Wednesday, June 3, 2026

BAGIAN III Bertahan untuk Orang-Orang yang Dicintai

 "Orang-Orang Biasa yang Menolak Menyerah"

 

Malam itu saya sengaja memperlambat langkah.Jalan di depan Masjid Agung Tasikmalaya masih ramai. Lampu-lampu jalan memantulkan cahaya kekuningan di atas aspal yang mulai basah oleh embun malam. Beberapa keluarga masih menikmati jagung bakar di trotoar. Anak-anak berlarian mengejar gelembung sabun. Pedagang minuman memanggil pembeli. Suara knalpot sesekali memecah keramaian, lalu kembali tenggelam oleh obrolan orang-orang yang menikmati malam.

Di antara deretan gerobak yang berjajar, perhatian saya berhenti pada satu gerobak sederhana. Lampunya kecil. Tidak semeriah gerobak lain yang dihiasi lampu LED berwarna-warni. Di depannya ada beberapa bangku plastik. Kosong.

Kalau hanya melihat sekilas, orang mungkin akan berpikir dagangannya sedang sepi. Saya pun sempat berpikir begitu. Sampai kemudian saya melihat seorang lelaki sedang berdiri di balik wajan yang mengepul. Tangannya terus mengaduk nasi. Sesekali api membesar ketika minyak menyentuh dasar wajan yang panas.

Suara "cess..." terdengar berulang. Aroma bawang putih, kecap, dan lada memenuhi udara. Lelaki itu bekerja tenang. Tanpa tergesa. Tanpa banyak bicara. Saya mendekat.

"Masih buka, Pak?"

Beliau menoleh sambil tersenyum. "Masih, Mas."

Saya duduk. Bangku-bangku di sekitar saya tetap kosong. Entah mengapa suasana itu terasa damai. Tidak ada hiruk-pikuk. Tidak ada antrean panjang. Hanya suara penggorengan dan sesekali azan Isya yang masih terngiang dari pengeras suara masjid.

Namanya Musdar. Usianya empat puluh enam tahun. Asalnya dari Pamekasan, Madura. Saya mulai mengobrol sambil menunggu nasi goreng yang saya pesan. Awalnya seperti  perrcakapan biasa.

 Sudah lama jualan, Pak?

Asalnya dari mana?

Ramai tidak sekarang?

Beliau menjawab dengan kalimat-kalimat pendek.

“Enam belas tahun. Tetap di tempat yang sama. Belum pernah pindah.”

 Jawabannya sederhana. Tetapi justru kesederhanaan itu membuat saya ingin bertanya lebih jauh. Saya baru mengetahui bahwa tiga tahun terakhir beliau belum pernah pulang kampung. Bukan karena lupa. Bukan karena tidak rindu. Justru karena sangat rindu.

"Lho, kok tidak pulang?"

Beliau tersenyum kecil.

"Ongkosnya buat anak, Pak."

Hanya satu kalimat. Tetapi saya tidak langsung bisa menjawab. Saya membayangkan bagaimana rasanya. Tiga tahun tidak melihat tanah tempat kita dilahirkan. Tidak berziarah ke makam orang tua. Tidak bertemu saudara. Bukan karena tidak ingin. Melainkan karena ada tiga anak yang harus didahulukan.

Saya memandang wajah beliau.Di balik senyum itu saya melihat sesuatu yang sering tidak terlihat oleh orang-orang yang hanya datang membeli nasi goreng. Ada rindu yang ditunda. Ada keinginan yang disimpan. Ada banyak hal yang sengaja dikalahkan demi seseorang yang lebih dicintai.

Saya bertanya lagi.

"Kalau capek?"

Beliau tertawa pelan. "Ya capek."

"Lalu kenapa tetap jalan?"

Beliau mengaduk nasi goreng beberapa kali sebelum menjawab.

"Kalau saya berhenti, anak-anak makan apa?"

Saya tidak tahu harus berkata apa.  Jawaban itu terlalu jujur.. Terlalu sederhana. Terlalu nyata. Saya mulai memperhatikan gerobaknya lebih teliti. Catnya sudah mulai kusam.  Beberapa bagian besinya tampak menghitam dimakan waktu. Kompor itu mungkin sudah ribuan malam menyala. Wajan itu mungkin sudah menggoreng puluhan ribu porsi nasi. Dan selama enam belas tahun, lelaki itu hampir selalu berada di tempat yang sama.

Orang-orang mungkin mengenalnya sebagai penjual nasi goreng. Tetapi malam itu saya melihat sesuatu yang berbeda. Saya melihat seorang ayah. Saya melihat seorang suami. Saya melihat seseorang yang sedang menjaga masa depan keluarganya dengan cara yang paling sunyi. Dengan bekerja.

Dalam perjalanan pulang malam itu, saya terus memikirkan bangku-bangku kosong di depan gerobak Pak Musdar. Saya sadar, bangku-bangku itu ternyata mengajarkan sesuatu. Sering kali kita terlalu cepat menilai. Kita melihat bangku kosong lalu menyimpulkan dagangannya sepi.  Kita melihat gerobak sederhana lalu mengira hidupnya biasa saja. Kita melihat seseorang tersenyum lalu menganggap hidupnya baik-baik saja.  Padahal kita tidak pernah benar-benar tahu.

Di balik senyum seseorang bisa jadi ada rindu yang dipendam bertahun-tahun. Di balik pekerjaan sederhana bisa jadi ada pengorbanan yang tidak pernah diceritakan. Di balik nasi goreng yang kita makan mungkin ada uang sekolah seorang anak. Di balik setiap piring yang keluar dari wajan itu mungkin ada doa seorang ayah yang tidak pernah diucapkan keras-keras.

Malam itu saya belajar bahwa kehidupan manusia tidak pernah bisa dibaca hanya dari permukaannya. Sejak pertemuan dengan Pak Musdar, saya mulai melihat orang dengan cara yang berbeda. Saya tidak lagi hanya melihat pekerjaannya. Saya mulai bertanya tentang hidupnya. Saya tidak lagi hanya membeli. Saya mulai mendengarkan. Dan semakin banyak saya mendengar, semakin saya menemukan pola yang sama.

Mak Sri bertahan demi anak-anaknya. Mas Rahmat rela tidur hanya beberapa jam demi biaya kuliah anaknya. Kelana pulang demi merawat cerita dan identitas tempat yang dicintainya. Pak Musdar memilih menunda rindunya kepada kampung halaman demi tiga anak yang menunggunya di rumah kontrakan.

Mereka berbeda-beda. Tetapi ada satu hal yang sama. Tidak satu pun bertahan demi dirinya sendiri. Mereka bertahan karena mencintai seseorang. Saya kemudian bertanya kepada diri sendiri. Bukankah kita semua sebenarnya seperti itu? Seorang ibu bertahan karena ingin melihat anaknya tumbuh sehat. Seorang ayah terus bekerja karena ingin keluarganya hidup lebih baik. Seorang guru tetap mengajar karena percaya murid-muridnya memiliki masa depan. Seorang petani tetap menanam meski musim tidak selalu bersahabat karena ada keluarga yang menggantungkan hidup padanya.

Mungkin cinta memang tidak selalu diucapkan. Sering kali cinta justru berbentuk kerja keras. Berbentuk waktu yang diberikan. Berbentuk kelelahan yang disembunyikan. Berbentuk keinginan-keinginan pribadi yang rela ditunda.

Kita hidup di zaman ketika kata "bertahan" sering dianggap sebagai tanda kelemahan. Seolah-olah hidup yang baik adalah hidup yang selalu naik. Selalu menang. Selalu berhasil. Padahal sebagian besar manusia tidak sedang hidup di puncak. Sebagian besar dari kita sedang berusaha melewati hari ini. Membayar cicilan. Menyekolahkan anak. Merawat orang tua. Menjaga keluarga tetap utuh. Bangun pagi. Bekerja. Pulang. Lalu mengulanginya lagi esok hari.

Mungkin memang tidak ada yang spektakuler.  Tetapi bukankah justru di sanalah letak keberanian yang sesungguhnya?Kebe ranian untuk tetap hadir. Keberanian untuk tetap bertanggung jawab. Keberanian untuk tetap mencintai ketika keadaan tidak selalu memihak.

 

Buku ini lahir karena saya merasa kisah-kisah seperti itu terlalu berharga untuk dibiarkan berlalu begitu saja. Kita terlalu sering mengagumi mereka yang berhasil mencapai garis akhir. Padahal kita jarang berhenti untuk menghormati orang-orang yang setiap hari tetap berjalan meski belum tahu kapan garis akhir itu akan terlihat.

Buku ini bukan tentang orang-orang yang hidupnya sempurna. Justru sebaliknya. Ini adalah kisah tentang manusia-manusia biasa yang berkali-kali diuji, tetapi berkali-kali pula memilih bangkit. Bukan karena mereka lebih kuat daripada kita. Melainkan karena mereka memiliki seseorang yang layak diperjuangkan.

Saya tidak tahu cerita mana yang nanti paling menyentuh hati Anda. Mungkin kisah seorang ibu yang memasak sejak dini hari. Mungkin kisah seorang ayah yang tidur hanya tiga jam. Mungkin kisah seorang pedagang yang menunda pulang kampung. Mungkin kisah seorang fotografer yang memilih pulang untuk menemukan kembali makna hidupnya.

Tetapi saya berharap, setelah membaca buku ini, Anda akan membawa pulang sesuatu yang jauh lebih penting daripada sekadar rasa kagum. Saya berharap Anda akan melihat orang-orang di sekitar dengan mata yang baru. Lebih pelan ketika menilai. Lebih cepat menghargai. Lebih mudah mengucapkan terima kasih. Lebih sering bertanya, "Apa kabar?" Karena setiap orang yang kita temui mungkin sedang memikul beban yang tidak kita ketahui. Dan mungkin, seperti Pak Musdar, mereka tetap tersenyum bukan karena hidupnya mudah. Melainkan karena ada seseorang di rumah yang membuat mereka memilih untuk tidak menyerah.

Di halaman-halaman berikutnya, Anda akan bertemu orang-orang yang tidak pernah menganggap dirinya pahlawan. Mereka tidak mengejar ketenaran. Mereka tidak mencari pengakuan. Mereka hanya melakukan satu hal, berulang-ulang, setiap hari: bertahan demi orang-orang yang mereka cintai.

Semoga ketika Anda selesai membaca buku ini, Anda tidak hanya mengenal nama-nama mereka. Semoga Anda juga mengenali wajah-wajah yang selama ini ada di sekitar Anda—ayah, ibu, pasangan, guru, tetangga, atau pedagang langganan—yang diam-diam telah melakukan hal yang sama sepanjang hidupnya.

No comments:

Post a Comment