Desa Pejagatan Kecamatan Kutowinangun terdiri empat pedukuhan yaitu; Krajan, Karunan, Kedungsumur dan Konduran. Desa ini memiliki tradisi masyarakat yang turun temurun sebagai pekundi, yakni memproduksi kerajinan gerabah.
Gerabah Pejagatan
Gerabah merupakan hasil kerajinan para pekundi berupa perkakas rumah tangga tradisional yang terbuat dari bahan dasar tanah liat dan tuffa- pasir putih dari kali, dan air serta tanah puru-berupa lempung merah yang berfungsi sebagai pewarna merah gerabah sebelum dibakar. Sedangkan alat-alat yang digunakan adalah peralatan tradisional berupa perbot kayu tebal, berbentuk melingkar yang dipasang laher di bagian tengahnya hingga bisa diputar dengan ujung jari kaki, damin, penggerus, kain kelambu dan batu penghalus.
Untuk menghasilkan sebuah kerajinan gerabah, melewati beberapa tahapan yang harus dilalui. Di mulai dari tahap persiapan bahan baku dan alat, tahap pembuatan mulu-adonan tanah liat yang dibentuk bulatan-bulatan, pengolahan dan pembentukan secara manual, pengeringan, finishing bentuk, dan pembakaran manual menggunakan "tobong".
Tangguh: Bersyukur dan Menikmati proses
Menurut penuturan Muslihatun (40 th) wanita warga dukuh Kedungsumur, bersyukur dan menekuni sebagai pekundi bersama suami dan anaknya, tahapan paling krusial adalah ketika membentuk produk gerabah secara manual. Pada tahap ini diperlukan keterpaduan proses, antara irama putaran perbot, kelenturan adonan tanah, tetesan air, gerakan jari tangan dan kejernihan fikiran! "Pikiran kita harus tenang. Pada saat fikiran atau perasaan kita tidak nyaman, gelisah atau kemrungsung-terburu-buru, tidak santai, pembentukan adonan bisa berantakan" tuturnya menjelaskan.
Para pekundi dengan kesederhanaanya, harus tenang dan menikmati proses ketika dalam tahap pembentukan produk gerabah. Ini yang saya lihat terjadi pada Painem, wanita pekundi sebelah rumah Muslihatun nampak "khusuk" dengan pekerjaanya. Serius, tidak banyak merespon, ketika saya banyak bertanya.
Tantangan dan peluang
Melihat dari dekat, para pekundi bekerja, terlihat tantangan besar yang dihadapi pengrajin gerabah adalah seputar modernisasi alat/perbot, sertifikasi produk dan kapasitas produksi. Dengan perbot yang manual para pekundi sangatlah terbatas menghasilkan produk. Tentu kondisi ini juga akan mempengaruhi kapasitas produksi. Sehingga tidak bisa mencukupi kuota ketika ada pesanan dari luar dalam jumlah besar. Namun saya melihat peluang. Tidak jauh dari tempat tinggal kedua pekundi ini, diseberang jalan ada bangunan permanen Griya belajar gerabah pejagatan. Ketika saya mencoba melihat kondisinya. Semacam ruang pajang produk para pekundi, namun sepertinya kurang terawat dan jarang dimanfaatkan. Dilihat dari lokasinya sangat strategis, lebih menyatu dengan warga pekundi dan di area samping adalah tanah lapang. Sangat berpotensi untuk dikembangkan menjadi sentra terpadu edukasi dan pengembangan ekonomi, melalui pendirian museum, pusat jual-beli dan gelar event festival seperti "grebeg gerabah pejagatan".
Tentu upaya ini perlu effort yang serius dan banyak dukungan dari banyak fihak, terutama komunitas mudanya. Seperti diakui pejabat Pemerintahan Desa, komunitas muda Pejagatan sudah cukup berperan dan memiliki potensi untuk dikembangkan. Sehingga ketajinan gerabah yang sudah ditekuni secara turun temurun, menjadi bisnis keluarga dan melahirkan banyak pekundi tangguh, akan tetap eksis dan berkembang di masa datang. Menjadi sumber ekonomi yang dapat mendatangkan manfaat bagi seluruh warga Pejagatan. Wallahu a'lam.