada pengorbanan yang
tidak pernah diceritakan. Di balik nasi goreng yang kita makan mungkin ada uang
sekolah seorang anak. Di balik setiap piring yang keluar dari wajan itu mungkin
ada doa seorang ayah yang tidak pernah diucapkan keras-keras.
Malam itu saya belajar bahwa kehidupan manusia tidak pernah
bisa dibaca hanya dari permukaannya. Sejak pertemuan dengan Pak Musdar, saya
mulai melihat orang dengan cara yang berbeda. Saya tidak lagi hanya melihat
pekerjaannya. Saya mulai bertanya tentang hidupnya. Saya tidak lagi hanya
membeli. Saya mulai mendengarkan. Dan semakin banyak saya mendengar, semakin
saya menemukan pola yang sama.
Mak Sri bertahan demi anak-anaknya. Mas Rahmat rela tidur
hanya beberapa jam demi biaya kuliah anaknya. Kelana pulang demi merawat cerita
dan identitas tempat yang dicintainya. Pak Musdar memilih menunda rindunya
kepada kampung halaman demi tiga anak yang menunggunya di rumah kontrakan.
Mereka berbeda-beda. Tetapi ada satu hal yang sama. Tidak
satu pun bertahan demi dirinya sendiri. Mereka bertahan karena mencintai
seseorang. Saya kemudian bertanya kepada diri sendiri. Bukankah kita semua
sebenarnya seperti itu? Seorang ibu bertahan karena ingin melihat anaknya
tumbuh sehat. Seorang ayah terus bekerja karena ingin keluarganya hidup lebih
baik. Seorang guru tetap mengajar karena percaya murid-muridnya memiliki masa
depan. Seorang petani tetap menanam meski musim tidak selalu bersahabat karena
ada keluarga yang menggantungkan hidup padanya.
Mungkin cinta memang tidak selalu diucapkan. Sering kali
cinta justru berbentuk kerja keras. Berbentuk waktu yang diberikan. Berbentuk
kelelahan yang disembunyikan. Berbentuk keinginan-keinginan pribadi yang rela
ditunda.
Kita hidup di zaman ketika kata "bertahan" sering
dianggap sebagai tanda kelemahan. Seolah-olah hidup yang baik adalah hidup yang
selalu naik. Selalu menang. Selalu berhasil. Padahal sebagian besar manusia
tidak sedang hidup di puncak. Sebagian besar dari kita sedang berusaha melewati
hari ini. Membayar cicilan. Menyekolahkan anak. Merawat orang tua. Menjaga
keluarga tetap utuh. Bangun pagi. Bekerja. Pulang. Lalu mengulanginya lagi esok
hari.
Mungkin memang tidak ada yang spektakuler. Tetapi bukankah justru di sanalah letak
keberanian yang sesungguhnya?Kebe ranian untuk tetap hadir. Keberanian untuk
tetap bertanggung jawab. Keberanian untuk tetap mencintai ketika keadaan tidak
selalu memihak.
Buku ini lahir karena saya merasa kisah-kisah seperti itu
terlalu berharga untuk dibiarkan berlalu begitu saja. Kita terlalu sering
mengagumi mereka yang berhasil mencapai garis akhir. Padahal kita jarang
berhenti untuk menghormati orang-orang yang setiap hari tetap berjalan meski
belum tahu kapan garis akhir itu akan terlihat.
Buku ini bukan tentang orang-orang yang hidupnya sempurna. Justru
sebaliknya. Ini adalah kisah tentang manusia-manusia biasa yang berkali-kali
diuji, tetapi berkali-kali pula memilih bangkit. Bukan karena mereka lebih kuat
daripada kita. Melainkan karena mereka memiliki seseorang yang layak
diperjuangkan.
Saya tidak tahu cerita mana yang nanti paling menyentuh hati
Anda. Mungkin kisah seorang ibu yang memasak sejak dini hari. Mungkin kisah
seorang ayah yang tidur hanya tiga jam. Mungkin kisah seorang pedagang yang
menunda pulang kampung. Mungkin kisah seorang fotografer yang memilih pulang
untuk menemukan kembali makna hidupnya.
Tetapi saya berharap, setelah membaca buku ini, Anda akan
membawa pulang sesuatu yang jauh lebih penting daripada sekadar rasa kagum. Saya
berharap Anda akan melihat orang-orang di sekitar dengan mata yang baru. Lebih
pelan ketika menilai. Lebih cepat menghargai. Lebih mudah mengucapkan terima
kasih. Lebih sering bertanya, "Apa kabar?" Karena setiap orang yang
kita temui mungkin sedang memikul beban yang tidak kita ketahui. Dan mungkin,
seperti Pak Musdar, mereka tetap tersenyum bukan karena hidupnya mudah. Melainkan
karena ada seseorang di rumah yang membuat mereka memilih untuk tidak menyerah.
Di halaman-halaman berikutnya, Anda akan bertemu orang-orang
yang tidak pernah menganggap dirinya pahlawan. Mereka tidak mengejar ketenaran.
Mereka tidak mencari pengakuan. Mereka hanya melakukan satu hal,
berulang-ulang, setiap hari: bertahan demi orang-orang yang mereka cintai.
Semoga ketika Anda selesai membaca buku ini, Anda tidak hanya
mengenal nama-nama mereka. Semoga Anda juga mengenali wajah-wajah yang selama
ini ada di sekitar Anda—ayah, ibu, pasangan, guru, tetangga, atau pedagang
langganan—yang diam-diam telah melakukan hal yang sama sepanjang hidupnya.
No comments:
Post a Comment