Monday, June 29, 2026

KELANA - Ngamen Foto dari Kabut Dieng ke Jalan Kota Lama Banyumas

Kabut dan kamera imaginer

Kelana lahir di Banjarnegara. Masa SD-nya habis di antara kabut Dieng dan suara gemericik sungai Serayu. Kamera belum ada, tapi kebiasaannya sudah terbentuk: berhenti sejenak, mengamati bentuk dan  menyimpan detil. Embun di daun teh. Uap nasi di warung pagi. Keriput tangan simbah penjual getuk. Semua terlukis dalam kamera imajinernya. "Banjarnegara ngajarin aku bahwa momen bagus itu cepat datangnya, juga cepat perginya. Kalau kamu nggak peka, dia lewat begitu aja." katanya

JAKARTA: Sekolahnya Teknik dan Kesabaran 

Masa remaja membawanya ke kota. Empat tahun di Institut Kesenian Jakarta mematangkan kepribadiannya. Kelana lulus sarjana, lalu Jakarta menahannya lebih lama di dunia kerja: memotret event, melukis produk dan wajah-wajah yang selalu buru-buru. Jakarta mengajarkan dia teknik pencahayaan, komposisi dan  sudut pengambilan yang dramatis. Tapi setiap pulang kerja, fikirannya makin menjadi: merindukan suasana tanah Banjar yang dingin ketika habis hujan.

Pulang dengan satu tekad

Sekitar tahun 2023, Kelana memilih pulang. Bukan pulang rebahan, namun pulang untuk merintis. Usahanya sederhana:  ngamen foto  dan menyewakan baju adat. Titiknya di antara Banjarnegara dan Banyumas. Tapi tiga tahun ini, kakinya lebih sering berhenti di Banyumas. "Di sini tuanya masih bisa diajak ngobrol," ujarnya sambil nyetel kamera DSLR kuningnya.

Ngamen foto jadi cara dia kenalan dengan Banyumas. Tidak menunggu klien datang. Dia yang datang ke momen: wedding kecil di kampung, ulang tahun anak, prewedding yang nggak mau ribet. Hasilnya langsung jadi, ceritanya langsung bisa dibawa pulang.

Titik Rumahnya Kelana 

Kalau ditanya "basecamp"-nya di mana, Kelana nyebut tiga tempat favoritnya. Dari ruas jalan kota lama, homestay Hadi prayitno dan rumah roti Mruyung.

  • Sepanjang Jalan Kota Lama Banyumas. Ini ruang tamunya. Tertata artistik oleh perpaduan batu jalan, tembok tua, lampu gantung yang baru nyala ketika senja. Di sini dia "ngamen foto" sambil ngobrol sama tukang becak. "Kota Lama itu buku sejarah yang halamannya bisa kamu injak," katanya.
  • Homestay Hadi Prayitno. Ini adalah  ruang keluarga. yang dipenuhi rumah, furniture dan ornamen kayu jati tua, halaman rindang ditumbuhi pohon ketapang,, sejuknya kolam dan ikan koi yang indah Mas Hadi yang familiar menyapa tamu seperti saudara. Di sini Kelana sering dipercaya memotret wedding intimate dan family portrait. "Cahaya di sini mengajarkan aku bahwa  indah itu nggak harus ribut."
  • Rumah Roti Mruyung Banyumas. Ini plot twist-nya. Dulu rumah ini adalah pabrik roti tradisional, sekarang berkembang jadi galeri seni, spot foto, homestay  sekaligus penyewaan baju adat Tiong Hoa. Subuh-subuh Kelana sudah nongkrong: motret asap roti, tangan mbak-mbak pengemas, lalu geser motret anak muda yang sewa cheongsam buat foto estetik. "Roti Mruyung itu Banyumas banget. Dari dapur orang kerja keras, sekarang jadi panggung anak muda berkarya."

Pandangannya untuk Alun-Alun  Banyumas  

Ketika aku singgung Alun-alun Banyumas sebagai titik favorit. Kelana diam, menatap lensa kameranya dulu.  Sesaat sambil menghela nafas Kelana menyatakan "Alun-alun Banyumas itu masih cukup eksotis," katanya pelan. "Pohon beringinya tua. Anginnya masih sama kayak waktu aku kecil pulang kampung. Sore-sore anak-anak main layangan, bapak-bapak ngopi. Jiwanya Banyumas belum hilang." Namun, munculnya papan-papan reklame membuat tidak orisinil. Padahal Alun-alun menurutnya merupakan wajahnya Banyumas. Seharusnya yang ditonjolkan justru tuanya, bukan LED yang bisa kamu temuin di kota mana aja. Sayang kalau eksotisnya kalah sama neon. Bagi seorang Kelana, kejujuran itu dua arah. Jujur memotret yang indah. Jujur juga memotret yang perlu dijaga.

"Aku Kelana. Lahir di Banjarnegara, dididik Jakarta, dan sekarang belajar pulang. Pulangnya nggak bawa koper. Pulangnya bawa lensa, baju adat, dan kamera kuning. Rumah baruku: Banyumas."

No comments:

Post a Comment