Ariffiawan, PNS tinggal di Kebumen
Karya Tulis Terbaik Pertama
Kelas Workshop Menulis tema Geopark Kebumen
Bappeda Kebumen, 24 September 2024
Kabupaten Kebumen menempati urutan kpertama sebagai kabupaten dengan prosentase penduduk miskin terbanyak di Provinsi Jawa Tengah. Komponen penentu besarnya prosentase jumlah penduduk miskin adalah distribusi pengeluaran perkapita antar golongan pendapatan dan tingginya garis kemiskinan. Data sementara angka pengeluaran perkapita penduduk dari Badan Pusat Statistik menunjukkan masih ada Kabupaten Lain yang angka pengeluaran perkapita penduduk lebih rendah dari Kabupaten Kebumen. Di sisi lain pendapatan perkapita penduduk Kabupaten Kebumen juga bukanlah yang terendah di Jawa Tengah.
Mencermati data kemiskinan di Kebumen
Garis kemiskinan adalah jumlah rupiah minimal yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan pokok makanan dan non-makanan per hari. Garis kemiskinan digunakan sebagai alat ekonomi untuk mengukur tingkat kemiskinan suatu negara /wilayah dan mempertimbangkan kebijakan untuk menanggulanginya. Apabila dilihat lebih detail bahwa ternyata garis kemiskinan yang ditetapkan oleh Badan Pusat Statistik di Kabupaten Kebumen jauh lebih tinggi dari beberapa kabupaten lain. Artinya seseorang dengan pendapatan yang sama akan dikatakan miskin di Kabupaten Kebumen namun tidak miskin di Kabupaten lain karena biaya hidup bagi penduduk di Kabupaten Kebumen dianggap lebih mahal dari Kabupaten lain.
Data kemiskinan di Jawa Tengah Tahun 2024 yang diterbitkan BPS menunjukkan bahwa garis kemiskinan di Kabupaten Kebumen sebesar Rp 471.824,- dengan prosentase penduduk miskin 15,71 %. Membandingkan dengan Kabupaten Magelang yang berada di peringkat 20 garis kemiskinan ditetapkan hanya Rp 431.289,- dengan prosentase penduduk miskin 10, 83 %. Data Kabupaten Temanggung yang menempati urutan 12 angka garis kemiskinan sebesar Rp 416.006,- dengan prosentase 8,67 %. Penulis belum mendapat referensi seberapa penurunan angka kemiskinan untuk setiap ribu rupiah penurunan garis kemiskinan, namun penulis memiliki keyakinan bahwa setiap ribu rupiah penurunan garis kemiskinan akan mengurangi prosentase penduduk miskin setelah memperhatikan nilai P1 dan P2 di Kabupaten Kebumen.
Strategi pengentasan kemiskinan
Mendasari telaah tersebut Upaya penurunan jumlah penduduk miskin dapat dilakukan dari dua sisi sekaligus. Pertama dengan menaikan pendapatan perkapita yang tentu akan berbanding lurus dengan pengeluaran perkapita. Yang kedua dengan menekan angka garis kemiskinan dengan berbagai kebijakan untuk menekan penurunan harga kebutuhan bahan pokok.
Dua aspek ini bisa dilaksanakan secara simultan dalam satu kata sederhana yang disebut “swasembada”. Artinya apabila Kabupaten Kebumen berubah dari kabupaten penerima produk menjadi Kabupaten Penghasil yang dapat mencukupi kebutuhannya sendiri maka sektor pendapatan meningkat karena produksi yang digenjot sekaligus sektor pengeluaran turun karena harga produk menjadi lebih murah. Saat ini harga bahan pokok dikabupaten Kebumen dianggap lebih mahal dari kabupaten lain karena merupakan produk yang didatangkan dari Kabupaten lain.
Menjadikan Kebumen sebagai daerah swasembada pangan
Pengakuan Kabupaten Kebumen sebagai Unesco Global Geopark (UGG) bisa dijadikan momen kesempatan emas membangunkan macan tidur. Potensi luar biasa sepanjang Karangbolong-Karangsambung yang selama ini belum digarap secara optimal bisa dirintis mengingat konsekuensi pengakuan UGG yang harus memberikan dampak ekonomi sekaligus tetap menjaga kelestarian. Yang paling selaras dengan aspek ekonomi dan ekologi adalah sektor pertanian dan pariwisata. Apabila dibandingkan dengan Kawasan perbukitan dengan Kabupaten Lain semisal Magelang, Temanggung, dan Wonosobo terlihat cukup kontras terkait pemanfaatan lahan miring di Kabupaten Kebumen. Lahan tersebut gersang dan hanya berupa sawah tadah hujan. Pemenfaatan masih sangat terbatas untuk padi sekali tanam dan tembakau yang juga terbatas. Kalopun ada yang mendapatkan mata air jumlahnya tidak sebanding dengan luasan lahan yang tersedia. Kendala ketersediaan air pada saat kemarau yang menyebabkan tidak dapat berproduksi sepanjang tahun karena petani membiarkan saja lahannya kering tidak ditanami. Agak berbeda memang untuk sedikit lahan yang ada di Desa Sadang Wetan dan Kawasan Karst Karangbolong. Di Sadang Wetan terdapat Dam di hulu sungai Lukulo yang dialirkan ke sawah-sawah. Sedangkan Kawasan karangbolong keutara terdapat banyak mata air abadi yang dapat dialirkan sepanjang tahun kerumah-rumah dan ladang. Sehingga dikedua kawasan tersebut pertanian bisa berjalan sepanjang tahun. Namun luasanya masih sangat kecil dibandingkan lahan yang tidak mendapatkan air.
Mengatasi masalah ketersediaan air di area perbukitan memang tidak mudah. Beberapa Langkah telah ditempuh pemerintah dengan pembuatan saluran irigasi maupun Pembangunan embung. Namun pembangunan embung yang sudah dibuat di beberapa desa tidak efektif karena embung hanya bisa menampung air hujan yang jumlahnya terbatas dan tidak dapat diandalkan untuk mencukupi kebutuhan di musim kemarau. Ketiadaan saluran masuk (inlet) embung menyebabkan air yang ditampung sepanjang musim penghujan akan habis dalam beberapa hari saja. Pembangunan saluran irigasi baik yang dilakukan Dinas Pekerjaan Umum maupun Dinas Kehutanan yang memangku wilayah hutan juga hanya memanfaatkan air sepanjang musim penghujan. Irigasi yang ada otomatis kering bahkan sebelum musim kemarau masuk.
Sepertinya kita perlu belajar dari Kabupaten Lain dalam hal penyediaan air dikawasan perbukitan. Kabupaten tetangga yang berhasil memanfaatkan bukit-bukit menjadi lahan pertanian yang subur dan dapat menghasilkan sayur mayur sepanjang tahun. Kabupaten Banyumas pernah melakukan eksplorasi banyak titik sumur dalam di perbukitan. Sumur-sumur yang disebut Jaringan Air Tanah (JIAT) yang kedalamnya bahkan lebih dari 200 meter. Sebagai informasi bahwa pelaksana pekerjaan pembuatan sumur dalam tersebut merupakan penyedia yang berasal dari Kebumen. Maka perlu dilihat lagi seberapa efektif Pembangunan sumur JIAT disana dan apakah dapat menyediakan kebutuhan irigasi disana. Irigasi dimaksud tidak harus berupa air yang mengalir secara berlimpah kesawah-sawah. Namun ketersediaan air di area sekitar sawah/ ladang juga sudah cukup sehingga petani dapat mengakses dengan pipa-pipa atau bahkan jika perlu menyediakan mesin sedot pompa air.
Memanfaatkan potensi kawasan Geopark
Penyediaan air ini memang tidak murah sehingga pemanfaatanya juga harus tepat dengan pilihan produksi pertanian yang ekonomis. Perilaku petani juga harus diubah dari yang hanya pasrah menanam padi mengikuti musim menjadi pejuang yang siap berinvestasi menanam komoditas hortikultura diluar tembakau. Sebagai perbandingan petani lahan tadah hujan di Kawasan urutsewu menanam padi hanya saat musim hujan. Sedangkan saat kemarau mereka menanam produk hortikultura yang tidak membutuhkan air dalam jumlah banyak namun bernilai ekonomis karena pengeluaran mereka untuk operasional mesin sedot air, pupuk, dan obat-obatan juga bertambah. Sehingga wajar apabila saat ini kawasan urut sewu yang tadinya lahan pasir tandus berubah menjadi hijau dengan komoditas sayur-mayur, cabai, buah-buahan, jagung dan kacang tanah. Jika lahan pasir saja bisa berproduksi dengan adanya air tanah maka kami yakin lahan tanah diperbukitan juga bisa menghasilkan yang besar kemungkinan Kabupaten Kebumen menjadi swasembada produk hortikultura dan jawara di Jawa Tengah.