Saya pernah mengira orang hebat tinggal di tempat-tempat yang jauh. Mereka ada di gedung-gedung tinggi. Di ruang rapat yang dipenuhi jas dan dasi. Di layar televisi. Di halaman depan surat kabar. Di panggung-panggung besar yang dipenuhi tepuk tangan. Nama mereka disebut berulang-ulang. Wajah mereka mudah dikenali. Kata-kata mereka dikutip. Kisah hidup mereka dijadikan contoh tentang arti kesuksesan. Barangkali sebagian dari kita tumbuh dengan cara pandang yang sama. Sejak kecil kita diperkenalkan kepada tokoh-tokoh besar. Kita menghafal nama para pahlawan nasional, ilmuwan, presiden, atlet, seniman, pengusaha, dan orang-orang yang berhasil mengubah sejarah. Mereka pantas dihormati. Mereka memberi banyak hal bagi bangsa ini.
Namun semakin lama saya berjalan, semakin banyak saya bertanya kepada diri sendiri. Apakah kepahlawanan hanya lahir dari orang-orang besar? Kalau memang begitu, mengapa setiap kali saya pulang dari bertemu Mak Sri, Mas Rahmat, Pak Musdar, Kelana, dan banyak orang lain yang memenuhi halaman-halaman buku ini, saya justru merasa sedang bertemu pahlawan?
Mereka tidak memiliki pangkat.
Tidak memiliki jabatan.
Tidak memiliki pengawal.
Tidak pernah diwawancarai televisi.
Tetapi entah mengapa, saya selalu pulang dengan hati yang lebih penuh daripada ketika selesai membaca kisah tokoh-tokoh terkenal. Mungkin karena mereka tidak sedang berbicara tentang kemenangan. Mereka sedang menjalani kehidupan.
Ada satu kebiasaan yang berubah dalam diri saya sejak mulai mengumpulkan kisah-kisah ini. Dulu saya sering berjalan dengan tergesa-gesa. Kalau lapar, saya membeli makanan. Kalau haus, saya memesan minuman. Kalau perlu sesuatu, saya datang ke toko, membeli, lalu pulang. Interaksi saya dengan orang lain sering berhenti pada transaksi.
"Berapa, Bu?"
"Terima kasih."
"Lain kali saya datang lagi."
Selesai.
Saya tidak pernah bertanya siapa mereka. Saya tidak pernah tahu bagaimana mereka sampai berada di tempat itu. Saya tidak pernah membayangkan bahwa setiap orang yang saya temui mungkin sedang membawa cerita sepanjang puluhan tahun. Lalu suatu hari saya mulai berhenti. Saya mulai duduk lebih lama. Saya mulai bertanya lebih banyak. Bukan karena ingin menulis buku. Tetapi karena saya mulai penasaran kepada manusia. Dan dari rasa penasaran itulah saya menemukan sesuatu yang tidak pernah saya pelajari di sekolah.
Bahwa hampir setiap orang sedang memperjuangkan seseorang. Ada ibu yang memasak bukan sekadar agar dagangannya laku, tetapi agar anaknya bisa membayar uang kuliah. Ada ayah yang memilih tidak membeli baju baru selama bertahun-tahun agar anak-anaknya tidak putus sekolah. Ada pedagang yang menunda pulang kampung karena ongkos perjalanan lebih berguna jika dijadikan biaya hidup keluarga. Ada fotografer yang memilih meninggalkan kota besar demi menjaga cerita-cerita kecil yang hampir terlupakan.
Semakin banyak saya mendengar, semakin saya sadar bahwa kita hidup di tengah lautan pengorbanan yang jarang terlihat. Yang membuat saya paling terharu bukanlah keberhasilan mereka. Melainkan cara mereka memandang hidup. Saya hampir tidak pernah mendengar mereka berkata, "Mengapa hidup saya seberat ini?" Sebaliknya, saya justru lebih sering mendengar kalimat seperti,
"Yang penting anak-anak sehat."
"Alhamdulillah masih bisa bekerja."
"Semoga besok lebih baik."
Saya malu mengakuinya, tetapi saya sendiri belum tentu sekuat itu. Ada hari-hari ketika pekerjaan terasa melelahkan. Ada saat-saat ketika rencana tidak berjalan sesuai harapan. Ada waktu ketika saya merasa kecewa karena sesuatu yang ternyata, jika dibandingkan dengan perjuangan mereka, mungkin hanyalah persoalan kecil.
Buku ini ternyata tidak hanya mengubah cara saya melihat orang lain. Buku ini diam-diam mengubah cara saya melihat diri sendiri. Ia membuat saya lebih berhati-hati ketika hendak mengeluh. Bukan karena hidup harus selalu disyukuri tanpa boleh merasa sedih. Melainkan karena saya sadar bahwa setiap orang membawa beban yang tidak selalu tampak. Orang yang sedang tersenyum di depan kita mungkin baru saja kehilangan orang yang dicintainya. Orang yang terlihat tenang mungkin sedang memikirkan biaya sekolah anaknya. Orang yang melayani kita dengan ramah mungkin semalam hanya tidur tiga jam. Kita tidak pernah benar-benar tahu. Karena itu, mungkin kita perlu lebih murah hati.
Lebih pelan dalam menilai.
Lebih cepat menghormati.
Saya sering membayangkan bagaimana jadinya negeri ini jika semua orang seperti tokoh-tokoh dalam buku ini memilih menyerah. Bagaimana kalau Mak Sri berhenti bekerja ketika mimpinya sendiri harus dikorbankan? Bagaimana kalau Mas Rahmat memutuskan berhenti setelah dipulangkan dari negeri orang? Bagaimana kalau Pak Musdar menutup gerobaknya karena lelah? Bagaimana kalau Kelana memilih tetap tinggal di tempat yang membuat hatinya kosong? Mungkin tidak akan ada berita besar yang muncul. Tidak ada kekacauan nasional. Tidak ada sejarah yang berubah. Tetapi ada sesuatu yang jauh lebih sunyi yang akan hilang.
Seorang anak mungkin gagal kuliah.
Sebuah keluarga kehilangan harapan.
Sebuah kota kehilangan orang yang merawat ceritanya.
Sebuah lingkungan kehilangan senyum yang setiap hari menyapanya.
Kadang perubahan terbesar memang tidak terjadi dalam skala besar. Ia terjadi dalam kehidupan seseorang. Lalu menjalar kepada orang lain. Kemudian kepada generasi berikutnya.Ada satu pertanyaan yang sering muncul setelah saya menceritakan kisah-kisah ini. "Apakah mereka benar-benar orang hebat?" Saya selalu menjawab, "Menurut ukuran siapa?" Kalau ukuran kita adalah ketenaran, mungkin tidak. Kalau ukuran kita adalah kekayaan, belum tentu. Tetapi kalau ukuran kita adalah keberanian untuk tetap berdiri ketika hidup memberi banyak alasan untuk menyerah, saya tidak ragu menyebut mereka luar biasa!
Selama ini kita terlalu sering menghubungkan kata "hebat" dengan hasil. Padahal kehidupan lebih banyak dibentuk oleh proses.Anak-anak yang lulus kuliah memang membanggakan. Tetapi lebih membanggakan lagi adalah orang tua yang bertahun-tahun diam-diam membayar biaya pendidikan mereka.
Rumah yang berdiri megah memang indah. Tetapi lebih indah lagi adalah pasangan yang membangunnya sedikit demi sedikit tanpa kehilangan harapan. Kesuksesan sering terlihat. Kesetiaan hampir selalu tersembunyi. Padahal justru kesetiaanlah yang membuat kesuksesan mungkin terjadi.
Ketika buku ini hampir selesai saya tulis, saya menyadari satu hal yang sangat sederhana. Ternyata saya tidak sedang mengumpulkan cerita. Saya sedang mengumpulkan cara-cara manusia mencintai sesuatu.Mak Sri mencintai melalui dapurnya. Mas Rahmat melalui dua wajannya. Pak Musdar melalui malam-malam yang ia jaga. Kelana melalui kameranya.
Setiap orang memiliki bahasa cintanya sendiri. Tidak semuanya berupa kata-kata.Sebagian berupa kerja keras. Sebagian berupa waktu. Sebagian berupa pengorbanan. Sebagian berupa keputusan-keputusan yang bahkan tidak diketahui orang lain. Dan mungkin, cinta memang paling sering berbicara dalam diam.
Setelah Anda menutup buku ini nanti, saya berharap Anda tidak berhenti pada nama-nama yang ada di dalamnya. Saya justru berharap Anda mulai melihat nama-nama yang belum tertulis. Cobalah pulang, lalu perhatikan rumah Anda. Mungkin ayah Anda adalah orang hebat yang tidak pernah merasa dirinya hebat. Orang yang diam-diam menunda membeli kebutuhannya sendiri agar Anda bisa sekolah.
Mungkin ibu Anda adalah perempuan yang setiap hari memasak tanpa pernah meminta penghargaan, tetapi dari tangannyalah seluruh keluarga belajar tentang kasih sayang.Mungkin kakek atau nenek Anda menyimpan cerita perjuangan yang belum pernah sempat Anda dengarkan. Mungkin tetangga Anda adalah seorang janda yang membesarkan anak-anaknya seorang diri. Mungkin guru SD Anda masih mengajar dengan semangat yang sama, meski puluhan muridnya sudah berhasil melampaui dirinya. Mungkin pedagang sayur langganan Anda bangun ketika sebagian besar orang masih terlelap. Mungkin tukang becak yang sering Anda tawar mati-matian sedang mengumpulkan uang agar cucunya bisa membeli seragam sekolah. Mungkin petugas kebersihan yang lewat setiap pagi sedang menabung untuk biaya pengobatan istrinya. Kita tidak pernah tahu.
Tetapi kita bisa memilih untuk mulai peduli. Mulailah dengan hal yang paling sederhana. Sapa mereka. Tanyakan kabarnya. Dengarkan ceritanya jika mereka ingin berbagi. Ucapkan terima kasih dengan sungguh-sungguh. Bayarlah dengan layak jika Anda mampu. Hormati pekerjaannya. Karena setiap pekerjaan yang dilakukan dengan jujur untuk menghidupi keluarga adalah pekerjaan yang mulia.
Buku ini juga mengajarkan satu hal kepada saya sebagai penulis. Ternyata menulis bukan hanya soal merangkai kata.Menulis adalah cara menghormati kehidupan.Ada begitu banyak kisah yang akan hilang jika tidak ada yang mau mendengarkannya. Ada begitu banyak nama yang akan dilupakan jika tidak ada yang bersedia menuliskannya. Saya sadar, buku ini tidak akan mampu memuat semua orang hebat yang pernah saya temui. Masih banyak cerita yang belum sempat saya tulis. Masih banyak tangan yang belum sempat saya salami. Masih banyak mata yang belum sempat saya tatap ketika mereka menceritakan hidupnya. Karena itu, saya berharap buku ini bukan menjadi akhir. Melainkan awal. Awal bagi saya untuk terus berjalan. Awal bagi Anda untuk mulai melihat.Awal bagi kita semua untuk lebih menghargai manusia. Suatu hari nanti, mungkin nama-nama dalam buku ini akan terlupakan. Kertas-kertas ini akan menguning. Sampulnya akan memudar. Tetapi saya berharap satu hal tetap tinggal, yaitu cara pandang kita. Bahwa kebesaran tidak selalu berbentuk sorak-sorai. Bahwa kepahlawanan tidak selalu memakai seragam. Bahwa cinta tidak selalu diucapkan.
Dan bahwa kehidupan yang paling bermakna sering kali dibangun oleh orang-orang yang tidak pernah merasa sedang melakukan sesuatu yang luar biasa. Jika setelah membaca buku ini Anda pulang dan memeluk ayah atau ibu sedikit lebih lama, buku ini telah menemukan rumahnya.
Jika Anda mulai menyapa pedagang langganan dengan namanya, buku ini telah bekerja. Jika Anda berhenti sejenak untuk menghargai orang-orang yang selama ini luput dari perhatian, maka semua perjalanan yang melahirkan halaman-halaman ini tidak sia-sia. Sebab pada akhirnya, kita semua akan dikenang bukan karena seberapa terkenal nama kita, melainkan karena seberapa banyak kehidupan yang menjadi lebih baik karena kehadiran kita.
Dan ketika suatu hari nanti anak-anak kita bertanya, "Siapa orang hebat yang pernah Ayah atau Ibu temui?", semoga kita tidak hanya menunjuk layar televisi atau halaman buku sejarah. Semoga kita bisa menunjuk ke arah dapur rumah. Ke warung di ujung jalan. Ke ruang kelas. Ke sawah. Ke gerobak sederhana di pinggir trotoar. Atau mungkin...
Ke cermin.
Karena setiap orang memiliki kesempatan menjadi orang hebat, bukan dengan menjadi luar biasa, melainkan dengan memilih untuk tetap berbuat baik, tetap bekerja jujur, tetap mencintai, dan tetap berdiri ketika hidup terasa berat.
Dunia memang dibangun oleh orang-orang besar. Tetapi dunia dipertahankan oleh orang-orang biasa yang setiap pagi memilih untuk tidak menyerah.
No comments:
Post a Comment