Tuesday, May 26, 2020
Apa bagian yang paling susah dari menulis sebuah buku?
Monday, May 11, 2020
Tips dan Trik Menulis Buku ala Hendra Wisesa
Membaca
Untuk dapat menulis buku tertentu, beberapa tips yang dapat kita lakukan ada 3, yaitu: (1) fokus membaca buku2 dengan tema atau bidang sesuai tema buku yang akan kita tulis (2) menguasai pedoman EYD, untuk menghindari salah tulis kata, ejaan, tanda baca dan gaya bahasa. (3) kuasai tatacara dan teknik menulis buku
Menulis
Untuk dapat menyelesaikan proyek penulisan buku perlu kemampuan dan kemauan yang tinggi sejak awal. Karena pengalaman saya pribadi menulis buku, masalah yang muncul justru bukan pada masalah teknis menulis. Namun lebih banyak masalah non-teknis dan kemauan. Seperti saya bahas dalam tulisan "Apa bagian paling sulit ketika menulis buku?" sekaligus beberapa alternatif solusi untuk keluar dari permasalahan itu.
Komunitas
Penting bergabung dalam komunitas, karena ibarat kita senantiasa dekat dengan "tungku perapian" semangat kita untuk mrnulis, senantiasa membara. Untuk itu ketika bergabung kita harus aktif. Selain itu, bersyukur jika kita dapat bergabung dengan komunitas yang terkenal. Komunitas yang sudah besar namanya, mampu mendorong kepakan sayapnya, bagi burung kecil yang baru belajar terbang.
Sementara itu, dalam trik menulis, Mas Hendra menyarankan agar menulis tema buku yang diminati (Pro-pasar) dan tema yang tidak pernah usang, atau senantiasa segar (ever green). Caranya bisa browsing di internet atau sesekali ke toko buku.
Saturday, May 2, 2020
Menilai Sistem Belajar Dari Rumah di Tengah Pandemi*)
dari rumah ( lockhome ).
Lockhome merupakan sesuatu yang baru, belum pernah ada dalam situasi normal. Berlaku secara tiba-tiba, dan tentunya banyak hal yang belum disiapkan dan belum siap menghadapi keadaan. Dalam dunia pendidikan, maka fihak-fihak yang belum disiapkan dan terkesan belum siap adalah (1) unsur siswa/mahasiswa/santri (2) unsur dosen/guru/Ustadz (3) unsur orang tua/wali dan ,(4) unsur pemerintah dalam hal ini kampus/sekolah/pondok sebagai penyelenggara pendidikan.
Ketika diberlakukan lockhome seluruh kegiatan rapat, kuliah atau belajar, ujian, wisuda, kursus pengayaan yang biasanya dilakukan rutin di sekolah, tiba-tiba harus diselenggarakan secara online karena pesertanya berada di rumah masing-masing. Keadaan seperti ini tentunya membawa konsekuensi yang luas. Termasuk di dalamnya kesiapan anggaran untuk kuota data , ruang dan sarpras koneksi internet, (hp/laptop/komputer, camera, aplikasi-aplikasi video conference), kesiapan dan kemampuan petugas (download, instalasi, mempelajari dan mentaati prosedur. Belum lagi menerapkan sistem belajar online. Pendek kata, dalam sekejap kita dituntut harus bisa menguasai "tetek-bengek' teknologi informasi dalam pembelajaran.
Berbagai bentuk model pembelajaran di tengah pandemi
Dari tingkat kesiapan itu, menyebabkan bervariasi pula model belajarnya. Saya mendengar dari para guru, mengikuti grup media sosial dan chatting ada sekolah yang memberlakukan online dan ada yang tidak, karena alasan ketersediaan koneksi dan perangkat lainnya. Sekolah yang tidak memberlakukan belajar online, selama lockhome dilakukan dengan cara membagikan soal yang difoto-kopi "door to door" kepada siswa, hanya memberi pesan agar siswa belajar secara mandiri di rumah. Ada pula yang berharap, meminjam istilah Prof. Imam Robandi, adanya keajaiban bahwa pandemi ini segera berakhir.
Sementara itu, sekolah yang memberlakukan pembelajaran online pun bervariasi model belajarnya. Dari model belajar yang membagikan soal dengan mengirimkan foto soal dan siswa menjawabnya dengan menulis pesan yang berisi jawaban. Ada pula sekolah yang menerapkan model belajar ceramah, dalam bentuk rekaman audio atau video, kemudian siswa menjawabnya dengan menulis pesan yang berisi jawaban. Ada sekolah yang menerapkan model belajar dengan tanya jawab. Model ini terasa lebih interaktif dan lebih kompleks persiapanya. Karena untuk pembelajaran model ini membutuhkan aplikasi untuk melakukan panggilan dengan video secara timbal balik. Meskipun sebenarnya sudah banyak tersedia aplikasi semacam ini dari yang sederhana dan gratis seperti WhatsApp, Jitsi meet hingga yang canggih dan berbayar seperti G-suite dan zoom meeting.
Selain dari ketiga model belajar di atas, ada juga sekolah yang menerapkan model diskusi. Guru dalam hal ini sebagai host yang bertindak selaku moderator atau penilai. Siswa atau mahasiswa sebagai client mengerjakan tugas individu secara mandiri dalam format essay dengan sumber referensi online, baik buku maupun jurnal ilmiah. Selanjutnya tugas para siswa adalah memaparkan jawaban tugas mandirinya di hadapan guru dan siswa lainnya secara online. Setelah itu, moderator membuka sesi diskusi dan tanya jawab.
Menakar validitas penilaian belajar online
Dari berbagai model belajar online di atas, tentulah model terakhir yang paling kompleks persiapanya. Tetapi memiliki efektivitas pembelajaran yang lebih baik. Beberapa hal yang bisa kita catat dalam hal arah komunikasi, keterlibatan antara guru dengan siswa dan keadilan penilaian.
Dalam model belajar ini baik guru maupun siswa menyiapkan bahan belajar maupun laporan tugas individualnya dengan sebaik-baiknya, tidak memungkinkan untuk membocorkan soal dan mencontek jawaban teman, karena penugasan bersifat individual. Tugas yang harus disusun berbeda antar siswa. Sehingga lebih adil untuk menilai kemampuan individu siswa.
Namun, bukan tanpa kelemahan dari model belajar online seperti ini. Ada bahaya plagiarisme di sana!. Untuk itulah kesiapan guru juga menjadi tantangan. Pengetahuan guru dituntut harus update. Juga kemampuan penguasaan tools anti plagiarisme yang sudah banyak tersedia di dunia maya. Jika beberapa hal tersebut sudah disiapkan, nampaknya kita bisa mendampingi siswa meraih prestasi dan hasil belajar yang membanggakan di tengah pandemi yang belum diketahui akan berakhir kapan.
Mari kita sambut hari pendidikan dari rumah.
(* Diadaptasi dari tulisan Prof. Imam Robandi-Guru Besar, Departemen Elektronik ITS yang berjudul "Bersekolah di Rumah"
Friday, May 1, 2020
Setiap orang (Kebumen) berhak untuk sejahtera
Topik ini menjadi sangat penting untuk saya tulis, karena saya meyakini bahwa masyarakat Kebumen suatu masa dapat meraih kesejahteraan. Terbebas dari belenggu kemiskinan. Seperti yang diberitakan di media massa maupun media pemerintah. Kebumen saat ini menyandang masalah kemiskinan tertinggi di Jawa Tengah. Kalau ini adalah sebuah visi atau harapan, maka saya ingin sekali menuliskannya. Paling tidak karena tiga alasan. Pertama, saya yakin bahwa visi itu realistis dan dapat dicapai. Karena menjadi sejahtera adalah hak rakyat dan sudah menjadi kewajiban pemerintah bersama rakyat untuk mewujudkannya.
Kedua, saya mengalami sendiri. Meskipun saya tidak lahir di kebumen, namun keseluruhan masa hidup saya lebih banyak tinggal di kebumen. Saya banyak mengenal orientasi nilai dan budaya, kehidupan, mata pencaharian, bahasa dan sistem kekerabatan serta tradisi masyarakat Kebumen. Secara tipologi budaya, banyak pakar mengakui bahwa masyarakat Kebumen memiliki karakteristik budaya yang positif seperti keeratan sosial dan nilai juang yang tinggi serta terbuka. Nilai budaya ini dapat menjadi modal dasar yang besar untuk membangun Kebumen yang maju. Dengan pemimpin yang berpijak pada kepentingan rakyat Kebumen, visi itu akan dapat diwujudkan.
Ketiga, saya merasakan bagaimana sesaknya dada ini ketika saya mendengar kabar santer , meski hanya cerita dari mulut ke mulut, di tengah kita masih banyak masyarakat yang rela bahkan bersikeras agar dicatat sebagai orang miskin. Alasannya sederhana. Untuk mendapatkan bantuan. Sementara, masih ada ratusan bahkan ribuan orang lainnya, yang nyata miskin bahkan sangat miskin, tidak tercatat. Akibatnya selalu lolos dan terabaikan dari fasilitas dan bantuan bagi orang miskin.
Harapan setiap orang Kebumen sejahtera saya yakin akan terwujud. yaiitu sejahtera yang sesungguhnya, bukan karena program bantuan. Namun sejahtera karena kekuatan dan kemampuan yang lahir dari masyarakat, sebagai akibat dari keyakinan nilai agama yang dijunjung tinggi, kekuatan berusaha dan kebersamaan membangun antara masyarakat, pemerintah, dunia usaha, pendidikan dan tenaga kerja. Meskipun hubungan antar sektor itu, kondisi saat ini terasa tidak saling berhubungan. Sebut saja anatara sektor pendidikan dan tenaga kerja, menunjukkan hubungan yang tidak linear. Output dunia pendidikan mestinya memberi sumbangan bagi pemenuhan kebutuhan tenaga kerja. Sehingga jika dihubungkan dengan kesejahteraan, maka meningkatnya jumlah lulusan perguruan tinggi, mestinya mengindikasikan meningkatnya kesejahteraan. Bukan sebaliknya. Barangkali inilah tantangan dunia pendidikan dan tenaga kerja kita.
Tentunya butuh sebuah konsep membangun yang komprehensif dan terencana. Komprehensif, karena untuk mewujudkan kondisi masyarakat yang sejahtera sangatlah banyak komponen yang harus disempurnakan. Baik infrastruktur, ekonomi, sosial, pendidikan dan ketrampilan, pelayanan kesehatan maupun lingkungannya. Terencana, artinya harus memiliki tahap-tahap pencapaian yang terukur yang mencerminkan strategi dan priotitas penyelesaian masalah yang dibutuhkan masyarakat untuk mencapai kesejahteraan.
Konsep sejahtera dan tantangan yang dihadapi masyarakat Kebumen saat ini
Menghimpun kekuatan Kebumen
Menggagas strategi dan memetakan jalan kesejahteraan Kebumen
Penutup
(Maaf belum selesai)
Selamat memperingati Hari Pendidikan dan Hari Buruh 2020
dari rumah Perumahan Bougenville, 02 Mei 2020
Thursday, April 16, 2020
Mengikuti Kursus Menulis Buku MPI, hasilnya Buku "keroyokan" Pendidikan Era Milenial
Ini adalah sebuah karya tulis "keroyokan" saya dalam bentuk buku antologi. Adalah pengalaman yang sangat langka bisa bergabung menulis buku dengan para penulis produktif dan berpengalaman Riza A. Novanto, Miftah Indy Nugroho, Siti Waeroh dan Elsavia Nindiana Solekhayati.Pengalaman ini saya sebut langka karena ide menulis buku antologi ini awalnya adalah diskusi kecil para peserta kursus menulis. Namun berkat mentoring hebat dari pembimbingnya, yang sekaligus bertindak sebagai editor, akhirnya terwujud juga mimpi menulis buku. Buku ini saya rasa sangat relevan untuk orang tua, guru/ustadz/dosen dan pejabat yang concern dengan pendidikan anak milenial.
Dalam buku antologi Pendidikan Era Millenial ini saya"menggugat" atas hilangnya makna mendidik dalam kehidupan milenial. Karena mendidik sejatinya hal yang sangat penting yang harus dilakukan orang tua pada anaknya. Diperintahkan Allah dan disyari'atkan Rasulullah. Mendidik adalah proses panjang membangun karakter dan budi pekerti anak, melalui keteladanan perilaku dan sifat orang tua. Anak akan mencontoh dan menyimpan ke dalam jiwanya apa yang ia lihat dari orang tuanya. Namun perkembangan teknologi informasi telah membawa perubahan yang sangat dahsyat kearah disruptif. Sayangnya sebagian besar orang tua tidak siap. Alih-alih orang tua melimpahkan tanggung jawabnya kepada guru atau sekolah.
Orang tua berharap pada guru atau sekolah dapat memikul tanggung jawabnya dalam mendidik anak. Namun sistem pendidikan dan kurikulum sekolah telah "menjauhkan" anak dengan nilai-nilai karakter dan budi pekerti. Anak-anak milenial menghadapi persoalan yang serius. Di rumah, ia tidak menemukan sosok orang tua. Di sekolah ia banyak dijejali berbagai ilmu pengetahuan dan ketrampilan teknis. Namun tidak jiwanya, kosong-jauh dari nilai, karakter dan budi pekerti. Akibatnya, anak mencari solusi dari lingkunganya. Di era milenial, anak-anak tidak lepas dari gadget, terkoneksi internet, terhubung media sosial dan kepemilikan berbagai akun untuk update informasi. Dalam kondisi seperti ini, generasi milenial rawan terjerumus dalam permasalahan pergaulan bebas, penyimpangan seksual, narkoba, korban penipuan, dan kekerasan fisik.
Sebenarnya anak-anak sangatlah memerlukan pengawasan, Komunikasi dan kepedulian orang-orang terdekatnya, seperti guru, keluarga atau orang tuanya. Mereka juga memiliki kepedulian terhadap persoalan sosial, memiliki minat terhadap hal2 baru, melek teknologi dan sangat kreatif. Untuk mengembalikan aspek karakter dan budi pekerti yang "hilang" dalam pendidikan anak, harus dimulai dari upaya memperbaiki kualitas komunikasi antara anak, orang tua dan guru. Gerakan "2 jam kumpul tanpa gadget" merupakan upaya riil orang tua memperbaiki hubungan dengan anak. Dengan mengambil posisi "mendengar efektif", orang tua sedang menumbuhkan kepercayaan, juga martabatnya.
Wednesday, February 26, 2020
Mengenang asyiknya sarapan "Burgo" Palembang
Pagi buta di hari ke dua saya di Palembang, awal mulanya keseruan itu terjadi. Ketika Bang Hens, demikian kami memanggilnya-Ketua Biro Humas Asosiasi yang sangat enerjik, inspiratif dan "gila" ide-idenya itu menghampiri di lobi hotel. Saya diajaknya jalan-jalan menyusur pusat kota hingga sampailah ke suatu tempat. "Disini pusatnya oleh-oleh khas Palembang berselera" ajaknya sambil membuka pintu mobil dan mengajak saya turun.Saya baru tahu, ternyata selain mpek-mpek, kota Palembang ini memiliki banyak jenis kuliner lain yang tak kalah lezatnya, diantaranya Burgo Palembang. Sembari menunggu pesanan Burgo, saya pun banyak cari tahu istimewanya burgo ini.
Sehat dan bergizi
Burgo adalah makanan ini sehat dan bergizi. Karena Burgo Palembang terbuat dari bahan dasar ikan dan disajikan berkuah santan, sehingga mengenyangkan dan membuat badan berstamina kembali apalagi jika disantap hangat untuk sarapan pagi. Terbayang kelezatannya, perpaduan kenyalnya adonan burgo yang berbentuk gulungan tepung dalam kuah santan gurih atau pedas bertabur bawang goreng. Bahan utama burgo terbuat dari campuran tepung beras, tepung sagu tani, air kapur sirih, air, dan sedikit garam. Semua bahan tersebut dicampur hingga merata dan bertekstur encer. Teksturnya harus benar-benar tepat agar menghasilkan burgo yang kenyal dan tidak mudah sobek.
Kelezatan lain dari Burgo Palembang adalah kuahnya berbahan dasar ikan. Jenis ikan yang biasanya digunakan untuk membuat kuah burgo adalah daging ikan gabus segar tanpa tulang. Ikan gabus yang sudah dipisahkan dari tulangnya sebelum dicuci bersih, dikukus hingga matang, lalu dihaluskan. Dan dicampurkan dengan bumbu-bumbu lain.
Untuk sarapan pagi, OK
Di Palembang kita bisa menemukan banyak penjual Burgo di pagi hari. Karena sudah menjadi tradisi masyarakat Palembang makan burgo untuk sarapan pagi. Namun, kita juga dapat menyantapnya untuk siang atau malam. Tinggal kita sesuaikan porsinya. Di Rumah makan "Pak Raden" ini siap buka sehari penuh menyediakan burgo dan makanan khas Palembang lainnya. Jadi sebelum beraktivitas pagi, bisa memualinya dengan sarapan burgo. Seperti yang hari ini saya lakukan. Terimakasih Bang Hens, semoga jadi amal baik.
Wyndham Opi Hotel, Palembang, 27 Februari 2020
Sate telur gulung: melegenda dan digemari di negeri Jakabaring
Sate telur gulung yang terbuat dari telur yang digoreng dan digulung dengan sedikit garam dan ditusuk pakai lidi atau bambu itu, sejatinya merupakan jenis jajanan jadul era 90-an. Namun hingga saat ini masih banyak ditemui dan mulai marak kembali. Saat ini sate telur gulung dijual dengan banyak variasi bahan atau pun sambalnya. Sejak dari bahan telur yang original sampai dengan isi sosis, bakso dan daging. Dari sambal kacang, kecap, saus tomat maupun mayones. Hingga banyak orang mencoba mengadu nasib untuk menjajakan jajanan legendaris ini.Seperti halnya Adi sekitar 35 tahun usianya. Seorang pemuda yang mencoba bertahan di kota "empek-empek" Palembang ini dengan menjajakan sate telur gulung secara berkeliling. Dengan bermodalkan sepeda motornya, Adi berjualan secara berpindah-pindah, pada jam tertentu mengikuti keramaian pembelinya. Selepas Dzuhur, seperti saat aku menemuinya, Adi mangkal di jalan stasiun LRT Jakabaring. Siang itu, bersama kru TV dan Radio aku ditugaskan mengikuti Rakornas di Palembang. Untuk mencapai ke tempat lokasi acara, setelah 30 menit dari Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II menggunakan kereta api cepat, rute perjalanan berikutnya menggunakan taksi online. Sambil menunggu pesanan taksi datang, saat itulah pandanganku tertuju pada penjaja sate telur gulung, dekat sebuah halte. Hingga aku mengajukan beberapa pertanyaan pada penjualnya.
Adi belum menjawab pertanyaanku, apakah daganganya itu bisa habis hingga sore ini. Namun, aku memperoleh jawabnya, ketika serombongan anak sekolah berseragam SLTA datang dan mengerumuni dagangannya. Bersamaan taksi online pesananku datang, akupun minta pamit. Meski tidak begitu jelas, aku mendengar anak-anak sekolah itu sedang memesan jajanan kesukaanya. Dalam hati aku mengakui bahwa sate telur gulung ini menjadi jajanan dari generasi ke generasi.
Cokroaminoto-Wyndham Opi, Palembang, 26 Februari 2020
Thursday, March 28, 2019
Ekspedisi Tanjung Puting
Selamat datang di Desa Sikonyer
Setelah perjalanan dua jam menyusur sungai, sampailah saya di desa sungai sikonyer. Warna air sungai tidak lagi biru, bening, namun berwarna coklat. Mungkin karena air tawar keruh, akibat banyak akar pohon yang terendam. Ada bangunan dari kayu yang dicat putih biru menyerupai pintu gerbang desa, di pinggir sebelah kiri badan sungai. Tidak seperti di hilir yang berair laut hingga payau. Di hulu sungai, air sungai sudah tawar. Tumbuhan pun terlihat lebih bermacam-macam jenisnya. Lebih ke hulu lagi, kami jumpai ada perahu parkir. Sepertinya perahu pengunjung "Rimba Lodge and Restaurant".
Di menit ke 150, kami bertemu kapal dari arah yang berlawanan. Terlihat dua turis asing, melambaikan tangan ke arahku. Akupun membalas lambaian tanganya sembari tersenyum. Sementara tanganku terus menulis laporan perjalanan ini. Makin ke hulu, lebar badan sungai seperti menyempit, dengan sesekali berkelok. Kami bersama 30 orang lainya, rombongan diklat dari Semarang. Sebagian besar, mereka tertidur karena terlelap dibuai halus suasana alam hutan. Dan mereka bangun, ketika bocah awak perahu, yang bercelana pendek itu memberi isyarat dengan membawa baki berisi pisang goreng, dan dua ketel berisi teh dan kopi. Kamipun semua, seketika bangun. Kemudian menyantap pisang goreng panas yang dipotong kecil. Dengan dua gigitan sepotong pisang goreng itu habis. Hingga datang paket pisang goreng susulan. Tidak lebih dari 10 menit, hidangan itupun habis! Dalam sekejap, hidangan itupun habis. Bahkan ketika bocah awak perahu itupun mengemasi piring-piring itu. Bersih Tak bersisa!
Udarapun mulai terasa lebih sejuk. Sesekali angin bertiup agak kencang dari lambung perahu. Kicau burung bersahutan, dengan warna-warni biru-orange-hitam, terasa seperti melihat lukisan alam. Sangat indah.Tidak lama berselang, rombongan bertemu dengan dua perahu motor tempel. Melaju dengan kecepatan penuh. Sekilas terlihat dari atas perahu, dua perahu motor tempel itu membawa barang dagangan. Sepertinya mereka seorang pedagang.
Memasuki hutan Kalimantan
Setelah kurang lebih perjalanan menempuh tiga jam, 16 menit, kamipun sampai di suatu tempat pendaratan perahu. Kamipun turun dan memasuki hutan.. Setelah berjalan masuk hutan sejauh dua kilometer dengan melewati jembatan kayu yg ditata apik, dan jalan tanah sedimen, pasir putih kamipun sampai di "rumah" orang hutan. Hewan yang dilindungi, menjadi ciri khas daerah tanjung putting. Dengan sebuah panggung papan kayu ulin, kurang lebih seluas 6 m2, diletakkan beberapa buah pisang. Tempat itu dijadikan tempat berjemur, bermain dan menyusui bagi para orang hutan.
Sepertinya tempat ini sengaja dibuat sebagai tempat "laktasi orang hutan.
Waktu bermain dan menyusui di tempat itu, tidak lama. Berkisar dari jam 09.00-11.00. Dan benar, sekitar jam 11.15 orang hutanpun mulai masuk ke dalam hutan. Dibalik rimbunya tanaman hutan, kita tidak tahu apa yang dilakukan orang hutan selanjutnya. Namun orang-orang yang "bertamu" menyaksikanya, harusnya berubah pola parentingnya. Karena sesungguhnya menyusui itu, tidak sekedar memasukkan makanan, air susu ke anak bayinya. Namun, lebih dari itu, sang ibu sedang memberi makan jiwa anaknya dengan kasih sayang. Sehingga tidaklah heran, jika anak sekarang banyak yang tumbuh besar, berpenampilan menarik, namun keropos moralnya. Karena si-anak hanya diberi makan fisiknya, namun tidak jiwanya.
Cokroaminoto
Tanjung puting, 28 Maret 2019
Wednesday, June 6, 2018
Membangun Budaya Menulis di Kalangan Santri*)
Disadari atau tidak, saat ini masyarakat terutama kaum muda telah mendiami alam digital dengan menjadi warga netizen. Setiap hari masyarakat disibukkan dengan permasalahan internet, kuota dan koneksi dengan dunia maya. Kaum muda di jaman now, setiap saat tidak bisa lepas dari gadget, smartphone, laptop dan komputer. Kondisi semacam ini, menjadi tidak relevan jika pendekatan kajian, dakwah dan dialog masih menggunakan cara-cara tradisional. Sudah saatnya kita melayani mereka dengan pendekatan yang lebih kekinian, menyesuaikan tempat hidupnya sekarang. Sarana komunikasi di jaman digital mampu menembus ruang dan waktu, mengatasi jarak dan melampaui ruang yang terpisah jauh.
Teknologi informasi dapat melipatgandakan kecepatan penyampaian pesan.
Namun bukan tanpa kendala.Untuk dapat berkomunikasi melalui media informasi dibutuhkan semangat dan kemampuan menuliskan pesan-pesan dakwah. Karena pada hakikatnya berdakwah itu menyerukan untuk berbuat kebaikan dan mencegah kemungkaran. Diakui atau tidak, saat ini tradisi menulis di kalangan santri kurang terbina dengan baik. Santri lebih banyak didorong untuk melakukan komunikasi dialogis secara konvensional.
Penulis versus Pengarang
Antara penulis dengan pengarang sepintas memiliki kesamaan pengertian, namun sebenarnya memiliki perbedaan yang nyata. Seorang penulis, menuangkan ide dan karya tulisannya berasal dari bahan, ilmu dan pengetahuan yang diperoleh dari proses membaca. Membaca karya tulis, buku atau hasil karya ilmuwan/penulis lain. Sehingga untuk dapat menulis bagus, menghasilkan karya tulis yang mengesankan seorang penulis harus banyak dan rajin membaca.
Penulis juga Pendakwah
Pada hakikatnya seorang penulis juga seorang pendakwah, jika tulisan-tulisannya dapat menggerakkan orang lain untuk melakukan kebaikan dan mencegah orang lain melakukan keburukan.
Berdakwah di Era Digital
Dakwah di era digital tidak lepas dari aturan-aturan berkomunikasi secara elektronik. Dengan menggunakan alat-alat komunikasi yang serba canggih, seperti smartphone memungkinkan seorang dapat berkomunikasi multi chanel, multi platform dan multi media. Maknanya bahwa seseorang dalam kecanggihan teknologi informasi saat ini dapat berkonunikasi dan dapat diakses dengan berbagai cara, oleh banyak orang sekaligus dengan berbagai macam alat yang digunakan. Sehingga jika seorang santri ingin berdakwah melalui tulisan misalnya, dan mengirimkan tulisan itu melalui media sosial dalam sekejap dan dalam waktu yang sama dapat dilihat oleh banyak bahkan berjuta orang. Sehingga tidak jarang suatu pesan yang disampaikan itu dapat bermanfaat, menghindarkan orang dari berbuat jahat dan mengembalikan anak-anak yang durhaka menjadi sholeh kembali. Namun tidak jarang pula, efek sebuah pesan menimbulkan kontroversi, polemik dan mencelakakan orang.
Melihat dampak dari pesan-pesan yang dikirim melalui transmisi (saluran) komunikasi ini Pemerintah berkewajiban memberi perlindungan dengan menciptakan regulasi atau aturan-aturan untuk menjaga kenyamanan proses komunikasi. Saat ini Pemerintah telah mengeluarkan Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) dalam rangka melindungi hak-hak warga negara dalam berkomunikasi.Hal-hal yang dilarang dalam kegiatan transaksi elektronik, antara lain:
- Sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan atau mentransmisikan dan atau membuat dapat diaksesnya informasi elektronik dan atau dokumen elektronik yang memiliki muatan yang melanggar kesusilaan.
- Sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan atau mentransmisikan dan atau membuat dapat diaksesnya informasi elektronik dan atau dokumen elektronik yang memiliki muatan perjudian.
- Sengaja, dan tanpa hak mendistribusikan dan atau mentransmisikan dan atau membuat dapat diaksesnya informasi elektronik dan atau dokumen elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan atau pencemaran nama baik.
- Sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan atau mentransmisikan dan atau membuat dapat diaksesnya informasi elektronik dan atau dokumen elektronik yang memiliki muatan pemerasan dan/atau pengancaman.
- Sengaja, dan tanpa hak menyebarkan berita bohong dan menyesatkan yang mengakibatkan kerugian konsumen dalam transaksi elektronik.
- Sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).
- Sengaja dan tanpa hak mengirimkan informasi elektronik dan atau dokumen elektronik yang berisi ancaman kekerasan atau menakut-nakuti yang ditujukan secara pribadi.
- Membangun semangat menulis
- Bagaimana menulis yang menarik
- Menulis di media sosial
*) Disiapkan untuk
Tuesday, August 8, 2017
Membangun personal branding (OPD) melalui tulisan*)
Membangun personal branding melalui tulisan
Mengapa tidak? Akhir-akhir ini, banyak dilakukan orang dalam membangun personal branding melalui tulisan. Tidak terbatas para tokoh, selebritri, politisi, calon pimpinan daerah, calon kepala sekolah, bahkan calon ketua OSIS pun telah banyak yang melakukan untuk membangun image tentang dirinya melalui tulisan. Medianya, ada yang berupa buku, buku ringkas (buklet), iklan di koran, website dan media sosial.
Bahkan dalam tulisannya seorang ahli pendidikan menyatakan sebagai sebuah langkah yang sangat efektif membangun personal branding dengan menulis. Mengapa begitu? Karena ketika anda berani mempublikasikan tulisan anda, itu berarti anda telah berbagi informasi atau ilmu yang bernilai dengan orang lain. Dan secara tidak langsung, anda memposisikan diri anda layaknya seorang ahli pada topik tulisan yang anda pilih. Setelah membaca tulisan anda, tentu orang ingin mengenal anda secara lebih dalam. Mereka juga ingin mengenal hasil karya anda yang lain, mereka bisa menemukan, serta bagaimana cara mendapatkannya. Pembaca atau masyarakat akan yakin bahwa anda adalah sosok yang kreatif dan berkualitas, berdasarkan kualitas tulisan yang anda bagi kepada mereka. Dan tidak segan-segan orang akan membaca dan membaca lagi tulisan-tulisan anda.
Mem-branding pelayanan OPD
Begitu juga dengan pelayanan OPD tempat kita bekerja. Seringkali kita dengar keluhan masyarakat terhadap pelayanan atau program OPD. Sebut saja, betapa media sosial selama tiga bulan terakhir ini banyak mengeluhkan jalan yang rusak dan bolong-bolong-hingga terkenal dengan sebutan jeglongan sewu. Belum lagi keluhan ribetnya pelayanan BPJS, naiknya harga pupuk, merebaknya wereng hingga gagal panen di beberapa tempat, banyak dikeluhkan warga. Sementara itu kita sebagai pelayanan masyarakat, merasa tidak kurang-kurang dalam menjelaskan, memberi penyuluhan, menulis rilis berita bahkan menulis pesan-pesan praktis yang berguna bagi masyarakat.
Tapi seberapa efektifkah tulisan-tulisan kita di web? Dapatkah kita mem-branding OPD kita melalui tulisan? Inilah sebenarnya pertanyaan-pertanyaan mendasar bagi seorang admin website. Agar dengan mudah pembaca mendapatkan alamat website kita. Karena di jaringan internet ini ada ribuan bahkan jutaan alamat web dan tulisan. Para pengunjung website ketika mencari artikel atau alamat website, seringkali hanya mengandalkan kata-kunci (key word) di halaman pencarian. Namun apa jadinya ketika tulisan atau alamat website kita itu tidak muncul dihalaman-halaman pertama pencarian. Jika demikian, sudah pasti, akan tidak dikunjungi orang.
Selain itu, kita juga perlu tahu bagaimana membuat tulisan dan berita yang kita posting, mampu menarik orang untuk membaca. Keluhan terbesar pengunjung website OPD adalah tidak menarik. Berita atau tulisan di website OPD seringkali terlalu panjang atau terlalu pendek, bahkan posting beritanya hanya berupa gambar. Tanpa keterangan pendukung yang memadai sehingga informasi yang diterima pembaca menjadikan tidak nyaman. Dalam kondisi seperti ini yang paling banyak dilakukan pengunjung, adalah meninggalkan website dan berganti mencari informasi dari alamat website yang lain. Akibatnya, tulisan, rilis, sosialisasi kita tentang layanan OPD, lagi-lagi ditinggalkan pembaca. Dan selama itu, program dan layanan OPD kita sepertinya tidak nyambung dengan permasalahan masyarakat.
Mem-branding OPD melalui tulisan yang SEO Friendly
Untuk mengatasi dua persoalan mendasar di atas, yang dapat kita lakukan adalah meningkatkan kualitas website. Website yang berkualitas tidak hanya bagus untuk mesin pencari (search-enggine), tapi juga untuk pembaca (human). Karena tujuan kita mengelola website OPD adalah menyajikan informasi yang mudah dicari dan disukai pembaca. Inilah yang disebut paradigma baru SEO-Friendly dalam konsep pengelolaan website.
Sehingga, ketika pengguna internet melakukan pencarian dengan memasukkan sebuah keyword, maka mesin pencari akan langsung merekomendasikan website OPD kita. Hasilnya, dengan teknik SEO friendly, jumlah kunjungan akan terus meningkat lebih cepat. Dan terwujudlah upaya kita mem-branding OPD.
Lalu, bagaimana cara mudah membuat website yang SEO friendly tersebut? Ada beberapa cara yang biasanya sering dipraktekkan oleh para pemilik website atau blogger. Biasanya, terkait dengan konten, keyword, serta desain dari website tersebut, selain juga menyematkan kode-kode pada HTML template-nya.
Inilah langkah-langkah praktisnya
Tips atau langkah-langkah mengelola website yang SEO friendly sebenarnya banyak sudah disarankan para ahli, namun langkah praktis ini saya peroleh dari penuturan Asrittada.
*) Disampaikan pada Workshop penulisan dan pengelolaan website instansi bagi Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Kabupaten Kebumen, Tahun 2017 di Ruang CAT Badan Kepegawaian Kab. Kebumen, 9 Agustus 2017.
Tuesday, June 13, 2017
Membangun kebiasaan menulis di lingkungan kantor KOMINFO
Membangun tradisi menulis
Untuk itu beberapa upaya yang aku lakukan adalah membangun tradisi menulis. Tradisi menulis bagi perorangan ditempuh dengan cara setiap pegawai melaporkan kegiatan perorangan atau kelompok dalam format berita yang disertai gambar. Selama ini, pegawai hanya mengirimkan gambar atau foto kegiatan melalui aplikasi group whats apps.
Sebagai upaya menanamkan tradisi menulis berita, maka untuk melaporkan kegiatan, pegawai diharapkan menyertakan keterangan gambar/foto kegiatan tersebut ke dalam format berita. Format berita dimaksud, minimal memuat komponen keterangan yang menjawab pertanyaan: what, when, where, why, who dan how (5W 1H). Dengan begitu, tradisi itu akan mendatangkan manfaat yang sangat luas. Di satu sisi, melatih pegawai menulis berita atas kegiatan yang menjadi tugas pokoknya. Di sisi yang lain, kita memperoleh bahan berita yang dapat disebarluaskan kepada masyarakat.
Membangun pola pemberitaan
Selama ini pola penayangan berita di Ratih TV, In FM dan Website Pemkab tidak terintegrasi, bahkan berbeda konten. Berita yang berasal dari Tim liputan Ratih TV dan In FM ditayangkan secara bersama pada saat sore hari, selama 30 menit. Sedangkan konten berita Website Pemkab lebih banyak berasal dari kegiatan OPD. Sehingga pernah terjadi berita di website, sudah beberapa saat tidak di update.
Namun, kondisinya sekarang berbeda. Saat ini Ratih TV, In FM, Website Pemkab Kebumen dan Website OPD Diskominfo, menjadi satu pengelolaan di bawah Dinas Kominfo Kebumen. Sehingga langkah-langkah yang aku ambil adalah membangun pola pemberitaan yang terpadu dan terintegrasi. Terintegrasi sejak dari liputan ke media penyiaran. Tim liputan terdiri dari unsur tv, radio, website dan media sosial. Tim liputan diperluas tujuannya untuk menjangkau berita yang lebih banyak. Targetnya adalah seluruh agenda kegiatan Bupati dan Wakil Bupati serta kegiatan penting lainnya di tingkat Kabupaten.
Seluruh berita yang masuk, setelah melalui tim editor disiarkan melalui Ratih TV, In FM, Website Pemkab Kebumen, Website OPD dan media sosial. Sehingga "Berita Terkini Kebumen" dapat diakses masyarakat melalui berbagai media penyiaran.
Menyambut kebijakan Pemkab
Standar pelayanan informasi publik #2-34-2#
Monday, February 27, 2017
Menyajikan tulisan dengan menarik*)
Namun tidak banyak yang menyadari, bahwa manusia terbatas dalam menyerap ilmu yang dia pelajari. Untuk itu, tepatlah kita jika mengikuti kata-kata bijak dari seorang shahabat Rasul "Ikatlah ilmu dengan menuliskannya".
Apa benar begitu? Tapi, mengapa jika ngobrol, bisa panjang dan berlama-lama, mengasyikkan dan sampai tidak ingat waktu?
Mulai menulis dari pengalaman pribadi
Setiap orang pastilah punya pengalaman belajar, pengalaman membaca dan pengalaman pribadi. Kita dapat mulai menulis dg menuliskan pengalaman pribadi kita yg paling berkesan. Sebagai contoh, sepanjang pagi hari ini hingga menjelang siang, tentulah banyak pengalaman atau kejadian yang menimbulkan kesan mendalam dan kitapun dapat mulai menuliskannya. Ambil atau mintalah selembar kertas kosong.
- Sekarang tuliskan apa pengalamn yg paling berkesan hari ini
- Kapan waktu tepatnya kejadian yg kita alami itu terjadi
- Dimana saat itu kita berada
- Dengan siapa saja yg terlibat, atau siapa saja yang membantu
- Coba ingat-ingat kembali kira_kira mengapa kejadian tersebut timbul
- Kemudian, apa pesan utk org lain, keluarga, masyarakat atas kejadian yg kita alami
(* Disampaikan pada Workshop penulisan dan pengelolaan website instansi bagi Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Kabupaten Kebumen, Tahun 2017 di Ruang Jatijajar Kompleks Pendopo Bupati Kebumen, 28-02-2017
Tuesday, January 24, 2017
Berbagi kebaikan dengan menjadi penulis ala Antoni Ludfi Arifin
Berbagi kebaikan dengan menjadi penulis! Inilah tema sentral dari sebuah buku "Be a Writer" karya seorang dosen, yang telah beberapa kali menerbitkan buku-buku seputar motivasi. Karena dengan menjadi penulis, seseorang sedang menebar pesan, menebar inspirasi, menebar energi hingga membangkitkan semangat dan kemaslahatan.Banyak kendala internal
Sayangnya untuk menjadi seorang penulis, seringkali banyak menghadapi kendala. Walaupun kendala atau hambatan tersebut lebih banyak muncul dari dalam diri kita sendiri. Mengapa bisa begitu? Tentu saja ya, karena sebenarnya setiap orang pada dasarnya cukup memiliki kemampuan untuk berbahasa. Dalam penguasaan bahasa secara lisan, seseorang relatif lebih lancar dalam berkata-kata. Bahkan ketika ada kesempatan ngobrol, seseorang dapat berjam-jam asyik membicarakan sesuatu, tanpa ada hambatan.
Namun, berbeda ketika seseorang harus menuliskan ide atau bahan pembicaraannya dalam tulisan. Nyatanya tidak semua orang dapat menulis, menyampaikan pesan dan idenya secara konstruktif dalam bentuk tertulis. Karena memang dalam bahasa tulis, dibutuhkan ketrampilan dan banyak berlatih. Dalam menulis, membutuhkan kemampuan memilih kata, kemampuan menyusun kalimat serta kemahiran memilih gaya bahasa.
Meneguhkan niat
Kunci keberhasilan dalam menulis adalah banyak berlatih. Namun, mendengar kalimat ini seringkali kita banyak yang menyerah kalah. Akibatnya, banyak orang bermimpi jadi seorang penulis, namun tidak banyak yang kuat memegang teguh impian menjadi penulis, dengan mewujudkannya melalui banyak berlatih. Sehingga di awal penulisan buku ini, Antoni Ludfi Arifin, beerulang-ulang menekankan pentingnya meneguhkan niat. Karena dengan niat yang kuat menulis, kita dapat membagi kebaikan dan membagi ilmu yang bermanfaat. Bukankah yang demikian ini, merupakan investasi dunia-akhirat?
Setelah memiliki kemauan dan niat yang kuat, maka untuk menjadi seorang penulis tinggalah mengatasi hal-hal teknis yang dapat diasah dan dipelajari sambil terus menulis. Hal-hal teknis tersebut menyangkut kemampuan menggali dan mengeksplorasi ide, memilih kata dan menggunakan kalimat yang "menyihir", mengembangkan wacana dan tema tulisan, hingga tulisan jadi dan mengirimkan naskah ke penerbit.
Membaca sebagai bekal menulis
Hal-hal teknis di atas yang dibahas dalam buku yang di katapengantari oleh Prof. DR. Erika Revida Saragih, M.Si tersebut dengan mudah dapat kita peroleh, ketika kita juga banyak membaca. Karena dengan membaca kita dapat mengetahui dan memperoleh pengalaman praktek penulis lain menyelesaikan hasil karyanya. Dengan membaca, dapat memperkaya kemampuan teknis yang sudah kita miliki.
Sunday, January 1, 2017
Tahun baru, Dinas baru
Tahun 2017 menghadirkan suasana baru, bagi pekerjaanku. Menyusul telah dilantiknya seluruh pejabat di lingkungan pemerintah kabupaten Kebumen oleh Bupati Ir. HM.Yahya Fuad, SE. Jumlah pejabat yang dilantik kali ini terhitung paling banyak, karena melibatkan lebih dari 800 orang pejabat. Pelantikan kali ini dilakukan dalam rangka perubahan nomenklatur organisasi perangkat daerah (OPD) yang baru.Dinas baru itu, bernama KOMINFO
Kali ini aku memperoleh penugasan baru di Dinas Kominfo (Diskominfo) Kabupaten Kebumen. Diskominfo merupakan OPD baru setelah dipisah dari Dinas Perhubungan. Diskominfo memiliki tugas pokok melaksanakan urusan dalam bidang pengelolaan data elektronik (PDE) dan bidang Komunikasi dan Informasi Publik.
Di bidang pengelolaan data elektronik, menjalankan urusan perencanaan dan pengembangan infrastruktur jaringan data elektronik, statistik dan integrasi sistem informasi serta urusan sandi dan telekomunikasi. Sementara itu, di bidang komunikasi dan informasi publik menjalankan urusan penyiaran termasuk pengelolaan Ratih-tv Kebumen dan Radio In-FM, Dessiminasi informasi dan analisis media, serta menjalankan urusan pengembangan media alternatif.
Banyak yang harus dibenahi
Bertugas di Dinas yang secara kelembagaan baru lahir, ternyata banyak hal yang menjadi tantangan dan harus dibenahi, termasuk struktur Kepala Dinas belum terisi, gedung yang sangat tidak memenuhi syarat menampung pegawai, serta terbatasnya tenaga administrasi.
Yang berbeda mutasi kali ini, selain menerima surat penempatan di tempat kerja yang baru, aku juga menerima surat perintah dari Bupati sebagai pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Kominfo. Tugas ini sangat mengejutkan aku juga sekaligus menjadi tantangan. Karena disamping tugas pokokku sebagai sekretaris, juga harus menjalankan fungsi-fungsi sebagai kepala dinas. Dengan berbekal kewenangan, tugas pokok dan fungsi Diskominfo yang diatur dalam Perda Kabupaten Kebumen Nomor 7 tahun 2016 dan Perbup Kebumen Nomor 77 tahun 2016, aku mulai melangkah melalui pendekatan manajemen berbasis kinerja. Sebagai lembaga pemerintah yang memberikan pelayanan publik kepada masyarakat, aku berfikir bahwa produk atau hasil kerja dinas memiliki nilai kemanfaatan yang tinggii dengan proses layanan yang efektif dan efisien.
Tantangan di tempat kerja baruku ini adalah gedung. Saat ini Dinas Kominfo yang terdiri dari bidang PDE dan bidang IKP serta unit sekretariat, menempati lokasi bidang kominfo lama di kompleks Dinas perhubungan. Jika dulu, bangunan itu sangatlah memadai untuk lokasi kerja satu bidang kominfo, namun dengan kondisi Dinas Kominfo saat ini, bangunan itu sangatlah minimalis yang padat penghuni.Belum lagi dari luas bangunan yang tersedia, hanya sekitar 70 % untuk kantor, karena 30% lainnya adalah ruang penyimpanan alat dan pengelolaan data center, server dari seluruh aplikasi sistem informasi dari banyak OPD di lingkungan Pemkab Kebumen. Aku jadi teringat syair lagu tempo dulu "gang kelinci". Dalam satu lahan bangunan yang sempit kami hidup, bekerja berinteraksi dengan berdesak-desakan. Persis kaya anak kelinci. Belum lagi lokasi bangunan gedung itu berhimpit antara halaman kantor dengan lahan parkir Dishub untuk kendaraan umum yang akan melakukan cek fisik kendaraan roda empat. Seringkali kami kesulitan masuk parkiran kantor atau keluar parkir, karena terhalang oleh berbagai jenis kendaraan yang berderet antri menunggu giliranuntuk uji dan cek fisik kendaraan.Meskipun di dalam rapat
Keterbatasan sumber daya staf, anggaran kegiatan perkantoran dan peralatan kerja
Selain keterbatasan infrastruktur gedung dan tempat kerja, di Diskominfo, juga mengalami kelangkaan staf, terutama staf administrasi. Tenaga staf yang ada di Diskominfo saat ini kebanyakan staf teknis baik di bidang PDE maupun bidang KIP. Staf teknis yang ada meliputi pranata komputer, jaringan, pemrogragaman, multimedia dll sebagai tim teknis di bidang-bidang yang ada. Meskipun, dari Setda Kebumen sebenarnya sudah mengantisipasinya dengan melakukan redistribusi staf, terutama ke organisasi perangkat daerah yang baru. Namun, pada kenyataannya di lapangan dapat berjalan berbeda. Sebagai contoh kecil, masih ada keinginan unsur kantor dinas yang lama untuk mempertahankan staf lamanya untuk tetap berada di lingkungannya. Sehingga tidak jarang, seorang staf sudah menerima penugasan ke suatu kantor dinas, namun oleh kantor dinas lamanya tidak mau "melepasnya" dengan tidak membuatkan surat penghadapan.
Dalam hal anggaran, sebenarnya perubahan adanya kantor dinas baru sudah diantisipasi penganggarannya. Namun karena anggaran disiapkan oleh pegawai yang dulu berada di bidang teknis, kurang mengetahui detail kebutuhan-kebutuhan sekretariat. Akibatnya beberapa kebutuhan untuk administrasi perkantoran sangatlah minim, bahkan untuk biaya suatu kegiatan yang nyaris tidak ada, atau hanya cukup untuk beberapa bulan, seperti kebutuhan anggaran listrik, air dan biaya telpon kantor.
Tugas ke depan: menuju pelayanan prima Diskominfo
Wednesday, December 21, 2016
Inilah buku pertama yang membuatku kuat untuk bisa menulis
Ketrampilan menulis bagi sebagian orang, dianggap tidak menarik. Begitu juga aku menganggapnya, sebelum aku membaca buku yang berjudul "Kreatif Mengarang" karya A. Widyamartaya, terbitan Kanisius-Yogyakarta. Tahun terbitnya, aku lupa tahun berapa. Buku itu awalnya aku menemukannya di Perpustakaan sekolah di SPG Negeri Pekalongan, sekitar tahun 1985.Mengenal dunia menulis
Saat itulah, aku baru mengetahui bahwa kemampuan menulis itu bukan bakat lahir, tetapi dapat dipelajari. Seseorang yang ingin dapat mahir mengarang atau menulis, haruslah rajin berlatih dengan bersungguh-sungguh. Karena tanpa keinginan kuat, seorang yang berkeinginan menjadi seorang pengarang atau penulis, pastilah tidak akan kesampaian. Sehingga kita bisa melihat banyak contoh, orang yang merasa gagal menulis, gagal mengarang, gagal menerbitkan buku dan seterusnya. Ini masalahnya karena seseorang tidak memiliki keingainan kuat untuk menulis.
Dengan keinginan kuat, seseorang akan giat dan banyak berlatih untuk menulis. Dengan banyak menulis, akan memacu daya imajinasi dan ide pokok tulisan., melatih ketrampilan memilih kata yang tepat, menyusun kalimat yang efektif, hingga menyusun paragraf yang dinamis dan saling berkesinambungan. Karena pada dasarnya sebuah tulisan itu tersusun oleh paragraf-paragraf. Sedangkan paragraf yang dinamis tersusun oleh minimal dua kalimat efektif. Dalam format bahasa Indonesia, kalimat akan efektif minimal mengandung unsur subyek dan predikat, atau subyek dan obyek, atau subyek dan kata keterangan.
Mengetahui beda menulis dan mengarang
Sepintas antara kegiatan menulis dan mengarang itu hampir sama, karena dua-duanya melalui proses kegiatan menulis dan menghasilkan sebuah karya tulis. Namun ternyata, keduanya memilikiciri-ciri yang berbeda terutama dalam proses menciptakan karya tulis. Dalam hal mengarang, seorang penulis mengandalkan kemampuan pribadinya, dalam hal mengambil ide dan tema karangan. Mengarang merupakan proses kreatif seseorang yang sangat tergantung dari imajinasinya. Sehingga hasil karya tulis pengarang sangatlah subyektif, tergantung kemampuan penulis menggali emosi-emosi pembacanya.
Berbeda dengan aktivitas menulis. Seorang penulis dalam menghasilkan karya tulis, sangat memerlukan konsep-konsep logis yang diperolehnya dari proses membaca dan atau proses 'melakukan penelitian' terhadap fenomena yang ada di lingkungan sekitar. Karena sebuah tulisan merupakan serangkaian penjelasan logis atas suatu kejadian menuju kebenaran. Sehingga seorang penulis yang berhasil, bukan dari panjangnya tulisan atau kemampuan menampilkan peran tokoh-tokoh utama dalam suatu peristiwa. Sebuah karya tulis yang berhasil ditentukan dari kedalaman analisisnya!
Mulailah dari ide pokok yang ditulis dalam kalimat lengkap
Awal mula sebuah tulisan atau cerita, adalah adanya ide pokok yang ditulis dalam kalimat lengkap. Ide pokok inilah yang mengikaat keseluruhan paragraf menjadi satu kesatuan tulisan yang koheren.
Bagaimana memulainya? Ide pokok merupakan sikap atau pandangan seorang penulis terhadap tema atau suatu pokok permasalahan. Dari sinilah kemudian penulis menguraikannya ke dalam sub-sub tema dalam paragraf-paragraf.
Di dalam pragaraf, penjelasan ide pokok itu disusun ke dalam kalimat utama dan kalimat kalimat penjelas dan menguraikanya menjadi informasi yang lebih detil.
Jangan lupa membuat out-line, untuk memet akan pokok pikiran penjelas
Agar paragraf-paragraf itu tidak lepas dari ide pokoknya, ada baiknya penulis menyarankan membuat out-line, atau kerangka karangan. Outline bisa juga berbentuk seperti daftar isi dalam sebuah buku.
Selain untuk menjaga kesinambungan dengan ide pokok, out-line yang kita buat juga bermanfaat untuk memetakan ide pokok tersebut ke dalam pokok-pokok pikiran secara lengkap, menyeluruh, sehingga dapat menjelaskan seluruh aspeknya.
Teknik mengembangkan paragraf
Di bagian akhir buku ini, diberikan beberapa teknik mengembangkan paragraf. Beberapa teknikyang masih aku ingat dan sering aku gunakan dalam menulis adalah teknik kronologis urutan waktu, urutan proses, teknik kontras dulu-sekarang, sebelum-sesudah.
Dalam menulis, aku juga sering menggunakan teknik D-A-M-K. Yaitu dengan mulai menulis "Duduk perkara" yang menjadi masalah utama. Kemudian dengan meng-Analisa-nya, dengan teknik-teknik di atas atau dengan teknik yang tidak kalah populernya adalah dengan menjawab rumus 5W+1H. Bagian selanjutnya, kita dapat menyajikan "Misal" atau contoh atau data penjelas. Dan dibagian akhir paragraf adalah memberikan "Kesimpulan". Dengan demikian, masing-masing paragraf dapat tampil dinamis, berdiri menjadi satu kesatuan ide pokok tulisan.


