Malam itu
saya sebenarnya ingin segera pulang.
Jam sudah
menunjukkan sekitar pukul tujuh malam. Jalanan Kebumen mulai ramai oleh
orang-orang yang baru selesai bekerja. Lampu toko menyala satu per satu. Motor
datang dan pergi. Udara masih menyimpan panas siang, bercampur dengan aroma
jamu seduh, asap knalpot, dan debu yang terangkat setiap kali kendaraan
melintas.
Saya
berhenti di depan sebuah toko jamu seduh Hoyan. Di dekat pintu masuk berdiri
seorang lelaki dengan senter kecil di tangannya.
"Parkir,
Mas? Monggo."
Ia
tersenyum. Saya menyerahkan motor kepadanya. Ia mengarahkan kendaraan saya ke
tempat yang kosong, kemudian membantu saya memastikan posisi motor tidak
mengganggu kendaraan lain. Gerakannya cekatan. Sederhana. Seperti orang yang
sudah sangat terbiasa melakukan pekerjaan itu.
Saya tidak
tahu namanya saat itu. Saya juga tidak tahu bahwa lelaki yang berdiri di depan
toko itu telah bekerja sejak sebelum matahari terbit. Namanya Arif. Usianya
sekitar empat puluh lima tahun. Dan ketika saya bertanya sejak kapan ia bekerja
hari itu, jawabannya membuat saya sedikit terdiam.
"Dari
pagi, Mas."
Saya kira
maksudnya sejak sore. Ternyata bukan.Sejak pagi. Pagi hingga siang ia mengayuh
becak. Sore hingga malam ia menjadi tukang parkir. Dua pekerjaan dalam satu
hari.
Bukan
karena ia sedang mengejar sesuatu yang mewah. Bukan untuk membeli mobil baru. Bukan
untuk berlibur ke tempat yang jauh. Ia bekerja karena di rumah ada anak-anak
yang harus sekolah. Ada istri yang juga berjualan dari rumah. Ada kebutuhan
yang harus dibayar. Dan ada satu hal yang sejak lama ingin ia berikan kepada
keluarganya: sebuah rumah milik sendiri.
Saya
mendengarkan ceritanya sambil sesekali melihat senter kecil yang masih ia
pegang. Cahayanya bergerak ke kiri dan kanan. Setiap ada motor datang, Arif
bekerja. Setiap ada motor pergi, Arif bekerja. Tidak ada tepuk tangan. Tidak
ada yang mengatakan, "Bapak hebat."
Tidak ada kamera yang merekam. Tidak ada penghargaan yang menunggu di
ujung malam.
Hanya
sebuah senter kecil, sepasang kaki yang sudah lelah, dan seorang lelaki yang
tetap berdiri karena ia tahu ada orang-orang di rumah yang menunggunya. Malam
itu saya pulang membawa sesuatu yang tidak saya rencanakan. Sebuah pertanyaan.
Berapa
banyak orang seperti Arif yang kita lewati setiap hari tanpa pernah benar-benar
kita lihat?
Kita hidup
di dunia yang pandai sekali mengenali orang-orang hebat. Kita hafal nama orang
yang berhasil menjadi pengusaha besar. Kita mengenal atlet yang memenangkan
pertandingan. Kita mengikuti perjalanan orang yang berhasil membangun
perusahaan.
Kita
membaca kisah orang yang bangkit dari kegagalan lalu mencapai kesuksesan.Mereka
pantas mendapatkan penghargaan. Tentu saja. Tetapi saya sering bertanya-tanya:
bagaimana dengan mereka yang tidak pernah sampai ke panggung? Bagaimana dengan
orang yang sepanjang hidupnya bekerja keras, tetapi tidak pernah menjadi
terkenal? Bagaimana dengan seorang ibu yang setiap pagi membuka warung, lalu
sore menjemput anaknya, malam menghitung uang dagangan yang tidak seberapa, dan
keesokan harinya mengulang semuanya?
Bagaimana
dengan seorang ayah yang mengayuh becak dari pagi, menjadi tukang parkir sampai
malam, hanya supaya anaknya bisa terus sekolah?
Bagaimana
dengan buruh, pedagang kecil, sopir, petani, penjaga toko, tukang bangunan,
mekanik, penjual makanan, dan jutaan orang lain yang setiap hari bangun lalu
berkata kepada dirinya sendiri:
"Ya
sudah. Hari ini kita jalani lagi."
Barangkali
kita terlalu sering mengukur keberhasilan dengan hasil akhir. Kita melihat
rumahnya, tetapi tidak melihat tahun-tahun ketika ia belum punya rumah. Kita
melihat anaknya sudah lulus sekolah, tetapi tidak melihat malam-malam ketika
orang tuanya bingung mencari uang untuk membayar biaya pendidikan.
Kita
melihat seseorang tersenyum, tetapi tidak pernah tahu berapa banyak kesedihan
yang sudah ia telan sebelum senyum itu muncul. Kita melihat orang yang masih
berdiri. Kita tidak melihat berapa kali ia hampir jatuh. Dan mungkin, itulah
salah satu kesalahan kita dalam memahami kata hebat.
Kita
mengira orang hebat adalah mereka yang melakukan sesuatu yang luar biasa. Padahal
mungkin tidak selalu demikian. Mungkin orang hebat adalah orang biasa yang,
ketika hidup memberinya cukup alasan untuk menyerah, memilih untuk tetap
berjalan.
Saya
menulis buku ini karena saya ingin berhenti sejenak untuk melihat mereka. Orang-orang
yang selama ini mungkin terlalu dekat dengan kita sehingga justru tidak
terlihat.
Orang-orang
yang bekerja ketika kita tidur.
Orang-orang
yang tetap tersenyum meskipun pendapatannya tidak selalu cukup.
Orang-orang
yang menunda kesenangan demi kebutuhan keluarga.
Orang-orang
yang mungkin tidak memiliki banyak pilihan, tetapi tetap berusaha memilih jalan
yang paling baik bagi orang-orang yang mereka cintai. Mereka tidak selalu punya
cerita besar. Justru itulah yang membuat cerita mereka penting. Sebab kehidupan
sebagian besar dari kita juga tidak berlangsung seperti film.
Kita tidak
selalu mendapatkan kesempatan kedua yang dramatis.Tidak selalu ada seseorang
yang datang menawarkan pekerjaan impian. Tidak selalu ada keberuntungan besar
yang mengubah hidup dalam semalam. Sebagian besar kehidupan berlangsung dalam
hal-hal kecil.
Bangun.
Bekerja.
Membayar
tagihan.
Mengantar
anak sekolah.
Mencari
pelanggan.
Menjual
dagangan.
Mengurus
rumah.
Menyelesaikan
pekerjaan.
Pulang.
Tidur.
Kemudian
bangun lagi.
Dan bagi
sebagian orang, mengulang rutinitas itu bukan karena hidupnya baik-baik saja. Melainkan
karena ia tidak punya pilihan selain terus bergerak. Di situlah keberanian
sering kali bersembunyi. Bukan di panggung. Bukan dalam sorotan. Tetapi di
antara rutinitas yang membosankan dan tubuh yang kelelahan.
Saya tahu
ada banyak orang yang membaca buku ini mungkin sedang berada di titik yang
tidak mudah. Mungkin Anda sedang mencari pekerjaan. Mungkin usaha Anda sedang
sepi. Mungkin gaji terasa tidak pernah cukup. Mungkin Anda sedang membesarkan
anak sambil bertanya-tanya apakah Anda sanggup membiayai masa depannya. Mungkin
Anda sedang merawat orang tua. Mungkin ada mimpi yang sudah lama Anda simpan
karena keadaan terus memaksa Anda mendahulukan kebutuhan lain.
Atau
mungkin tidak ada masalah besar yang bisa Anda ceritakan kepada siapa pun. Anda
hanya lelah.
Lelah
dengan pekerjaan.
Lelah
dengan keadaan.
Lelah
membandingkan diri dengan orang lain.
Lelah
melihat orang lain seperti melaju jauh sementara Anda merasa berjalan di
tempat.
Dan yang
paling melelahkan mungkin bukan pekerjaan itu sendiri. Melainkan perasaan bahwa
perjuangan Anda tidak menghasilkan apa-apa.Hari ini bekerja. Besok bekerja. Bulan
depan bekerja. Tetapi hidup seperti tetap di tempat yang sama. Pada titik
tertentu, mungkin muncul pertanyaan:
"Sampai
kapan saya harus seperti ini?"
Saya kira
banyak dari kita pernah berada di sana. Di
titik ketika menyerah terlihat lebih
mudah daripada bertahan. Di titik ketika tidur terasa lebih nyaman daripada
bangun dan menghadapi masalah yang sama. Di titik ketika kita mulai bertanya
apakah semua usaha kita benar-benar ada gunanya.
Saya pernah
merasakan perasaan itu.Dan mungkin Anda juga pernah. Tetapi pertemuan-pertemuan
dengan orang seperti Arif membuat saya menyadari sesuatu. Kita tidak selalu
membutuhkan nasihat yang hebat ketika sedang lelah.
Kadang kita
hanya membutuhkan seseorang untuk mengingatkan:Kamu tidak sendirian. Ada
orang lain yang juga sedang berjuang. Ada orang lain yang juga pernah takut. Ada
orang lain yang juga pernah menangis diam-diam.
Ada orang
lain yang juga tidak tahu bagaimana hari esok akan berjalan. Tetapi mereka
tetap bangun. Tetap bekerja. Tetap mencoba. Tetap menyayangi keluarganya.Tetap
menyimpan sedikit harapan. Dan mungkin, untuk hari ini, itu sudah cukup.
Buku ini
lahir dari pertemuan-pertemuan semacam itu. Dari percakapan sederhana. Dari
orang-orang yang mungkin awalnya saya temui hanya sebagai pedagang, tukang
becak, mekanik, penjaga malam, penjual makanan, atau pekerja biasa. Tetapi
setelah berbicara lebih lama, saya menemukan kehidupan yang jauh lebih besar di
balik pekerjaan mereka.
Ada mimpi.
Ada
ketakutan.
Ada
kehilangan.
Ada
kegagalan.
Ada
pengorbanan.
Ada cinta.
Dan yang
paling penting: ada keputusan untuk tidak menyerah. Saya tidak ingin menulis
buku ini sebagai kumpulan kisah orang-orang yang hidupnya sempurna. Justru
sebaliknya.
Saya ingin
bercerita tentang orang-orang yang hidupnya tidak sempurna.Orang-orang yang
memiliki keterbatasan. Orang-orang yang tidak selalu menang. Orang-orang yang
kadang harus mengalah. Orang-orang yang pernah salah mengambil keputusan. Orang-orang
yang pernah kehilangan. Namun entah bagaimana, mereka menemukan alasan untuk
bangun lagi.
Buku ini
bukan buku tentang bagaimana menjadi sukses dalam tujuh langkah. Bukan pula
buku yang menjanjikan bahwa setiap perjuangan pasti berakhir dengan kekayaan.Saya
tidak ingin memberi janji seperti itu. Sebab kehidupan tidak sesederhana itu. Ada
orang baik yang tetap miskin. Ada orang rajin yang tetap gagal.Ada orang yang
sudah berusaha keras tetapi belum mendapatkan apa yang diimpikannya. Namun
justru di situlah letak pelajaran yang ingin saya cari.
Apakah
seseorang tetap bisa disebut hebat meskipun ia belum berhasil?
Saya
percaya: bisa. Bahkan mungkin, di situlah kehebatan yang paling jujur berada. Sebab
sangat mudah terlihat kuat ketika semuanya berjalan baik. Yang sulit adalah
tetap menjadi manusia ketika hidup sedang tidak berpihak kepada kita.
Tetap
bekerja ketika hasil belum terlihat. Tetap menyayangi ketika diri sendiri
sedang terluka. Tetap berharap ketika keadaan memberi seribu alasan untuk putus
asa.
Arif
mengajari saya tentang itu. Ia tidak mengatakan sesuatu yang rumit. Ketika saya
bertanya mengapa ia mau bekerja dari pagi hingga malam, jawabannya sederhana.
"Demi
anak-anak, Mas."
Hanya itu. Tetapi
mungkin memang begitu cara cinta bekerja. Ia tidak selalu datang dalam bentuk
puisi. Kadang cinta berbentuk tangan yang kasar. Kadang cinta berbentuk
punggung yang membungkuk. Kadang cinta berbentuk kaki yang pegal setelah
seharian bekerja.
Kadang
cinta berbentuk uang yang sedikit demi sedikit disisihkan. Kadang cinta
berbentuk seseorang yang tetap berdiri di depan toko pada pukul sembilan malam,
meskipun sebenarnya ia ingin segera pulang.
Dan
mungkin, ketika kita melihat orang seperti itu, kita sedang melihat salah satu
bentuk kepahlawanan yang paling sunyi. Mereka tidak menyelamatkan dunia. Mereka
hanya berusaha menyelamatkan dunianya sendiri.
Dunia kecil
yang bernama keluarga. Dunia yang berisi anak-anak. Dunia yang berisi orang
tua. Dunia yang berisi orang-orang yang mereka cintai. Dan ternyata,
menyelamatkan dunia kecil itu pun membutuhkan keberanian yang luar biasa.
Karena itu,
buku ini saya persembahkan untuk siapa saja yang pernah merasa ingin menyerah. Untuk
Anda yang hari ini sedang berada di persimpangan. Untuk Anda yang merasa hidup
berjalan terlalu lambat. Untuk Anda yang merasa tidak sehebat orang lain.
Untuk Anda
yang pekerjaannya jarang dipuji. Untuk Anda yang keberhasilannya mungkin tidak
pernah masuk berita. Untuk Anda yang setiap hari melakukan hal-hal kecil yang
mungkin dianggap biasa, padahal bagi keluarga Anda, hal-hal kecil itu sangat
berarti.
Saya ingin
mengajak Anda berjalan sebentar bersama orang-orang yang kisahnya ada di
halaman-halaman berikutnya. Dengarkan suara mereka. Lihat tangan mereka. Rasakan
lelah mereka. Kenali ketakutan mereka. Dan, kalau memungkinkan, lihat kembali
kehidupan Anda sendiri melalui cerita mereka. Mungkin Anda akan menemukan bahwa
selama ini Anda bukan gagal.
Anda hanya
sedang berjalan melalui jalan yang panjang. Mungkin Anda tidak tertinggal. Anda
hanya memiliki perjalanan yang berbeda. Mungkin hidup Anda belum seperti yang
Anda bayangkan.Tetapi itu bukan berarti cerita Anda selesai.
Sebab
orang-orang dalam buku ini mengajarkan satu hal yang sederhana: Tidak semua
orang hebat berhasil menjadi besar. Tetapi orang-orang yang menolak menyerah
telah melakukan sesuatu yang besar: mereka memilih untuk tetap hidup, tetap
mencintai, dan tetap melangkah meski keadaan tidak mudah.
Saya
berharap setelah membaca buku ini, Anda tidak hanya mengenal Arif, Mak Sri,
Rahmat, Musdar, Kelana, dan orang-orang lain yang akan hadir di halaman-halaman
berikutnya. Saya berharap Anda juga mulai melihat orang-orang di sekitar Anda
dengan cara yang berbeda.
Lihatlah
tukang parkir yang setiap malam berdiri di pinggir jalan. Lihatlah pedagang
yang membuka lapak sebelum matahari terbit. Lihatlah ibu yang setiap pagi
mengantar anaknya sekolah lalu bekerja sampai sore.
Lihatlah
ayah yang pulang larut malam ketika rumah sudah sepi. Lihatlah orang-orang
biasa itu. Mungkin mereka sedang membawa cerita yang belum pernah kita dengar. Dan
mungkin, suatu hari nanti, ketika Anda sendiri sedang berada di titik paling
lelah dalam hidup, Anda akan mengingat mereka.
Anda akan
mengingat bahwa ada orang-orang yang juga pernah takut.
Pernah
gagal.
Pernah
menangis.
Pernah
ingin berhenti.
Tetapi
memilih untuk mengayuh sekali lagi.
Berdiri
sekali lagi.
Mencoba
sekali lagi.
Bukan
karena mereka yakin semuanya akan mudah. Melainkan karena ada sesuatu yang
lebih kuat daripada rasa lelah mereka: harapan.
Maka mari
kita mulai perjalanan ini.Bukan untuk mencari orang-orang paling sukses. Bukan
untuk mencari mereka yang paling kaya, paling terkenal, atau paling berkuasa. Kita
akan mencari mereka yang sering luput dari pandangan. Mereka yang pekerjaannya
jarang dipuji.
Mereka yang
hidupnya mungkin terlihat biasa.Tetapi setiap pagi, ketika hidup bertanya
apakah mereka masih sanggup melanjutkan perjalanan, mereka memberikan jawaban
yang sama:
"Saya
masih di sini."
Dan
mungkin, setelah membaca kisah-kisah mereka, Anda pun akan menemukan keberanian
untuk mengatakan hal yang sama. Saya masih di sini.
Saya belum
menyerah. Saya akan berjalan lagi.